04/11/00 05:25:15
| Name: Fikri Kastor |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
-----Original Message-----Taken from http://www.ambon.cjb.net-----
From: "Joshua Latupatti" [email protected].
RUSTAM KASTOR MENJUAL KOMPOR (4-habis)
Salam Sejahtera!
Saudara-saudara sebangsa,
Saya berniat mengakhiri tulisan saya, untuk menanggapi bukunya Jenderal Rustam Kastor yang pada awalnya saya anggap berisi kebohongan dan pemutarbalikan fakta semata. Tetapi, ternyata buku Rustam Kastor, atau yang "mengaku" sebagai Rustam Kastor, tidak saja diwarnai dengan kebohongan dan dengki, tetapi juga "kebodohan" yang sangat kentara. Tulisan itu merupakan hasil intelektual yang sangat rendah, selain akhlak yang tidak lebih tinggi. Oleh sebab itu, saya kira saya tidak perlu 'menbodohi diri' dengan sampah seperti ini terlalu lama. Biarlah saya kemukakan apa yg. penting, dan menyerahkan yang sisa kepada kearifan budi pekerti saudara-saudara, dan kepada keadilan Tuhan.
Mohon maaf, bila tanpa sadar saya telah melakukan penyamarataan (sesuatu yang saya sendiri tidak suka), sehingga menyinggung perasaan orang atau kelompok orang tertentu. Diberkatilah kiranya bangsa ini, sebab itulah yang paling kita butuhkan sekarang ini, pengampunan di dalam anugerah Tuhan.
Salam Sejahtera!
JL.
R. KASTOR:
Konflik di Maluku 4/8
Rencana, Taktik dan Strategi Penyerangan
Gambaran rencana taktik dan strategi penyerangan yang dilakukan pihak Kristen, adalah suatu analisis dari temuan di lapangan dikaitkan dengan bentuk-bentuk pelaksanaan di lapangan. Bentuk temuan yang berupa informasi seakan-akan bocoran rencana mereka yan g disampaikan secara tidak sengaja, yang diterima oleh sejumlah masyarakat Islam terutama rencana menghabiskan suku BBM yang telah terdengar beberapa bulan sebelum meletusnya Tragedi Idul Fitri Berdarah 19 Januari 1999).
JOSHUA:
Ini namanya "menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri". Bukti pembentukan "organisasi" terkait berbicara sebaliknya, dan Kol. Marinir NONO SAMPONO, tahu hal itu. Bukti fisik bahwa warga Kristen Mardika harus bertahan dengan "apa yang terpegang" menghadapi pasukan Muslim yang bersenjata parang, tombak, panah, bensin dan api. Warga Mardika malah sempat menonton "upacara pengebalan" (atau "pengrasukan?") yang dilakukan di sepanjang jalan Batu Merah, dengan tanda tanya. Tim -19 dari MABES ABRI tahu persis, sebagian rumah warga Kristen di Mardika, seperti rumah sdr. Silas Noiya, beberapa rumah warga Kristen di Silale, mulai dengan rumah Janda Bpk. Bert Nikijuluw, dan bahkan Gereja silale, terbakar di sore hari, hari Lebaran, 19 Januari 1999. Hanya orang dungu dan bebal yang mau makan racun dusta si jenderal Kastor.
R. KASTOR:
Informasi dan isu yang berkembang di masyarakat telah menimbulkan keresahan di kalangan para pendatang (Suku Bugis, Buton, Makassar, Jawa, Sumatera) sehingga selama Ramadhan telah terjadi eksodus secara besar-besaran dari Ambon. Tokoh terkenal Kristen, saudara Pendeta Bram Soplantila segera bereaksi, bahwa itu bukan akibat adanya isu pengusiran suku BBM, tetapi suatu kebiasaan menjelang lebaran. Kalimat itu disampaikan kepada Letkol Pol. Rusdi Hasanussi, Ketua MUI Maluku. Dari sini terlihat dukungan ter hadap konsep strategi mereka yang pasti telah ia ketahui bahkan ikut merencanakan.
JOSHUA:
Yang saya tahu pasti, ialah bahwa kepulangan beberapa warga asal Jawa dan Buton, adalah karena peringatan dari saudara dan kenalan mereka sendiri untuk segera tinggalkan Ambon. Hampir semua warga dari Jawa yang pulang sebelum lebaran berpasangan atau membawa keluarga, sedangkan dari Buton dan sedikit Sulsel/Sultra umumnya wanita dan anak-anak yang pulang. Setelah pecahnya kerusuhan, barulah terjadi 'exodus' besar-besaran. Moment inilah yang selalu diputarbalikkan sebagai 'kejadian sebelum Lebaran' oleh manusia-manusia bermental Kastor.
R. KASTOR:
Banyak fakta yang bisa diangkat sebagai bukti adanya suatu rencana besar. Kedatangan sekian ratus preman eks jalan Ketapang Jakarta membuat semakin jelas pengobaran Tragedi Idul Fitri Berdarah (19 Januari 1999). Kemajuan proses merdeka Tim-Tim telah memberikan inspirasi kepada para perencana di Ambon, kondisi nasional yang terus memburuk dapat memicu niat separatis untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang terjadi ini mungkin sekali tahapan awal.
JOSHUA:
Inilah yang saya sebut sebagai "racun" dari hewan berujud manusia, atau iblis dedemit yang berwajah jenderal. Karena termakan kebusukan seperti inilah, atau karena memang sudah sama berniat jahat, maka terpampanglah spanduk-spanduk "pasukan jahad" yang ingin menumpas "pemberontakan Kristen Maluku". Suatu hal menunjukkan "kebodohan mental" dan "kerendahan akhlak" manusia-manusia penghambat berkat Tuhan bagi ini negara!!!!
R. KASTOR:
MERUBAH POSISI MAYORITAS
Di Kodya Ambon, sebelum kedatangan suku Bugis, Buton, Makassar, Jawa, dan Sumatera (baik sebagai pedagang kecil, tukang pembuat tahu/tempe dan tukang bangunan, maupun sebagai pegawai pada perusahaan swasta dan sebagainya) dalam jumlah yang besar (sebelum RMS), maka jumlah penduduk yang beragama Kristen lebih banyak dari yang beragama Islam (mayoritas Kristen sekitar 60%). Sedangkan dalam lingkup propinsi kedatangan transmigran dalam jumlah besar (Suku Jawa, Sunda, yang hampir semuanya beragama Islam) san gat tidak disenangi, karena di tingkat Kodya Ambon maupun Propinsi Maluku penduduk agama Islam telah menjadi mayoritas.
JOSHUA:
Terasa amat "lucu" tetapi juga sangat "memelas" bila membaca alur pikir si jenderal Kastor. Saya singkatkan, Muslim mayoritas, tingkat ekonomi mantap, menguasai bidang non-formal, tapi tidak berkarya, tidak dikenal, karena tak suka atau enggan berpartisipasi.
R. KASTOR:
Dengan demikian walaupun yang dipaksa meninggalkan Ambon hanya suku BBM tetapi sasaran penghancurannya selain fasilitas milik suku BBM (pasar, toko/kios di luar pasar, pemukiman) juga milik Suku Jawa, Sumatra dan sebagian kecil Suku Sunda. Efek psikologis yang timbul akibat penghancuran ini bukan saja memukul suku BBM tetapi juga Suku Jawa, Sunda dan Sumatra bahkan Ummat Islam secara keseluruhan. Pukulan itu bertujuan untuk menjadikan perimbangan Islam-Kristen di Kodya Ambon, tentunya berkaitan erat dengan Pemilu, yang diperkirakan akan dimenangkan secara mutlak oleh PDI-Perjuangan, menjadi berubah.
JOSHUA:
Memang benar jenderal iblis neraka pemecah bangsa!!!!! Ketika Mega ke Ambon, yang paling aneh adalah bahwa pawai PDI-P yang bermasa sekitar 50.000 orang, Kristen dan Muslim, pria-wanita, tua-muda, berbagai suku, berjalan "tanpa cekcok di tengah suasana kerusuhan Ambon/Maluku". Tetapi ketika PPP berkampanye, mereka yang hanya lebih sedikit dari 100 orang, sempat mebuat kerusuhan dimana-mana, antara lain dengan mencoba menyerang kampanye PKB yang hanya dikawal beberapa polisi "berpentungan". Sore itu terdengar bunyi tembakan aparat yang cukup menegangkan Kota Ambon!!!
R. KASTOR:
Sesungguhnya Suku Toraja dalam banyak hal harus dikelompokkan bersama dengan suku BBM karena jumlah mereka terus bertambah, disamping mereka juga sangat gigih dan ulet dalam berusaha di berbagai sektor non formal. Tetapi karena Suku Toraja hampir 100% ber agama Kristen Protestan maka mereka tidak diusir. Dari sini jelas bukan saja suku BBM sebagai sasaran penghancuran (pengusiran) tetapi ummat Islam juga menjadi obyek sasaran. Di lapangan tampak jelas klasifikasi obyek/sasaran dimana keseluruhan milik Suk u Toraja aman. Dengan penghitungan matematis mereka yakin akan berhasil merubah keseimbangan mayoritas agama.
Tahapan berikutnya menjadikan Maluku sebagai propinsi yang mayoritas Kristen seperti Irian Jaya, Tim-Tim, NTT dan Sulawesi Utara. Dalam rangka posisi bargaining di tingkat nasional yang semakin kuat dengan ancaman melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Demikian pula para tokoh Kristen di Ambon, sesungguhnya tidak dapat menerima program transmigrasi yang dianggap merugikan posisi Kristen sebab jumlah penduduk yang beragama Islam terus bertambah sehingga niat merubah keseimbangan mayoritas akan gagal.
JOSHUA:
Saya jadi bertanya, "siapa yang paling kuatir akan anak-anaknya?" "Orang tua yang biasa menyusahkan anak-anak orang lain!!!" "Siapa yang paling takut dibunuh?" "Pembunuh tentunya!!!" Jangan-jangan jenderal sedang mebeberkan "rencana sendiri" dan "obsesi tak sampai" melalui "fakta terbalik???" Hati-hati!!!
R. KASTOR:
Sejak awal, penulis telah berpendapat bahwa rencana kerusuhan sebesar ini mustahil tanpa dukungan luar negeri dan dilaksanakan oleh suatu lembaga yang mapan dan solid. Bantuan luar negeri itu perlu dikaji lebih jauh, apakah ada kaitannya dengan kondisi moneter, ekonomi dan politik dalam negeri sebagai akibat tindakan balasan terhadap pembakaran gereja-gereja di Jawa dan beberapa tempat di luar Jawa. PGI yang punya hubungan kuat dengan lobby Kristen Internasional mustahil tidak berbuat sesuatu.
SASARAN PENGHANCURAN
Berbicara tentang suku Bugis, Buton, Makassar, Jawa, Sunda dan Sumatera tidak dapat dilepas-pisahkan dengan masyarakat Islam Maluku karena kesamaan aqidah yang tentunya sama dalam memperjuangkan Indonesia Merdeka. Mereka adalah para pendatang yang nenek moyangnya telah berada di Maluku ratusan tahun yang lalu.
Perasaan senasib amat terasa akibat Tragedi Idul Fitri Berdarah (19 Januari 1999) ini. Di lapangan kita saksikan penghancuran kelima suku tersebut melalui penghancuran fasilitas dan milik mereka sebagai berikut:
JOSHUA:
Selain "dusta", jenderal sengaja menaruh semuanya pada tgl. 19 Januari 1999, Hari Lebaran, supaya lebih menyayat, lebih dramatis, lebih cengeng, lebih menghasut, dll.sb. Tanpa sadar, semua ini malah menjadi "lebih bohong"!!! Daerah Muslim yang pertama terbakar atau dibakar adalah "Pasar Gambus", dan itu terjadi di pagi subuh, 20 Januari 1999, dan karena itu dikenal dengan istilah "serangan subuh".
R. KASTOR:
a. Pasar Mardika, Batu Merah dan Pertokoan Pelita dimana terdapat ratusan toko, ratusan kios, puluhan gerobak pedagang (bakso, es, dsbnya) gerobak pengangkut barang, kaki lima termasuk pedagang asongan dan keliling yang hampir kesemuanya milik Suku BBM, J awa dan Sumatera dan mempekerjakan suku mereka. Sedangkan selebihnya milik Ummat Islam Maluku, dan yang Kristen terbatas sekali. Pasar ini telah dibakar habis (milik Ummat Islam) tak tersisa sedikitpun. Dengan demikian pasar sudah tidak ada lagi untuk wak tu berbulan-bulan yang akan datang, dan kemana warga kelima suku itu mencari makan? Yang tersisa hanya milik China.
b. Becak yang dibakar mendekati 80% (500 buah) yang umumnya milik suku BBM dimana penarik becaknya adalah suku Buton angkutan umum milik Islam bernasib sama yang dibakar sejak awal peristiwa. Karena itu akan ada pengangguran yang luar biasa besarnya.
c. Toko, kios dan gerobak di luar area pasar kecuali di dalam kawasan Islam juga menjadi sasaran pembakaran dan penghancuran, mereka tahu betul sasaran-sasaran itu dimanapun letaknya, plotting sasaran ternyata disiapkan begitu rapih. Bila terdapat sederet an kios, mereka tahu persis, mana milik orang Kristen dan yang mana milik orang Islam. Deretan kios seperti ini tidak dibakar, cuma dijarah dan dirusak, karena bila dibakar yang milik Kristen akan ikut terbakar.
d. Rumah milik pribadi di luar kawasan Islam, bila berbentuk kampung yang baru tumbuh, habis dibakar. Apabila keberadaannya di tengah perkampungan Kristen, tidak dibakar melainkan cuma di jarah saja.
Bila di daerah lain yang menjadi sasaran penghancuran adalah konglomerat, maka di kota Ambon justru sebaliknya, golongan ekonomi lemah dihancur-leburkan, suatu hal yang jelas-jelas bertentangan dengan program pemerintah yang sedang berusaha keras membangun ekonomi kerakyatan.
Penghancuran tersebut mencakup penghancuran fasilitas Ummat Islam pada umumnya, bukan sekedar suku BBM dan JS karena mereka menyatu dalam usaha, pemukiman dan sebagainya. Yang ikut terkena penghancuran fasilitas usaha dagang adalah juga suku Maluku dari l uar kota Ambon yang beragama Islam. Keseluruhan penghancuran ini dilakukan dengan suatu pukulan telak, keras dan begitu serentak mematikan agar keseluruhan pendatang hanya mempunyai satu pilihan, yaitu meninggalkan Ambon karena tidak ada lagi harapan untuk bisa hidup di Ambon, terutama karena trauma dari ancaman.
Apabila dilihat dari sasarannya, serangan sesungguhnya bukan suku BBM saja, tetapi seluruh kepentingan Ummat Islam dimana rencana menghancurkan Masjid Al-Fatah dengan tiga kali serangan dapat dijadikan sebagai bukti. Dengan mengetahui jumlah Masjid yang dibakar/dirusak pada hari pertama dan kedua kerusuhan, maka bukti bahwa serangan itu ditujukan kepada Ummat Islam secara totalitas amatlah transparan. Pembakaran Masjid, penghinaan terhadap Al-Quran dan Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya merupakan tindakan nekad, sebab kerusuhan ini akan ditanggapi oleh ummat Islam sebagai perang agama yang penyelesaiannya akan sangat sulit dan rumit.
JOSHUA:
Semua orang, semua lembaga dan LSM tahu bahwa yang paling banyak kehilangan "harta" adalah pihak "Kristen". Jika semua yang didaftar si Kastor di atas, dibandingkan dengan Pusat Pertokoan A.Y. Patty dan Kemakmuran, kerugian di daftar si Kastor tidak ada artinya!!!! Belum lagi jika ditambah dengan fasilitas umum dan pemerintah yang dibakar karena dianggap menguntungkan pihak Kristen, seperti Balai Pendidikan Guru, gedung PLN, dll., maka bukan saja daftar si Kastor menjadi tak berarti, tetapi akan terlihat "siapa perusuh sebenarnya!!!!!"
R. KASTOR:
OPERASI PENGHANCURAN
Dari uraian di atas, jelaslah penghancuran Ummat Islam ini telah direncanakan secara matang dan canggih. Dari Pelaksanaan penghancuran yang dilakukan secara sistematik, terarah dan terpadu ini kita dapat mengetahui bahwa serangan bertujuan melumpuhkan Umm at Islam secara keseluruhan untuk mencapai tujuan, yaitu merubah keseimbangan mayoritas. Gagasan Moslem Cleansing menjadi semakin jelas, dan untuk itu Ummat Islam dengan segala miliknya dihancurkan.
A. Babak dan Tahapan penghancuran
1) Babak I : Pematangan Situasi
Pematangan situasi adalah suatu usaha membangun kondisi lingkungan yang memungkinkan suatu rencana besar dapat digelar. Karena itu setahun terakhir dan yang mencolok adalah 6 bulan terakhir tampak aktifitas yang meningkat yang puncaknya pada upaya menghancurkan peran dan kesiap-siagaan TNI.
Demonstrasi di bulan-bulan September, Oktober dan Nopember 1998 di kota Ambon oleh mahasiswa 4 perguruan tinggi di Maluku dapat dibagi sebagai berikut :
� Demonstrasi damai dilakukan oleh: a) Universitas Darussalam (Unidar). b) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Demo damai menyampaikan aspirasi dengan tertib dan bersahabat dengan aparat keamanan.
� Demonstrasi dengan kekerasan:
Demo dengan kekerasan menghujat TNI dengan tujuan menurunkan wibawa TNI, menimbulkan keraguan dan takut bertindak. Puncaknya pada apa yang disebut Kasus Batu Gajah dimana sekitar 5000 mahasiswa turun ke jalan. Demonstrasi dengan kekerasan ini dimotori ole h: a) Universitas Pattimura (Unpatti) b) Universitas Kristen Maluku (Ukrim)
Melakukan perlawanan terhadap aparat keamanan ( Korem 174 / PTM ) memaksa masuk menembus barikade pasukan PHH Korem. Korban luka pada mahasiswa +/- 70 orang dan TNI +/- 25 orang.
Babak pematangan situasi ini berhasil dengan baik karena diikuti dengan pressure (tekanan) tokoh Kristen melalui berbagai cara terutama pertemuan pemuka agama dengan Muspida untuk mendinginkan situasi, ternyata dalam pertemuan itu berubah menjadi suasana, seakan-akan mahkamah peradilan terhadap Danrem 174/Pattimura, tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan duduk persoalan sebenarnya.
JOSHUA:
Saya terpaksa memotong bagian ini, karena sisanya hanya "sampah yang diulang-ulang!!!" Sejujurnya, ketika demo mahasiswa itu terjadi, kami warga kota Ambon paling takut jika terlihat ada "warna seragam atau bendera hijau", dan langsung masuk rumah. Salah satu sebabnya adalah karena mereka mengizinkan "mahasiswa dengan satu buku tulis terlipat di saku belakang, dari Diponegoro dan Belakang kota (pasar)". Ini saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri!!!!
R. KASTOR:
Berita tentang rencana pengusiran suku BBM dibicarakan dimana-mana, sehingga terjadi seakan-akan eksodus suku pendatang termasuk suku Jawa dan sebagainya selama bulan puasa. Para pemuda remaja Kristen bersiasat mabuk-mabukan tampak lebih banyak dan agresif. Mereka dinamakan Coker (Cowok Keren). Kelompok ini terlihat sangat militan pada serangan ke kantong-kantong pemukiman Islam dan penghancuran massal.
