Updated: Feb 2006

PASKI (Persatuan Ahli Sejarah Kekristenan Indonesia)
Society for Indonesia Christianity Historians

 

 

Menemukan Kembali Sejarah Kekristenan Indonesia
Laporan Semiloka Dokumentasi Sejarah Gereja Indonesia
11-13 Oktober 2005, di STT Jakarta

Menyelamatkan dokumen historis, menyelamatkan sejarah
Sebagian komunitas Protestan Indonesia terancam kehilangan sejarahnya, kehilangan media penting untuk mengenali jatidiri sendiri. Kesadaran historis warga gereja minim. Tidak sedikit dokumen historis gereja/jemaat yang hilang, rusak atau bahkan mereka musnahkan secara sengaja, karena dianggap sampah yang tidak berguna. Sejarah kekristenan Indonesia mesti ditemukan kembali dan diselamatkan. Untuk itu, langkah awal yang penting adalah melakukan upaya terencana dan sistematis mencari, memelihara dan mengolah data atau sumber-sumber sejarah kekristenan Indonesia. Demikian kesimpulan utama Semiloka bertajuk “Dokumentasi Sejarah Gereja Indonesia” yang diselenggarakan Pusat Dokumentasi Sejarah Gereja Indonesia (PDSGI) Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (STTJ) pada tanggal 11-13 Oktober 2005 di Gedung Pasca Sarjana STTJ. Semiloka DSGI ini seolah-olah menjawab kebutuhan yang dirasakan sejak beberapa tahun lalu oleh ahli sejarah gereja Indonesia.
Semiloka DSGI merupakan salah satu program kerja PDSGI-STTJ, diadakan dengan tujuan mempertemukan para ahli sejarah gereja Indonesia agar mereka bersama-sama memikirkan langkah konkret dan strategis mengatasi masalah minimnya/lemahnya penyimpanan dan pemeliharaan dokumen sejarah gereja Indonesia.
Ketika menyampaikan catatan pengantar Semiloka, Kepala PDSGI-STTJ, J.S. Aritonang, mengemukakan alasan diadakannya semiloka DSGI seraya menginformasikan rencana dan program pengembangan PDSGI ke depan. Menurutnya, gereja dan lembaga gerejawi lainnya (badan penginjilan, dewan gereja, dsb) di Indonesia memiliki sedikit-banyak dokumen historis yang sebagian besar masih kurang tersimpan/terpelihara dengan baik. Kekayaan itu perlu diselamatkan. Langkah kongkret yang paling mungkin dilakukan adalah mendata seberapa banyak dokumen historis yang terdapat di gereja/lembaga masing-masing, mencatat upaya mereka dalam menyimpan dan memelihara dokumen historis yang ada, serta memikirkan kemungkinan upaya lain yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan “harta karun” yang terancam hilang atau hancur. Pembentukan PDSGI-STTJ juga mesti dilihat dalam perspektif dan kepentingan penyimpanan dan pemeliharaan dokumen historis sejarah gereja Indonesia. Keberadaan lembaga ini diharapkan dapat mendorong gereja dan lembaga gerejawi lainnya agar melakukan hal yang sama, atau bahkan mengerjakan lebih dari yang dapat dikerjakan oleh lembaga dokumentasi seperti PDSGI-STTJ.
Semiloka DSGI berlangsung selama dua setengah hari penuh, dengan jadwal dan agenda yang cukup padat. Acara semiloka terbagi menjadi tiga jenis kegiatan utama, yaitu: enam sesi penyampaian informasi dan pembahasannya; tiga sesi lokakarya kelompok mengolah hasil percakapan enam sesi sebelumnya; satu kali studi lapangan ke Arsip Nasional RI di jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan.
Semiloka ini melibatkan duapuluh orang ahli/dosen sejarah gereja yang datang dari berbagai lembaga pendidikan tinggi teologi di dalam maupun luar negeri. Selain para ahli sejarah gereja yang aktif mengajar di sekolah-sekolah tinggi teologi anggota PERSETIA, di antara peserta terdapat Rm. Eddy Kristiyanto dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Rm. Raymundus Sudhiarsa dari Institut Misiologi Aditya Malang, Dr. Th. Van den End dari Belanda dan Dr. Henk Niemeijer dari University of Leiden, Belanda. Yang juga patut disyukuri adalah kehadiran sembilan orang tenaga muda ahli sejarah gereja, lima orang di antaranya perempuan, yaitu Pdt. Sientje Latuputty dari GKI di Tanah Papua, Pdt. Alexandra Binti dari GKE, Pdt. Bertha Tarigan dari STT Abdi Sabda, Pdt. Evilina Hulu dari STT Sundermann Nias dan Pdt. Sylvana Apituley dari STT Jakarta.

