" Apakah engkau tidak menyadari bahwa ini adalah suatu perangkap agar
engkau menjadi marah. Apakah engkau tidak menyadari bahwa ini juga merupakan
strategi perang antara Jipang melawan Pajang. Jika engkau sudah marah, maka engkau
tidak dapat lagi membedakan antara tindakan baik dan tindakan tidak baik didalam
menghadapi Sultan Pajang." kata Matahun dalam menberikan saran.Aryo Penangsang
terdiam sejenak, dia berpikir, " memang benar apa yang dikatakan oleh Patih Matahun,
ini adalah bagian dari perang,"
" Apakah engkau mau mendengarkan nasihat saya, Nik Mas Adipati?, tanya Patih
Matahun.
" Apa menurut pendapatmu?, tanya Penangsang.
" Saya kira, Sultan Pajang sedang atau sudah menyiapkan semua laskarnya
diperbatasan untuk menyambut kamu. Dan ini buklan soal kecil, jadi sebaiknya kita
berkunjung ke Sunan Kudus dan meminta nasihatnya," kata Patih Matahun.
" Kamu benar Matahun, tapi saya peringatkan kamu, jangan kamu menyebut dia
Raja,sebut saja dia Karebet, karena saya Raja Demak sebenarnya, bukan dia." kata
Penangsang.
" Ya Nik Mas Adipati, kamu akan menjadi Raja segera, tetapi pekerjaan ini tidaklah
mudah. Saya sarankan agar Nik Mas menghadap sekali lagi Sunan Kudus untuk
mendapatkan dukungannya dan juga petunjuknya, saya yakin beliau akan mendukung kita,"
kata Patih Matahun.
Setelah beberapa saat Aryo Penangsang menjadi tenang lagi, pendapat Patih Matahun
memang benar adanya " Kamu adalah satu stafku yang terbaik, baik kita pergi ke Kudus
lagi," kata Aryp Penangsang.
" Ya Nik Mas Adipati, kita akan pergi ke Kudus dengan semua perajurit, Tamtama,
Hulubalang dan juga dengan logistik yang penuh," kata Patih Matuhun.
" Mengapa?," tanya Penangsang.
" Jika Sunan Kudus mendukung kita, kita akan langsung pergi Ke Pajang untuk
melawan Karebet dan kawan-kawannya."
Adipaty Aryo Penangsang memimpin laskarnya dengan naik kuda dimuka barisan, menuju
Kudus.
Pada waktu mereka sampai dipinggir Kasunanan, kampus Sunan, mereka membuat tenda-tenda
untuk tentara. Sunan Kudus terkejut meliha tindakan Penangsang.
" Hai Penangsang akan dapakan kami dengan tentara kamu sebanyak ini?, tanya Sunan
Kudus.
" Eyang Guru, kami tidak bermaksud jelek terhadap institusi Guru," kata
Penangsang.
" Tetapi kamu telah membuat takut semua murid muridku; Sebetulnya kamu bermaksud
apa?, " Tanya Sunan Kudus.
Aryo Penangsang menceritakan apa adanya bahwa dia telah mengirim pembunuh untuk
melenyapkan Karebet, tetapi gagal. "Adi Mas Karebet tahu bahwa saya mengirim
pembunuh untuknya, jadi peperangan antara Jipang dan Pajang sudah tidak bisa dihindari
lagi" kata Aryo Penangsang.
" Sebelum dia menyerang, saya akan menyerang lebih dulu," katanya
" Jadi kamu mau menyerang Pajang?, tidak Penangsang, saya tidak setuju itu,"
kata Sunan Kudus.
" Mengapa Kakek Sunan?, saya tahu bahwa tentara si Karebet terlatih baik, tetapi
saya tidak takut karena tentara saya mempunyai kemampuan untuk tampil sebagai pemenang,
saya percaya itu, " kata Aryo Penangsang.
" Masalahnya bukanlah takut atau tidak takut, menang atau tidak menang, tetapi
engkau mempunyai pikiran yang sempit," kata Sunan Kudus.
" Mengapa kakek?, menang atau kalah adalah hasil akhir dari suaru pertempuran,
kita akan lihat nanti," kata Penangsang.
"Baik, dimisalkan engkau sebagai pemenang, apakah engkau kira engkau masih
mempunyai tentara yang utuh?, Engkau akan kehilangan ribuan perajurit, ratusan hulu balang
dan puluhan Tantama. Dan apakah kamu kira sekutu Pajang akan diam saja? seprti
Jepara, Kalinyamat, Cirebon, Banten dan masih banyak lagi negeri yang lain; Sanggupkah
engkau menghadapi mereka? Sementara itu jika engkau kalah, itu berarti tidak ada
cerita lagi, selesai.
" Tapi Kakek, Jipang juga mempunyai sekutu," kata Penangsang.
" Anakku, didalam peperangan yang engkau siapkan menyangkut ribuan tentara seperti
ini, keberanian dan kesaktian komander hanyalah memainkan peran yang kecil, tetapi
strategi komander untuk memenangkan pertempuran adalah sangat diperlukan; Oleh sebab
itulah kami memerlukan komander yang briliant pandai," kata Sunan Kudus.
" Jadi apa yang harus saya lakukan Kakek?
" Penangsang, saya adalah gurunya si Karebet. Karebet juga mempunyai
guru-guru yang lain, diantaranya Ki Ageng Sela, Ki Ageng Banyu Biru, Ki Ngenis, Ki Butuh
dan Sunan Kali Jaga. Betapa kuatnya si Karebet itu, tetapi engkau juga sama
kuatnya dengan dia, saya tidak tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang andai kata
engkau diadu berkelahi melawan si Karebet. Jadi saya akan mengundang Sultan Pajang
datang kesini dan saya akan konfrontasikan kepadamu, kemudian terserah sama kamu mau guna
memecahkan masalah ini," Kata Sunan.
