|
Rekomendasi NU
RAPAT pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Celegon,
Minggu (14-4) menghasilkan rekomendasi sebagai sikap atas
kondisi perjalanan kehidupan berbangsa yang kian memprihatinkan.
Substansi rekomendasi tersebut meliputi: imbauan kepada para
pemimpin untuk menghentikan euforia yang berkepanjangan, para
elite segera menghentikan pertikaan dan sedikit mengalah agar
tecapai kemenangan demokrasi, meminta elite poltik bersikap arif
dan menyejukkan situasi.
Selain itu, PBNU juga menyerukan seluruh komponen bangsa agar
bersama-sama komit untuk menyelematkan negara dan kepada
kalangan pers mengimbau untuk mengurangi pemberitaan pertikaian
antar-elite.
Rekomendasi lainnya, meminta agar kinerja pemerintah lebih
diperbaiki sampai ujung limit pelayanan publik. PBNU juga
menyatakan mendukung gagasan presiden tentang clean
government, dan minta gagasan tentang pembuktian terbalik
guna penyelidikan KKN didukung dengan perangkat hukum.
Pada bagian lain rekomendasi itu, PBNU juga menilai bahwa sikap
apriori, arogansi, kemunafikan, menonjolkan kepentingan sendiri,
memaksakan kehendak, mengabaikan hukum, dan merendahkan martabat
manusia telah menjadi budaya atau gaya hidup di negeri ini.
Secara substantif, rekomendasi PBNU itu patut mendapat dukungan
seluruh masyarakat karena intinya berupa ajakan, imbauan,
teguran, dan kritik terhadap para pemimpin, khususnya para
penguasa, agar segera kembali kepada tugas utama mereka sebagai
pemegang amanat rakyat untuk mewujudkan kebesaran bangsa.
Yang menjadi persoalan, rekomendasi tersebut bisa saja jadi
kehilangan efektifitas karena oleh sebagian kalangan boleh jadi
dianggap sekadar 'imbauan politis' lantaran terlontar dari 'kubu'
yang justru sedang turut terlibat dalam pertikaian antar-elite.
Setidaknya, masih berpotensi dicurigai sebagai dukungan
terselubung dari komunitas di mana Presiden Abdurrahman Wahid
masih menjadi figur sentralnya. Apalagi imbauan tersebut muncul
justru di saat posisi presiden sedang labil karena adanya
agenda-agenda Dewan Perwakilan Rakyat yang bisa saja bermuara
kepada Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Namun, tak semestinya pula kita serta merta berprasangka buruk
terhadap ajakan PBNU itu. Sejauh ajakan tersebut memang bermuara
kepada keinginan untuk kemaslahatan bersama, tak ada salahnya
memberikan dukungan. Tapi, tak seharusnya juga dukungan dimaksud
disampaikan secara membabibuta sekadar berlandaskan simpati atau
karena merasa menjadi bagian dari pihak yang sedang 'disudutkan'
oleh para 'oposisi' pemerintahan.
Sebenarnya selama ini kita sudah kerap mendengar imbauan, ajakan,
atau rekomendasi yang senada, baik yang disampaikan kalangan
pemerintahan, anggota dewan, tokoh-tokoh nasional, maupun
kalangan organisasi. Namun selama ini pula masih kita saksikan
bahwa imbauan-imbauan tersebut nyaris kehilangan daya persuasi
untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik dari kondisi kehidupan
berbangsa, bermasyarakat dan bernegara yang semakin carut marut.
Fakta tersebut merupakan indikasi bahwa mayoritas rakyat sudah
kadung kehilangan kepercayaan kepada para pemimpinnya, baik yang
secara formal berada di legislatif maupun eksekutif. Hilangnya
kepercayaan itu lebih karena sejauh ini rakyat belum melihat
para pemimpin menunjukkan sikap dan perilaku yang patut
diteladani, apalagi memperlihatkan kesungguhan menjaga amanat
untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa sebagaimana dicita-citakan
sejak republik ini berdiri.
Kita yakin, kalau sejauh ini mayoritas rakyat lebih memilih
bersikap diam dan nyaris apatis, bukan berarti kehilangan daya
kritis dalam menyikapi perkembangan penyelenggaraan pemerintahan,
khususnya dalam merealisasikan agenda-agenda reformasi secara
sungguh-sungguh. Keengganan turut hanyut dalam pusaran
pertikaian di antara para elite negeri itu lebih disebabkan oleh
sikap mempertanyakan "siapa" tokoh yang bicara ketimbang
menyimak "apa" yang dibicarakan sang tokoh. Sebab itu, banyak
imbauan atau ajakan yang secara substantif mengandung
pesan-pesan moral seringkali cuma menguap ditelan hiruk-pikuk
perseteruan.
zainal muttaqien
Trans Sumatera
16 April 2001
|