Home

Tentang Aku

Artikel

Tugas-Tugas

My Fave

Album Foto

Artikel-Artikel dari Link-link favorit

Tawakkal : Percaya Penuh kepada Allah

Diambil dari: http://ourworld.compuserve.com/homepages/ashahid/Tawwakul.htm

Tawakkal adalah bagian mendasar dari akidah Islam. Tawakkal disini diterjemahkan sebagai percaya dan juga  menggantungkan diri. Menyerahkan kepercayaan pada Allah SWT  memberikan sesuatu pada pandangan kita tentang kehidupan. Untuk menjelaskan poin ini, dikutip ayat-ayat berikut :

Surat Ali Imran : 160

"Jika Allah menolong kamu, maka tak ada yang dapat mengalahkanmu: Jika Allah membiarkanmu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu sesudah itu

Surat At Taubah : 51

"Katakanlah : "Tidak ada yang akan terjadi pada kami kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami: dan hany kepada Allahlah orang-orang mukmin bertawakkal"


Surat Asy Syu'araa : 217

"Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang

Surat Ali Imran : 159

"....Dan bila engkau telah bulat mengambil keputusan, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertawakkal padaNya"

Mungkin ada yang bertanya , lalu untuk apa kita bersusah payah  untuk menyelesaikan tugas kita bila tidak mempengaruhi keberhasilan kita ? Jawabannya cukup sederhana. Apa yang kita lakukan akan masuk  tiga kategori : hal tersebut ditugaskan pada kita oleh Allah, dianjurkan oleh Allah , atau kita diperbolehkan untuk melakukannya. Kategori pertama adalah kewajiban yang harus dilaksanakan, kategori kedua dilakukan untuk memperoleh ganjaran sebagai tambahan dari yang kita dapatkan pada saat menunaikan kewajiban. Pada kedua kasus ini, kita berusaha untuk menyenangkan Allah SWT (mencari ridhoNya). Sedangkan kategori yang ketiga dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang ingin kita capai. Kepastian untuk mencapai tujuan-tujuan di atas  bukan kita yang mengendalikan. Karena itu yang membuat kita melakukan sesuatu bukan karena kita dapat mengendalikan keberhasilannya. Tujuan yang ingin kita capai itu lah  yang menyebabkan kita harus melakukan  usaha.

Hal ini membawa kita pada kesalahpahaman di antara kaum muslim yang menghubungkan usaha dengan  tawakkal kepada Allah SWT.,Beberapa muslim yang memiliki pendapat tersebut mengutip hadits  sebagai pertahanannya:

A man came to the Prophet(saw) and said, "I will not tie my camel and trust in Allah" The Prophet(saw) said, 'Tie it and trust in Allah'

This Hadith does not indicate any prerequisite for trusting Allah(swt). It does not, therefore suggest that somehow there is a link between people tying the came(an action) and putting ones trust in Allah(swt). However, the Hadith conveys an important lesson to all of us: That while trust in Allah(swt) is absolute being independent of what we do it is our responsibility to act on what we intended to accomplish. In this case tying the camel was a right thing to do if the person feared that the camel would run away. Therefore he should have taken the precaution regardless of his trust in Allah(swt). Tying the camel does not take away from his trust in Allah(swt), irrespective of our efforts and the circumstances surrounding us.

This belief should help us to this life according to the commands of Allah(swt) even if we face hardships in doing so. Dissapointment, hoplessness should not daunt us because we have put our trust in Allah(swt), our Creator and the only Sustainer. Many Muslims indulge in the prohibited actions arguing that it is the only alternative, otherwise they would face disastorous consequences. Avivd example is giving riba when buying a house on a mortgage. They regard owning a house as a necessity and we are willing to sacrifice Islam in doing so. They fail to realise that it isonly Allah(swt) who provides security for them and their offsprings and they need only to put their absolute trust in Him. Unfortunately the materialistic thought that we have acquired from the Kuffar who depend on material gains for their very survival, has drastically influenced our view towards this life as well... we take pride in our wealth and what we do, and have displaced the trust in Allah(swt) by relying solely on material possesions. May Allah(swt) restore only trust in Him for only then can we truly succeed.


