|
Internet & Image-nya |
||||
| Teknologi
Web telah memungkinkan siapa
pun secara mudah dan cepat menyediakan layanan informasi
apa saja. Baik atau
buruk, berguna atau tidak, semuanya terserah kepada si penyedia
informasi. Maka menjamurlah Website-Website
baik dari kalangan swasta, pendidikan, lembaga-lembaga riset maupun
pemerintahan. Begitu banyak informasi yang tersedia,
sehingga kalau semua informasi tersebut ditulis dalam kertas A4,
maka tumpukan kertas A4
tersebut akan mengelilingi bola bumi beberapa kali. Begitu banyak
informasi yang tersedia sehingga pengguna Internet
sampai pada kondisi information
overflow.
Dengan sifat yang seperti itu, Web Internet dianalogikan sebagai sebuah gedung perpustakaan yang sangat besar, yang memuat semua jenis bahan informasi. Kalau Jarie Lanier – penemu virtual reality – mengibaratkan Internet sebagai lautan, maka Perry Barlow – pendiri Electronic Frontier Frontier Foundation (sebuah organisasi berpengaruh yang ditujukan untuk membela kebebasan sipil di cyberspace) mengatakan bahwa Internet pada dasarnya adalah penerbitan. setiap orang memiliki megafon. Semua orang bisa memiliki penerbitan hanya dengan bermodalkan bahasa HTML dan idealisme. Seseorang dapat saja menjadi seorang penulis sekaligus penerbitnya. Hal yang sangat dimungkinkan dalam dunia digital sekarang ini. Penerbitan sangat erat kaitannya dengan perpustakaan sebagai sebuah unit informasi. Karena semua orang bisa menjadi penerbit, maka publikasi informasi di Internet pun membludak secara kualitas maupun kuantitas. Tak dapat dibayangkan masa-masa dulu, ketika kita masih mengandalkan percetakan dan penerbitan sebagai sarana penyebaran informasi. “Kini, situs-situs Web di Internet berlipat ganda dalam setiap lima puluh hari,” tulis Negroponte dalam bukunya yang fenomenal (dan provokatif), Being Digital. Sebuah homepage baru menjadi on-line dalam setiap empat detik. Lalu warga jaringan (Netizen) pun akan tersesat di rimba informasi yang tidak ada jagawananya ini. Internet (Web) kini juga telah menjadi salah satu sumber belajar (learning resources) selain perpustakaan. Sumber belajar adalah segala sumber yang berupa orang, data, teknik atau prosedur yang memungkinkan seseorang belajar apabila berinteraksi dengannya. Internet telah mengubah semua aspek dalam proses transfer informasi. Semua orang, dengan menggunakan sebuah modem dan jaringan telepon di tempatnya dapat mengerjakan berbagai hal seperti menerbitkan jurnal dan mengatur sebuah pertemuan. Perkembangan teknologi Web ini mengakibatkan pertukaran dan pengaksesan informasi dan pertukaran data semakin mudah dan cepat. Internet (lebih spesifik, Web) menyediakan fasilitas penelusuran dan pertukaran informasi yang tersedia, tanpa dibatasi waktu dan dapat dilakukakan oleh siapa saja yang terhubung dengan jaringan. Internet menyediakan informasi dalam berbagai format elektronik baik berupa format magnetik maupun format optik dan pada umumnya digunakan untuk menyimpan informasi sekunder seperti bibliografi dan indeks maupun informasi berupa naskah lengkap (fulltext), seperti artikel majalah, prosiding, dan sebagainya. Semua informasi yang diperoleh itu dapat dimanfaatkan sebagai referensi, lahan bisnis dan sarana hiburan. Internet dapat juga berfungsi sebagai tempat untuk mempromosilkan hasil penelitian yang kita lakukan agar dapat diakses oleh masyarakat di seluruh dunia. Puluhan ribu perpustakaan dan pusat-pusat informasi di dunia saling terhubung melalui Internet serta dimanfaatkan oleh jutaan pemakai baik secara pribadi maupun organisasi sehingga membentuk suatu sistem informasi besar yang disebut Virtual Library. |
Search
engine di dunia Internet
menjadi dewa penolong bagi netters yang kebingungan. Tapi fasilitas ini
pun tidak sebaik yang kita sangka, hanya sekedar membantu.
Paling
tidak hal ini dapat dilihat dari nilai perolehan yang banyak secara
kuantitas, namun ketepatan (kualitas) informasi yang dicari sangat kecil.
Seperti Yahoo! misalnya, pada awal peluncurannya hanya bermodalkan
situs-situs yang dibookmark oleh Jerry Yang dan David Filo – sang doctoral
candidate yang DO karena keasyikan dengan Yahoo! - nya.
