Menemukan
Kembali Sejarah Kekristenan Indonesia
Laporan Semiloka Dokumentasi Sejarah Gereja Indonesia
11-13 Oktober 2005, di STT Jakarta
Menyelamatkan
dokumen historis, menyelamatkan sejarah
Sebagian komunitas Protestan Indonesia terancam kehilangan
sejarahnya, kehilangan media penting untuk mengenali jatidiri
sendiri. Kesadaran historis warga gereja minim. Tidak sedikit
dokumen historis gereja/jemaat yang hilang, rusak atau bahkan
mereka musnahkan secara sengaja, karena dianggap sampah
yang tidak berguna. Sejarah kekristenan Indonesia mesti
ditemukan kembali dan diselamatkan. Untuk itu, langkah awal
yang penting adalah melakukan upaya terencana dan sistematis
mencari, memelihara dan mengolah data atau sumber-sumber
sejarah kekristenan Indonesia. Demikian kesimpulan utama
Semiloka bertajuk “Dokumentasi Sejarah Gereja Indonesia”
yang diselenggarakan Pusat Dokumentasi Sejarah Gereja Indonesia
(PDSGI) Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (STTJ) pada tanggal
11-13 Oktober 2005 di Gedung Pasca Sarjana STTJ. Semiloka
DSGI ini seolah-olah menjawab kebutuhan yang dirasakan sejak
beberapa tahun lalu oleh ahli sejarah gereja Indonesia.
Semiloka DSGI merupakan salah satu program kerja PDSGI-STTJ,
diadakan dengan tujuan mempertemukan para ahli sejarah gereja
Indonesia agar mereka bersama-sama memikirkan langkah konkret
dan strategis mengatasi masalah minimnya/lemahnya penyimpanan
dan pemeliharaan dokumen sejarah gereja Indonesia.
Ketika menyampaikan catatan pengantar Semiloka, Kepala PDSGI-STTJ,
J.S. Aritonang, mengemukakan alasan diadakannya semiloka
DSGI seraya menginformasikan rencana dan program pengembangan
PDSGI ke depan. Menurutnya, gereja dan lembaga gerejawi
lainnya (badan penginjilan, dewan gereja, dsb) di Indonesia
memiliki sedikit-banyak dokumen historis yang sebagian besar
masih kurang tersimpan/terpelihara dengan baik. Kekayaan
itu perlu diselamatkan. Langkah kongkret yang paling mungkin
dilakukan adalah mendata seberapa banyak dokumen historis
yang terdapat di gereja/lembaga masing-masing, mencatat
upaya mereka dalam menyimpan dan memelihara dokumen historis
yang ada, serta memikirkan kemungkinan upaya lain yang dapat
dilakukan untuk menyelamatkan “harta karun”
yang terancam hilang atau hancur. Pembentukan PDSGI-STTJ
juga mesti dilihat dalam perspektif dan kepentingan penyimpanan
dan pemeliharaan dokumen historis sejarah gereja Indonesia.
Keberadaan lembaga ini diharapkan dapat mendorong gereja
dan lembaga gerejawi lainnya agar melakukan hal yang sama,
atau bahkan mengerjakan lebih dari yang dapat dikerjakan
oleh lembaga dokumentasi seperti PDSGI-STTJ.
Semiloka DSGI berlangsung selama dua setengah hari penuh,
dengan jadwal dan agenda yang cukup padat. Acara semiloka
terbagi menjadi tiga jenis kegiatan utama, yaitu: enam sesi
penyampaian informasi dan pembahasannya; tiga sesi lokakarya
kelompok mengolah hasil percakapan enam sesi sebelumnya;
satu kali studi lapangan ke Arsip Nasional RI di jalan Ampera
Raya, Jakarta Selatan.
