| Tanzil Hernadi
@h_tanzil http://bukuygkubaca.blogspot.com
Beberapa waktu yang lalu tayangan-tayangan TV yang mengungkap alam gaib kerap bermunculan di layar TV, mulai dari kisah-kisah fiksi misteri, reality show yang menguji nyali para relawan, hingga siaran langsung para pemburu hantu yang selalu berhasil memasukkan hantu-hantu ke dalam botol. Hal ini berimbas juga pada munculnya majalah-majalah misteri dan buku-buku yang mengungkap keberadaan alam gaib dan mahluk-mahluk penghuninya yang umumnya menyuguhkan konsep bahwa hantu adalah fenomena gaib yang berkesan misterius dan menyeramkan.
Di tengah tumbuhnya keyakinan akan konsep alam gaib yang serba menakutkan itulah secara tak diduga muncul novel Nar'Kobar – The Motivator karya penulis Andhika Pramajaya yang namanya tak dikenal di dunia kepenulisan. Kehadiran novel ini seakan hendak menjungkirbalikkan konsep alam gaib yang serba misterius dan menakutkan itu. Novel yang mungkin sekali merupakan novel komedi jin pertama di Indonesia ini berkisah tentang Nar'Kobar, sosok jin muda dari ras Naruut yang telah mencapai tingkat J'mar Kha'dum (Jin Motivator Manusia) yang berperan memotivasi manusia agar bisa menjadi manusia gampusan ( manusia yang memiliki mental dan spritual yang negatif).
Nar'Kobar adalah jin yang berperan memotivasi Lena agar menjadi gadis gampusan. Namun usaha ini terhalangi oleh Ipung- teman kuliah Lena yang memiliki kemampuan supranatural yang pada saat itu sedang mendekati Lena untuk menjadi pacarnya. Bagi Nar'Kobar kehadiran Ipung semakin menyulitkan dirinya untuk memotivasi Lena apalagi karena Ipung adalah putra Pak Tio – seorang praktisi supranatural andal yang terkenal karena sering muncul di acara reality show misteri di TV.
Secara kebetulan di kerajaan jin, Putri Larasati (pewaris tunggal kerjaan jin – Mandanglaya) berniat menimba pengalaman dan memperluas wawasannya akan dunia manusia. Untuk itu Larasati membutuhkan sosok jin motivator yang telah berpengalaman untuk menjadi pembimbingnya selama berada di dunia manusia. Pilihan jatuh pada Nar'Kobar. Nar'Kobar tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan tujuan lain ia menyarankan Putri Larasati menjelma sebagai wanita cantik agar dapat menggoda Ipung sehingga Ipung melupakan Lena dan jatuh cinta pada putri jin itu.
Selain menggunakan Putri Larasati untuk menjauhi Ipung dari Lena, Nar'kobar juga dengan cerdik mempengaruhi teman-teman kampus Lena agar mereka jatuh cinta pada Lena sehingga salah satu dari mereka dapat menjadi pacar Lena dan secara otomatis menggagalkan usaha Ipung untuk menjadi kekasih Lena.
Usaha Nar'Kobar untuk mejauhkan Lena dari Ipung dan menjadikan Lena wanita gampusan tidaklah mudah, selain karena Ipung mendapat "perlindungan" dari ayahnya, Lena sendiri pun bukan sosok wanita yang mudah dipengaruhi oleh Nar'Kobar. Lena yang taat dalam menjalankan agamanya membuat tubuhnya selalu diliputi aura positif yang sulit ditembus oleh jin Nar'Kobar. Karena itu Nar'kobar harus memikirkan segala cara untuk bisa mempengaruhinya. Usaha ini sempat terhenti ketika Nar'kobar secara tidak disengaja tertangkap oleh Pak Tio (ayah Ipung) yang saat itu sedang shooting untuk acara ‘live' sebuah reality show dunia misteri. Karena kecanggihan kamera KIS 3000, ciptaan seorang profesor Jepang yang bisa menangkap keberadaan jin sesuai dengan bentuk aslinya, maka sosok Nar'Kobar tertangkap dalam kamera tersebut dan disaksikan secara langsung oleh seluruh pemirsa acara TV tersebut. Karena keteledorannya itu Nar'Kobar dihukum oleh kerajaan jin selama seratus tahun sebagai hantu "ririwa" yang tugasnya hanya menakuit-nakuti manusia di areal pekuburan. Namun berkat bantuan Larasati hukuman itu diperingan dan sebagai gantinya Nar'Kobar harus bisa memotivasi Lena untuk menjadi wanita gampusan dalam waktu 1 bulan saja! Jika tidak berhasil nyawa Nar'Kobar menjadi taruhannya. Berhasilkah Nar'Kobar memotivasi Lena dalam waktu 1 bulan saja? Padahal 8 tahun sudah terlewati semenjak ia memotivasi Lena agar bisa menjadi wanita gampusan, dan selalu gagal!
