|
Semangat Qurban
KEMARIN, umat Islam merayakan Idul Adha. Momen ritual yang rutin
berlangsung setiap tahun itu, untuk tahun ini memiliki makna
sendiri untuk Indonesia, karena berlangsung dalam suasana negeri
yang justru kontradiksi dengan semangat Idul Adha yang antara
lain menuntut keihklasan melakukan pengorbanan.
Dalam setahun lebih perjalanan mewujudkan reformasi, semangat
pengorbanan itu seakan telah pupus berganti ketamakan berebut
posisi kekuasaan. Yang kentara di depan kita hanyalah adu taktik
di antara elite, baik untuk mempertahankan kekuasaan maupun yang
gigih memperjuangkan kekuasaan. Nyaris tak terlihat adanya
semangat berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara, kecuali
pernyataan-pernyataan yang umumnya sekadar lip service
politis yang pada hakikatnya mengelabui rakyat.
Kita berharap, semangat Iedul Adha masih mampu menyadarkan pada
petinggi negeri yang sedang diambang krisis multidimensi kedua
ini. Oleh karena itu, pemaknaannya tentu tak cukup hanya
disimbolisasi oleh 'lomba' penyerahan khewan kurban yang kerap
hanya tampak sekadar seremoni saja.
Salah satu kesadaran yang kita harapkan muncul dari para elite
yang selama ini terus bertikai, adalah ketulusan untuk
bersama-sama kembali menyambungkan tali ukhuwah yang kini
makin terkoyak. Dengan demikian masih tersisa harapan adanya
keinginan bersama para pemimpin negeri untuk mulai menata
berbagai sektor kehidupan demi kemajuan bangsa, yang selama ini
terabaikan.
Harapan itu memang selayaknya kita tuntut. Sebab sebagai
pemimpin negeri, para elite juga menjadi 'imam' bagi
kelompok-kelompok yang mendukungnya. Dan bila yang dikedepankan
masing-masing kelompok hanya semangat permusuhan --yang lebih
sering karena perebutan kekuasaan -- maka semangat itu pula yang
selanjutnya bakal menular ke lapisan masyarakat di bawahnya.
Kalau semangat ingin sama-sama menang yang terus menjadi bagian
ulah dan polah para elite, maka tak perlu heran bila kemudian
anarkisme terus menjadi bagian keseharian kehidupan bangsa ini.
Sebab hal itu juga sebagai cermin terjadinya proses peniruan,
selain telah lunturnya kepercayaan kepada para pemimpin yang di
mata rakyat sudah tak memiliki wibawa lagi.
Secara serampangan kita bisa menyebut kasus Sampit, sebagai
contoh, dengan menyimpulkannya sebagai pertikaian etnis. Namun
kita juga bisa menyangsikan kesimpulan tersebut manakala melihat
kenyataan bahwa ratusan etnis lainnya di berbagai daerah
adem-adem saja hidup berdampingan secara harmonis dalam
keseharian.
Justru bila penyimpulan yang cenderung hanya mengandalkan
peristiwa temporer sebagai pertimbangannya, sama saja dengan
meniup-niup api dalam sekam yang sesungguh tak menyimpan bahaya
bila tidak dikipas-kipas. Sebaliknya bila menyadari bahwa
kejadian semacam di Sampit itu sekadar ekses dari kehilangan
kepercayaan kepada pemimpin yang kemudian dimanfaatkan oleh
pihak yang menghendaki berlangsungnya instabilitas kehidupan
sosial, maka sudah saatnya para pemimpin mulai bersikap dan
bertindak yang memungkinkan memulihkan kepercayaan rakyat.
Berkaitan dengan momentum Iedul Adha, upaya pemulihan
kepercayaan rakyat itu antara lain bisa dilakukan dengan mulai
mewujudkan gerakan persaudaraan di antara semua elemen bangsa,
diawali dengan tindakan konkret para pemimpin. Realisasinya
tentu bukan bentuk-bentuk pertemuan yang justru semakin
memperuncing pertentangan karena munculnya berbagai kecurigaan.
Apalagi cuma jargon-jargon rekonsiliasi yang hanya berujung pada
pembagian kekuasaan seraya mengabaikan kepentingan masyarakat
luas.
zainal muttaqien
Trans Sumatera
06 Mei 2001
|