|
|
© Mapalastieyo "MUSHROOM" UKM Penjelajah Alam Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi "Yogyakarta" Sekretariat : Jl. Glagahsari No. 63 Yogyakarta . Indonesia . Telp: (0274)373955 E-Mail : [email protected] . Website : www.geocities.com/mushroomyogya |
| home | agenda | berita | kontak | pernik | azimuth | perjalanan | unek-unek |
| Bulletin Mushroom AZIMUTH |
|
Kapten Haddock, tokoh dalam serial Tintin pernah menggerutu tentang orang yang gemar naik gunung. "Buat apa naik gunung kalau nanti harus turun kembali," begitu omelnya yang tak mengerti. Dan rasanya hal ini sudah cukup mewakili pandangan orang awam. Bagi orang luar, kegiatan mendaki gunung, manjat tebing, menjelajahi rimba atau mengarungi jeram adalah hal yang sia-sia. Apalagi nyawa sebagai taruhannya, kendati begitu kegiatan di alam bebas semakin marak. Prestasi yang diukir para petualang negeri cukup berderet. Sebut saja, misalnya Ekspedisi Himalaya, ekspedis Andes, ekspedisi Putri Indonesia dan masi banyak lagi. Lantas, apa sih sebetulnya yang mendorong para petualang menggeluti dunianya...?, hingga mereka cuek dengan pandangan orang awam. Iseng.Sebetulnya para petualang itu pada awalnya berangkat dari rasa iseng belaka, sekedar ingin tahu, apasiih yang ada di gunung, kayaknyya mereka asyik buanget...? bahkan ada juga karena ikut-ikutan. Apapun awalnya perkenalan dengan petualangan, yang jelas mereka langsung ketagihan dengan dunia itu. Rasanya alam bebas mem-punyai magnit yang kuat sehingga menarik kembali para petualang untuk menggeluti dunianya. Biar kita mendaki gunung yang sama pengalaman de-ngan kita dapat selalu berbeda. Artinya para petualang selalu mencari hal yang baru, tantangan baru, dan bagaimana cara mengatasi tantangan itu. Itulah yang menyebabkan mereka kembali lagi ke alam bebas. Bagaimana wujud tantangan itu...? mereka sendirilah menjawab dan yang tahu( tanyalah kepada para petualang, maka kamu memperoleh seribuu macam jawaban ). Selain itu tentunya pemandangan indah yang disodorkan oleh lam bebas. Rahasia.Pada awalnya mereka memang mendapat kepuasan setelah menjawab tantangan dan menikmati panorama indah yang ditawarkan alam bebas. Namun dari pengalaman naik-turun gunung itu mereka pelan-pelan mendapat sesuatu yang lebih indah. Bukan sekedar memetik kepuasan berhasil mencapai puncak, sifat-sifat positif yang memang diperlukan saat-saat bertualang atau dalam kehidupan sehari-hari perlahan-lahan akan mulai terbentuk . misalnya, berani mengambil keputusan, seumpamanya dalam hal keadaan kepepet, kita harus memutuskan apa yang musti dilakukan tanpa membahayakan team apalagi kita bertindak sebagai kepala suku team. Perselisihan bukan barang asing yang muncul karena kondisi mental dan phisik yang letih hingga orang gampang tersinggung. Tetapi, karena berada dalam situasi yang menuntut kerjasama, para petualang tidak dapat mengumbar emosinya begitu saja. Sedikit demi sedikit pun emosi terkendalikan yang akhirnya akan membuat perselisihan terlupakan. Dengan naik gunungpun kita bisa melatih memotivasi diri. karena di gunung yang menjadi penghalang utama adalah diri petualang itu sendiri. capeklah, malaslah, masih jauhlah dan lain-lain. Begitu pula dengan sifat cermat membuat perhitungan dan tak mudah mengeluh. Kondisi alam yang sulit diduga menuntut persiapan dan perhitungan yang matang dan kalaupun itu meleset kita terima dengan pikiran dingin. Ditengah hutan kepada siapa kita mau mengeluh...? semua personil juga mengalami seperti kita, jadi percumakan mengeluh kepada mereka, bisa-bisa anggota yang lainnya patah semangat pula. Selama bertualang mereka selalu mencoba bersikap jujur, misalkan suatu waktu kita mendaki sendirian dan tidak sampai puncak, kita bisa saja bilang sampai puncak, toh tak ada yang menjadi saksi. Disinilah kita harus jujur karena pengalaman