|
Menu
Autobiographical Press Release #1 |
www.sindentosca.listen.to | [email protected]
About sindentosca Autobiographical Press Release #1
Tahun
2001, saya diperdengarkan sebuah lagu dari Jalu, judulnya “Belaian Biru.”
Mungkin kamu tidak pernah mendengar, tetapi mungkin di album mendatang
lagu ini akan membuat kamu tercengang. Hmm…atau tidak pernah sama sekali,
kecuali kamu pernah ke rumahnya. Ya, saya sangat tercengang. Bukan hanya
karena lagu itu sangat enak di telinga. Ada sesuatu yang lebih dari itu.
Ada aura tersembunyi yang mencoba untuk berbicara lewat telinga saya. Lalu
saya menangis. Tapi saya belum sadar alasannya apa…tidak setelah saya
berada di luar kotak sindentosca. Masih
tahun 2001, karena lagu itulah saya memutuskan untuk jadi personil
sindentosca sebagai drummer. Pikir saya, Jalu dan saya akan bersama-sama
membangun konsep musik yang berbeda di Indonesia. Tetapi ternyata saya
masih buta. Masih menutup mata dan telinga tentang keberadaan Jalu yang
apa adanya. Buta karena saya masih terbuai dengan pakem-pakem proses
bermusik yang sudah ada dan sudah lazim terutama di Bandung. Saya benci
Jalu yang selalu menutup diri, selalu di kamar, selalu tidak mau merubah
sikapnya terhadap musik-musik di televisi. Setahun kita bereksplorasi
bermain musik Cranberries. Bagi saya, itu suatu keajaiban mendengar suara
Jalu yang seperti Dolores. Bagi Jalu, dia sudah muak! Konsep bermusik pun
pindah dengan mengusung soul, sound Bjork juga Deep Forest. Muncul lah
lagu-lagu elektronik.
“Jalu, maafkan saya yang dulu telah memaksa
kamu untuk sengaja mengusung anti-kemapanan yang sudah mapan. Kesengajaan
itu ternyata gagal. Karena ternyata ada soul dan sound original kamu yang
tidak bisa kamu lepaskan begitu saja. Apa itu? THE KID IN YOU.” Perjalanan
musik saya bersama Jalu tidak lama. Saya masih belum sadar apa itu musik,
apa itu main musik, apa itu proses bermusik, apa itu Jalu, apa itu
sindentosca. Apakah
Musik? Ekspresi,
alunan nada, suara jiwa. Semua orang tahu. Tapi sayangnya, kejujuran
ekspresi dan suara jiwa berangsur bergeser. Musik hanya jadi sebuah produk
hiburan. Sebuah lantunan nada yang direkayasa dengan tujuan hanya
“supaya enak” didengar orang lain dan supaya laku dijual. Apakah
Main Musik? Anda
menemukan alat musik, anda tahu bagaimana memainkannya, anda mainkan, dan
anda senang, semua orang yang mendengarnya senang. Ada orang yang tidak
tahu cara memainkannya tetapi ingin memainkannya. Dia pun pergi les,
sekolah musik, membentuk band, mendengarkan Choppin, Bach, Mozart, The
Cure, U2, anda pun bermain Choppin, Bach, Mozart, The Cure dan U2. Anda
pun menjadi mereka tanpa sebab-sebab yang jelas kecuali kagum dengan
mereka. Siapa pemain musik? Kamu yang memegang alat musik. Tahu apa yang
kamu mainkan? Sebuah lagu dari U2. Apakah kamu BONO? Bukan. Siapa kamu?
Saya pengagum Bono. Oh, kamu yang mana? Sebelah dirimu Bono, sebelahnya
lagi pengagum Bono. Tidak ada kamu disitu. Apakah
Berproses Dalam Musik? Mencari
identitas kamu yang main musik. Mencari karakter, attitude, ciri khas yang
sangat “kamu” untuk musik “kamu.” Pakem: mendengar Bono menyanyi,
bermain musik Bono, manggung dengan lagu Bono, hafal sound dan soul Bono,
menciptakan musik dengan sound dan soul Bono, mengeluarkan album, terkenal
karena kamu mirip Bono. Kamu=titisan Bono. Gak malu? Apakah
Jalu? Jalu.
Titik. Apakah
sindentosca? sindentosca.
Titik. Interlude
yang panjang untuk mengungkapkan kesadaran bermusik saya bersama
sindentosca. Senang pernah menjadi bagiannya. Senang menjadi orang di luar
sindentosca, senang menjadi anti tesis Jalu. Anti tesis yang tidak sanggup
lagi membantah attitude yang begitu kental dan mapan di dalam diri
sindentosca. Ini tesis saya. Bayangkan
pertanyaan seperti ini: “sindentosca
artinya apa?” “Musiknya
beraliran apa?” “Influence
kental di musik kamu apaan sih?” Bagaimana
mendapatkan jawaban yang bagus kalau pertanyaannya saja tidak bagus? (sindentosca
statement, april 2004) Ini
pertanyaan bagus: What is the canon of your music? Manusia
memang tidak bisa menciptakan hal baru. Manusia hanya mengulang, mengingat,
meracik, mencampur sesuatu yang lama menjadi “so-called NEW.”
Maksudnya tidak adakah langgam musik yang benar-benar nyata original?
