|
Urgensi Pemilu
SEMAKIN dekat ke hari H Pemilu, 7 Juni 1999, kian tampak ancaman
yang bisa menyebabkan perhelatan politik nasional itu gagal.
Peristiwa pengeboman Istiqlal hanya salah satu isyarat yang
dikomentari banyak pihak sebagai bagian bentuk ancaman tersebut.
Sementara ancaman lain yang tak kalah serius juga masih
menyemarak di berbagai daerah.
Kita masih mendengar adanya bentrokan fisik berdarah di Sambas,
Kalimantan Barat. Kontak senjata dan baku senjata tajam juga
masih terjadi --dan diperkirakan akan berlanjut-- di Timor Timur.
Belum lagi amuk massa yang berlangsung di Aceh, tuntutan
sejumlah warga Riau, sampai suasana di Ambon yang secara faktual
masih ibarat api dalam sekam.
Memang, gampang disimpulkan kalau peristiwa-peristiwa anarkis
tersebut dianggap sebagai ancaman nyata terhadap kelancaran
Pemilu. Sebab, pesta demokrasi untuk memilih wakil-wakil rakyat
itu tak mungkin terlaksana --setidaknya mustahil sempurna-- jika
digelar dalam suasana yang sarat kekacauan. Justru kondisi
chaos itu yang memungkinkan terjadinya perpanjangan
pemerintahan transisi dengan dalih negara masih dalam keadaan
darurat.
Namun sayangnya, meski banyak pihak menyepakati bahwa
bibit-bibit kekacauan itu sebagai ancaman terhadap pelaksanaan
Pemilu, toh belum begitu kentara hasil yang dicapai aparat
keamanan dalam upaya meredam atau bahkan memadamkannya. Hal
itulah yang pada gilirannya justru menyebabkan munculnya
kecurigaan bahwa pemerintah tak serius menyelesaikan kasus-kasus
yang bisa menyebabkan terjadinya disintegrasi bangsa. Bahkan
sampai merebak rumour bahwa kondisi mencekam dan menyebabkan
warga tak bisa tidur nyenyak itu memang sengaja diciptakan oleh
kekuatan pro status quo yang belum rela melepaskan
kekuasaan.
Kita memang tak bisa terus menerus terjebak dalam spekulasi yang
samar-samar kesimpulannya. Juga tak bisa hanya mengandalkan
ngelmu othak athik gathuk untuk menyimpulkan dari kemelut
nasional yang sedang berlangsung. Tetapi, kita juga tak
seharusnya membiarkan ketakpastian ini berlarut-larut karena
akibatnya hanya akan membawa bangsa ini semakin terpuruk.
Yang perlu kita sepakati bersama adalah bahwa pelaksanaan Pemilu
tahun ini sangat penting untuk perjalanan bangsa selanjutnya.
Karena, selain pemerintah yang ada saat ini hanya bersifat
transisional yang legitimasinya kerap dipertanyakan, juga Pemilu
kali ini sebagai uji coba kita untuk memasuki era demokrasi yang
sebenarnya.
Sebagai bangsa, semestinya kita malu pada diri sendiri. Sebagai
negara yang telah merdeka lebih dari setengah abad, sejarah
mencatat bahwa di negeri ini baru pernah ada dua presiden yang
notabene dua-duanya terpaksa harus mundur dari singgasana
kekuasaan karena desakan kondisi darurat. Dan bila pemilu kali
ini benar-benar gagal, dalam arti tak berhasil melahirkan
pemimpin nasional secara demokratis dan diterima mayoritas
rakyat, berarti kita hanya mengulang sejarah yang semestinya tak
kita ulangi. Itulah sebanarnya hakikat dari urgensi Pemilu tahun
ini yang seyogianya terlaksana dengan jujur dan adil.
zainal muttaqien
Lampung Post
23 Mei 1999
|