Sunan Kudus pergi diiringi oleh dua orang stafnya, kemudian dia membuat surat undangan
kepada Sultan Pajang, meminta dia datang tetapi tidak disebutkan untuk apa. Utusan
segera pergi ke Pajang memakai kuda mengantar surat tersebut.
Aryo Penangsang berpikir, " Sunan mengatakan saya harus menyelesaikan masalah ini
dengan cara saya, jadi kalau saya bunuh si Karebet, saya akan segera menjadi Raja.
Sementara itu Sultan Hadiwijoyo sedang mengadakan rapat dengan seluruh staf sewaktu
utusan dari Sunan Kudus datang.
Diantara yang hadir didalam rapat itu adalah, Tumenggung Ki Macanegara, Ki Pemanahan,
Bupati Ki Wilamarta, Bupati Ki Wuragil, Pangeran Benawa, Ki Panjawi, Pangeran Danang
Sutawijaya.
" Guruku Sunan Kudus mengundangku ke Kasuhunan, saya tidak tahu dengan maksud apa,
dapatkah saudara-saudara memberikan pendapat?" kata Sultan.
Mancanegara berkata, " Saya mendapat laporan bahwa terlihat pergerakan pasukan
Jipang ke arah Kudus dalam jumlah yang besar; apakah ada hubungannya dengan undangan Sunan
Kudus kepada Sultan dengan peristiwa ini, kita perlu mengkajinya,"
" Ya saya setuju dengan pendapat anda bahwa kedua peristiwa itu ada hubungannya
dan terkait juga dengan percobaan pembunuhan kepada saya baru-baru ini; Tetapi saya tidak
dapat menolak undangan ini," kata Sultan.
" Baginda dapat pergi, tetapi harus ditemani disebabkan tingkah Adipati Jipang
sudah menunjukan sikap bermusuhan, siapa tahu dia membuat trik trik yang membahayakan
baginda," kata Mancanegara.
" Benawa dan Sutawijaya, perintahkan kepada semua perajurit-perajurit kita untuk
bersiap-siap, kita akan berangkat ke Kudus dua hari kemudian," perintah Sultan.
" Sandika Gusti Rama," kata Pangeran Benawa.
Pasukan Pajang dalam jumlah besar berangkat keKudus dipimpin langsung oleh Sultan
Hadiwijoyo sendiri diiringi oleh Pangeran Benawa, Sutawijaya, Patih Mancanegara dan
lainnya. Karena Sultan akan menghadapi saat saat yang genting di Kasunanan Kudus
maka dia membawa keris yang bernama Kiai Cerubuk dan Kiai Metir yang mempunyai daya
kesaktian. Meraka sampai di tepi sungai yang dinamai sungai Sore dan mendirikan
kemah-kemah. Sewaktu senja menjelang, Sultan datang ke Kasunanan beserta rombongan
guna menghadap Sunan Kudus. Sultan tidak menemukan Sunan Kudus tetapi didapati Aryo
Penangsang beserta sepuluh orang pengawalnya. Sultan Hadiwijoyo melangkah menuju
Aryo Penangsang hingga berjarak tiga meter dimuka dia, kemudian berhenti. Mereka
saling pandang menatap dengan pandangan tajam; seperti dua harimau yang akan berkelahi.
Ruangan pendopo menjadi sunyi disebabkan tidak ada orang yang bercakap atau
berbisik. Tetapi pada akhirnya Aryo Penangsang berbicara guna mendinginkan suasana
yang tegang itu.
" Selamat datang di Kudus Dimas Sultan, Kakek Sunan Kudus masih ada dikelasnya
tetapi dia akan datang segera menemui kita," kata Aryo Penagsang.
" Terimakasih kakang Adipati," kata Sultan.
Mereka duduk dikursi masing-masing dan situasinya lebih tenang.
" Sudah lama kita tidak pernah bertemu, jadi maafkan saya yang mana saya tidak
dapat datang pada saat pelantikan anda sebagai Raja di Pajang," kata Aryo Penangsang.
" Tidak mengapa Adipati, saya tau betapa sibuknya anda belakangan ini," kata
Sultan.
" Apa maksud kedatangan anda kesini?" tanya Aryo Penangsang.
" Hanya memenuhi undangan Sunan, dan kamu?," kata Sultan.
" Sama seperti kamu, memenuhi undangan Sunan; jika tidak salah anda mempunyai
keris yang bagus sekali, bolehkah saya melihat keris itu? pinta Aryo Penangsang.
" Orang-orang hanya omong saja, itu bohong semua, tidak bisa dibandingkan dengan
keris kamu, kiai Setan Kober," kata Sultan.
" Jangan merendahkan diri Dimas, bolehkah saya melihatnya?, pinta Aryo Penangsang.
Mancanegara berbisik," jangan lakukan itu Sultan, ini adalah trik,"
" Jangan takut, saya mengerti," jawab Sultan.
" Inilah kerisku tetapi rupanya tidak lah sama dengan kerismu, si Kiai Setan
Kober", kata Sultan sambil memberikan kerisnya. Sementara itu Sultan juga
bersiap-siap dengan kerisnya yang lain di punggungnya; Jika dia menusuk dengan kerisnya,
dia akan membalas menusuk dengan kerisnya yang lain.