|
|
Herry Dim, pelukis, seniman seni cetak grafis, pekerja artistik untuk seni pertunjukan (teater), mengerjakan seni instalasi. Kadang-kadang menulis esei seni dan kebudayaan di berbagai media, kumpulan tulisannya sempat dibukukan dengan judul "Jawinul: Jalan-jalan di Rimba Kebudayaan" terbit pada 1995. Lahir di Bandung, 19 Mei 1955. Kecuali di bidang teater, ia termasuk seorang otodidak yang dengan sungguh-sungguh mempelajari ihwal ragam seni etnik, dasar-dasar menggambar (drawing), seni cetak grafis, dan seni lukis melalui berbagai sumber yang dicarinya sendiri ataupun dengan "berguru" pada seniman-seniman sebelumnya. "Diakui ataupun tidak, saya ini sesungguhnya lumayan cermat belajar pada Popo Iskandar, Srihadi S, Sunaryo, Sudjana Kerton, Jeihan, dan G. Sidharta lewat karya-karyanya ataupun lewat pergaulan. Seperti halnya saya belajar pada corak ragam seni Dayak hingga Papua, ukiran wayang hingga batik, Picasso hingga Joseph Beuys, dll. Mereka dan seluruh kehidupan ini, tak lain merupakan guru-guru saya," katanya suatu ketika. Ia mulai melukis sejak kecil dan intesifnya setelah lulus SMA. Selepas SMA di tahun 1973, ia "membuang diri" ke pulau Bali dengan maksud mencari guru melukis. Setelah mukim sekitar 6 bulan di Bali, ia meutuskan untuk bergabung dengan nelayan suku Bajo, dan tinggal di sebuah pula kecil bernama Tarupah di wilayah perairan Sulawesi Selatan. Selama itu pula ia mengikuti kehidupan nelayan, melaut dan mencari ikan ke berbagai pulau. Pada tahun 1975 ia bergabung dengan Bengkel Pelukis Jakarta yang saat itu dipimpin oleh Sulebar M. Sukarman dan Muryoto Harsoyo. Tahun 1976 bergabung dengan Sanggar Garajas di bilangan Jakarta Selatan yang anggota-anggotanya adalah seniman muda serta kalangan ilustrator. Tahun 1978 ia kembali ke Bandung, tahun 1983 bersama seniman-seniman lainnya seperti Rudy Pranadjaya, Nana Banna, dan Benny Somantri (alm.) mendirikan Kelompok Seniman Bandung, kemudian aktif menggalang kegiatan seni dan berbagai pameran. Tahun 1991 membangun komunitas kegiatan R-66 bersama Heyi Ma'mun, Mamannoor, Biranul Anas, Aten Waluya, Sudianto Aly, dll. Sejak tahun 1975 - 1976, ia telah mengikuti berbagai pameran bersama Bengkel Pelukis Jakarta. Tahun 1976 - 1978, mengikuti pameran-pameran bersama Sanggar Garajas. Tahun 1978 - 1983, kegiatannya lebih banyak di panggung teater. Tahun 1983 - 1990, menyelenggarakan dan mengikuti berbagai pameran bersama Kelompok Seniman Bandung. Tahun 1990 - 1993, mengikuti pameran-pameran bersama R-66. Beberapa pameran penting yang diikutinya antara lain : International Exhibition of Asian Artists (Bandung), Biennale Yogyakarta, Festival Istiqlal, Biennale Jakarta, Non-Aligned Countries Contemporary Art Exhibition, 3 Indonesian Contemporary Artists, Rites to the Earth, International Exhibition of Asian Artists (Kualalumpur), International Exhibition of Asian Artists (Fukuoka). Pada bulan Mei hingga Agustus 1996, ia diundang oleh Kulturby Art Foundation untuk mengikuti pameran besar senirupa kontemporer dengan tajuk Container 96 : Art Accross the Oceans di Copenhagen, Denmark. Serta pada tahun yang sama mengikuti pameran 6 Indonesian Painters di Darga & Lansberg Gallery, Paris, 1998. Pameran tunggalnya yang pernah diselenggarakan adalah Senirupa Ritus - Ritus Senirupa (1986), Senirupa dan Sastra (1991), Menyongsong Millenium ke-3 (1993), Instalasi 10 Biografi (1993-94), Lukisan dan Instalasi "Sebuah Ruang Tamu Tak