Copyright © 2013 | All rights reserved
designed by Sunandar Adekusumo
Pena Menulis Takdir published March 31, 2013 by Sunandar Adekusumo
“Bi, beli penanya satu dong! Yang warna hitem ya Bi!”
Begitulah aktivitas keseharianku, Dian, setiap hari ketika disekolah, membeli pena di koperasi sekolah. Itu adalah kegiatan rutin bagiku, entah kenapa aku harus membeli pena setiap harinya. Bukan karena habis oleh dipakai karena menulis, tetapi aku selalu kehilangan pena di kelas. Terkadang dimas, lia dan teman-temanku sering lupa mengembalikan penaku, tetapi aku tidak ambil pusingtoh harga pena cuma seribu perak dan uang jajan harianku saja sekitar dua puluh lima ribu, itu adalah hal yang sepele bagi saya.
Aku adalah anak orang berada, papa saya adalah
pemilik sebuah perusahaan ternama di Jakarta dan mama saya mempunyai
beberapa butik di kawasan Puncak dan Bogor. Menjadi anak tunggal
memang mengasyikkan, aku bisa meminta apa saja yang ada di dalam
pikiranku dan dalam sekejap mata
keinginanku pasti dituruti oleh papa dan mamaku. Tetapi aku juga
sering merasa kesepian karena tidak mempunyai saudara, untungnya ada
dimas dan lia, sahabat kecilku yang sangat setia. Kami sering
bermain bersama di rumahku karena tersedia fasilitas-fasilitas yang
sulit ditemukan di luar dan juga untuk menemaniku menjaga rumah
karena orangtuaku sering pulang larut.
***
Pagi itu, sekitar pukul enam pagi suasana rumah masih hening padahal aku sudah siap untuk berangkat sekolah, papaku masih tidur dan mamaku biasanya baru mandi, untunglah ada inem, bibi yang sudah membantu keluargaku dalam urusan rumah tangga sudah menyiapkan roti untuk sarapan. Interaksi sosial antara papa dan mama dan aku sangat jarang sekali, kesibukan yang mereka lakukan diluarlah yang menyebabkan hal itu. Aku terkadang merasa kesepian dan iri dengan anak-anak lain yang bisa bermain dengan anak-anak lain, aku bisa dibilang anak broken home, tetapi sifat yang diturunkan nenekku kepada ku telah membuatku menjadi anak yang mandiri dan rajin, tidak heran aku mendapat rangking satu dikelas dan aku termasuk anak yang berprestasi di sekolahku, di sma unggulan di Jakarta.
Suara mobilku yang sudah dipanaskan oleh bang sopir tedengar sudah siap untuk berangkat dan pada saat itu waktu sedang menunjukkan pukul 6:15 wib dan aku harus bergegas berangkat ke sekolah. Tak jarang aku menghabiskan sarapanku di jalan, sekolah di sma unggulan mengharuskan siswanya untuk dating pagi-pagi guna menciptakan disiplin.
Tanpa bertemu papa dan mama, aku langsung menuju gerbang depan. Dan lagi aku teringat bahwa aku harus membeli pena di koperasi sekolah. Sesampai di sekolah, aku bergegas menuju koperasi dan menyelesaikan kegiatan rutinku disana. Ketika disana, aku melihat Dimas dan Lia sedang menuju kearah ku dan bertanya, “beli pena lagi yan?” Dan begitulah setiap harinya.
***
“Ring… Ring… Ring…”
Bel sekolah berbunyi dan menandakan kelas akan segera dimulai. Aku, Dimas dan Lia tidak berada di kelas yang sama, kelas ku berada di lantai tiga, kelas dimana anak-anak yang mempunyai sesuatu, bukan untuk menyombongkan diri, tapi aku masuk kelas yang bisa dikatakan lebih. Dan di kelas itu, kami mempunyai jam pelajaran yang sedikit lebih lama dari kelas-kelas yang lain.