Secara keseluruhan novel ini bisa dikatakan novel yang unik dimana dunia gaib dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi cerita yang lucu dan menghibur, disajikan dengan gaya pop membuat novel dengan tebal 600 halaman ini menjadi sangat mudah untuk dibaca dan dicerna oleh berbagai kalangan pembaca dari berbagai latar sosial, pendidikan, dan jenjang usia. Walau judul novel ini adalah nama sesosok tokoh jin, namun tak ada tokoh sentral yang mendominasi cerita. Semua tokoh mendapat porsi yang seimbang tanpa saling mendominasi, maka eksplorasi karakter berupa perubahan karakter dari baik ke jahat atau sebaliknya dalam tiap tokohnya terungkap dengan baik. Di novel ini dunia gaib dan mahluk-mahluknya terungkap secara manusiawi, mereka memiliki rutinitas kehidupan sehari-hari layaknya mahluk-mahluk berjiwa lainnya, seperti halnya di dunia manusia, di dunia gaib pun para jin memiliki struktur pemerintahan, militer dan strata sosial yang bermacam-macam. Istilah-istilah tingkatan dan jenis jin yang digunakan oleh penulis menggunakan istilah Arab, dan Indonesia, maka tak heran melalui novel ini pembaca akan menemukan nuansa lokal seperti jin ifrit, kuntilanak, genderuwo, pocong dll. sedangkan istilah-istilah struktur pemerintahan dan militer menggunakan terminologi Sunda-Jawa seperti kaputren, tumenggul, senopati, dll.
Tampaknya novel ini ditulis dengan riset yang cukup memadai, dalam emailnya, penulis novel ini mengaku, untuk mengambil basic tentang jin, ia mengambil dari Alquran dan Hadis, selain itu ia juga membaca buku-buku tentang Jin seperti karya Abu Aqila (Kesaksian Raja Jin) dan Muh. Isa Dawud (dialog dengan Jin), dll, tak hanya itu, pengalaman kawan-kawannya yang pernah besinggungan dengan dunia gaib turut memperkaya penulis dalam melahirkan novel ini. Apa yang telah diupayakan oleh penulis tampaknya membuahkan hal-hal positif. Walau novel ini novel khayalan dan menghibur namun apa yang tersaji dalam novel ini tak berarti menjadi ngawur, seperi novel-novel Harry Potter, novel ini tak mengabaikan logika pembacanya. Selain memperoleh info-info umum tentang jin, hal-hal positif juga akan pembaca temui dalam novel ini. Novel ini juga tampaknya membawa misi ‘terselubung' untuk meluruskan pandangan umum terhadap dunia gaib, misalnya tentang roh-roh gentayangan yang seharusnya tidak ada, tapi hanya perbuatan jin yang berpura-pura menjadi hantu penasaran (pocong, kuntilanak, arwah penasaran, dll) untuk menakut-nakuti manusia. Selain itu kekuatan doa juga terungkap dengan jelas pada novel ini dimana beberapa tokoh sulit untuk dijangkau oleh para jin karena mereka rajin berdoa sehingga memiliki auro positif yang sulit ditembus oleh jin apapun.
Yang mungkin menjadi kendala dalam membaca novel ini adalah bertaburannya istilah-istilah aneh yang sulit untuk diingat dan diucapkan seperti Al'm Gha'faar, Al'm Sidjin, Gom Jabir, Jiinayil Aq'lun, J'mar Kha'fziir, dll. Untuk menjelaskan istilah-istilah tersebut buku ini menyediakan daftar istilah di akhir halaman yang memuat lebih dari 100 istilah! Selain itu luasnya eskplorasi penulis terhadap para tokoh dalam novel ini membuat masing-masing tokoh dalam cerita ini seolah memiliki kisahnya sendiri, dan ini bisa saja menjadi bumerang bagi pembaca novel ini karena cerita menjadi melebar dan tak fokus. Dari waktu terbitnya, novel ini bisa dikatakan terlambat diterbitkan, seandainya novel ini terbit ketika masih maraknya tayangan-tanyangan misteri di TV tentunya novel ini akan bisa ‘bergaung' lebih keras atau setidaknya bisa menjadi alternatif hiburan yang menyajikan alam gaib secara menarik dan kreatif.
Terlepas dari semua itu, kehadiran novel komedi-jin ini patut dihargai, bisa dikatakan novel ini adalah sebuah terobosan baru dalam menyajikan dunia alam gaib yang ternyata tidak harus tersaji secara menakutkan. Tak perlu takut untuk membaca novel ini di malam hari karena pembaca akan dibuat tersenyum simpul bahkan tertawa melihat kekayaan imajinasi penulis saat menggambarkan sosok mahluk gaib. Dan yang pasti novel ini tentunya akan memperkaya wawasan berpikir kita tentang keadaan alam lain di sekitar kita yang belum tentu menyeramkan seperti yang terkonsep di benak kita selama ini.
___________________ |
Rini Nurul Badariah
Rini http://rinurbad.multiply.com
Tidak disangka saya dapat menyelesaikan membaca novel setebal 600-an halaman ini dalam 2 hari. Luar biasa memang jika mengingat kondisi saya sedang berkabung (karena orangtua baru meninggal Kamis lalu) dan fontnya yang kecil-kecil..
Nar'Kobar mungkin berasal dari kata narkoba, sebagai simbol bahwa sekali kita berurusan dengan alam gaib dan kroni-kroninya maka buntutnya akan panjang seperti halnya obat-obatan terlarang yang menimbulkan candu dan ketagihan.
