SORRY
ENGLISH VERSION
STILL UNDER CONSTRUCTION



amplop.gif

Perjalanan Herry Dim
Menembus kemarahan

Oleh : I. Bambang Sugiharto

Diantara sekian lukisan Herry Dim  yang langsung menyergap sensasi visual tentunya adalah rangkaian gambar besar berjudul “gonjangganjingnegeriku”.

Lukisan “gonjangganjingnegeriku” bukanlah serangkaian baliho. Kalau pun kita menganggapnya baliho, ia adalah baliho yang mengecoh. Gambar-gambar  raksasa pada latar depan  barangkali mesti dilihat justru sebagai  latar belakang. Sedang kotak-kotak semiotis  kecil pada bagian atas tiap bilahnya agaknya mesti dilihat sebagai latar depan. Saya melihat focus sesungguhnya terletak di sana : pada kotak-kotak yang senyap itu, bukan pada hingar-bingar besar sekelilingnya.

Bentuk berbagai figur  dengan sapuan besar dan kasar  dalam kanvas-kanvas raksasa itu memang tampak seperti potret  yang verbal  dan wantah  dari situasi krisis Indonesia di masa peralihan  tempohari.  Pelukisan yang nyaris sangat harfiah itu  sekilas membuatnya tak lebih dari poster jalanan dari kaum pergerakan atau grafiti  kemarahan bersimbah darah pada dinding-dinding kota  dari  para vandalis. Tapi tentu  bukanlah Herry Dim bila hanya berhenti disitu. Ada proses emosional menarik yang telah melahirkan karya-karya itu. Tapi juga  kesan itu bisa menjadi lain bila semua  kita tarik ke arah figur-figur kecil pada tiap kotak di setiap bilah  kanvas itu.

Lukisan-lukisan itu lahir dari  kekecewaan, bukan hanya atas situasi kemelut Indonesia, tapi terutama atas ketidakhadiran  si pelukis sendiri di saat kemelut itu berkobar membakar negerinya (saat itu ia sedang berada di luar negeri).  Format besar kanvas, karenanya, memberinya  semacam  sense of involvement, rasa keterlibatan pada  realitas yang lebih besar. Dan kenyataan bahwa tiap kali ia melanjutkan proses melukisnya persis saat matahari berada di  diatas ubun-ubunnya  -yang membuatnya terpanggang sinar matahari  selama  proses itu- membuat seluruh proses melukis itu bagai sebuah ritual aneh :  barangkali  semacam proses meledakkan kemarahan, merajam diri dengan rasa bersalah yang tak jelas, serentak menyiangi jaringan kemelut batin itu, merenungi tiap buhul jaringan tersebut, yang lantas bermuara pada bentuk ikon-ikon mungil pada tiap kotak kecil  di tengah  hiruk pikuk gambar besar itu. 

Ikon-ikon  kecil seperti mulut, korek-api, tangan mengepal, batu, wajah Ninja, dsb., itu  seperti setiap kali tiba-tiba membekukan gerak gejolak pada tiap bilah, membuat kita tersentak dan berhenti sejenak, keluar dari fenomen lalu barang sekelebat melongok essensi-essensi dari tiap gejolak. Menarik, juga oleh sebab ikon-ikon itu  digarap dengan teknik berbeda :  drawing yang  halus dan intens, berlawanan dengan sapuan-sapuan kuas sekelilingnya yang liar dan kasar. Dan umumnya ikon-ikon itu pun hitam putih saja, kontras dengan sekelilingnya yang  penuh warna :  seperti ajakan masuk sesaat ke dalam kesenyapan di antara gemuruh teriakan, atau  seperti  jendela-jendela  essensi yang ditemukan  setelah menerobos kabut  kemelut emosi.  Yang lebih menarik lagi adalah bahwa pada ikon daun sirih, lalu cabe, bawang putih dan  bawang daun, mulai ada warna lain, tidak lagi hitam putih. Sepertinya di situ  perenungan  sampai  pada sejenis  optimisme  baru?  Dan bila dilihat bahwa  daun sirih maupun cabe atau bawang adalah   unsur-unsur  dalam ritual tradisional untuk menolak bala,  maka  dengan itu  ada isyarat bahwa  perjalanan Herry Dim menembus amarah akhirnya  seperti sampai pada  tataran misteri, dan karenanya  lantas masuk ke wilayah transendental : wilayah dimana  perkara sosial-politik menunjuk lebih jauh pada  naluri-naluri terdalam terhadap kejahatan dan kebaikan, kematian dan kehidupan;  naluri yang akhirnya tak  pernah bisa  sepenuhnya dijelaskan. Agaknya  wilayah ritual transendental ini  pulalah yang umumnya bergema pada lukisan-lukisan lainnya. 

Hal lain yang menarik dari  lukisan “gonjangganjingnegeriku” adalah  sosok perempuan penari  yang   ada  di bagian bawah tiap bilah  kanvas itu. Dengan cepat ia seperti menunjuk pada  konsepsi “ibu pertiwi”, yang sedang menangis. Tapi  sosok perempuan  macam itu sebetulnya kerap muncul dalam lukisan  Herry Dim yang lain juga, sedemikian hingga  ia nyaris menggantikan fungsi identitasnya pribadi. Adakah ini berkaitan  pula dengan  kesukaannya meletakkan topeng  pada lukisan-lukisannya? Tak jelas memang. Yang jelas  Herry  jenis manusia yang tak  suka berkaca (dalam arti harfiah). Barangkali ada keterkaitan antara itu semua, namun tak mudah memang untuk menjelaskannya. Sepertinya figur ibu bukanlah hanya figur bumi atau ibu-pertiwi, ia serentak  bagian dari  identitas  psikologis, sosiologis, bahkan kosmis, Herry Dim sendiri. 

Perjalanan penjelajahan bentuk Herry Dim sebetulnya cukup panjang . Sekurang-kurangnya  ada masanya ia berkubang dalam pola surrealisme, lantas sempat pula mengeksplorasi  motif-motif etnis,  garis bentuk kanak-kanak,  teknik-teknik grafis, dsb. Menarik bahwa setelah itu,  pada  moment-moment  pengalaman emosional tinggi, ia  sepertinya  menemukan intensitasnya  justru pada bentuk-bentuk natural, pada  sosok-sosok kekonkritan :  daun sebagai daun, batu dalam rupa batu, dsb. Rupanya intensitas dan sublimitas pengalaman tak mesti identik dengan  keabstrakan.  Bisa  sebaliknya.***

Hosted by www.Geocities.ws

1