Menurut Onno W.Purbo–pakar Internet Indonesia – Dunia cyber merupakan sebuah dunia yang berbasis wahana 3C (computer communication & content) yang memungkinkan transaksi informasi, pengetahuan dan uang terjadi dalam orde detik dan menit. Kecepatan transportasi informasi, pengetahuan dan uang yang demikian cepat akhirnya akan membuka penghalang barrier yang selama ini menjadi momok di dunia nyata seperti keterbatasan dimensi ruang, dimensi waktu, dimensi birokrasi, dimensi institusi, dimensi negara. Berbagai paradigma lama yang berbasis wahana konvensional jadi perlu dipertanyakan bahkan mungkin perlu di revisi. Dan Web-lah yang berhak menjadi representasi dari semua hal itu. Media cetak yang telah lama berkiprah sebagai medium untuk menyebarluaskan informasi, khususnya surat kabar dan majalah, telah mengalami sedikit perubahan dengan munculnya Web. Kini banyak isi dari surat kabar dan majalah dapat kita lihat melalui Web, meskipun tidak semua informasi dari surat kabar atau majalah dalam bentuk cetak, juga tersedia dalam bentuk dokumen Web, dan urutannya pun berbeda. Dilihat dari sisi itu, tampaknya, Internet (Web) merupakan sebuah ruang informasi dan komunikasi budaya yang menjanjikan, menembus batas-batas antarnegara, dan mempercepat penyebaran dan pertukaran ilmu dan gagasan di kalangan ilmuwan dan cendekiawan di seluruh penjuru dunia. Sejak tahun 1993, Internet dibuka untuk umum dan ribuan perusahaan dan organisasi, pemerintah dan swasta, memasang situs Web masing-masing di sana. Begitu juga organisasi agama. Akhirnya, Internet pun menjadi milik semua orang, menjadi tempat penyimpanan dan pertukaran informasi dari satu penjuru ke penjuru bumi lainnya. Dan akhirnya kedatangan media elektronik telah memaksa kita mengubah cara pandang terhadap dokumen dalam arti luas. Sebagaimana yang dikatakan Negroponte, “Ada dua hal yang terpisah sebagaimana seorang penulis yang menulis dan pembaca yang membaca. Apa yang kita pelajari mengenai situs Web adalah publikasi yang memiliki sejumlah penulis dan pembaca tertentu mulai berubah. Seseorang yang menjadi pembaca sekaligus akan menjadi penulis. Isu perantara pun menjadi hal yang hangat di Web. Karenanya, seseeorang harus menyadari bahwa begitu ia tak terperantai, ia akan segera memperantari sendiri, kecuali mereka sangat bodoh.” Tata letak dalam dokumen Web tidak sama dengan versi cetakan. Yang menarik adalah mengapa banyak surat kabar, majalah, penerbit, perpustakaan, peneliti dan warga jaringan (Netizen) sebagai individu ikut-ikutan menggunakan jasa Web? Apakah mereka berpendapat bahwa tanpa masuk ke dalam industri ini mereka lantas ketinggalan zaman ? Sebenarnya ada beberapa faktor yang membuat Web menjadi begitu penting dalam menyimpan dan menyebarluaskan informasi. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut. 1. Sebagai cara yang lebih efisien dan efektif untuk menyimpan, mengelola, dan menyebarluaskan informasi dalam bentuk elektronik. |
2. Memberikan kesempatan kepada warga jaringan (Netizen) di seluruh dunia untuk mendapatkan informasi dalam segala hal tanpa harus menunggu versi cetak bermacam media. 3. Sebagai sarana dalam mengantisipasi era globalisasi yang memang sudah berlangsung. 4. Informasi yang diperoleh tidak terbatas pada satu pangkalan data, sehingga pemakai lebih leluasa dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan.5. Dapat dengan mudah memperoleh informasi atau berita aktual yang terjadi di berbagai negara. 6. Bagi perpustakaan atau pusat informasi, dapat menghemat biaya untuk pengadaan koleksi karena dapat memanfaatkan dari sumber lain. 7. Bagi masyarakat peneliti sangat bermanfaat untuk mengikuti perkembangan terakhir dan mencegah reduplikasi penelitian dalam bidang dan topik yang sama. Dari sudut peneliti, melalui penerbitanlah seorang ilmuwan menjadi terkenal atau tetap tidak dikenal orang. Penerbitan lewat Web pun menjadi salah satu sarana alternatif komunikasi ilmiah. Perbincangan tentang jenis penerbitan ini sendiri telah banyak dilakukan meliputi aspek hak cipta, masalah dana dan penerapan dari teknologi yang ada. Ada berbagai macam persepsi tentang jenis penerbitan, dilihat dari perspektif pemakai tentang pengaruh dari penerbitan elektronik (dalam hal ini Web) sebagai sarana komunikasi penelitian ilmiah yang telah di antisipasi sebelumnya, yaitu·Persepsi
1, Biaya yang dikeluarkan dalam melanggan seharusnya dikurangi dengan adanya perubahan dari kertas menjadi media elektronik karena biaya penerbitan berkurang. ·Persepsi 2 Selang waktu antara penyerahan naskah dan penerbitan akan berkurang. Teknologi maju dalam penerbitan menawarkan kesempatan untuk mempercepat proses ini dengan fasilitas yang ada seperti dengan menggunakan fasilitas e-mail dan waktu yang dapat dihemat adalah sekitar dua per tiganya. ·Persepsi 3 Informasi yang didapat dari jurnal elektronik kadar penerimaannya tidak sama dengan informasi yang didapat dari jurnal kertas karena jurnal tersebut tidak diulas secara teliti. Jurnal yang diterbitkan untuk keperluan komersil tidak sebaik jurnal yang diterbitkan oleh masyarakat ilmiah.·Persepsi
4 Penerbitan elektronik menawarkan kelebihan dibanding jurnal kertas. Batasan ruang, batasan biaya (tidak ada foto berwarna), dan batasan bentuk dua dimensi terdapat dalam penerbitan kertas. Penerbitan elektronik memungkinkan adanya suara jangkrik yang sedang mengerik, foto-foto yang tanpa akhir, bahkan video sebuah percobaan penting. ·Persepsi 5 Sekarang ini ada kecenderungan bahwa para siswa lebih menyukai jurnal dari layar komputer daripada kertas. Para peneliti pemula lebih menyukai penerbitan elektronik sebagai salah satu cara untuk mencari jalan keluar atas masalah mereka karena informasi yang dicari lebih cepat didapatkan. Di sini terlihat bahwa jurnal elektronik lebih diminati, terutama oleh kalangan peneliti pemula. |
||