kita alami mungkin berguna buat teman-teman yang lain. Jika sudah sampai tahap ini puncak bukan lagi tujuan utama, begitu pula kebanggaan yang dulu-dulu sempat menyesakkan dada karena berhasil menaklukkan puncak, perlahan-lahan akan hilang. Juga nafsu merusak, seperti mencoret-coret batu dan pohon, membuang sampah disembarang tempat atau memetik bunga Eidelweis tanpa memperhatikan kelestariannya sudah lama ditiinggal. karena motto " Jangan ambil sesuatu kecuali foto, Jangan bawa sesuatu kecuali kenangan, Jangan bunuh sesuatu kecuali waktu dan Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak," sudah melekat pada diri masing-masing. Tapi semua ini adalah proses yang harus dilalui semua orang yang ingin menjadi pecinta alam sejati. Petualangan sebetulnya sama saja dengan aktivitas yang lainnya. kalau kita menggemari sesuatu harus siap dengan resikonya. Jadi jangan anggap mereka tidak takut mati, bahkan sebaliknya mereka adalah yang paling takut mati. Jadi jangan takut melakukan petualangan...!!! "Keberanian orang sering timbul setelah merasa ketakutan, karenanya jangan merasa bangga atau sombong bila seolah-olah engkau berani" , Azimuth MAHASISWA MILLENNIA Harus diakui bahwa sikap kritis dari kalangan mahasiswa hanya bisa dibangun manakala tersedia ruang intelektual yang memadai dan relatif besar. Oleh karena itu, agaknya segala bentuk pengekangan atau pelarangan ekspresi ilmiah yang bernada kritis akademis tentu merupakan sebuah gejala yang teramat sangat memprihatinkan. Mahasiswa merupakan kelompok elit dalam masyarakat, pada hakekatnya memberi arti bahwa ia memikul tanggung jawab yang besar dalam fungsi generasinya, sebagai kaum muda terdidik atas kehidupan masyarakatnya, menjadi mahasiswa bukanlah sekedar meraih gelar terhadap studi yang dipelajarinya, dapat bekerja, terpenuhi materinya, dan selesai. Namun dari baju mahasiswa diharapkan mempunyai nilai lebih, sehingga nantinya mampu menyelesaikan segala permasalahan yang ada, baik yang menyangkut keprofesionalan dari keahlian yang dipelajarinya di bangku kuliah maupun masalah lain di luar konteksnya. Sehingga dari latar belakang setatusnya yang mahal tersebut tidak terlahir mahasiswa - mahasiswa yang "fachidiot", yakni seorang yang ahli dalam suatu bidang namun sangat dungu dalam aspek lainnya. Ketika sebuah peran bernama mahasiswa kritis, tidak lantas harus disikapi dengan tindakan negatif berupa represivitas yang ketat atau bahkan tidak harus disikapi sebagai upaya perlawanan atas kondisi akademi kampus yang mapan. Sebab sebagai intelektual mahasiswa harus menjalankan "dharmanya" sebagai "moral force" yang senantiasa menjalankan fungsinya sebagai "man of future" sekaligus juga melaksanakan fungsinya sebagai "social control", dan itu semua tentunya masih dalam bingkai ilmiah dan intelektual. Sehingga amat disayangkan apabila para pejabat akademik kampus seringkali menatap kritisme kalangan mahasiswa dari sudut pandang kekuasaan bukannya lewat kacamata ilmiah. Munculnya benang merah dalam kehidupan akademik kampus itu boleh jadi disebabkan posisi mahasiswa itu sendiri yang berada dalam situasi dilematis. Pada dasarnya mahasiswa berdiri pada dua kaki yang saling bertolak belakang, pada satu sisi sebagai pelajar, mahasiswa tidak bisa lepas dari "birokrasi" pendidikan yang ketat lengkap dengan segala aspek dan permasalahannya, namun pada sisi lainnya sebagai intelektual mereka harus menyuarakan hal - hal yang bersifat kritis akademis. Baik sebagai pelajar atau intelektual mahasiswa diminta menempatkan diri pada status dan perannya sebagai seorang yang bisa bersikap inovatif, emansipasif, dinamis, dan humanis tetapi jangan bersuara kelewat kritis lebih - lebih yang menyangkut tata kehidupan akademik kampus karena yang berhak untuk itu hanyalah "para pejabat akademik kampus". Pada kondisi sekarang