Semiloka ini melibatkan duapuluh orang ahli/dosen sejarah
gereja yang datang dari berbagai lembaga pendidikan tinggi
teologi di dalam maupun luar negeri. Selain para ahli sejarah
gereja yang aktif mengajar di sekolah-sekolah tinggi teologi
anggota PERSETIA, di antara peserta terdapat Rm. Eddy Kristiyanto
dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Rm. Raymundus
Sudhiarsa dari Institut Misiologi Aditya Malang, Dr. Th.
Van den End dari Belanda dan Dr. Henk Niemeijer dari University
of Leiden, Belanda. Yang juga patut disyukuri adalah kehadiran
sembilan orang tenaga muda ahli sejarah gereja, lima orang
di antaranya perempuan, yaitu Pdt. Sientje Latuputty dari
GKI di Tanah Papua, Pdt. Alexandra Binti dari GKE, Pdt.
Bertha Tarigan dari STT Abdi Sabda, Pdt. Evilina Hulu dari
STT Sundermann Nias dan Pdt. Sylvana Apituley dari STT Jakarta.
Kekayaan
sejarah dan masalah kesadaran sejarah
Dr. Th.van den End, di hari pertama semiloka, menginformasikan
beberapa buku sumber sejarah penting yang baru saja (dan
masih akan) terbit, di antaranya dua seri buku sangat tebal
tentang Maluku dan Maluku Tengah, serta buku sejarah Gereja
Katolik di Indonesia, berjudul “Indonesianisasi: Dari
Gereja Katolik di Indonesia menjadi Gereja Katolik Indonesia”
karangan Dr. Huub J.W.M. Boelaars, OFM Cap diterbitkan oleh
Kanisius, Jogyakarta.
Van den End, yang mengakui dirinya sebagai “tukang”
pengumpul alat-alat (arsip & buku sumber) yang dibutuhkan
untuk penulisan sejarah, juga menyampaikan keprihatinan
tentang dokumen historis yang sudah dan terancam rusak atau
hilang, misalnya arsip pribadi Prof. T.S. Gunung Mulia,
arsip gereja Toraja, GPI dan Gereja Kristus Ketapang yang
sebagian sempat beliau selamatkan (dibuat copy-nya). Situasi
ini mencerminkan sikap a-historis dan ketidakpedulian sebagian
gereja/masyarakat kita terhadap pentingnya sejarah sendiri.
Di akhir presentasinya, van den End berbagi kiat mencari,
menemukan dan menyelamatkan dokumen historis. Menurut beliau,
sebaiknya kita kreatif dan cermat menelusuri/mencari gereja
atau jemaat lokal maupun pribadi tertentu yang memiliki
dokumen historis yang berharga. Van den End juga mengingatkan
bahwa yang termasuk dokumen historis bukan hanya arsip tertulis.
Arsip lisan yang terdapat dalam ingatan para pelaku dan
saksi sejarah adalah juga dokumen historis yang tak kalah
pentingnya. Hal yang terakhir ini agaknya perlu digaris-bawahi
mengingat metodologi penelitian sejarah kita yang umumnya
kurang memberi perhatian kepada pentingnya tradisi lisan
(sejarah lisan) sebagai sumber utamanya. Isi ceramah Van
den End selengkapnya lihat pada tulisan tersendiri.
Pdt. M. Panjaitan dari STT HKBP Pematang Siantar melaporkan
kondisi-situasi pengarsipan dan pendokumentasian sejarah
gereja Indonesia, khususnya gereja-gereja Batak di Sumut,
di lembaganya. Menurut beliau, seluruh arsip sejarah gereja
diurus oleh perpustakaan STT HKBP. Dokumen historis diambil
dan dikumpulkan dari: kantor-kantor gereja mulai tingkat
pusat sampai tingkat jemaat lokal; kantor maupun perpustakaan
lembaga zending di Jerman (RMG, VEM). Kesulitan yang muncul
dalam proses pengumpulan dokumen antara lain: tidak semua
pemilik dokumen rela menyumbangkan “harta karun”
nya; banyak arsip yang sudah hilang (dibakar/dimusnahkan);
banyak dokumen tertulis dalam bahasa asing (Jerman) dan
mesti diterjemahkan terlebih dahulu. Masalah penerjemahan
dokumen dari bahasa asing ke bahasa Indonesia merupakan
masalah umum yang dihadapi oleh hampir semua sejarawan.