Langkah berikut dari babak persiapan ini terlihat dari didatangkannya ratusan preman Jakarta asal Maluku/Ambon, eks peristiwa jalan Ketapang Jakarta dan siap melakukan aksi balas dendam. Kelompok ini nampak dipimpin oleh pimpinan lapangan yaitu tokoh yang bernama Milton, karena dialah yang membawa preman-preman Jakarta tersebut.
Kedatangan sekitar 200 orang preman eks Jakarta ini telah membuat rencana strategi lawan semakin mendekati final, TNI tidak melakukan tindakan apapun terhadap ancaman dari kedatangan preman yang serentak tiba dalam jumlah besar itu.
JOSHUA:
Pertama, harus saya akui bahwa Kudamati itu disebut markas "Kostrad Kristen", dan sangat dibenci warga Muslim karena keberanian mereka. Nama 'Coker" baru saja mencuat, setelah peristiwa kerusuhan pecah.
"Pemulangan preman asal Ambon" dari peristiwa "Ketapang" yang direkayasa preman Ongen Sangadji dengan bantuan Cendana dan TNI, lewat Suaidi Marasabessy, cs., "tanpa pemeriksaan" adalah upaya yang sama dari "gerombolan yang sama" untuk mendapatkan "kambing hitam murahan!!!"
R. KASTOR:
Keterangan Kapolri tentang kasus Batu Merah adalah kriminal murni terlalu dini, dan fakta pendukung yang ada tidak seperti itu. Kita harus mengerti bahwa rencana ini di dukung oleh oknum TNI dalam jabatan tertentu yang ikut menentukan. Ribut-ribut pemuda Aboru (pulau Saparua) yang bermukim di Ambon secara berkelompok di batas desa Batu Merah dengan pemuda Batu Merah sudah merupakan hal yang biasa tidak ada kelanjutan perkelahian massal. Kali ini di luar dugaan, massa Batu Merah pun merasa terbawa oleh pih ak-pihak yang tidak jelas identitasnya, kelihatannya provokator telah berhasil mengeksploitasi ketidak-puasan Ummat Islam atas kasus Wailete dan Bak Air.
JOSHUA:
Saya sengaja mengambil bagian ini karena disinggung peran "TNI". Saya akan memberikan daftar singkat kegiatan TNI selama kerusuhan, selain dari "ketidak-netralan, penembakan membabi-buta terhadap pihak yang diserang, berpura-pura mengawal untuk diserahkan ke penjagal, menghamili para gadis Ambon 200 orang pada babak kerusuhan pertama, dll. seperti itu).
� Berawal dari Kostrad Wirabuana, terjadi penjarahan besar-besaran terhadap milik pihak Kristen, terutama turunan Tionghwa, sehingga kapal angkut militer itu sarat dengan "barang tak bersurat", dan sempat ditahan oleh Marinir.
Saya dan saksi mata lain melihat para anggota TNI ber-walkman ber-diskman, sementara pertokoan dijarah, dibakar, dan jarahannya diangkut dengan mobil "hijau".
� Oknum TNI non_marinir, menggunakan kesempatan sweeping senja- tajam/api di rumah-rumah penduduk untuk mencuri barang-barang berharga yang 'kecil', seperti uang, perhiasan emas dan berlian, handphone, dll. Mereka memaksa masuk rumah-rumah warga Kristen yang ditinggal penghuninya karena mengungsi, dengan membongkar pintu atau jendela, mengambil apa yang berharga seperti TV dan VCD, dan merusak sisanya.
� Di dalam suasana yang aman saat ini, banyak oknum TNI yang menggunakan kesempatan untuk 'meminjam' milik warga Kristen, terutama yang Tionghoa, seperti mobil, motor, dan telepon. Yang sangat memalukan ialah tindakan oknum TNI yang memanjat tiang-tiang telepon untuk mencantol pesawat telepon yang entah didapat dari mana, ke saluran pribadi warga yang ditinggalkan, atau sembarang line yang kena!!!.
� dll detail yang tidak sempat saya rinci di sini!!!
R. KASTOR:
Teriakan Ummat Islam dan sejumlah tokoh untuk mengobarkan Jihad fie Sabilillah, nampaknya menjadi alternatif terakhir yang harus ditempuh, karena TNI belum berhasil mencegah pihak Kristen untuk menghentikan serangannya. Perjuangan dengan Jihad fie Sabilil lah ini akan menghasilkan perimbangan kekuatan, dan memungkinkan upaya damai yang relatif lebih kuat dan adil.
RUSTAM KASTOR Brigjen TNI Purnawirawan Kelahiran Ambon, 9 Juli 1939
JOSHUA:
Sejujurnya inilah tujuan utamanya!!!!! Menghasut massa untuk jahad!!!! Untuk itu, TNI yang diwarnai daftar saya di atas (baru sebagian kecil), dikatakan tidak mampu membendung pihak Kristen. Mulut dan hati ularnya berkata, "untuk mencapai damai yang lebih kuat di dalam perimbangan". Ingin saya mengajak kita semua untuk berpikir "damai di dalam perimbangan" atau "bom waktu", jika memang benar itu tujuan Kastor. Adakah perdamaian yang di dasarkan atas perimbangan kekuatan???? Ataukah damai itu harus didasari oleh "damai" itu sendiri yang diam di dalam seluruh aspek hidup umat beragama, khususnya, dan tidak beragama?????
Oleh sebab itu, mari kita "menggali kembali 'damai' yang sudah dianugerahkan Tuhan di lubuk hati kita, dan jangan terus menimbuni dia dengan kebencian, dengan memakan racun dari orang-orang berakhlak rendah seperti si jenderal Kastor ini"!!!! Gapailah damai di dalam diri, maka ia akan berjabatan tangan dengan damai yang ada disekitar kita!!!
Tuhan menjaga ini negara!!!
Salam Sejahtera!
JL.
----- End of forwarded message from Joshua Latupatti -----
04/11/00 05:15:03
| Name: Fikri Kastor |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
-----Original Message-----
From: "Joshua Latupatti" [email protected].
RUSTAM KASTOR MENJUAL KOMPOR (4-habis)
Salam Sejahtera!
Saudara-saudara sebangsa,
Saya berniat mengakhiri tulisan saya, untuk menanggapi bukunya Jenderal Rustam Kastor yang pada awalnya saya anggap berisi kebohongan dan pemutarbalikan fakta semata. Tetapi, ternyata buku Rustam Kastor, atau yang "mengaku" sebagai Rustam Kastor, tidak sa
a diwarnai dengan kebohongan dan dengki, tetapi juga "kebodohan" yang sangat kentara. Tulisan itu merupakan hasil intelektual yang sangat rendah, selain akhlak yang tidak lebih tinggi. Oleh sebab itu, saya kira saya tidak perlu 'menbodohi diri' dengan sa
pah seperti ini terlalu lama. Biarlah saya kemukakan apa yg. penting, dan menyerahkan yang sisa kepada kearifan budi pekerti saudara-saudara, dan kepada keadilan Tuhan.
Mohon maaf, bila tanpa sadar saya telah melakukan penyamarataan (sesuatu yang saya sendiri tidak suka), sehingga menyinggung perasaan orang atau kelompok orang tertentu. Diberkatilah kiranya bangsa ini, sebab itulah yang paling kita butuhkan sekarang ini,
pengampunan di dalam anugerah Tuhan.
Salam Sejahtera!
JL.
R. KASTOR:
Konflik di Maluku 4/8
Rencana, Taktik dan Strategi Penyerangan
Gambaran rencana taktik dan strategi penyerangan yang dilakukan pihak Kristen, adalah suatu analisis dari temuan di lapangan dikaitkan dengan bentuk-bentuk pelaksanaan di lapangan. Bentuk temuan yang berupa informasi seakan-akan bocoran rencana mereka yan
g disampaikan secara tidak sengaja, yang diterima oleh sejumlah masyarakat Islam terutama rencana menghabiskan suku BBM yang telah terdengar beberapa bulan sebelum meletusnya Tragedi Idul Fitri Berdarah 19 Januari 1999).
JOSHUA:
Ini namanya "menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri". Bukti pembentukan "organisasi" terkait berbicara sebaliknya, dan Kol. Marinir NONO SAMPONO, tahu hal itu. Bukti fisik bahwa warga Kristen Mardika harus bertahan dengan "apa yang terpegang" mengh
dapi pasukan Muslim yang bersenjata parang, tombak, panah, bensin dan api. Warga Mardika malah sempat menonton "upacara pengebalan" (atau "pengrasukan?") yang dilakukan di sepanjang jalan Batu Merah, dengan tanda tanya. Tim -19 dari MABES ABRI tahu persi
, sebagian rumah warga Kristen di Mardika, seperti rumah sdr. Silas Noiya, beberapa rumah warga Kristen di Silale, mulai dengan rumah Janda Bpk. Bert Nikijuluw, dan bahkan Gereja silale, terbakar di sore hari, hari Lebaran, 19 Januari 1999. Hanya orang du
gu dan bebal yang mau makan racun dusta si jenderal Kastor.
R. KASTOR:
Informasi dan isu yang berkembang di masyarakat telah menimbulkan keresahan di kalangan para pendatang (Suku Bugis, Buton, Makassar, Jawa, Sumatera) sehingga selama Ramadhan telah terjadi eksodus secara besar-besaran dari Ambon. Tokoh terkenal Kristen, sa
dara Pendeta Bram Soplantila segera bereaksi, bahwa itu bukan akibat adanya isu pengusiran suku BBM, tetapi suatu kebiasaan menjelang lebaran. Kalimat itu disampaikan kepada Letkol Pol. Rusdi Hasanussi, Ketua MUI Maluku. Dari sini terlihat dukungan ter ha
ap konsep strategi mereka yang pasti telah ia ketahui bahkan ikut merencanakan.
JOSHUA:
Yang saya tahu pasti, ialah bahwa kepulangan beberapa warga asal Jawa dan Buton, adalah karena peringatan dari saudara dan kenalan mereka sendiri untuk segera tinggalkan Ambon. Hampir semua warga dari Jawa yang pulang sebelum lebaran berpasangan atau memb
wa keluarga, sedangkan dari Buton dan sedikit Sulsel/Sultra umumnya wanita dan anak-anak yang pulang. Setelah pecahnya kerusuhan, barulah terjadi 'exodus' besar-besaran. Moment inilah yang selalu diputarbalikkan sebagai 'kejadian sebelum Lebaran' oleh ma
usia-manusia bermental Kastor.
R. KASTOR:
Banyak fakta yang bisa diangkat sebagai bukti adanya suatu rencana besar. Kedatangan sekian ratus preman eks jalan Ketapang Jakarta membuat semakin jelas pengobaran Tragedi Idul Fitri Berdarah (19 Januari 1999). Kemajuan proses merdeka Tim-Tim telah memb
rikan inspirasi kepada para perencana di Ambon, kondisi nasional yang terus memburuk dapat memicu niat separatis untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang terjadi ini mungkin sekali tahapan awal.
JOSHUA:
Inilah yang saya sebut sebagai "racun" dari hewan berujud manusia, atau iblis dedemit yang berwajah jenderal. Karena termakan kebusukan seperti inilah, atau karena memang sudah sama berniat jahat, maka terpampanglah spanduk-spanduk "pasukan jahad" yang in
in menumpas "pemberontakan Kristen Maluku". Suatu hal menunjukkan "kebodohan mental" dan "kerendahan akhlak" manusia-manusia penghambat berkat Tuhan bagi ini negara!!!!
R. KASTOR:
MERUBAH POSISI MAYORITAS
Di Kodya Ambon, sebelum kedatangan suku Bugis, Buton, Makassar, Jawa, dan Sumatera (baik sebagai pedagang kecil, tukang pembuat tahu/tempe dan tukang bangunan, maupun sebagai pegawai pada perusahaan swasta dan sebagainya) dalam jumlah yang besar (sebelum
MS), maka jumlah penduduk yang beragama Kristen lebih banyak dari yang beragama Islam (mayoritas Kristen sekitar 60%). Sedangkan dalam lingkup propinsi kedatangan transmigran dalam jumlah besar (Suku Jawa, Sunda, yang hampir semuanya beragama Islam) san g
t tidak disenangi, karena di tingkat Kodya Ambon maupun Propinsi Maluku penduduk agama Islam telah menjadi mayoritas.
JOSHUA:
Terasa amat "lucu" tetapi juga sangat "memelas" bila membaca alur pikir si jenderal Kastor. Saya singkatkan, Muslim mayoritas, tingkat ekonomi mantap, menguasai bidang non-formal, tapi tidak berkarya, tidak dikenal, karena tak suka atau enggan berpartisip
si.
R. KASTOR:
Dengan demikian walaupun yang dipaksa meninggalkan Ambon hanya suku BBM tetapi sasaran penghancurannya selain fasilitas milik suku BBM (pasar, toko/kios di luar pasar, pemukiman) juga milik Suku Jawa, Sumatra dan sebagian kecil Suku Sunda. Efek psikologis
yang timbul akibat penghancuran ini bukan saja memukul suku BBM tetapi juga Suku Jawa, Sunda dan Sumatra bahkan Ummat Islam secara keseluruhan. Pukulan itu bertujuan untuk menjadikan perimbangan Islam-Kristen di Kodya Ambon, tentunya berkaitan erat dengan
Pemilu, yang diperkirakan akan dimenangkan secara mutlak oleh PDI-Perjuangan, menjadi berubah.
JOSHUA:
Memang benar jenderal iblis neraka pemecah bangsa!!!!! Ketika Mega ke Ambon, yang paling aneh adalah bahwa pawai PDI-P yang bermasa sekitar 50.000 orang, Kristen dan Muslim, pria-wanita, tua-muda, berbagai suku, berjalan "tanpa cekcok di tengah suasana k
rusuhan Ambon/Maluku". Tetapi ketika PPP berkampanye, mereka yang hanya lebih sedikit dari 100 orang, sempat mebuat kerusuhan dimana-mana, antara lain dengan mencoba menyerang kampanye PKB yang hanya dikawal beberapa polisi "berpentungan". Sore itu terde
gar bunyi tembakan aparat yang cukup menegangkan Kota Ambon!!!
R. KASTOR:
Sesungguhnya Suku Toraja dalam banyak hal harus dikelompokkan bersama dengan suku BBM karena jumlah mereka terus bertambah, disamping mereka juga sangat gigih dan ulet dalam berusaha di berbagai sektor non formal. Tetapi karena Suku Toraja hampir 100% be
agama Kristen Protestan maka mereka tidak diusir. Dari sini jelas bukan saja suku BBM sebagai sasaran penghancuran (pengusiran) tetapi ummat Islam juga menjadi obyek sasaran. Di lapangan tampak jelas klasifikasi obyek/sasaran dimana keseluruhan milik Su
u Toraja aman. Dengan penghitungan matematis mereka yakin akan berhasil merubah keseimbangan mayoritas agama.
Tahapan berikutnya menjadikan Maluku sebagai propinsi yang mayoritas Kristen seperti Irian Jaya, Tim-Tim, NTT dan Sulawesi Utara. Dalam rangka posisi bargaining di tingkat nasional yang semakin kuat dengan ancaman melepaskan diri dari Negara Kesatuan Repu
lik Indonesia. Demikian pula para tokoh Kristen di Ambon, sesungguhnya tidak dapat menerima program transmigrasi yang dianggap merugikan posisi Kristen sebab jumlah penduduk yang beragama Islam terus bertambah sehingga niat merubah keseimbangan mayoritas
kan gagal.
JOSHUA:
Saya jadi bertanya, "siapa yang paling kuatir akan anak-anaknya?" "Orang tua yang biasa menyusahkan anak-anak orang lain!!!" "Siapa yang paling takut dibunuh?" "Pembunuh tentunya!!!" Jangan-jangan jenderal sedang mebeberkan "rencana sendiri" dan "obsesi t
k sampai" melalui "fakta terbalik???" Hati-hati!!!
R. KASTOR:
Sejak awal, penulis telah berpendapat bahwa rencana kerusuhan sebesar ini mustahil tanpa dukungan luar negeri dan dilaksanakan oleh suatu lembaga yang mapan dan solid. Bantuan luar negeri itu perlu dikaji lebih jauh, apakah ada kaitannya dengan kondisi mo
eter, ekonomi dan politik dalam negeri sebagai akibat tindakan balasan terhadap pembakaran gereja-gereja di Jawa dan beberapa tempat di luar Jawa. PGI yang punya hubungan kuat dengan lobby Kristen Internasional mustahil tidak berbuat sesuatu.
SASARAN PENGHANCURAN
Berbicara tentang suku Bugis, Buton, Makassar, Jawa, Sunda dan Sumatera tidak dapat dilepas-pisahkan dengan masyarakat Islam Maluku karena kesamaan aqidah yang tentunya sama dalam memperjuangkan Indonesia Merdeka. Mereka adalah para pendatang yang nenek
oyangnya telah berada di Maluku ratusan tahun yang lalu.
Perasaan senasib amat terasa akibat Tragedi Idul Fitri Berdarah (19 Januari 1999) ini. Di lapangan kita saksikan penghancuran kelima suku tersebut melalui penghancuran fasilitas dan milik mereka sebagai berikut:
JOSHUA:
Selain "dusta", jenderal sengaja menaruh semuanya pada tgl. 19 Januari 1999, Hari Lebaran, supaya lebih menyayat, lebih dramatis, lebih cengeng, lebih menghasut, dll.sb. Tanpa sadar, semua ini malah menjadi "lebih bohong"!!! Daerah Muslim yang pertama ter
akar atau dibakar adalah "Pasar Gambus", dan itu terjadi di pagi subuh, 20 Januari 1999, dan karena itu dikenal dengan istilah "serangan subuh".
R. KASTOR:
a. Pasar Mardika, Batu Merah dan Pertokoan Pelita dimana terdapat ratusan toko, ratusan kios, puluhan gerobak pedagang (bakso, es, dsbnya) gerobak pengangkut barang, kaki lima termasuk pedagang asongan dan keliling yang hampir kesemuanya milik Suku BBM, J
awa dan Sumatera dan mempekerjakan suku mereka. Sedangkan selebihnya milik Ummat Islam Maluku, dan yang Kristen terbatas sekali. Pasar ini telah dibakar habis (milik Ummat Islam) tak tersisa sedikitpun. Dengan demikian pasar sudah tidak ada lagi untuk wak
tu berbulan-bulan yang akan datang, dan kemana warga kelima suku itu mencari makan? Yang tersisa hanya milik China.
b. Becak yang dibakar mendekati 80% (500 buah) yang umumnya milik suku BBM dimana penarik becaknya adalah suku Buton angkutan umum milik Islam bernasib sama yang dibakar sejak awal peristiwa. Karena itu akan ada pengangguran yang luar biasa besarnya.
c. Toko, kios dan gerobak di luar area pasar kecuali di dalam kawasan Islam juga menjadi sasaran pembakaran dan penghancuran, mereka tahu betul sasaran-sasaran itu dimanapun letaknya, plotting sasaran ternyata disiapkan begitu rapih. Bila terdapat sederet
an kios, mereka tahu persis, mana milik orang Kristen dan yang mana milik orang Islam. Deretan kios seperti ini tidak dibakar, cuma dijarah dan dirusak, karena bila dibakar yang milik Kristen akan ikut terbakar.
d. Rumah milik pribadi di luar kawasan Islam, bila berbentuk kampung yang baru tumbuh, habis dibakar. Apabila keberadaannya di tengah perkampungan Kristen, tidak dibakar melainkan cuma di jarah saja.
Bila di daerah lain yang menjadi sasaran penghancuran adalah konglomerat, maka di kota Ambon justru sebaliknya, golongan ekonomi lemah dihancur-leburkan, suatu hal yang jelas-jelas bertentangan dengan program pemerintah yang sedang berusaha keras membangu
ekonomi kerakyatan.
