LUMBINI NATURAL PARK
Taman Alam Lumbini seluas 3 hektar ini memiliki beberapa keistimewaan yang menarik para wisatawan untuk berkunjung.
MOREGUNUNG SIBAYAK BERASTAGI
Gunung Sibayak adalah kelas gunung berapi aktif yang memiliki uap panas. Gunung sibayak ini salah satu gunung yang ramai dengan pengunjung.
MOREGREND HILL CITY SIBOLANGIT
Hillpark Sibolangit merupakan sebuah tempat yang wajib anda kunjungi apabila anda melancong ke kota Medan atau ke daurah yanah karo.
MOREDANAU LAU KAWAR
Danau Lau Kawar adalah salah satu danau yang ada di kawasan ekosistem Leuser (KEL).
MOREBUKIT KUBU BERASTAGI
Berwisata di alam terbuka adalah hal paling mengasikkan di waktu libur di Bukit kubu Berastagi.
MOREPEMANDIAN ALAM SIDEK-DEBUK
Salah satu wisata yang unik dan juga banyak dikunjungi adalah pemandian alam air panas Sidebuk Debuk.
MOREBUDAYA
Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, Indonesia.
Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas. Suku Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Masyarakat Karo mempunyai sistem marga (klan). Marga atau dalam bahasa Karo disebut merga tersebut disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan yang disebut beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok, yang disebut dengan merga silima, yang berarti marga yang lima. Kelima merga tersebut adalah:
1. Karo-karo
2. Tarigan
3. Ginting
4. Sembiring
5. Perangin-angin
UIS NIPES
Kain ini dipakai untuk selendang wanita pada upacara yang bersifat sukacita maupun dalam keseharian. Lapisan luar pakaian wanita bagian bawah (sebagai kain sarung) untuk kegiatan pesta sukacita yang diharuskan berpakaian adat lengkap.
BEKA BULUH
Sebagai Penutup Kepala. Pada saat Pesta Adat, Kain ini dipakai Pria/putra Karo sebagai mahkota di kepalanya pertanda bahwa untuk dialah pesta tersebut diselenggarakan. Kain ini dilipat dan dibentuk menjadi Mahkota pada saat Pesta Perkawinan, Mengket Rumah (Peresmian Bangunan), dan Cawir Metua (Upacara Kematian bagi Orang Tua yang meninggal dalam keadaan umur sudah lanjut)Sebagai Pertanda (Cengkok-cengkok /Tanda-tanda) yang diletakkan di pundak sampai ke bahu dengan bentuk lipatan segi tiga..
KHAS KARO
Tudung dan Bulang di adat karo , yang digunakan di saat pesta pernikahan di adat karo. Tudung dipakai untuk perempuan sedangkan Bulang dipakai oleh lelaki, serta dilengkapi dengan emas-emas.
JONGKIT
Sebagai Penutup Kepala wanita Karo (tudung) baik pada pesta maupun dalam kesehariannya. Untuk beberapa daerah, diberikan sebagai tanda kehormatan kepada kalimbubu pada saat wanita Karo meninggal Dunia (Maneh-maneh dan morah-morah)
