b_atas.jpg (47700 bytes)
Islam is rahmatan lil aalamiin

Jihad sabiluna wa al mautu fii sabiilillaah asma' amanina

Hidayatullah Edisi Maret 2000

Kesaksian dari Ladang Pembantaian

Dulu, kita semua meyakini di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini mustahil terjadi pembantaian mayoritas terhadap minoritas. Namun Maluku, Halmahera, Tobelo adalah perkecualian. Ironisnya, ummat Islam yang mayoritas di negeri ini justru yang menjadi korban.

Peristiwa itu begitu telanjang di depan mata. Ribuan bangunan dan tempat ibadah hancur. Ratusan nyawa melayang. Jasadnya tercecer dan bertumpuk di jalan-jalan, di semak-semak dan masjid. Ada yang tanpa kepala, yang dada dan perutnya robek terkoyak-koyak, yang hangus dan membusuk, atau yang tinggal tengkorak, bertebaran di mana-mana. Tapi yang disampaikan kepada kita seakan-akan yang meninggal hanya lima orang.

Ketika Sahid terjun ke ladang pembantaian dan kamp-kamp pengungsi, kami menemukan ribuan orang yang mau bersaksi. Bahwa yang terjadi bukanlah sekadar pertikaian antarkampung, tapi pembantaian massal satu kelompok kepada kelompok lainnya, ketika mereka sudah tidak berdaya. Ada pula korban-korban yang turut dibantai namun masih selamat, semua bersedia menjadi saksi.

Belum lagi yang harus merasakan sakit berkepanjangan, bahkan cacat seumur hidup. Mereka kini ditampung di kamp-kamp pengungsian, kondisinya tak kalah memprihatinkan. Musibah kelaparan mengancam.

Maluku Utara menjadi tempat pembantaian massal (genosida) sekaligus tempat penampungan para pengungsi. Persis dengan peristiwa yang terjadi di negeri Balkan, Bosnia beberapa tahun lalu.

Tidak semua masyarakat kita sakit, masih lebih banyak yang waras, sehingga tidak akan percaya bahwa yang meninggal hanya lima orang. Lembaga Swadaya Ummat seperti Medical Emergency Rescue Commitee (Mer-C), Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU), Komite Penanggulangan Krisis (Kompak), MUI, dan masih banyak lagi, sangat tahu kejadian sesungguhnya di lapangan. Bukan dari sebuah istana, yang dikitari para pembisik.

Korban yang meninggal jelas bukan tikus dan kelinci. Karenanya, pemerintah harus diingatkan bahwa tanggung jawabnya tidak hanya dimintai di dunia, tapi akan terus dikejar hingga di akhirat kelak. Kalau pengadilan HAM Timor Timur saja bisa, mengapa pembantaian di Halmahera tidak?

Sayang, kita sering malu-malu mengatakan bahwa peristiwa ini adalah konflik agama. Memang ada faktor lainnya, politik, ekonomi, kesukuan, dan sebagainya, tapi itu hanya bumbu. Sebab, kalau salah mendiagnosis persoalannya, salah pula penyelesaiannya.

Kami menganggap masalah ini sangat penting, karenanya kami menuliskan dalam laporan panjang. Bagian pertama tentang kesaksian para pengungsi yang mengalami langsung kejadian. Kami tambah sebuah pengalaman salah seorang korban yang selamat.

Bagian kedua tentang upaya rehabilitasi di kamp pengungsian oleh lembaga swadaya ummat dan persoalan sosial yang timbul.

Kami tambah pula dengan pengalaman sebuah tim dalam menangani korban pembantaian itu. Terakhir adalah perlunya advokasi terhadap kasus pembantaian ini.

Selamat membaca!

next page

               

Hosted by www.Geocities.ws

1