Satu hal, saya tidak sependapat bahwa novel ini genrenya komedi. Lebih tepat sebagai fantasi yang satiris. Saya tersenyum membaca bagian-bagian yang dengan jelas menunjukkan (bukan menyindir, tapi terang-terangan) bahwa jin motivator tidak berarti pendamping atau teman yang dapat membawa ke arah kebaikan, sebaliknya justru menyesatkan jalan orang yang ditempelinya. Tersenyum bukan berarti lucu, tapi salut dan membenarkan. Bahwa banyak dukun berkedok sebutan eufemisme paranormal, padahal mereka tak lebih dari penipu yang cabul pula (seperti tokoh Ki Jambrong yang ternyata dokter). Dikisahkan jin menghembuskan pikiran-pikiran negatif di benak manusia hingga ia berbuat kejahatan, seperti serdadu Jepang yang kemudian melakukan pembantaian sadis.
Tidak lupa informasi umum misalnya jin terbuat dari api, jin pura-pura menyerupai manusia sehingga orang yang melihat menduga bertemu dengan arwah leluhur atau almarhum kerabatnya, jin berdiam di patung-patung, kalau lupa baca doa tidur maka jin akan nongkrong di telinga dan bikin mimpi-mimpi ngawur, kalau nggak baca doa makan maka jin bisa ikutan makan, sangat jeli dan tepat. Kalau nanti ada sequelnya, saya kasih masukan lain dari sekarang tentang kamar kosong yang harus dikebut-kebut dulu sebelum ditiduri, Twilight Zone, dan larangan buang air panas ke lubang pembuangan;)
Dengan berani penulisnya mengemukakan opini-opini seputar tayangan mistik yang sudah merajalela (contohnya reality show Tabir Dimensi Live dengan Ari Candra sebagai hostnya, yang saya duga adalah plesetan Dunia Lain dengan host Harry Panca. Dikuatkan keterangan fisik Ari Candra serta pekerjaannya yang juga pemain film horor). Imajinasi Andhika memang mengagumkan. Nama-nama berbagai alam, istilah, peta, dan sejumlah pengetahuan lainnya entah darimana ia dapatkan (mudah-mudahan kelak ada informasi mengenai sumber yang ia gali).
Kekurangan novel ini adalah tidak adanya biodata penulis. Apakah Andhika lulusan ITB? Saya menebak begitu karena nama materi-materi kuliah yang berbau teknik, lalu plesetan ITIK (kalau memang benar, saya acung jempol. Jarang lho yang berani menyamarkan kampus ternama itu dengan plesetan seperti ini..di dalam novel yang dibaca banyak orang pula). Plesetan-plesetan inilah yang saya anggap lucu: Deana Sarso alias Dian Sastro, Arya Saputra alias Surya Saputra, Warisan alias Arisan, UNGAS alias UNPAS..CMIIW.
Saya juga ingin tahu mengapa dan bagaimana awalnya Andhika menulis novel ini. Cukup bangga juga mengetahui bahwa dia adalah orang Bandung dan mempopulerkan beberapa kalimat berbahasa Sunda, bahkan memasukkannya dalam daftar istilah. Namun Andhika perlu berhati-hati dalam tiga poin berikut:
1. Ilustrasi jin yang dapat memancing kontroversi, walaupun dapat dimaklumi sebagai bagian dari imajinasi.
2. Istilah-istilah yang kedengaran seperti berbahasa Arab, dan menurut pengakuan Andhika dalam pengantar hanya ngarang belaka, namun benar-benar seperti dari bahasa tsb. Misalnya yang sangat nancap di ingatan saya: Ainuur. Kan beneran lho ada yang punya nama itu. Jangan sampai dia tersinggung.
3. Endorsement yang mengatasnamakan J'Naar Masaya. Suami saya sih menerka ini Djenar Mahesa Ayu. Tapi terlepas dari siapa sebenarnya dia, menurut saya endorsement tersebut kelewat berani. Padahal sebenarnya tanpa ini, Nar'Kobar sudah bernilai jual tinggi banget.
Poin lain yang saya perhatikan adalah kelengkapan sisi gelap-terang karakter. Nggak ada yang full jahat atau seratus persen baik, seperti Lena yang awalnya terkesan bersih total. Ngakak juga saya membaca ciri-ciri cewek gampusan antara lain ditindik dan ditato (untung saya nggak, ya..horee!!), begitu pula akal bulus Nar Kobar untuk mengelabui Ratu Nagini yang memberinya tugas menyesatkan Lena.
BTW, percintaan Ipung dan Ainuur itu banal dan membosankan deh..saya juga nggak setuju dengan adanya Raksa Geni dan jin-jin yang berkesan teman baik manusia, syukurlah itu dipatahkan lewat dialog Ipung dengan Abah Entum.
Bagusnya novel ini, nggak bikin serem tapi memperkaya wawasan. Juga nggak bikin berkhayal seperti sinetron mistik.
_____________________
Ferina Permatasari
Ferina P. http://ceritaceritaku.blogspot.com
( Exclusive Interview by Ferina) Kalo bukan karena hadiah dari AKOER, mungkin buku ini akan masuk buku di urutan terakhir yang bakal aku beli. Bukan karena gak tertarik sama ceritanya, tapi lebih ke soal, pertama harganya yang lumayan, kedua karena covernya yang… hmm.. lucu sih.. but bikin aku gak nyaman karena aku gak suka yang horor-hororan..
