|
Usulan SI
PUTUSAN Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dalam beberapa hari
terakhir sudah tersirat kesimpulannya, akhirnya terbukti Rabu
malam (30-5). Yakni merekomendasikan kepada Majelis
Permusyawaratan Rakyat untuk menggelar Sidang Istimewa untuk
meminta pertanggungjawaban Presiden Abdurrahman Wahid.
Keputusan Dewan yang ditetapkan dalam rapat paripurna itu
dihasilkan melalui voting. Rinciannya: 365 anggota dewan setuju
diusulkan SI MPR, 4 anggota (dari F-PDKB) menolak, dan 79
anggota abstain. Mereka yang abstain adalah anggota F-TNI/Polri
ditambah satu anggota F-PDKB.
Sebagaimana diduga sebelumnya, seluruh anggota Fraksi
Kebangkitan Bangsa melakukan aksi walk out saat DPR mulai
melakukan pemungutan suara untuk menentukan permintaan SI atau
tidak.
Kepuutusan Dewan itu sebenarnya tidak istimewa karena gaungnya
sudah terdengar malah sejak dikeluarkan memorandum pertama
kepada Presiden Gus Dur. Namun yang menggembirakan, putusan
dewan itu tak sampai diikuti reaksi anarkis berlebihan dari para
pendukung Gus Dur, meski tetap tak sepi dari demonstrasi yang
menyuarakan penolakan, sekaligus meminta Presiden untuk segera
mengeluarkan dekrit sebagai balasannya.
Hasil rapat paripurna Dewan itu merupakan langkah baru dalam
upaya mengakhiri kemelut politik yang ternyata tak bermuara
kepada kompromi. Langkah selanjutnya akan tergantung pada
kesiapan MPR mengagendakan penyelenggaraannya, sekaligus
meyakinkan publik bahwa langkah yang ditempuh itu semata-mata
pemenuhan azas konstistusional untuk kepentingan seluruh Bangsa
Indonesia yang sedang menantikan kepastian.
Kita berharap putusan dewan itu bisa diterima semua pihak dengan
lapang dada, dan dianggap sebagai bagian dari dinamika proes
demokratsasi yang sudah kita sepakati untuk diteruskan lajunya.
Kita juga berharap, putusan tersebut tak dinilai picik oleh
pemerintah, terutama Presiden Gus Dur, yakni sekedar dianggap
taktik politis untuk melengserkan Kepala Negara.
Putusan dewan itu seyogiagnya ditanggapi Presiden dengan bijak,
arif dan reaksi positif. Akan lebih bermanfaat bila Gus Dur
mampu menunjukkan kinerja lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya
untuk meyakinkan rakyat bahwa pihak pemerintah pun sedang
berupaya melakukan recovery di segala bidang semata-mata
demi kepentingan rakyat.
Sebaliknya, jika putusan tersebut ditanggapi dengan reaksi
negatif dan mengundang kontroversi baru, yang akan terjadi
kemudian justru semakin terbuka peluang kejatuhan Presiden.
Sebab, hal itu akan ditafsirkan sebagai apologia atau upaya
pembelaan diri yang semata-mata demi kelanggengan kekuasaan.
Langkah awal yang bijak dan masih bisa dilakukan Gus Dur antara
lain menenangkan para pendukungnya, dan memberi pengertian
kepada mereka bahwa putusan dewan tersebut bukan vonis yang
secara otomatis akan berakhir dengan pemberhentian Presiden.
Masih tersedia peluang untuk menghindarinya dalam forum
pertanggungjawaban, bila yang kelak disampaikan memang realistis
dan mencerminkan kesungguhan Presiden membawa bangsa ini ke luar
dari belitan krisis. Namun bila pidato pertanggungjawaban yang
disampaikan hanya sekedar teks pembelaan diri yang susah dicari
kebenarannya dalam perjalanan Gus Dur selama menjadi Presiden,
maka boleh jadi usulan pemberhentian yang akan dilontarkan para
anggota majelis.
Saat ini bola sudah digulirkan dari Senayan ke Istana Negara.
Tinggal menunggu reaksi Presiden untuk menggulirkannya lagi ke
arah mana: kembali ke Senayan lantas ke Istana, atau ditendang
ke Senayan namun memantul ke Ciganjur? Gus Dur sendiri yang
paling tahu dan memahami konsekuensi yang bakal dihadapi dari
reaksinya. Sebagai rakyat, kita cuma bisa berharap,
mudah-mudahan Presiden masih memiliki kearifan untuk tidak salah
menendang.
zainal muttaqien
Trans Sumatera
31 Mei 2001
|