![]()
![]()
PendahuluanPADA awal bulan Ramadhan 1419 H terdengar isu, bahwa akan ada gerakan pengusiran Suku BBM (Bugis, Buton dan Makasar) dari Maluku, khususnya pulau Ambon. Bersamaan dengan tersebarnya isu tersebut, diikuti dengan berdatangannya ratusan orang preman dari Jakarta, menggunakan Kapal Pelni K.M.Lambelu, 16 Desember 1998. Menyusul setelah itu, tersiar pula adanya orang kiriman yang menggelisahkan masyarakat kota Ambon.
Pada tanggal 12 November 1998 terjadi kasus Wailete, yaitu dise- rangnya perkampungan masyarakat Bugis, Buton dan Makassar yang beragama Islam di desa Wailete. Hanya karena alasan sepele yang tidak ada kaitannya dengan masyarakat Hative Besar (Kristen) sebagai penyerang. Berturut-turut setelah itu terjadi peristiwa desa Bak Air, yaitu penyerbuan ke arah perkampungan Muslim yang dilakukan oleh penduduk kampung Kristen Tawiri, yang hanya berjarak delapan buah rumah saja. Penyebab timbulnya peristiwa tersebut, gara-gara seorang penduduk kampung yang beragama Islam melempar babi yang masuk ke kebun warga desa Bak Air.
Kedua peristiwa di atas,telah menimbulkan keprihatinan masyara- kat Islam di kota Ambon dan sekitarnya, yang segera akan memasuki bulan suci Ramadhan. Apalagi penyelesaian yang diharapkan dari POLRI tidak jelas ujung pangkalnya, tidak transparan bahkan tak ada pengusutan yang memadai, dan juga tidak pernah dinyatakan siapa pelaku serta dalang di balik semua itu. Harian Suara Maluku hanya 2 kali memberitakan kasus ini secara sepintas, padahal kasus ini ter- masuk besar dan bernuansa SARA. Kenyataan ini akhirnya diketahui, bahwa pemberitaan Suara Maluku selalu bersikap memihak bahkan memprovokasi orang Islam, karena Suara Maluku jelas media kelom- pok Kristen untuk memenangkan opini dengan terus menerus melaku-kan pembelaan terhadap aksi Kristen, dan kemudian menyudutkan kelompok Islam yang justru sejak awal kejadian selalu berada dalam posisi sebagai sasaran penyerangan.
Ummat Islam menilai adanya perlakuan diskriminatif dan bahkan ada kecenderung dari pihak TNI untuk dengan sengaja tidak mengusut kasus ini, karena khawatir akan berhadapan dengan sesuatu kekuatan yang sangat besar. Masyarakat Muslim merasakan adanya upaya melemahkan semangat aparat keamanan agar rencana mereka dapat dilanjutkan, terbukti dengan adanya tekanan serta penghujatan terha-dap eksistensi TNI, terutama dalam kasus demonstrasi mahasiswa pada tanggal 18 November 1998 ke Makorem 174/Pattimura, dan rapat Muspida tanggal 20-11-1998 malam. Penyelesaian kasus kriminal nya saja tidak jelas, jangankan membongkar akar permasalahan. Sementara di sisi lain tidak tampak adanya campur tangan para tokoh masyarakat atau agama dari pihak Kristen untuk menyelesaikan pe-langgaran yang terjadi, apalagi meminta maaf padahal kasus Wailete adalah peristiwa penyerangan terhadap Ummat Islam yang tidak bersalah oleh kaum Kristen, sehingga wajar jika peristiwa ini mung- undang kecurigaan sebagai aksi pancingan, apakah ummat Islam akan bereaksi atas hantaman terhadap massa Islam tersebut atau tidak.
Peristiwa ini telah menimbulkan kerugian material, dengan ter- bakarnya puluhan rumah beserta seluruh isi yang terdapat di dalam- nya. Para penghuninya hanya mampu menyelamatkan nyawanya de-ngan membawa pakaian yang melekat di badan, di samping kerugian moril (immaterial) yang tidak kecil.
Sebagaimana peristiwa Wailette, kasus Bak Air juga tidak ada pe- nyelesaiannya sehingga kedua kasus di atas betul-betul telah menim- bulkan kecurigaan tentang apa yang sedang terjadi, akibat ketidak puasan yang bukan saja berkembang di antara suku BBM dengan masyarakat desa Hative Besar dan Tawiri, tetapi juga solidaritas um- mat Islam di kota Ambon terpicu semakin panas.
Selain itu haruslah disadari bahwa ummat Islam tidak seluruhnya berada dalam kendali para tokoh-tokohnya. Hal ini disebabkan antara lain, tidak adanya organisasi pemersatu yang mapan dan berperan, kemudian banyaknya ormas Islam yang menyebabkan tidak efektif bahkan tidak jelas keanggotaannya dalam masyarakat, dan aktifitas utama hanya pada musyawarah pergantian pengurus yang berakibat juga pada lemahnya ukhuwah di antara para tokoh. Para tokoh yang tidak bersatu serta belum adanya tokoh pemersatu yang dapat mengayomi semua itu, menyebabkan tidak segera muncul reaksi apapun yang secara sungguh-sungguh membela masyarakat Islam di kedua desa tersebut. Ini adalah kelemahan Ummat Islam akibat ulah para tokohnya sendiri, sehingga pada gilirannya yang menjadi korban adalah rakyat kecil.