Tapi, ternyata, isinya gak seseram judul atau covernya. Ceritanya tentang jin bernama Nar'Kobar, dia lagi dalam proses untuk ‘naik tingkat', untuk itu dia harus bikin niping an-nya, alias manusia yang bakal jadi bahan ‘godaan'nya, bisa tergoda dan melakukan hal-hal yang gak bener. Nah, ternyata susah banget bikin Lena ini tergoda, karena Lena termasuk ta'at berdoa, jadi dia selalu dilindungi aura untuk menjaga dia dari godaan yang gak bener. Ditambah lagi, ada cowok yang deketin Lena , namanya Ipung, yang punya kemampuan untuk melihat makhluk-makhluk halus dan punya ilmu untuk mengusir mereka.
Akhirnya, untuk mengacaukan semuanya, dicarilah jalan. Salah satunya, Nar'Kobar bekerja sama dengan Nar'Himaar, jin yang me-niniping Gugun, temen Ipung. Gugun dibuat untuk tertarik sama Lena dan ngebenci Ipung.
Untuk menggoda si Ipung, Nar'Kobar juga minta bantuan jin cantik, Putri Larasati, yang menjelma jadi Laura Berman, cewek indo yang tajir dan cantik banget.
Ada juga dukun ‘gadungan' dan praktek ilmu hitam di dalam buku ini. Sebenernya sih, menarik juga idenya, tapi, entah kenapa, koq kadang ada bagian-bagian yang rada dipanjang-panjangin, misalnya waktu Ipung masuk ke ‘dunia lain' dan keluar di Karang Cadas. Atau kesibukan ngurusin penampilan Putri Larasati waktu mau jadi jadi Laura Berman.
Katanya sih, novel ini dibikin karena banyak banget tayangan mistis di tv. Jadilah ada beberapa bagian di buku ini yang merupakan plesetan dari acara Dunia Lain, diganti jadi ‘Tabir Dimensi Live'. Sementara kalo di tv, pakar ‘perhantuan' namanya Leo Lumanto, dibuku ini jadi Tio Sumanto.
Ide ceritanya sih ok, mencoba ‘menguak' dunia per-jin-an, sampai ada ‘kuliah' sejarahnya segala di Pamakdiman alias sekolahnya para jin. Lengkap banget deh. Makanya buku ini bisa jadi tuebel banget… tapi, satu lagi yang ‘mengganggu' menurutku, gaya bahasa si Nar'Kobar and temen-temennya yang kadang sok gaul, pake bahasa Inggris segala, bikin kesan ‘magis' atau ‘serem'-nya jadi ilang.
Bagian yang aku suka justru pas Aming, yang dikenal suka mabok, gonta-ganti cewek, pokoknya ‘rusak' deh, jadi sadar kalo kelakukan dia selama ini salah, dan berubah jadi baeeekkk banget. Tokoh Aming rasanya lebih nyata dibanding Ipung yang ‘sakti', ada bandel, ada ‘rusak'nya, tapi bisa juga sadar.
O ya, satu lagi yang bikin terharu, waktu ‘tugas' Nar'Kobar niniping Lena selesai, dia berat banget ninggalin si Lena … Hahaha… jin bisa juga jadi melankolis ternyata…
Kalo ngeliat endingnya, emang bakalan sedikit membingungkan. Karena bakal bertanya-tanya, gimana nasibnya sama si Ipung, gimana kelanjutan hubungan Lena & Ipung, gimana urus-urusannya sama si Putri Larasati, and Nar'Kobar sendiri. Mungkin semua pertanyaan itu bakalan terjawab di sekuel Nar'Kobar, karena The Motivator ini sendiri adalah buku pertama dari Trilogi si Nar'Kobar.
|
| David Li Chen
http://davidlchen.blogspot.com
Nar'Kobar The Motivator' is a unique, fantasy laden, easy reading, humorous, and somewhat disturbing novel. It is not obvious what genre this novel can be categorized in. In my opinion it's ‘science fiction', not ‘comedy' as claimed by the publisher. This novel is the first book of the Nar'Kobar trilogy.
Although, the central character for this story is a male Jin being named Nar'Kobar, the story does not entirely focus on this character alone. Several other characters (Ipung, Lena , Larasati, Raksa Geni, etc.) have also interchangeably dominated some portions of story. I believe the author (Andhika Pramajaya) uses these characters to point out his “religio-sci-fi” ideas or concepts weaved within the story. The author extensive exploration of the Jin phenomena and the existence of the ‘jin world' throughout the story clearly denote his intensions of writing the book. Even though, I am Christian by birth, I have understood some basic concepts of these Jin beings which only existed in Islamic teachings. Unlike purely fictional novels such as Harry Potter, Dune, Narnia, Eragon, and Lord of The Ring, Nar'Kobar was based on hard religious Islamic concepts.
The Islamic concept of intelligent unseen beings (the Jins) living amongst us throughout our live is somewhat disturbing and daunting even for Christians such as myself. Nonetheless, the book reflects the fundamental basic concept of religion—faith, and its role in the war of good and evil within us—the personal war of the mind and spirit.
I had suspected that the name ‘Nar'Kobar' was derived from the Indonesian term ‘narkoba' (narcotics). I believe the Author uses this term to portray the ‘motivator' Jins as narcotics of the human soul.
