INFORMASI
BUKU BARU
Dalam kurun waktu sekitar empat tahun terakhir ini telah terbit sejumlah buku
baru di bidang - ataupun yang bersangkut-paut
dengan - Sejarah Gereja/Kekristenan Indonesia,
baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa
asing. Yang dapat diinformasikan di sini sebagian
besar adalah buku-buku berbahasa Indonesia, itupun
hanya sebagian saja. Di antara buku-buku ini ada
yang merupakan sejarah gereja/jemaat lokal. Ini
memperlihatkan kian bertumbuhnya kesadaran dari
gereja pada aras lokal untuk menulis sejarahnya.
Apakah isinya sudah sungguh-sungguh memperlihatkan
kajian sejarah yang baik, tak perlu kita persoalkan.
Bila dari antara pembaca ada yang mengetahui buku-buku
lain, mohon diinformasikan, agar dapat dimuat
dalam buletin nomor-nomor berikutnya. Redaksi
buletin ini juga sangat senang bila informasi
buku baru itu disajikan dalam bentuk resensi atau
timbangan buku.
Mengenai Gereja Katolik
Huub J.H.M. Boelars, OFM Cap., Indonesianisasi
– Dari Gereja Katolik di Indonesia Menjadi Gereja
Katolik Indonesia. Yogyakarta: Kanisius, 2005,
540 hlm.
Buku ini merupakan terjemahan
dari edisi Belanda, Indonesianisasi.
Kampen: J.H. Kok, 1991. Seperti tercermin dari
judul dan sub-judulnya, buku ini hendak memperlihatkan
bahwa Gereja Katolik tidak hanya datang dari luar
lalu bekerja di Indonesia (sebagai unsur
asing), melainkan memperlihatkan wajah Indonesia,
baik pekerjanya (imam, misionaris, dst.) maupun
bentuk-bentuk dan cara-cara pengungkapan iman
dan jatidirinya. Buku ini diakhiri dengan bab
10 yang berisi refleksi tentang pertumbuhan ke
arah Gereja khas yang dewasa dan integrasi Gereja
dalam masyarakat Indonesia.
Karel Steenbrink, Catholics in Indonesia 1808-1900
– A documented history. Leiden: KITLV, 528
hlm.
Ini merupakan jilid 1 dari dua jilid
(jilid 2 akan mencakup periode 1900/03-1942 dan
direncanakan terbit awal 2006). Buku ini memberi
gambaran tentang perkembangan Gereja Katolik di
berbagai kawasan di Indonesia (Bangka, Borneo,
Sumatra, Flores, Timor, Sulawesi Tenggara, Minahasa,
Maluku, dan Jawa Tengah). Sebagaimana terlihat
pada sub-judulnya, hampir setengah dari isi buku
ini (h. 235-460) berisi salinan dokumen-dokumen
(sumber primer) yang ditulis dalam berbagai bahasa:
Latin, Belanda, dan Melayu), sedangkan bagian
awal (h. 1-234) berupa deskripsi dan analisis
atas data yang diperoleh dari dokumen-dokumen
sumber itu. Sisanya berisi berbagai lampiran (daftar,
statistik, dsb.) yang juga berharga untuk memahami
kiprah Gereja Katolik pada masa ini.
Kees de Jong, Menjadikan Segala-galanya Baik
– Sejarah Gereja Katolik di Pulau Muna 1885-1985.
Yogyakarta: Kanisius, 2002, 324 hlm.
Buku ini membahas sejarah
Gereja Katolik di Sulawesi Tenggara, dengan fokus
Pulau Muna, dalam kurun waktu sekitar satu abad.
Misionaris, termasuk para suster yang bekerja
dan melayani di sana berasal dari berbagai tarekat
(ordo) dan buahnya sungguh membangkitkan rasa
syukur. “Sejarah yang disusun dengan banyak narasi
dan berbagai wawancara dan surat para misionaris
ini menunjukkan bahwa Kabar Gembira sungguh berbuah
manakala menjawab situasi sezaman.” (dikutip dari
sampul belakang).
Mengenai [Gedung] Gereja di Jakarta
A.