Sebaliknya yang terjadi pada golongan masyarakat Kristen yang berada di bawah organisasi gereja GPM (Gereja Protestan Maluku). Keadaannya cukup mapan, mampu melakukan upaya pembinaan terhadap segenap ummatnya sehingga melalui wadah gereja ini, semua upaya pembinaan dapat mencapai sasarannya dengan baik dan efektif. Ibarat air PAM yang mengalir lancar melalui pipa-pipa leding, dapat mencapai kran terakhir tanpa kendala di setiap rumah warga.
Pekerjaan yang besar ini pasti dilakukan oleh suatu organisasi yang telah disiapkan dan keberadaannya cukup solid. Program penghancuran Ummat Islam di Ambon ini pasti telah dijabarkan dengan baik, disiapkan orang-orang yang telah dilatih, tiap pelaku tahu betul harus berbuat apa, kapan dan bagaimana melaksanakannya. Tanpa persiapan yang matang mustahil pekerjaan besar dan kompleks ini dapat berjalan dengan begitu berhasil. Oleh karena itu kerusuhan Ambon bukan hal yang terjadi secara kebetulan, apalagi dimulai dari peristiwa 19 Januari 1999. Peristiwa ini pasti suatu gagasan besar oleh suatu organisasi besar, ditopang dengan dana yang kuat dan berdasarkan pengalaman bangsa Indonesia, kekaca-uan besar di dalam negeri selalu didukung bahkan diprakarsai oleh kekuatan asing.Pada bagian pertama dari naskah ini, berusaha menganalisis informasi yang tersebar luas di masyarakat, fakta-fakta dan sejumlah data yang ditemukan secara mudah di lapangan. Analisis ini sampai kepada sejumlah kesimpulan berupa rencana strategis, pola operasi, babak serta tahapan pelaksanaan di lapangan, sasaran-sasaran yang dirancang dengan baik sehingga dapat disimpulkan pula, bahwa peristiwa berdarah ini dilakukan oleh suatu kekuatan tertentu guna mencapai tujuan politik dengan menjadikan Ummat Islam di Ambon sebagai objek atau sasaran mereka.
Analisis ini juga dimaksudkan guna menemukan jawaban atas adanya dugaan, bahwa peristiwa ini terjadi setelah melalui suatu perencanaan canggih, menggunakan kekuatan yang disiapkan jauh sebelumnya, untuk digelar dengan skenario yang telah disiapkan pula, sejak babak pertama hingga babak kesekian. Oleh karena itu, sekiranya ada sejumlah tokoh Kristen memberikan reaksi tertentu, maka secara apologis, hal seperti itu sudah termasuk dalam skenario yang dimainkan menurut areal babakannya.
Kebenaran dari analisis ini sangat tergantung pada hasil pembong- karan oleh aparat keamanan, terutama setelah melalui proses hukum. Jadi yang perlu dikejar oleh TNI adalah aktor intelektual serta organi- sasi pelakunya. Terlambat sedikit saja penanganan kasus ini akan semakin mempersulit pembongkarannya, apalagi pejabat yang ditun- juk untuk itu adalah pejabat yang bermasalah. Kasus ini akan sulit di selesaikan oleh pejabat asal Ambon karena menyangkut Agama.MAKSUD DAN TUJUAN
Tulisan ini, terutama dimaksudkan sebagai upaya mengangkat permasalahan yang terjadi secara objektif, guna memahami dan men-dalami konsep strategi masing-masing pihak yang bertikai, selanjutnya untuk menemukan siapa penggerak dan apa motif dan tujuannya, serta akibat apa saja yang menimpa Ummat Islam yang dizalimi. Dengan demikian akan dapat dicarikan pemecahan yang berlingkup strategis untuk membangun kembali kondisi Ummat Islam ke arah yang lebih baik, tangguh dan ulet mempertahankan hak hidupnya, serta upaya mempertahankan Maluku sebagai bagian utuh dari Nega-ra Kesatuan Republik Indonesia.
Adapun pemerintah dan aparat keamanan, dalam peristiwa ini harus dilihat secara obyektif dan ditangani secara tuntas, baik pada aspek hukum, politis maupun pertahanan dan keamanan negara, me-ngingat Maluku adalah bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga tidak ada tempat bagi ide separatis, mereka harus ditumpas sejak dini sebelum membesar dan menjadi kuat.
Bagi tokoh Muslim asal Maluku dimanapun mereka berada, harus dapat melihat persoalan ini sebagai persoalan bersama, yang memer-lukan kesatuan pendapat dan sikap agar kasus ini tidak di tepiskan begitu saja. Penulis berpendapat bahwa kerusuhan besar di Ambon ini bukan terjadi secara kebetulan, tetapi adalah konspirasi besar, se-dangkan ummat Islam di Ambon hanya sebagai objek, jadi perlu dipa-hami bahwa sesungguhnya nasib yang menimpa ummat Islam di Ambon ini merupakan masalah ummat Islam se-Indonesia, jangan kami ditinggalkan, kami terlalu kecil untuk dimangsa Kristen se-Indonesia dengan konspirasi Kristen sedunia. Kita harus menuntut penyelesaiannya, dipertanggung jawabkan dan aturan hukum di tegakkan. Inilah peluang yang paling baik untuk memperbaiki nasib Ummat Islam Maluku, agar dihari-hari mendatang Ummat Islam di Maluku terangkat harkat dan martabatnya sebagai pewaris dari para pejuang bangsa yang dengan gigih dan gagah berani melawan penjajah, walau harus menerima konsekuensi berat, seperti perlakuan tidak adil sehingga tertinggal sumber daya manusia serta terabaikan hak dan harkat kehidupannya ?Bersambung Ke Bab 1-01
![]()