The sci-fi part of the story was depicted by the theoretical existence of the KIS 3000 (Kirlianic Imaging System 3000) camera which has the ability to capture and record video images of the ‘unseen' Jin beings. Actually, we can photograph unseen auras using today's Kirlian photography techniques. The KIS 3000 would likely be the futuristic technological advancement of the Kirlian photography phenomenon.
The author's in-depth imaginative exploration of the Jin realm is astonishing, considering that this novel is his first publicized literary work. His ability to blend religious concepts, science, and fantasy within a simple plotted ‘romantic' and ‘humorous' narration could be felt throughout the book. The author had created theoretical concepts of the Jin world including their diverse ways of life, races, technology, social and cultural achievements, military and political systems. The Jins was publicly accepted amongst the Muslims as having daunting, mystical, and mysterious images. The author exposed readers to see from a different point of view or perspective of the existence of the Jin beings, where we see them as God's creatures having social and cultural daily activities like humans. This novel also broadens our basic knowledge of the Islamic concepts of the Jin race.
Strangely, no printed information about the author can be found in this book. Is this a publishing error or is it intentional?
Synopsis:
For 250 years, Nar'Kobar's mission as member of the ‘Jiinayil Aq'lun' (a Jin language term for ‘human counterpart') was to influence or motivate humans and transforming them mentally into a ‘gampusan' human (The term ‘gampusan' reflects the evil or negative states/tendencies of the mind). At the time, his main purpose was to transform Lena —his present subject—into a ‘gampusan' woman. For over 8 years, Nar'Kobar's ‘motivational' influence on Lena hadn't shown much success due to Lena 's strong religious belief. His tasks become somewhat more difficult and perilous when Ipung—a campus friend of Lena—started wooing Lena. Ipung had supernatural ability to ‘see' the Jin being through his mind-eye. Ipung also has supernatural self defense abilities that could harm the Jins physically. Thinking that Ipung's supernatural abilities would directly conflict and create unwanted setbacks on Lena's transformation process, with the aid of his friend Nar'Himaar, Nar'Kobar plans to overcome this problem by making another of Lena's friend (Gugun) fall in love with her. If Lena and Gugun became lovers, Ipung would eventually forfeit his pursue on Lena, thus making Lena 's transformation more possible for Nar'Kobar. At the moment, a first born Jin princess named Larasati from the Jin kingdom Madanglaya was planning on visiting the human realm to gain more experience and knowledge about the human race. Princess Larasati chose Nar'Kobar as her ‘mentakir' (guidance, teacher), considering his extensive knowledge of the humans. Nar'Kobar advised princess Larasati to change her appearance, using her state-of-the-art form transformation ability, into a gorgeous, voluptuous, and rich Eurasian woman named Laura Berman. He plans on making Ipung fall in love with Laura thus stopping him from wooing Lena .
David Li Chen [email protected]
|
Qaris Tajudin
Koran Tempo, minggu 30 April 2006
Kisah Jin Gaul
Ternyata, jin juga suka menulis buku diary, belanja di mal, nonton gossip selebritas bangsa manusia ditelevisi, dan main Terorist Hunter 3 di Gamestation (plesetan dari Playstation). Hei, bukan cuma itu, mereka juga bisa jatuh cinta dan menangis karenanya.
Alkisah, pada tanggal 60 jalemar tahun 666.231.655, sama dengan 27 Oktober 2006, seekor jin (karena mereka memang punya ekor) bernama Nar'Kobar menulis diary . Ia adalah jin pertama yang menulis diary . Menurut sobatnya, si Grewok yang tukang ngorok, Kobar hanya buang-buang waktu saja. Bagaimana nggak buang-buang waktu, wong otak jin itu lebih canggih dari hard disk mutakhir.
Tapi Kobar nggak peduli. Dengan lincah jin remaja berusia 150 tahun ini (bukan salah ketik lho, tapi memang seratus lima puluh tahun), mengisi diary-nya. Ini ia lakukuan setelah Lena, cewek nipingannya (manusia yang digoda), melakukan kebiasaan ini. Selanjutnya adalah lika-liku kisah si Kobar yang suka menggaruk-garuk tanduknya itu me-niniping Lena.
Kisah jin yang sedikit nyeleneh ini dapat dibaca dalam novel 600 halaman berjudul Nar'Kobar: The Motivator karya Andhika Pramajaya. Tidak seperti kisah-kisah jin yang menyeramkan, novel ini benar-benar segar, kocak, dan tidak membosankan. Tapi penggambarannya begitu detail, lengkap dengan istilah dan segala tetek bengeknya , hingga kita hampir percaya bahwa Andhika memang pernah ke alam jin (entahlah, mungkin jga dia pernah kesana).
Lewat novel ini Andhika sebenarnya telah membuat terobosan baru dalam menceritakan alam jin di negara yang mayoritas penduduknya masih percaya pada klenik ini. Membuat jin tidak lagi menyeramkan, tapi tampil lebih “manusiawi” dan memiliki banyak dimensi yang menarik. Ya, mungkin seperti bagaimana J.K. Rowling menceritakan tukang sihir yang menggemaskan bernama Harry Potter.
“Ini satu terobosan baru, ternyata alam lain yang konon dihuni oleh makhluk yang seram itu tidak harus selalu menakutkan,” kata Leo Lumanto, pemandu acara mistik ditelevisi yang mirip dengan salah satu karakter tokoh novel ini.”Dan yang saya suka, Andhika juga tidak lupa info-info umum tentang alam jin. Misalnya jin terbuat dari api dan lain-lain.”
