Updated: Feb 2006

PASKI (Persatuan Ahli Sejarah Kekristenan Indonesia)
Society for Indonesia Christianity Historians

 

klik: versi DOC dengan footnotes

Keasingan seorang Kristen pada masa Gereja Lama

Th van den End

Dengan beberapa kekecualian saja, di benua Asia Gereja Kristen tetap merupakan minoritas sejak awal sejarahnya hingga sekarang. Posisi minoritas itu, selain segi kuantitatif, mempunyai aspek kualitatif. Penganut agama Kristen tidak hanya kecil jumlahnya dibandingkan dengan jumlah penduduk, tetapi mereka dipandang juga sebagai unsur asing. Pandangan itu terungkap dalam istilah yang di Indonesia ini pada masa kolonial dan mungkin juga dewasa ini dijadikan sebutan agama Kristen: "agama Belanda". Tetapi kita menemukannya juga di bagian-bagian Asia yang lain. Di India belum lama ini kelompok orang Hindu fanatik membakar gereja-gereja Kristen, bahkan membunuh beberapa orang Kristen secara kejam. Di Tiongkok, pada saat orang komunis berkuasa (1950) semua utusan Injil dari Barat diusir dan orang Katolik dipaksa memutuskan hubungan dengan Vatikan. Dan kesulitan khusus yang kini dialami orang Kristen di Irak berasal dari paham yang serupa: mereka seagama dengan orang Barat yang telah memasuki Irak untuk mengusir Saddam Hussein; mereka dianggap merupakan semacam kolone kelima, maka menurut keyakinan orang-orang tertentu pantas mereka pun dijadikan sasaran serangan balasan. Di Asia, agama Kristen dianggap sebagai pendatang dari luar, non-Asia, pendeknya "agama Barat". Dalam pada itu, bagi orang Kristen Asia menjadi pertanyaan apakah mereka harus menerima saja sebutan ini. Apakah kita, orang Kristen Indonesia, India, Tiongkok, Irak, benar-benar patut dianggap sebagai "kolone kelima" dunia Barat, apakah agama kita pantas dijuluki "agama Barat"? Untuk sementara waktu, kita akan membiarkan pertanyaan ini; kita akan lebih dulu mempelajari kedudukan saudara-saudara seiman kita dalam abad-abad pertama sejarah gereja, ketika belum ada "dunia Barat" menurut pengertian sekarang. Sesudahnya, baru kita akan kembali ke masalah kita di tengah dunia modern, dengan pertentangannya antara "Barat" dan "Timur".

I. Gereja Kristen dalam negara dan masyarakat Romawi
Dalam abad-abad pertama sesudah Masehi, wilayah Gereja Kristen tidak bertindih tepat dengan wilayah negara Romawi. Pada zaman itu pun, Gereja sudah meluas juga ke arah Timur dan Selatan: ke kerajaan Persia, Afghanistan, ke pantai Arabia Timur dan Yaman, ke daerah Sudan dan Etiopia. Keadaan mereka di sana tidak jauh beda dari keadaan mereka dalam kekaisaran Romawi; di sana pun mereka mengalami penolakan dan penganiayaan. Namun, dalam makalah ini kita akan berbicara mengenai situasi Gereja dalam kekaisaran Romawi saja, karena banyaknya sumber-sumber mengenai pokok ini.
Hingga abad ke-4 M orang Kristen merupakan minoritas dalam kekaisaran Romawi. Dari semula jumlah mereka relatif besar di Asia Kecil dan Mesopotamia, di Mesir dan di beberapa daerah berbahasa Yunani di bagian barat Laut Tengah seperti Perancis Selatan dan Spanyol Timur. Dalam abad ke-3 jumlah orang Kristen semakin besar. Namun, pada tahun 250 di ibukota Roma mereka merupakan 3% penduduk saja [Jkt sek. 10%], sedangkan di wilayah yang luas, khususnya di daerah Balkan dan Eropa Barat sekarang, agama Kristen hampir tidak dikenal.
Dengan demikian, khususnya pada masa awal, agama Kristen tidak usah menjadi persoalan bagi pemerintah kekaisaran. Mereka tidak banyak, lagi pula mereka tidak dikenal sebagai orang pemberontak, seperti halnya orang Yahudi. Kendati demikian, ternyata negara memusuhi mereka, sedangkan agama Yahudi boleh dikatakan tidak pernah mengalami gangguan dari pihak para penguasa Romawi. Tindakan anti-Kristen sudah mulai diambil di bawah pemerintahan Kaisar Nero, pada tahun 64 M, artinya 30 tahun sesudah berdirinya jemaat Kristen yang pertama. Seperempat abad kemudian, Kaisar Domitianus (81-96) kembali menganiaya orang Kristen; agaknya penganiayaan ini yang tercermin dalam Kitab Wahyu kepada Yohanes. Perbuatan kedua kaisar ini masih dapat dianggap akibat keadaan mental mereka, yang kurang stabil. Tetapi dalam abad ke-2 justru kaisar-kaisar yang berbudi dan bijak seperti Trayanus (98-117), Antoninus Pius (138-161), dan Markus Aurelius (161-180), tidak menyukai agama Kristen dan membenarkan tindakan anti-Kristen, termasuk pelaksanaan hukuman mati atas diri mereka, yang terjadi di banyak tempat: di Asia Kecil, Antiokhia, di Efesus, di Lyon, di Mesir, dan di Afrika Utara. Sekitar tahun 250, dan sekali lagi pada awal abad ke-4, negara malah berusaha dengan sekuat tenaga untuk memusnahkan agama Kristen di seluruh kekaisaran. Baru setelah serangan itu gagal, negara berubah haluan dan menjadikan gereja sebagai sekutunya dalam usaha menyelamatkan kekaisaran dari kehancuran. Maka yang menjadi pertanyaan ialah: apa sebabnya negara Romawi mencurigai dan memusuhi gereja?

