Bagian Pertama Bab 101
Idul Fitri Berdarah di Ambon
19 Januari 1999 / 1 Syawal 1419 H
SEJARAH KONFLIK ISLAM-KRISTEN DI MALUKUNASIB yang menimpa Ummat Islam di Maluku sekarang ini, bukan semata-mata disebabkan sebagai akibat alamiah, melainkan ada sebab-sebab tertentu dan pasti. Barangkali kita perlu mengkaji sebab musabab itu agar dapat memotivasi kita semua untuk mencari solusinya. Dengan memiliki cendekiawan muda yang penuh energi dan gairah serta kepeduliannya kepada nasib Ummat Islam yang besar, merupakan asset berharga. Jika selama ini cendekiawan muda belum berperan, hal itu lebih banyak disebabkan karena keberadaan mereka, ibarat sapu lidi yang terurai satu persatu. Bila saja sapu ini dapat dihimpun dalam berkas yang utuh maka pasti ia amat bermanfaat. Mereka inilah yang bertugas menghidupkan kembali semangat perjuangan leluhur untuk memperjuang kan harkat, martabat dan milik bangsanya. Demikian pula sebagai upaya mempertahankan aqidah dari gerakan Penginjilan dengan tekanan yang keras di waktu lalu.
Kita harus bangga bahwa di pulau Banda, leluhur kitalah yang meletakkan batu pertama perjuangan besar bangsa Indonesia melawan penjajah sampai tercapai Indonesia Merdeka. Mengangkat parang, tombak dan membidik panah melawan penjajah dimulai dari Maluku dengan teriakan Allahu Akbar. Oleh karena itu kita juga punya hak untuk mendapatkan hidup yang lebih baik di alam kemerdekaan ini. Dan untuk itu kita mesti berbuat lebih baik lagi. Maka jangan melihat ini sebagai masalah kriminal yang sepele, tetapi lihatlah dalam konste- lasi yang lebih luas dan menjangkau ke depan.PERJUANGAN UMMAT ISLAM MALUKU MELAWAN PENJAJAH BELANDA
Perdagangan Rempah-rempah.
Jauh sebelum Bangsa Eropa tiba di Maluku, para saudagar Nusan-tara telah berdagang penuh kedamaian dengan masyarakat atau kera-jaan-kerajaan Islam di Maluku. Penyebaran agama Islam dilakukan dengan penuh perdamaian, sehingga relatif segenap masyarakat Maluku telah memeluk agama Islam. Pada tahun 1512 mulailah bang- sa Portugis menemukan Maluku (Banda) dengan maksud mendapat- kan rempah-rempah langsung di bumi penghasilnya, kemudian datanglah penjajah Belanda pada tahun 1605.Perlawanan Fisik Bersenjata.
Perdagangan yang semula damai, berkembang menjadi bentrokan fisik karena sikap monopoli yang disertai penyebaran agama Kristen oleh pihak Belanda dengan menggunakan kekuatan bersenjata. Mulai- lah terjadi sejumlah peperangaan yang bukan saja untuk memperta- hankan kedaulatan kerajaan-kerajaan Islam di Maluku, tetapi juga berjuang mempertahankan aqidah agamanya.
Perlawanan dari Kerajaan-kerajaan Islam seperti Perang Hitu (1502-1605), Perang Banda (1609-1621), Perang Hoamual (1625-1656), Perang Wawane (1633-1643), Perang Kapaha (1636-1646), Perang Alaka (1625-1637), Perang Iha (1632-1651), dan sejumlah perang yang dilancarkan oleh beberapa kesultanan di Maluku Utara, dan terakhir Perang Tidore (1780-1805) yang dipimpin oleh Nuku yang sempat menunjukkan kekuatan dan kebesarannya. Sejumlah pahlawan perang Ummat Islam seperti Pattiwane, Kakiali, Gimelaka Laliato, Gimelaka Lulu, Tulukabessy, Kiayi Lessy, Rijali, Khairubia, Kapitan Ulupaha, Sudardi Monia Latuwirinnyai, Sultan Babullah, Sultan Khairun dan terakhir Sultan Nuku adalah para pemimpin perang yang gagah berani mampu mengalahkan penjajah di banyak medan pertempuran.
