klik:
versi DOC dengan footnotes
Keasingan
seorang Kristen pada masa Gereja Lama
Th
van den End
Dengan
beberapa kekecualian saja, di benua Asia Gereja Kristen
tetap merupakan minoritas sejak awal sejarahnya hingga sekarang.
Posisi minoritas itu, selain segi kuantitatif, mempunyai
aspek kualitatif. Penganut agama Kristen tidak hanya kecil
jumlahnya dibandingkan dengan jumlah penduduk, tetapi mereka
dipandang juga sebagai unsur asing. Pandangan itu terungkap
dalam istilah yang di Indonesia ini pada masa kolonial dan
mungkin juga dewasa ini dijadikan sebutan agama Kristen:
"agama Belanda". Tetapi kita menemukannya juga
di bagian-bagian Asia yang lain. Di India belum lama ini
kelompok orang Hindu fanatik membakar gereja-gereja Kristen,
bahkan membunuh beberapa orang Kristen secara kejam. Di
Tiongkok, pada saat orang komunis berkuasa (1950) semua
utusan Injil dari Barat diusir dan orang Katolik dipaksa
memutuskan hubungan dengan Vatikan. Dan kesulitan khusus
yang kini dialami orang Kristen di Irak berasal dari paham
yang serupa: mereka seagama dengan orang Barat yang telah
memasuki Irak untuk mengusir Saddam Hussein; mereka dianggap
merupakan semacam kolone kelima, maka menurut keyakinan
orang-orang tertentu pantas mereka pun dijadikan sasaran
serangan balasan. Di Asia, agama Kristen dianggap sebagai
pendatang dari luar, non-Asia, pendeknya "agama Barat".
Dalam pada itu, bagi orang Kristen Asia menjadi pertanyaan
apakah mereka harus menerima saja sebutan ini. Apakah kita,
orang Kristen Indonesia, India, Tiongkok, Irak, benar-benar
patut dianggap sebagai "kolone kelima" dunia Barat,
apakah agama kita pantas dijuluki "agama Barat"?
Untuk sementara waktu, kita akan membiarkan pertanyaan ini;
kita akan lebih dulu mempelajari kedudukan saudara-saudara
seiman kita dalam abad-abad pertama sejarah gereja, ketika
belum ada "dunia Barat" menurut pengertian sekarang.
Sesudahnya, baru kita akan kembali ke masalah kita di tengah
dunia modern, dengan pertentangannya antara "Barat"
dan "Timur".
I. Gereja
Kristen dalam negara dan masyarakat Romawi
Dalam abad-abad pertama sesudah Masehi, wilayah Gereja Kristen
tidak bertindih tepat dengan wilayah negara Romawi. Pada
zaman itu pun, Gereja sudah meluas juga ke arah Timur dan
Selatan: ke kerajaan Persia, Afghanistan, ke pantai Arabia
Timur dan Yaman, ke daerah Sudan dan Etiopia. Keadaan mereka
di sana tidak jauh beda dari keadaan mereka dalam kekaisaran
Romawi; di sana pun mereka mengalami penolakan dan penganiayaan.
Namun, dalam makalah ini kita akan berbicara mengenai situasi
Gereja dalam kekaisaran Romawi saja, karena banyaknya sumber-sumber
mengenai pokok ini.
Hingga abad ke-4 M orang Kristen merupakan minoritas dalam
kekaisaran Romawi. Dari semula jumlah mereka relatif besar
di Asia Kecil dan Mesopotamia, di Mesir dan di beberapa
daerah berbahasa Yunani di bagian barat Laut Tengah seperti
Perancis Selatan dan Spanyol Timur. Dalam abad ke-3 jumlah
orang Kristen semakin besar. Namun, pada tahun 250 di ibukota
Roma mereka merupakan 3% penduduk saja [Jkt sek. 10%], sedangkan
di wilayah yang luas, khususnya di daerah Balkan dan Eropa
Barat sekarang, agama Kristen hampir tidak dikenal.
Dengan demikian, khususnya pada masa awal, agama Kristen
tidak usah menjadi persoalan bagi pemerintah kekaisaran.
Mereka tidak banyak, lagi pula mereka tidak dikenal sebagai
orang pemberontak, seperti halnya orang Yahudi. Kendati
demikian, ternyata negara memusuhi mereka, sedangkan agama
Yahudi boleh dikatakan tidak pernah mengalami gangguan dari
pihak para penguasa Romawi. Tindakan anti-Kristen sudah
mulai diambil di bawah pemerintahan Kaisar Nero, pada tahun
64 M, artinya 30 tahun sesudah berdirinya jemaat Kristen
yang pertama. Seperempat abad kemudian, Kaisar Domitianus
(81-96) kembali menganiaya orang Kristen; agaknya penganiayaan
ini yang tercermin dalam Kitab Wahyu kepada Yohanes. Perbuatan
kedua kaisar ini masih dapat dianggap akibat keadaan mental
mereka, yang kurang stabil. Tetapi dalam abad ke-2 justru
kaisar-kaisar yang berbudi dan bijak seperti Trayanus (98-117),
Antoninus Pius (138-161), dan Markus Aurelius (161-180),
tidak menyukai agama Kristen dan membenarkan tindakan anti-Kristen,
termasuk pelaksanaan hukuman mati atas diri mereka, yang
terjadi di banyak tempat: di Asia Kecil, Antiokhia, di Efesus,
di Lyon, di Mesir, dan di Afrika Utara. Sekitar tahun 250,
dan sekali lagi pada awal abad ke-4, negara malah berusaha
dengan sekuat tenaga untuk memusnahkan agama Kristen di
seluruh kekaisaran. Baru setelah serangan itu gagal, negara
berubah haluan dan menjadikan gereja sebagai sekutunya dalam
usaha menyelamatkan kekaisaran dari kehancuran. Maka yang
menjadi pertanyaan ialah: apa sebabnya negara Romawi mencurigai
dan memusuhi gereja?
Untuk
mencari jawabannya, kita bertolak dari surat yang pada tahun
113M ditulis oleh gubernur Romawi di daerah Bitinia, yang
kini termasuk negeri Turki. Beberapa penduduk Bitinia telah
mengadukan kepadanya anggota sebuah sekta yang disebut "Kristen".
Plinius telah memeriksa mereka ini, dan tidak menemukan
kejahatan dalam arti biasa, hanya sebuah "takhyul yang
buruk dan ekstrem". Maka ia meminta pendapat kaisar.
Suratnya berbunyi:
"[...]
Sementara itu, berkaitan dengan mereka yang diadukan kepada
saya karena mereka orang Kristen, saya mengikuti kebijakan
sebagai berikut: Saya bertanya kepada mereka, apakah mereka
Kristen. Jika mereka mengiakannya, saya mengajukan pertanyaan
itu satu dua kali lagi, sambil mengancamkan hukuman mati.