Untuk mencari jawabannya, kita bertolak dari surat yang pada tahun 113M ditulis oleh gubernur Romawi di daerah Bitinia, yang kini termasuk negeri Turki. Beberapa penduduk Bitinia telah mengadukan kepadanya anggota sebuah sekta yang disebut "Kristen". Plinius telah memeriksa mereka ini, dan tidak menemukan kejahatan dalam arti biasa, hanya sebuah "takhyul yang buruk dan ekstrem". Maka ia meminta pendapat kaisar. Suratnya berbunyi:

"[...] Sementara itu, berkaitan dengan mereka yang diadukan kepada saya karena mereka orang Kristen, saya mengikuti kebijakan sebagai berikut: Saya bertanya kepada mereka, apakah mereka Kristen. Jika mereka mengiakannya, saya mengajukan pertanyaan itu satu dua kali lagi, sambil mengancamkan hukuman mati. Jika mereka berkanjang, saya menyuruh melaksanakan hukuman mati. Sebab, apa pun arti perkara yang mereka akui, saya yakin bahwa ketegaran hati dan kedurhakaan mereka layak dihukum. [...] Sebagaimana biasanya terjadi, begitu juga dalam hal ini perkaranya meluas dan muncul berbagai kasus. Orang mengajukan surat kaleng, yang berisi daftar nama yang panjang. [Saya menyuruh orang yang namanya terdapat pada daftar itu menghadap.] Mereka yang menyangkal telah atau pernah menjadi Kristen, saya lepaskan, dengan syarat mereka menyerukan dewa-desa menurut rumus yang saya pakai dan membawa persembahan dupa dan anggur kepada patung Baginda, yang telah saya suruh tempatkan di sana bersama dengan patung-patung dewa, sambil mengutuk nama Kristus. Katanya, orang Kristen sejati tidak dapat dipaksa melakukan perbuatan serupa."

Kaisar membenarkan kebijakan Plinius. Hanya, ia menegaskan bahwa orang Kristen tidak usah diusut, dan bahwa pengaduan anonim tidak boleh diterima, "karena tidak sesuai lagi dengan zaman".

Dokumen ini khas, karena dengan singkat menyebut semua faktor yang menentukan sikap negara dan masyarakat Romawi terhadap agama Kristen. Kita akan meninjau faktor-faktor itu satu demi satu.

1. Ada "surat kaleng". Berita ini menunjukkan bahwa ada orang yang tidak menyukai sesama warganya yang Kristen dan yang tidak segan mengadukan mereka kepada yang berwajib, meski mengetahui bahwa pengaduan itu dapat menyebabkan kematian yang bersangkutan. Ini memang ciri yang kita temukan dalam semua berita mengenai penganiayaan orang Kristen pada zaman Gereja Lama: orang Kristen dibenci oleh sesama warganya. Kebencian ini mungkin mempunyai akar psikologis: orang Kristen tidak ikut dalam banyak hiburan yang disenangi orang pada zaman itu: mereka tidak mau menonton sandiwara, sebab mereka menganggapnya tidak senonoh; mereka mengharamkan permainan gladiator, karena bukan permainan, melainkan pertarungan yang tidak dapat tidak mendatangkan kematian salah seorang dari kedua petarung; mereka tidak bersedia memaafkan pelanggaran kesucian perkawinan dst. dst. Pendeknya, mereka mengambil sikap "I am holier than thou", "aku lebih suci daripadamu", yang pada segala zaman telah menimbulkan rasa jengkel orang yang menyadari bahwa dirinya memang tidak begitu "holy". Yang lebih parah lagi, mereka tidak ikut dalam semua upacara keagamaan yang maknanya bagaimanapun menjamin keselamatan dan kelestarian negara dan masyarakat, sedangkan ilah mereka sendiri tidak kelihatan, sebab mereka tidak mempunyai patung. Mereka atheoi, "tuna-ilah", dan ateisme mereka itu berbahaya sebab dapat menimbulkan amarah dewa-dewa. Ibadah mereka pun tidak kelihatan, sebab mereka rahasiakan. Kerahasiaan itu menimbulkan rasa jengkel dan curiga.
Semua itu menyebabkan mengenai orang Kristen beredarlah banyak cerita yang bukan-bukan. Kita menemukannya antara lain dalam salah satu karangan Kristen yang ditulis untuk membantah desas-desus yang beredar, yaitu Octavius karangan seorang Kristen dari Afrika Utara, Minucius Felix. Karangan intu berisi dialog fiktif antara seorang Kristen bernama Ocatavius dan temannya yang bukan-Kristen, Caecilius. Pada saat tertentu Caecilius melampiaskan amarahnya terhadap orang Kristen, "sampah masyarakat" itu:

"Mereka adalah bangsa yang suka bersembunyi, yang menghindari terang, yang berdiam diri di muka umum, tetapi mengomel di pelosok. [...] Saya dengar bahwa mereka menyembah kepala keledai, makhluk yang paling hina. [...] Objek penyembahan mereka adalah seorang yang oleh kejahatannya dihukum dengan hukum yang paling berat. [...] Dari manakah dan siapakah dan di manakah dewa yang esa itu, yang hidup tersendiri, terasing, yang tidak dikenal oleh bangsa merdeka, oleh kerajaan apa pun, bahkan oleh takhyul orang Romawi? Hanya bangsa Yahudi yang hina itu, yang juga memuja satu dewa, tetapi secara terbuka, dengan memakai kuil, altar, kurban-kurban, dan upacara. Adapun Dia sama sekali tidak mempunyai kekuatan atau kekuasaan, sehingga ia bersama dengan kaumnya sendiri takluk pada orang Romawi!"

Menyusullah tuduhan bahwa dalam ibadah mereka orang Kristen membunuh seorang anak dan melakukan perbuatan sumbang. Detailnya yang keji tidak usah diulangi di sini, tetapi jelaslah bahwa di dalamnya terungkap salah paham mengenai baptisan ("mati bersama Kristus", "mati bagi dosa") dan mengenai perayaan ekaristi, yang memang didahului oleh "ciuman persaudaraan".
Dalam karangan Octavius, Caecilius si kafir akhirnya yakin dan masuk Kristen. Tetapi dalam kenyataan selama beberapa abad permusuhan terhadap orang Kristen tetap membara dalam hati rakyat. Begitu terjadi bencana, segera mereka menuding kelakuan orang Kristen sebagai biang keladinya. Sekitar tahun 200M, Tertullianus, pengacara Kristen yang cerdas di Kartago, mencemooh rakyat kafir dalam karangannya Apologeticum, tulisnya, "bila sungai Tiber meluap sampai ke tembok kota [Roma], bila sungai Nil tidak meluap untuk mengairi ladang, bila langit tidak bergerak [tidak turun hujan], bila bumi bergetar, bila terjadi kelaparan, bila penyakit mewabah, segera terdengar teriakan: 'berilah orang Kristen menjadi mangsa singa!'." Maka sampai tahun 250, ketika, sesuai dengan petunjuk Kaisar Trayanus dalam surat balasannya kepada Plinius, negara secara asasi tidak mengganggu orang Kristen, rakyat sering menjadi pemrakarsa tindakan penganiayaan.

