![]() |
||
|
Hidayatullah Edisi Maret 2000
Para Pengungsi Kini Bersaksi
Tragedi pembantaian ummat Islam di Tobelo akhir tahun lalu, menyisakan pengungsi yang sangat mengerikan. Ada yang terisolasi di Galela, terkurung di hutan-hutan yang diburu dengan anjing dan di Ternate yang kekurangan pangan. Bahkan ada ancaman serangan wabah kolera akibat mayat-mayat yang tidak terkuburkan.
Ketika berita ini ditulis, tidak ada yang tahu kapan pertempuran antara warga Muslim dengan pasukan merah (Kristen -red) di Galela berakhir. Galela adalah kecamatan di ujung utara pulau Halmahera yang berbentuk huruf K itu. Di sini terkumpul sekitar enam ribuan pengungsi. Mereka adalah wanita, orang tua, dan anak-anak yang selamat dari pembantaian pasukan merah di Popilo, Togoliua, Gomhoku, dan sekitarnya akhir Desember 1999 lalu. Kejatuhan Galela dari serangan pasukan Obet -sebutan untuk kelompok Kristen hanya menunggu hitungan hari.
Kondisi mereka sangat memprihatinkan. Bekal sangat minim, pakaian hanya yang melekat di badan. Beras sudah habis, sehingga beralih ke buah-buahan, terutama pisang. Kabar terakhir, pengungsi harus makan pisang rebus, karena yang masak sudah tidak ada.
Selain menghadapi kekurangan bahan makanan, banyak orang tua, anak-anak, dan bayi yang sudah terjangkiti penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), diare, dan dehidrasi (kekurangan cairan), penyakit yang paling sering timbul di lokasi pengungsian. Mereka sudah terserang penyakit sejak masa pelarian di dalam hutan.
Sejak diberlakukannya isolasi, menyusul pembantaian terhadap Muslim di Tobelo, tidak ada bantuan yang bisa masuk ke Galela. Ini karena jalan darat menuju Galela diblokir oleh pasukan Kristen, sementara jalur laut diblokir tentara.
Selain aparat keamanan, tim yang bisa menembus Galela adalah para dokter dari Medical Emergency Rescue Commite (Mer-C), sebuah `palang merah' Islam yang datang ke Galela, sejak 9 Januari 1999 lalu. Ketika itu Galela bagai kota mati. Rumah dan masjid yang terbakar tinggal puing. Halaman rumah dan jalan-jalan penuh kotoran hewan yang berserakan. Hewan berkeliaran karena tidak terurus. Darah masih tampak berceceran di mana-mana, ditambah bau anyir mayat yang belum terkubur. Lalatpun menyerbu kebun, jalan, dan rumah-rumah.
Sebelumnya tidak ada pertolongan medis, padahal sangat banyak yang luka-luka, baik akibat pecahan bom, senjata api, panah, terbakar, maupun luka-luka selama masa pelarian di hutan. Keadaan ini berlangsung sepuluh hari. Penderitaan yang sungguh berat. Jangankan yang luka-luka, yang sehat saja satu persatu ambruk lantaran terserang penyakit.
Banyak yang lukanya mulai membusuk. Sarifuddin (30) misalnya, yang tangan kirinya hancur terkena bom, sudah mengalami pembusukan. Saking parahnya, bau busuk lukanya bisa tercium dari jarak 30 meter. Tindakan medis dilakukan dengan kondisi seadanya. Tangan Sarifuddin terpaksa diamputasi oleh Joserizal Jurnalis, dokter spesialis bedah tulang, di teras salah seorang penduduk. Syukur tidak ada infeksi. Apa boleh buat, keadaan memang memaksa demikian, kata Joserizal.
Selain itu, para pengungsi juga mengalami depresi mental. Kenangan mereka menyaksikan pembantaian sangat membekas. Munir (22), penduduk asal Gorua yang lari sampai Galela, menyaksikan orang-orang dibantai di masjid Al-Muhajirin, Popilo. Termasuk bayi dan anak-anak juga dipotong-potong. Mayatnya lalu dibakar. Sebenarnya Munir juga ikut dibantai dan dikira sudah mati, ternyata masih hidup. Akhirnya dia melarikan diri.
Sebenarnya kami sudah berupaya agar ada bantuan melalui Ternate yang bisa dikirim ke Galela dengan kapal Angkatan Laut. Danlanal (Komandan Pelabuhan AL) pun menyanggupi, namun semuanya terbentur di Pangdam Pattimura Brigjen Max Tamaela yang memegang BKO pengamanan di Maluku, kata Joserizal Jurnalis yang juga Ketua Mer-C.
Kini pengungsi di Galela harus menahan serangan dari pasukan Kristen, setiap hari. Mereka diserang dari lima penjuru, satu dari jalan raya, tiga dari hutan, dan satu lagi dari laut. Dari lima ribuan pengungsi, hanya 300-an yang siap perang, itupun tidak terlatih. Perlawanan jelas tidak seimbang. Maklum, sebagian besar para pengungsi adalah orang tua, wanita, dan anak-anak. Mereka menghadapi lebih dari 7000 tentara merah yang siap perang.