Penghancuran tersebut mencakup penghancuran fasilitas Ummat Islam pada umumnya, bukan sekedar suku BBM dan JS karena mereka menyatu dalam usaha, pemukiman dan sebagainya. Yang ikut terkena penghancuran fasilitas usaha dagang adalah juga suku Maluku dari l
uar kota Ambon yang beragama Islam. Keseluruhan penghancuran ini dilakukan dengan suatu pukulan telak, keras dan begitu serentak mematikan agar keseluruhan pendatang hanya mempunyai satu pilihan, yaitu meninggalkan Ambon karena tidak ada lagi harapan unt
k bisa hidup di Ambon, terutama karena trauma dari ancaman.
Apabila dilihat dari sasarannya, serangan sesungguhnya bukan suku BBM saja, tetapi seluruh kepentingan Ummat Islam dimana rencana menghancurkan Masjid Al-Fatah dengan tiga kali serangan dapat dijadikan sebagai bukti. Dengan mengetahui jumlah Masjid yang
ibakar/dirusak pada hari pertama dan kedua kerusuhan, maka bukti bahwa serangan itu ditujukan kepada Ummat Islam secara totalitas amatlah transparan. Pembakaran Masjid, penghinaan terhadap Al-Quran dan Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya merupakan tindakan ne
ad, sebab kerusuhan ini akan ditanggapi oleh ummat Islam sebagai perang agama yang penyelesaiannya akan sangat sulit dan rumit.
JOSHUA:
Semua orang, semua lembaga dan LSM tahu bahwa yang paling banyak kehilangan "harta" adalah pihak "Kristen". Jika semua yang didaftar si Kastor di atas, dibandingkan dengan Pusat Pertokoan A.Y. Patty dan Kemakmuran, kerugian di daftar si Kastor tidak ada a
tinya!!!! Belum lagi jika ditambah dengan fasilitas umum dan pemerintah yang dibakar karena dianggap menguntungkan pihak Kristen, seperti Balai Pendidikan Guru, gedung PLN, dll., maka bukan saja daftar si Kastor menjadi tak berarti, tetapi akan terlihat "
iapa perusuh sebenarnya!!!!!"
R. KASTOR:
OPERASI PENGHANCURAN
Dari uraian di atas, jelaslah penghancuran Ummat Islam ini telah direncanakan secara matang dan canggih. Dari Pelaksanaan penghancuran yang dilakukan secara sistematik, terarah dan terpadu ini kita dapat mengetahui bahwa serangan bertujuan melumpuhkan Umm
at Islam secara keseluruhan untuk mencapai tujuan, yaitu merubah keseimbangan mayoritas. Gagasan Moslem Cleansing menjadi semakin jelas, dan untuk itu Ummat Islam dengan segala miliknya dihancurkan.
A. Babak dan Tahapan penghancuran
1) Babak I : Pematangan Situasi
Pematangan situasi adalah suatu usaha membangun kondisi lingkungan yang memungkinkan suatu rencana besar dapat digelar. Karena itu setahun terakhir dan yang mencolok adalah 6 bulan terakhir tampak aktifitas yang meningkat yang puncaknya pada upaya menghan
urkan peran dan kesiap-siagaan TNI.
Demonstrasi di bulan-bulan September, Oktober dan Nopember 1998 di kota Ambon oleh mahasiswa 4 perguruan tinggi di Maluku dapat dibagi sebagai berikut :
� Demonstrasi damai dilakukan oleh: a) Universitas Darussalam (Unidar). b) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Demo damai menyampaikan aspirasi dengan tertib dan bersahabat dengan aparat keamanan.
� Demonstrasi dengan kekerasan:
Demo dengan kekerasan menghujat TNI dengan tujuan menurunkan wibawa TNI, menimbulkan keraguan dan takut bertindak. Puncaknya pada apa yang disebut Kasus Batu Gajah dimana sekitar 5000 mahasiswa turun ke jalan. Demonstrasi dengan kekerasan ini dimotori ole
h: a) Universitas Pattimura (Unpatti) b) Universitas Kristen Maluku (Ukrim)
Melakukan perlawanan terhadap aparat keamanan ( Korem 174 / PTM ) memaksa masuk menembus barikade pasukan PHH Korem. Korban luka pada mahasiswa +/- 70 orang dan TNI +/- 25 orang.
Babak pematangan situasi ini berhasil dengan baik karena diikuti dengan pressure (tekanan) tokoh Kristen melalui berbagai cara terutama pertemuan pemuka agama dengan Muspida untuk mendinginkan situasi, ternyata dalam pertemuan itu berubah menjadi suasana,
seakan-akan mahkamah peradilan terhadap Danrem 174/Pattimura, tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan duduk persoalan sebenarnya.
JOSHUA:
Saya terpaksa memotong bagian ini, karena sisanya hanya "sampah yang diulang-ulang!!!" Sejujurnya, ketika demo mahasiswa itu terjadi, kami warga kota Ambon paling takut jika terlihat ada "warna seragam atau bendera hijau", dan langsung masuk rumah. Salah
atu sebabnya adalah karena mereka mengizinkan "mahasiswa dengan satu buku tulis terlipat di saku belakang, dari Diponegoro dan Belakang kota (pasar)". Ini saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri!!!!
R. KASTOR:
Berita tentang rencana pengusiran suku BBM dibicarakan dimana-mana, sehingga terjadi seakan-akan eksodus suku pendatang termasuk suku Jawa dan sebagainya selama bulan puasa. Para pemuda remaja Kristen bersiasat mabuk-mabukan tampak lebih banyak dan agresi
. Mereka dinamakan Coker (Cowok Keren). Kelompok ini terlihat sangat militan pada serangan ke kantong-kantong pemukiman Islam dan penghancuran massal.
Langkah berikut dari babak persiapan ini terlihat dari didatangkannya ratusan preman Jakarta asal Maluku/Ambon, eks peristiwa jalan Ketapang Jakarta dan siap melakukan aksi balas dendam. Kelompok ini nampak dipimpin oleh pimpinan lapangan yaitu tokoh yang
bernama Milton, karena dialah yang membawa preman-preman Jakarta tersebut.
Kedatangan sekitar 200 orang preman eks Jakarta ini telah membuat rencana strategi lawan semakin mendekati final, TNI tidak melakukan tindakan apapun terhadap ancaman dari kedatangan preman yang serentak tiba dalam jumlah besar itu.
JOSHUA:
Pertama, harus saya akui bahwa Kudamati itu disebut markas "Kostrad Kristen", dan sangat dibenci warga Muslim karena keberanian mereka. Nama 'Coker" baru saja mencuat, setelah peristiwa kerusuhan pecah.
"Pemulangan preman asal Ambon" dari peristiwa "Ketapang" yang direkayasa preman Ongen Sangadji dengan bantuan Cendana dan TNI, lewat Suaidi Marasabessy, cs., "tanpa pemeriksaan" adalah upaya yang sama dari "gerombolan yang sama" untuk mendapatkan "kambing
hitam murahan!!!"
R. KASTOR:
Keterangan Kapolri tentang kasus Batu Merah adalah kriminal murni terlalu dini, dan fakta pendukung yang ada tidak seperti itu. Kita harus mengerti bahwa rencana ini di dukung oleh oknum TNI dalam jabatan tertentu yang ikut menentukan. Ribut-ribut pemuda
boru (pulau Saparua) yang bermukim di Ambon secara berkelompok di batas desa Batu Merah dengan pemuda Batu Merah sudah merupakan hal yang biasa tidak ada kelanjutan perkelahian massal. Kali ini di luar dugaan, massa Batu Merah pun merasa terbawa oleh pih
ak-pihak yang tidak jelas identitasnya, kelihatannya provokator telah berhasil mengeksploitasi ketidak-puasan Ummat Islam atas kasus Wailete dan Bak Air.
JOSHUA:
Saya sengaja mengambil bagian ini karena disinggung peran "TNI". Saya akan memberikan daftar singkat kegiatan TNI selama kerusuhan, selain dari "ketidak-netralan, penembakan membabi-buta terhadap pihak yang diserang, berpura-pura mengawal untuk diserahka
ke penjagal, menghamili para gadis Ambon 200 orang pada babak kerusuhan pertama, dll. seperti itu).
� Berawal dari Kostrad Wirabuana, terjadi penjarahan besar-besaran terhadap milik pihak Kristen, terutama turunan Tionghwa, sehingga kapal angkut militer itu sarat dengan "barang tak bersurat", dan sempat ditahan oleh Marinir.
Saya dan saksi mata lain melihat para anggota TNI ber-walkman ber-diskman, sementara pertokoan dijarah, dibakar, dan jarahannya diangkut dengan mobil "hijau".
� Oknum TNI non_marinir, menggunakan kesempatan sweeping senja- tajam/api di rumah-rumah penduduk untuk mencuri barang-barang berharga yang 'kecil', seperti uang, perhiasan emas dan berlian, handphone, dll. Mereka memaksa masuk rumah-rumah warga Kristen y
ng ditinggal penghuninya karena mengungsi, dengan membongkar pintu atau jendela, mengambil apa yang berharga seperti TV dan VCD, dan merusak sisanya.
� Di dalam suasana yang aman saat ini, banyak oknum TNI yang menggunakan kesempatan untuk 'meminjam' milik warga Kristen, terutama yang Tionghoa, seperti mobil, motor, dan telepon. Yang sangat memalukan ialah tindakan oknum TNI yang memanjat tiang-tiang t
lepon untuk mencantol pesawat telepon yang entah didapat dari mana, ke saluran pribadi warga yang ditinggalkan, atau sembarang line yang kena!!!.
� dll detail yang tidak sempat saya rinci di sini!!!
R. KASTOR:
Teriakan Ummat Islam dan sejumlah tokoh untuk mengobarkan Jihad fie Sabilillah, nampaknya menjadi alternatif terakhir yang harus ditempuh, karena TNI belum berhasil mencegah pihak Kristen untuk menghentikan serangannya. Perjuangan dengan Jihad fie Sabilil
lah ini akan menghasilkan perimbangan kekuatan, dan memungkinkan upaya damai yang relatif lebih kuat dan adil.
RUSTAM KASTOR Brigjen TNI Purnawirawan Kelahiran Ambon, 9 Juli 1939
JOSHUA:
Sejujurnya inilah tujuan utamanya!!!!! Menghasut massa untuk jahad!!!! Untuk itu, TNI yang diwarnai daftar saya di atas (baru sebagian kecil), dikatakan tidak mampu membendung pihak Kristen. Mulut dan hati ularnya berkata, "untuk mencapai damai yang lebi
kuat di dalam perimbangan". Ingin saya mengajak kita semua untuk berpikir "damai di dalam perimbangan" atau "bom waktu", jika memang benar itu tujuan Kastor. Adakah perdamaian yang di dasarkan atas perimbangan kekuatan???? Ataukah damai itu harus didasar
oleh "damai" itu sendiri yang diam di dalam seluruh aspek hidup umat beragama, khususnya, dan tidak beragama?????
Oleh sebab itu, mari kita "menggali kembali 'damai' yang sudah dianugerahkan Tuhan di lubuk hati kita, dan jangan terus menimbuni dia dengan kebencian, dengan memakan racun dari orang-orang berakhlak rendah seperti si jenderal Kastor ini"!!!! Gapailah da
ai di dalam diri, maka ia akan berjabatan tangan dengan damai yang ada disekitar kita!!!
Tuhan menjaga ini negara!!!
Salam Sejahtera!
JL.
----- End of forwarded message from Joshua Latupatti -----
04/11/00 04:17:50
| Name: adlin lumempouw |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
Apa yg telah dibaca ini memang menambah pengetahuan baik pihak kristen maupun islam. Saya beragama Kristen Protestan. Keluarga saya ada yg beragama islam juga. Kakak Ipar, Tante (adiknya Papi). Saya tahu benar kehidupan beragama mereka. So saya agak heran
kenapa di Ambon (Maluku) bisa seperti ini. Kalau menurut pendapat saya sebaiknya masing-2 pihak koreksi pada diri sendiri dulu. Jangan lupa, SETAN sekali lagi SETAN itu ada di mana-mana. Janganlah Pihak Kristen dan Islam berkelahi, baku bunuh yang ketawa
ETAN.
Masing-masing pihak beribadah lebih khusuk lagi. Jauhkan segala emosi, marah, dendam. Semoga TUHAN ALLAH melindungi kita semua. Lawan anda semua bukan ISLAM juga bukan KRISTEN.
04/10/00 21:32:50
| Name: Christian |
| My URL: Visit Me |
Comments:
Saya kasihan sekali pada saudara-saudara muslim karena termakan oleh propaganda dari orang yang mencari keuntungan untuk dirinya sendiri.
Semoga Allah yang maha Besar mengaruniakan akal budi dan kebijaksanaan kepada anda sekalian.
Peace be with you all.
04/10/00 15:00:55
| Name: Hasan |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
Jihad perlu diperhebat !!!
Karena gerakan Kristenisasi makin mantap.
Jangan sampai agama yg diridhai Allah lenyap dari negeri ini.
04/10/00 11:50:10
| Name: Fikri Kastor |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
-----Original Message----- (Taken from http://www.go.to/ambon)
From: "Joshua Latupatti" joshualatu@h...
RUSTAM KASTOR MENJUAL KOMPOR (1)
Salam Sejahtera!
Saudara-saudara sebangsa,
Ambon/Maluku semakin tenang, walaupun di sana sini masih ada beberapa insiden kecil yang mengotori suasana rekonsiliasi. Masih ada sebagian kecil yang masih belum mau mengecap kedamain di dalam kebersamaan kembali.
Saya mengerti bahwa konflik Ambon/Maluku itu bukan sesuatu yang dapat dengan begitu saja dilupakan. Suasana dan akibat dari konflik itu sendiri masih sering terbayang di depan mata saya. Tetapi saya berusaha menerimanya , tidak membiarkannya membebani hi
up saya yang harus dilanjutkan, dan berusaha melupakannya. Inilah yang terpenting, saya pikir. Memberikan sumbangan bagi proses rekonsiliasi kehidupan bersama warga Ambon/Maluku, mulai dari dalam diri sendiri dulu.
Saya masih bisa mengerti dan menerima sebagian warga masyarakat yang masih belum puas dan belum merasa impas, sehingga masih mencari jalan untuk merongrong usaha perdamaian. Tetapi jika hal ini dilakukan oleh seorang "Brigjen TNI", yang sepatutnya menjadi
contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat awam, maka saya benar-benar prihatin dan gundah. Alangkah "memalukan" bahwa seorang setingkat "jenderal" akhirnya menunjukkan kerendahan moral dan akhlaknya di depan umum seperti ini. Seorang "jenderal" yang se
arusnya menghasilkan hal-hal yang besar, ternyata terperosok ke dalam kubangan lumpur dusta dan fitnah karena dorongan hasrat fanatisme rendah. Seorang "jenderal" akhirnya hanya mampu menyatakan 'keIslaman' dirinya dengan menunggang agamanya sendiri sambi
menghasut umat.
Di saat-saat TNI berada di dalam sorotan kritis dari masyarakat dan berusaha memperbaiki diri, "Brigjen RUSTAM KASTOR" melumuri wajah TNI dengan lumpur. Saya ingin sekali mencatat reaksi TNI dan Pemerintah terhadap aksi Kastor ini, sebab menurut saya, okn
m ini sudah salah dijenderalkan dan sepantasnya dipensiunkan dengan "Kopral" saja.
Saya sudah membaca ke-8 seri tulisan Brigjen Rustam Kastor, dan sebenarnya saya merasa tulisan itu "tidak layak" untuk dikomentari. Selain berisi kebohongan, tulisan itu hanya merupakan cerita picisan yang berputar-putar. Seorang "Jenderal" seharusnya me
iliki "strategi" yang lebih baik untuk meyakinkan pembaca dengan data dan bukti, dan bukan berputar-putar dengan fitnah dan sebaran kebencian. Bagaiman kalau "karya picisan" ini sampai beredar di kalangan kaum awam yang tidak mengerti kelicikan si "Jender
l"? Oleh karena keprihatinan ini, saya pikir ada baiknya saya tanggap, dengan harapan agar ada yang mau menjadikannya sebagai "antivirus" bagi penyebaran dusta Brigjen Rustam Kastor. Karena keseluruhan isi tulisannya kopral Kastor ini hanya merupakan peru
angan hal-hal yang sama, maka hanya bagian-bagian tertentu yang akan saya komentari, dan hanya sekali saja.
Perlu juga diketahui bahwa walau R. Kastor mengaku lahir di Ambon, dia sama sekali tidak "Ambon". Masa tugasnya di Ambon tidak digunakan untuk mendatangkan kebaikan bagi warga Ambon/ Maluku, tetapi diwarnai dengan sungutan, keluhan dan kecurigaan warga at
s sepak terjangnya yang fanatik murahan itu. Jika boleh saya pukul rata, Rustam Kastor ini adalah salah satu "Pemain konflik Ambon/Maluku di belakang layar!!!".
Izinkan saya sekarang mengupas Rustam Kastor, dengan "tidak ada" Sama sekali keinginan untuk "mengungkit" yang sudah lalu, atau berusaha mencari kambing hitamnya. Saya hanya harus menyebut yang benar untuk mengantisipasi yang tidak benar, sebatas kemampua
dan pengetahuan saya yang juga punya banyak kelemahan.
R: KASTOR:
INDONESIA-VIEWS] RUSTAM - Konflik di Maluku 1/8
Date: Mon, 20 Mar 2000 06:46:37 -0800 (PST)
From: Rustam Kastor rustam-kastor@m...
To: apakabar@r...
Subject: Konflik di Maluku
Jauh sebelum Bangsa Eropa tiba di Maluku, para saudagar Nusantara telah berdagang penuh kedamaian dengan masyarakat atau kerajaan-kerajaan Islam di Maluku. Penyebaran agama Islam dilakukan dengan penuh perdamaian, sehingga relatif segenap masyarakat Maluk
telah memeluk agama Islam. Pada tahun 1512 mulailah bangsa Portugis menemukan Maluku (Banda) dengan maksud mendapatkan rempah-rempah langsung di bumi penghasilnya, kemudian datanglah penjajah Belanda pada tahun 1605.
JOSHUA:
Yang mana harus duluan?? Berdagang dengan Kerajaan Islam Maluku, atau menyebar agama Islam?? Ungkapan "relatif segenap - masyarakat Maluku telah memeluk agama Islam" adalah suatu isapan jempol anak SD yang malas bikin PR-Sejarah. Seluruh catatan lama Bela
da dan Gereja mengatakan bahwa "tantangan" terbesar bagi penyebaran agama Kristen adalah "adat dan kepercayaan animisme". Di Seram misalnya, terdapat suku Alifir (Alifuru, red) dan Naulu yang bisa terbang (mirip penduduk asli Kao-Maluku Utara). Data berik
t adalah bahwa Pengaruh Portugis bukan di Banda tetapi di Kep. Kai, Tanimbar, dll. Karena itu, mayoritas penduduk di sana beragama Katolik. Memang benar bahwa Islam yang lebih dahulu masuk ke sana, tetapi bukan mayoritas ketika Portugis datang.
R: KASTOR:
Perdagangan yang semula damai, berkembang menjadi bentrokan fisik karena sikap monopoli yang disertai penyebaran agama Kristen oleh pihak Belanda dengan menggunakan kekuatan bersenjata. Mulailah terjadi sejumlah peperangaan yang bukan saja untuk mempertah
ankan kedaulatan kerajaan-kerajaan Islam di Maluku, tetapi juga berjuang mempertahankan aqidah agamanya.
