Mas Karebet the King

 Part seven

Retold by Satoto Kusasi

 

 

Suddenly Aryo Penangsang stood up from his chair, unsheathed the dagger and said, “ You right Adimas, not as good as Setan Kober, but this thing is so powerful  that it could make some one will dyed soon with just scratches.    Sultan also stood up and then unsheathed the other keris Kiai Cerubuk.   Then the two men stare at each other with keris in his hands.   Pendopo became quiet every body held his breathing since the two men seemed will stab each other.    The follower also held his keris each ready for fighting.

 

But the critical condition became calm down again since Sunan Kudus came into the room.   “ Hi what are you doing with keris in your hands each, will you make a trade of keris?    Nikmas Sultan, keep your weapon; that is not good to show weapon to the people.     And you Penangsang sheathe your keris immediately for make clear everything, do it,” said Sunan Kudus.

 

 Hadiwijoyo sheathed his keris and Penangsang looked at Sunan Kudus, waited the next instruction.  

" Penangsang hurry up to sheathe your keris, what are you waiting for? “ said Sunan Kudus.

 

Then Penangsang sheathed the Hadiwijoyo’s keris and said, “ I just want to see the keris of Dimas Sultan that it was a famous”.

 

Sunan Kudus thought, “ He really sheathed the dagger, how stupid Penangsang is,” 

 

Aryo Penangsang gave back the Sultan’s keris and saying, “That is beautiful keris, good weapon, rare people could be able to keep this thing”.

 

“Thank you very much” Said Sultan.

 

“That would be good; you are the noble man and also the leader of people, so you should not be childish; welcome Nakmas Sultan at Kudus, I think both of you still tired, so I hope you can go to your camp and I will call you if the condition be cool and calm.” Said Sunan Kudus.

 

Sultan Hadiwijoyo and his follower went home after say farewell to Sunan Kudus.   Mean while Aryo Penangsang still live at pendopo talking with his grandpa.

 

 “ You lose the golden opportunity my grandson,” said Sunan Kudus.

 

“ Golden opportunity?, what you mean by that? “ said Penangsang.

 

“ Actually you are smart Penangsang, but at the moment of a critical to finish your problem then suddenly you become foolish, “ said Sunan Kudus.

 

“ Am I wrong? Did I make something foolish? “ asked Penangsang.

 

“ Matahun, would you explain to your Master what foolish that he had done.” Said Sunan Kudus. “ Then I will take a rest, don’t disturb me please. “

 

“ Yes Matahun, will you explain to me, it seemed that Sunan get angry to me and frustrated, “ said Penangsang.

 

“ It is a pity that you didn’t get in what code word has been said by Sunan; Will you expect Sunan would say clearly to command you to stab Sultan Hadiwijoyo with his keris, Kiai Metir?   Did you hear what Sunan say, “ Sheath your keris immediately then your problem will be clear “  To sheath keris is mean stabing Sultan Hadiwijoyo, because the sentence add by “will be clear”.    You didn’t understand with that word. “ Said Patih Matahun.

 

“ Oh, how stupid am I, “ said Penangsang; he hit his head by his own hand.   “ But never mind, the point is we know that Sunan support us, that is a fact.  We fail to day but will not tomorrow; I will never stop until I reach my aim, “

 

Mean while on the way to their camp, Sultan Hadiwijoyo and all of his staff discussed what the happening at Pendopo Kasunanan.      “ Almost we are going to smear the Pendopo Kasunanan with blood; I saw every Tamtama Jipang hold their keris each; if it would had happened then I had chosen Patih Matahun for my opponent.     “ I chose Ki Ronce, senopati of many whimps.”

 

“ So as you see, it is clear that how be enemies the Jipang people to us; then the open war could not be avoided, that is only a moment to happen.   I hope you all  be ready to fight. “ Said Sultan Hadiwijoyo while riding his horse.

 

“ On the other bank of this river there were camps of theirs, don’t provoke them, wait my instruction, do you understand? “ said Sultan

 

“ Sandika Gusti, yes Master. “ said the soldiers.

 

“ I still didn’t know what the purpose of Sunan Kudus by calling me to Kudus.   While we are waiting his calling, I am willing to go to visit my dearest Kakang Ratu Kalinyamat at mount Danareja.” Said Sultan.