2. Menurut penilaian Plinius, agama Kristen merupakan "takhyul buruk yang ekstrem". Dalam perkataan ini terungkap rasa hina seorang budayawan Romawi terhadap agama Kristen. Kepercayaan Kristen bertentangan dengan pandangan dunia kaum cendekiawan Romawi, yang telah menyerap kebudayaan dan filsafat Yunani. Mula-mula lapisan atas masyarakat ini tidak menghiraukan sekta yang satu ini, tetapi ketika sekta itu makin berkembang dan malah ada orang berpendidikan masuk menjadi anggotanya, seperti Yustinus Martir, atau Clemens Alexandrinus, maka ada yang merasa terdorong memberantasnya. Yang melakukan serangan paling sengit dan paling berbahaya ialah seorang filsuf Yunani bernama Kelsus, yang menulis karya berjudul Alêthês Logos, "Penalaran yang benar". Karya ini tidak tersimpan, tetapi teolog Kristen Origenes, yang menyanggahnya dalam sebuah buku berjudul Kata Kelsou, "Melawan Kelsos", mengutipnya panjang lebar, sehingga kita dapat mengenal isi buku yang hilang itu. Menurut Kelsus, agama Kristen bertentangan dengan akal sehat. Ia antara lain mengecam keyakinan orang Kristen (dan Yahudi) bahwa materi pada umumnya dan tubuh manusia pada khususnya merupakan ciptaan Allah. Tulisnya,

Saya tidak usah membantah semua keyakinan mereka yang tidak masuk akal. Sebaliknya, berkenaan dengan alam saya hendak menegaskan bahwa Allah tidak menciptakan barang apa yang fana. Sebaliknya, yang merupakan ciptaan-Nya hanya makhluk yang tidak dapat mati; dan mereka ini yang pada gilirannya menghasilkan apa saja yang fana. Jiwa merupakan karya Allah, sedangkan tubuh pada hakikatnya bersifat lain. Dalam hal ini tubuh manusia tidak berbeda dengan tubuh kelelawar atau ulat atau kodok. Sebab semua tubuh dibentuk dari bahan yang sama dan sama-sama harus binasa.

Maka tidak juga masuk akal kalau orang Kristen percaya bahwa Allah atau Anak Allah telah turun ke bumi dan akan datang kembali untuk menghakimi yang hidup dan yang mati. Menurut Kelsus, kepercayaan itu

merupakan penghinaan [terhadap Allah] yang malah tidak perlu dibantah. [...] Apa gunanya Allah turun ke bumi? [..] Supaya Dia mengetahui keadaan umat manusia? [...] Bukankah Dia tahu segala-galanya? [...] Apakah Ia tidak sanggup memperbaiki keadaan itu tanpa mengutus seseorang di dalam tubuh, supaya ia memperbaikinya?

Kelsus menghabisi juga kepercayaan orang Kristen (dan Yahudi) akan hukuman terakhir dan kebangkitan daging (tubuh). Tulisnya,

Tolol juga keyakinan mereka yang ini: bahwa setelah Allah bagaikan seorang tukang masak membawa api, seluruh umat manusia akan dibakar habis, hanya merekalah yang hidup terus, tidak hanya orang hidup, tetapi juga orang yang sudah lama mati, yang akan muncul lagi dari dalam tanah sambil mengenakan daging yang sama seperti dahulu. Nasib seperti itu lebih pantas diharapkan oleh ulat. Sebab mana jiwa manusia yang masih mendambakan tubuh yang sudah membusuk? [...] Mana tubuh yang sudah sama sekali binasa dapat kembali ke sifatnya yang dahulu dan ke keadaannya yang semula? [...] Sebab mereka [orang Kristen] tidak tahu menjawab pertanyaan ini, mereka memakai dalih yang tidak berdaya, yaitu bahwa 'bagi Allah segala sesuatu mungkin'. Akan tetapi, Allah sama sekali tidak dapat melakukan yang buruk, dan Dia bahkan sama sekali tidak mau melakukan apa yang bertentangan dengan alam.

Pendeknya, agama Kristen bertentangan dengan keyakinan-keyakinan dasar kaum cendekiawan Yunani dan Romawi, dan pada mereka hanya menimbulkan rasa jijik dan hina. Gemanya masih kita temukan pada bapa gereja Augustinus (354-430), yang notabene anak seorang ibu Kristen. Dalam kitab Confessiones, yang ditulisnya ketika sudah menjadi Kristen, diceritakannya mengenai perkenalannya yang pertama dengan Kitab Suci:

Maka aku mengambil keputusan untuk menekuni Kitab-kitab Suci dan menyimak apakah sebenarnya Kitab-kitab itu. [...] Pada hematku waktu itu, Kitab-kitab itu tidak layak dibandingkan dengan harkat Cicero. Rasa congkakku menolak kesederhanaan Kitab-kitab itu dan ketajaman pikiranku tak dapat menerobosnya sampai ke dalam. Padahal, Kitab-kitab itu demikianlah sifatnya sehingga bertambah besar bersama yang kecil. Tetapi dengan mencibir aku menolak menjadi kecil dan aku membusungkan dada dan menganggap diriku besar.