JOSHUA:
Pada saat itu, yang menjadi "dasar" perjuangan warga Maluku adalah "mengusir penjajah" dan bukan mempertahankan Agama, sebab baik Muslim, Kristen (dan Katolik), maupun Animisme, semuanya memberontak. Coba baca catatan lama Belanda yang kelabakan mengurus
uku Alifuru, misalnya. Ketika diindoktrinasi dengan ajaran Kristen bahwa Tuhan melarang untuk membunuh, mereka menjawab bahwa "sayang Tuhan tinggal terlalu tinggi, sebab kalau rendah, akan mereka tembak juga" (mereka punya senapan rampasan dan selalu diba
a di dalam pertemuan dengan terkokang).
R: KASTOR:
Perlawanan dari Kerajaan-kerajaan Islam seperti Perang Hitu (1502-1605), Perang Banda (1609-1621), Perang Hoamual (1625-1656), Perang Wawane (1633-1643), Perang Kapaha (1636-1646), Perang Alaka (1625-1637), Perang Iha (1632-1651), dan sejumlah perang yang
dilancarkan oleh beberapa kesultanan di Maluku Utara, dan terakhir Perang Tidore (1780-1805) yang dipimpin oleh Nuku yang sempat menunjukkan kekuatan dan kebesarannya. Sejumlah pahlawan perang Ummat Islam seperti Pattiwane, Kakiali, Gimelaka Laliato, Gime
aka Lulu, Tulukabessy, Kiayi Lessy, Rijali, Khairubia, Kapitan Ulupaha, Sudardi Monia Latuwirinnyai, Sultan Babullah, Sultan Khairun dan terakhir Sultan Nuku adalah para pemimpin perang yang gagah berani mampu mengalahkan penjajah di banyak medan pertempu
an.
JOSHUA:
Ini juga isapan jempol si Kastor. Saya tidak akan menyangkali keterlibatan beberapa "pahlawan" si Kastor di atas, di dalam melawan penjajah, tetapi kita harus akui juga bahwa mereka hanyalah merupakan insiden kecil-kecil yang sporadis di mata Belanda. Ji
a semuanya menang pada berbagai pertempuran seperti kata Kastor, mengapa Belanda tetap duduk di Maluku sambil menggaruk dengkul yang gatal?
R: KASTOR:
Kerajaan-kerajaan Islam, pada akhirnya secara bertahap dapat dikalahkan satu persatu terutama oleh VOC yang kemudian menjadi Kompeni menggantikan kedudukan Portugis, dengan memiliki armada dan kekuatan perang yang tangguh. Kegiatan perdagangan diwarnai pu
a dengan missi penginjilan secara paksa yang dimulai dengan perkumpulan dagangnya VOC. Perlawanan masyarakat dan kerajaan Islam di Maluku kini berkembang menjadi perang mempertahankan aqidah.
JOSHUA:
Nah. Akhirnya Kastor mengakui kekalahan Pahlawan Muslim, tetapi bukan berdasarkan niat mau jujur, tetapi sebagai dasar untuk fitnahan yang baru, "penginjilan secara paksa", dan untuk "menghasut umat" dengan ungkapan "perang akidah", walau tadinya dia meng
ku "sudah kalah". Saya jadi heran, apa memang ini benar ditulis oleh R.Kastor yang jenderal?? Semua anak sekolah yang belajar sejarah juga tahu bahwa VOC itu adalah 'kompeni' (C = companie).
R: KASTOR:
VOC sebagai organisasi dagang digantikan oleh Kompeni dengan kekuatan bersenjata yang besar, meningkatkan penindasan terhadap Ummat Islam di Maluku yang tiada tara sampai hampir tak kuasa lagi menerimanya, namum perlawanan terus berlanjut walau tidak mamp
lagi mengangkat senjata.
JOSHUA:
Aduh! Seorang "jenderal" jadi begini "cengeng" bagikan ditinggalkan kekasih�.Tak kuasa lagi aku menerima nasib ini sebab di dunia ini hanya ada kita bedua� namanya juga penjajah, ya kerjanya menjajah. Islam kek, Kristen kek, Animisme kek, Budha Kek, ya s
muanya dijajah. Dasar "jenderal cengeng"
R: KASTOR:
Kerajaan-kerajaan Islam di Maluku telah berhasil dihancurkan satu demi satu, tetapi tidak demikian dengan semangat kebenciannya terhadap penjajah yang telah merenggut kemerdekaan mereka sekaligus memaksakan keyakinan yang bertentangan dengan paham ke-Tauh
dan Islam. Bersamaan dengan kekalahan kerajaan-kerajaan Islam di Maluku terjadilah peperangan oleh kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan melawan kolonial Belanda. Kerajaan-kerajaan inipun mengalami nasib yang sama, yaitu dikalahkan
an ditaklukkan. Para pejuang yang tertangkap dibuang ke berbagai daerah di luar Jawa di antaranya Maluku. Sebagai pejuang mereka tidak pernah mau berhenti memerangi Belanda, dan sebagai pemimpin dalam suatu peperangan mereka pasti menyandang gelar Kiyai a
au pemuka agama.
JOSHUA:
Saya tidak setuju dengan penjajahan dalam bentuk apapun. Jika Saya akhirnya harus berjuang melawannya, maka saya berjuang demi hak, kebenaran dan kemerdekaan, dan bukan karena rasa benci. Tidak sadar, "sengat kebencian" inilah yang sedang di- ungkit oleh
. Kastor untuk disebarkan. Untuk menyebarkan kebencian, yang sebenarnya ditujukkan ke "Kristen", si Jenderal mulai membuka perjuangan Maluku untuk suku Jawa dan Sumatera, dan kemudian Sunda. Jika sebagain "pahlawan Muslim - Maluku" hanya berhasil masuk me
jadi "nama jalan", mana ada nama "pahlawan luar Maluku" yang dicatat di Maluku?? Saya semakin tidak percaya bahwa ini tulisan seorang "jenderal".
R: KASTOR:
Dengan modal semangat perlawanan (pejuang) dan keahlian ilmu agama Islam (Kiyai) mereka menyusup ke dalam Ummat Islam di Maluku dengan alasan kegiatan keagamaan, tetapi sesungguhnya mereka memimpin dan menggerakkan perlawanan terhadap Belanda secara tanpa
bersenjata. Terakhir sekali adalah kedatangan Pangeran Diponegoro dengan rombongan sebagai buangan, dan bersama pengikutnya berdiam di kampung yang sekarang bernama Kampung Diponegoro, yang semula tempat itu bernama Ajeng berubah karena pengaruh dialek Am
on menjadi Ajang. Para pejuang ini memimpin Ummat Islam di Maluku untuk melakukan aksi pembangkangan yang memberikan pukulan berat bagi pihak penjajah. Perlawanan non kooperatif/pembangkangan, yaitu bentuk perlawanan secara diam-diam, yakni menolak bekerj
sama dalam bentuk apa pun dengan penjajah serta merongrong pada aspek-aspek tertentu dengan tujuan melemahkan dan menggerogoti wibawa serta kekuatan pemerintah Belanda.
JOSHUA:
Daerah "Ponegoro" berada di dalam wilayah adat "desa Urimessing". Asal muasal daerah itu disebut Ponegoro atau Diponegoro, "bukan" karena jasa perjuangan Diponegoro di Ambon/Maluku, tetapi karena pada daerah itu, terdapat kuburan dari salah satu keluarga
Diponegoro.
R: KASTOR:
Perlawanan ini efektif pada 20-30 tahun pertama, saat para pemimpinnya aktif memberikan petunjuk, arahan dan dorongan semangat. Namum perlawanan yang memakan waktu seratus tahun lebih tersebut menjadi kurang efektif, sebab kurang memiliki daya tahan, tida
ada pembentukan kader dan pemimpin lapangan yang akan melanjutkan perlawanan tersebut. Kegagalan membentuk pemimpin Pelanjut, mengakibatkan perlawanan menjadi kurang terarah dan tidak punya tujuan yang jelas. Apa yang terus bergelora adalah semangat mere
a untuk tidak mau bekerja sama dan membangkang saja.
JOSHUA:
Setelah perjuangan melawan penjajah diklaim sebagai perjuangan "mempertahankan akidah agama", sekarang Kastor mencela perjuangan yang sama sebagai "kurang terarah" dan "tidak punya tujuan jelas"????? Ini hanya uleh modelnya jenderal pelanduk!
R: KASTOR:
Pada waktu itu tidak ada Ummat Islam yang bersedia menjadi serdadu Belanda, guru dan pekerjaan-pekerjaan yang berada di bawah kendali Belanda. Ummat Islam lebih memilih pekerjaan non formal seperti nelayan, pedagang kecil (wiraswasta), tukang dan sejenisn
ya. Bahkan bersekolahpun ditolak, Ummat Islam lebih memilih pengajian dan Madrasah. Di luar Maluku, orang lebih mengenal orang Ambon adalah Kristen, hal ini disebabkan oleh serdadu Belanda asal Maluku yang bertugas di luar Maluku (Jawa,dsbnya) relatif tid
k ada yang beragama Islam, sehingga yang terjadi ibarat gayung bersambut.
JOSHUA:
Waktu itu, sejujurnya, bukan karena "tidak bersedia" tetapi karena "tidak terpilih" atau "tidak memenuhi syarat". Logika Kastor yang dibangunnya, dibantah sendiri. Katanya warga Islam Maluku "semuanya" memusuhi Belanda karena "ditindas" Belanda!!! Masakan
mereka sempat "diminta" menjadi tentara dan menolak??? Ada juga benarnya bahwa Ambon dikenal di luar Maluku karena serdadu KNIL-nya. Tetapi selanjutnya, orang di luar Maluku hanya mengenal Ambon sebagai daerah Kristen karena penampilan putera Ambon sendir
. Siapa tidak tahu Dr. Leimena dan Siwabessy serta Sitanala. Siapa tidak kenal Steve Thenu, Wiem Gomies, Ely Pical, Carolin Riewpassa, Masnait dan Andarinyo Group, misalnya??? Mana putra Muslim Maluku yang mampu memperkenalkan Ambon/Maluku??? Mana ada Has
n Tutupoly yang bisa berdampingan dengan Bob Tutupoly. Saya tidak merendahkan, tetapi inilah kenyataannya!!!
Hal yang paling penting di sini adalah "logika" tentang "siapa sebenarnya yang cemburu"?????
R: KASTOR:
Dalam kisah perlawanan tanpa senjata ini, barangkali perlu kita telusuri adanya beberapa marga (Vam) di kota Ambon yang bukan marga asli dari Maluku seperti Betawi, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Padang, Diponegoro, Aceh dan sebagainya.
Yang jelas marga tersebut menunjukkan darimana mereka berasal, sebab waktu itu semua orang harus mempunyai vam, mereka yang tidak mempunyai vam memilih daerah asal mereka sebagai vam.
Siapakah mereka ini, sekurang-kurangnya sebagiannya adalah para pejuang yang dibuang oleh Belanda dulu yang memimpin Ummat Islam di Maluku melakukan aksi pembangkangan/non kooperatif. Tanyalah para tetua kita, bagaimana orang Waihaong, Talake, Silale, Soa
bali, Batu Gajah (Diponegoro) Batu Merah, Pardeis dsb belajar silat? Mereka belajar tertutup dalam rumah atau di halaman belakang agar tidak diketahui kaum Nasrani. Bila ada Nasrani yang datang, latihan segera dihentikan agar tidak diketahui jurus-jurusny
. Jadi para tetua itu belajar untuk menghadapi Penjajah Belanda (dibenaknya) dan kaum Nasrani. Persis seperti kisah dalam serial film Si Pitung dari Marunda
JOSHUA:
Bagian ini sebenarnya hanya "usaha murahanan untuk menghasut ] Orang senegara"!!! Akibatnya, banyak data yang ngawur. Talake itu basisnya Kristen, sedangkan Silale itu adalah bagian kecil warga Kristen yang dibumihanguskan pada sore hari pecahnya peristi
a Lebaran Berdarah itu.
R: KASTOR:
Perlawanan terhadap penjajah Belanda yang berlangsung lebih 100 tahun itu, sebagian besar berlangsung tanpa koordinasi, bahkan tanpa pemimpin yang jelas sehingga semangat melawan pemerintah kolonial tanpa disadari, berubah arah dan tujuannya. Sikap Ummat
slam yang tampaknya kurang partisipatif saat ini, tidak lepas dari peninggalan masa lalu itu, yang membentuk watak dan karakter sebagian besar di antara mereka, sehingga terhadap pemerintahan sendiripun mereka juga kurang memberikan partisipasi yang berar
i. Banyak kerugian yang diderita Ummat Islam akibat proses perjuangan panjang tanpa koordinasi dan pimpinan ini, yang pada akhirnya menghasilkan kondisi yang amat tidak menguntungkan seperti yang kita alami sekarang
JOSHUA:
Semangat kebencian dan perang akidah yang dipimpin bahkan oleh para pahlawan Muslim dari luar daerah, ternyata menghadapi sikap ummat Islam yang kurang partisipatif, tidak terkoordinasi, dan berubah-ubah tujuan???? Tulisan kelas terasi ini namanya ya?????
Semuanya itu lalu dibebankan kepada penjajah sebagai "warisan sikap" . Jika semua warga Maluku pada awalnmya sudah Islam, dan sejak awal membenci penjajah dan berperang dengan mereka, lalu "warisan sifat kolonial apa yang mereka peroleh" jenderal dungu?
R: KASTOR:
Ummat Islam di Maluku tertinggal hampir di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara secara fisik, tampak maupun yang tidak tampak tetapi terasa sebagai suatu kenyataan. Setelah Indonesia merdeka, Ummat Islam di Maluku mencapai banyak kemajuan di semu
a sektor, tetapi kita harus mengakui bahwa dibandingkan dengan Ummat Kristen kita terlalu terlambat, ibarat berlomba dengan kaum yang menggunakan kendaraan, sedang kita berjalan kaki. Dengan demikian jarak ketertinggalan kita dari hari ke hari kian jauh,
ehingga barangkali kondisi ini dapat memicu kecemburuan sosial.
JOSHUA:
Saya mohon saudara-saudara mengingat atau mencatat bagian akhir dari paragraf ini, sebab di sini, "kecemburuan sosial itu berasal dari ketertinggalan umat Islam Maluku", seperti kata Rustam Kastor. Artinya, "kecemburuan sosial" itu milik warga Muslim Mal
ku !!!
R: KASTOR:
Di sisi lain kemajuan yang diperoleh Ummat Islam, terutama munculnya generasi muda cendekiawan merupakan saingan bagi pihak Kristen yang walau pun dalam skala rendah, mereka melihatnya sebagai ancaman yang membahayakan. Merasa adanya ancaman (yang sesungg
hnya tak seberapa besar), maka kerukunan yang selama ini terjalin mulai goyah. Pihak Kristen melakukan aksi penghambatan dengan menutup peluang bagi yang Islam di berbagai sektor strategis. Ketidak adilan ini semakin terasa, sementara yang Islam hanya d a
at merasakan tetapi tidak ada upaya nyata untuk mengatasi persaingan itu. Lebih diperparah lagi, bahwa barisan Ummat Islam masih tercerai-berai, para cendekiawan yang berkualifikasi pemimpin masih amat terbatas.
JOSHUA:
Catatlah pula bahwa sekarang "kecemburuan sosial" mulai diarahkan ke pihak Kristen Ambon/Maluku, yang merasa tersaing dengan kemajuan warga Muslim. Sebuah logika kecil tapi penting�� Jika setelah Belanda, hampir semua sektor di Ambon, misalnya, dikuasai o
eh piha Kristen yang "menghambat". Kalau kita perkecil ke bidang pendidikan saja, dengan hampir 100% guru-guru Kristen, dan jika mereka semua "menghambat kemajuan warga Muslim", apakah mungkin ada warga Muslim Ambon yang maju di dalam bidang pendidikan???
Pikirkanlah itu, lalu coba hubungkan kemajuan warga Muslim Ambon dengan "semangat kerukunan dan per- saudaraan Pela-Gandong".
R: KASTOR:
Hambatan terberat ke dalam tubuh Ummat Islam justru karena sikap non partisipatif itu. Sebagai contoh riel, dapat kita saksikan pada prosentase kontingen Pekan Olah Raga Maluku. Peserta yang beragama Islam hanya sekitar 10% saja, padahal mereka bukan tida
punya kemampuan untuk menjadi atlet berprestasi, tetapi mereka tidak tertarik untuk ikut berpartisipasi
JOSHUA:
Jika hal di atas ini benar, apakah pihak Kristen yang salah dan bersikap menghalangi, seperti kata Kastor???? Jadinya, klaim bahwa Ambon dikenal di luar sebagai Kristen karena tentara KNIL asal Ambon, "sekarang dibantah Kastor sendiri". Itulah juga yang s
ya maksudkan, bahwa saya juga menunggu munculnya seorang "Ismail Pical", misalnya, tetapi tak kunjung datang. Coba lihat petinju berbakat 'Hamdani Tomago- la' kelahiran Ternate. Saya tidak simpati padanya bukan karena dia Muslim, tetapi karena "sifat lici
"-nya yang nanti menghambat kariernya sendiri. Dia suka mencuri pukulan sewaktu gong akhir ronde berbunyi, sedangkan Nico Thomas tidak. Dia suka clinch dengan mendorong dadanya ke badan lawan sambil merentangkan tangan lebar-lebar, seakan-akan lawannya y
ng dengan sengaja memeluk, padahal Papilaya tidak.
Maksud saya, perbaikilah kekurangan diri sendiri dan jangan Menyalahkan orang lain sebagai menghambat, atau berdalih tidak tertarik, padahal sudah mati-matian bermimpi ke situ. Tidak adanya Siti Marasabessy di samping Christina Martha Tiahahu bukanlah wa
san Kolonial atau hambatan pihak Kristen. Justeru sekarang, seorang "jenderal" mau mencoba mengecilka arti keberanian dan taktik perang dari Thomas Matulessy yang bergelar Pattimura, yang mencincang tubuh penjajah, hingga gunungnya dinamakan "gunung perke
el", dan hanya menyisakan seorang anak lelaki kecil untuk dikirim ke Belanda, sebagai kenang-kenangan bagi benteng Duurstede yang kosong melompong (kalau saya tidak salah, turunan anak itu masih ada dan menyandang nama 'van Denberg van Saparua) .
Kelima teman Pattimura adalah:
Ch. Martha Tiahahu (wanita, Kristen)
Philip Latumahina (pria, Kristen)
Said Parintah (pria, Islam)
Anthony Reebok (pria Indo., Kristen)
Salam Sejahtera!
JL.
(bersambung ke bagian 2a)
----- End of forwarded message from Joshua Latupatti -----
04/10/00 11:48:38
| Name: Fikri Kastor |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
-----Original Message----- (Taken from : http://www.go.to/ambon )
From: "Joshua Latupatti" [email protected].
RUSTAM KASTOR MENJUAL KOMPOR (2)-A
Salam Sejahtera!
Saudara-saudara sebangsa,
Saya lanjutkan komentar saya atas tulisan Rustam Kastor, tanpa niatan untuk mebangkit-bangkit masalah yang sudah lalu, tetapi untuk memajukan argumentasi bantahan terhadap kebohongan yang disebarkan R. Kastor.
Istilah 'kompor' saya gunakan berdasarkan pemikiran bahwa kompor adalah alat untuk "memanaskan", dan apa yang dilakukan R. Kastor tidak lain dan tidak bukan adalah upaya memanaskan umat, baik Islam maupun Kristen, agar suasana tetap keruh, dan dia dengan
ebas dapat tetap "memancing" bagi kepentingan pribadi ataupun golongan.
