|
Istilah "badingkut"
mulai
dilontarkan oleh Herry Dim
sejak tahun 1979. Kala itu
sehubungan dengan pekerjaan
artistiknya untuk pementasan
drama "Raja Mati"
(Eugene Ionesco) yang digarap
oleh Sanggar Kita Bandung.
Sejak itu, diam-diam "temuan"nya
itu melandasi hampir seluruh kecenderungan karya-karya
senirupanya.
Sebagai "credo," istilah
"badingkut," secara resmi
dicetuskannya pada pameran
tunggalnya yang ke-6
pada 23 November - 23
Desember 2004 di Studio Pohaci, Bandung.
Badingkut sebagai istilah
atau sebagai credo estetik
Herry Dim, tentu, bukan sesuatu
yang tiba-tiba meng"ada." Ini, sekurang-kurangnya muncul
melalui sebuah perdebatan
panjang yang antara lain
dan terutama adalah dari
dialog-dialognya dengan
Harry Roesli sebagai komposer.
Seusai pementasan Musik
Sikat Gigi di tahun 1982,
Harry Roesli menyempatkan
datang ke rumah Herry Dim.
|

|
Inti
kedatangannya terutama untuk berbicara seputar "aleatory" yang
ditulis Herry Dim di H.U. Pikiran Rakyat Diam-diam pembicaraan di tahun 1982
itu melandasi keseluruhan proses kreatif mereka berdua. Hary Roesli
menjalaninya lewat karya-karya musik, sementara Herry Dim menjalaninya lewat
senirupa. Buah dari proses itulah yang melahirkan istilah "badingkut."
Sejak itu pula, maka seluruh pameran
tunggal senirupa karya Herry Dim, itu "dibarengi" Harry Roesli.
Demikian pula seluruh karya-karya penting Harry Roesli semacam OTG atau
"overdosis" senantiasa disertai Herry Dim.
Bahkan pameran "badingkut,"
notabene menjadi semacam pertemuan puncak sekaligus terakhir antara Herry
Dim dengan Harry Roesli sebab belum lagi pameran itu berakhir, Harry Roesli
berpulang ke rahmatullah.
kontak Herry Dim:
[email protected]
|