Heuken SJ. Gereja-gereja
tua di Jakarta. Jakarta: Cipta Loka Caraka,
2003, 240 hlm.
Buku ini merupakan buku pertama dari seri “Gedung-gedung
ibadat yang tua di Jakarta” Dua buku lainnya adalah
Mesjid-mesjid Tua di Jakarta dan Klenteng-klenteng
dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta. Adolf
Heuken antara lain terkenal karena kepakarannya
mengenai Sejarah Jakarta, bukan hanya menyangkut
gedung-gedung dan kehidupan keagamaan, melainkan
juga menyangkut sejarah Jakarta secara umum. Tentang
ini ada tiga jilid buku yang disusunnya: Sumber-sumber
asli sejarah Jakarta, yang juga sudah diterbitkan
CLC.
Dalam buku Gereja-gereja
tua di Jakarta ini ditampilkan sejumlah gedung
gereja sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20,
baik milik Gereja Katolik maupun Protestan (termasuk
Anglican).
Mengenai Gereja Bali
Nyoman Wijaya, Serat Salib dalam Lintas Bali
– Menapak jejak pengalaman keluarga GKPB (Gereja
Kristen Protestan Bali) 1931-2001. Denpasar:
Yayasan Samaritan, 2003, 686 hlm.
Berbeda dari buku-buku sebelumnya
tentang sejarah gereja di Bali yang lebih bersifat
akademik-analitik, buku ini lebih bergaya narasi;
bertutur tentang periatiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh
(termasuk kelompok orang Bali tertentu) yang mencerminkan
pergulatan iman yang luarbiasa, termasuk juga
derita, dalam mengungkapkan keyakinan mereka terhadap
Kristus. Juga dikemukakan bagaimana orang Kristen
Bali memberi tempat kepada nilai-nilai dan unsur-unsur
budaya Bali di dalam kehidupan iman dan gereja.
Gaya bertutur seperti ini patut dipertimbangkan
dan dicontoh oleh komunitas Kristen dan gereja
lain.
Mengenai [Beberapa Tokoh Pribumi di] Gereja Batak pada Zaman
Zending
Ada trilogi karya P.T.D. Sihombing yang sekaligus
terbit, yaitu
1.
Benih yang Disemai dan Buah yang Menyebar – Seluk-beluk proses penginjilan
dalam masa keperintisan Rheinische Missions-Gesellschaft
di Tanah Batak 1857-1900-an. Jakarta: Albert-Orem Ministry, 2004, 503 hlm. Buku ini terutama bertutur
tentang Evangelis Daniel Hutabarat dan isterinya
Maria boru Siregar beserta anak, menantu, cucu
dan iparnya (Guru Samuel Siregar) di tanah Batak
maupun di Pulau Jawa.
2.
Tahbisan Istimewa – Riwayat pelayanan keperintisan
Pendeta Josia Hutabarat mendirikan, membina dan
melayani jemaat Batakmission Medan pada dasawarsa
1910-1920-an. Jakarta: Albert-Orem Ministry, 2004, 253 hlm. Seperti
terlihat pada sub-judulnya, buku ini terutama
bertutur tentang Josia Hutabarat, putera Daniel
Hutabarat.
3.
Arga do Bona ni Pinasa – Hikayat pelayanan keperintisan
reverend Lamsana Lumbantobing pada Misi Rheinische
Missions-Gesellschaft dan Methodist Episcopal
Church di Tanah Batak, Singapura, Jawa Barat,
Asahan, dan Binjai-Medan, 1889-1930. Jakarta:
Albert-Orem Ministry, 2004, 329 hlm. Buku ini
sekaligus memperlihatkan relasi maupun ketegangan
antara RMG dan misi Methodist di Sumetra Utara.
Mengenai Toraja
Terance W. Bigalke, Tana Toraja:
A Social History of an Indonesian People.
Leiden: KITLV, 2005, 395 hlm.