Kekayaan sejarah dan masalah kesadaran sejarah
Dr. Th.van den End, di hari pertama semiloka, menginformasikan beberapa buku sumber sejarah penting yang baru saja (dan masih akan) terbit, di antaranya dua seri buku sangat tebal tentang Maluku dan Maluku Tengah, serta buku sejarah Gereja Katolik di Indonesia, berjudul “Indonesianisasi: Dari Gereja Katolik di Indonesia menjadi Gereja Katolik Indonesia” karangan Dr. Huub J.W.M. Boelaars, OFM Cap diterbitkan oleh Kanisius, Jogyakarta.
Van den End, yang mengakui dirinya sebagai “tukang” pengumpul alat-alat (arsip & buku sumber) yang dibutuhkan untuk penulisan sejarah, juga menyampaikan keprihatinan tentang dokumen historis yang sudah dan terancam rusak atau hilang, misalnya arsip pribadi Prof. T.S. Gunung Mulia, arsip gereja Toraja, GPI dan Gereja Kristus Ketapang yang sebagian sempat beliau selamatkan (dibuat copy-nya). Situasi ini mencerminkan sikap a-historis dan ketidakpedulian sebagian gereja/masyarakat kita terhadap pentingnya sejarah sendiri.
Di akhir presentasinya, van den End berbagi kiat mencari, menemukan dan menyelamatkan dokumen historis. Menurut beliau, sebaiknya kita kreatif dan cermat menelusuri/mencari gereja atau jemaat lokal maupun pribadi tertentu yang memiliki dokumen historis yang berharga. Van den End juga mengingatkan bahwa yang termasuk dokumen historis bukan hanya arsip tertulis. Arsip lisan yang terdapat dalam ingatan para pelaku dan saksi sejarah adalah juga dokumen historis yang tak kalah pentingnya. Hal yang terakhir ini agaknya perlu digaris-bawahi mengingat metodologi penelitian sejarah kita yang umumnya kurang memberi perhatian kepada pentingnya tradisi lisan (sejarah lisan) sebagai sumber utamanya. Isi ceramah Van den End selengkapnya lihat pada tulisan tersendiri.
Pdt. M. Panjaitan dari STT HKBP Pematang Siantar melaporkan kondisi-situasi pengarsipan dan pendokumentasian sejarah gereja Indonesia, khususnya gereja-gereja Batak di Sumut, di lembaganya. Menurut beliau, seluruh arsip sejarah gereja diurus oleh perpustakaan STT HKBP. Dokumen historis diambil dan dikumpulkan dari: kantor-kantor gereja mulai tingkat pusat sampai tingkat jemaat lokal; kantor maupun perpustakaan lembaga zending di Jerman (RMG, VEM). Kesulitan yang muncul dalam proses pengumpulan dokumen antara lain: tidak semua pemilik dokumen rela menyumbangkan “harta karun” nya; banyak arsip yang sudah hilang (dibakar/dimusnahkan); banyak dokumen tertulis dalam bahasa asing (Jerman) dan mesti diterjemahkan terlebih dahulu. Masalah penerjemahan dokumen dari bahasa asing ke bahasa Indonesia merupakan masalah umum yang dihadapi oleh hampir semua sejarawan. Pdt. Panjaitan juga menyampaikan informasi yang menarik mengenai kebiasaan HKBP menuliskan sejarah jemaat lokal dalam rangka perayaan jubileum jemaat (ke-25 tahun, dst). Upaya penulisan sejarah jemaat lokal juga dilakukan oleh mahasiswa STT HKBP dalam rangka penulisan skripsi sarjana.
Keadaan yang sedikit berbeda dilaporkan oleh Pdt. Jan Damanik dari Gereja Kristen Protestan Simalungun/GKPS. Pengarsipan dokumen historis di sana cukup memprihatinkan. Dari sekian banyak dokumen historis yang tersimpan dalam kondisi rusak di “gudang bawah tanah” kantor lama sinode GKPS hanya sedikit saja yang bisa diselamatkan oleh Pdt. Damanik dalam bentuk notula rapat, surat-surat, laporan-laporan dan majalah gereja. Sebagian kecil arsip juga dapat ditemukan di kantor baru sinode GKPS. Dengan menempuh berbagai cara, sekarang ini GKPS berusaha menemukan kembali sejarahnya. Mereka melacak dokumen historisnya yang tersebar di banyak tempat, menulis sejarah jemaat-jemaat GKPS, dst.
