Permasalahan Yang Akan Dihadapi

PROGRAM yang berat ini bukan sesuatu yang mustahil, ia dapat masuk sampai ke tahun depan. Program 1 faktor kesiapan mental saudara-saudara kita itu dan kita sendiri di Indonesia merupakan beban yang harus mendapatkan penanganan khusus. Karena itu jangan dipaksakan atau harus selesai dalam waktu pendek. Persiapan yang matang dari segala aspek sehingga kendala menjadi minimal. Beberapa kendala jelas harus diatasi diantaranya :
a. Sikap mental kedua belah pihak
Saudara - saudara kita di Nederland terutama yang lahir dan dibesarkan sampai beranak cucu disana pasti sulit beradaptasi dengan kondisi di Indonesia. Adat dan budaya yang berbeda antara masyarakat Eropa Barat dengan bangsa Indonesia jelas mempengaruhi saudara-saudara kita itu. Proses penyesuaian tidak bisa sekaligus, harus bertahap tidak dipaksakan sehingga ada periode beradaptasi. Efek lain pada sikap metal ideologi Pancasila, semangat bela negara sampai pada lapangan kerja, ketrampilan dan pendidikan. Pada dasarnya sejumlah problem akan menjadi kendala.
Bagi kita di Indonesia sendiri bukan hal mudah menerima kedatangan sekian puluh ribu warga baru yang nyatanya akan muncul berbagai permasalahan sosial kemasyarakatan karena ada sejumlah perbedaan. Kita yang tingkat kehidupan sosial ekonomi masih memprihatinkan akan bertarung dengan pendatang baru. Ini namanya mencari penyakit baru padahal penyakit yang lama saja belum berhasil diatasi. Tetapi tuntutan kebutuhan bebas ancaman RMS di waktu yang akan datang mengharuskan kita mau menerima mereka sekaligus menolong mereka dari kehidupan yang tidak wajar di negeri orang.
Rasanya pekerjaan yang terkesan imposible ini hanya dapat ditangani dengan semangat SAGU SALEMPENG BERPATA DUA, sagu salempeng seng sampe par isi poro, tetapi dengan senyum keihklasan dipatah menjadi dua bagian sama besar untuk diulurkan kepada saudaranya yang membutuhkan. Sagu yang spanggal itu seng cukup untuk masing-masing, tetapi ikhlas karena saling sayang diantara mereka.
Kalau sagu sudah dipatah hasilnya seng sama besar, mana yang mau dikasih sama saudara, yang kecil rasanya tidak mungkin, harus rela yang lebih besar. Itu artinya akan ada masalah nantinya tetapi kita harus siap mental untuk mengatasinya  sebaik mengkin.
Masyarakat  Islam di Maluku akan menghadapi tanta-ngan mental yang lebih berat karena mayoritas yang akan repatriasi dengan segala permasalahannya adalah yang beragama  Kristen, yang  Islam ada dalam jumlah yang jauh lebih sedikit.
Itulah bentuk pengorbanan kelompok  Islam sebagai aplikasi dari makna Salam yang penuh kedamaian dan bersikap saling kasih sayang sesuai ajaran  Islam. Walaupun demikian mereka bisa menyebar keseluruh wilayah nasional sesuai dengan pilihan dan daya tarik tiap daerah untuk menerima tenaga kerja yang telah disiapkan dengan metoda kinerja kerja gaya Eropa Barat.
Proses mental kedua pihak terutama masyarakat  Islam di Maluku akan panjang dan cukup berat. Dalam kenyataan kita terus menerus dalam waktu tak terbatas menghadapi ancaman RMS seperti yang  terjadi sekarang, maka harus ada konsep pemecahan masalah tersebut yang alternatif pilihannya tidak populer. Ini bukan konsep pemuasan kelompok RMS di Maluku sebagai hasil aksi kerusuhan yang memaksa Ummat Islam bersedia menerima kondisi-kondisi yang dipaksakan, tetapi suatu kenyataan bahwa telah 50 tahun masalah RMS terus menggangu ketenangan hidup Ummat Islam di Maluku.
Malah banyak tokoh  Kristen di Maluku berpendapat diskriminasi terhadap para cendikia dan tokoh Maluku di tingkat nasional adalah akibat tetap eksisnya RMS sehingga selalu tertutup peluang mendapatkan suatu jabatan penting di pemerintahan pusat. Saya melihat bahwa pendapat tersebut tidak benar sekurang-kurangnya nilai kebenarannya kecil saja.
Dibandingkan dengan PRRI, PERMESTA, PAPUA MERDEKA yang lebih dekat peristiwanya dari sekarang, ternyata diskriminasi dan perlakuan tidak adil kepada mereka tidak ada.
Tetapi bagaimanapun RMS adalah ganjalan yang harus kita terima sebab mereka tetap eksis di Nederland serta aktif ingin pulang ke tanah yang dijanjikan dalam kitab suci yang ditafsirkan sebagai Maluku untuk RMS, karena itu RMS pasti berjuang membangun kekuatan yang merupakan ancaman bagi Ummat Islam dan masyarakat  Kristen yang menolak keberadaan RMS.
Semangat SAGU SALEMPENG BERPATA DUA, merupakan salah satu alternatif pemecahan yang perlu dikaji dalam-dalam dari semua aspek berpengaruh dan akibat yang terjadi.  Islam dan  Kristen di Maluku termasuk melibatkan mereka yang terus mendambakan Maluku merdeka di bawah RMS. Opsi ini seharusnya diterima dengan lapang dada oleh masyarakat Maluku di Nederland karena niat Maluku merdeka tidak akan pernah berhasil.
Dalam pemerintahan Gus Dur ada tiga tugas berat yang secara serius akan dilakukan diantaranya “mencegah terjadinya disintegrasi teritorial Nusantara”. TNI dan Polri akan bertindak keras dengan penggunaan kekuatan senjata untuk meniadakan ancaman baru (RMS) selain masalah Aceh, TNI yang tugas pokoknya memelihara kedaulatan dan integritas wilayah nasional tidak akan memberikan kemerdekaan. Sikap itu harus dipahami oleh para tokoh RMS di Maluku agar tidak menghabis-habiskan energi untuk sesuatu isapan jempol. Karena itu gagasan ini merupakan pekerjaan rumah untuk kita pikirkan bersama.
Untuk lebih mendalami ajakan konsep sagu salempeng berpata dua, bersama naskah “Menjawab Suara Maluku” ini saya ikutkan tulisan Bapak Mayjen (Purn) J.Muskitta yang begitu obyektif dan membuka tabir pemahaman kita tentang cerita “Orang-orang Maluku di Nederland” di mana sebagian kecil mereka adalah RMS yang Die Heart dengan tuntutan Maluku sebagai tanah yang dijanjikan bagi masyarakat Maluku oleh kitab suci.

bersambung ke hal 209

back top

Hosted by www.Geocities.ws

1