Jika mereka berkanjang, saya menyuruh melaksanakan hukuman
mati. Sebab, apa pun arti perkara yang mereka akui, saya
yakin bahwa ketegaran hati dan kedurhakaan mereka layak
dihukum. [...] Sebagaimana biasanya terjadi, begitu juga
dalam hal ini perkaranya meluas dan muncul berbagai kasus.
Orang mengajukan surat kaleng, yang berisi daftar nama yang
panjang. [Saya menyuruh orang yang namanya terdapat pada
daftar itu menghadap.] Mereka yang menyangkal telah atau
pernah menjadi Kristen, saya lepaskan, dengan syarat mereka
menyerukan dewa-desa menurut rumus yang saya pakai dan membawa
persembahan dupa dan anggur kepada patung Baginda, yang
telah saya suruh tempatkan di sana bersama dengan patung-patung
dewa, sambil mengutuk nama Kristus. Katanya, orang Kristen
sejati tidak dapat dipaksa melakukan perbuatan serupa."
Kaisar
membenarkan kebijakan Plinius. Hanya, ia menegaskan bahwa
orang Kristen tidak usah diusut, dan bahwa pengaduan anonim
tidak boleh diterima, "karena tidak sesuai lagi dengan
zaman".
Dokumen
ini khas, karena dengan singkat menyebut semua faktor yang
menentukan sikap negara dan masyarakat Romawi terhadap agama
Kristen. Kita akan meninjau faktor-faktor itu satu demi
satu.
1. Ada
"surat kaleng". Berita ini menunjukkan bahwa ada
orang yang tidak menyukai sesama warganya yang Kristen dan
yang tidak segan mengadukan mereka kepada yang berwajib,
meski mengetahui bahwa pengaduan itu dapat menyebabkan kematian
yang bersangkutan. Ini memang ciri yang kita temukan dalam
semua berita mengenai penganiayaan orang Kristen pada zaman
Gereja Lama: orang Kristen dibenci oleh sesama warganya.
Kebencian ini mungkin mempunyai akar psikologis: orang Kristen
tidak ikut dalam banyak hiburan yang disenangi orang pada
zaman itu: mereka tidak mau menonton sandiwara, sebab mereka
menganggapnya tidak senonoh; mereka mengharamkan permainan
gladiator, karena bukan permainan, melainkan pertarungan
yang tidak dapat tidak mendatangkan kematian salah seorang
dari kedua petarung; mereka tidak bersedia memaafkan pelanggaran
kesucian perkawinan dst. dst. Pendeknya, mereka mengambil
sikap "I am holier than thou", "aku lebih
suci daripadamu", yang pada segala zaman telah menimbulkan
rasa jengkel orang yang menyadari bahwa dirinya memang tidak
begitu "holy". Yang lebih parah lagi, mereka tidak
ikut dalam semua upacara keagamaan yang maknanya bagaimanapun
menjamin keselamatan dan kelestarian negara dan masyarakat,
sedangkan ilah mereka sendiri tidak kelihatan, sebab mereka
tidak mempunyai patung. Mereka atheoi, "tuna-ilah",
dan ateisme mereka itu berbahaya sebab dapat menimbulkan
amarah dewa-dewa. Ibadah mereka pun tidak kelihatan, sebab
mereka rahasiakan. Kerahasiaan itu menimbulkan rasa jengkel
dan curiga.
Semua itu menyebabkan mengenai orang Kristen beredarlah
banyak cerita yang bukan-bukan. Kita menemukannya antara
lain dalam salah satu karangan Kristen yang ditulis untuk
membantah desas-desus yang beredar, yaitu Octavius karangan
seorang Kristen dari Afrika Utara, Minucius Felix. Karangan
intu berisi dialog fiktif antara seorang Kristen bernama
Ocatavius dan temannya yang bukan-Kristen, Caecilius. Pada
saat tertentu Caecilius melampiaskan amarahnya terhadap
orang Kristen, "sampah masyarakat" itu:
"Mereka
adalah bangsa yang suka bersembunyi, yang menghindari terang,
yang berdiam diri di muka umum, tetapi mengomel di pelosok.
[...] Saya dengar bahwa mereka menyembah kepala keledai,
makhluk yang paling hina. [...] Objek penyembahan mereka
adalah seorang yang oleh kejahatannya dihukum dengan hukum
yang paling berat. [...] Dari manakah dan siapakah dan di
manakah dewa yang esa itu, yang hidup tersendiri, terasing,
yang tidak dikenal oleh bangsa merdeka, oleh kerajaan apa
pun, bahkan oleh takhyul orang Romawi? Hanya bangsa Yahudi
yang hina itu, yang juga memuja satu dewa, tetapi secara
terbuka, dengan memakai kuil, altar, kurban-kurban, dan
upacara. Adapun Dia sama sekali tidak mempunyai kekuatan
atau kekuasaan, sehingga ia bersama dengan kaumnya sendiri
takluk pada orang Romawi!"
Menyusullah
tuduhan bahwa dalam ibadah mereka orang Kristen membunuh
seorang anak dan melakukan perbuatan sumbang. Detailnya
yang keji tidak usah diulangi di sini, tetapi jelaslah bahwa
di dalamnya terungkap salah paham mengenai baptisan ("mati
bersama Kristus", "mati bagi dosa") dan mengenai
perayaan ekaristi, yang memang didahului oleh "ciuman
persaudaraan".
Dalam karangan Octavius, Caecilius si kafir akhirnya yakin
dan masuk Kristen. Tetapi dalam kenyataan selama beberapa
abad permusuhan terhadap orang Kristen tetap membara dalam
hati rakyat. Begitu terjadi bencana, segera mereka menuding
kelakuan orang Kristen sebagai biang keladinya. Sekitar
tahun 200M, Tertullianus, pengacara Kristen yang cerdas
di Kartago, mencemooh rakyat kafir dalam karangannya Apologeticum,
tulisnya, "bila sungai Tiber meluap sampai ke tembok
kota [Roma], bila sungai Nil tidak meluap untuk mengairi
ladang, bila langit tidak bergerak [tidak turun hujan],
bila bumi bergetar, bila terjadi kelaparan, bila penyakit
mewabah, segera terdengar teriakan: 'berilah orang Kristen
menjadi mangsa singa!'." Maka sampai tahun 250, ketika,
sesuai dengan petunjuk Kaisar Trayanus dalam surat balasannya
kepada Plinius, negara secara asasi tidak mengganggu orang
Kristen, rakyat sering menjadi pemrakarsa tindakan penganiayaan.
2. Menurut
penilaian Plinius, agama Kristen merupakan "takhyul
buruk yang ekstrem". Dalam perkataan ini terungkap
rasa hina seorang budayawan Romawi terhadap agama Kristen.