Pak Leo ada benarnya. Bayangkan saja, jin dalam novel ini ternyata juga suka belanja di mal, nonton gossip selebritis bangsa manusia di televisi, dan main game. Mereka juga bisa jatuh cinta dan menangis karenanya.
Bahasa percakapan mereka, terutama jin-jin muda seperti Kobar dan Grewok adalah bahasa gaul, ber-lu-gue, dengan diseling-selingi kata-kata inggris. Ini contoh percakapan antara Nar'Hilmaar dengan Jar'Samiir tentang cowok-cowok gampusan (yang sudah berhasil digoda=bejat),Gugun dan Aming:
“Baru pulang nih?”
“Ya …begitulah. Kayaknya elu bakalan beruntung malam ini, Maar.”
“Emang kenapa?”
“Si Gugun bakalan ketemuan sama cewek bule gampusan.”
“Oh ya? Cakep-cakep nggak?”
“Gue juga belum liat. Elu cepet temuin dia. Ntar keburu keduluan ama si Aming tuh.”
“ Ok . Thanks , Miir, good night .”
Yang lebih menarik adalah bagaimana penulis menceritakan dengan lengkap alam jin itu seperti apa, tingkatan atau jabatan profesi mereka, keragaman bangsa jin yang bentuknya amat berbeda-beda, bahkan seperti halnya Charles Darwin, Andhika menceritakan sejarah asal-usul penciptaan jin dan evolusi mereka. Semuanya dituturkan dalam cerita yang mengalir.
Di alam jin sana ada banyak Negara (peta lengkapnya bisa dilihat), sejumlah istana, keraton dan keputren, sekolah tinggi, pasar, laboratorium seperti milik Q dalam James Bond, dan pabrik pembuat alat semacam telepon genggam atau android.
Untuk penamaan dan istilah, Andhika banyak memakai pelesetan dari bahasa arab. Seperti Nar (nama yang banyak dipakai bangsa jin) berarti api, zat asal jin, Al` jahiir untuk alam manusia adalah berarti alam nyata, atau Jiinatul awaluun untuk alam jin yang pertama. Dan karena Andhika dari Sunda, maka ungkapan-ungkapan sunda juga mewarnai buku ini.
Meski terkesan main-main dan ringan, namun novel ini memiliki alur yang cukup menarik. Kisahnya memang sederhana, bagaimana membuat Lena menjadi cewek gampusan.
Sayangnya Andhika, kedodoran saat menutup. Akhir dari cerita itu tidak klimaks, terlalu datar dan masih membuka celah untuk dinaikan ke puncak klimaks. Memang, ada rencana penulis untuk membuatnnya jadi serial, tapi sebuah serial yang baik tetap harus membuat kilmaks disetiap serinya. Ada puncak-puncak kecil sebelum mencapai klimaks diakhir novel terakhir.
|
Wahyu Riadi
http://disiniadaiway.blogspot.com/
Waktu lagi jalan2 ke Gunung Agung (toko buku bukan gunung di Bali), buku ini kelihatan eye-catching (menangkap mata) banget, sampul item, tebel(600 halaman je), ada gambarnya lucu (katanya sih jin). Buku ini crita tentang kehidupan jin yang namanya Nar'kobar, mirip2 lah ama crita abg yang lagi doyan-doyannya gaul, nyari tantangan, kepentok sana kepentok sini dan seterusnya. Baru beberapa halaman baca, langsung kebayang kalo nih buku difilm-in ama wacowsky(bener ga) bersaudara, itu tuh yang bikin trilogi matrix dan v for vendetta, soale kalo dibikin produser sinetron indonesia, pasti ga jauh2 dari siaran sinetron hantu yang tiap hari bikin mata kelilipan darah ama makhluk2 aneh. Kembali ke buku itu, ga tau kenapa baca buku ini jadi semacam pembenaran dari segala sesuatu tentang jin, mulai dari bentuk, alam, kegiatan, tingkatan, hingga keadaan spiritual/ketuhanan mereka. Semenjak kecil kita sering dapet keterangan tentang jin/alam ghaib dan sebangsanya, meski keterangan ini diberikan oleh banyak sumber, tapi sepotong2, ga komplit dan sedikit hubungan antar satu dan keterangan lainnya. Dalam buku ini sepertinya semua keterangan tersebut saling melengkapi satu sama lain, padahal (menurut pengakuan penulisnya) smua yang ada di novel ini ada yang ngarang, hasil penelitian penulis atau karangan penulis (lagi hehehe). Mungkin penulisnya bisa banget menyambung fakta satu dengan fakta lainnya ditambah gosip ini itu, disambung dengan karangan a b c, jadinya ya begini ni ni ni. Jadi ga sabar nunggu buku kedua-nya, oh iya buku ini adalah buku pertama dari trilogi ....... (jin kali yaaa) |
Andrakay
http://andrakay.multiply.com
Mulanya aku mengetahui cerita Nar’kobar the Motivator dari Yayangku. Aku merasa ah…. takut dan ngapain baca novel tentang Jin. Apalagi aku orang yang sangat penakut. Dengan keukeuhnya yayangku menjelaskan bahwa Jin ini sangat lucu dan cerdik. Dia pula meyakinkan aku untuk membacanya. Aku mengawali membaca novel ini pada siang hari dan aku membacanya dengan ditakut takuti.