R. KASTOR:
Konflik di Maluku.
Kondisi dan Realitas Budaya yang Kurang Menguntungkan ADA beberapa kondisi obyektif serta realitas budaya yang tidak menguntungkan sehubungan dengan kondisi kemasyarakatan antara masyarakat yang beragama Islam dengan yang beragama Kristen. Kondisi seperti
ini diketahui oleh setiap tokoh muslim di Ambon-Maluku, tetapi tidak pernah ada upaya nyata untuk mengantisipasinya, bahkan cenderung memandangnya secara tidak obyektif dan proporsional, demi kepentingan politis ataupun interes tertentu. Kondisi yang tida
menguntungkan ini telah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dan lama, sehingga menimbulkan akibat yang cukup serius, ibarat api dalam sekam. Kondisi budaya yang dimaksud dapat dsebutkan di sini antara lain: �
JOSHUA:
Dengan pernyataan di atas, apa yang saya katakan dulu ada benarnya, bahwa walaupun Rustam Kastor mengaku lahir di Ambon, ia bukan "Ambon" sama sekali. Yang berikut dan cukup penting adalah bahwa pernyataan di atas adalah "gambaran dari R. Kastor sendiri".
Selama bersepak-terjang di Ambon, R. Kastor sangat-sangat dihambat oleh "keakraban antar umat" di sana, sehingga proyek adu-dombanya selama dia mempunyai sedikit jabatan dan sedikit kuasa ala TNI di Ambon, hanya mempunyai dampak tingkat jalanan pasar saja
R. KASTOR:
1. Budaya Pela Gandong
Menurut kisah para tetua adat, budaya Pela adalah suatu pernyataan kekerabatan atau persaudaraan mutlak, suatu semboyan yang memiliki kekuatan pengikat dalam membentuk persatuan dan kesatuan di antara mereka yang ber-Pela, dengan sanksi apabila larangan-l
rangan (yang ditabukan) dilanggar, maka akan berakibat fatal bagi yang bersangkutan. Oleh karena itu para leluhur betul-betul menjaga diri untuk tidak melanggar. Tetapi generasi muda yang hidup di alam modern ini banyak yang tidak lagi yakin akan sejumla
pantangan itu, dan ternyata mereka biasa-biasa saja, tidak mendapat atau terkena gangguan apapun.
JOSHUA:
Inilah juga salah satu kebodohan Rustam Kastor yang berani mengaku lahir di Ambon. Adat "Pela" itu tidak untuk sekali dibuat lalu dibiarkan. Umumnya hampir setiap tahun, dilakukan acara "Panas Pela", dimana hubungan itu di-update dan dipererat (dihangatka
) lagi. Itulah sebabnya, bisa saja tidak akan terjadi apa apa dengan pelanggar adat Pela ini, karena sudah bertahun-tahun tidak ada "pemanasan" lagi. Mengapa? Sebab utama adalah hasutan-hasutan seperti yang dilakukan R. Kastor sekarang ini.
R. KASTOR:
Pada era orde baru, Pela telah digunakan sebagai alat politik untuk kepentingan elit kekuasaan, dalam hal seperti itu pihak Islam tentu jadi objek garapan.
JOSHUA:
Penting dicatat bahwa Rustam Kastor ini dilahirkan, disusui dan disekolahkan serta dianugerahi pangkat dan jabatan oleh ORBA. Jika tidak, masakan seorang "jenderal" bisa sebodoh yang ini??? Lihatlah cara menghasut dengan pernyataan yang tanpa contoh dan
bukti jelas adalah salah satu kebodohan seorang jenderal R. Kastor!!!
R. KASTOR:
Karena itu terbuailah kita orang Ambon (Maluku bagian tengah), percaya adanya kekuatan metafisis. Beberapa tokoh Islam amat meragukan apa yang dikatakan Pela itu, karena kenyataan di lapangan Ummat Islam selalu diperlakukan tidak adil, seperti penderitaan
yang dialami ketika dijajah RMS. Ummat Islam dibunuh, kampung dan Masjidnya dibakar. Perlakuan tidak adil yang terjadi sampai hari ini, ternyata saudara Pela tidak pernah membela saudaranya yang disiksa ataupun dibunuh. Akan tetapi anehnya, sejumlah tokoh
Islam dengan lantangnya memuji budaya Pela, karena takut tergeser dari jabatan.
JOSHUA:
Lihat pernyataan Kastor: "sebagian meragukan dan sebagian memuji adat Pela ", tanpa menyebut, sebagian itu siapa atau apa. Ini hanya akal licik berdasarkan spekulasi murahan seorang jenderal (??). Kapan kita pernah mendengar "RMS menjajah"???? Akhir April
(1950, red) diproklamirkan, pertengahan Mei (1950, red) sudah diserbu!!! Lagipula, jika� "ini hanya jika�", RMS memang berdaulat, semuanya Kristen, disayangi dan dibela oleh Belanda,�.'mengapa harus susah-susah mencari Pela????? Bukankah orang yang terde
ak itu yang seharusnya "mencari teman baik"??? Logika pak jenderal tak jalan???
R. KASTIOR:
Dengan taktik Pela, Ummat Islam berhasil dinina-bobokkan ratusan tahun, dan tetap tertidur pulas di era reformasi ini. Allah SWT telah murka kepada pemimpin yang menipu ummatnya. Secara matematis, Pela juga tidak memiliki daya kohesifitas, karena Pela ada
lah hubungan desa A dan desa B saja, jadi tidak membuat jaring yang rapat, dari segi prosentase terlalu kecil untuk bisa berperan sebagai perekat. Kepercayaan kepada Pela telah membuat kita membohongi diri sendiri dan tidak waspada terhadap niat busuk gol
ngan Kristen yang memusuhi Ummat Islam berabad-abad lamanya, yang akhirnya kita terima sebagai penderitaan teramat berat pada tanggal 1 Syawal 1419 H (19 Januari 1999) yang dikenal dengan nama Tragedi Idul Fitri Berdarah.
Saya dengan yakin berpendapat demikian karena apabila daya kohesifitas itu benar adanya, maka ummat Kristen tidak mungkin terprovokasi untuk membunuh saudara Pelanya.
JOSHUA:
Hah! Jenderal Kancil mau menjadi Nabi!!!! Sesudah mereka menghasut dua kakak-beradik dengan dalih perhatian orang- tua yang tidak seimbang, sehingga keduanya berkelahi, lalu mereka katakan "ternyata rahim ibu itu juga bukan perekat yang baik antar saudara
!!! Bukankah ini sifat iblis???? Yang menggunakan nama/istilah "Idul Fitri Berdarah" itu adalah "POSKO IDUL FITRI BERDARAH dan TIM ADVOKASI IDUL FITI BERDARAH" yang berpusat di AL FATAH, Ambon, direstui oleh MUI-Maluku, dan diresmikan pada tgl 6 JANUARI
999, 13 hari sebelum kerusuhan pecah. Mohon cari laporan dari pihak NU dan PKB Maluku yang menolak turut serta dan meninggalkan meja rapat pembetukan Posko dan Tim Advokasi tsb. yang disam- paikan kepada ketua PB-NU, KH. Abdulrahman Wahid (tertulis atau l
san).
R. KASTOR:
Jadi ternyata Pela itu telah digunakan secara efektif sejajar dengan perlakuan ketidak adilan dan diskriminatif, sehingga tertutup semua tipu daya mereka. Setahun menjelang peristiwa berdarah ini, Pela telah diintrodusir oleh pihak Kristen dengan Gandong.
Maka jadilah Pela-Gandong, yaitu suatu penegasan bahwa antara yang Islam dan Kristen itu saudara sekandung, sehingga lagu pun diciptakan sebagai lagu wajib di tiap acara pertemuan. Pela-Gandong begitu gencar dipopulerkan, tetapi akhirnya dapat kita deteks
sebagai langkah pematangan situasi untuk suatu niat jahat pada 1 Syawal 1419 H (19 Januari 1999) yang lalu.
JOSHUA:
Bagian ini menunjukan "kerendahan akhlak" seorang jenderal TNI yang rela melanggar segala sumpah keprajuritan dan kesucian imannya, demi menyampaikan niat hatinya yang busuk di dalam dusta dan kebohongan. Dia mengatakan bahwa "Gandong" itu diintroduksi ol
h pihak Kristen, setahun sebelum pecahnya kerusuhan"! Padahal, "Gandong" yang artinya sama dengan "Kandung" itu sudah ada sebelum "Pela" itu sendiri. "Gandong" adalah persaudaraan dari negeri-negeri yang leluhurnya adalah "saudara kandung", seibu-sebapak
Biasanya Gandong meliputi lebih dari dua negeri Kristen maupun Islam, tergantung dari jumlah anggota keluarga para leluhur mereka.
R. KASTOR:
Sesuatu yang amat dibuat-buat lagi, adalah tudingan yang dialamatkan kepada suku Bugis, Buton, Makasar, Jawa dan Sumatera, sebagai orang-orang yang, "Telah merusak Pela-Gandong budaya leluhur orang Maluku". Sesungguhnya suku-suku pendatang itu termasuk da
i Maluku Utara dan Maluku Tenggara tidak ada urusan dengan Pela Gandong. Mereka tidak mengenalnya, tetapi terbukti mereka lebih rukun dibandingkan orang-orang asli Maluku yang terus menerus bermusuhan.
JOSHUA:
Tidak dapat dibantah bahwa keberadaan pendatang mesti membawa gesekan, walau sekecil apapun. Tetapi tuduhan yang direkayasa si Kastor ini adalah cerminan isi otaknya sendiri. Siapapun seperti si Kastor ini, dapat menjadi perusak potensial hubungan Pela/Ga
dong, apakah dia itu asal Sulsel, Sultra, Jawa, dll., dan bahkan Maluku sendiri. Kehancuran ini bukan soal seluruh suku, tetapi soal beberapa oknum berhati iblis seperti jenderal impoten ini.
R. KASTIOR:
2. Republik Maluku Selatan (RMS) sebagai Broker
RMS adalah negara boneka ciptaan Belanda agar memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ummat Islam menentang habis-habisan walaupun banyak korban nyawa, harta dan moril. Karena itu Ummat Islam dimusuhi dan secara sistematis akan dihancurka
, sebab dalam perhitungan mereka, mustahil RMS bisa eksis bila lebih dari � 50% rakyatnya menolak. Maka dimulailah penindasan tak berperi kemanusiaan, dan Ummat Islam menerimanya dengan pasrah, karena merasa tak berdaya untuk melawan.
JOSHUA:
Masih ingat apa yang dikatakan Kastor dulu?? Islam Maluku sangat dibenci oleh Belanda dan oleh Kristen Maluku yang adalah anak emas nya Belanda, kata Kastor. Jika benar demikian, dan RMS itu semuanya Kristen, "dalam rangka apakah umat Muslim-Maluku berimi
rasi ke Belanda bersama dengan umat Kristen Maluku dan menetap di sana sampai sekarang????? Saya sangat sedih jika tulisan goblok ini sampai sipercayai oleh orang yang berpendidikan seperti kita ini!!!!!
R. KASTIOR:
RMS sesungguhnya adalah akronim dari Republik Maluku Sarani (Nasrani dalam ungkapan orang Maluku). Kebencian Ummat Kristen terlihat dalam bentuk kekejaman pemerintahan RMS yang pejabatnya dan angkatan perangnya 99,9 % beragama Kristen. Korban kekejaman RM
persis sebagaimana yang diderita Ummat Islam dalam Tragedi Idul Fitri Berdarah (19 Januari 1999) ini. Saling membenci itu masih terasa karena ternyata RMS yang terselubung (latent) sesungguhnya masih eksis. RMS telah ikut berperan dalam tragedi Idul Fitr
Berdarah (19 Januari 1999), bahkan justru sebagai dalang utama. Ini bukan sekedar dugaan tanpa alasan. Pada waktu demonstrasi, 18 November 1998, dapat dengan jelas dan terang-terangan kita saksikan mereka meneriakkan "Hidup RMS", Mena Moeria Menang. Bukt
lainnya, bertebarannya sejumlah tulisan "Hidup RMS" yang sengaja dipamerkan di jalan-jalan, begitu juga pengibaran bendera RMS secara berani di Gunung Nona. Apabila benar RMS di balik tragedi ini, maka tidak mungkin bagi Ummat Islam menerima ide separati
. Oleh karena itu Ummat Islam di Maluku akan berjuang habis-habisan melawan pihak yang ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hendaklah kita lebih jeli melihat latentnya RMS sebagai suatu ide separatis yang tetap hidup di hampir se
u a isi kepala tokoh Kristen. Atas dasar ini, maka jelas adanya suatu konspirasi besar untuk kepentingan politik Kristen Indonesia, dan dalam kerusuhan Ambon, dapat dipastikan Brokernya para pendukung atau agen-agen RMS.
JOSHUA:
Istilah "Republik Maluku Serani (Kristen)" ini baru saja muncul, beberapa bulan setelah pecahnya kerusuhan. Ini hanya ungkapan yang tercetus karena kerusuhan itu saja. Aslinya adalah RMS= Republik Maluku Selatan. Panjelasan saya dulu ttg. RMS telah Cukup
enerangkan bahwa RMS bukan gerakan separatis. Pemerhati Sejarah Nasional akan mengerti bahwa Proklamasi Kemerdekaan RI tidak mencakup Maluku, Irian Barat, Aceh, dll. ke dalam teritorinya, sesuai dengan perjanjian Linggarjati, Moh. Rum - van Royen, Renvill
dan Meja Bundar. Saya bukan pemimpi kembalinya RMS, tetapi saya sebagai anak Ambon/Maluku, saya harus tahu peristiwa yang sebenarnya.
Pengibaran bendera RMS, dikabarkan terjadi selama kerusuhan babak pertama, oleh seorang bekas RMS bernama Arkalang, yang dinilai sebagai perbuatan yang kekanak-kanakan, sebab Arkalang sendiri tidak dianggap sebagai tokoh di Ambon dan sudah tidak dihirauka
orang.
Yang sebenarnya terjadi adalah penyitaan sekitar 50 lembar bendera RMS di Mesjid Al Fatah, dan tidak pernah dilaporkan oleh Suaidi Marasabessy ke Mabes TNI. Bendera-bendera ini disiapkan untuk disusupkan ke daerah Kristen, agar bisa dikambing-hitamkan. Ji
a ada yang masih meragukan keterangan saya bahwa Abdulah Soulissa, Ketua Yayasan Al Fatah adalah bekas Sekretaris RMS, Masing-masing boleh menanyakan sendiri kepada salah seorang anggota MPR dari fraksi PDI-P, asal Maluku Tenggara. Selain membantah klaim
astor bahwa RMS ini hanya milik warga Kristen, beliau ini pernah ditangkap dengan tuduhan RMS, yang sekaligus membantah teori ngawur Kastor bahwa RMS hanya milik warga Maluku Tengah.
R. KASTOR:
3. Suku Bugis, Buton, Makasar dan Lapangan Pekerjaan
Sejak zaman penjajahan Belanda, masyarakat Kristen Maluku merupakan anak emas, yang mendapatkan perlakuan istimewa oleh sebab kesetiaan mereka kepada majikan penjajahnya, sehingga diangkat sebagai prajurit-prajurut kepercayaan, dan para ambtenar. Itulah s
babnya, banyak dari mereka menduduki pekerjaan kantoran, sedang pekerjaan non formal kurang diminati.
Suku Bugis, Buton dan Makasar (selanjutnya disingkat BBM) melihat adanya peluang yang baik untuk mencari nafkah di Maluku khusus nya Ambon dan sekitarnya, sebagai pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan, pendidikan dan sebagainya. Karena kegigihan, keule
an dan ketrampilan di bidang yang ditekuni tanpa kenal lelah itu, mereka sangat berhasil pada aspek sosial ekonomi, yang tentunya berdampak pada aspek lainnya.
JOSHUA:
Saya ingin menerangkan sesuatu ttg sifat orang Ambon. Orang Ambon itu terkenal setia kepada majikan, sahabat dan teman mereka. Jika mereka setia kepada Belanda, maka kepada Belanda sajalah mereka akan setia selamanya. Jika mereka setia kepada RI, maka ke
ada RI-lah mereka akan setia selamanya. Sesudah RMS dilindas oleh Soekarno secara ilegal (hukum Internasional), seharusnya orang Ambon/Maluku membecinya. Tetapi fakta mengatakan lain, bahwa jika Soekarno ke luar negeri, hanya Leimena yang dipercayakan men
aga 'kursi'nya. Jika terlaksana, Maka hanya ada dua 'tempat istirahat Bung Karno', satu di Bali dan satu di Ambon.
Yang kedua, tolong catat ungkapan "sangat berhasil"-nya Kastor bagi warga BBM di Ambon dalam bidang ekonomi dan yang katanya lagi, tentunya berdampak pada aspek yang lain pula!!!
R. KASTOR:
Apabila mau jujur, masih ada suku lain lagi yang sama uletnya dengan suku BBM ini, yaitu suku Toraja yang beragama Kristen. Maka jika masyarakat Maluku merasa tergeser dalam berbagai bidang usaha, sesungguhnya mereka sedang bersaing menghadapi 6 suku yait
BBM, Jawa, Sumatera dan Toraja yang hampir merebut semua pekerjaan di bidang sarana umum, termasuk pengemudi angkutan kota yang sekitar 60% adalah suku Buton, dan hampir 100% pengemudi becak.
JOSHUA:
Saya mohon maaf, bila ada yang tersinggung dengan pernyataan saya, tetapi itulah kenyataannya. Selama hidup, saya belum pernah mendengar ada pencuri, perampok, penodong, pemerkosa, penusuk dari belakang, gelandangan, peminta-minta dan pembakar serta penja
ah asal Toraja!! Itulah mungkin salah satu sebab, yang haram disinggung si jenderal, dan bukan semata-mata karena pendatang asal Toraja beragama Kristen.
R. KASTOR:
Meningkatnya kondisi sosial ekonomi keenam suku tersebut menimbulkan gesekan dengan masyarakat Maluku/Ambon khususnya yang beragama Kristen. Sedangkan yang beragama Islam dapat menerimanya, karena mereka berada pada pekerjaan non formal lainnya bahkan men
atu dengan keenam suku pendatang tersebut sejak ratusan tahun lalu. Kecenderungan ini terus berkembang dengan posisi keenam suku tersebut semakin kuat. Bila pada rencana pengusiran pendatang hanya suku BBM saja yang diangkat ke permukaan, maka dalam pela
sanaannya terdapat 5 suku yang dibabat yaitu Bugis, Buton, Makassar, Jawa, dan Sumatera. Adapun suku Toraja tidak dijadikan sasaran, tentu bukan tanpa alasan, sebab suku ini beragama Kristen.
Meningkatnya tingkat kehidupan suku BBM dan Jawa, Sumatera ini telah menimbulkan kecemburuan sosial yang tidak masuk akal.
JOSHUA:
Logika sederhana: jika benar warga Islam Maluku telah menyatu dengan pendatang BBM, Jawa dan Sumatera, sejak ratusan tahun yang lalu, dan bergerak di dalam bidang yang sama, apakah mungkin benar bahwa, ketika kedudukan ekonomi pendatang begitu kokoh, warg
Muslim Maluku tetap ketinggalan di segala bidang?????
Sejujurnya, ketika kerusuhan sudah berjalan setengah jalan, saya masih berdiri ngobrol dengan para pekerja asal Jawa dan Sumatera, yang mayoritas Muslim di AMBON. Mereka bebas keluar membeli Supermie dan Telor, sampai mereka dipindahkan dari sini. Kesimpu
annya, R. Kastor sengaja "memperluas hasutan"-nya untuk menjaring kebencian sebanyak mungkin bagi warga Kristen Ambon.
