Updated: Feb 2006

PASKI (Persatuan Ahli Sejarah Kekristenan Indonesia)
Society for Indonesia Christianity Historians

 

INFORMASI BUKU BARU

 

Dalam kurun waktu sekitar empat tahun terakhir ini telah terbit sejumlah buku baru di bidang - ataupun yang bersangkut-paut dengan - Sejarah Gereja/Kekristenan Indonesia, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa asing. Yang dapat diinformasikan di sini sebagian besar adalah buku-buku berbahasa Indonesia, itupun hanya sebagian saja. Di antara buku-buku ini ada yang merupakan sejarah gereja/jemaat lokal. Ini memperlihatkan kian bertumbuhnya kesadaran dari gereja pada aras lokal untuk menulis sejarahnya. Apakah isinya sudah sungguh-sungguh memperlihatkan kajian sejarah yang baik, tak perlu kita persoalkan. Bila dari antara pembaca ada yang mengetahui buku-buku lain, mohon diinformasikan, agar dapat dimuat dalam buletin nomor-nomor berikutnya. Redaksi buletin ini juga sangat senang bila informasi buku baru itu disajikan dalam bentuk resensi atau timbangan buku.

 

Mengenai Gereja Katolik

Huub J.H.M. Boelars, OFM Cap., Indonesianisasi – Dari Gereja Katolik di Indonesia Menjadi Gereja Katolik Indonesia. Yogyakarta: Kanisius, 2005, 540 hlm.

Buku ini merupakan terjemahan dari edisi Belanda, Indonesianisasi. Kampen: J.H. Kok, 1991. Seperti tercermin dari judul dan sub-judulnya, buku ini hendak memperlihatkan bahwa Gereja Katolik tidak hanya datang dari luar lalu bekerja di Indonesia (sebagai unsur asing), melainkan memperlihatkan wajah Indonesia, baik pekerjanya (imam, misionaris, dst.) maupun bentuk-bentuk dan cara-cara pengungkapan iman dan jatidirinya. Buku ini diakhiri dengan bab 10 yang berisi refleksi tentang pertumbuhan ke arah Gereja khas yang dewasa dan integrasi Gereja dalam masyarakat Indonesia.

Karel Steenbrink, Catholics in Indonesia 1808-1900 – A documented history. Leiden: KITLV, 528 hlm.

Ini merupakan jilid 1 dari dua jilid (jilid 2 akan mencakup periode 1900/03-1942 dan direncanakan terbit awal 2006). Buku ini memberi gambaran tentang perkembangan Gereja Katolik di berbagai kawasan di Indonesia (Bangka, Borneo, Sumatra, Flores, Timor, Sulawesi Tenggara, Minahasa, Maluku, dan Jawa Tengah). Sebagaimana terlihat pada sub-judulnya, hampir setengah dari isi buku ini (h. 235-460) berisi salinan dokumen-dokumen (sumber primer) yang ditulis dalam berbagai bahasa: Latin, Belanda, dan Melayu), sedangkan bagian awal (h. 1-234) berupa deskripsi dan analisis atas data yang diperoleh dari dokumen-dokumen sumber itu. Sisanya berisi berbagai lampiran (daftar, statistik, dsb.) yang juga berharga untuk memahami kiprah Gereja Katolik pada masa ini.

Kees de Jong, Menjadikan Segala-galanya Baik – Sejarah Gereja Katolik di Pulau Muna 1885-1985. Yogyakarta: Kanisius, 2002, 324 hlm.

Buku ini membahas sejarah Gereja Katolik di Sulawesi Tenggara, dengan fokus Pulau Muna, dalam kurun waktu sekitar satu abad. Misionaris, termasuk para suster yang bekerja dan melayani di sana berasal dari berbagai tarekat (ordo) dan buahnya sungguh membangkitkan rasa syukur. “Sejarah yang disusun dengan banyak narasi dan berbagai wawancara dan surat para misionaris ini menunjukkan bahwa Kabar Gembira sungguh berbuah manakala menjawab situasi sezaman.” (dikutip dari sampul belakang).