Berpenghuni" sebagai ungkapan keprihatinan atas peristiwa bredel tiga media cetak (1994), Instalasi dan Senirupa Pertunjukan Bebegig berkolaborasi dengan Perjalanan ke Timur-nya Hendrawan Riyanto (1994), pameran seni cetak grafis tiga kota BiasSahaja (Bandung, Jakarta, Yogyakarta, 1999), kolaborasi senirupa pertunjukan Doa bagi Sebuah Negeri (STSI Bandung dan Galeri Nasional Indonesia, 2000). Ia pun berkesempatan pergi ke kota Berlin selama 6 bulan, antara lain sempat melakukan kegiatan seni di Mime Centrum dengan seniman setempat dan seniman Ethiopia. Banyak pula karya-karya senirupa-nya yang digabung hingga membentuk karya kolaborasi antara lain seperti Overdose pertunjukan musik bersama Harry Roesli; 24 Jam bersama Dieter Mack, gelaran keprihatinan atas peristiwa bredel; Instalasi Rakit bersama Endo Suanda, Hendrawan Riyanto, Harry Roesli, Rendra, Putu Wijaya, Wawan S. Husin, dll.; Metateater Dunia Tanpa Makna bersama Harry Roesli & Payung Hitam; Pohaci & Bebegig bersama istrinya, Ine Arini, yang seorang penari; Instalai Guguran Daun dalam pembacaan sajak sejumlah penyair Indonesia di TB Surakarta; Instalasi Onggokan Nasi bersama Rendra, Instalasi Menyapa Angin di Candi Cetho bersama Rendra, dll. Akan panjang catatan ini jika ditambah dengan karya-karya artistiknya untuk berbagai pertunjukan teater hingga karya-karya desain grafisnya untuk berbagai penerbitan. Sepanjang karier senirupanya, ia pernah melewati 4 periode penting. Pertama, periode etnik, yaitu saat ia melakukan studi terhadap esensi dan simbol-simbol seni etnik, khususnya yang bersumber pada dasar kebudayaan masyarakat Kanekes (dasar kebudayaan suku Sunda), serta dari pergaulannya selama lebih dari satu tahun dengan suku Bajo di perairan Sulawesi. Pameran tunggalnya yang bertajuk Senirupa Ritus - Ritus Senirupa lahir pada periode ini. Kedua, periode biru dan boom lukisan, ia kembali ke masa lalunya dalam artian mengolah kembali keterampilannya dalam menggambar (drawing) dan melukis model dengan pilihan warna monokrom biru. Selewat masa itu, warna-warna dalam karya lukisnya kembali muncul malah sepertinya menjadi koloris (colorist), kecenderungannya ini tumbuh bersamaan dengan situasi boom lukisan yang pernah terjadi di tanah air. Ketiga, periode anak-anak, satu periode pendek ketika ia begitu asyik melakukan kegiatan melukis bersama anaknya yang ketika itu berusia 4 tahun. Bisa disebut sebagai periode yang penuh gairah dan keliaran, dimana ia berkesempatan menengok kembali wilayah-wilayah yang paling archais dalam hidupnya. Keempat, periode Pohaci, saat ini yaitu saat ia sepertinya tengah menjumput kembali sejumlah pengalaman seninya, mencoba menggabungkannya dan membangun sesuatu yang sama sekali baru. Saat inilah ia tengah pulang-pergi antara masa lalu, saat ini, dan pandangannya ke masa depan. Maka tak heran jika kemudian ia menemukan kembali memorinya terhadap Pohaci (ibu padi, ibu bumi, pertiwi) dan bebegig (orang-orangan di sawah), yang kerapkali muncul khususnya dalam karya-karya kontemporer dan karya-karya seni instalasinya. Saat ia menjumput "bebegig" sebagai diskursus, pikiran dan nuraninya seperti ingin menyatakan tentang bagaimana harkat petani (dan rakyat pada umumnya) itu di"bebegig"kan oleh kekuasaan penguasa Indonesia era Orde Baru ataupun oleh gaya hidup dan ekonomi urban. Dalam situasi itu pula ia tak henti-hentinya membuat karya-karya (lukis) berupa catatan-catatan atas berbagai peristiwa. (A.R.S)*** |