Sampai beberapa halaman aku sudah mulai bisa menikmati dan aku mulai tertarik untuk membacanya sampai habis. Cerita si Jin dengan nama Narkobar sudah bisa aku nikmati dengan perasaan enjoy karena imajinasi penulis sudah menggoda aku untuk lebih menikmati novel ini lebih jauh lagi ( kali juga aku lagi baca didampingin sama ninipingan aku kalee hahahaha…) ternyata imajinasi aku tentang novel ini sangat jauh dari perkiraan yang awal mulanya aku pikir sangat menyeramkan dan menakutkan. Bahkan aku membacanya terkadang dengan tertawa, tersenyum sendiri hampir saja aku dianggap orang gila sama teman-temanku. Sampai-sampai aku promosi sama teman-temanku akhirnya mereka penasaran dan pada ikutan beli dan baca tuh….
Novel ini ditulis sangat ringan, alur ceritanya mudah dipahami. Penulis juga memakai bahasa yang gaul banget gichu lo… Nama-nama Istilah yang keren abis sepertinya imajinasi penulis juga jahil mirip seperti Nar'kobar...karena banyak istilah dari bahasa arab, indonesia mungkin dll. Istilah ini juga banyak di plese-plesetin tapi ok banget terkesan gaulnya… betul gak seeeh. Ide dan imajinasi sang penulis sangat cocok untuk semua kalangan tidak ada batasan sehingga kita ingin terus membacanya dan mengetahui seperti apa sih dunia lain dan tentang kehidupan para Jin.
Apalagi karakter si Jin Narkobar dengan kejahilan dan ide idenya sangat terkesan Manusia Banget atau manusia yang terkesan jin banget gituloh heheh… kalo gitu tergantung pada para pembaca yang membaca novel ini kaleee…dan gimana para pembaca menyikapinya.
Untuk para tokoh-tokoh yang baik seperti Ipung lena maupun tokoh yg baik jadi buruk bahkan sebaliknya sangat realistis dengan keadaan Manusia. Dibuku ini penulis banyak memberikan sikap yang sangat positip misalnya sebelum kita melakukan hal apapun kita diharuskan memiliki niat yang baik dan selalu berdoa. Tempat-tempat kotor merupakan sarang mahluk lain, bararti kita diajarkan untuk hidup yang bersih dan sehat. Masih banyak deh kayanya yang lain dalam bentuk positip salah satunya yang paling aku suka adalah kisah percintanya dan aku juga tidak menyangkal kalau cinta bisa datang kapan saja dan hilang juga kapan saja, tidak dapat diukur dengan waktu, karena cinta hanya bisa dirasakan dan merupakan suatu anugrah.
Kita dingiatkan pula sama penulis bahwa contoh perbuatan mausia yang buruk merupakan contoh mahluk yang sangat merugi karena disekitar kita terdapat mahluk lain yang sangat besar pengaruhnya terhadap manusia. Baik dari manusianya sendiri, apalagi dari mahluk yang tidak dapat kita lihat atau rasakan.
Yang terpenting menurut aku penulis menyisipkan cerita cerita yang sangat mendidik secara langsung menggunakan media buku dengan bahasa gaul dan cerita yang gampang diingat bahkan lucu boooo…
Untuk pertama kalinya aku yakin bahwa mahluk disekeliling kita ada. Setelah membaca Novel ini aku jadi tidak takut lagi bahkan terlalu PD karena wawasan aku tentang mahluk lain bertambah luas. Aku beranggapan bahwa kita sama booo… yaitu mahluk ciptaan Tuhan. |
Jia
http://aphrodhitetemple.multiply.com/
Jin dari ras Naarut ini telah meniping Lena sejak umur Lena delapan tahun. Sebelumnya, dia meniping ibunya yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Meski Nar’Kobar termasuk jin motivator berpengalaman, namun selama sembilan tahun meniping Lena belum berhasil membuatnya jadi cewek gampusan. Lena cewek yang kuat, rajin berdoa. Mau nyonglep dia pas tidur, biar bisa ngebisikin dia sambil menghadirkan mimpi-mimpi indah di tidurnya juga nggak bisa karena Lena tak pernah lupa berdoa sebelum tidur. Usahanya jadi semakin berat saat ada cowok bernama Ipung yang gencar PDKT sama Lena.
Entah kenapa, Nar’Kobar dan Jin-jin lain jadi tak bisa mendekati Lena kalau ada Ipung disekitarnya. Ada aura yang tak bisa ditembus. Jadi misi sampingannya adalah membuat Ipung jauh-jauh dari Lena. Dengan berbagai cara, termasuk nyonglep Gugun dan Aming, sobat-sobatnya Ipung, biar mereka tergila-gila sama Lena.
Sumpah! Kobar dendam banget sama Ipung. Mulai dengan proses PDKTnya sama Lena yang menghalangi tugas narkobar sebagai jin motivator, yang juga akan menghalangi kariernya untuk terus maju jadi jin provokator. Trus Ipung dengan pukulan jarak jauhnya yang nggak banget itu udah bikin Nyi Endeh, kuntilanak sobat Nar’Kobar yang menempati patung penari Bali di rumahnya Lena, terluka parah sampai harus dibawa ke istana Nyi Kunti untuk diobati.