R. KASTOR:
4. Kediaman Masyarakat BBM pada Lokasi Rawan Konflik
Dahulu di Maluku masyarakat Islam dan Kristen terpisah mutlak dalam pemukiman yang berbeda (Homogen). Hal ini disebabkan sejarah perjuangan Ummat Islam yang menentang Belanda, sedangkan Kristen yang lebih akomodatif dan bekerjasama. Selain itu penyebaran
gama Kristen yang memboncengi kolonisasi/penaklukan membuat desa Islam dan Kristen menjadi terpisah. Suku BBM dan pendatang lainnya sukses dalam perbaikan sosial ekonomi, sehingga berhasil membeli tanah dan membuat rumah serta mengembangkan usaha. Karena
eterbatasan tanah dan tidak pernah berpikir adanya kerukunan hidup antara ummat beragama yang semu sebagai akibat sejarah masa lalu, mereka membangun rumah sampai ke tengah perkampungan Kristen, atau mengelompok dalam jumlah kecil di dekat kampung Kristen
Karena itu kecemburuan berkembang di lahan subur. Sebagai masyarakat yang beragama Islam dan Kris ten bertetangga sesungguhnya mereka berada pada kondisi rawan sebab kerukunan yang ada terlalu semu. Apa yang kita saksikan dalam Tragedi Idul Fitri Berdara
(19 Januari 1999) ini telah menjadi bukti akan kekhawatiran yang selama ini menggantung.
JOSHUA:
Ini juga isapan jempol, karena tiga desa di Ambon, seperti Hitu, Hila dan Tial adalah desa "Krislam" (gabungan keduanya). Daerah Kristen kecil, Silale, yang menjadi korban awal kerusuhan, Berada di tengah-tengah wilayah Muslim, Waihaong. Hal ini terjadi,
bukan karena "kekurangan lahan", seperti kata R. Kastor, tetapi karena adanya rasa saling percaya dan persahabatan khas Ambon/Maluku, yang dimanfaatkan secara maksimal oleh para pendatang, "tanpa rasa terima kasih", dan malah dengan niat-niat yang tidak b
rsih!!!
R. KASTOR:
5. Kerukunan Hidup Antar Ummat Beragama yang Semu
Memang benar, pernah di suatu masa dahulu, kehidupan antar ummat beragama di Maluku begitu baik sehingga sering dijadikan contoh sebagai yang terbaik di Indonesia, bahkan tentunya terbaik sedunia. Akan tetapi, yang sebenarnya terjadi bukan suatu kerukunan
tetapi terpaksa rukun, karena pihak Islam sejak dijajah Belanda memang tak berdaya dalam banyak hal, termasuk tidak berdaya tampil membela hak asasinya, sehingga menerima begitu saja perlakuan yang tidak adil ini. Persaingan hidup terus berjalan secara ti
ak fair, karena pihak Kristen menguasai posisi-posisi kunci di lembaga pemerintah, sementara kaum muslimin diperlakukan secara diskriminatif.
JOSHUA:
Saya tidak akan membantah kenyataan, bahwa warga Kristen Ambon/ Maluku adalah yang paling dekat dengan Belanda, karena agama itu sendiri, tetapi bahwa gambaran warga Islam Maluku begitu tertindas, apalagi oleh RMS, adalah omong-kosong si jenderal.
Coba perhatikan 'keterangan waktu'-nya si Kator yang morat-marit. Kadang 'ratusan tahun' hubungan adalah kerukunan semu, kini ada istilah 'pernah disuatu masa dulu' hubungan itu begitu baik!!! Orang seperti inikah yang akan kita jadikan patokan tentang
ebenaran ????
R. KASTOR:
Itulah gambaran kerukunan masyarakat Islam Maluku, sesudah RMS berhasil membangun diri, pelan tapi pasti walau dalam kuantitas yang lebih kecil. Takut tersaingi membuat kerukunan itu menjadi semu, walau kita tetap berpura-pura amat rukun karena malu seba
ai contoh terbaik se-nusantara.
JOSHUA:
Membaca narasi "sesudah RMS berhasil membangun diri", dan "takut tersaingi" memberi kesan, "Muslim Ambon/Maluku dan BBM-lah yg. cemburu!!! Siapa sebenarnya yang cemburu, berubah-ubah dari satu paragraf ke paragraf lain, tergantung siapa yang akan "dibusu
kan" si Kastor.
Salam Sejahtera!
JL.
(bersambung ke (2) -B)
04/10/00 11:47:12
| Name: Fikri Kastor |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
-----Original Message----- ( Taken from http://www.ambon.cjb.net )
Date: Wed, 05 Apr 2000 06:21:20 PDT
From: "Joshua Latupatti" [email protected]
RUSTAM KASTOR MENJUAL KOMPOR (2B)
JOSHUA:
Salam Sejahtera!
R. KASTOR:
Ketidak rukunan itu terus meningkat karena perebutan peluang maju dimana yang muslim selalu terkena diskriminasi dan ketidakadilan karena kelompok Kristen memang sejak dulu telah menduduki posisi penting yang enggan mereka lepaskan, dan mereka sadar bahwa
memberikan peluang kepada generasi muda Islam akan mengancam dominasi mereka di masa depan, lebih-lebih dengan adanya kenyataan, bahwa Islam sebagai mayoritas di bumi Indonesia, semakin menambah kekhawatiran mereka.
Diskriminasi itu dapat dilihat nyata dimana hampir semua instansi pemerintah didominasi pihak Kristen. Inilah wujud pembohongan diri, sengaja tidak mau melihat kenyataan bahwa kerukunan itu semu dan dipaksakan. Para tokoh Islam tidak pernah mengantisipasi
ancaman yang berbahaya ini, karena persatuan dan kesatuan di antara tokoh Islam yang dapat berfungsi sebagai faktor penangkal, masih memerlukan penanganan yang lebih baik lagi.
JOSHUA:
Coba perhatikan klaim si Kastor bahwa : "Meningkatnya tingkat kehidupan suku BBM dan Jawa, Sumatera ini telah menimbulkan kecemburuan sosial yang tidak masuk akal." Jika Muslim Maluku teleh menyatu dengan mereka sejak ratusan tahun yang lalu, dan menguasa
sektor informal, dengan sendirinya, jika ada, kecemburuan sosial yang tak masuk akal itu akan diarahkan pihak Kristen Maluku kepada pihak Muslim Maluku. Ia kan? Tetapi jika kemudian dikatakan bahwa pihak Kristen Maluku menguasai "posisi kunci" pada sekto
formal, saya jadi bertanya, "Siapa yang cemburu dan siapa yang dicemburui???" Kastor memang jago di dalam membuat analisa kelas sampah!!! Jenderalkah ini?????
R. KASTIOR:
Perlakuan tidak adil itu tampak mencolok pada instansi Pemerintah yang vital seperti bidang pendidikan yang menyiapkan SDM. Di bawah ini terlihat kondisi di Universitas Pattimura.
1. Fakultas Hukum (dosen Islam = 1, dosen Kristen = 74)
2. Fakultas Tehnis (dosen Islam = 4, dosen Kristen = 71)
3. Fakultas Pertanian (dosen Islam = 11, dosen Kristen 161)
4. FISIP (dosen Islam = 32, dosen Kristen 36)
5. Fakultas Ekonomi (dosen Islam = 18, dosen Kristen = 37)
6. FKIP (dosen Islam = 30, dosen Kristen = 129)
7. Fakultas Perikanan (dosen Islam = 1, dosen Kristen = 110)
Jumlah dosen Islam = 97, dosen Kristen = 648
(sumber: Buku Biru Universitas Pattimura Ambon Tahun 1997)
JOSHUA:
Saya sendiri kaget dengan statistika pak jenderal ini, tetapi cobalah kita anggap bahwa hal ini benar, dan merupakan hasil 'permainan kotor'-nya pihak Kristen (katakanlah begitu). Pertanyaan saya singkat, "Sejak kapan ketua BAKN, Mendiknas, Dirjen Diknas
dll. ,adalah sebagian dari gembong-gembong Kristen penghambat Muslim???
Pada awalnya, si jenderal Kastor mengklaim bahwa budaya Pela/ Gandong dan warisan Belanda membuat warga Islam Maluku 'terlena' dan ketinggalan di segala bidang. Sewaktu mengambil contoh di bidang oleh raga, Kastor mengatakan "sedikit bu- kan karena tidak
isa, tetapi karena tidak mau!!" Dengan demikian, bukankah statistika di atas memberikan bukti konkrit tentang hipotesa Kastor terdahulu, dan bukan karena ketidakadilan pihak Kriaten Maluku??? Kok jadi berputar-putar seperti ini???
.
R. KASTOR:
6. Kecemburuan Akibat Ketidak-adilan
Dalam kenyataan keseharian, posisi kunci penentu kebijaksanaan dan pengambilan keputusan di Maluku, berada hampir 90% dalam genggaman tokoh Kristen. Oleh karena itu Ummat Islam merasa terkunci setiap akan melangkah. Mereka yang pernah berkhianat kepada ba
gsa ini, malah justru mendapatkan jauh lebih banyak manisnya gula kemerdekaan. Sedangkan Ummat Islam yang nenek moyangnya berperang habis-habisan menentang penjajah justru mendapatkan perlakuan yang tidak adil, diskriminatif dan amat menyakitkan.
JOSHUA:
Sekarang, jadinya umat Islam Maluku yang harus cemburu dan merasa tertindas. Jadinya, siapa sih yang cemburu lalu mulai merencanakan kerusuhan???
R. KASTOR:
Dalam pembuktian perjuangan melawan penjajah justru Pattimura diperlakukan tidak proporsional, ia sejak lama diakui sebagai pahlawan nasional dan diperkenalkan sebagai pahlawan nasional asal Maluku dengan segala kisah cerita yang direkayasa. Padahal Patti
ura yang beragama Kristen itu berjuang tidak lebih dari 2 bulan saja. Selanjutnya dia tertangkap dan dihukum mati setelah melalui proses hukum yang memakan waktu. Tidak banyak catatan sejarah tentang perjuangan Pattimura, bahkan gambar wajah Pattimura pun
merupakan hasil rekayasa. Dan yang lebih penting lagi, masih belum jelas, dari kisah 3 orang pejuang Maluku yang masing-masing mempunyai akses kuat sebagai pahlawan Pattimura, 2 diantaranya adalah Islam.
JOSHUA:
He..he..he�.. Si Jenderal kancil mau menjadi ahli sejarah, setelah gagal menjadi jenderal dan nabi�.
Masakan ada "tiga Pattimura???" Ada orang seperti si jenderal ini yang berlagak melihat padahal buta, lalu mengklaim bahwa Pattimura itu seorang Muslim, karena ada beberapa Muslim di Maluku yang menggunakan Pattimura sebagai nama marga mereka.
JOSHUA:
Hanya sampah, yang diulang-ulang jadi saya hapus saja!!!!
R. KASTOR:
Cara masyarakat kota Ambon dan sekitarnya dan masyarakat Kristen Maluku di perantauan merayakan hari Pattimura setiap tahun tidak masuk akal bila dibandingkan suku lain merayakan pahlawan asal daerahnya. Ummat Islam Maluku sesungguhnya tidak dapat menerim
cara seperti ini, apalagi acara pagi yang menyita waktu shalat Subuh, adalah suatu rekayasa. Kecemburuan pun akhirnya bagai api dalam sekam, menunggu saatnya pecah konflik, dan sejak dulu, siapa peduli ini semua.
JOSHUA:
Kelihatan tidak betapa sampahnya manusia yang satu ini??? Jika benar umat Islam Ambon/Maluku berkeberatan melaksanakan perayaan hari Pattimura pada saat subuh, mengapa warga Muslim berkeras mengambil obor Pattimura di Tulehu dengan ikat kepala putih, pada
al adat Maluku hanya mengenal ikat kepala merah, yang disebut "berang"??? Jika benar demikian, mengapa Muslim desa Batumerah bertengkar dengan warga Kristen Mardika karena menganggap bahwa mangantar obor Pattimura adalah "hak adat" mereka (walau lagi-lag
, menggunakan ikat kepala putih).
7. Fakta-fakta yang Mempertegang Situasi
a. Kasus Wailete dan Bak Air yang tidak ditangani secara tuntas, dimana pihak masyarakat BBM dan Ummat Islam diperlakukan tidak adil. Ummat Islam walau tidak puas ternyata para tokoh dan pemimpinnya tidak memberikan reaksi memadai padahal mereka adalah pa
a pimpinan organisasi Islam. Kasus ini sebagai suatu uji coba untuk mengetahui reaksi Ummat Islam, sudah waktunya dipukul atau belum.
b. Kedatangan Ratusan Preman dari Jakarta eks Jalan Ketapang
Kedatangan para preman ini seharusnya dianggap sebagai ancaman, karena itu mereka perlu didata, diambil identitasnya dan diawasi oleh pihak kepolisian, agar tidak dimanfaatkan dalam Tragedi Idul Fitri Berdarah (19 Januari 1999) ini. Dari data, info dan ka
us yang timbul satu-dua bulan sebelum Idul Fitri, seharusnya aparat keamanan sudah dapat memastikan apa yang akan terjadi.
Preman ini ternyata datang bukan karena keinginan sendiri, melainkan mereka dibayar untuk pekerjaan tertentu. Kedatangan mereka dalam jumlah begitu besar secara serentak mestinya sudah harus dicurigai. Fakta ini seharusnya dapat dijadikan titik awal pengu
utan Kasus Tragedi Idul Fitri Berdarah (19 Januari 1999), dengan memeriksa para preman yang sengaja didatangkan ke Ambon itu. Tetapi hal ini tidak dilakukan, sampai sekarang.
JOSHUA:
Sudah sekian kali, saya membaca tulisan-tulisan yang mencoba menjadikan bekas preman Ketapang sebagai kambing hitam, padahal sudah sekian kali pula saya bertahukan bahwa masalah Ketapang adalah "rekayasa politik berwajah agama". Para preman asal Ambon/Mal
ku itu dibebaskan dari tahanan tanpa diperiksa, tetapi dengan suatu syarat, "harus pulang ke Ambon/Maluku".
Sementara itu pula, biangnya preman, Ongen Sangadji, berkeliling Ambon dan pulau-pulau Lease, sambil membagi-bagian uang. Bahkan, Mayjen Suaidi Marasabessy, "sempat mudik" ke kampungnya, Kailolo, di pulau Haruku. Hanya orang bodoh atau bebal yang tidak bi
a mengerti situasi yang saya gambarkan!!!
R. KASTOR:
c. Pembentukan Satgas, Posko dan Do'a Bersama
Langkah antisipasi dengan membentuk satgas, posko dan doa bersama sesungguhnya cukup baik, tetapi karena tidak ada tindak lanjutnya kegiatan-kegiatan tersebut justru telah menurunkan tingkat kewaspadaan Ummat Islam karena percaya telah ditangani pejabat.
etiga kegiatan tersebut lebih berbau politis, formalitas dan seremonial. Para pejabat lebih mementingkan kepentingannya dengan berbagai gagasan semu yang menyesatkan. Karena itu ummat yang telah begitu menderita, harkat dan martabatnya diinjak-injak menu
tut tanggung jawab mereka yang mengagasi itu semua, terutama tanggung jawab dari semua tokoh penandatanganan seruan kerukunan itu.
Kalau mau jujur kita harus akui bahwa apa yang telah dilakukan dengan sejumlah rencana bagus di atas telah dimanfaatkan dengan baik untuk menuntaskan rencana para perusuh, betapa ketidak peduliannya mereka terhadap rencana pembentukan SATGAS. Perlu diketa
hui bahwa keberadaan SATGAS dapat membuka niat pelaksanaan Tragedi Idul Fitri Berdarah. Mereka pasti tidak bersedia mengisi formasi Satgas itu karena bisa menghalangi niat mengobarkan Idul Fitri Berdarah (19 Januari 1999), kemudian do'a bersama rasanya h
sil rekayasa mereka dengan cara yang begitu tersohor seakan-akan gagasan brilyan kita. Do'a bersama itu meninabobokan kita semua. Merekapun merasa bergerak lebih bebas dengan itu.
JOSHUA:
Saya jadi curiga, jangan-jangan si jenderal Kastor ini lagi "menguliti diri sendiri", lalu mencoba memakaikannya kepada orang lain. Jangan-jangan malah perkiraan saya dulu benar, bahwa hari-H sengaja dipilih sedemikian rupa, supaya (a) yang tidak berhari
raya, tidak curiga, (b). penggalangan masa dapat berkedok upacara hari raya, dan �, jika gagal, simpati murahan akan mudah didapat dengan sedikit kebohongan saja. Yang saya sukar mengerti, apa memang seorang jenderal TNI bisa sebodoh ini????
R. KASTOR: d. Insiden Batu Gajah tanggal 18 November 1998.
Demonstrasi dengan tuntutan dwi fungsi TNI sudah ditangani pemerintah pusat, karena itu demo tanggal 18 November 1998 dengan kekerasan, sesungguhnya dapat dibaca memiliki tujuan tertentu. Di antaranya merusak wibawa TNI, uji kemampuan, agar ragu bertindak
yang kesemuanya itu sebagai babak awal Tragedi Idul Fitri Berdarah (19 Januari 1999).
Keterlibatan mahasiswa Islam adalah gerak tipu atau kamuflase belaka. Mereka awam dengan konspirasi yang ada. Kita memang lalai membaca situasi, Ummat Islam telah tergiring untuk ikut menghujat Danrem 174/ Pattimura Kol.Inf.Hikayat, yang lainnya abstain
idak menentukan sikap, entah karena tidak mengerti atau takut, padahal tindakan Danrem 174/Pattimura harus mendapatkan acungan jempol.
JOSHUA:
Muncul lagi kebodohan khas jenderal. Jika memang benar bahwa keterlibatan mahasiswa Muslim di Ambon hanyalah "tipu dan kamuflase" semata, apakah hal ini bisa dilakukan oleh yang "awam"? Saya pikir bagian ini sengaja disiapkan untuk usaha "menyucikan TNI"
!!
.
R. KASTOR:
Penghujatan terhadap TNI dengan ucapan anjing dan babi serta sejumlah umpatan yang tidak pantas, adalah uji coba awal dalam rangka rencana yang besar, ternyata TNI semakin menciut tak punya nyali. Kondisi TNI ini merupakan sukses kelompok Kristen. Kemampu
an intelejen TNI di daerah ini telah dilumpuhkan, TNI dibuat ragu bertindak, tak berinisiatif mengambil langkah antisipasi dan pencegahan terhadap serangkaian gejala ancaman.
Insiden Batu Gajah ini telah dibesar-besarkan oleh para tokoh Kristen. Dengan menggunakan berbagai cara, mereka menghujat TNI secara tidak proporsional. Hanya yang disayangkan adalah mengapa TNI mau dipatahkan begitu saja tanpa melihat niat buruk yang di
ersiapkan, dikaitkan dengan tugas pokok dan tanggung jawab TNI sebagai tulang punggung keamanan dan keselamatan bangsa dan negara?
JOSHUA:
Bodoh lagi!!! Coba liha si jenderal menghujat TNI!!! (a). TNI ciut!!!, (b). TNI tak punya nyali!!!, (c) Intelijen TNI di Maluku sudah lumpuh!!! (oleh orang sipil), (d) TNI ragu!!!, (e). TNI patah oleh sipil!!!, (f) TNI tak berinisiatif.