Kepercayaan Kristen bertentangan dengan pandangan dunia
kaum cendekiawan Romawi, yang telah menyerap kebudayaan
dan filsafat Yunani. Mula-mula lapisan atas masyarakat ini
tidak menghiraukan sekta yang satu ini, tetapi ketika sekta
itu makin berkembang dan malah ada orang berpendidikan masuk
menjadi anggotanya, seperti Yustinus Martir, atau Clemens
Alexandrinus, maka ada yang merasa terdorong memberantasnya.
Yang melakukan serangan paling sengit dan paling berbahaya
ialah seorang filsuf Yunani bernama Kelsus, yang menulis
karya berjudul Alêthês Logos, "Penalaran
yang benar". Karya ini tidak tersimpan, tetapi teolog
Kristen Origenes, yang menyanggahnya dalam sebuah buku berjudul
Kata Kelsou, "Melawan Kelsos", mengutipnya panjang
lebar, sehingga kita dapat mengenal isi buku yang hilang
itu. Menurut Kelsus, agama Kristen bertentangan dengan akal
sehat. Ia antara lain mengecam keyakinan orang Kristen (dan
Yahudi) bahwa materi pada umumnya dan tubuh manusia pada
khususnya merupakan ciptaan Allah. Tulisnya,
Saya tidak
usah membantah semua keyakinan mereka yang tidak masuk akal.
Sebaliknya, berkenaan dengan alam saya hendak menegaskan
bahwa Allah tidak menciptakan barang apa yang fana. Sebaliknya,
yang merupakan ciptaan-Nya hanya makhluk yang tidak dapat
mati; dan mereka ini yang pada gilirannya menghasilkan apa
saja yang fana. Jiwa merupakan karya Allah, sedangkan tubuh
pada hakikatnya bersifat lain. Dalam hal ini tubuh manusia
tidak berbeda dengan tubuh kelelawar atau ulat atau kodok.
Sebab semua tubuh dibentuk dari bahan yang sama dan sama-sama
harus binasa.
Maka tidak
juga masuk akal kalau orang Kristen percaya bahwa Allah
atau Anak Allah telah turun ke bumi dan akan datang kembali
untuk menghakimi yang hidup dan yang mati. Menurut Kelsus,
kepercayaan itu
merupakan
penghinaan [terhadap Allah] yang malah tidak perlu dibantah.
[...] Apa gunanya Allah turun ke bumi? [..] Supaya Dia mengetahui
keadaan umat manusia? [...] Bukankah Dia tahu segala-galanya?
[...] Apakah Ia tidak sanggup memperbaiki keadaan itu tanpa
mengutus seseorang di dalam tubuh, supaya ia memperbaikinya?
Kelsus
menghabisi juga kepercayaan orang Kristen (dan Yahudi) akan
hukuman terakhir dan kebangkitan daging (tubuh). Tulisnya,
Tolol
juga keyakinan mereka yang ini: bahwa setelah Allah bagaikan
seorang tukang masak membawa api, seluruh umat manusia akan
dibakar habis, hanya merekalah yang hidup terus, tidak hanya
orang hidup, tetapi juga orang yang sudah lama mati, yang
akan muncul lagi dari dalam tanah sambil mengenakan daging
yang sama seperti dahulu. Nasib seperti itu lebih pantas
diharapkan oleh ulat. Sebab mana jiwa manusia yang masih
mendambakan tubuh yang sudah membusuk? [...] Mana tubuh
yang sudah sama sekali binasa dapat kembali ke sifatnya
yang dahulu dan ke keadaannya yang semula? [...] Sebab mereka
[orang Kristen] tidak tahu menjawab pertanyaan ini, mereka
memakai dalih yang tidak berdaya, yaitu bahwa 'bagi Allah
segala sesuatu mungkin'. Akan tetapi, Allah sama sekali
tidak dapat melakukan yang buruk, dan Dia bahkan sama sekali
tidak mau melakukan apa yang bertentangan dengan alam.
Pendeknya,
agama Kristen bertentangan dengan keyakinan-keyakinan dasar
kaum cendekiawan Yunani dan Romawi, dan pada mereka hanya
menimbulkan rasa jijik dan hina. Gemanya masih kita temukan
pada bapa gereja Augustinus (354-430), yang notabene anak
seorang ibu Kristen. Dalam kitab Confessiones, yang ditulisnya
ketika sudah menjadi Kristen, diceritakannya mengenai perkenalannya
yang pertama dengan Kitab Suci:
Maka aku
mengambil keputusan untuk menekuni Kitab-kitab Suci dan
menyimak apakah sebenarnya Kitab-kitab itu. [...] Pada hematku
waktu itu, Kitab-kitab itu tidak layak dibandingkan dengan
harkat Cicero. Rasa congkakku menolak kesederhanaan Kitab-kitab
itu dan ketajaman pikiranku tak dapat menerobosnya sampai
ke dalam. Padahal, Kitab-kitab itu demikianlah sifatnya
sehingga bertambah besar bersama yang kecil. Tetapi dengan
mencibir aku menolak menjadi kecil dan aku membusungkan
dada dan menganggap diriku besar.
3. Dalam
surat Plinius kepada Kaisar Trayanus menonjol juga unsur
yang ketiga, yang menyangkut hubungan warga negara dengan
pemerintah, lebih tepat: dengan tokoh kaisar. Kata Plinius,
"Apa pun arti perkara yang mereka akui, saya yakin
bahwa ketegaran hati dan kedurhakaan mereka layak dihukum".
Dengan perkataan lain: sekalipun orang tidak melakukan apa-apa
yang layak disebut "jahat", kenyataan bahwa mereka
tidak mematuhi perintah sang gubernur sudah mencukupi untuk
menghukum mati mereka. Negara Romawi menuntut ketaatan tak
bersyarat, mutlak. Ketaatan ini malah bersifat religius.
Plinius menuntut supaya orang Kristen “membawa persembahan
dupa dan anggur kepada patung Baginda". Persembahan
itu merupakan tanda nyata kesetiaan mereka pada pemerintah.
Sesungguhnya, tuntutan yang diajukan kepada orang Kristen
ini dapat mengherankan. Memang, sebagai seorang budayawan
Romawi, Plinius menghina agama Kristen, yang dalam suratnya
yang ini juga dinilainya "takhyul". Tetapi, dalam
kekaisaran Romawi terdapat berbagai aliran keagamaan yang
di mata kalangan elit dianggap takhyul, apakah itu kultus
dewi Isis dari Mesir, dengan imamnya yang mencukur rambut
kepala mereka, atau ibadah Magna Mater dari Asia Kecil,
yang sebetulnya merupakan kultus kesuburan, atau agama Mithras,
yang banyak ditemukan dalam lingkungan tentara, dengan upacara
inisiasi yang agak kasar dan aneh. Di mata seorang Romawi
tulen, semua kelompok itu aneh-aneh, jijik. Namun, negara
Romawi membiarkan mereka. Paling-paling dalam abad pertama
Masehi seorang kaisar yang ingin kembali ke kesederhanaan
zaman baheula melarang salah satu kultus eksotis, tetapi
tidak ada terbetik berita mengenai pengikut Isis, atau Mithras,
yang dihukum mati karena imannya. Maka timbul pertanyaan
mengapa orang Kristen harus mati, sedangkan yang lain-lain
dibiarkan saja. Mengapakah negara Romawi, yang begitu toleran,
memusuhi gereja dan menganiaya orang-orang Kristen? Untuk
apa perlu memaksa mereka membawa kepada kaisar penghormatan
seperti yang dibawa kepada dewa? Mengapa tidak cukup kalau
mereka mematuhi undang-undang negara saja?