Pendeta Elvilina Hulu memaparkan kondisi pengarsipan dokumen historis di Banua Niha Keriso Protestan/BNKP Nias yang tak jauh berbeda dengan pengalaman GKPS. Perhatian terhadap sejarah gereja/jemaat dan pengarsipan di BNKP cukup lemah. Arsip yang dimiliki sinode BNKP tersimpan tanpa perawatan, kecuali surat-surat berharga, seperti surat bukti kepemilikan tanah atau lahan. Sekolah Tinggi Teologi Sundermann di Gunung Sitoli, sebuah lembaga yang semestinya berkompeten dan berkepentingan memelihara dokumen historis atau (mengadakan) buku-buku sejarah Nias, juga belum dapat melakukan banyak hal. Dokumen historis mengenai sejarah kekristenan Nias lebih mudah ditemukan di Wuppertal-Jerman, negeri asal para pekabar Injil yang dulu bekerja mengkristenkan Nias.
Gereja Kristen Pasundan mengalami problem yang sama. Dari presentasi Pdt. Em. Koernia Atje Soejana terungkap masalah langkanya dokumen sejarah masa lalu jemaat-jemaat Pasundan. Penyebabnya beragam, dokumen tak terawat, sudah rusak, hilang ketika situasi masyarakat sedang kacau, dll. Meski demikian, masih ada secercah harapan bagi GKP. Belakangan ini tumbuh kesadaran menulis sejarah gereja lokal di kalangan jemaat. Para vikaris yang menulis laporan vikariat juga diharuskan menuliskan sejarah jemaatnya. Selain itu, sejak th.2003 Majelis Pekerja Sinode GKP menyusun “Panduan Untuk Menyusun Tulisan Sejarah Jemaat GKP” disertai contoh daftarnya. Panduan ini dimaksudkan untuk mempermudah penulisan sejarah jemaat-jemaat GKP. Pdt. Koernia Atje sendiri juga menyimpan rapi beberapa dokumen historis GKP, sebagian di antaranya adalah arsip zending NZV di Jawa Barat yang dipinjamnya dari Th.van den End.
Pengalaman di wilayah timur Indonesia cukup berbeda dengan di wilayah barat. Sekolah Tinggi Teologi Indonesia bagian Timur/STT INTIM di Makassar, misalnya, cukup beruntung memiliki Institut Sejarah Gereja Indonesia bagian Timur/ISGIT, sebuah lembaga penyimpan arsip dan dokumen-dokumen sejarah. Pada era 1970-an, ISGIT, yang dipimpin oleh Dr. P.N. Holtrop ahli sejarah gereja dari Belanda, pernah sangat produktif. Sampai sekarang lembaga ini masih menyimpan sejumlah dokumen historis yang berhasil dikumpulkan saat itu, terutama menyangkut sejarah gereja-gereja di Sulawesi Selatan. Namun, sangat disayangkan bahwa produktivitas lembaga ini sudah terhenti. Salah satu alasan terpentingnya, menurut Pdt. Sopamena, adalah karena lemahnya kesadaran sejarah orang-orang (pendeta/teolog/intelektual) lokal.
Beberapa orang narasumber, a.l. Pdt. Asyer Tandapong, juga mengemukakan situasi kekristenan Poso yang cukup memprihatinkan. Menurut mereka sumber historis yang memadai tentang jemaat-jemaat Poso sangat minim. Meski sudah ada beberapa buku tentang Poso, namun masih diperlukan upaya khusus untuk menulis kembali sejarah jemaat-jemaat Poso.
Laporan dari Sulawesi Utara terdengar lebih menggembirakan. Pdt. Arnold Parengkuan, dosen Sejarah Gereja di Fakultas Teologi-Universitas Kristen Tomohon, mencatat bahwa kesadaran dan minat masyarakat dan jemaat terhadap sejarah di Sulawesi Utara cukup besar. Hasilnya adalah dilakukannya upaya yang meluas untuk meneliti sejarah masyarakat dan gereja sampai di tingkat lokal. Kalangan lembaga pendidikan tinggi non teologi, para jurnalis dan Lembaga Swadaya Masyarakat di Sulut yang meneliti sejarah dan latar budaya/adat-istiadat di sana, mau tidak mau menyentuh dan berurusan dengan sejarah gereja/jemaat. Mereka juga berkepentingan mengumpulkan arsip dan dokumen historis lainnya yang terkait dengan sejarah gereja.