Lalu,�.untuk semua impotensi TNI di atas. "jempol harus diacungkan" kepada Danrem Maluku (TNI), Kol. Inf. Hikayat??? Apakah si Kastor ini bukan babinya babi dan anjingnya anjing TNI???
R. KASTOR: e. Hubungan Danrem 174/Pattimura dan Kapolda Maluku.
Bukan saja berita yang dibicarakan sejumlah pejabat, tetapi dari cara menghadapi dan menangani sejumlah kasus yang menyangkut tanggung jawab aparat keamanan tidak berjalan seperti apa yang diharapkan, banyak masalah yang terlewat begitu saja.
Kondisi seperti ini dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab, tetapi kita tidak boleh mengabaikan adanya pihak yang sengaja membuat jarak ini. Dalam penanganan demonstrasi dengan kekerasan telah tampak adanya konflik, tidak terlihat kerja sama yang b
ik apalagi tentang pemegang komando.
Tidak berlebihan apabila konflik antara dua penanggung jawab keamanan ini diklasifikasikan sebagai bagian dari suatu konspirasi. Dengan kata lain jarak yang merenggang antara kedua pejabat tersebut adalah suatu hasil operasi penggalangan oleh lawan. Jadi
ukan masalah pribadi seperti kata beberapa pihak.
JOSHUA:
Di atas segala kelemahan aparat, TNI khususnya, masihkah Kastor mau mengancungkan jempolnya untuk Kol. Hikayat????? Keburukan Danrem bersama Kapolda yang tidak bisa akur dan mengatur, dilemparkan kepada orang sipil yang notabene adalah Kristen. Coba, baya
gkan mental macam apa yang dimiliki si Rustam Kastor ini!!!!
R. KASTOR:
f. Pertemuan Jum'at malam tanggal 20 November 1998
Prakarsa Kakanwil Agama untuk menurunkan suhu ketegangan antara TNI dan mahasiswa dan tokoh-tokoh Kristen, dengan diadakannya pertemuan antar tokoh agama yang dipimpin oleh Muspida Tk I Maluku (Gubernur). Karena kesalahan teknik atau suatu rekayasa para p
mbantu Gubernur yang mengatur penyelenggaraan pertemuan, keadaan menjadi tegang karena sengaja dibuat.
Begitu acara pertemuan dibuka secara bergiliran dan sistematis, para tokoh agama Kristen mulai menyerang dan menghujat Danrem 174/PTM. Sepuluh pembicara pertama, yaitu 5 pendeta dan 5 pastor menghujat habis-habisan Danrem 174/Pattimura dengan kata-kata y
ng tidak sepantasnya dikeluarkan dari mulut seorang Pastor dan Pendeta.
JOSHUA:
Saya heran�, amat heran!!! Seorang jenderal tidak bisa melihat bahwa konflik yang bersangkutan adalah konflik antara "kampus dan barak"!!!! Karena itu, siapapun yang berbau kampus dan siapapun yang berbau barak, akan terlibat, entah dia itu Islam atau Kri
ten!!! Si dungu ini hendak menjadikannya seperti 'kasus cinta segitiga', untuk memojokkan piha Kristen. Bagian ini memberikan kesan pada saya bahwa pertemuan itu seperti semacam sandiwara anak-anak remaja. Lagipula, apa sih kata-kata yang tidak pantas di
capkan oleh Pendeta dan Pastor?????
R. KASTOR:
Giliran berbicara berikutnya bapak K.H.Abd.Wahab Polpoke yang isi pembicaraannya melulu memprotes keras sikap permusuhan yang berkembang dalam rapat, yang tujuan pokoknya untuk menurunkan suhu panas di masyarakat dengan TNI, tetapi justru menyeleweng dari
tujuan rapat yang sebenarnya.
JOSHUA:
Ini hanyalah usaha kekanak-kanakan untuk meninggikan pihak Muslim Maluku. Begitu antusiasnya untuk memajukkan contoh yang melambungkan si K.H., sehingga kebodohannya membuka scope konflik dari kampus ke seluruh masyarakat!!!
R. KASTOR:
Acara pertemuan ini telah kecolongan, karena pihak mereka yang diundang adalah tokoh yang memiliki tingkat intelegensia yang tinggi, rata-rata sarjana bahkan strata-2, sementara dari Ummat Islam para tokoh agama yang tak mengerti politik dan tak mungkin m
lakukan rekayasa. Mereka memang ahli kitab kuning, dan yang menjadi andalannya adalah berfikiran bersih dan ikhlas, dan datang untuk maksud damai.
JOSHUA:
Saya mohon maaf, tetapi siapapun yang tersanjung dengan kata-kata 'indah' ini, adalah orang yang jauh lebih dungu dari si jenderal Kastor sendiri. Kata-kata itu sendiri bagus, tetapi keluar dari hati dan mulut yang berbau kakus!!! Mengapa??? Si jenderal K
stor memberi gambaran di depan umum bahwa Umat dan para tokoh Agama Islam di Maluku adalah yang "tidak memiliki inteligensia yang tinggi!!!"
R. KASTOR:
Rapat yang salah prosedur itu dan menyimpang jauh dari tujuan rapat ternyata tidak diluruskan oleh pimpinan rapat.Tokoh Islam yang mampu mengimbangi berfikir para tokoh Kristen tersebut ternyata dieliminir oleh Gubernur. Pertemuan tersebut dinilai berhasi
mencapai tujuan mereka untuk menurunkan moril TNI membuat para pimpinan TNI tidak punya keberanian bertindak, dengan demikian persiapan mereka telah maju selangkah lagi. Ini adalah suatu babak pematangan situasi yang berhasil.
JOSHUA:
Setelah dikatakan bukan dari golongan inteligensia tinggi, kini si jenderal mengatakan mereka "mampu mengimbangi pikiran para tokoh Kristen!!!" Setelah itu, Gubernur yang adalah juga seorang Muslim, dituduh mengebiri gagasan tokoh Muslim, sehingga��. luc
sekali�.. TNI kehilangan keberanian�..ha�ha�ha�.
R. KASTOR:
g. Pengawasan yang lemah terhadap para turis dari Belanda
Terutama para anggota keluarga eks KNIL yang di negeri Belanda sebagai anggota dan juga pimpinan RMS di pengasingan. Pada umumnya para turis asal Maluku ini memanfaatkan waktu untuk berkangen-kangenan, tetapi isu RMS selalu dijadikan topik obrolan. Pada s
at serangan dan pembakaran kampung Waringin (Batu Gantung) terlihat 2 orang pemuda keturunan Belanda (WNA) ikut serta dalam aksi tersebut. Siapa bisa menyangkal bahwa aksi ini tidak berkaitan dengan meningkatnya aktivitas RMS di Belanda setahun terakhir i
i?
JOSHUA:
Kalimat ini tidak ada ujung pangkalnya!!! Anak SMP juga tahu itu!! Apa si jenderal ini lewat SMP atau tidak????
"Terutama para anggota keluarga eks KNIL yang di negeri Belanda sebagai anggota dan juga pimpinan RMS di pengasingan." Saya juga tidak akan menyangkal adanya kedua pemuda Ambon Indo-Belanda yang terlibat bersama-sama saudara-saudaranya di dalam kerusuhan
tu. Tetapi saya hanya ingin menilai keberadaan mereka sebagai "berada pada tempat dan waktu yang salah!!!" Mereka tidak bisa dijadikan contoh untuk "pengawasan turis yg. buruk", maupun sebagai tanda kehadiran RMS. Jika benar mereka datang dengan niat meng
idupi isu RMS, dari mana jenderal kita ini tahu apa yang mereka bicarakan, selain ikut berbicara bersama mereka????
Yang terakhir pada bagian ini, tentang RMS, :
Siapapun juga, baik tokoh agama maupun pemuka masyarakat, yang menggunakan RMS untuk mendiskreditkan umat Kristen di Maluku adalah HEWAN BIADAB berujud manusia, yang sebenarnya adalah MUSUH ini BANGSA.
Siapapun juga, baik tokoh agama maupun pemuka masyarakat,
yang menggunakan RMS untuk menggalang DANA dan PASUKAN JIHAD dengan tema MEMBERANTAS PEMBERONTAKAN KRISTEN DI MALUKU, adalah IBLIS KOTOR yang sebenarnya adalah MUSUH ini BANGSA dan MUSUH BAGI KEMANUSIAAN!!!
KASTOR:
RUSTAM KASTOR Brigjen TNI Purnawirawan Kelahiran Ambon,
9 Juli 1939
JOSHUA:
Seharusnya ditulis:
RUSTAM KASTOR, Kopral TNI, desersi, kebetulan lahir di Ambon, (tempat dan waktu yang salah).
Salam Sejahtera!
JL.
(Bersambung ke bagian 3)
04/10/00 11:45:44
| Name: Fikri Kastor |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
-----Original Message----- ( Taken from : http://www.ambon.cjb.net )
From: "Joshua Latupatti" [email protected]
RUSTAM KASTOR MENJUAL KOMPOR (3)
Konflik di Maluku 3/8
PERISTIWA WAILETE DAN BAK AIR SEBAGAI TEST CASE TRAGEDI IDUL FITRI BERDARAH 19 JANUARI 1999
1. Penyerangan Masyarakat Hative Besar terhadap Masyarakat Wailete
Desa Wailete adalah perkampungan yang dihuni masyarakat BBM yang terkenal gigih dalam mencari nafkah, sedangkan Desa Hative Besar dihuni oleh penduduk asli yang beragama Kristen yang mata-pencahariannya pegawai negeri dan bertani.
Pada pesta perkawinan ada acara joget, sebagai biasanya diluar arena sejumlah pemuda menenggak miras sampai mabuk. Seorang Prada Yonif 733/Linud yang kompinya berjarak sekitar 300 meter dari arena joget membuat pelanggaran karena memakai topi sambil berjo
et (aturan setempat), ketika ditegur yang bersangkutan tidak menerima dan terjadi perkelahian dengan para pemuda yang sedang mabuk.
JOSHUA:
Coba lihat alur pikir dan logika si jenderal Kastor. Yang menjaga aturan pesta joget, seharunya yang punya pesta. Yang melanggar aturan dan ditegor adalah oknum TNI. Tetapi ketika tegoran ditampik, yang berkelahi 'pemuda di luar pesta'???? Siapa-siapa pe
uda yang mabuk???? Tentulah pengaburan identitas ini sengaja dilakukan agar orang berpikir, 'yang meneguk miras kan yang Kristen????
R. KASTOR:
Kasus perkelahian di acara pesta merupakan hal biasa dan tidak berkelanjutan. Untuk kasus ini agak lain karena berkelanjutan timbul serangan ratusan orang dengan batu dan membakar kampung Wailete. Peristiwa penyerangan ini membuat Ummat Islam bingung kar
na tidak ada relevansi dengan perkelahian di pesta. Serangan dilakukan dua kali pada malam itu dimana tahap kedua dilakukan secara tuntas membakar habis semua rumah sehingga penghuni hanya menyelamatkan diri dengan baju yang melekat di badan saja.
JOSHUA:
Inilah barangkali kemampuan yang paling diandalkan si jenderal dan konco-konconya, "memutarbalikkan fakta", "menipu" dan "menghasut"!!!! Jika terjadi perkelahian antara 'yang mabuk' dengan oknum TNI, mengapa Hative menyerang Wailete???? Mengapa bukan oran
sekompi yang hanya 300 meter dari arena joget yang menyerang???
Supaya kita semua tahu, pada saat itu "tidak ada pesta kawin!!!". Justeru yang ada adalah acara "panas Pela" antara desa Hative Besar dengan 'saudara' Muslimnya!!!". Yang terjadi justeru terbalik, dari tujuan pesta bahwa 'saudara' Muslimnya memihak kaum
BM-Wailette melawan Hative. Akibatnya, setelah mereka berhasil diusir keluar, Hative tidak lagi mau menerima warga asal BBM yang selama ini 'diizinkan' menempati wilayah adat desa Hative Besar. Siapa yang mau tidur satu selimut dengan musuh?????
R. KASTOR:
Tidak pernah ada kejelasan penyelesaiannya bahkan polisi tampak ragu menghadapi ancaman warga desa Hative Besar, keraguan aparat ini tampak jelas sebagai hasil penghujatan selama demo dengan pecahnya insiden Batu Gajah. Dalam rangkaian penghujatan lewat b
rbagai media massa sebagian berpendapat bahwa oknum Polri telah berhasil digalang untuk melaksanakan rencana mereka. Surat kabar Suara Maluku tidak memberitakan peristiwa besar ini secara proporsional, dua kali pemberitaan yang tidak jelas kemudian meng h
lang, padahal kasus Batu Gajah diberitakan luar biasa bahkan tulisan-tulisan dengan ungkapan Anjing dan Babi masih berulang selama sebulan.
JOSHUA:
Bagian ini merupakan 'perulangan yang membosankan' dari si Kastor, hanya untuk melanjutkan hipotesa "ketidak akuran Danrem dengan Kapolda", untuk selanjutnya mengikuti arus umum para pendusta seperti dia, di dalam mengkambing-hitamkan Polisi!!!
R. KASTOR:
Ummat Islam yang menjadi panas karena solidaritas Islamiyahnya sebenarnya mengharapkan adanya reaksi protes, pembelaan dan pertolongan yang memadai tetapi hal itu tidak terjadi karena para pemimpinnya memang lemah dan tidak ada tokoh pemersatu. Warga masy
arakat desa Hative Besar telah membuktikan secara nyata isu yang berkembang bahwa suku BBM dan JS akan diusir dari Ambon.
Setelah aksi pembakaran itu para tokoh desa Hative Besar mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tidak akan menerima kedatangan suku BBM lagi ke desa Wailete, karena itu desa Wailete tidak pernah dibangun lagi, bahkan para penghuni yang telah melarikan diri
tu tak berani mengunjungi bekas kampungnya. Pemerintah daerah tidak memasukan pembakaran desa Wailete ini kedalam program rehabilitasi, dianggap bukan dalam rangka kerusuhan Ambon.
2. Penyerangan oleh masyarakat desa Tawiri terhadap desa Bak Air
Desa Tawiri masyarakatnya beragama Kristen sedangkan desa Bak Air yang hanya berpenduduk sekitar 8 keluarga beragama Islam (desa kecil). Pada suatu hari babi peliharaan masyarakat Tawiri memasuki kebun masyarakat desa Bak Air, hal seperti ini biasa terja
i. Menghalau dengan lemparan batu saja Babi akan keluar dari kebun. Kali ini menadi masalah karena ada yang memanas-manasi dan akhirnya kampung kecil itu hujan batu.
Penyelesaian oleh pihak polisi pun tak membawa hasil apalagi ada pihak yang dihukum. Terlihat jelas bahwa kerusuhan di atas telah direncanakan sebelumnya dalam rangka mencoba rencana besar mereka.
JOSHUA:
Kejadian ini berawal dari seorang anak sekolah asal Buton, yang getol menuliskan kata-kata yang menghina teman-teman Kristennya di dinding sekolah. Berkali-kali dia hampir kena amarah teman-temannya tapi selalu bisa lolos. Di saat ketegangan men- capai ku
minasinya, justeru tindakan ini terulang lagi, seperti disengajakan. Dari situlah, berawal dengan pengejaran pemuda asal Buton tersebut, timbullah pertikaian yang juga menelan rumah seorang warga asal "arab" yang dikenal sebagai "penghasut".
R. KASTOR:
Kedua kasus tersebut di atas sangat memukul perasaan Ummat Islam, yang hanya dapat menerimanya dengan sabar sebagai hal yang terbiasa sejak nenek moyangnya yang selalu diancam. Inilah sebuah test case yang dinilai berhasil mendeteksi keberanian, persatu a
dan kesatuan serta kesiapan Ummat Islam se Ambon untuk berperang. Kesabaran Ummat Islam yang tengah menyongsong bulan Ramadhan itu dianggap suatu kelemahan terutama penilaian terhadap suku BBM yang kurang kompak. Atas dasar penilaian demikian itu tampa k
ya dijadikan peluang untuk mengobarkan Tragedi Idul Fitri Berdarah. Hal ini terbukti dengan tiba-tiba didatangkan ratusan preman dari Jakarta, eks konflik Jalan Ketapang Jakarta sebagai pelaku di lapangan.
Dikaitkan dengan Tragedi Idul Fitri Berdarah, maka kedua kasus di atas harus dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan, atau sebagai babak pertama dari seluruh babak yang berjudul Tragedi Idul Fitri Berdarah. Seandainya ummat Islam di Ambon menyatakan
protes keras kepada pihak Kristen yang berpura-pura tidak tahu maka mereka akan ragu memasuki babak kedua yaitu adegan Tragedi Idul Fitri Berdarah. Dengan kata lain Tragedi Idul Fitri Berdarah itu belum tentu bisa terjadi karena uji cobanya tidak berhasil
Ummat Islam masih siap dan kompak, siaga menghadapi setiap kemungkinan.
Begitu pula Polri, jika betul-betul profesional dan bersungguh-sungguh dalam menangani kasus di atas, termasuk datangnya ratusan orang kiriman itu, maka peristiwa yang amat menyakitkan Ummat Islam se Indonesia ini mungkin tidak akan terjadi. Begitu juga k
gelisahan masyarakat luas akibat munculnya kabar burung bahwa akan ada kekacauan besar ketika Shalat Idul Fitri. Jadi sesungguhnya tragedi ini merupakan ketidak-profesionalan TNI atau lemahnya TNI akibat penghujatan. Jelas ini merupakan peluang yang mulus
bagi golongan untuk merencanakan rencananya.
JOSHUA:
"Istilah Idul Fitri Berdarah" itu adalah "ciptaan" para gembong Al Fatah, Ambon, yang digunakan sendiri bagi "posko" dan "tim advokasi" mereka, yang dibentuk 13 hari sebelum hari H, yang mereka rancangkan sendiri.
Baca paragraf terakhir di atas lalu pikir, "Apakah seorang jenderal tidak bisa membedakan antara TNI dan Polri?????
R. KASTOR:
Marilah kita lihat tragedi ini sebagai salah satu bukti rencana strategis pihak perusuh yang teratur dan terencana, sehingga berhasil demikian baiknya. Banyak gejala yang nampaknya janggal, seperti peran Kakanwil Departemen Agama dan sejumlah tokoh Kriste
, yang terus menerus menggembar-gemborkan Pela-Gandong, termasuk Menteri Agama, Malik Fajar (Kabinet yang lalu), isu yang menekan moril suku BBM dan kita saksikan banyaknya pendatang yang mengungsi meninggalkan Ambon selama bulan puasa.
JOSHUA:
Wajarlah bila ada warga Muslim asal luar Ambon yang 'mudik' menjelang Lebaran, tetapi eksodus besar-besaran warga BBM terjadi setelah hari kedua kerusuhan yang diwarnai dengan musnahnya pasar Gambus. Semua gambar orang berdesakan di pelabuhan dan berge- l
ntungan di tali kapal, yang kita lihat di televisi, diambil sete- lah pecahnya kerusuhan, dan "bukan" menjelang Lebaran.
Kenyataannya, memang ada 'mudik' yang sedikit berbau 'eksodus'. Hal ini dilakukan oleh beberapa warga asal Jawa, yang diinterlokal saudara mereka dari berbagai kota di Pulau Jawa, untuk "sefera tinggalkan Ambon, sebab akan terjadi kerusuhan!!!" Hal ini d
lakukan juga oleh sebagian kecil warga asal Buton, yang jauh sebelum Lebaran telah saling menelepon (sesama pembantu RT, misalnya) untuk tidak bersembahyang Ied ke Al Fatah, sebab akan terjadi "baku potong"!!! Ada banyak indikasi seperti ini!!!