Kita akan mencoba menjawab pertanyaan ini dengan mengikuti
penjelasan teolog Belanda H. Berkhof (1914-1995) mengenai
pokok ini. Pendewaan penguasa merupakan unsur tetap dalam
agama-agama dunia Yunani-Romawi, mungkin bahkan semua agama
di luar agama Kristen [dan Yahudi, dan Islam]. Sebab, menurut
agama-agama tersebut, terdapat hubungan dialektis antara
alam gaib, dunia baka, dunia dewa-dewa, dan alam yang didiami
oleh manusia. Bumi ini hanya berdiri karena ditopang oleh
dunia atas, sedangkan alam gaib itu menyatakan diri dalam
bumi manusia. Alam baka merupakan dasar dan batas alam fana.
Oleh karena itu, segala-galanya yang bersifat fana mempunyai
segi "profan" (duniawi), tetapi merupakan atau
dapat menjadi wadah alam baka. Karena itu, orang pernah
memuja binatang, pohon, gunung, mata air, dan lain-lain;
lebih tepat: orang memuja alam baka yang menyatakan diri
dalam binatang dst. Demikian orang dapat juga menyembah
tokoh penguasa. Dia pun menjadi pengemban kenyataan dan
kekuatan yang supra-alamiah, serta disembah selaku "anak
dewa". Demikianlah di Babel, Mesir, Persia. Ketika
wilayah ini digabungkan dengan Roma, penduduknya mengambil
sikap serupa terhadap para penguasa Romawi, khususnya kaisar
(mulai dari kaisar Augustus), dan para kaisar memeluk kultus
itu. Dahulu orang Romawi menyembah dewi Roma, sebagai personifikasi
republik mereka, kini mereka menyembah tokoh kaisar, atau
genius-nya, "roh pelindung" kaisar, sebagai personifikasi
negara Romawi. Penyembahan ini terungkap dalam gelar kurios,
Latin: dominus, yang dapat saja berarti "Tuanku"
tanpa konotasi religius, namun pada kesempatan tertentu
bisa mendapat arti khusus, yaitu "Tuhan". Keduanya,
kultus dewi Roma dan kultus kaisar, mempunyai maksud yang
sama, yaitu memelihara dan memperkuat kesetiaan rakyat serta
kesatuan negara. Kita tidak usah memandang hal ini sebagai
manuver politik semata, sebab semuanya itu sesuai dengan
pola keagamaan yang digambarkan tadi. Menghormati dan menyembah
perwujudan dunia baka di dalam dunia fana, termasuk dalam
diri kepala negara, perlu demi kelestarian dunia fana, termasuk
negara. Bagi yang mengenal agama suku, pola berpikir ini
tidak asing. Kita tidak usah juga memandang kaisar-kaisar
yang menuntut agar orang membawa persembahan kepada dirinya
sebagai munafik, sebagai politikus yang lihai, atau sebagai
orang yang lupa daratan. Memang ada tokoh kaisar yang mentalnya
tidak stabil, yang bertindak seakan mereka dewa. Begitu
Kaisar Domitianus (81-96), yang menerima gelar dominus et
deus, "Tuhan dan dewa". Namun, kebanyakan mereka
orang bijak, yang menyadari bahwa mereka manusia fana. Meskipun
demikian, khususnya dalam abad ke-3, mereka yakin bahwa
kultus dirinya perlu demi keselamatan negara. Keyakinan
ini sudah dapat didengar dalam Ecloga karangan Vergilius,
pujangga nasional orang Romawi, yang memuji prestasi Kaisar
Augustus dalam memulihkan kedamaian dalam negara Romawi,
Telah
datang zaman terakhir; telah genap nubuat Sibile;
Sudah mulai kembali lingkungan abad yang agung.
Kerajaan Ratu Adil kini tiba berulang;
dari surga yang tinggi turun putra yang baru [...]
Ia kelak beroleh kehidupan dewa surgawi. [...]
Kultus
kaisar ini tidak terlepas dari pemutlakan diri negara. Dunia
orang Yunani-Romawi, sebagaimana dunia agama suku, adalah
dunia yang tertutup. Adat-kebiasaan yang berlaku di dalamnya,
tatanan sosial dan politiknya, berlaku mutlak. Kalau ada
yang melanggar atau malah menentangnya, dia adalah unsur
asing, bahkan musuh; perbuatannya yang nekad itu tidak dapat
tidak menimbulkan amarah dewa, dan dengan demikian membahayakan
kelestarian masyarakat. Tidak mungkin "naik banding"
dari aturan yang berlaku ke instansi yang lebih tinggi.
Sebab, aturan itu mau diukur dengan ukuran apa? Satu-satunya
kaidah yang dapat diaplikasi ialah sesuai-tidaknya aturan
yang dipakai sekarang dengan aturan asli, yang pernah ditetapkan
oleh nenek-moyang. Pemutlakan diri negara Romawi ini terasa
dalam ucapan filsuf Kelsus, "Kepadanyalah [yaitu kepada
kaisar] diserahkan seluruh kekuasaan di bumi ini; apa saja
yang kauterima dalam kehidupan ini dari dialah engkau menerimanya".
Secara konkret, negara Romawi tidak dapat menerima pernyataan
orang Kristen bahwa "hukum" Allah mereka lebih
tinggi daripada "hukum" negara dan bahwa mereka
"harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia".
Maka negara Romawi dapat menerima eksis semua agama, kecuali
agama Kristen. Pada asasnya orang Kristen merupakan "unsur
asing" dalam masyarakat Romawi. Mereka bahkan mendatangkan
bahaya bagi negara dan masyarakat. Kenyataan itu terungkap
dalam julukan yang oleh orang Romawi dipakai berkenaan dengan
orang Kristen: "jenis ketiga", "ateis",
"pembenci umat manusia". Pantas oknum-oknum demikian
ditangkap dan dibunuh.
II. Tanggapan
orang Kristen terhadap segala tuduhan terhadap mereka
Bagaimana tanggapan orang Kristen berkenaan dengan sikap
negatif masyarakat dan negara, yang memandang mereka sebagai
unsur asing?
