Hikaru beranjak keluar, meninggalkan Sakura dengan Daiki berduaan. Hikaru tak heran dengan keakraban mereka karena mereka teman sejak kecil. Sama seperti dirinya, Yabu, dan Lily.
Hmmm enaknya kemana ya? Ke cafetaria aja deh... Kali-kali ketemu Yuuya sama Kei. Ke mana ya tuh anak-anak? Pikir Hikaru sambil melangkahkan kakinya menuju salah satu spot favoritnya para murid Daimonia.
“Eh, Hikaru-kun! Mau ke cafetaria ya?” sapa Sora dengan riangnya.
“Eh Sora-chan. Kamu juga mau ke sana?”
“Yah, tadinya sih mau cari Sakura. Tapi gak tau ke mana tuh anak. Jadi kali aja ada di sana.”
“Oh Sakura sih lagi ada sama Daiki di ruang osis.”
“Ngapain mereka di sana” tanya Sora dengan wajah heran.
“Entahlah, tapi jangan ganggu merekalah.”
“Hmmm, aneh... Yawda, ayo kita ke cafetaria aja.”
Sementara itu di ruang osis....
“Mau ngomong apa?”
“Tentang Sora... Tadi aku udah nyampein salammu.”
“Yang bener?! Trus...?” Daiki terlihat agak terkejut dan gembira.
“Yah, katanya salam balik.”
“Tada sore dake?” kini mimiknya berubah agak kecewa.
“Hai, sore dake desu .” Jawab Sakura datar.
“Daiki, kamu beneran suka sama Sora?” lanjut Sakura dengan muka yang serius.
“Yup, love at first sight nih...”
“Yah, aku cuma gak mau liat kamu kecewa aja sih.”
“Emang kenapa?” tanya Daiki penasaran.
“Ah, gak kog... Udah ah, aku mau cari Kanata dulu ya! Bye!” Sakura buru-buru pergi meninggalkan Daiki yang kini makin keheranan dengan sikap misterius Sakura.
Maaf ya Dai-chan, aku gak bisa jelasin ke kamu tentang Sora. Kamu pasti akan kecewa kalau tahu bagaimana perasaan Sora yang sebenarnya. Sakura berjalan tertunduk, prihatin pada sahabatnya itu.
Tiba-tiba, BRUUUKKK!!! Karena tak melihat ke depan, ia menabrak seseorang.
“Eitsss, makanya kalo jalan lihat ke depan donk!” kata seseorang dengan suara yang lembut sambil menangkap Sakura yang hampir saja terjatuh.
“Kanata!” sorak Sakura terkejut.
“Kamu kemana aja sih? Kucariin dari tadi. Habis dari ruang osis ya? Ngapain? Kan aku uda bilang mau ketemu kamu waktu istirahat, Aku udah nunggu hampir 15 menit, tau!” tanya Kanata bertubi-tubi.
“Weitsss. Stop! Kapan aku jawabnya?”
“Eh iya, sori. Habis kan aku khawatir sama kamu. Kamu kan orangnya ceroboh. Ntar kalo ada apa-apa sama kamu, kau bisa dimarahin Bibi!”
“Iya, iya. Sori. Nih, aku baru mau nemuin kamu. Emang kenapa kamu mau ketemu aku? Kalo ada yang mau dibicarain kan bisa di rumahku atau rumahmu, secara rumah kita sebelahan. Kamu kan paling jago nyelinap rumah orang!”
“Ssssttttt, jangan buka aib orang dong! Ntar dikira aku berbakat jadi pencuri lagi!”
Emang! Kataku dalam hati. “Nah, jadi ada apa, Ouji-sama?”
“Ouji-sama?”
NEXT
BACK
|