Kerajaan-kerajaan Islam, pada akhirnya secara bertahap dapat dikalahkan satu persatu terutama oleh VOC yang kemudian menjadi Kompeni menggantikan kedudukan Portugis, dengan memiliki armada dan kekuatan perang yang tangguh. Kegiatan perdagangan diwarnai pula dengan missi penginjilan secara paksa yang dimulai dengan perkumpulan dagangnya VOC. Perlawanan masyarakat dan kerajaan Islam di Maluku kini berkembang menjadi perang memper- tahankan aqidah.VOC dan Kompeni Penjajah
VOC sebagai organisasi dagang digantikan oleh Kompeni dengan kekuatan bersenjata yang besar, meningkatkan penindasan terhadap Ummat Islam di Maluku yang tiada tara sampai hampir tak kuasa lagi menerimanya, namum perlawanan terus berlanjut walau tidak mampu lagi mengangkat senjata.
Perlawanan Non Fisik / Tak Bersenjata.
Kerajaan-kerajaan Islam di Maluku telah berhasil dihancurkan satu demi satu, tetapi tidak demikian dengan semangat kebenciannya terhadap penjajah yang telah merenggut kemerdekaan mereka sekali- gus memaksakan keyakinan yang bertentangan dengan paham ke-Tauhidan Islam. Bersamaan dengan kekalahan kerajaan-kerajaan Islam di Maluku terjadilah peperangan oleh kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan melawan kolonial Belanda. Kera-jaan-kerajaan inipun mengalami nasib yang sama, yaitu dikalahkan dan ditaklukkan. Para pejuang yang tertangkap dibuang ke berbagai daerah di luar Jawa di antaranya Maluku. Sebagai pejuang mereka tidak pernah mau berhenti memerangi Belanda, dan sebagai pemim-pin dalam suatu peperangan mereka pasti menyandang gelar Kiyai atau pemuka agama.
Dengan modal semangat perlawanan (pejuang) dan keahlian ilmu agama Islam (Kiyai) mereka menyusup ke dalam Ummat Islam di Maluku dengan alasan kegiatan keagamaan, tetapi sesungguhnya mereka memimpin dan menggerakkan perlawanan terhadap Belanda secara non fisik/tanpa bersenjata. Terakhir sekali adalah kedatangan Pangeran Diponegoro dengan rombongan sebagai buangan, dan bersama pengikutnya berdiam di kampung yang sekarang bernama Kampung Diponegoro, yang semula tempat itu bernama Ajeng berubah karena pengaruh dialek Ambon menjadi Ajang. Para pejuang ini memimpin Ummat Islam di Maluku untuk melakukan aksi pembangkangan yang memberikan pukulan berat bagi pihak penjajah. Perlawanan non kooperatif/pembangkangan, yaitu bentuk perlawa-nan secara diam-diam, yakni menolak bekerjasama dalam bentuk apa pun dengan penjajah serta merongrong pada aspek-aspek tertentu dengan tujuan melemahkan dan menggerogoti wibawa serta kekuatan pemerintah Belanda.
Perlawanan ini efektif pada 20-30 tahun pertama, saat para pemim-pinnya aktif memberikan petunjuk, arahan dan dorongan semangat. Namum perlawanan yang memakan waktu seratus tahun lebih terse-but menjadi kurang efektif, sebab kurang memiliki daya tahan, tidak ada pembentukan kader dan pemimpin lapangan yang akan melan-jutkan perlawanan tersebut. Kegagalan membentuk pemimpin Pelan-jut, mengakibatkan perlawanan menjadi kurang terarah dan tidak punya tujuan yang jelas. Apa yang terus bergelora adalah semangat mereka untuk tidak mau bekerja sama dan membangkang saja.
Pada waktu itu tidak ada Ummat Islam yang bersedia menjadi serdadu Belanda, guru dan pekerjaan-pekerjaan yang berada di bawah kendali Belanda. Ummat Islam lebih memilih pekerjaan non formal seperti nelayan, pedagang kecil (wiraswasta), tukang dan sejenisnya. Bahkan bersekolahpun ditolak, Ummat Islam lebih memilih pengajian dan Madrasah. Di luar Maluku, orang lebih mengenal orang Ambon adalah Kristen, hal ini disebabkan oleh serdadu Belanda asal Maluku yang bertugas di luar Maluku (Jawa,dsbnya) relatif tidak ada yang beragama Islam, sehingga yang terjadi ibarat gayung bersambut.