Buku ini bukan merupakan
kajian historis atas Gereja Toraja, melainkan
atas masyarakat Toraja. Tetapi karena gereja dan
masyarakat di Toraja sangat berhubungan erat maka
banyak isi buku ini yang juga mengkaji kehidupan
warga Gereja Toraja. Dalam perkembangan studi
sejarah gereja semakin disadari bahwa kajian sosial-kultural
seperti ini sangat penting untuk memahami sosok,
kiprah dan pergumulan sebuah gereja. Buku ini
merupakan contoh yang sangat baik tentang sumbangan
ilmu-ilmu sosial dalam studi sejarah gereja.
Mengenai Poso
Rinaldy Damanik, Tragedi Kemanusiaan Poso
– Menggapai surya pagi melalui kegelapan malam.
Jakarta: PBHI, Yakoma PGI & CD Bethesda, 2003,
307 hlm.
Buku ini juga bukan kajian historis
atas gereja di Poso, d.h.i. GKST, melainkan berisi
potret Poso yang mengalami berbagai tragedi (kerusuhan,
konflik horizontal dan vertikal, dsb.) terutama
pada kurun waktu 2000-2002. Sebagian isi buku
ini ditulis Damanik ketika ia – sebagai Sekum
GKST dan Koordinator Crisis Centre GKST - menjadi
tahanan (bahkan kemudian divonis 3 tahun penjara
pada tanggal 16 Juni 2003, setelah buku ini terbit).
Prolog yang ditulis George J. Aditjondro semakin
memperjelas berbagai permainan kotor kalangan
panguasa dan pengusaha di Poso, yang pada gilirannya
menyengsarakan rakyat setempat, bukan hanya yang
Kristen tetapi juga yang Muslim.
Mengenai Maluku
John Chr. Ruhulessin, Etika Publik – Menggali dari Tradisi
Pela di Maluku. Salatiga: UK Satya Wacana,
2005, 331 hlm. (disertasi).
Buku ini - seperti tercermin dari judulnya - sebenarnya
tidak merupakan kajian historis atas tradisi Pela
di Maluku ataupun atas GPM. Tetapi ada satu bagian
di dalamnya (bab 4) yang memperlihatkan tempat
tradisi Pela dalam konteks sejarah masyarakat
Maluku, termasuk perjumpaannya dengan Islam. Karena
itu tulisan ini dapat juga memberi sumbangan dalam
memahami dinamika pertumbuhan dan pergumulan GPM
di tengah konteks sosial-kultural-politisnya.
Mengenai Papua
Theodor Rathgeber (ed.), Economic, Social and
Cultural Rights in West Papua – A Study
on Social reality and Political Perspectives.
Wuppertal: The Evangelical Church in the Rheinland/Foedus
Verlag, 2005, 224 hlm.
Buku ini juga bukan merupakan hasil
studi sejarah gereja. Tetapi tulisan-tulisan di
dalamnya (dari T. Rathgeber, Willy Mandowen, Sigfried
Zöllner, Hermien Rumbrar, Agus Sumule, dan Theo
van den Broek) sangat menolong untuk memahami
situasi dan pergumulan gereja dan umat Kristiani
di Papua. Hak-hak masyarakat yang dirampok oleh
berbagai kalangan (terutama penguasa politik dan
ekonomi) menjadi bagian dari realitas kehidupan
dan pergumulan gereja di sana. Pada bagian Penutup
(Concluding Remarks and Recommendations) ada dorongan
kepada gereja-gereja di sana – Protestan maupun
Katolik – untuk semakin berperan dalam melindungi
hak-hak asasi manusia maupun untuk memelihara
dan membangun infrastruktur sosial dan ekonomi
yang cocok bagi masyarakat pribumi.
Mengenai Gereja Methodist Indonesia
Richard M. Daulay, Mengenal Gereja Methodist
Indonesia. Jakarta: BPK GM, 2003, 176
hlm.
Buku ini merupakan kumpulan artikel
dan makalah bercorak populer yang ditulis dan
disajikan Daulay selama kurun waktu 1990–2002
di berbagai kesempatan. Beberapa di antaranya
menyangkut sejarah perkembangan GMI, sedangkan
yang lain menyangkut berbagai hal yang terlihat
dalam kehidupan dan aktivitas gereja ini, a.l.
ajaran, sistem dan struktur organisasi, sistem
kepemimpinan, berbagai krisis yang pernah dialami
GMI, dan pendidikan teologi yang diselenggarakannya.