Pdt. Panjaitan juga menyampaikan informasi yang menarik
mengenai kebiasaan HKBP menuliskan sejarah jemaat lokal
dalam rangka perayaan jubileum jemaat (ke-25 tahun, dst).
Upaya penulisan sejarah jemaat lokal juga dilakukan oleh
mahasiswa STT HKBP dalam rangka penulisan skripsi sarjana.
Keadaan yang sedikit berbeda dilaporkan oleh Pdt. Jan Damanik
dari Gereja Kristen Protestan Simalungun/GKPS. Pengarsipan
dokumen historis di sana cukup memprihatinkan. Dari sekian
banyak dokumen historis yang tersimpan dalam kondisi rusak
di “gudang bawah tanah” kantor lama sinode GKPS
hanya sedikit saja yang bisa diselamatkan oleh Pdt. Damanik
dalam bentuk notula rapat, surat-surat, laporan-laporan
dan majalah gereja. Sebagian kecil arsip juga dapat ditemukan
di kantor baru sinode GKPS. Dengan menempuh berbagai cara,
sekarang ini GKPS berusaha menemukan kembali sejarahnya.
Mereka melacak dokumen historisnya yang tersebar di banyak
tempat, menulis sejarah jemaat-jemaat GKPS, dst.
Pendeta Elvilina Hulu memaparkan kondisi pengarsipan dokumen
historis di Banua Niha Keriso Protestan/BNKP Nias yang tak
jauh berbeda dengan pengalaman GKPS. Perhatian terhadap
sejarah gereja/jemaat dan pengarsipan di BNKP cukup lemah.
Arsip yang dimiliki sinode BNKP tersimpan tanpa perawatan,
kecuali surat-surat berharga, seperti surat bukti kepemilikan
tanah atau lahan. Sekolah Tinggi Teologi Sundermann di Gunung
Sitoli, sebuah lembaga yang semestinya berkompeten dan berkepentingan
memelihara dokumen historis atau (mengadakan) buku-buku
sejarah Nias, juga belum dapat melakukan banyak hal. Dokumen
historis mengenai sejarah kekristenan Nias lebih mudah ditemukan
di Wuppertal-Jerman, negeri asal para pekabar Injil yang
dulu bekerja mengkristenkan Nias.
Gereja Kristen Pasundan mengalami problem yang sama. Dari
presentasi Pdt. Em. Koernia Atje Soejana terungkap masalah
langkanya dokumen sejarah masa lalu jemaat-jemaat Pasundan.
Penyebabnya beragam, dokumen tak terawat, sudah rusak, hilang
ketika situasi masyarakat sedang kacau, dll. Meski demikian,
masih ada secercah harapan bagi GKP. Belakangan ini tumbuh
kesadaran menulis sejarah gereja lokal di kalangan jemaat.
Para vikaris yang menulis laporan vikariat juga diharuskan
menuliskan sejarah jemaatnya. Selain itu, sejak th.2003
Majelis Pekerja Sinode GKP menyusun “Panduan Untuk
Menyusun Tulisan Sejarah Jemaat GKP” disertai contoh
daftarnya. Panduan ini dimaksudkan untuk mempermudah penulisan
sejarah jemaat-jemaat GKP. Pdt. Koernia Atje sendiri juga
menyimpan rapi beberapa dokumen historis GKP, sebagian di
antaranya adalah arsip zending NZV di Jawa Barat yang dipinjamnya
dari Th.van den End.