3. Dalam surat Plinius kepada Kaisar Trayanus menonjol juga unsur yang ketiga, yang menyangkut hubungan warga negara dengan pemerintah, lebih tepat: dengan tokoh kaisar. Kata Plinius, "Apa pun arti perkara yang mereka akui, saya yakin bahwa ketegaran hati dan kedurhakaan mereka layak dihukum". Dengan perkataan lain: sekalipun orang tidak melakukan apa-apa yang layak disebut "jahat", kenyataan bahwa mereka tidak mematuhi perintah sang gubernur sudah mencukupi untuk menghukum mati mereka. Negara Romawi menuntut ketaatan tak bersyarat, mutlak. Ketaatan ini malah bersifat religius. Plinius menuntut supaya orang Kristen “membawa persembahan dupa dan anggur kepada patung Baginda". Persembahan itu merupakan tanda nyata kesetiaan mereka pada pemerintah.
Sesungguhnya, tuntutan yang diajukan kepada orang Kristen ini dapat mengherankan. Memang, sebagai seorang budayawan Romawi, Plinius menghina agama Kristen, yang dalam suratnya yang ini juga dinilainya "takhyul". Tetapi, dalam kekaisaran Romawi terdapat berbagai aliran keagamaan yang di mata kalangan elit dianggap takhyul, apakah itu kultus dewi Isis dari Mesir, dengan imamnya yang mencukur rambut kepala mereka, atau ibadah Magna Mater dari Asia Kecil, yang sebetulnya merupakan kultus kesuburan, atau agama Mithras, yang banyak ditemukan dalam lingkungan tentara, dengan upacara inisiasi yang agak kasar dan aneh. Di mata seorang Romawi tulen, semua kelompok itu aneh-aneh, jijik. Namun, negara Romawi membiarkan mereka. Paling-paling dalam abad pertama Masehi seorang kaisar yang ingin kembali ke kesederhanaan zaman baheula melarang salah satu kultus eksotis, tetapi tidak ada terbetik berita mengenai pengikut Isis, atau Mithras, yang dihukum mati karena imannya. Maka timbul pertanyaan mengapa orang Kristen harus mati, sedangkan yang lain-lain dibiarkan saja. Mengapakah negara Romawi, yang begitu toleran, memusuhi gereja dan menganiaya orang-orang Kristen? Untuk apa perlu memaksa mereka membawa kepada kaisar penghormatan seperti yang dibawa kepada dewa? Mengapa tidak cukup kalau mereka mematuhi undang-undang negara saja?
Kita akan mencoba menjawab pertanyaan ini dengan mengikuti penjelasan teolog Belanda H. Berkhof (1914-1995) mengenai pokok ini. Pendewaan penguasa merupakan unsur tetap dalam agama-agama dunia Yunani-Romawi, mungkin bahkan semua agama di luar agama Kristen [dan Yahudi, dan Islam]. Sebab, menurut agama-agama tersebut, terdapat hubungan dialektis antara alam gaib, dunia baka, dunia dewa-dewa, dan alam yang didiami oleh manusia. Bumi ini hanya berdiri karena ditopang oleh dunia atas, sedangkan alam gaib itu menyatakan diri dalam bumi manusia. Alam baka merupakan dasar dan batas alam fana. Oleh karena itu, segala-galanya yang bersifat fana mempunyai segi "profan" (duniawi), tetapi merupakan atau dapat menjadi wadah alam baka. Karena itu, orang pernah memuja binatang, pohon, gunung, mata air, dan lain-lain; lebih tepat: orang memuja alam baka yang menyatakan diri dalam binatang dst. Demikian orang dapat juga menyembah tokoh penguasa. Dia pun menjadi pengemban kenyataan dan kekuatan yang supra-alamiah, serta disembah selaku "anak dewa". Demikianlah di Babel, Mesir, Persia. Ketika wilayah ini digabungkan dengan Roma, penduduknya mengambil sikap serupa terhadap para penguasa Romawi, khususnya kaisar (mulai dari kaisar Augustus), dan para kaisar memeluk kultus itu. Dahulu orang Romawi menyembah dewi Roma, sebagai personifikasi republik mereka, kini mereka menyembah tokoh kaisar, atau genius-nya, "roh pelindung" kaisar, sebagai personifikasi negara Romawi. Penyembahan ini terungkap dalam gelar kurios, Latin: dominus, yang dapat saja berarti "Tuanku" tanpa konotasi religius, namun pada kesempatan tertentu bisa mendapat arti khusus, yaitu "Tuhan". Keduanya, kultus dewi Roma dan kultus kaisar, mempunyai maksud yang sama, yaitu memelihara dan memperkuat kesetiaan rakyat serta kesatuan negara. Kita tidak usah memandang hal ini sebagai manuver politik semata, sebab semuanya itu sesuai dengan pola keagamaan yang digambarkan tadi. Menghormati dan menyembah perwujudan dunia baka di dalam dunia fana, termasuk dalam diri kepala negara, perlu demi kelestarian dunia fana, termasuk negara. Bagi yang mengenal agama suku, pola berpikir ini tidak asing. Kita tidak usah juga memandang kaisar-kaisar yang menuntut agar orang membawa persembahan kepada dirinya sebagai munafik, sebagai politikus yang lihai, atau sebagai orang yang lupa daratan. Memang ada tokoh kaisar yang mentalnya tidak stabil, yang bertindak seakan mereka dewa. Begitu Kaisar Domitianus (81-96), yang menerima gelar dominus et deus, "Tuhan dan dewa". Namun, kebanyakan mereka orang bijak, yang menyadari bahwa mereka manusia fana. Meskipun demikian, khususnya dalam abad ke-3, mereka yakin bahwa kultus dirinya perlu demi keselamatan negara. Keyakinan ini sudah dapat didengar dalam Ecloga karangan Vergilius, pujangga nasional orang Romawi, yang memuji prestasi Kaisar Augustus dalam memulihkan kedamaian dalam negara Romawi,

Telah datang zaman terakhir; telah genap nubuat Sibile;
Sudah mulai kembali lingkungan abad yang agung.
Kerajaan Ratu Adil kini tiba berulang;
dari surga yang tinggi turun putra yang baru [...]
Ia kelak beroleh kehidupan dewa surgawi. [...]

Kultus kaisar ini tidak terlepas dari pemutlakan diri negara. Dunia orang Yunani-Romawi, sebagaimana dunia agama suku, adalah dunia yang tertutup. Adat-kebiasaan yang berlaku di dalamnya, tatanan sosial dan politiknya, berlaku mutlak. Kalau ada yang melanggar atau malah menentangnya, dia adalah unsur asing, bahkan musuh; perbuatannya yang nekad itu tidak dapat tidak menimbulkan amarah dewa, dan dengan demikian membahayakan kelestarian masyarakat. Tidak mungkin "naik banding" dari aturan yang berlaku ke instansi yang lebih tinggi. Sebab, aturan itu mau diukur dengan ukuran apa? Satu-satunya kaidah yang dapat diaplikasi ialah sesuai-tidaknya aturan yang dipakai sekarang dengan aturan asli, yang pernah ditetapkan oleh nenek-moyang. Pemutlakan diri negara Romawi ini terasa dalam ucapan filsuf Kelsus, "Kepadanyalah [yaitu kepada kaisar] diserahkan seluruh kekuasaan di bumi ini; apa saja yang kauterima dalam kehidupan ini dari dialah engkau menerimanya". Secara konkret, negara Romawi tidak dapat menerima pernyataan orang Kristen bahwa "hukum" Allah mereka lebih tinggi daripada "hukum" negara dan bahwa mereka "harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia". Maka negara Romawi dapat menerima eksis semua agama, kecuali agama Kristen. Pada asasnya orang Kristen merupakan "unsur asing" dalam masyarakat Romawi. Mereka bahkan mendatangkan bahaya bagi negara dan masyarakat. Kenyataan itu terungkap dalam julukan yang oleh orang Romawi dipakai berkenaan dengan orang Kristen: "jenis ketiga", "ateis", "pembenci umat manusia". Pantas oknum-oknum demikian ditangkap dan dibunuh.