Mengenai [Gedung] Gereja di Jakarta

A. Heuken SJ. Gereja-gereja tua di Jakarta. Jakarta: Cipta Loka Caraka, 2003, 240 hlm.

Buku ini merupakan buku pertama dari seri “Gedung-gedung ibadat yang tua di Jakarta” Dua buku lainnya adalah Mesjid-mesjid Tua di Jakarta dan Klenteng-klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta. Adolf Heuken antara lain terkenal karena kepakarannya mengenai Sejarah Jakarta, bukan hanya menyangkut gedung-gedung dan kehidupan keagamaan, melainkan juga menyangkut sejarah Jakarta secara umum. Tentang ini ada tiga jilid buku yang disusunnya: Sumber-sumber asli sejarah Jakarta, yang juga sudah diterbitkan CLC.

Dalam buku Gereja-gereja tua di Jakarta ini ditampilkan sejumlah gedung gereja sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, baik milik Gereja Katolik maupun Protestan (termasuk Anglican).

Mengenai Gereja Bali

Nyoman Wijaya, Serat Salib dalam Lintas BaliMenapak jejak pengalaman keluarga GKPB (Gereja Kristen Protestan Bali) 1931-2001. Denpasar: Yayasan Samaritan, 2003, 686 hlm.

Berbeda dari buku-buku sebelumnya tentang sejarah gereja di Bali yang lebih bersifat akademik-analitik, buku ini lebih bergaya narasi; bertutur tentang periatiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh (termasuk kelompok orang Bali tertentu) yang mencerminkan pergulatan iman yang luarbiasa, termasuk juga derita, dalam mengungkapkan keyakinan mereka terhadap Kristus. Juga dikemukakan bagaimana orang Kristen Bali memberi tempat kepada nilai-nilai dan unsur-unsur budaya Bali di dalam kehidupan iman dan gereja. Gaya bertutur seperti ini patut dipertimbangkan dan dicontoh oleh komunitas Kristen dan gereja lain.

Mengenai [Beberapa Tokoh Pribumi di] Gereja Batak pada Zaman Zending

Ada trilogi karya P.T.D. Sihombing yang sekaligus terbit, yaitu

1.       Benih yang Disemai dan Buah yang Menyebar – Seluk-beluk proses penginjilan dalam masa keperintisan Rheinische Missions-Gesellschaft di Tanah Batak 1857-1900-an. Jakarta: Albert-Orem Ministry, 2004, 503 hlm. Buku ini terutama bertutur tentang Evangelis Daniel Hutabarat dan isterinya Maria boru Siregar beserta anak, menantu, cucu dan iparnya (Guru Samuel Siregar) di tanah Batak maupun di Pulau Jawa.

2.       Tahbisan Istimewa – Riwayat pelayanan keperintisan Pendeta Josia Hutabarat mendirikan, membina dan melayani jemaat Batakmission Medan pada dasawarsa 1910-1920-an. Jakarta: Albert-Orem Ministry, 2004, 253 hlm. Seperti terlihat pada sub-judulnya, buku ini terutama bertutur tentang Josia Hutabarat, putera Daniel Hutabarat.

3.       Arga do Bona ni PinasaHikayat pelayanan keperintisan reverend Lamsana Lumbantobing pada Misi Rheinische Missions-Gesellschaft dan Methodist Episcopal Church di Tanah Batak, Singapura, Jawa Barat, Asahan, dan Binjai-Medan, 1889-1930. Jakarta: Albert-Orem Ministry, 2004, 329 hlm. Buku ini sekaligus memperlihatkan relasi maupun ketegangan antara RMG dan misi Methodist di Sumetra Utara.

Mengenai Toraja

Terance W. Bigalke, Tana Toraja: A Social History of an Indonesian People. Leiden: KITLV, 2005, 395 hlm.