Pada asasnya, orang Kristen menyetujui sepenuhnya pandangan
itu. Mulai dari Paulus sampai Augustinus, orang-orang Kristen
menganggap dirinya sebagai "orang asing dan pendatang
di bumi ini". Tanah air mereka ialah "Yerusalem
surgawi". Maka perilaku mereka berbeda dengan perilaku
dunia ini, dengan akibat mereka "harus menderita".
Jurang antara dunia dan jemaat Kristen paling dalam dalam
Kitab Wahyu, yang mungkin sekali ditulis menjelang akhir
abad pertama, pada zaman Kaisar Domitianus: orang percaya
diboikot (13:17), disuruh menyembah binatang yang keluar
dari lauat atau dari bumi (13:14), dan dibunuh kalau tidak
mematuhi perintah itu (13:15).
Kesimpulan yang sama kita capai bilamana kita meninjau nama
yang dipakai orang Kristen sebagai sebutuan dirinya, atau
jemaat. Dewasa ini, bahkan sudah berabad-abad, kita biasa
memakai sebutan "Kristen": orang Kristen, Gereja
Kristen. Lain halnya pada zaman PB dan Gereja Lama. Nama
"Kristen" memang muncul, baik dalam PB maupun
dalam tulisan-tulisan dari zaman Gereja Lama, tetapi sebagai
sebutan yang dipakai orang luar. Dalam Kitab Kisah para
Rasul tertulis: "Di Antiokhialah murid-murid itu untuk
pertama kalinya disebut Kristen" (11:26). Demikian
juga dalam Apologeticum karangan Tertullianus: sebutan "Kristen"
dipakai, tetapi oleh orang kafir yang berteriak "Christianos
ad leonem!", "Berilah orang Kristen dimakan singa!".
Orang Kristen sendiri agaknya tidak senang memakai nama
yang agak "netral" itu; mereka biasa memakai sebutan
lain: ekklêsia (gereja), laos (umat Allah), hagioi
(yang kudus), eklektoi (yang terpilih), klêtoi (yang
terpanggil), adelfoi (saudara-saudara), pistoi (orang percaya).
Istilah-istilah tersebut, yang berakar dalam Perjanjian
Lama, menggarisbawahi kedudukan orang percaya sebagai orang
yang dipanggil keluar, yang bersifat dan bersikap lain,
yang merupakan buah sulung dunia baru, dunia yang akan datang.
Pada zaman Gereja Lama, ada orang Kristen yang dari "keasingan"
ini menarik kesimpulan bahwa mereka wajib menarik diri dari
masyarakat. Sekitar tahun 160, di Asia Kecil, muncul gerakan
Montanisme, yang melarang perkawinan, menyuruh pengikutnya
berpuasa, dan menyerukan mereka berkumpul di desa Pepuza
untuk bersama-sama menantikan akhir dunia. Banyak orang
yang tertarik oleh gerakan ini, bahkan Tertullianus sendiri
menjadi pengikut. Akan tetapi, para uskup menolak dan mengucilkannya.
Menjelang akhir abad ke-3 mulai ada orang Kristen yang menarik
diri ke padang gurun untuk bertapa; di kemudian hari gerakan
ini menghasilkan biara-biara, yang memainkan peranan besar
baik di gereja Barat maupun di gereja Timur. Gereja menghormati
mereka; dibandingkan dengan pola hidup orang Kristen banyak,
cara hidup mereka dinilai lebih tinggi. Kendati demikian,
massa orang Kristen, bahkan juga pimpinan gereja sendiri,
menafsirkan "keasingan" mereka dengan cara lain:
mereka tetap hidup di tengah masyarakat umum dan memelihara
hubungan dengannya, apakah masyarakat itu "Kristen"
atau tidak.
Maka pada umumnya hubungan orang Kristen dengan dunia sekitar
ditentukan oleh semboyan: "di dalam dunia, tetapi bukan
dari dunia". Mereka "tidak hidup dalam kota-kota
tersendiri ... tetapi di tengah kota-kota Yunani dan non-Yunani;"
mereka "tidak memakai bahasa istimewa, dan tidak mengikuti
pola hidup khusus". Dengan perkataan lain, mereka tidak
berbeda dengan sesama warganya dalam hal bahasa, pakaian,
makan-minum, dan seterusnya; mereka kawin dan mendapat anak-anak,
mereka melaksanakan profesi-profesi yang sama. Tentu sulit
bagi seorang Kristen untuk menjadi pegawai negeri, sebab
dalam profesi itu ia terbentur pada kultus kaisar. Begitu
pula sulit baginya untuk masuk tentara, sebab gereja melarangnya
melakukan pembunuhan, dan karena panji-panji (berupa burung
elang) wajib diberi penghormatan ilahi. Namun, dalam berita-berita
mengenai penganiayaan kita temukan anggota senat dan (mantan)
konsul (pegawai tinggi), prajurit-prajurit, dan pegawai
istana yang Kristen. Dengan mengikuti teladan Rasul Paulus,
orang Kristen mengakui juga sistem hukum negara Romawi,
selama sistem ini bersifat netral dan tidak memaksa mereka
untuk melakukan perbuatan yang mereka anggap "kafir".
Akan tetapi, justru karena mereka hidup di tengah masyarakat,
sikap menolak mereka terhadap sebagian keyakinan dan kegiatan
masyarakat itu lebih-lebih menonjol. Maka mau tidak mau
mereka terpaksa menanggapi celaan dan pertanyaan dari pihak
masyarakat itu. Kita hendak menggambarkan tanggapan tersebut
dengan memakai bagan yang sama seperti di atas. Bagaimana
tanggapan orang Kristen terhadap permusuhan dari pihak rakyat,
penghinaan dari pihak kaum cendiawan, tuntutan ketaatan
mutlak dari pihak negara?
1. Tanggapan
orang Kristen terhadap permusuhan dari pihak rakyat
Mendengar fitnahan mengenai gerak-gerik mereka, orang Kristen
tidak tinggal diam. Mereka malah membalikkannya menjadi
tuduhan terhadap orang kafir sendiri. Berkenaan dengan desas-desus
bahwa orang Kristen menyembah kepala keledai, Minucius Felix
menyatakan dengan nada keras,
[Desas-desus
itu] hanya muncul karena kamu sendiri menahbiskan keledai
seluruhnya dalam kultus dewi Epona, dan memakan habis keledai
itu dengan khidmat, dalam kultus Isis. Kamu [...] sampai
memperilah juga makhluk-makhluk yang merupakan campuran
kambing dan manusia, dan yang mempunyai wajah singa, atau
anjing.
Bisikan
mengenai pembunuhan anak dalam upacara orang Kristen juga
langsung dibalas:
Kamu kadang-kadang
membuang anak yang baru lahir, sehingga dimakan binatang
buas dan burung-burung. [...] Ada perempuan yang memusnahkan
kecambah bakal manusia dalam rahimnya dengan minum obat.