II. Tanggapan orang Kristen terhadap segala tuduhan terhadap mereka
Bagaimana tanggapan orang Kristen berkenaan dengan sikap negatif masyarakat dan negara, yang memandang mereka sebagai unsur asing?
Pada asasnya, orang Kristen menyetujui sepenuhnya pandangan itu. Mulai dari Paulus sampai Augustinus, orang-orang Kristen menganggap dirinya sebagai "orang asing dan pendatang di bumi ini". Tanah air mereka ialah "Yerusalem surgawi". Maka perilaku mereka berbeda dengan perilaku dunia ini, dengan akibat mereka "harus menderita". Jurang antara dunia dan jemaat Kristen paling dalam dalam Kitab Wahyu, yang mungkin sekali ditulis menjelang akhir abad pertama, pada zaman Kaisar Domitianus: orang percaya diboikot (13:17), disuruh menyembah binatang yang keluar dari lauat atau dari bumi (13:14), dan dibunuh kalau tidak mematuhi perintah itu (13:15).
Kesimpulan yang sama kita capai bilamana kita meninjau nama yang dipakai orang Kristen sebagai sebutuan dirinya, atau jemaat. Dewasa ini, bahkan sudah berabad-abad, kita biasa memakai sebutan "Kristen": orang Kristen, Gereja Kristen. Lain halnya pada zaman PB dan Gereja Lama. Nama "Kristen" memang muncul, baik dalam PB maupun dalam tulisan-tulisan dari zaman Gereja Lama, tetapi sebagai sebutan yang dipakai orang luar. Dalam Kitab Kisah para Rasul tertulis: "Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen" (11:26). Demikian juga dalam Apologeticum karangan Tertullianus: sebutan "Kristen" dipakai, tetapi oleh orang kafir yang berteriak "Christianos ad leonem!", "Berilah orang Kristen dimakan singa!". Orang Kristen sendiri agaknya tidak senang memakai nama yang agak "netral" itu; mereka biasa memakai sebutan lain: ekklêsia (gereja), laos (umat Allah), hagioi (yang kudus), eklektoi (yang terpilih), klêtoi (yang terpanggil), adelfoi (saudara-saudara), pistoi (orang percaya). Istilah-istilah tersebut, yang berakar dalam Perjanjian Lama, menggarisbawahi kedudukan orang percaya sebagai orang yang dipanggil keluar, yang bersifat dan bersikap lain, yang merupakan buah sulung dunia baru, dunia yang akan datang.
Pada zaman Gereja Lama, ada orang Kristen yang dari "keasingan" ini menarik kesimpulan bahwa mereka wajib menarik diri dari masyarakat. Sekitar tahun 160, di Asia Kecil, muncul gerakan Montanisme, yang melarang perkawinan, menyuruh pengikutnya berpuasa, dan menyerukan mereka berkumpul di desa Pepuza untuk bersama-sama menantikan akhir dunia. Banyak orang yang tertarik oleh gerakan ini, bahkan Tertullianus sendiri menjadi pengikut. Akan tetapi, para uskup menolak dan mengucilkannya. Menjelang akhir abad ke-3 mulai ada orang Kristen yang menarik diri ke padang gurun untuk bertapa; di kemudian hari gerakan ini menghasilkan biara-biara, yang memainkan peranan besar baik di gereja Barat maupun di gereja Timur. Gereja menghormati mereka; dibandingkan dengan pola hidup orang Kristen banyak, cara hidup mereka dinilai lebih tinggi. Kendati demikian, massa orang Kristen, bahkan juga pimpinan gereja sendiri, menafsirkan "keasingan" mereka dengan cara lain: mereka tetap hidup di tengah masyarakat umum dan memelihara hubungan dengannya, apakah masyarakat itu "Kristen" atau tidak.
Maka pada umumnya hubungan orang Kristen dengan dunia sekitar ditentukan oleh semboyan: "di dalam dunia, tetapi bukan dari dunia". Mereka "tidak hidup dalam kota-kota tersendiri ... tetapi di tengah kota-kota Yunani dan non-Yunani;" mereka "tidak memakai bahasa istimewa, dan tidak mengikuti pola hidup khusus". Dengan perkataan lain, mereka tidak berbeda dengan sesama warganya dalam hal bahasa, pakaian, makan-minum, dan seterusnya; mereka kawin dan mendapat anak-anak, mereka melaksanakan profesi-profesi yang sama. Tentu sulit bagi seorang Kristen untuk menjadi pegawai negeri, sebab dalam profesi itu ia terbentur pada kultus kaisar. Begitu pula sulit baginya untuk masuk tentara, sebab gereja melarangnya melakukan pembunuhan, dan karena panji-panji (berupa burung elang) wajib diberi penghormatan ilahi. Namun, dalam berita-berita mengenai penganiayaan kita temukan anggota senat dan (mantan) konsul (pegawai tinggi), prajurit-prajurit, dan pegawai istana yang Kristen. Dengan mengikuti teladan Rasul Paulus, orang Kristen mengakui juga sistem hukum negara Romawi, selama sistem ini bersifat netral dan tidak memaksa mereka untuk melakukan perbuatan yang mereka anggap "kafir". Akan tetapi, justru karena mereka hidup di tengah masyarakat, sikap menolak mereka terhadap sebagian keyakinan dan kegiatan masyarakat itu lebih-lebih menonjol. Maka mau tidak mau mereka terpaksa menanggapi celaan dan pertanyaan dari pihak masyarakat itu. Kita hendak menggambarkan tanggapan tersebut dengan memakai bagan yang sama seperti di atas. Bagaimana tanggapan orang Kristen terhadap permusuhan dari pihak rakyat, penghinaan dari pihak kaum cendiawan, tuntutan ketaatan mutlak dari pihak negara?

1. Tanggapan orang Kristen terhadap permusuhan dari pihak rakyat
Mendengar fitnahan mengenai gerak-gerik mereka, orang Kristen tidak tinggal diam. Mereka malah membalikkannya menjadi tuduhan terhadap orang kafir sendiri. Berkenaan dengan desas-desus bahwa orang Kristen menyembah kepala keledai, Minucius Felix menyatakan dengan nada keras,

[Desas-desus itu] hanya muncul karena kamu sendiri menahbiskan keledai seluruhnya dalam kultus dewi Epona, dan memakan habis keledai itu dengan khidmat, dalam kultus Isis. Kamu [...] sampai memperilah juga makhluk-makhluk yang merupakan campuran kambing dan manusia, dan yang mempunyai wajah singa, atau anjing.