Buku ini bukan merupakan kajian historis atas Gereja Toraja, melainkan atas masyarakat Toraja. Tetapi karena gereja dan masyarakat di Toraja sangat berhubungan erat maka banyak isi buku ini yang juga mengkaji kehidupan warga Gereja Toraja. Dalam perkembangan studi sejarah gereja semakin disadari bahwa kajian sosial-kultural seperti ini sangat penting untuk memahami sosok, kiprah dan pergumulan sebuah gereja. Buku ini merupakan contoh yang sangat baik tentang sumbangan ilmu-ilmu sosial dalam studi sejarah gereja.

Mengenai Poso

Rinaldy Damanik, Tragedi Kemanusiaan Poso – Menggapai surya pagi melalui kegelapan malam. Jakarta: PBHI, Yakoma PGI & CD Bethesda, 2003, 307 hlm.

Buku ini juga bukan kajian historis atas gereja di Poso, d.h.i. GKST, melainkan berisi potret Poso yang mengalami berbagai tragedi (kerusuhan, konflik horizontal dan vertikal, dsb.) terutama pada kurun waktu 2000-2002. Sebagian isi buku ini ditulis Damanik ketika ia – sebagai Sekum GKST dan Koordinator Crisis Centre GKST - menjadi tahanan (bahkan kemudian divonis 3 tahun penjara pada tanggal 16 Juni 2003, setelah buku ini terbit). Prolog yang ditulis George J. Aditjondro semakin memperjelas berbagai permainan kotor kalangan panguasa dan pengusaha di Poso, yang pada gilirannya menyengsarakan rakyat setempat, bukan hanya yang Kristen tetapi juga yang Muslim.

Mengenai Maluku

John Chr. Ruhulessin, Etika Publik – Menggali dari Tradisi Pela di Maluku. Salatiga: UK Satya Wacana, 2005, 331 hlm. (disertasi).

Buku ini  - seperti tercermin dari judulnya - sebenarnya tidak merupakan kajian historis atas tradisi Pela di Maluku ataupun atas GPM. Tetapi ada satu bagian di dalamnya (bab 4) yang memperlihatkan tempat tradisi Pela dalam konteks sejarah masyarakat Maluku, termasuk perjumpaannya dengan Islam. Karena itu tulisan ini dapat juga memberi sumbangan dalam memahami dinamika pertumbuhan dan pergumulan GPM di tengah konteks sosial-kultural-politisnya.

Mengenai Papua

Theodor Rathgeber (ed.), Economic, Social and Cultural Rights in West Papua – A Study on Social reality and Political Perspectives. Wuppertal: The Evangelical Church in the Rheinland/Foedus Verlag, 2005, 224 hlm.

Buku ini juga bukan merupakan hasil studi sejarah gereja. Tetapi tulisan-tulisan di dalamnya (dari T. Rathgeber, Willy Mandowen, Sigfried Zöllner, Hermien Rumbrar, Agus Sumule, dan Theo van den Broek) sangat menolong untuk memahami situasi dan pergumulan gereja dan umat Kristiani di Papua. Hak-hak masyarakat yang dirampok oleh berbagai kalangan (terutama penguasa politik dan ekonomi) menjadi bagian dari realitas kehidupan dan pergumulan gereja di sana. Pada bagian Penutup (Concluding Remarks and Recommendations) ada dorongan kepada gereja-gereja di sana – Protestan maupun Katolik – untuk semakin berperan dalam melindungi hak-hak asasi manusia maupun untuk memelihara dan membangun infrastruktur sosial dan ekonomi yang cocok bagi masyarakat pribumi.

Mengenai Gereja Methodist Indonesia

Richard M. Daulay, Mengenal Gereja Methodist Indonesia. Jakarta: BPK GM, 2003, 176 hlm.

Buku ini merupakan kumpulan artikel dan makalah bercorak populer yang ditulis dan disajikan Daulay selama kurun waktu 1990–2002 di berbagai kesempatan. Beberapa di antaranya menyangkut sejarah perkembangan GMI, sedangkan yang lain menyangkut berbagai hal yang terlihat dalam kehidupan dan aktivitas gereja ini, a.l. ajaran, sistem dan struktur organisasi, sistem kepemimpinan, berbagai krisis yang pernah dialami GMI, dan pendidikan teologi yang diselenggarakannya.