ini, sikap kritis akademis yang seharusnya disuarakan mahasiswa terkikis akibat belum tumbuh dan berkembangnya "masyarakat ilmiah" dalam kehidupan akademis kampus yang mempunyai ciri antara lain; kristis, obyektif, analistis, kreatif dan kontruktif, terbuka untuk menerima kritik dan perubahan, menghargai waktu dan prestasi ilmiah serta akademik, bebas dari prasangka, dialogis, kemitraan antara civitas akademika, memiliki serta menjunjung tinggi norma dan susila akademi serta tradisi ilmiah, dinamis serta berorientasi ke masa depan. Sekalipun nanti dibuat test case bagi upaya membangkitkan kelesuan dinamika internal mahasiswa lewat acara diskusi, seminar, lokakarya, dengar pendapat atau tatap muka namun bila tidak terbuka untuk berbicara kritis akademis sebagai syarat terbentuknya masyarakat ilmiah tentu akan sulit mewujudkan sebuah kultur akademik yang baik. Walau saat ini akademik kampus masih terus mencari format masyarakat ilmiah dan kultur akademik yang mapan, mahasiswa selaku unsur utama civitas akademika harus pula berperan aktif dan tidak hanya sekedar menjadi obyek belaka. Untuk itu mahasiswa melalui lembaga - lembaga kemahasiswaannya harus berusaha melakukan penelitian dan kajian guna memberikan masukan konsep masyarakat ilmiah dan kultur akademik yang sesuai dengan dinamika mereka, tentunya tidak keluar dari bingkai ilmiah dan intelektual. Dalam menjalankan dharmanya ini lembaga kemahasiswaan yang ada harus bersikap kritis, inovatif dan responsif di dalam menelaah segala aspek kehidupan akademik, sehingga lembaga kemahasiswaan tidak akan terposisikan sebagai simbol atau sekedar alat pelengkap akademik kampus belaka. Sebab, konsep tentang masyarakat ilmiah dan kultur akademi yang kerap diretorikakan selama ini adalah murni dari para pejabat akademik kampus tanpa adanya kontribusi dari kalangan mahasiswa selaku unsur utama civitas akademika. Hal ini, juga disebabkan ketidak tahuan atau ketidak mau tahuan sebagian besar masyarakat intelektual atas makna masysarakat ilmiah dan kultur akademik. Namun begitu, mahasiswa tidak perlu tergesa - gesa melakukan aktivitas intelektual yang terkesan radikal serta buru - buru bersikap revolusioner tetapi cukup secara perlahan namun mencapai target yang diharapkan. Karena sikap terburu - buru atau cenderung radikal revolusioner dalam mendukung terbangunnya masyarakat ilmiah dan kultur akademik hanya akan merugikan komunitas akademis yang lebih luas. , Azimuth BADAK LAWAN SAPI Yang satu liar, berlari menerjang palang, melanggar semak belukar, megarungi rawa, mendaki bukit, menumbangkan pohon atau apa saja yang menghalanginya. Tanpa henti ia menyerbu kesasaran yang dituju. Yang lain tenang - tenang merumput sepanjang hari tak sekalipun mencoba melewati batas lapangan penggembalaannya. Kedua satwa ini, tentu saja si badak dan si sapi banyak mempunyai persamaan, keduamya bertubuh gempal, pemakan rumput dan daun - daunan, sama - sama bertanduk dan berkaki empat. Akan tetapi pada kenyataannya kedua binatang ini berbeda bagaikan siang dan malam. Cara - cara seseorang menghadapi tantangan dapat dibandingkan dengan sepak terjang si badak yang tak dapat dihentikan dan langkah si sapi yang puas dengan dirinya. Kita semua mulai dengan awal yang sama dan selanjutnya kita memilih. Pilihan ini berakibat pada tujuan yang kita kejar, pada kesungguhan kemauan kita bekerja, dan pada kekuatan sikap positif kita. Ada yang memilih jalan menerjang hutan, menantang petualangan bagaikan badak. Yang lain memilih berlenggang tenang, cukup puas dan senang mengikuti kawanan. Marilah kita bandingkan keduanya, lebih mirip manakah kita? Sapi : lamban bagaikan lukisan, malas dalam berfikir, meski ia dapat bangkit dan menyerang tetapi lebih memilih tinggal direrumputan, ia tidak punya ambisi, tidak punya motivasi, dan bermalas - malasan