Yang belum jelas hingga saat ini adalah nasib pengungsi yang terperangkap di hutan-hutan Tobelo. Jumlah mereka diperkirakan 400-an orang. Keadaannya sangat mengerikan. Selain tidak adanya makanan, mereka terus dikejar pasukan Kristen dengan anjing pelacak.
Kabar terakhir yang disampaikan oleh kakak beradik Ismail Abu Bakar dan Lukman Abu Bakat yang baru keluar dari hutan, sejumlah celana dalam sudah digantung di pohon-pohon. Laporan yang sama juga disampaikan Mer-C yang mengutus seorang pengintai. Asumsi kami, mereka sudah dibantai. Karenanya Mer-C minta mereka segera dievakuasi. Kalau tidak, mereka akan mati sia-sia. Sayang, permintaan ini tampaknya sia-sia, sebab Pangdam Pattimura Max Tamaela belum memberi lampu hijau untuk penjemputan pengungsi.
Selain lari ke Galela, para pengungsi asal Tobelo juga banyak yang lari ke Ternate. Keadaan mereka sama parah dengan yang ada di Galela. Seperti Faiz Karbi (7), bocah laki-laki asal desa Gorua, Tobelo, paha dan betis kirinya hancur terkena bom rakitan. Sekujur tubuhnya penuh luka bacokan.
Trauma psikologisnya masih parah, tidak bisa diajak bicara, tatapan matanya kosong. Faiz dipaksa menyaksikan pembunuhan terhadap orangtua dan enam saudaranya. Ia diselamatkan neneknya ke bawah jembatan. Tapi neneknya tewas begitu keluar dari kolong jembatan beberapa menit setelah meninggalkan Faiz.
Faiz ditemukan Syamban Ngongano, penduduk Gorua yang mendengar tangisannya ketika penduduk melintasi jembatan untuk mengungsi. Kini ia terbaring di klinik darurat bioskop Mitra. Ia hidup sebatang kara. Kalau ditanya tentang ayah dan ibunya, ia hanya bisa menangis, kata Syamban.
Nasib yang sama juga dialami Dedi Eko (12). Seluruh keluarganya yang tinggal di daerah transmigrasi SP-4 Desa Akedega, Wasile, Halmahera Tengah, dibantai lima pasukan merah di rumahnya. Ia selamat karena sempat lari ke belakang rumah yang tidak diketahui oleh pasukan Kristen.
Berdasarkan catatan Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU), sejak pembantaian di Halmahera Utara, jumlah pengungsi Muslim yang ada di Ternate hampir 100 ribu orang, tepatnya 97.085 jiwa.
Pembantaian itu diawali pembunuhan terhadap H Jailan Tobuku, imam masjid Nurul Huda Desa Dokulamo, menjelang buka puasa, 27 Desember 1999. Jenazah yang sudah dimakamkan dibongkar lagi oleh orang-orang Kristen kemudian disalib dan mulutnya disumpal daging babi. Esok harinya, warga Gamhoku dibantai di gereja Gumhoku, ketika mereka diundang pendeta Gultom guna merayakan Natal bersama di gereja.
Menyusul kemudian di Togoliua keesokan harinya, 29 Desember 1999. Warga Muslim lari ke masjid Al-Ikhlas Togoliua. Sebagian besar mereka adalah anak-anak dan wanita. Begitu terperangkap di masjid, mereka dibantai. Jumlah korban tewas yang ditemukan sekitar 400 orang. Mereka terpaksa dikubur di dalam masjid dengan merobohkan bangunan karena mayat-mayat sudah hancur dan tidak dikenali.
Giliran berikutnya adalah warga desa Popilo, 31 Desember 1999. Mereka yang mengungsi di masjid Al-Muhajirin juga dibantai. Bayi-bayi yang berada di masjid direnggut dari orang tuanya, kemudian dibantai. Dilempar ke atas, begitu turun langsung disabet pedang sehingga terpotong. Anak-anak juga, mereka diikat di atas dijadikan sasaran latihan memanah. Begitu mati ganti anak berikutnya. Sementara yang dewasa anggota badannya dipotong sedikit demi sedikit.
Jumlah korban di masjid Al-Muhajirin Popilo mencapai 400-an orang. Salah seorang korban yang turut dibantai adalah Munir (22) warga desa Garua. Disangka sudah meninggal, Munir dilempar ke tumpukan mayat, ternyata masih hidup. Mendengar akan dibakar, Munir melarikan diri. (Lihat: Di Atas Saya Ada Enam Lapis Mayat).
Daerah transmigrasi juga jadi sasaran. Desa Suka Maju di Trans Gamsungi II pada 2 Januari 2000 didatangi warga Kristen Kusuri yang dipimpin anak Pendeta Kusuri. Mereka dikumpulkan dekat gereja Hero kemudian diperiksa satu per satu. Seorang warga bernama Suwarno Adam (44) pertama kali dipanggil maju, pundaknya langsung dipotong. Perutnya ditusuk 20 panah, tubuhnya dicincang.