Pengalaman di wilayah timur Indonesia cukup berbeda dengan
di wilayah barat. Sekolah Tinggi Teologi Indonesia bagian
Timur/STT INTIM di Makassar, misalnya, cukup beruntung memiliki
Institut Sejarah Gereja Indonesia bagian Timur/ISGIT, sebuah
lembaga penyimpan arsip dan dokumen-dokumen sejarah. Pada
era 1970-an, ISGIT, yang dipimpin oleh Dr. P.N. Holtrop
ahli sejarah gereja dari Belanda, pernah sangat produktif.
Sampai sekarang lembaga ini masih menyimpan sejumlah dokumen
historis yang berhasil dikumpulkan saat itu, terutama menyangkut
sejarah gereja-gereja di Sulawesi Selatan. Namun, sangat
disayangkan bahwa produktivitas lembaga ini sudah terhenti.
Salah satu alasan terpentingnya, menurut Pdt. Sopamena,
adalah karena lemahnya kesadaran sejarah orang-orang (pendeta/teolog/intelektual)
lokal.
Beberapa orang narasumber, a.l. Pdt. Asyer Tandapong, juga
mengemukakan situasi kekristenan Poso yang cukup memprihatinkan.
Menurut mereka sumber historis yang memadai tentang jemaat-jemaat
Poso sangat minim. Meski sudah ada beberapa buku tentang
Poso, namun masih diperlukan upaya khusus untuk menulis
kembali sejarah jemaat-jemaat Poso.
Laporan dari Sulawesi Utara terdengar lebih menggembirakan.
Pdt. Arnold Parengkuan, dosen Sejarah Gereja di Fakultas
Teologi-Universitas Kristen Tomohon, mencatat bahwa kesadaran
dan minat masyarakat dan jemaat terhadap sejarah di Sulawesi
Utara cukup besar. Hasilnya adalah dilakukannya upaya yang
meluas untuk meneliti sejarah masyarakat dan gereja sampai
di tingkat lokal. Kalangan lembaga pendidikan tinggi non
teologi, para jurnalis dan Lembaga Swadaya Masyarakat di
Sulut yang meneliti sejarah dan latar budaya/adat-istiadat
di sana, mau tidak mau menyentuh dan berurusan dengan sejarah
gereja/jemaat. Mereka juga berkepentingan mengumpulkan arsip
dan dokumen historis lainnya yang terkait dengan sejarah
gereja.
Menurut Pdt. Arnold Parengkuan, selain terdapat kumpulan
dokumen historis koleksi pribadi, minimal ada empat lembaga
di Minahasa yang mengumpulkan dan menata arsip dan dokumen
sejarah gereja dengan baik. Pertama, Unit Kearsipan Sinode
Gereja Masehi Injili di Minahasa/GMIM. Arsip gereja, khususnya
meliputi periode abad ke-20, yang tadinya tersebar di beberapa
tempat dan terbengkalai, berhasil dikumpulkan dan diklasifikasikan
dengan rapi. Banyak pula arsip yang belum sempat diolah
dan masih tersimpan, terutama yang menyangkut pertumbuhan
jemaat-jemaat di abad ke-19. Kedua, perpustakaan FT-UKIT
yang menyimpan banyak skripsi mahasiswa yang memuat sejarah
desa dan jemaat lokal. Ketiga, perpustakaan Yayasan Masarang.
Di sana tersimpan banyak dokumen mengenai sejarah budaya
dan gereja Minahasa dan Sulawesi Utara. Terakhir, perpustakaan
A.Z.R. Wenas, sebuah perpustakaan baru yang mengupayakan
pengumpulan-penyimpanan dokumen sejarah yang berhubungan
dengan gereja. Senada dengan info dari Minahasa, Pdt. Alexandra
Binti dari Gereja Kalimantan Evangelis/GKE menyebutkan upaya
gerejanya untuk meneliti sejarah kekristenan Kalimantan
dengan memanfaatkan dan mengkombinasikannya dengan studi-studi
budaya dan antropologi.