Tidak ada. Tetapi ada yang disebut sebagai fashionable. Sifatnya pop,
mapan disaat tertentu lalu hilang ditelan zaman, dan muncul yang dinamakan
modernitas lalu jenuh, lalu post-modernitas, paska digital, lalu jenuh,
lalu balik lagi ke zaman industri, jenuh lagi, dst dst dst. Seperti
lingkaran setan yang terus menuntut kita untuk tetap fashionable. sindentosca=fashionable? Mungkin
saya terlalu sombong untuk bilang “Tidak.” Tetapi…kebosanan
memang akan selalu ada ketika mendengar lagu sindentosca yang “Sebatas
Teman.” Jujur, lagu itu juga bentuk kesengajaan dan paksaan yang
mendekam jiwa Jalu yang asli. “Sebatas Teman” hadir dari pengaruh jiwa
saya yang lain yang mengatakan bahwa lagu setidaknya harus komersil
sedikit. Kenyataannya, lagu itu membosankan. “Tetapi
tidak ada kata mati untuk sekitar lebih dari 648 lagu lain yang telah
diciptakannya bertahun-tahun.” Inilah
kiranya musisi minor yang begitu “kekeuh” tidak mengusung genre apapun
ke dalam musiknya. Terserah orang sebut sindentosca elektronik kek, slow
mellow kek, vibe, dasko, celtic, cranberries, demokrat,
PKS, kolor ijo, bla bla bla… What
is the name, label, logo, tagline, slogan? SIGNIFIER. Tidak,
sindentosca=signifier. Signifiednya… sindentosca=kontemplasi
Jalu sindentosca=ketulusan
Jalu sindentosca=aliran
musik Jalu sindentosca=attitude
and lifestyle sindentosca=the
next big “trendsetter”!!! Percaya? Mungkin
kamu tidak akan percaya karena kamu belum mendengar semua lagu-lagunya
yang menghabiskan dua hardisk 20gb, dan semua bentuk desainnya yang saya
sebut “elips!” Tanpa pattern yang jelas. Mungkin 648 lagu itu tidak
akan diperdengarkan demi menjaga proses bermusik Jalu yang perlahan-lahan
muncul ke permukaan. Mungkin kamu harus bersabar sebelum menyimpulkan
tentang sindentosca. sindentosca
tidak akan sengaja untuk jadi BEDA, sindentosca alamiahnya memang BEDA.
sindentosca memang tidak akan lagi berusaha menyelami genre musik yang
telah ada. Tetapi sindentosca menjadi genre musik yang akan memperkaya
musik Indonesia. sindentosca tidak akan mengikuti trend, desain, lifestyle
yang fashionable. Tetapi sindentosca bisa jadi fashion trendsetter. Kenapa
yah saya berani mengatakan ini? Apakah ramalan saya akan salah? TIDAK,
saya yakin, kamu harus yakin! sindentosca is signifier. Alasan: Modal
menjadi penyanyi memang suara yang bagus. Modal jadi musisi memang bisa
menciptakan lagu. Modal yang mahal, anugerah, bakat, kekuatan yang
seharusnya bisa terus berdiri tegak tanpa ada penanda-penanda trend lain.
Tanpa pasar apakah modal bisa hilang? Tidak. Yakin? Tergantung berapa
persen keyakinan bermusik kamu kokoh tanpa aksesoris lainnya. Tergantung
dengan bakat yang dikemas dengan attitude yang prinsipil. Attitude
prinsipil yang bisa melebihi trendsetter…yaitu menjadi LEGENDA! Memang
attitude Jalu terhadap sindentosca bagaimana? Bukan
semau gue, itu terlalu murahan. Kesannya tutup kuping. Tetapi
“kenyamanan” dalam bermusik. Jalu dan kamar, Jalu dan desktop, Jalu
dan gitar, Jalu dan non-smoker, Jalu dan curhat, Jalu dan kemarahan, Jalu
dan kekecewaan, Jalu dan kebahagiaan, Jalu dan cerita orang-orang, Jalu
dan kuping, Jalu dan sindentosca. Tidak ada tekanan karena attitude yang
memang benar-benar tidak dipaksakan. Attitude yang terlahir dari
ketulusannya bermusik yang “making love to himself.” Attitude seperti
ini yang diamini sebagai attitude yang tidak ada matinya. Yakin akan suatu
anugerah, bakat, pengalaman hidup, pembelajaran, pendengaran, panca indera,
hati. Itulah modal jadi MUSISI. ATTITUDE DOES MATTER. Kamu
kira U2 siapa? U2 dengan attitude. Kamu
kira Bjork siapa? Bjork dengan attitude. Kamu
kira The Cure siapa? The Cure dengan attitude. Kamu
kira W.R Supratman siapa? W.R Supratman dengan attitude. Kamu
kira Waljinah siapa? Emak gue…Waljinah dengan attitude. “Akhirnya,
saya berhasil menemukan genre baru di Indonesia… Genre yang tak bernama
kecuali dirinya sendiri.” Penulis
– Ree (mantan drummer sindentosca |
Lulusan S1 Sastra Inggris UNPAD). Yang
mengintip dari dalam dan luar sindentosca. Terimakasih
Jalu. |
|
|
![]() |
|||
|
|
|||
|
Copyright 2004 sindentosca Digital Handmade Optimized for 1024x768 |
|||