Dan yang paling parah lagi, Ipung dan bokapnya yang sok itu udah mempermalukan Nar’Kobar di seantero jagat. Ih…please deh….nyebelin banget sih. Manusia-manusia sok. Kenapa sih harus ada acara reality show yang judulnya Tabir Dimensi Live? Trus kenapa juga Dr. Kenjiro Shimada menciptakan kamera Kirlianic Imaging System (KIS 3000) yang bisa merekam citra video dari jin? Semua orang di seluruh dunia menyaksikan Nar’Kobar dipermalukan, dicolek-colek sama manusia. Yang lebih parahnya lagi, Nar’Kobar dipanggil Ratu Nagini dan dibuang di sebuah sumur tua, dan turun pangkat jadi ririwa.
Untungnya, Putri Larasati (pewaris takhta Madanglaya, putri pertama Ratu Nagini dan Raja Mephisto dari Sildavinia), yang mengangkat Nar’kobar menjadi mentakirnya, memohonkan pembebasan bagi Nar’kobar. Ratu Nagini meluluskan permintaan putrinya, dengan syarat, Nar’kobar harus berhasil membuat Lena jadi cewek gampusan dalam waktu satu bulan, kalo nggak, Nar’kobar akan dihukum mati.
Sampai di situ, cukup mengerti? Pasti bingung dengan istilah gampusan, nipingan, mentakir, atau ras Naarut, atau nyonglep. Andhika memang kreatif menciptakan kosa kata baru. Dari 601 halaman plus 15 halaman pengantar, sepuluh halamannya adalah daftar istilah. Setengah dari daftar istilah itu adalah kata-kata baru yang diciptakan Andhika untuk memanusiawikan bahasa jin agar para pembaca Nar’kobar bisa mengerti. (Hehehehe…memangnya bagaimana jin berbicara?).
Sepertinya Andhika melakukan riset yang cukup memadai ketika menulis ini. Dalam wawancara yang dimuat dalam sebuah blog, penulis novel ini mengaku bahwa ia mengambil basic tentang jin dari Alquran dan Alhadist, selain membaca buku-buku tentang jin seperti karya Abu Aqila (Kesaksian tentang Jin) dan Muh. Isa Dwud (dialog dengan Jin), dll. Ia juga mendapatkan referensi dari pengalaman teman-temannya yang pernah bersinggungan dengan dunia gaib.
Cukup banyak hal positif yang bisa didapatkan dengan membaca novel ini. Gaya bahasanya yang gaul mudah sekali dicerna hingga kita tak kesulitan mengikuti alur cerita (yah...kecuali ketika kita dipaksa untuk menghapalkan istilah-istilah tertentu). Dan sepertinya, ada misi terselubung untuk meluruskan pandangan umum terhadap dunia gaib, misalnya tentang roh-roh gentayangan yang seharusnya tidak ada, tapi hanya perbuatan jin yang berpura-pura menjadi hantu penasaran (pocong, kuntilanak, arwah penasaran, dll) untuk menakut-nakuti manusia. Selain itu, yang sangat kental terbaca, penulisnya ingin memperlihatkan bagaimana kekuatan doa bekerja. Tampak dari beberapa tokohnya yang sulit didekati karena memiliki aura positif yang kuat dari rajinnya berdoa.
Saya melahap buku ini habis dalam satu hari. Sempat lupa ngapa-ngapain…(mungkin karena sebelum saya membaca buku ini saya lupa berdoa, hingga ninipingan saya nyonglep di telinga saya. Hehehe)
Daftar istilah:
Naarut : Ras jin generasi keempat sejak ras Jah’luun menempati Al’m sidjiin. Jin dari ras ini memiliki intelegensi yang tinggi dan memiliki kekuatan dasar aura lembut yang sedang. Umumnya mereka memiliki bentuk alami mirip manusia terutama di bagian matanya. Memiliki warna kulit kemerahan, dua buah tanduk kecil, dan berekor pendek.
Mentakir : Guru/ mentor/ pembimbing (Bahasa jin dialek Madanglaya. Takir: murid
Jiinayil Aq’lun : Jin mitra/ pendamping manusia. Konsep ini mulai dicetuskan oleh Ki Reyamani dari ras Jah’luun. Tujuan utamanya untuk memanfaatkan kerativitas, imajinasi, kecerdasan, dan energi hidup manusia demi kepentingan bangsa jin. Jiinayil Aq’lun terdiri atas empat tingkatan yaitu: Ririwa, J’mar Khadum, J’mar Kha’riin, J’mat Khafziir.
J’mar Kha’dum : jin dengan tingkatan ini berfungsi sebagai motivator manusia
Gampusan : keadaan mental dan spiritual seorang manusia yang sudah dianggap terbuka (tidak memiliki resistensi terhadap sugesti negatif) dan memiliki aura positif yang lemah sehingga sudah tidak diperluakn lagi jin pendamping khusus untuk memotivasinya karena jin mana pun sudah bisa memanipulasi alam pikirannya setiap saat dengan mudah.
Niniping : memata-matai, membuntuti manusia. Nipingan: manusia yang sedang diamati/dipengaruhi.
Nyonglep : ‘nongkrong’ di dalam telinga manusia
[daftar istilah selengkapnya, baca aja bukunya…!] |
|