Penelusuran jumlah kekayaan historis Gereja Protestan Maluku/GPM
harus diletakkan dalam konteks Maluku yang pernah menderita
oleh konflik dan kerusuhan sosial. Pdt. Dr. M. Tapilatu
melaporkan bahwa sebelum kerusuhan terjadi di tahun 1999,
dokumen historis jemaat-jemaat Maluku tersebar di pusat-pusat
klasis dan sejumlah jemaat. Sebagian besar, dan yang terpenting,
berada di GPM jemaat Banda Neira meliputi dokumen gereja
di jaman VOC (1600-1800), masa Indische Kerk (1815-1935)
dan masa GPM (1935-1999). Selain tersimpan di klasis, jemaat
dan sinode, arsip gereja (terutama mencakup periode menjelang
dan berdirinya GPM di tahun 1935) juga disimpan sebagai
koleksi pribadi oleh keluarga-keluarga pendeta. Yang penting
juga adalah koleksi perpustakaan STT GPM/UKIM, meliputi
dokumen historis gereja sejak masa VOC sampai GPM, buku-buku
mengenai perkembangan gereja di Maluku dan sejarah Maluku
yang dikenal dengan nama koleksi MOLUCANA.
Konflik dan kerusuhan sosial tahun 1999 berdampak sangat
buruk. Api konflik menelan habis sebagian besar dokumen
historis jemaat-jemaat Protestan Maluku. Gereja Protestan
Maluku nyaris kehilangan dokumen sejarahnya. Koleksi di
Banda hanya berhasil diselamatkan ¼ bagian saja,
sisanya tidak jelas nasibnya. Kemungkinan habis terbakar,
atau mungkin “diselamatkan” oleh orang-orang
tertentu. Arsip seperti itu mestinya menjadi tanggungjawab
pemerintah/diserahkan kepada negara (dhi. lembaga arsip
pemerintah). Selain sisa “kekayaan” Banda, yang
kondisinya cukup memprihatinkan, masih terdapat sebagian
arsip yang diselamatkan jemaat di kota dan Pulau Ambon,
juga arsip di sebagian wilayah yang tak tersentuh konflik
seperti di Maluku Tenggara dan Maluku Tenggara Barat. Sangat
disayangkan bahwa kondisi yang berat ini diperparah oleh
lemahnya kesadaran sejarah di kalangan pemimpin gereja,
klasis dan jemaat. Mereka kurang rajin menyimpan dan memelihara
arsip gereja. Selain itu, sinode GPM juga belum memikirkan
langkah sistematis menyelamatkan dokumen historis jemaat-jemaat.
Cornelis Alyona, seorang pendeta GPM yang sedang menulis
disertasi sejarah di Universitas Indonesia, mengingatkan
beberapa hal yaitu: pentingnya penguasaan teori dan metodologi
penelitian sejarah yang baik untuk mengembangkan sikap kritis
orang yang berminat di bidang sejarah; perlunya mempelajari
dokumentasi Portugis dan Inggris tentang Maluku.
Selain melaporkan upaya pengarsipan oleh lembaga pendidikan
maupun gereja di NTT, Dr. F.D. Wellem dari FT Universitas
Kristen Artha Wacana Kupang mengisahkan beberapa upayanya
menjemaatkan sejarah jemaat-jemaat lokal. Sejarah singkat
jemaat lokal dituliskan sebagai bagian dari buku Renungan
Harian “Pelangi Kasih” yang disebarluaskan kepada
seluruh warga jemaat GMIT.
Pdt. Sientje Loupatty-L dari STT-GKI “I.S. Kijne”
Jayapura, dalam presentasinya, membagi periodisasi penulisan
sejarah GKI Papua ke dalam empat masa: sebelum pemerintahan
Hindia Belanda (berhubungan dengan sejarah Ternate, Tidore,
Jailolo dan Bacan), masa Hindia Belanda, masa Jepang dan
masa kemerdekaan. Menurut Sientje, dokumen asli sejarah
gereja Papua pada masa Hindia Belanda, yang umumnya ditulis
dalam bahasa Jerman, Belanda dan Melayu, lebih banyak disimpan
di Belanda, STT-GKI hanya memiliki salinannya dalam bentuk
micro-film. Selain itu dokumen historis juga tersebar di
jemaat, kantor klasis, sinode maupun disimpan para mantan
pejabat struktural gereja.