[...] Perbuatan seperti itu sungguh berasal dari teladan
dewa-dewamu, sebab Saturnus tidak membuang anak-anaknya,
tetapi menelannya. Sesuai dengan itu di beberapa bagian
Afrika anak-anak dikurbankan kepadanya oleh orangtua sendiri,
yang menekan tangisan anaknya dengan kata-kata manis dan
cium, supaya kurban yang dipersembahkan jangan menangis.
Akan tetapi,
sukarlah untuk membantah fitnah. Maka para apologet Kristen
membela agama Kristen juga dengan mengacu ke tata hidup
mereka. Kata Minucius Felix,
Kami menunjukkan
kesopanan bukan dengan muka, melainkan dengan hati. Kami
dengan senang hati memelihara ikatan perkawinan, [...] perjamuan
kami sederhana, kami tidak ketagihan makanan yang lezat,
dan kami tidak minum anggur berlebihan sesudah makan. [...]
Kami saling mengenali tidak karena salah satu tanda, tetapi
karena keikhlasan dan kesopanan yang mencirikan kami; kami
saling mencintai, karena kami tidak tahu membenci; kami
saling menamakan saudara, karena satu Allah menjadi Bapa
kami, karena satu iman kami, karena kami ahli waris pengharapan
yang sama.
Dengan
demikian orang Kristen pada zaman itu lama-kelamaan berhasil
mengatasi rasa benci rakyat terhadap diri mereka. Pertobatan
Caecilius pada akhir kisah dalam Octavius memang fiktif.
Tetapi dalam kenyataannya juga makin banyak yang tertarik
oleh kesucian orang Kristen selama kehidupan mereka dan
ketekunannya dalam kematian. Kata Tertullianus: "Tiap
kali Anda membabat kami, kami bangkit dalam jumlah lebih
besar lagi; darah orang Kristen menjadi benih". Dalam
gelombang penganiayaan yang terakhir, pada zaman Diocletianus,
sebagian rakyat malah memprotes tindakan melawan orang Kristen.
Beberapa tahun kemudian, negara membatalkan untuk seterusnya
semua tindakan melawan gereja, dan mulailah massa mengalir
masuk.
2. Tanggapan
orang Kristen terhadap kritik dari pihak filsafat
Di atas telah dikatakan bahwa para cendekiawan Yunani-Romawi
memandang agama Kristen sebagai "takhyul ekstrem",
yang "bertentangan dengan akal sehat". Pandangan
ini ditanggapi orang Kristen secara langsung dan tidak langsung.
Secara langsung, dengan menunjukkan sifat rasional iman
Kristen dan/atau memperlihatkan cacat filsafat. Secara tidak
langsung, dengan memaparkan iman mereka sambil menggunakan
istilah-istilah, bahkan wawasan-wawasan filsafat.
Sama seperti dewasa ini, begitu juga pada zaman Gereja Lama
sikap orang Kristen terhadap filsafat dan pandangan dunia
zaman mereka tidak sama. Ada yang mengeluarkan pandangan
negatif semata. Demikian Tertullianus (yang di kemudian
hari masuk Montanis). Pernah ditulisnya, "Apa urusan
Yerusalem dengan Atena [pusat filsafat Yunani lama]? Apa
urusan gereja dengan filsafat Platonis?" Dalam karyanya
Apologeticum ia memaparkan semua kekeliruan para filsuf
– yang terutama terletak dalam perilaku dan sikap
mental mereka. Tetapi Tertullianus pun yakin bahwa semua
filsuf menimba dari Kitab Suci, yang jauh lebih tua daripada
filsafat Yunani. Hanya, mereka salah memahami, dan merusak,
apa yang telah mereka temukan di dalamnya. Minucius Felix
jauh lebih positif. Tulisnya,
Saya telah
menguraikan pendapat dari hampir semua filsuf yang terkenal.
Mereka memakai berbagai nama, namun mereka semua menegaskan
bahwa hanya ada satu Allah. Maka wajar saja kalau timbul
dugaan bahwa orang Kristen yang hidup sekarang adalah filsuf-filsuf,
atau bahwa kaum filsuf yang hidup dahulu adalah orang Kristen."
Clemens
Alexandrinus (sek. 180), malah melangkah lebih jauh lagi:
Sebelum
kedatangan Tuhan, filsafat dibutuhkan untuk menjadikan orang
Yunani adil, tetapi kini filsafat perlu untuk menjadikan
mereka saleh, sebab filsafat itu merupakan semacam latihan.
Allah telah mengadakan segala sesuatu yang baik. Tetapi
ada yang diadakannya secara langsung, seperti Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru, dan ada yang diadakannya secara
tidak langsung, seperti halnya filsafat. Mungkin kita malah
boleh berkata bahwa filsafat itu diberikan-Nya kepada orang
Yunani secara langsung, pada masa sebelum Tuhan memanggil
mereka, sebab filsafat itu mempersiapkan orang Yunani, sebagaimana
Hukum [Musa] mempersiapkan orang Israel, "untuk membawa
mereka kepada Kristus" [Gal. 3:24].
Sikap
yang pada asasnya positif ini tampak juga secara tidak langsung,
yaitu dalam perkembangan pemikiran Kristen. Alkitab pada
umumnya dan Perjanjian Baru pada khususnya bukan karya teologi.
Kitab Suci menyatakan berita keselamatan dalam bentuk cerita
sejarah, atau nubuat, atau nyanyian, atau peringatan. Alkitab
bersifat konkret. Sebaliknya, filsafat Yunani-Romawi membekukan
kenyataan konkret, sejarah, menjadi sistem abstrak. Lebih
tegas lagi: Alkitab adalah kabar dari dan mengenai Allah
yang bergerak, yang emosional (mengasihi, membenci), yang
bertindak; sebaliknya, allah filsafat tidak bergerak, tidak
bertindak, tidak beremosi, tidak membenci, tidak mengasihi.
Alkitab di banyak tempat memuji materi sebagai ciptaan Allah,
sehingga sejarah dapat menjadi medan tindakan Allah; filsafat
Yunani-Romawi memandang materi (dan dengan demikian: sejarah)
sebagai yang jahat, yang dengannya Allah tidak dapat berurusan.
Maka iman Kristen dan pandangan dunia Yunani-Romawi seperti
darat dan laut, atau siang dan malam.