Menurut Pdt. Arnold Parengkuan, selain terdapat kumpulan dokumen historis koleksi pribadi, minimal ada empat lembaga di Minahasa yang mengumpulkan dan menata arsip dan dokumen sejarah gereja dengan baik. Pertama, Unit Kearsipan Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa/GMIM. Arsip gereja, khususnya meliputi periode abad ke-20, yang tadinya tersebar di beberapa tempat dan terbengkalai, berhasil dikumpulkan dan diklasifikasikan dengan rapi. Banyak pula arsip yang belum sempat diolah dan masih tersimpan, terutama yang menyangkut pertumbuhan jemaat-jemaat di abad ke-19. Kedua, perpustakaan FT-UKIT yang menyimpan banyak skripsi mahasiswa yang memuat sejarah desa dan jemaat lokal. Ketiga, perpustakaan Yayasan Masarang. Di sana tersimpan banyak dokumen mengenai sejarah budaya dan gereja Minahasa dan Sulawesi Utara. Terakhir, perpustakaan A.Z.R. Wenas, sebuah perpustakaan baru yang mengupayakan pengumpulan-penyimpanan dokumen sejarah yang berhubungan dengan gereja. Senada dengan info dari Minahasa, Pdt. Alexandra Binti dari Gereja Kalimantan Evangelis/GKE menyebutkan upaya gerejanya untuk meneliti sejarah kekristenan Kalimantan dengan memanfaatkan dan mengkombinasikannya dengan studi-studi budaya dan antropologi.
Penelusuran jumlah kekayaan historis Gereja Protestan Maluku/GPM harus diletakkan dalam konteks Maluku yang pernah menderita oleh konflik dan kerusuhan sosial. Pdt. Dr. M. Tapilatu melaporkan bahwa sebelum kerusuhan terjadi di tahun 1999, dokumen historis jemaat-jemaat Maluku tersebar di pusat-pusat klasis dan sejumlah jemaat. Sebagian besar, dan yang terpenting, berada di GPM jemaat Banda Neira meliputi dokumen gereja di jaman VOC (1600-1800), masa Indische Kerk (1815-1935) dan masa GPM (1935-1999). Selain tersimpan di klasis, jemaat dan sinode, arsip gereja (terutama mencakup periode menjelang dan berdirinya GPM di tahun 1935) juga disimpan sebagai koleksi pribadi oleh keluarga-keluarga pendeta. Yang penting juga adalah koleksi perpustakaan STT GPM/UKIM, meliputi dokumen historis gereja sejak masa VOC sampai GPM, buku-buku mengenai perkembangan gereja di Maluku dan sejarah Maluku yang dikenal dengan nama koleksi MOLUCANA.
Konflik dan kerusuhan sosial tahun 1999 berdampak sangat buruk. Api konflik menelan habis sebagian besar dokumen historis jemaat-jemaat Protestan Maluku. Gereja Protestan Maluku nyaris kehilangan dokumen sejarahnya. Koleksi di Banda hanya berhasil diselamatkan ¼ bagian saja, sisanya tidak jelas nasibnya. Kemungkinan habis terbakar, atau mungkin “diselamatkan” oleh orang-orang tertentu. Arsip seperti itu mestinya menjadi tanggungjawab pemerintah/diserahkan kepada negara (dhi. lembaga arsip pemerintah). Selain sisa “kekayaan” Banda, yang kondisinya cukup memprihatinkan, masih terdapat sebagian arsip yang diselamatkan jemaat di kota dan Pulau Ambon, juga arsip di sebagian wilayah yang tak tersentuh konflik seperti di Maluku Tenggara dan Maluku Tenggara Barat. Sangat disayangkan bahwa kondisi yang berat ini diperparah oleh lemahnya kesadaran sejarah di kalangan pemimpin gereja, klasis dan jemaat. Mereka kurang rajin menyimpan dan memelihara arsip gereja. Selain itu, sinode GPM juga belum memikirkan langkah sistematis menyelamatkan dokumen historis jemaat-jemaat.
Cornelis Alyona, seorang pendeta GPM yang sedang menulis disertasi sejarah di Universitas Indonesia, mengingatkan beberapa hal yaitu: pentingnya penguasaan teori dan metodologi penelitian sejarah yang baik untuk mengembangkan sikap kritis orang yang berminat di bidang sejarah; perlunya mempelajari dokumentasi Portugis dan Inggris tentang Maluku.
Selain melaporkan upaya pengarsipan oleh lembaga pendidikan maupun gereja di NTT, Dr. F.D. Wellem dari FT Universitas Kristen Artha Wacana Kupang mengisahkan beberapa upayanya menjemaatkan sejarah jemaat-jemaat lokal. Sejarah singkat jemaat lokal dituliskan sebagai bagian dari buku Renungan Harian “Pelangi Kasih” yang disebarluaskan kepada seluruh warga jemaat GMIT.