Dari Terjemahan Buku Qashash Al-Abrar, karya Murtadha Muthahhari. Penerjemah buku: Anwar Wahdi Hasi

1. Nasihat

Seseorang datang kepada Rasulullah Saw. seraya berkata: "Wahai Rasulullah, berilah aku nasihat." Kemudian Rasulullah Saw. bertanya: "Apakah engkau akan mengamalkan jika aku beri nasihat?"  kemudian seseorang itu berkata, "Ya, wahai Rasulullah." 

Sekali lagi Rasulullah Saw. bertanya: "Apakah engkau akan mengamalkan jika aku beri nasihat?" "Ya, wahai Rasulullah." katanya lagi.

Setelah itu Rasulullah merasa tenang dan yakin bahwa orang itu akan mengamalkan nasihatnya, beliau memusatkan perhatian terhadap aapa yang hendak beliau nasihatkan, kemudian bersabda: "Apabila engkau menginginkan sesuatu, renungkanlah. Jika ia baik, lakukanlah, jika buruk tinggalkanlah."

 

2. Perlombaan Unta

Kaum Muslimin dulu menyenangi perlombaan unta, kuda dan memanah. Islam sendiri mendorong mereka mempelajari seni perang dan memghimbau mereka untuk menjadi orang-orang yang ahli dalam bidang tersebut. Bahkan Rasulullah sendiri sering menghadiri perlombaan-perlombaan macam itu, dan ini semakin mendorong pemuda-pemuda Muslim untuk mempelajari dasar-dasar dan seni berperang. Dengan demikian, saat itu semangat juang dan keberanian tetap terpelihara di kalangan kaum Muslimin.

Konon Rasulullah Saw. mempunyai seekor unta yang kencang larinya. Sebagian sahabat memperkirakan unta itu akan tampil sebagai pemenang dalam setiap perlombaan karena mempunyai hubungan dengan Rasulullah.

Suatu hari beliau mengadu untanya dengan unta seorang Badui. Para sahabat hadir, menyaksikan perlombaan itu dengan penuh semangat dan perhatian.

Ternyata hasil lomba tersebut tidakseperti yang diperkirakan para sahabat. Unta Badui itulah yang menang. Hal itu membuat para sahabat kecewa. Maka Rasulullah berkata kepada mereka: "Unta dialah yang unggul. Tiada sesuatu yang dapat unggul kecuali yang telah ditentukan Allah."

Dengan sabdanya itu Rasulullah Saw. menghilangkan keraguan para sahabat dan mengkritik pendapat mereka dalam menilai suatu perlombaan.

 

3. Membantu Kebutuhan Orang Mukmin

Ketika Shafwan al-Jammal menghadiri majelis pengajaran Imam Ja'far Ash-Shadiq, datanglah seseorang dari Makkah, Maimun namanya, melaporkan keuzuran Karra' menghadiri majelis.

Maka pergilah Shafwan bersama Maimun ke rumah Karra'. Setelah menunaikan tugasnya, Shafwan kembali ke majelis, lalu ditanya oleh Imam r.a. "Apa yang kau lakukan terhadap saudaramu?"

"Allah memenuhi kebutuhannya," jawab Shafwan.

"Jika engkau membantu sesama Muslim, itu lebih baik bagiku daripada thawaf di Baitullah selama seminggu," kata Imam Ja'far.

Kemudian beliau melanjutkan: "Seseorang datang kepada Imam Hasan r.a. minta bantuan beliau untuk memenuhi kebutuhannya. Segera beliau mengambil sandal, lalu berjalan bersama orang itu dan secara kebetulan melewati Imam Husain yang sedang menunaikan shalat. Imam Hasan berkata kepada orang itu: 'Mintalah bantuan kepadanya (Imam Husain)' Orang itu menjawab: 'Sebenarnya aku ingi menyampaikan hajatku kepada beliau, tapi aku dengar beliau sedang ber-i'tikaf.' Imam Hasan r.a. kemudian berkata:'Ketahuilah jika dia membantumu, itu lebih baik dari i'tikaf-nya selama sebukan.'


Hosted by www.Geocities.ws

1