dalam khayalan hidup aman terjamin. Rasa aman semacam ini sebenarnya gabungan rasa takut gagal dan kemalasan. Dengan kata lain, si sapi berpikir, kalau aku tidak mencoba sesuatu, aku tidak akan pernah gagal. Jelaslah bahwa untuk mencapai sesuatu yang pantas, memerlukan waktu dan latihan. Latihan berarti melakukan sesuatu berulang - ulang, dengan semakin maju pada setiap pengulangan, sampai kita menguasai langkah yang tetap. Kita tidak akan pernah mendapat suatu keuntungan yang sebenarnya dengan cara menghindar, tetapi itulah cara aman si sapi. Ia menonton saja sementara dunia berlalu melewatinya. Badak : menyerbu garang dengan tekad bulat dan tidak pernah berhenti, inilah ciri khas badak - badak sejati. Badak tidak dapat dikungkung dalam sepetak ladang rumput seharian, sebab ia tahu ada dunia luas penuh kesempatan yang dapat direbutnya. Badak melakukan apa saja dengan terjangan dahsyat dan menghadapi setiap situasi tanpa gentar dan keraguan. Badak telah mengembangkan kulit setebal lima centimeter yang menolak setiap unsur negatif yang cukup bodoh untuk menghalangi jalannya menuju sasaran. Badak selalu menyerbu dengan kebulatan tekad. Konsepnya sederhana saja, pusatkan seluruh daya upaya pada satu hal, selesaikan itu lalu bergerak maju. Ada yang menyebut cara ini tunnel vision atau peglihatan terowongan, melihat hanya langkah berikut menuju sasaran. Seorang petualang alam adalah badak, dia mencari resiko, mencari tantangan dan pengalaman baru. Di tempat kerja atau di lapangan kita dapat membedakan antara si badak dan si sapi. Si sapi selalu melakukan pekerjaan sesedikit mungkin dengan berkata "itu bukan tugasku" atau "biar orang lain saja". Sementara si badak berlari kesana kemari membantu orang lain, menyelesaikan masalah dan menyelesaikannya. Sapi sering berwajah muram dan tampak mengantuk. Sapi maupun badak keduanya menemui masalah. Perbedaannya adalah cara mereka menanganinya. Sapi menyampaikan masalahnya kepada siapa saja yang mau mendengarkan. Ia berbicara panjang lebar mengenai hal - hal yang negatif karena hal itu memberikan gejolak pada hari - harinya yang biasanya membosankan. Badak berusaha mencoba mengenali masalahnya dan langsung memulai melakukan pemecahannya. Ia tidak bersembunyi bila ada masalah dan pasti tidak akan mencoba melibatkan orang lain lebih daripada yang diperlukan. Badak tulen tidak pernah mengalihkan perhatian orang lain dari usahanya menuju sasaran. Badak mengerti bahwa makin banyak hambatan yang teratasi, makin sukses ia nantinya. Kemajuan berarti tantangan baru yang lebih besar. Badak itu bagaikan peluru kendali yang mencari hambatan dan menghancurkan. Badak itu pemberani, ia tidak pernah bersembunyi dibalik dalih - dalih. Bagi si badak tiadalah alasan yang dibenarkann untuk tidak berlaku ramah, bersahabat, untuk tidak mati - matian mengejar tujuan, sikap inilah yang membuat badak kokoh dan tegar, kalau ia terpukul jatuh bukannya mencari dalih tetapi langsung bangkit dan menyerbu lagi. Badak tahu, sama sekali tidak ada alasan untuk tidak sukaan dalam langkahnya. Di sini kita bangga dapat menyediakan latihan badak dan mengembangkan banyak badak daripada sapi. Kita mungkin mulai sebagai sapi, atau mungkin kita sapi sekarang, tetapi kita tidak terlambat untuk berubah. Bahkan badakpun tidak akan sampai ke puncak bukit tanpa terpeleset jatuh beberapa kali, kenakan kulit tebal kita, asah tanduk kita dan bersiaplah menyerbu , Azimuth
|
AZIMUTH Buletin ini disajikan khusus bagi ke-luarga besar pemerhati, simpatisan dan pelaku organisasi Mapalastieyo "Mushroom" Yogyakarta. PEMBINA PENASIHAT PENANGGUNG JAWAB REDAKSI &TEAM PENYUNTING SIRKULASI Alamat Redaksi Website : |
Sejarah Mushroom | Pernik - Pernik |
Agenda Mushroom | Berita Mushroom |
Bulletin Mushroom Azimuth | Laporan Perjalanan |
Kontak dengan Anak Mushroom |
unek-unek
| |