Pdt. Sientje Loupatty-L dari STT-GKI “I.S. Kijne” Jayapura, dalam presentasinya, membagi periodisasi penulisan sejarah GKI Papua ke dalam empat masa: sebelum pemerintahan Hindia Belanda (berhubungan dengan sejarah Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan), masa Hindia Belanda, masa Jepang dan masa kemerdekaan. Menurut Sientje, dokumen asli sejarah gereja Papua pada masa Hindia Belanda, yang umumnya ditulis dalam bahasa Jerman, Belanda dan Melayu, lebih banyak disimpan di Belanda, STT-GKI hanya memiliki salinannya dalam bentuk micro-film. Selain itu dokumen historis juga tersebar di jemaat, kantor klasis, sinode maupun disimpan para mantan pejabat struktural gereja.
Sientje menyatakan belum semua narasi historis gereja Papua tercatat dalam bentuk tertulis. Selain itu tidak semua dokumen itu tersimpan baik. Tidak sedikit yang rusak/dilenyapkan oleh pewarisnya. Pada masa pemerintahan Jepang banyak dokumen historis yang dibakar oleh tentara Jepang, sebagian juga disimpan (dikubur) oleh para guru jemaat/penginjil yang keselamatannya terancam karena Jepang menganggap mereka pro Belanda.
Sientje juga menceritakan perkembangan penting yang terjadi di Papua, yaitu menguatnya semangat dan upaya menulis sejarah jemaat-jemaat lokal. Penulisan itu, meski masih dalam bentuk yang sederhana, dilakukan oleh guru jemaat, mahasiswa STT-GKI (dalam bentuk laporan atau skripsi) maupun orang tertentu yang pernah bekerja di jemaat. Namun demikian harus diakui bahwa upaya tersebut masih jauh dari memadai, mengingat jumlah jemaat yang begitu banyak (1350 jemaat) tersebar di seluruh (kota dan pedalaman) Papua. Upaya menyediakan sejarah jemaat lokal yang lengkap tentu membutuhkan sumber daya dan dana yang tidak sedikit.
Selain upaya individual, ada juga upaya yang lebih sistematis oleh lembaga seperti STT-GKI. Melalui biro pengabdian & penelitiannya (ABLIT) sejak tahun 1986 terkumpul laporan-laporan mahasiswa yang dapat dipakai sebagai sumber sekunder sejarah gereja Papua. Selain laporan, terdapat juga catatan mengenai lagu-lagu rakyat yang telah digubah menjadi lagu rohani Iriani, foto benda-benda keramat, mas kawin atau tari-tarian suku-suku Papua. Perpustakaan STT-GKI juga menyimpan literatur dan dokumen tentang lembaga dan pekerjaan zending di Papua, yang seluruhnya berbahasa Jerman dan Belanda.
Di akhir presentasinya Sientje mencatat beberapa simpulan dan harapan yang sangat penting dan relevan bagi komunitas pecinta dan pemerhati sejarah kekristenan Indonesia, yaitu: mendesaknya penulisan sejarah gereja/jemaat lokal dari perspektif masyarakat asli Papua sebagai penerima berita Injil; perlunya memperkuat kesadaran historis di kalangan masyarakat Papua, khususnya di lingkungan akademisi; perlunya dibentuk pusat data/arsip yang dikelola oleh tenaga profesional; perlu ada pelatihan tentang pengarsipan, metodologi penelitian sejarah; pembentukan komunitas sejarawan kekristenan Indonesia sebagai forum komunikasi dan pertukaran info, dll.
Romo Raymundus Sudhiarsa SVD dan Dr. Henk Niemejer adalah dua narasumber lain yang ikut memperkaya percakapan dalam semiloka DSGI. Dari presentasi Rm. Sudhiarsa terungkap berbagai upaya penting Institut Misiologi Aditya Malang dalam mengumpulkan data/bahan/sumber/arsip sejarah gereja. Yang menarik, lembaga ini melakukan studi/penelitian historisnya dalam kerjasama dengan komunitas Protestan dan Islam.
Niemejer menyampaikan beberapa catatan penting dan mendesak, yang perlu diperhatikan oleh gereja-gereja dan lembaga-lembaga pendidikan teologi Kristen. Niemejer secara khusus mengaitkan penelitian sejarah kekristenan Indonesia dengan masalah dialog lintas iman dan perkembangan penulisan historiografi kontemporer, misalnya dengan pengaruh post-modernisme dalam penelitian sejarah. Niemejer juga menekankan pentingya kerjasama lembaga dokumentasi sejarah gereja Indonesia dengan berbagai instansi terkait di dalam maupun luar negeri, juga kemungkinan membuka program Graduate School for the History of Religions in Indonesia bekerjasama dengan UGM, UI, UINJ, the Free University-Amsterdam, dll.