Sientje menyatakan belum semua narasi historis gereja Papua
tercatat dalam bentuk tertulis. Selain itu tidak semua dokumen
itu tersimpan baik. Tidak sedikit yang rusak/dilenyapkan
oleh pewarisnya. Pada masa pemerintahan Jepang banyak dokumen
historis yang dibakar oleh tentara Jepang, sebagian juga
disimpan (dikubur) oleh para guru jemaat/penginjil yang
keselamatannya terancam karena Jepang menganggap mereka
pro Belanda.
Sientje juga menceritakan perkembangan penting yang terjadi
di Papua, yaitu menguatnya semangat dan upaya menulis sejarah
jemaat-jemaat lokal. Penulisan itu, meski masih dalam bentuk
yang sederhana, dilakukan oleh guru jemaat, mahasiswa STT-GKI
(dalam bentuk laporan atau skripsi) maupun orang tertentu
yang pernah bekerja di jemaat. Namun demikian harus diakui
bahwa upaya tersebut masih jauh dari memadai, mengingat
jumlah jemaat yang begitu banyak (1350 jemaat) tersebar
di seluruh (kota dan pedalaman) Papua. Upaya menyediakan
sejarah jemaat lokal yang lengkap tentu membutuhkan sumber
daya dan dana yang tidak sedikit.
Selain upaya individual, ada juga upaya yang lebih sistematis
oleh lembaga seperti STT-GKI. Melalui biro pengabdian &
penelitiannya (ABLIT) sejak tahun 1986 terkumpul laporan-laporan
mahasiswa yang dapat dipakai sebagai sumber sekunder sejarah
gereja Papua. Selain laporan, terdapat juga catatan mengenai
lagu-lagu rakyat yang telah digubah menjadi lagu rohani
Iriani, foto benda-benda keramat, mas kawin atau tari-tarian
suku-suku Papua. Perpustakaan STT-GKI juga menyimpan literatur
dan dokumen tentang lembaga dan pekerjaan zending di Papua,
yang seluruhnya berbahasa Jerman dan Belanda.
Di akhir presentasinya Sientje mencatat beberapa simpulan
dan harapan yang sangat penting dan relevan bagi komunitas
pecinta dan pemerhati sejarah kekristenan Indonesia, yaitu:
mendesaknya penulisan sejarah gereja/jemaat lokal dari perspektif
masyarakat asli Papua sebagai penerima berita Injil; perlunya
memperkuat kesadaran historis di kalangan masyarakat Papua,
khususnya di lingkungan akademisi; perlunya dibentuk pusat
data/arsip yang dikelola oleh tenaga profesional; perlu
ada pelatihan tentang pengarsipan, metodologi penelitian
sejarah; pembentukan komunitas sejarawan kekristenan Indonesia
sebagai forum komunikasi dan pertukaran info, dll.
Romo Raymundus Sudhiarsa SVD dan Dr. Henk Niemejer adalah
dua narasumber lain yang ikut memperkaya percakapan dalam
semiloka DSGI. Dari presentasi Rm. Sudhiarsa terungkap berbagai
upaya penting Institut Misiologi Aditya Malang dalam mengumpulkan
data/bahan/sumber/arsip sejarah gereja. Yang menarik, lembaga
ini melakukan studi/penelitian historisnya dalam kerjasama
dengan komunitas Protestan dan Islam.