 

That night, Sultan and his follower went to mount Danareja.   The site was dark and quiet; there were few of cabins for guard.   After Sultan asked permit to guards, he stood in front of the cave and made dialogued with Ratu Kalinyamat, without look at each other.

 

“ What purpose you come to us?” said Ratu Kalinyamat.

 

“ Just to know how is your condition and your health, “ said Sultan

 

“ I am fine thank you; I heard the news that Pajang and Jipang has a critical situation for going into war, is it true? Said Ratu.

 

“ Yes Yunda Ratu, seems we are going to make a war.   But it is depend on Kakang Penangsang; we are just defender and  a balance maker “ said Sultan.

 

“ Dimas Sultan, I support you to fight Penangsang.   If you have successful killed Penangsang, I would have given you Kalinyamat, Jepara and all of the riches on there.” Said Ratu.

 

Behind Sultan, Mancanegara whispered to Sultan, “ Yes, say yes please.”

 

“ Well Yunda Ratu, don’t worry about that; I know just I could be able to kill Penangsang, Adipati Jipang.

 

Then the dialogue continued to brief issue, until midnight, and then Sultan and his follower came home to the camp.

Tiba-tiba Aryo Penangsang berdiri dari kursinya, menghunus keris itu dan berkata, " Engkau benar Adimas tidak seperti Kiai Setan Kober, tetapi senjata ini ampuh sekali dimana hanya tergores saja orang sudah dapat mati."   Sultan pun ikut berdiri dan menghunus kerisnya Kiai Cerubuk, kemudian keduanya saling menatap dengan keris ada ditangan.  Pendopo menjadi sunyi semua orang menahan nafasnya, kelihatannya kedua pemimpin itu mau saling tusuk.  Para pengikutnya masing-masing memegang hulu keris senjatanya bersiap untuk bertempur.

Tetapi situasi yang tegang itu menjadi kalem kembali saat Sunan Kudus memasuki ruang Pendopo.  " Hai apa yang kalian lakukan? sedang berdagang keris? Nikmas Sultan simpanlah kerismu, tidak baik memperlihatkan senjata dihadapan orang-orang.  Dan enkau Penangsang sarungkan keris itu secepatnya agar semua masalah menjadi beres, kerjakan." kata Sunan Kudus.

Hadiwijoyo menyarungkan kerisnya, sementara Aryo Penangsang melihat kepada Sunan, menunggu perintah.          " Penangsang sarungkan kerismu cepat, menunggu apa lagi," kata Sunan Kudus.

" Saya hanya melihat kerisnya Dimas Sultan yang terkenal itu," kemudian disarungkan dan diberikan kepada Sultan Hadiwijoyo.

" Dia benar-benar menyarungkan keris itu,oh Penangsang alangkah bodohnya kamu itu," pikir Sunan Kudus.

Aryo Penangsang memberikan kembali kerisnya Hadiwijoyo.  " Itu adalah keris yang bagus, jarang ada orang yang dapat mempunyai keris sebagus itu," katanya.

" Terimakasih Kangmas Adipati," jawab Sultan.

" Ini baru baik sekali; engkau adalah ningrat dan juga pemimpin masyarakat jadi janganlah bersifat kekanak-kanakan; selamat datang Nak Mas Sultan di Kudus; Saya kira kamu berdua dalam keadaan lelah, jadi saya persilahkan kembali ke kamp masing-masing dan besok saya panggil kembali bila susananya menjadi dingin dan tenang kembali," kata Sunan Kudus.

Sultan Hadiwijoyo pulang kembali ke kamp bersama dengan rombongan dan sementara itu Aryo Penangsang masih bercakap-cakap dengan kakeknya.

" Kamu kehilangan kesempatan emas cucuku," kata Sunan Kudus

" Kesempatan emas?, apa maksudmu dengan itu? tanya Aryo Penangsang.

" Sebenarnya engkau adalah seorang yang cerdas Penangsang, tetapi didalam keadaan genting kamu tiba-tiba menjadi bodoh," kata Sunan Kudus.

" Apakah saya salah? apakah saya berbuat sesuatu yang bodoh?" tanya Aryo Penangsang.