Para pemikir Kristiani dalam abad-abad pertama sejarah gereja
telah berupaya menjembatani jurang ini. Sejumlah besar tokoh
Kristen, khususnya di wilayah berbahasa Yunani, mempelajari
dan memanfaatkan filsafat Yunani. Perlu diperhatikan bahwa
maksud mereka bukan menjadi filsuf (Kristen), melainkan
mengungkapkan iman Kristen sedemikian rupa, hingga dapat
dipahami oleh sesama warga yang bukan-Kristen. Mereka menyadari
bahwa pesan mereka akan dipahami hanya kalau mereka memakai
istilah-istilah, bahkan wawasan-wawasan, yang berasal dari
dunia bukan-Kristen. Maka lahirlah teologi Kristen. Teologi
merupakan salah satu cara kehadiran orang Kristen di tengah
dunianya, salah satu ekspresi sikap yang pada asasnya positif
terhadap dunia itu. Karena perbedaan utama antara iman Kristen
dan pandangan dunia Yunani terletak dalam hubungan Allah
dengan dunia yang kelihatan ini, maka teologi Kristen yang
pertama itu terutama memperhatikan Kristologi. Perkembangannya
menghasilkan dogma Trinitas (325/381) dan rumus mengenai
kedua tabiat Kristus (451).
Perlu ditambahkan bahwa perkembangan teologi Kristen dan
kelahiran kedua rumus ajaran tersebut tidak berjalan mulus.
Para teolog zaman itu bagaikan memasuki tanah yang belum
dipetakan. Ada yang merancangkan ajaran yang oleh rekannya
kemudian dianggap menjauhkan jemaat dari iman Kristen, dan
dikritik habis-habisan. Lalu muncul rancangan lain, yang
memperhitungkan keberatan itu. Kemudian itu pun ternyata
tidak memadai. Bahkan ada yang menolak sama sekali usaha
menyatakan iman dengan bahasa filsafat. Demikianlah Tertullianus:
"Enyahlah semua usaha menghasilkan kekristenan Stois,
Platonis, atau dialektis! Kami tidak menghendaki diskusi
falsafi, karena kami sudah memiliki Yesus Kristus!"
Tetapi mayoritas besar kaum teolog maju terus di jalan yang
telah ditempuh. Akhirnya tercapai keseimbangan dan dihasilkan
rumus yang oleh gereja (lebih tepat: oleh mayoritas gereja)
dianggap mengungkapkan keyakinan iman mengenai Allah dan
mengenai dunia dengan cara "ilmiah". Dengan demikian,
rumus Trinitaris yang dihasilkan di Nicea 325 dan di Konstantinopel
381, dan rumus Kristologis yang keluar dari Konsili Khalcedon
(451) merupakan hasil usaha mengungkapkan iman Kristen di
tengah dunia Helenistis, dalam bahasa orang Yunani, tanpa
melepaskan keyakinan dasar yang terdapat dalam Alkitab Perjanjian
Lama dan Baru.
c. Tanggapan
orang Kristen terhadap permusuhan dari pihak negara
Telah kita lihat bahwa negara Romawi menuntut loyalitas
semua warganya, termasuk orang Kristen. Loyalitas itu harus
diungkapkan dengan cara yang ditentukan oleh negara, yaitu
dengan mengakui kaisar sebagai kurios dan mempersembahkan
kurban dupa. Orang Kristen merasa tidak dapat mengikuti
kehendak negara dalam hal ini, sehingga lahir konflik. Dalam
hal ini sikap orang Kristen berbeda dengan sikap penganut
semua agama lainnya. Agama lain itu bersifat inklusif. Seorang
pengikut Isis atau Mithras, bahkan seorang penganut gnostik,
tidak merasa keberatan mempersembahkan dupa di depan patung
kaisar. Bukankah dunia ilahi menyatakan diri dalam banyak
wujud? Sebaliknya, agama Kristen bersikap eksklusif. Tidak
ada allah lain di hadapan Tuhan. Sebagaimana dikatakan Plinius,
"orang Kristen sejati tidak dapat dipaksa melakukan
perbuatan serupa", yaitu mempersembahkan dupa di depan
patung kaisar.
Akan tetapi, penolakan itu tidak berarti bahwa orang Kristen
tidak mau berurusan lagi dengan negara, atau malah melakukan
perlawanan aktif. Ada fakta yang sangat menonjol dalam sejarah
Gereja Lama, yaitu bahwa orang Kristen tidak pernah melakukan
perlawanan bersenjata terhadap alat negara yang menganiaya
mereka, pun tidak ketika di beberapa daerah mereka sudah
merupakan minoritas besar atau malah mayoritas. Satu-satunya
bentuk perlawanan yang dibenarkan ialah usaha menjelaskan
kepada yang berwajib bahwa tindakan mereka tidak benar,
baik dari sudut hukum Allah maupun dari sudut hukum Romawi
sendiri. Paling-paling seorang martir mengancamkan hukuman
Allah kepada hakim yang menjatuhkan vonis atas dirinya.
Begitu Uskup Polikarpus, yang berkata kepada gubernur yang
memimpin acara penganiayaannya di gelanggang, "Tuan
mengancam dengan api yang hanya menyala sebentar saja, [...]
karena Tuan tidak mengenal api hukuman yang akan datang
dan siksaan kekal yang disediakan bagi orang-orang fasik"
Negara menilai penolakan orang Kristen memenuhi tuntutannya
sebagai tanda ketidaksetiaan. Terhadap penilaian ini orang
Kristen selalu mempertentangan pernyataan kesetiaan mereka.
Hanya, mereka ingin menyatakan kesetiaan itu dengan cara
mereka sendiri. Kata Tertullianus:
Jika Anda
menyangka kami sama sekali tidak peduli kesehatan sang kaisar,
maka sudilah Anda membaca Firman Allah, Kitab-kitab Suci
kami. [...] Darinya Anda dapat mengetahui bahwa kami didorong
agar menyatakan kasih secara berlimpah, bahkan berdoa kepada
Allah demi musuh kami dan memohon berkat-Nya bagi mereka
yang menganiaya kami. [...] Lagi pula, Alkitab menegaskan:
"Naikkanlah doa syafaat untuk raja-raja dan pemerintah
serta semua pembesar, agar kamu dapat hidup tenteram dalam
segala hal".
Tertullianus
bahkan menyatakan bahwa kekaisaran Romawi perlu didoakan
juga karena ketertiban yang dijamin oleh kekaisaran itu
masih mengulur bencana dahsyat yang akan menimpa dunia pada
akhir zaman. Lagi pula, Allah sendirilah yang mengangkat
kaisar menjadi rajadiraja, maka orang Kristen tidak dapat
tidak menghendaki supaya dia tetap memerintah atas mereka.
Tertullianus tidak juga keberatan memanggil kaisar kurios,
asal saja "menurut artinya yang biasa"dan asal
saja "saya tidak dipaksa menyebutnya kurios dalam arti
"allah". Pernyataan serupa kita temukan pada Origenes.
Bila Kelsos menyatakan bahwa "kepadanyalah [kepada
kaisar] diserahkan seluruh kekuasaan di bumi ini; apa saja
yang kauterima dalam kehidupan ini dari dialah engkau menerimanya",
Origenes membalas,
Sebaliknya,
kami mempertahankan bahwa "kepadanya" tidak diserahkan
seluruh kekuasaan di bumi, dan bahwa bukan dari dialah "kami
terima apa saja yang kami terima dalam kehidupan ini".