Bisikan mengenai pembunuhan anak dalam upacara orang Kristen juga langsung dibalas:

Kamu kadang-kadang membuang anak yang baru lahir, sehingga dimakan binatang buas dan burung-burung. [...] Ada perempuan yang memusnahkan kecambah bakal manusia dalam rahimnya dengan minum obat. [...] Perbuatan seperti itu sungguh berasal dari teladan dewa-dewamu, sebab Saturnus tidak membuang anak-anaknya, tetapi menelannya. Sesuai dengan itu di beberapa bagian Afrika anak-anak dikurbankan kepadanya oleh orangtua sendiri, yang menekan tangisan anaknya dengan kata-kata manis dan cium, supaya kurban yang dipersembahkan jangan menangis.

Akan tetapi, sukarlah untuk membantah fitnah. Maka para apologet Kristen membela agama Kristen juga dengan mengacu ke tata hidup mereka. Kata Minucius Felix,

Kami menunjukkan kesopanan bukan dengan muka, melainkan dengan hati. Kami dengan senang hati memelihara ikatan perkawinan, [...] perjamuan kami sederhana, kami tidak ketagihan makanan yang lezat, dan kami tidak minum anggur berlebihan sesudah makan. [...] Kami saling mengenali tidak karena salah satu tanda, tetapi karena keikhlasan dan kesopanan yang mencirikan kami; kami saling mencintai, karena kami tidak tahu membenci; kami saling menamakan saudara, karena satu Allah menjadi Bapa kami, karena satu iman kami, karena kami ahli waris pengharapan yang sama.

Dengan demikian orang Kristen pada zaman itu lama-kelamaan berhasil mengatasi rasa benci rakyat terhadap diri mereka. Pertobatan Caecilius pada akhir kisah dalam Octavius memang fiktif. Tetapi dalam kenyataannya juga makin banyak yang tertarik oleh kesucian orang Kristen selama kehidupan mereka dan ketekunannya dalam kematian. Kata Tertullianus: "Tiap kali Anda membabat kami, kami bangkit dalam jumlah lebih besar lagi; darah orang Kristen menjadi benih". Dalam gelombang penganiayaan yang terakhir, pada zaman Diocletianus, sebagian rakyat malah memprotes tindakan melawan orang Kristen. Beberapa tahun kemudian, negara membatalkan untuk seterusnya semua tindakan melawan gereja, dan mulailah massa mengalir masuk.

2. Tanggapan orang Kristen terhadap kritik dari pihak filsafat
Di atas telah dikatakan bahwa para cendekiawan Yunani-Romawi memandang agama Kristen sebagai "takhyul ekstrem", yang "bertentangan dengan akal sehat". Pandangan ini ditanggapi orang Kristen secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung, dengan menunjukkan sifat rasional iman Kristen dan/atau memperlihatkan cacat filsafat. Secara tidak langsung, dengan memaparkan iman mereka sambil menggunakan istilah-istilah, bahkan wawasan-wawasan filsafat.
Sama seperti dewasa ini, begitu juga pada zaman Gereja Lama sikap orang Kristen terhadap filsafat dan pandangan dunia zaman mereka tidak sama. Ada yang mengeluarkan pandangan negatif semata. Demikian Tertullianus (yang di kemudian hari masuk Montanis). Pernah ditulisnya, "Apa urusan Yerusalem dengan Atena [pusat filsafat Yunani lama]? Apa urusan gereja dengan filsafat Platonis?" Dalam karyanya Apologeticum ia memaparkan semua kekeliruan para filsuf – yang terutama terletak dalam perilaku dan sikap mental mereka. Tetapi Tertullianus pun yakin bahwa semua filsuf menimba dari Kitab Suci, yang jauh lebih tua daripada filsafat Yunani. Hanya, mereka salah memahami, dan merusak, apa yang telah mereka temukan di dalamnya. Minucius Felix jauh lebih positif. Tulisnya,

Saya telah menguraikan pendapat dari hampir semua filsuf yang terkenal. Mereka memakai berbagai nama, namun mereka semua menegaskan bahwa hanya ada satu Allah. Maka wajar saja kalau timbul dugaan bahwa orang Kristen yang hidup sekarang adalah filsuf-filsuf, atau bahwa kaum filsuf yang hidup dahulu adalah orang Kristen."

Clemens Alexandrinus (sek. 180), malah melangkah lebih jauh lagi:

Sebelum kedatangan Tuhan, filsafat dibutuhkan untuk menjadikan orang Yunani adil, tetapi kini filsafat perlu untuk menjadikan mereka saleh, sebab filsafat itu merupakan semacam latihan. Allah telah mengadakan segala sesuatu yang baik. Tetapi ada yang diadakannya secara langsung, seperti Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan ada yang diadakannya secara tidak langsung, seperti halnya filsafat. Mungkin kita malah boleh berkata bahwa filsafat itu diberikan-Nya kepada orang Yunani secara langsung, pada masa sebelum Tuhan memanggil mereka, sebab filsafat itu mempersiapkan orang Yunani, sebagaimana Hukum [Musa] mempersiapkan orang Israel, "untuk membawa mereka kepada Kristus" [Gal. 3:24].