" Matahun dapatkah engkau terangkan kepada Tuanmu, perbuatan bodoh apakah yang dilakukan oleh tuanmu, sementara saya akan masuk kamar untuk beristirahat, jangan diganggu," kata Sunan

" Ya Matahun tolong jelaskan kepada saya, nampaknya Sunan marah dan kecewa kepada saya," kata Aryo Penangsang.

" Sangat disayangkan bahwa Tuan tidak mengerti akan kata-kata sandi yang diucapkan oleh Sunan; Apakah engkau mengharapkan Sunan akan memberikan aba-aba dengan jelas untuk menikan Sultan Hadiwijoyo dengan kerisnya Kiai Metir?  Apakah engkau mendengar apa yang dikatakan Sunan, " Sarungkan kerismu segera dan masalahmu akan selesai".   Menyarungkan keris berarti menikam Hadiwijoyo karena kalimat itu ditambah " masalah kamu akan selesai" Tuan tidak mengerti dengan kata -kata itu," kata Patih Matahun.

" Oh alangkah bodohnya aku ini," kata Ary Penangsang sambil memukul kepalanya sendiri.  " Tidak mengapa, paling tidak kita sudah tahu bahwa Sunan mendukung kita, ini adalah fakta; Kita gagal untuk hari ini, tetapi besok tidak; Saya tidak akan berhenti sampai tujuan saya tercapai.

Sementara itu dalam perjalanan pulang ke kamp, Sultan Hadiwijoyo berdiskusi dengan stafnya apa yang baru terjadi dipendopo Kasunanan.  " Hampir saja kita melumuri Pendopo Kasunanan dengan darah, saya perhatikan setiap Tamtama Jipang memegang kerisnya masing-masing; Jika sampai terjadi maka saya akan memilih patih Matahun sebagai lawan saya,"

" Saya akan memilih Kiai Ronce yang banyak tingkah," kata yang lain.

" Seperti yang kamu lihat sendiri, bagaimana hebatnya sikap permusuhan orang-orang Jipang kepada kita; dan perang terbuka tidak dapat dihindari lagi, sekarang tinggal masalah waktu.  Saya mengharapkan kamu sudah siap," kata Sultan Hadiwijoyo diatas kudanya.

" Ditepi sungai sebelah sana mereka mendirikan kemah, saya harap kamu tidak melakukan provokasi, tunggu perintah saya," kata Sultan Hadiwijoyo.

" Sandika Gusti," kata para perajurit.

" Saya masih belum mengerti maksud Sunan memanggil saya.  Sementara saya menunggu panggilan Sunan, saya akan mengunjungi kakak tercinta Ratu Kali Nyamat digunung Danareja," kata Sultan.

Malam itu Sultan dan para pengikutnya pergi kegunung Danareja.  Tempatnya gelap dan sunyi; terdapat beberapa gubuk yang dibangun bagi para pengawal.  Setelah Sultan minta izin kepada pengawal, dia berdiri dimuka guha dan mengadakan percakapan denga Ratu, tanpa melihat satu sama lain.

" Apa maksud kamu mengunjungi kami?" tanya Ratu.

"Hanya ingin mengetahui kondisi kesehatan kamu, Kakang Ratu," kata Sultan.

" Saya baik-baik saja; Saya mendengar khabar bahwa Jipang dan Pajang didalam masa-masa genting menuju ke peperangan, apakah benar begitu? kata Ratu.

" Ya Yunda Ratu, sepertinya kita akan berperang.  Tetapi ini tergantung kepada Kakang Penangsang, kami hanya bertahan dan membuat pengimbang," kata Sultan.

" Dimas Sultan, saya mendukung kamu untuk berperang melawan Penangsang. Jika kamu sukses membunuh Penangsang, saya akan berikan kamu Kalinyamat, Jepara dan seluruh isi kekayaannya disana, " kata Ratu.

Dibelakang Sultan, Mancanegara berbisik kepada Sultan, " katakan ya, hayo katakan ya,"

" Baik Yunda Ratu jangan takut akan hal itu, nampaknya hanya saya yang dapat membunuh Aryo Penangsang, Adipati Jipang." kata Sultan.

Percakapan berlanjut kepada hal-hal yang tidak serius sampai tengah malam dan pada akhirnya Sultan meminta diri.

 

 

 

 

 

 

Will Be Continued soon.

  karebettheking7.html

Hosted by www.Geocities.ws

1