Sebab, apa saja yang kami terima dengan cara yang baik dan
benar, dari Allah kami menerimanya, dan dari pemeliharaan-Nya.
[...]
Begitu
pula, bila Kelsos mendesak orang Kristen agar mereka mendukung
kaisar dengan segala tenaga, bersama dia mengupayakan kebenaran,
berjuang baginya dan bila perlu mengikutinya dalam perang,
Origenes menjawab bahwa orang Kristen tentu akan berperang
bagi raja mereka, tetapi dengan mengenakan "perlengkapan
senjata Allah" dan dengan mendoakannya sesuai anjuran
Rasul Paulus dalam 1 Timotius 2:1-2. Dalam hal ini juga
"imamat" orang Kristen menyatakan diri. Sebab,
sebagaimana dalam agama Romawi para imam yang mempersembahkan
kurban demi keselamatan kaisar dan tentara tidak ikut berperang,
begitu pula orang Kristen adalah "imam dan pelayan
Allah, yang bertempur dengan jalan mendoakan tuan mereka
yang sah dan perkaranya yang adil". Sama halnya dengan
penerimaan jabatan negara (yang ditolak oleh orang Kristen).
Sebab, kata Origenes,
Di setiap
kota terdapat persekutuan lain lagi, yang didirikan oleh
Firman Allah. [...] Bila orang Kristen tidak bersedia menerima
jabatan negara, mereka tidak berbuat demikian dengan maksud
menghindari pemberian jasa untuk umum, tetapi agar mereka
bebas memberi pelayanan yang lebih ilahi dan yang lebih
diperlukan, yaitu pelayanan kepada Gereja Allah demi keselamatan
umat manusia.
Penutup
Orang Kristen pada zaman Gereja Lama mempunyai hubungan
"dialektis" dengan dunia sekitar. Kendati mereka
"dibenci oleh dunia", mereka tidak menarik diri
dari dunia. Mereka tetap mau berpartisipasi dalam kehidupan
masyarakat, mereka tetap menilai tinggi ilmu pengetahuan,
artinya pandangan dunia dan budaya, yang berlaku pada zaman
dan dalam lingkungan masyarakat mereka; dan mereka tetap
menghormati kaisar dan bersikap loyal terhadap negara. Akan
tetapi, mereka berbuat demikian atas syarat mereka sendiri.
Selama dua setengah abad, masyarakat dan negara tidak mau
mengakui syarat itu. Tetapi akhirnya mereka menyerah. Rakyat
masuk Kristen, filsafat dikristenkan, negara mengangkat
gereja ke status gereja resmi. Tampaknya perjuangan antara
gereja dan dunia selesai. Tetapi pada kenyataannya perjuangan
itu berjalan terus, dalam bentuk lain. Maka kata-kata indah
penulis Surat kepada Diognetus mengenai kehidupan orang
Kristen di tengah dunia ini berlaku terus juga bagi kita,
meski antropologi yang mendasarinya mungkin tidak lagi kita
anut:
Mereka
hidup di tanah air mereka, tetapi seakan mereka pendatang.
Mereka kawin, sama seperti siapa pun juga, dan mereka mendapat
anak. Namun, mereka tidak membuang keturunan mereka.
Pangan mereka bagi dengan sesama mereka, tetapi bukan ranjang
pengantin mereka.
Maka benar mereka "dalam daging", tetapi mereka
tidak hidup "menurut daging". [bnd. Rm. 8:4, 12;
2 Kor. 10:3]
Mereka menyibukkan diri di dunia, tetapi kewargaan mereka
adalah di dalam surga. [Flp. 3:10]
Mereka mematuhi undang-undang yang berlaku, namun dalam
kehidupan mereka sendiri jauh melampaui apa yang dituntut
oleh undang-undang itu.
Mereka mencintai semua orang, dan oleh semua orang mereka
ditindas.
Mereka tidak dikenal, tetapi sementara itu mereka terhukum;
mereka dihukum mati, dalam pada itu mereka dihidupkan. [Bdk.
2 Kor. 6:9]
Mereka miskin, tetapi sementara itu banyak orang yang berika
berikan kekayaan.
mereka difitnah, tetapi mereka dibenarkan.
Mereka dicaci maki, tetapi sementara itu mereka memberkati;
bilamana mereka dihina, masih juga mereka memberi hormat
sebagaimana mestinya.
Pendeknya, orang Kristen di dalam dunia bagaikan jiwa di
dalam tubuh.
Kita kembali
ke masalah yang dihadapi Gereja Kristen di dunia non-barat.
Orang memandang agama Kristen sebagai "agama Barat",
"agama Belanda", dengan konotasi "unsur asing,
yang patut ditolak. Apakah penilaian ini tepat, apakah kita
perlu menerimanya saja? Untuk menjawab pertanyaan ini, kami
memberi tiga catatan.
a. Pada zaman gereja Lama, orang Kristen dalam kekaisaran
Romawi hidup di tengah lingkungan budaya mereka sendiri.
Agama mereka juga timbul di tengah lingkungan budaya itu.
Namun, mereka dianggap "asing".
b. Faktor yang menyebabkan mereka dianggap "asing"
ialah sikap menolak mereka terhadap pretensi negara dan
budaya Romawi seakan nilainya sendiri berlaku mutlak. Mereka
"naik banding" dari kaisar kepada Allah yang Mahatinggi.
Mereka mendobrak lingkaran tertutup budaya Helenistis.
c. Di dunia non-barat (sama seperti di dunia Barat sendiri!)
agama Kristen berhadapan dengan lingkaran tertutup, dengan
masyarakat, budaya, negara yang memutlakkan diri, yang tidak
mengizinkan warganya "naik banding". Harus diakui
bahwa di sebagian besar Asia dan Afrika agama Kristen dibawa
oleh orang Barat. Akan tetapi, di Barat sendiri pembawa
Injil itu mempunyai kedudukan marjinal. Pada hakikatnya,
yang mereka bawa bukan "budaya Barat", apalagi
"agama Barat", melainkan – saya ulangi:
pada hakikatnya – sikap kritis terhadap dunia non-barat
sekaligus terhadap dunia Barat sendiri. Gereja-gereja yang
mereka dirikan, termasuk di Indonesia, merupakan ahli waris
sikap kritis itu. Semoga kita juga "mau berpartisipasi
dalam kehidupan masyarakat", tetap "menilai tinggi
ilmu pengetahuan" alias budaya kita sendiri, dan tetap
"menghormati" pemerintah kita dan "bersikap
loyal terhadap negara". Dan semoga kita juga berbuat
demikian "atas syarat kita sendiri".