International News
GAZA � Dua pria bersenjata tewas di Gaza, Palestina, kemarin.Mereka menjadi korban bentrokan terbaru yang melibatkan dua faksi bertikai, Hamas dan Fatah.Jika bentrokan berdarah masih terus terjadi, dicemaskan pemerintahan koalisi Hamas-Fatah terancam bubar.
Dalam bentrokan itu,puluhan pria bersenjata Hamas baku tembak dengan petugas keamanan dan pengawal pribadi dari Fatah di Maher Meqdad. Padahal, dini hari kemarin, keduanya menyepakati gencatan senjata yang dimediasi Mesir. Sekarang total korban tewas akibat bentrokan yang pecah sejak Minggu (13/5) lalu menjadi enam orang serta melukai lebih dari 30 orang.
�Kesepakatan yang dihasilkan kemarin malam sama seperti mentega, langsung meleleh ketika terkena matahari,� kata seorang penduduk lokal yang frustrasi melihat kesepakatan yang baru tercapai,langsung dilanggar keesokan harinya. Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata,kedua pihak diharuskan menarik mundur kelompok bersenjata masingmasing dari jalanan dan saling bertukar 20 tawanan.
Namun kenyataannya,masih banyak pria bersenjata bertopeng dan bersenjata berkeliaran di jalanan. Sayap militer Hamas menyatakan, orang-orangnya langsung menuju tempat kejadian setelah pria bersenjata Fatah melepaskan tembakan dari atap rumah anggota Fatah. Di sisi lain,Fatah menuturkan pria bersenjata Hamas membakar sebuah kantor milik Fatah di tempat kejadian.
Sumber dari kelompok Fatah, pendukung Presiden Mahmoud Abbas, mengungkapkan ketegangan dengan Hamas demikian kuat. Dia menambahkan, umur pemerintahan bersatu hanya tinggal dalam hitungan hari jika kekerasan antarfaksi tidak segera dihentikan. Banyak toko yang ditutup dan para orangtua menyuruh anak-anaknya tidak masuk sekolah.
Selain itu,banyak pengemudi taksi yang terpaksa mengambil jalan berputar-putar untuk menghindari melewati pos pemeriksaan yang dibentuk oleh faksi rival. Otoritas Palestina akhirakhir ini berupaya menempatkan polisi di Gaza dalam rangka operasi keamanan terbaru. Operasi bertujuan meningkatkan penegakan hukum dan mengurangi ketegangan antarfaksi yang sudah sekian lama bertikai. Meski pemimpin Palestina berjanji meningkatkan keamanan, kenyataannya upaya mereka tidak berhasil menegakkan hukum dan peraturan yang berlaku di Gaza.
Di sana kerap terjadi penculikan,pertikaian, serta tembak-menembak antarfaksi. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Palestina Hani al- Qawasmi mengundurkan diri, kemarin,menyusul bentrokan terbaru antarfaksi tersebut.Keputusan Al-Qawasmi ini menjadi guncangan besar bagi pemerintahan bersatu yang baru terbentuk sejak dua bulan lalu. �Saya dapat konfirmasikan bahwa Perdana Menteri Ismail Haniya telah menerima pengunduran diri menteri dalam negeri,�kata Menteri Informasi Mustafa Barghuti kepada AFP. Sebagai mendagri,Qawasmi berwenang mengawasi operasi keamanan dalam negeri Palestina.
�Saya bicara kepada seluruh partai bahwa saya tidak dapat menjabat sebagai menteri jika tanpa memiliki kewenangan,� kata Qawasmi dalam sebuah konferensi pers. Pengunduran diri Qawasmi semakin menambah keraguan apakah koalisi Hamas-Fatah dapat berlanjut. Sementara itu, dari Hebron, Tepi Barat,dua organisasi HAM Israel menuduh Israel memberlakukan peraturan ketat bagi penduduk Palestina sehingga memaksa ribuan warga Palestina di sana meninggalkan rumah dan bisnis mereka.
Laporan setebal 120 halaman memberikan bukti bahwa tentara Israel kerap melakukan tekanan secara rutin terhadap warga Palestina, seperti pemberlakuan jam malam, menutup akses jalan, serta membangun pos keamanan di dekat rumah warga Palestina. �Tindakan Israel yang didasarkan pada kebijakan demi kepentingan pendudukan telah mengubah pusat Kota Hebron menjadi kota hantu,�kata Sarit Michaeli, juru bicara Betselem. Sekitar 40% rumah warga Palestina kosong dan 70% usaha mereka tutup