Daging pipinya dimakan dan darahnya diminum. Kemudian giliran Ibrahim Ali (mantan Kades Suka Maju), Ajis Muhidin, dan seorang penduduk dari Lolobata maju. Lehernya langsung ditebas. Kejadian ini disaksikan oleh Ny Fitri Suwarno Adam, istri almarhum Suwarno yang kini mengungsi di Ternate.
Pembantaian ummat Islam di Tobelo merupakan peristiwa yang paling tragis dan biadab sejak kerusuhan Maluku. Ada indikasi kuat pembantaian itu direncanakan dengan melibatkan aparat dan pejabat. Itu bisa dilihat misalnya anggota Kompi C-732 yang cuti Natal dengan membawa pulang senjata. Beberapa hari kemudian terjadi pembantaian. Ketika terjadi pembantaian di depan markas Kompi C, anggota Kompi C yang tahu tidak melakukan tindakan apa-apa.
Demikian juga pembantaian di Koramil Tobelo. Ketika warga menyelamatkan diri ke kantor Danramil Tobelo, justru di sanalah terjadi pembantaian. Di hadapan Danramil dan aparatnya mereka dibantai oleh pasukan Kristen, dan Danramil juga tidak melakukan tindakan apa-apa.
Anggota DPRD Maluku Utara dari PDI-P May Luhulima juga terlibat dalam pembantaian di Tobelo. Bahkan diduga turut mendalangi. Banyak yang melihat May terjun bersama massa pada pembantaian yang menewaskan ribuan orang itu, kata Alex Mangola, Ketua DPW PDI-P Maluku Utara. Saat ini May diskors oleh fraksinya karena dugaan keterlibatan itu.
Sikap Pangdam XVI Pattimura Brigjen TNI Max Tamaela juga setali tiga uang: membiarkan ummat Islam dibantai. Indikasinya, ketika para pengungsi Muslim di Galela perlu diselamatkan, dan satu-satunya jalan adalah dievakuasi dengan kapal perang, justru Pangdam tidak memberikan izin, sampai sekarang. Termasuk bantuan kemanusian. Berbeda dengan pengungsi Kristen di Bacan, Pangdam perintahkan menjemput dengan kapal perang, dibawa ke Masohi, kata Abdurrahim Muhammad, staf PKPU di pulau Bacan.
Satu-satunya pasukan yang menjaga pengungsi di Galela adalah Batalyon 512 Marabunta dari Malang. Mestinya, pasukan yang baru beberapa hari datang dari Timor-Timur ini dikirim ke Aceh. Tapi karena Tobelo kritis, Kasum TNI Letjen Suaidi Marassabesy memerintahkan pasukan yang sedang terbang menuju Aceh ketika itu berputar ke Tobelo. Instruksinya, mendarat di Morotai kemudian langsung menuju Tobelo. Di Moritai memang ada lapangan terbang besar peninggalan Sekutu. Perhitungannya, bila sampai di Morotai, Tobelo bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam sehingga pembantaian dapat dicegah.
Tapi oleh Pangdam Max Tamaela pesawat diperintahkan mendarat di Ternate. Padahal untuk mencapai Tobelo dari Ternate perlu 20-an jam. Alasan Pangdam, pilot tidak tahu kalau ada lapangan terbang di Morotai. Alasan yang sungguh tidak masuk akal, sebab Amerika saja tahu ada lapangan terbang besar peninggagalan Sekutu di Morotai. Artinya, ummat Islam di Tobelo bakal habis dibantai.
Tahu pesawat mendarat di Ternate, Suaidi perintahkan pesawat terbang lagi ke Morotai. Namun begitu sampai di Morotai, pasukan yang dipimpin Letnan Guruh ini diberitahu aparat setempat bahwa yang terjadi di Tobelo adalah kerusuhan kecil. Karena itu perlengkapan yang dibawa ke lokasi hanya seperlunya, pakaian PHH, senjata standar, dan satu botol air minum untuk persiapan berbuka puasa. Saat itu hari-hari terakhir puasa Ramadhan. Personilnya hanya 60 orang.
Di luar dugaan, sepanjang jalan menuju Tobelo sudah dipasang rintangan pohon kelapa yang dirobohkan. Karena harus menyingkirkan rintangan, perjalanan memakan waktu 5,5 jam. Padahal hari itu semua pasukan puasa tanpa sahur.
Sampai di Tobelo ummat Islam sudah habis, demikian pula yang di Popilo, Gamhoku, dan Togoliua. Satu-satunya yang bisa diselamatkan hanya di Galela. Itupun sudah terkepung seperti sekarang, sehingga kejatuhan Galela hanya menunggu hitungan hari.
Untuk menyelamatkan saudara-saudaranya di Galela dari isolasi dan kepungan pasukan Kristen serta pengungsi di hutan Tobelo yang dikejar dengan anjing pemburu, ummat Islam di Ternate bakal menerobos jalur darat. Perangpun tidak akan terhindarkan. Kami memang harus bisa kembali ke kampung halaman, agar di sana tetap terdengar adzan, kata Ridwan M Ilyas, muballigh dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang kini masih berada di Ternate.