Menata langkah-langkah strategis ke depan
Di hari terakhir seminar peserta mengunjungi Arsip Nasional RI di jalan Ampera Raya Jakarta Selatan. Di sana peserta disambut oleh Dr. Mona Lohanda. Beliau menjelaskan sejarah singkat ANRI, menceritakan kekayaan ANRI berupa kumpulan arsip dan berbagai dokumen historis yang penting, yang mayoritas ada kaitannya dengan sejarah kekristenan Indonesia. Peserta semiloka memanfaatkan waktu beberapa jam untuk melihat-lihat proses penyimpanan arsip, dari mulai pengumpulan dan seleksi dokumen, pembersihan dan perapian, pengobatan atau pemberian zat pengawet/zat pelindung dokumen dari “keringat” kertas, laminasi dokumen, sampai merapikan/membundelnya ulang. Proses itu cukup rumit, membutuhkan ketekunan dan ketelitian, juga peralatan yang seringkali masih harus diimpor dari Belanda.
Sepulang dari kunjungan akhir acara semiloka, peserta masih memakai satu sesi percakapan lagi dan menyepakati berbagai rekomendasi fundamental yang perlu disikapi oleh komunitas sejarah kekristenan Indonesia. Penyelamatan dan pengelolaan dokumentasi historis gereja oleh berbagai lembaga gerejawi maupun lembaga pendidikan adalah salah satu dari beberapa langkah penting yang akan dilakukan. Untuk itu PDSGI STTJ mendorong agar sekolah teologi lainnya sedapat mungkin membantu upaya itu dengan cara mengembangkan pusat data dan penelitian sejarah kekristenan di daerahnya, baik sendiri maupun dalam kerjasama dengan pihak lain.
Peserta semiloka juga bersepakat membentuk Perkumpulan Ahli Sejarah Kekristenan Indonesia (PASKI) sebagai forum komunikasi dan kerjasama para ahli sejarah kekristenan Indonesia. Lima orang dipilih menjadi moderator dan sekretaris, yaitu: Dr. J.S. Aritonang, Pdt. M. Panjaitan, Dr. Arnold Parengkuan, Dr. M. Tapilatu dan Drs. Sylvana Apituley. PDSGI-STTJ bersedia memfasilitasi, minimal selama satu tahun pertama, komunikasi kalangan pemerhati sejarah kekristenan Indonesia dan diseminasi informasi serta gagasan mengenai penelitian sejarah dengan cara menerbitkan buletin enam-bulanan PASKI.
Last but not least, para ahli sejarah kekristenan Indonesia ini sepakat untuk memperhatikan dan meninjau ulang kurikulum pembelajaran Sejarah Gereja Indonesia di lembaganya masing-masing. Agar pembelajaran dan penulisan sejarah kekristenan Indonesia diarahkan, juga, sebagai upaya mengenal dan mengkritisi pergulatan jemaat-jemaat setempat dalam menerima Injil serta mempraktikkan iman kristen yang otentik sesuai konteks dan tantangan yang mereka hadapi sehari-hari.
Seminar DSGI hari itu diakhiri dengan doa oleh Dr. Koernia Atje, foto bersama seluruh peserta dan penyerahan bingkisan/kartu ucapan selamat ulangtahun ke-70 bagi Dr. Th. van den End. (sma)

 

 


Sekretariat: PDSGI STT JAKARTA.
Jl Proklamasi 27 Jakarta Pusat 10320 Indonesia

Contact Persons:

Dr. Jan S. Aritonang
email:[email protected]

Drs. Sylvana Apituley
email:[email protected]

 

 

 

 


webmanager: [email protected]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 
 

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1