Sikap yang pada asasnya positif ini tampak juga secara tidak langsung, yaitu dalam perkembangan pemikiran Kristen. Alkitab pada umumnya dan Perjanjian Baru pada khususnya bukan karya teologi. Kitab Suci menyatakan berita keselamatan dalam bentuk cerita sejarah, atau nubuat, atau nyanyian, atau peringatan. Alkitab bersifat konkret. Sebaliknya, filsafat Yunani-Romawi membekukan kenyataan konkret, sejarah, menjadi sistem abstrak. Lebih tegas lagi: Alkitab adalah kabar dari dan mengenai Allah yang bergerak, yang emosional (mengasihi, membenci), yang bertindak; sebaliknya, allah filsafat tidak bergerak, tidak bertindak, tidak beremosi, tidak membenci, tidak mengasihi. Alkitab di banyak tempat memuji materi sebagai ciptaan Allah, sehingga sejarah dapat menjadi medan tindakan Allah; filsafat Yunani-Romawi memandang materi (dan dengan demikian: sejarah) sebagai yang jahat, yang dengannya Allah tidak dapat berurusan. Maka iman Kristen dan pandangan dunia Yunani-Romawi seperti darat dan laut, atau siang dan malam.
Para pemikir Kristiani dalam abad-abad pertama sejarah gereja telah berupaya menjembatani jurang ini. Sejumlah besar tokoh Kristen, khususnya di wilayah berbahasa Yunani, mempelajari dan memanfaatkan filsafat Yunani. Perlu diperhatikan bahwa maksud mereka bukan menjadi filsuf (Kristen), melainkan mengungkapkan iman Kristen sedemikian rupa, hingga dapat dipahami oleh sesama warga yang bukan-Kristen. Mereka menyadari bahwa pesan mereka akan dipahami hanya kalau mereka memakai istilah-istilah, bahkan wawasan-wawasan, yang berasal dari dunia bukan-Kristen. Maka lahirlah teologi Kristen. Teologi merupakan salah satu cara kehadiran orang Kristen di tengah dunianya, salah satu ekspresi sikap yang pada asasnya positif terhadap dunia itu. Karena perbedaan utama antara iman Kristen dan pandangan dunia Yunani terletak dalam hubungan Allah dengan dunia yang kelihatan ini, maka teologi Kristen yang pertama itu terutama memperhatikan Kristologi. Perkembangannya menghasilkan dogma Trinitas (325/381) dan rumus mengenai kedua tabiat Kristus (451).
Perlu ditambahkan bahwa perkembangan teologi Kristen dan kelahiran kedua rumus ajaran tersebut tidak berjalan mulus. Para teolog zaman itu bagaikan memasuki tanah yang belum dipetakan. Ada yang merancangkan ajaran yang oleh rekannya kemudian dianggap menjauhkan jemaat dari iman Kristen, dan dikritik habis-habisan. Lalu muncul rancangan lain, yang memperhitungkan keberatan itu. Kemudian itu pun ternyata tidak memadai. Bahkan ada yang menolak sama sekali usaha menyatakan iman dengan bahasa filsafat. Demikianlah Tertullianus: "Enyahlah semua usaha menghasilkan kekristenan Stois, Platonis, atau dialektis! Kami tidak menghendaki diskusi falsafi, karena kami sudah memiliki Yesus Kristus!" Tetapi mayoritas besar kaum teolog maju terus di jalan yang telah ditempuh. Akhirnya tercapai keseimbangan dan dihasilkan rumus yang oleh gereja (lebih tepat: oleh mayoritas gereja) dianggap mengungkapkan keyakinan iman mengenai Allah dan mengenai dunia dengan cara "ilmiah". Dengan demikian, rumus Trinitaris yang dihasilkan di Nicea 325 dan di Konstantinopel 381, dan rumus Kristologis yang keluar dari Konsili Khalcedon (451) merupakan hasil usaha mengungkapkan iman Kristen di tengah dunia Helenistis, dalam bahasa orang Yunani, tanpa melepaskan keyakinan dasar yang terdapat dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Baru.

c. Tanggapan orang Kristen terhadap permusuhan dari pihak negara
Telah kita lihat bahwa negara Romawi menuntut loyalitas semua warganya, termasuk orang Kristen. Loyalitas itu harus diungkapkan dengan cara yang ditentukan oleh negara, yaitu dengan mengakui kaisar sebagai kurios dan mempersembahkan kurban dupa. Orang Kristen merasa tidak dapat mengikuti kehendak negara dalam hal ini, sehingga lahir konflik. Dalam hal ini sikap orang Kristen berbeda dengan sikap penganut semua agama lainnya. Agama lain itu bersifat inklusif. Seorang pengikut Isis atau Mithras, bahkan seorang penganut gnostik, tidak merasa keberatan mempersembahkan dupa di depan patung kaisar. Bukankah dunia ilahi menyatakan diri dalam banyak wujud? Sebaliknya, agama Kristen bersikap eksklusif. Tidak ada allah lain di hadapan Tuhan. Sebagaimana dikatakan Plinius, "orang Kristen sejati tidak dapat dipaksa melakukan perbuatan serupa", yaitu mempersembahkan dupa di depan patung kaisar.
Akan tetapi, penolakan itu tidak berarti bahwa orang Kristen tidak mau berurusan lagi dengan negara, atau malah melakukan perlawanan aktif. Ada fakta yang sangat menonjol dalam sejarah Gereja Lama, yaitu bahwa orang Kristen tidak pernah melakukan perlawanan bersenjata terhadap alat negara yang menganiaya mereka, pun tidak ketika di beberapa daerah mereka sudah merupakan minoritas besar atau malah mayoritas. Satu-satunya bentuk perlawanan yang dibenarkan ialah usaha menjelaskan kepada yang berwajib bahwa tindakan mereka tidak benar, baik dari sudut hukum Allah maupun dari sudut hukum Romawi sendiri. Paling-paling seorang martir mengancamkan hukuman Allah kepada hakim yang menjatuhkan vonis atas dirinya. Begitu Uskup Polikarpus, yang berkata kepada gubernur yang memimpin acara penganiayaannya di gelanggang, "Tuan mengancam dengan api yang hanya menyala sebentar saja, [...] karena Tuan tidak mengenal api hukuman yang akan datang dan siksaan kekal yang disediakan bagi orang-orang fasik"
Negara menilai penolakan orang Kristen memenuhi tuntutannya sebagai tanda ketidaksetiaan. Terhadap penilaian ini orang Kristen selalu mempertentangan pernyataan kesetiaan mereka. Hanya, mereka ingin menyatakan kesetiaan itu dengan cara mereka sendiri. Kata Tertullianus:

Jika Anda menyangka kami sama sekali tidak peduli kesehatan sang kaisar, maka sudilah Anda membaca Firman Allah, Kitab-kitab Suci kami. [...] Darinya Anda dapat mengetahui bahwa kami didorong agar menyatakan kasih secara berlimpah, bahkan berdoa kepada Allah demi musuh kami dan memohon berkat-Nya bagi mereka yang menganiaya kami. [...] Lagi pula, Alkitab menegaskan: "Naikkanlah doa syafaat untuk raja-raja dan pemerintah serta semua pembesar, agar kamu dapat hidup tenteram dalam segala hal".

Tertullianus bahkan menyatakan bahwa kekaisaran Romawi perlu didoakan juga karena ketertiban yang dijamin oleh kekaisaran itu masih mengulur bencana dahsyat yang akan menimpa dunia pada akhir zaman. Lagi pula, Allah sendirilah yang mengangkat kaisar menjadi rajadiraja, maka orang Kristen tidak dapat tidak menghendaki supaya dia tetap memerintah atas mereka. Tertullianus tidak juga keberatan memanggil kaisar kurios, asal saja "menurut artinya yang biasa"dan asal saja "saya tidak dipaksa menyebutnya kurios dalam arti "allah". Pernyataan serupa kita temukan pada Origenes. Bila Kelsos menyatakan bahwa "kepadanyalah [kepada kaisar] diserahkan seluruh kekuasaan di bumi ini; apa saja yang kauterima dalam kehidupan ini dari dialah engkau menerimanya", Origenes membalas,

Sebaliknya, kami mempertahankan bahwa "kepadanya" tidak diserahkan seluruh kekuasaan di bumi, dan bahwa bukan dari dialah "kami terima apa saja yang kami terima dalam kehidupan ini". Sebab, apa saja yang kami terima dengan cara yang baik dan benar, dari Allah kami menerimanya, dan dari pemeliharaan-Nya. [...]

