Dari Terjemahan Buku Qashash Al-Abrar,
karya Murtadha Muthahhari. Penerjemah buku: Anwar Wahdi Hasi
1. Nasihat
Seseorang datang kepada Rasulullah Saw. seraya berkata:
"Wahai Rasulullah, berilah aku nasihat." Kemudian Rasulullah
Saw. bertanya: "Apakah engkau akan mengamalkan jika aku beri
nasihat?" kemudian seseorang itu berkata, "Ya,
wahai Rasulullah."
Sekali lagi Rasulullah Saw. bertanya: "Apakah
engkau akan mengamalkan jika aku beri nasihat?" "Ya,
wahai Rasulullah." katanya lagi.
Setelah itu Rasulullah merasa tenang dan yakin bahwa
orang itu akan mengamalkan nasihatnya, beliau memusatkan perhatian
terhadap aapa yang hendak beliau nasihatkan, kemudian bersabda: "Apabila
engkau menginginkan sesuatu, renungkanlah. Jika ia baik, lakukanlah, jika
buruk tinggalkanlah."
2. Perlombaan Unta
Kaum Muslimin dulu menyenangi perlombaan unta, kuda dan
memanah. Islam sendiri mendorong mereka mempelajari seni perang dan
memghimbau mereka untuk menjadi orang-orang yang ahli dalam bidang
tersebut. Bahkan Rasulullah sendiri sering menghadiri
perlombaan-perlombaan macam itu, dan ini semakin mendorong pemuda-pemuda
Muslim untuk mempelajari dasar-dasar dan seni berperang. Dengan demikian,
saat itu semangat juang dan keberanian tetap terpelihara di kalangan kaum
Muslimin.
Konon Rasulullah Saw. mempunyai seekor unta yang kencang
larinya. Sebagian sahabat memperkirakan unta itu akan tampil sebagai
pemenang dalam setiap perlombaan karena mempunyai hubungan dengan
Rasulullah.
Suatu hari beliau mengadu untanya dengan unta seorang
Badui. Para sahabat hadir, menyaksikan perlombaan itu dengan penuh
semangat dan perhatian.
Ternyata hasil lomba tersebut tidakseperti yang
diperkirakan para sahabat. Unta Badui itulah yang menang. Hal itu membuat
para sahabat kecewa. Maka Rasulullah berkata kepada mereka: "Unta
dialah yang unggul. Tiada sesuatu yang dapat unggul kecuali yang telah
ditentukan Allah."
Dengan sabdanya itu Rasulullah Saw. menghilangkan
keraguan para sahabat dan mengkritik pendapat mereka dalam menilai suatu
perlombaan.
3. Membantu Kebutuhan Orang Mukmin
Ketika Shafwan al-Jammal menghadiri majelis pengajaran
Imam Ja'far Ash-Shadiq, datanglah seseorang dari Makkah, Maimun namanya,
melaporkan keuzuran Karra' menghadiri majelis.
Maka pergilah Shafwan bersama Maimun ke rumah Karra'.
Setelah menunaikan tugasnya, Shafwan kembali ke majelis, lalu ditanya oleh
Imam r.a. "Apa yang kau lakukan terhadap saudaramu?"
"Allah memenuhi kebutuhannya," jawab Shafwan.
"Jika engkau membantu sesama Muslim, itu lebih baik
bagiku daripada thawaf di Baitullah selama seminggu," kata Imam
Ja'far.
Kemudian beliau melanjutkan: "Seseorang datang
kepada Imam Hasan r.a. minta bantuan beliau untuk memenuhi kebutuhannya.
Segera beliau mengambil sandal, lalu berjalan bersama orang itu dan secara
kebetulan melewati Imam Husain yang sedang menunaikan shalat. Imam Hasan
berkata kepada orang itu: 'Mintalah bantuan kepadanya (Imam Husain)' Orang
itu menjawab: 'Sebenarnya aku ingi menyampaikan hajatku kepada beliau,
tapi aku dengar beliau sedang ber-i'tikaf.' Imam Hasan r.a.
kemudian berkata:'Ketahuilah jika dia membantumu, itu lebih baik dari i'tikaf-nya
selama sebukan.'