Hari itu, Dimas dan Lia berkeinginan untuk menunggu di depan kelasku untuk mengambil makan siang. Dan hal itu adalah hal yang bukanlah lumrah, karena tidak ada anak-anak dari kelas lain yang berani berjalan di lantai tiga. Dan hari itu mungkin adalah hari yang jelek bagi mereka.
Dan ternyata benar, anak-anak atas, begitulah kami menyebut diri kami, sudah keluar dari kelas dan melihat anak-anak tingkat bawah dating ketempat yang tidak seharusnya mereka datangi. Alhasil, mereka mendapat caci-maki dari anak-anak atas. Melihat hal ini, aku bingung harus bertindak apa karena aku adalah ketua kelas yang harus bertindak sesuatu. Disatu sisi mereka adalah sahabat karibku, tetapi disisi lain ini sudah menjadi tradisi di sekolah ini dan bagi siapa yang melanggar tradisi tersebut mereka pasti dikucilkan, terlebih lagi mereka mengetahui bahwa mereka tidak seharusnya berada disini.
“Hey anak bawah” begitulah kata-kataku dengan nada kasar yang tidak seharusnya dikatakan sebagai sahabat.
“Sudikah kalian berada disini? Mampukah kalian bersaing dengan kami? Mari kita lihat penghargaan yang pernah kalian raih, itu bahkan tidak mampu untuk membuat kalian berada disini. Dan kalian tahu itu. Apakah kalian mengaku bahwa kalian itu tidak mampu? Cepat angkat kaki kalian dari lantai-lantai suci ini! Dan jangan pernah kembali! Pergiiiii!!!” Begitulah makian ku kepada sahabat-sahabat ku.
Aku terdiam, dan termenung “Dian, apa yang baru kamu lakukan? Mereka itu orang-orang yang berharga bagi mu, mengapa kau hina mereka? Engkau memang pintar, tetapi kau masih membutuhkan bantuan mereka, sebagai seoarang sahabat.”
***
Tak disangka hari berganti, sudah sebulan sejak kejadian itu terjadi. Aku mewarnai hari-hariku tanpa indahnya seorang sahabat, hanya temaram yang ada di hari-hari ku. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada mereka.“Oh God. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa bediam diri seperti ini terus menerus. Tapi, apa yang aku lakukan waktu itu sudah melampaui batas kesabaran mereka untuk memaafkanku dan lagi pula mereka itu tidak penting bagi ku”. Setelah berpikiran seperti itu, aku seperti tidak memiliki rasa bersalah.
Seminggu kemudian adalah libur sekolah dan aku bermaksud untuk pergi jalan-jalan ke sebuah mall untuk merefreshotak ku yang sudah bekerja selama dua bulan terakhir. Setelah berkeliling cukup lama seorang diri, aku memutuskan untuk mencari tempat istirahat. Hari itu adalah hari pertama bagi ku untuk berjalan di luar sendirian, dan aku merasa cukup kesepian karena tidak ada teman untuk diajak ngobrol. Setelah kurasa cukup lama beristirahat sambil minum secangkir es yang cukup melegahkan tenggorokan ku, aku merasakan hal yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, aku merasakan pusing yang amat sangat, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan melihat pada waktu itu aku berada di sebuah mall seorang diri. Aku mulai pasrah kepada orang-orang di sekitar ku untuk melakukan sesuatu apabila terjadi hal-hal yang tidak ku inginkan. Setelah cukup lama, aku merasa rasa pusing itu hilang dan aku langsung bergegas untuk pulang kerumah. Entah kenapa, ketika menuruni eskalator rasa itu kembali menyerang sumber pemikiranku dan aku…….
***
Ketika aku bangun dari pingsanku, aku sudah berada di kasur kesayanganku. Aku tidak tahu siapa yang membawa ku dan apa yang terjadi kepada ku saat itu. Ketika aku bertanya kepada sopirku, dia berkata seorang gadis nan cantik, tinggi dan berwibawa lah yang telah menyelamatkanku.
“Siapakah gadis yang disebut mamang itu ya? Tidak mungkin itu Lia, dia kan berpenampilan seperti gembel.”