Mengenai beberapa gereja Pentakostal
M. Ferry H. Kakiay, H.L. Senduk Bapa Rohani
GBI – Sejarah, Kepemimpinan, Teologi,
Visi dan Misi. Jakarta: Gereja Bethel Indonesia
Jemaat Kapernaum, 2001, xxi+115 hlm.
Buku ini berupaya menggambarkan
sosok tokoh pendiri GBI, terutama liku-liku pelayanan,
kepemimpinan dan pemikiran teologisnya. Kehadiran
tokoh ini ditempatkan dalam konteks sejarah pelayanan
gereja-gereja dan tokoh-tokoh gereja sejak zaman
Gereja Lama, zaman Reformasi, zaman Pietisme/Revivalisme
hingga munculnya “Reformed Injili”. Dengan itu
hendak dikatakan bahwa ada benang merah yang menghubungkan
gereja sepanjang abad dengan gereja-gereja Pentakostal
di Indonesia, khususnya GBI, termasuk secara teologis.
Tetapi dari buku ini tidak dapat diharapkan analisis
yang mendalam tentang kesinambungan historis dan
pemikiran teologis itu.
Pengajaran Dasar Gereja Bethel Indonesia. Jakarta: Departemen Teologia BPS GBI, 2004, 183 hlm.
Belum banyak gereja di Indonesia
yang telah berhasil merumuskan dan menyusun ajarannya
secara cukup lengkap; GBI adalah satu di antara yang
sedikit itu. Ini menjadi menarik, karena selama
ini ada anggapan bahwa gereja-gereja Pentakostal
kurang menyukai rumusan-rumusan yang baku – menyangkut
ajaran, tata ibadah, tata gereja, dsb. – karena
bisa dianggap menghalangi pekerjaan Roh Kudus.
Ternyata GBI dapat menepis anggapan itu. Fakta
ini sekaligus memperlihatkan bahwa GBI memiliki
sejumlah teolog, khususnya dogmatikus, yang handal,
kendati harus diakui juga bahwa cukup banyak pendetanya
yang tidak berpendidikan teologi. Cukup menarik,
dalam Daftar Buku Bacaan di bagian belakang buku
ini kita menemukan buku-buku standar di kalangan
gereja-gereja ‘arus utama’ atau ‘tradisional’,
a.l. G.C. van Niftrik & B.J. Boland: Dogmatika
Masa Kini, Soedarmo: Ikhtisar Dogmatika;
J. Verkuyl: Aku Percaya; Th. van den End:
Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, dan
J.L.Ch. Abineno: Pokok-pokok Penting dari Iman
Kristen.
Indrawan Eleeas, Gerakan Pentakosta –
berkaitan dengan Sejarah & Teologia Gereja
Isa Almasih. Semarang: MPH Sinode Gereja
Isa Almasih, 2005, 154 hlm.
Buku
ini hendak memperlihatkan bahwa sejarah dan ajaran
GIA berpangkal dan berakar pada gerakan Pentakostal
yang muncul di AS sejak 1901. Setelah menguraikan
sejarah berdirinya GIA, termasuk peranan tokoh
utamanya, Pdt. Tan Hok Tjoan, disajikan juga ikhtisar
keputusan Konferensi Gereja Sing Ling Kauw Hwee
dan Sidang Sinode GIA. Juga dicatat masuknya GIA
menjadi anggota DGI pada tahun 1956 sebagai anggota
pertama dari kalangan Pentakostal. Fakta ini hendak
memperlihatkan bahwa di kalangan Pentakostal juga
terdapat jiwa dan semangat ekumenis, seperti yang
misalnya diperlihatkan juga oleh David J. du Plessis,
tokoh legendaris-ekumenis-pentakostal, pendeta
Sidang Jemaat Allah di Afrika Selatan, di lingkungan
WCC/DGD.
Mengenai
Sejarah Jemaat-jemaat Lokal
Tim Redaksi Buku HUT GKBJ, Misioner atau Demisioner?
– Refleksi 50 Tahun Kehadiran GKBJ (1950-2002.