Mengenai beberapa gereja Pentakostal

M. Ferry H. Kakiay, H.L. Senduk Bapa Rohani GBI – Sejarah, Kepemimpinan, Teologi, Visi dan Misi. Jakarta: Gereja Bethel Indonesia Jemaat Kapernaum, 2001, xxi+115 hlm.

Buku ini berupaya menggambarkan sosok tokoh pendiri GBI, terutama liku-liku pelayanan, kepemimpinan dan pemikiran teologisnya. Kehadiran tokoh ini ditempatkan dalam konteks sejarah pelayanan gereja-gereja dan tokoh-tokoh gereja sejak zaman Gereja Lama, zaman Reformasi, zaman Pietisme/Revivalisme hingga munculnya “Reformed Injili”. Dengan itu hendak dikatakan bahwa ada benang merah yang menghubungkan gereja sepanjang abad dengan gereja-gereja Pentakostal di Indonesia, khususnya GBI, termasuk secara teologis. Tetapi dari buku ini tidak dapat diharapkan analisis yang mendalam tentang kesinambungan historis dan pemikiran teologis itu.

Pengajaran Dasar Gereja Bethel Indonesia. Jakarta: Departemen Teologia BPS GBI, 2004, 183 hlm.

Belum banyak gereja di Indonesia yang telah berhasil merumuskan dan menyusun ajarannya secara  cukup lengkap; GBI adalah satu di antara yang sedikit itu. Ini menjadi menarik, karena selama ini ada anggapan bahwa gereja-gereja Pentakostal kurang menyukai rumusan-rumusan yang baku – menyangkut ajaran, tata ibadah, tata gereja, dsb. – karena bisa dianggap menghalangi pekerjaan Roh Kudus. Ternyata GBI dapat menepis anggapan itu. Fakta ini sekaligus memperlihatkan bahwa GBI memiliki sejumlah teolog, khususnya dogmatikus, yang handal, kendati harus diakui juga bahwa cukup banyak pendetanya yang tidak berpendidikan teologi. Cukup menarik, dalam Daftar Buku Bacaan di bagian belakang buku ini kita menemukan buku-buku standar di kalangan gereja-gereja ‘arus utama’ atau ‘tradisional’, a.l. G.C. van Niftrik & B.J. Boland: Dogmatika Masa Kini, Soedarmo: Ikhtisar Dogmatika; J. Verkuyl: Aku Percaya; Th. van den End: Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, dan J.L.Ch. Abineno: Pokok-pokok Penting dari Iman Kristen.

Indrawan Eleeas, Gerakan Pentakosta – berkaitan dengan Sejarah & Teologia Gereja Isa Almasih. Semarang: MPH Sinode Gereja Isa Almasih, 2005, 154 hlm.

Buku ini hendak memperlihatkan bahwa sejarah dan ajaran GIA berpangkal dan berakar pada gerakan Pentakostal yang muncul di AS sejak 1901. Setelah menguraikan sejarah berdirinya GIA, termasuk peranan tokoh utamanya, Pdt. Tan Hok Tjoan, disajikan juga ikhtisar keputusan Konferensi Gereja Sing Ling Kauw Hwee dan Sidang Sinode GIA. Juga dicatat masuknya GIA menjadi anggota DGI pada tahun 1956 sebagai anggota pertama dari kalangan Pentakostal. Fakta ini hendak memperlihatkan bahwa di kalangan Pentakostal juga terdapat jiwa dan semangat ekumenis, seperti yang misalnya diperlihatkan juga oleh David J. du Plessis, tokoh legendaris-ekumenis-pentakostal, pendeta Sidang Jemaat Allah di Afrika Selatan, di lingkungan WCC/DGD.

Mengenai Sejarah Jemaat-jemaat Lokal

Tim Redaksi Buku HUT GKBJ, Misioner atau Demisioner? – Refleksi 50 Tahun Kehadiran GKBJ (1950-2002. Jakarta: BPK GM & Sekretariat GKBJ, 2002, 289 hlm.