R. KASTOR:
Saya telah mulai menulis beberapa judul tulisan di Suara Maluku, untuk membangun semangat pengamanan lingkungan yaitu membentuk security belt dan security net untuk menghadapi kemungkinan berkembang ancaman kerusuhan di Ambon. Bahkan tulisan lainnya mengi
ngatkan tentang adanya perkembangan situasi yang kurang menguntungkan itu.
JOSHUA:
Seorang yang begitu apatis dengan semangat Pela/Gandong, dan se- seorang menghujat usaha penggalangan kebersamaan, sekarang hendak menulis tentang "semangat pengamanan lingkungan"???? Jangan-jangan malah "hasutan terselubung"!!!!
R. KASTOR:
Perlu pula dicatat bahwa ajakan untuk menyiapkan naskah khotbah Idul Fitri secara bersama, guna membantu Ketua MUI sebagai Khatib ternyata gagal, padahal itulah saatnya mengingatkan Ummat Islam akan peringatan Rasulullah saw. tentang kewajiban belajar mem
anah, berkuda dan berenang bagi setiap anak lelaki yang tiada lain adalah ingin mengajak Ummat Islam untuk menghadapi secara khusus situasi buruk yang sedang berkembang.
JOSHUA:
Khotbah khas untuk mobilisasi pasukan???? Siapa sebenarnya yang paling aktif bergerak????
R. KASTOR:
Begitu pula pada awal November 1998, saya dan Ustadz Abd. Rahman Khouw pernah melakukan rapat dengan para tokoh muda dan beberapa tokoh agama, untuk menjajaki dibentuknya suatu wadah untuk menghimpun ormas Islam yang tidak terorganisir untuk mengantisipas
perkembangan yang semakin panas. Usaha ini tidak berlanjut karena pihak Pemda dengan dimotori Kakanwil Depag telah mulai mengajak pihak Kristen untuk membentuk Satgas dan melakukan do'a serta ikrar bersama, dengan harapan supaya tidak terpengaruh oleh ke
usuhan yang terjadi di beberapa daerah di tanah air.
JOSHUA:
Orang ini bodoh ...apa��goblok???? Dia sebenarnya menyalahkan dirinya sendiri yang berusaha "menggalang kekuatan", dan membenarkan tindakan Pemda dan Depag untuk menggalang kebersamaan. Artinya, "YANG MERENCANAKAN PROYEK LEBARAN BERDARAH ADALAH jenderal
ASTOR dan konco-konconya, termasuk MUI-Maluku"!!!!
R. KASTOR:
Pembentukan Satgas yang diisi oleh beberapa personil dari Islam dan Kristen tidak ditanggapi oleh pihak Kristen, tidak lain karena Satgas akan menghalangi rencana pihak Kristen menyiapkan kerusuhan
JOSHUA:
Coba lihat bagaimana lidah ular seseorang menjerat lehernya sendiri!! Kata si Kastor, aksi penggalangan kekuatan 'interen Muslim'-nya gagal, karena program 'posko bersama'-nya Pemda dan Kanwil Depag. Ia kan????
Tetapi katanya pula, program posko bersama-nya Pemda dan Kanwil Agama "tidak mendapat tanggapan pihak Kristen", dengan alasan akan "menghalangi rencana jahat pihak Kristen"!!!! Bisa saya simpulkan bahwa program 'satgas bersaman' ini akhirnya mogok total!!
Bisa???? Jika begitu, apa yang menghalangi si Kastor untuk menggalang kekuatan sendiri?????
Ternyata, kalau tidak sedang membuka "kedok sendiri", sebagai provokator kerusuhan Ambon/Maluku, maka Kastor sedang menyesali obsesinya yang tak sampai', atau menabur umpan untuk meme- nuhi obsesinya yang sudah meracuni sumsum dan urat nadinya, menciptaka
Ambon/Maluku bersih Kristen!!!
R. KASTOR:
RUSTAM KASTOR
Brigjen TNI Purnawirawan
Kelahiran Ambon, 9 Juli 1939
�..yang tahu bahwa akan ada banyak orang hati jahat dan berkepala udang yang akan mengkonsumsi hasutan beracunnya��.!!!! Hasilnya terlihat kemarin, di Senayan, Jakarta sana, ��(JOSHUA).
Salam Sejahtera!
JL.
04/10/00 01:33:14
| Name: damaris |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
Assalamu'alaikum
bagaimana kalo kita bisa membuat semacam virtual library untuk semua jenis disiplin ilmu, tentunya akan sangat menarik dan bermanfaat.
Wassalam
04/09/00 08:32:36
| Name: RK Webmaster |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
Assalamu'alaikum wr wb.
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Terima kasih saya ucapkan atas perhatian saudara saudara sekalian terhadap fakta tulisan dalam Buku Rustam Kastor yang sudah bisa dinikmati via cyberbook. Mudah mudahan, insya Allah, cyberbook Rustam Kastor dapat me
ggugah hati kita semua dan memotivasi "Semangat Berjihad" demi menjaga dan membela Harga Diri, Jiwa serta Harta Benda saudara saudara kita yang tertimpa kemalangan di Ambon & Maluku. Tabligh Akbar yg dilakukan tgl 6 dan 7 April yg lalu adalah bentuk Ukhuw
h umat Islam yg siap Berjihad ke Maluku. Kemarin tanggal 8 April saya bertemu dgn Bapak Rustam Kastor, pesannya sekarang ini beliau menetap di Ambon dilingkungan Mesjid Al-Fatah. Buku Rustam Kastor dapat diperoleh sebesar biaya harga buku + ditambah kirim
(tergantung negara tujuan). Maka itu bagi saudara saudara sekalian yang hendak membeli atau bahkan hendak memberikan bantuan, infaq dll silahkan hubungi perwakilan Bapak Rustam Kastor email : [email protected] atau via webmaster [email protected]
m Akhirul kalam, wassalamu'alaikum wr wb, semoga Allah SWT membalas amal baik saudara saudara sekalian, amiiin ya robbal alamiin. Webmaster
04/08/00 23:46:35
| Name: Mujahid Ahmad |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
Assalamualaikum,
Bapak apa khabar?
Saya alhamdulillah sihat walafiat. Syabas diucapkan kepada bapak kerna menerbitkan satu buku yang dapat memberi kesah sebenar tentang peristiwa berdarah di Ambon. Ingin saya bertanya bagaimanakah perkembangan terbaru para mujahideen di sana? Di Malaysia i
i, kami tidak dapat mendengar berita yang agak tepat unless daripada para doktor MERCY yang pergi ke sana. Berita terbaru ialah para mujahideen sudah mula mengukir kemenangan ke atas kuffar. Lain-lain macammana?
Bagaiman saya ingin order dan beli buku ini?
Sekian. Terima Kaseh. Wassalam
04/08/00 21:33:18
| Name: Dawud Hardiman |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
Allahuakbar,Jihad until Syahid.
04/08/00 10:50:19
| Name: rohaizat |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
Baik dan cukup mengesankan. Tahniah
04/06/00 19:48:57
| Name: zUlFaN K |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
SERUAN JIHAD !!
JIHAD itu Tidak Bisa Dilarang oleh Presiden!!
Al-Baqarah QS 2. 120 : Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada
kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah
petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah
pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
2 : 120
Laa Ilaaha'illallah Muhammadar Rasulullah
Tidak ada tuhan selain Allah & Muhammad adalah Rasul Allah
Demi Keselamatan jiwa - Harga Diri dan Harta Benda khususnya saudara
saudara Muslim di Maluku dan mengingat sudah habisnya batas waktu bagi pihak
terkait dalam penyelesaian kasus Tragedi Berdarah Pembantaian Umat Islam di
Halmahera yang masih berlangsung sejak 26 Des 99 s/d hari ini, maka mulai hari ini
kami mengajak dan mari kita galang saudara saudara Muslim diseluruh Indonesia
jangan biarkan mereka kaum Nasrani menjadikan nyawa nyawa suadara kita seperti
binatang.... dibantai dan bahkan dibakar hidup hidup didalam Mesjid Jangan
biarkan kaum Yahudi/Nasrani jadikan Umat Islam Indonesia seperti Tikus Mati dilumbung Padi
Allahu Akbar - Allahu Akbar - Allahu Akbar
http://www.geocities.com/SoHo/Easel/2692/Riot/koleksi_ambon3.html
JIHAD itu Tidak Bisa Dilarang oleh Presiden, BO !!
Wahai Umat Islam ber Jihadlah untuk saudara kalian di Ambon
It's Time To Call "JIHAD" for the The Massacre Against Molucca Muslims
Tragedi Pembantaian umat Islam di Halmahera
Assalamu'alaukum wr wr
Terlepas apakah itu Perang Agama ataupun akibat Permainan kaum Politikus (Poli=banyak,Tikus=mouse) Tragedi Berdarah di
Ambon yang sudah berlangsung 1 (satu) tahun sejak Jan 1999 s/d Jan 2000 sudah diklasifikasikan sebagai kasus Pembantaian
dan Pelanggaran HAM terhadap Umat Islam di Maluku.
Pada Desember 1999 lalu lagi lagi terjadi Pembantaian yang mencapai pucaknya yakni terjadinya Pembantaian umat Islam di
Halmahera dengan cara yang sangat Keji sekali
Sesuai pemberitaan dan laporan Sejak Des 99 s/d per hari ini sudah mencapai +/- 3.000 korban (termasuk yang hilang) umat
Islam yang kebanyakan Wanita & anak anak yang tewas dibantai dengan sadis oleh para Anjing Anjing Kristen Biadab
Banyak yang tewas dibakar hidup hidup, Seorang Mujahidin dari Partai Keadilan dibunuh secara mengenaskan dan
Kemaluannya dipotong & dimasukkan kedalam mulutnya lalu di Salib secara biadab di Gereja tempat mereka Umat Kristen
menyembah Tuhan Yesus yg katanya mengajarkan CINTA KASIH.
Sebagian besar korban Wanita diperkosa lebih dahulu dijalan jalan lalu dibunuh seperti anjing. Para pengungsi dibakar hidup
hidup bersama truk pengangkutnya.
Para anjing aparat Kristen membiarkan saja pembantaian terjadi dimata kepala mereka sendiri bahkan mereka juga memasok
senjata kepada para sipil.
Sekelompok warga lelaki wanita anak anak berjumlah +/- 215 orang dikunci didalam Mesjid Jami Al Ikhlas lalu dibakar hidup
hidup, semua bangunan yang berbau Islam disiram bansin dan dibumi hanguskan.
Semua Kejadian tersebut sengaja dilakukan hanya satu hari saja setelah Hari Natal yang di claim oleh umat Kristen sebagai hari
CINTA KASIH dan bersamaan dengan bulan Suci Ramadhan serta menjelang hari Raya Idul Fitri.
Dengan bebasnya mereka melakukan KEKEJIAN terhadap umat Islam tanpa memikirkan akibatnya bagi umat Kristen
didaerah lainnya khususnya yang bersuku AMBON. Kejadian Kasus Daolos mereka jadikan alasan untuk melakukan
pembalasan dengan cara Membantai - Mencincang - Membunuh - Memperkosa padahal sampai hari inipun belum dapat
diungkap "Siapa Pelaku Penyerbuan Daolos"... jangan jangan rekayasa para Pemimpin Kristen Kafir saja utk menyudutkan
Islam.
Lalu para Pemimpin mereka di Jakarta memutar balikkan fakta melalui jaringan mass media & TV yang mereka miliki dan
sudah dibesarkan sejak jaman Orde Baru dulu seperti al : Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, SCTV, Indo Siar, RCTI dan
dibantu LSM Komnas Ham Islamophobia dengan cara meng ekspose Pengadilan HAM Tim Tim bagi para Jendral yang
diidentikkan Hijau spt Wiranto - Zacky - Sjafrie yang tidak mereka sukai hanya untuk mengalihkan Pembantaian yang mereka
lakukan thdp umat Islam di P Ambon & Halmahera.
Para Anjing Anjing Pendekar Pembela Kemanusiaan yang berlindung di Komnas HAM seperti Alber Hasibuan dkk dengan
enaknya membuat statement bahwa HAM belum perlu turun karena masalah Ambon bukanlah masalah Perang Agama.
Dengan belum turunnya Komnas HAM ke Ambon berarti dapat disimpulkan bahwa Pembantaian beberapa hari ini bukanlah
Pelanggaran HAM, sementara disisi lain begitu sibuknya mereka melakukan Pengadilan Pelanggaran HAM di TimTim kepada
Para Jenderal Hijau Wiranto cs yang justru bersama sama B.J Habibie sangat berjasa telah mengantar Indonesia kealam
Reformasi dan telah membebaskan rakyat Indonesia dari Tirani Minoritas yang kebanyakan didominasi oleh para Jenderal
Merah seperti Jendral Kristen Radikal LB Moerdani, Theo Sjafei dkk
Sesungguhnya mereka para Jendral Kristen dan para kroninya telah berpuluh puluh tahun menindas umat Islam Indonesia dan
sangat berperan atas Krisis yang terjadi di Indonesia dan sekarang ini mereka sangat mengkhawatirkan kebangkitan umat Islam
dunia dan Indonesia khususnya sehingga bersynergy dengan element Project 2000 yang bermarkas di Amerika/Yahudi mereka
akan tetap malakukan Program Global mereka yang dikenal Gold Glory Gospel yang ujung ujungnya berkeinginan menciptakan
kondisi terhadap umat Islam khususnya di Indonesia seperti pepatah berikut ini :
Umat Islam khususnya di Indonesia bagai Tikus Mati dilumbung padi
Majalah The Hindu edisi 10 January 2000 memberitakan bahwa Paus secara terbuka mendeklarasikan
Kristenisasi seluruh daratan Asia, di millenium ketiga ini
Terhadap mereka ingatlah selalu firman Allah SWT dalam Surah Al Baqarah sbb :
QS 2. 120 : Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama
mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu
mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan
penolong bagimu
Oleh karenanya siapkanlah diri anda untuk berjihad dan berjihad bukanlah harus secara phisik.
JANGAN BIARKAN UMAT ISLAM INDONESIA SEPERTI PEPATAH : "BAGAI TIKUS MATI
DILUMBUNG PADI"
Alamat Kontak Peduli Ambon & Ternate
Berikan bantuan anda lewat: DDII
Telp: (021) 390 2933, 390 9120, Fax: (021) 3928375 - Rek. No.: 301.00072.15 Bank Muamalat Kantor Kas Masjid Al
Furqan Jl. Kramat Raya No. 45 Jakarta
Tim Investigasi Pos Keadilan Peduli Ummat Jakarta :
Jl. Mampang Prapatan XII No. 9 Tegal Parang Jak Sel Telp/Fax. (021) 799-7220, E-mail : "DPP" , Bank Muamalat
Indonesia ( BMI ) a.n Pos Keadilan Peduli Ummat No. Rekening 301.00354.15
Tim Investigasi Pos Keadilan Peduli Ummat Ternate
Jln Teratai No.29, Tanah Tinggi, Ternate 97700, Phone/fax (0921) 23903
E-mail : , Bank Danamon a.n Muhdar Hasanat No. Rek. 044.0901472.3
Tim Penanggulangan dan Rehabilitasi Korban Kerusuhan Halmahera Utara
yang dapat dihubungi di telpon: (021) 8095036 dan fax: (021) 82409354; atau di HP.: (0812) 9288160, sangat mengharapkan
bantuan dari saudara-saudara sebangsa dan setanah air tanpa membeda-bedakan agama maupun suku.
Kesatuan Aksi Mahasiswa IISIP Peduli Ambon (Posko KAMI PILU)
Telepon : (021) 9100091 (Kantor), (021) 9179670 (Posko KAMI PILU),
E-mail : Sahmullah Rivqi
Medical Emergency Rescue & Committe ( MER-C)
Atau Bergabunglah bersama kami Palang Merah berlabel Islam satu satunya dan yang pertama di Indonesia
Dompet Dhuafa Republika khusus untuk Korban AMBON
Bank Muamalat Indonesia No. Rekening : 304.00080.10 a/n Dompet Dhuafa Republika
Atau YOU CAN ALSO DO JIHAD - TRANSLATER HELP........
Sesungguhnya Muslim itu bersaudara...
untuk bergabung, kirim imel kosong ke: [email protected]
untuk berhenti, kirim imel kosong ke: [email protected]
untuk melihat-lihat posting yang ada lewat internet :
http://www.egroups.com/group/tasnim/
http://www.egroups.com/group/ambon-post/
Wassalam
zUlFaNK
http://listen.to/ambon
04/06/00 06:43:12
| Name: Al-Fatihah |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
Assalaamu'alaikum wa Rohmatulloohi wa Barokaatu
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Alhamdulillaah...
Insya Allooh Artikel-artikel yang ditampilkan disini akan kami kirimkan di mailing list Al-Fatihah [[email protected]] bagi Antum yang membutuhkan silahkan mendaftar.
Semoga Alloohu Subhanahu wa Ta'aala meridhoi usaha kita dan mengampuni segala kesalahan kita. Amiin.
Wassalaamu'alaikum wa Rohmatulloohi wa Barokaatu
Al-Fatihah
----------
http://welcome.to/al-fatihah
http://members.muslimsites.com/al-fatihah/index.html
Mailing list: [email protected]
Subscribe: [email protected]
04/05/00 05:06:21
| Name: fatichul amin |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
bagaiomana cara memesan buku ini
04/05/00 02:26:24
| Name: FIKRI KASTOR (ANAK DARI RUSTAM KASTOR) |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
04/05/00 02:06:03
| Name: Fikri Kastor |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
04/03/00 10:25:18
| Name: Anak Ambon |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
04/02/00 22:42:54
| Name: ibnu_abbas |
| My Email: Email Me |
Comments:
allahu akbar!!!allahu akbar!!!allahu akbar!!!
04/02/00 13:58:38
| Name: Harian POS KUPANG |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
salam ketemu, semoga sejahtera selalu.
04/02/00 06:17:50
| Name: zUlFaN K |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
HADIRILAH TABLIGH AKBAR DI SENAYAN TANGGAL 6 APRIL 2000 Jam 8.30 PAGI DENGAN TEMA "JIHAD" UPAYA AKHIR MEMATAHKAN GERAKAN PEMBERONTAKAN KRISTEN AMBON
03/29/00 13:06:01
| Name: Listen to us |
| My URL: Visit Me |
| My Email: Email Me |
Comments:
Comments:
SEPARATIS R M S ???
from: "Joshua Latupatti"
03/27/00 12:48:05
Name: Ikranagara
My URL: Visit Me
My Email: Email Me
Mana Beras Mana Antah.
Banyak berita tentang Ambon yang bias dan memihak kepentingan fihak tertentu. Bersikap partisan. Semacam propaganda. Ujung-ujungnya adalah disinformasi untuk tujuan politik tertentu.
Saya yakin yang ditulis di sini tidaklah tergolong yang demikian. Sudah waktunya segala yang berbau sara boleh dan harus diungkapkan sebagaimana adanya. Kalau disembunyi-sembunyikan "demi persatuan", maka akan menjadi bomwaktu kembali. Salah satu sebab me
edaknya Ambon kan karena "demi persatuan" semacam itu.
Jadi, tujuan kebebasan pengungkapan semacam yang dilaklukan di sini adalah untuk mencari kebenaran, betapa pun pahitnya kebenaran itu, agar kita dan generasi berikutnya bisa belajar dan membilah-bilah mana antah mana beras. Dengan demikian, maka kita tida
akan mengulang kembali sejarah yang menyedihkan. Insya Allah!
Amien Ya Rabbil Alamien!
Salam,
Ikranagara