Begitu pula, bila Kelsos mendesak orang Kristen agar mereka mendukung kaisar dengan segala tenaga, bersama dia mengupayakan kebenaran, berjuang baginya dan bila perlu mengikutinya dalam perang, Origenes menjawab bahwa orang Kristen tentu akan berperang bagi raja mereka, tetapi dengan mengenakan "perlengkapan senjata Allah" dan dengan mendoakannya sesuai anjuran Rasul Paulus dalam 1 Timotius 2:1-2. Dalam hal ini juga "imamat" orang Kristen menyatakan diri. Sebab, sebagaimana dalam agama Romawi para imam yang mempersembahkan kurban demi keselamatan kaisar dan tentara tidak ikut berperang, begitu pula orang Kristen adalah "imam dan pelayan Allah, yang bertempur dengan jalan mendoakan tuan mereka yang sah dan perkaranya yang adil". Sama halnya dengan penerimaan jabatan negara (yang ditolak oleh orang Kristen). Sebab, kata Origenes,

Di setiap kota terdapat persekutuan lain lagi, yang didirikan oleh Firman Allah. [...] Bila orang Kristen tidak bersedia menerima jabatan negara, mereka tidak berbuat demikian dengan maksud menghindari pemberian jasa untuk umum, tetapi agar mereka bebas memberi pelayanan yang lebih ilahi dan yang lebih diperlukan, yaitu pelayanan kepada Gereja Allah demi keselamatan umat manusia.
Penutup
Orang Kristen pada zaman Gereja Lama mempunyai hubungan "dialektis" dengan dunia sekitar. Kendati mereka "dibenci oleh dunia", mereka tidak menarik diri dari dunia. Mereka tetap mau berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat, mereka tetap menilai tinggi ilmu pengetahuan, artinya pandangan dunia dan budaya, yang berlaku pada zaman dan dalam lingkungan masyarakat mereka; dan mereka tetap menghormati kaisar dan bersikap loyal terhadap negara. Akan tetapi, mereka berbuat demikian atas syarat mereka sendiri. Selama dua setengah abad, masyarakat dan negara tidak mau mengakui syarat itu. Tetapi akhirnya mereka menyerah. Rakyat masuk Kristen, filsafat dikristenkan, negara mengangkat gereja ke status gereja resmi. Tampaknya perjuangan antara gereja dan dunia selesai. Tetapi pada kenyataannya perjuangan itu berjalan terus, dalam bentuk lain. Maka kata-kata indah penulis Surat kepada Diognetus mengenai kehidupan orang Kristen di tengah dunia ini berlaku terus juga bagi kita, meski antropologi yang mendasarinya mungkin tidak lagi kita anut:

Mereka hidup di tanah air mereka, tetapi seakan mereka pendatang.
Mereka kawin, sama seperti siapa pun juga, dan mereka mendapat anak. Namun, mereka tidak membuang keturunan mereka.
Pangan mereka bagi dengan sesama mereka, tetapi bukan ranjang pengantin mereka.
Maka benar mereka "dalam daging", tetapi mereka tidak hidup "menurut daging". [bnd. Rm. 8:4, 12; 2 Kor. 10:3]
Mereka menyibukkan diri di dunia, tetapi kewargaan mereka adalah di dalam surga. [Flp. 3:10]
Mereka mematuhi undang-undang yang berlaku, namun dalam kehidupan mereka sendiri jauh melampaui apa yang dituntut oleh undang-undang itu.
Mereka mencintai semua orang, dan oleh semua orang mereka ditindas.
Mereka tidak dikenal, tetapi sementara itu mereka terhukum; mereka dihukum mati, dalam pada itu mereka dihidupkan. [Bdk. 2 Kor. 6:9]
Mereka miskin, tetapi sementara itu banyak orang yang berika berikan kekayaan.
mereka difitnah, tetapi mereka dibenarkan.
Mereka dicaci maki, tetapi sementara itu mereka memberkati;
bilamana mereka dihina, masih juga mereka memberi hormat sebagaimana mestinya.
Pendeknya, orang Kristen di dalam dunia bagaikan jiwa di dalam tubuh.

Kita kembali ke masalah yang dihadapi Gereja Kristen di dunia non-barat. Orang memandang agama Kristen sebagai "agama Barat", "agama Belanda", dengan konotasi "unsur asing, yang patut ditolak. Apakah penilaian ini tepat, apakah kita perlu menerimanya saja? Untuk menjawab pertanyaan ini, kami memberi tiga catatan.
a. Pada zaman gereja Lama, orang Kristen dalam kekaisaran Romawi hidup di tengah lingkungan budaya mereka sendiri. Agama mereka juga timbul di tengah lingkungan budaya itu. Namun, mereka dianggap "asing".
b. Faktor yang menyebabkan mereka dianggap "asing" ialah sikap menolak mereka terhadap pretensi negara dan budaya Romawi seakan nilainya sendiri berlaku mutlak. Mereka "naik banding" dari kaisar kepada Allah yang Mahatinggi. Mereka mendobrak lingkaran tertutup budaya Helenistis.
c. Di dunia non-barat (sama seperti di dunia Barat sendiri!) agama Kristen berhadapan dengan lingkaran tertutup, dengan masyarakat, budaya, negara yang memutlakkan diri, yang tidak mengizinkan warganya "naik banding". Harus diakui bahwa di sebagian besar Asia dan Afrika agama Kristen dibawa oleh orang Barat. Akan tetapi, di Barat sendiri pembawa Injil itu mempunyai kedudukan marjinal. Pada hakikatnya, yang mereka bawa bukan "budaya Barat", apalagi "agama Barat", melainkan – saya ulangi: pada hakikatnya – sikap kritis terhadap dunia non-barat sekaligus terhadap dunia Barat sendiri. Gereja-gereja yang mereka dirikan, termasuk di Indonesia, merupakan ahli waris sikap kritis itu. Semoga kita juga "mau berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat", tetap "menilai tinggi ilmu pengetahuan" alias budaya kita sendiri, dan tetap "menghormati" pemerintah kita dan "bersikap loyal terhadap negara". Dan semoga kita juga berbuat demikian "atas syarat kita sendiri".

 

 


Sekretariat: PDSGI STT JAKARTA.
Jl Proklamasi 27 Jakarta Pusat 10320 Indonesia

Contact Persons:

Dr. Jan S. Aritonang
email:[email protected]

Drs. Sylvana Apituley
email:[email protected]

 

 

 

 


webmanager: [email protected]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 
 

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1