Jakarta: BPK GM & Sekretariat GKBJ, 2002,
289 hlm.
Pertanyaan
pokok yang hendak dijawab dalam buku yang berisi
paparan historis dan refleksi teologis ini adalah:
Apakah GKBJ (Gereja Kristen Baptis Jakarta) sudah
menjadi gereja yang misioner atau sebetulnya dalam
kondisi demisioner, yakni tidak lagi mengemban
mandat yang diberikan Kristus? Pertanyaan ini
memang tidak dijawab dengan tuntas dalam 25 tulisan
yang dihimpun di dalamnya, tetapi ini merupakan
contoh yang baik dari keberanian sebuah gereja
lokal untuk melakukan introspeksi dan perenungan-ulang
atas makna kehadirannya.
E.P. Sembiring (ed.), 50 Tahun Perjalanan yang
Tak Kenal Lelah. Jakarta: GBKP
Jakarta Pusat, 2005, 196 hlm.
Buku ini merupakan salah
satu contoh tentang bangkitnya kesadaran para
aras lokal untuk menulis sejarahnya. Dalam bahasa
penyuntingnya: “Ada gejala yang menarik untuk
diamati dalam tumbuh kembangnya Gereja Batak Karo
protestan (GBKP) khususnya dan orang Karo umumnya,
yaitu “menetaskan” budaya menulis sejarah.
Gejala ini merupakan barometer, adanya peningkatan
wawasan dan pendidikan.” Seperti layaknya buku
kenangan dan yubileum dari sebuah jemaat lokal,
buku ini memuat banyak nama yang dianggap sebagai
tokoh atau pelaku sejarah di Jemaat GBKP Jakarta
Pusat. Juga banyak perhatian dan ruang diberikan
kepada seluk-beluk gedungnya yang megah itu. Toh
ada juga bab yang berisi refleksi teologis, yakni
bab V: Tantangan, Ancaman dan Harapan.
P.T.D. Sihombing, Terpanggil Menjadi Garam
Dunia – 50 Tahun HKBP Menteng-Jalan
Jambu, Jakarta dalam Perjalanan Pelayanannya.
Jakarta: HKBP Menteng-Jalan Jambu, 2005, 328 hlm.
Buku ini juga merupakan
satu contoh lain tentang adanya kesadaran historis
pada sebuah jemaat lokal. Untuk mengupayakan objektivitas,
jemaat ini meminta jasa seorang penulis dari luar
jemaat. Konsekuensi yang segera tampak adalah:
penulisnya memasukkan banyak data dan informasi
yang tidak langsung berkait dengan sejarah jemaat
ini (bahkan oleh kalangan tertentu dianggap meleset),
walaupun maksudnya baik, yaitu untuk memberi latar
belakang dan konteks yang luas terhadap kelahiran
dan keberadaan jemaat yang terkenal ini. Ada beberapa
warga jemaat mengemukakan ketidak-sepahaman terhadap
isi buku yang tampilan fisiknya cukup bagus ini.
Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa menulis
sejarah sebuah jemaat lokal pun bukan pekerjaan
yang mudah.
Mengenai
Perjumpaan dengan Islam
Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen
dan Islam di Indonesia. Jakarta: BPK GM,
2004, xxviii+666 hlm.
Buku yang mencakup kurun
waktu sekitar lima abad ini merupakan semacam
kompendium dari data yang menggambarkan proses
perjumpaan kedua agama samawi ini, terutama di
bidang politik (walaupun di sana sini juga dikemukakan
perjumpaan di berbagai ranah lain: sosial, budaya,
literatur menyangkut ajaran, dsb.). Pada awalnya
buku ini dimaksudkan sebagai bacaan bagi mahasiswa
teologi Kristen. Tetapi karena diberi Kata Pengantar
oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra, Rektor UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, jadilah buku ini menjadi
bacaan juga di lingkungan IAIN/UIN. Sejak diterbitkan,
hingga cetak-ulang tahun 2005, buku ini mengundang
berbagai tanggapan, termasuk kritik yang cukup
tajam tetapi juga konstruktif.
Redaksi Buletin PASKI