Dalam kisah perlawanan tanpa senjata ini, barangkali perlu kita telusuri adanya beberapa marga (Vam) di kota Ambon yang bukan marga asli dari Maluku seperti Betawi, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Padang, Diponegoro, Aceh dan sebagainya. Yang jelas marga tersebut menunjukkan darimana mereka berasal, sebab waktu itu semua orang harus mempunyai vam, mereka yang tidak mempunyai vam memilih daerah asal mereka sebagai vam. Siapakah mereka ini, sekurang-kurangnya sebagiannya adalah para pejuang yang dibuang oleh Belanda dulu yang memimpin Ummat Islam di Maluku melakukan aksi pembangkangan/non kooperatif. Tanyalah para tetua kita, bagaimana orang Waihaong, Talake, Silale, Soabali, Batu Gajah (Diponegoro) Batu Merah, Pardeis dsb belajar silat? Mereka belajar tertutup dalam rumah atau di halaman belakang agar tidak diketahui kaum Nasrani. Bila ada Nasrani yang datang, latihan segera dihentikan agar tidak diketahui jurus-jurusnya. Jadi para tetua itu belajar untuk menghadapi Penjajah Belanda (dibenaknya) dan kaum Nasrani. Persis seperti kisah dalam serial film Si Pitung dari Marunda
Perlawanan terhadap penjajah Belanda yang berlangsung lebih 100 tahun itu, sebagian besar berlangsung tanpa koordinasi, bahkan tanpa pemimpin yang jelas sehingga semangat melawan pemerintah kolonial tanpa disadari, berubah arah dan tujuannya. Sikap Ummat Islam yang tampaknya kurang partisipatif saat ini, tidak lepas dari peninggalan masa lalu itu, yang membentuk watak dan karakter sebagian besar di antara mereka, sehingga terhadap pemerintahan sendiripun mereka juga kurang memberikan partisipasi yang berarti. Banyak kerugian yang diderita Ummat Islam akibat proses perjuangan panjang tanpa koordinasi dan pimpinan ini, yang pada akhirnya menghasilkan kon- disi yang amat tidak menguntungkan seperti yang kita alami sekarang
Ummat Islam di Maluku tertinggal hampir di semua aspek kehi- dupan berbangsa dan bernegara secara fisik, tampak maupun yang tidak tampak tetapi terasa sebagai suatu kenyataan. Setelah Indonesia merdeka, Ummat Islam di Maluku mencapai banyak kemajuan di semua sektor, tetapi kita harus mengakui bahwa dibandingkan dengan Ummat Kristen kita terlalu terlambat, ibarat berlomba dengan kaum yang menggunakan kendaraan, sedang kita berjalan kaki. Dengan demikian jarak ketertinggalan kita dari hari ke hari kian jauh, sehingga barangkali kondisi ini dapat memicu kecemburuan sosial. Di sisi lain kemajuan yang diperolah Ummat Islam, terutama munculnya generasi muda cendekiawan merupakan saingan bagi pihak Kristen yang walau pun dalam skala rendah, mereka melihatnya sebagai ancaman yang membahayakan. Merasa adanya ancaman (yang sesungguhnya tak seberapa besar), maka kerukunan yang selama ini terjalin mulai goyah. Pihak Kristen melakukan aksi penghambatan dengan menutup peluang bagi yang Islam di berbagai sektor strategis. Ketidak adilan ini semakin terasa, sementara yang Islam hanya dapat merasakan tetapi tidak ada upaya nyata untuk mengatasi persaingan itu. Lebih diperparah lagi, bahwa barisan Ummat Islam masih tercerai berai, para cendekiawan yang berkualifikasi pemimpin masih amat terbatas.
Hambatan terberat ke dalam tubuh Ummat Islam justru karena sikap non partisipatif itu. Sebagai contoh riel, dapat kita saksikan pada prosentase kontingen Pekan Olah Raga Maluku. Peserta yang beragama Islam hanya sekitar 10% saja, padahal mereka bukan tidak punya kemampuan untuk menjadi atlet berprestasi, tetapi mereka tidak tertarik untuk ikut berpartisipasi ?Bersambung Ke Bab 1-02