Niemejer menyampaikan beberapa catatan penting dan mendesak,
yang perlu diperhatikan oleh gereja-gereja dan lembaga-lembaga
pendidikan teologi Kristen. Niemejer secara khusus mengaitkan
penelitian sejarah kekristenan Indonesia dengan masalah
dialog lintas iman dan perkembangan penulisan historiografi
kontemporer, misalnya dengan pengaruh post-modernisme dalam
penelitian sejarah. Niemejer juga menekankan pentingya kerjasama
lembaga dokumentasi sejarah gereja Indonesia dengan berbagai
instansi terkait di dalam maupun luar negeri, juga kemungkinan
membuka program Graduate School for the History of Religions
in Indonesia bekerjasama dengan UGM, UI, UINJ, the Free
University-Amsterdam, dll.
Menata
langkah-langkah strategis ke depan
Di hari terakhir seminar peserta mengunjungi Arsip Nasional
RI di jalan Ampera Raya Jakarta Selatan. Di sana peserta
disambut oleh Dr. Mona Lohanda. Beliau menjelaskan sejarah
singkat ANRI, menceritakan kekayaan ANRI berupa kumpulan
arsip dan berbagai dokumen historis yang penting, yang mayoritas
ada kaitannya dengan sejarah kekristenan Indonesia. Peserta
semiloka memanfaatkan waktu beberapa jam untuk melihat-lihat
proses penyimpanan arsip, dari mulai pengumpulan dan seleksi
dokumen, pembersihan dan perapian, pengobatan atau pemberian
zat pengawet/zat pelindung dokumen dari “keringat”
kertas, laminasi dokumen, sampai merapikan/membundelnya
ulang. Proses itu cukup rumit, membutuhkan ketekunan dan
ketelitian, juga peralatan yang seringkali masih harus diimpor
dari Belanda.
Sepulang dari kunjungan akhir acara semiloka, peserta masih
memakai satu sesi percakapan lagi dan menyepakati berbagai
rekomendasi fundamental yang perlu disikapi oleh komunitas
sejarah kekristenan Indonesia. Penyelamatan dan pengelolaan
dokumentasi historis gereja oleh berbagai lembaga gerejawi
maupun lembaga pendidikan adalah salah satu dari beberapa
langkah penting yang akan dilakukan. Untuk itu PDSGI STTJ
mendorong agar sekolah teologi lainnya sedapat mungkin membantu
upaya itu dengan cara mengembangkan pusat data dan penelitian
sejarah kekristenan di daerahnya, baik sendiri maupun dalam
kerjasama dengan pihak lain.
Peserta semiloka juga bersepakat membentuk Perkumpulan Ahli
Sejarah Kekristenan Indonesia (PASKI) sebagai forum komunikasi
dan kerjasama para ahli sejarah kekristenan Indonesia. Lima
orang dipilih menjadi moderator dan sekretaris, yaitu: Dr.
J.S. Aritonang, Pdt. M. Panjaitan, Dr. Arnold Parengkuan,
Dr. M. Tapilatu dan Drs. Sylvana Apituley. PDSGI-STTJ bersedia
memfasilitasi, minimal selama satu tahun pertama, komunikasi
kalangan pemerhati sejarah kekristenan Indonesia dan diseminasi
informasi serta gagasan mengenai penelitian sejarah dengan
cara menerbitkan buletin enam-bulanan PASKI.
Last but not least, para ahli sejarah kekristenan Indonesia
ini sepakat untuk memperhatikan dan meninjau ulang kurikulum
pembelajaran Sejarah Gereja Indonesia di lembaganya masing-masing.
Agar pembelajaran dan penulisan sejarah kekristenan Indonesia
diarahkan, juga, sebagai upaya mengenal dan mengkritisi
pergulatan jemaat-jemaat setempat dalam menerima Injil serta
mempraktikkan iman kristen yang otentik sesuai konteks dan
tantangan yang mereka hadapi sehari-hari.
Seminar DSGI hari itu diakhiri dengan doa oleh Dr. Koernia
Atje, foto bersama seluruh peserta dan penyerahan bingkisan/kartu
ucapan selamat ulangtahun ke-70 bagi Dr. Th. van den End.
(sma)