***
Kejadian minggu itu terlupakan seiring berjalannya waktu yang aku lalui bersama teman-teman ku di sekolah. Dan aku tidak menyangka, sudah enam bulan kami bersekolah dan saatnya untuk menghadapi ujian semester yang akan dilaksanakan dua minggu kedepan. Dan aku pun menyiapkan segala persiapan untuk ulangan nanti.
Akhirnya, hari terbesar pada tahun itu dimulai dengan suasana pagi yang berbeda dirumah ku, terlihat kedua orang tua ku sepertinya mengurangi jam kerja mereka dan meluangkan waktu lebih bersama. Dan aku sangat senang melihat orang tua ku akur kembali.
“Pa Ma, hari ini aku ada ulangan semester. Dan aku senang melihat papa dan mama mengurangi waktu kerja di luar.”
***
Kembali ke kegiatan rutinku, aku harus membeli perlengkapan ulangan seperti pena, pensil, penghapus, misar, dll.
“Bi…… Beli pena, pensil, penghapus, mistar, dan peraut pensilnya!” begitulah pinta ku kepada bibi penjaga koperasi.
“Ini dek, barang-barangnya. Coba bibi lihat dulu ya. Pensil ada, penghapus ada, mistar ada, peraut pensil ada, pena…… Wah, kelihatan persediaan pena ibu sudah habis dek, Ibu belum pergi kepasar karena mau liburan.” Begitu jawab bibi penjaga koperasi kepada ku.
Mendengar itu, aku langsung bingung. “Oh dear,, what should I do???? Today is my test day, but I don’t even have a pen to do it.”
Aku langsung pergi ke kelasku dan meminjam pena kepada teman-teman. Sayangnya, tak satupun dari mereka yang punya atau yang mau meminjamkan penan mereka kepadaku.
Dan akupun pergi untuk mencari pertolongan kepada teman-teman lainnya. Pergi ke kantor guru untuk meminjam pena, akan tetapi tidak ada satupun guru di ruangan itu.
Ring… Ring… Ring…
Bel telah berbunyi, dan semua siswa sudah berbaris di depan kelas menandakan mereka sudah siap untuk melaksanakan ulangan. Dan aku…. Aku masih berkeliling untuk mencari secercah harapan untuk takdir ku kedepan, melihat aku adalah anak yang pandai, akan sangat memalukan jika aku ikut ulangan susulan atau remidial.
Setengah jam aku berada di luar kelas mencari untuk meminjam sepotong pena untuk ulanganku.
Dan aku duduk termenung di tempat yang aku dan sahabat-sahabatku sering berkumpul.
“Sudah lama engkau tidak duduk disini yan. Tempat yang seharusnya tidak bisa engkau lewati setiap harinnya karena janji kita. Ada apa? Mengapa enkau diluar? Tidakkah engkau duduk manis di dalam kelas dan mengerjakan soal-soal manis mu?” begitu sindiran dan pertanyaan dari Lia kepadaku.
Dan aku menjawab “eh Lia. Tidak apa-apa, aku sudah mengerjakan soal-soalku dengan lencar diwaktu kurang dari tiga puluh menit.”
“Ini, pakailah pena ini. Aku tahu engkau belum masuk ke ruangan dan mengerjakan soal-soal mu. Sebagai seorang sahabat, tidak mungkin aku melupakan kegiatan rutinmu setiap hari. Aku sudah menyiapkan pena ini hanya untukmu.”
“Tapi, bagaimana denganmu? Kenapa kamu di luar?”
“Aku izin sama pengawas ruangan untuk ke toilet. Karena aku lihat engkau naik-turun tangga di samping kelasku. Dan aku tahu bahwa engkau dalam kesusahan.”
“Maafkan aku Lia, aku salah telah melakukan hal itu kepada mu.”
“Sudahlah, aku sudah memaafkanmu sebelum engkau meminta maaf, sekarang pergi dan kerjakan soalmu.”
Berkat pena Lia itulah aku bisa mengerjakan soalku, dan aku mendapatkan nilai dan rangking tertinggi pada semester itu. Sungguh sebuah pena yang tidak bisa aku……………….
*******