Pertanyaan pokok yang hendak dijawab dalam buku yang berisi paparan historis dan refleksi teologis ini adalah: Apakah GKBJ (Gereja Kristen Baptis Jakarta) sudah menjadi gereja yang misioner atau sebetulnya dalam kondisi demisioner, yakni tidak lagi mengemban mandat yang diberikan Kristus? Pertanyaan ini memang tidak dijawab dengan tuntas dalam 25 tulisan yang dihimpun di dalamnya, tetapi ini merupakan contoh yang baik dari keberanian sebuah gereja lokal untuk melakukan introspeksi dan perenungan-ulang atas makna kehadirannya.

E.P. Sembiring (ed.), 50 Tahun Perjalanan yang Tak Kenal Lelah. Jakarta: GBKP Jakarta Pusat, 2005, 196 hlm.

Buku ini merupakan salah satu contoh tentang bangkitnya kesadaran para aras lokal untuk menulis sejarahnya. Dalam bahasa penyuntingnya: “Ada gejala yang menarik untuk diamati dalam tumbuh kembangnya Gereja Batak Karo protestan (GBKP) khususnya dan orang Karo umumnya, yaitu “menetaskan” budaya menulis sejarah. Gejala ini merupakan barometer, adanya peningkatan wawasan dan pendidikan.” Seperti layaknya buku kenangan dan yubileum dari sebuah jemaat lokal, buku ini memuat banyak nama yang dianggap sebagai tokoh atau pelaku sejarah di Jemaat GBKP Jakarta Pusat. Juga banyak perhatian dan ruang diberikan kepada seluk-beluk gedungnya yang megah itu. Toh ada juga bab yang berisi refleksi teologis, yakni bab V: Tantangan, Ancaman dan Harapan.

P.T.D. Sihombing, Terpanggil Menjadi Garam Dunia – 50 Tahun HKBP Menteng-Jalan Jambu, Jakarta dalam Perjalanan Pelayanannya. Jakarta: HKBP Menteng-Jalan Jambu, 2005, 328 hlm.

Buku ini juga merupakan satu contoh lain tentang adanya kesadaran historis pada sebuah jemaat lokal. Untuk mengupayakan objektivitas, jemaat ini meminta jasa seorang penulis dari luar jemaat. Konsekuensi yang segera tampak adalah: penulisnya memasukkan banyak data dan informasi yang tidak langsung berkait dengan sejarah jemaat ini (bahkan oleh kalangan tertentu dianggap meleset), walaupun maksudnya baik, yaitu untuk memberi latar belakang dan konteks yang luas terhadap kelahiran dan keberadaan jemaat yang terkenal ini. Ada beberapa warga jemaat mengemukakan ketidak-sepahaman terhadap isi buku yang tampilan fisiknya cukup bagus ini. Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa menulis sejarah sebuah jemaat lokal pun bukan pekerjaan yang mudah.

Mengenai Perjumpaan dengan Islam

Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia. Jakarta: BPK GM, 2004, xxviii+666 hlm.

Buku yang mencakup kurun waktu sekitar lima abad ini merupakan semacam kompendium dari data yang menggambarkan proses perjumpaan kedua agama samawi ini, terutama di bidang politik (walaupun di sana sini juga dikemukakan perjumpaan di berbagai ranah lain: sosial, budaya, literatur menyangkut ajaran, dsb.). Pada awalnya buku ini dimaksudkan sebagai bacaan bagi mahasiswa teologi Kristen. Tetapi karena diberi Kata Pengantar oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jadilah buku ini menjadi bacaan juga di lingkungan IAIN/UIN. Sejak diterbitkan, hingga cetak-ulang tahun 2005, buku ini mengundang berbagai tanggapan, termasuk kritik yang cukup tajam tetapi juga konstruktif.

 

Redaksi Buletin PASKI

 

 

 

 

 

 


Sekretariat: PDSGI STT JAKARTA.
Jl Proklamasi 27 Jakarta Pusat 10320 Indonesia

Contact Persons:

Dr. Jan S. Aritonang
email:[email protected]

Drs. Sylvana Apituley
email:[email protected]

 

 

 

 


webmanager: [email protected]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 
 

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1