|
Berikut
ini akan dilengkapi data sehubungan dengan tulisan berjudul
"Batak Museum Raya Berastagi Berisi 704 Benda
Bersejarah Tinggal Kenangan" (arsip berita
maret 2001).
-
Koleksi
benda-benda bersejarah, semula berjumlah 704, tetapi
sembilan tahun kemudian (1932) bertambah menjadi 938.
-
Diantara
koleksi itu terdapat juga benda-benda budaya berasal
dari Toba, seperti si Gale-gale, satu perangkat orkes
tradisional termasuk mandoline dan suling dan ikat
kepala (hoofdoek) milik seorang Datu (priester)
diangkat oleh Singamangaraja.
-
Lima
patung diperbuat dari batu (steenenbeelden) diambil
dari tempat pemandian Namo Bintang, Kabupaten Deli
Serdang.
Tidak
sedikit dari jenis benda yang dulu dipajang di Batak
Museum Raya, jauh sebelum perang dunia I (1914-1918) sudah
ada terkoleksi di Ethonografisch/Volkenkunding Museum di
Leiden. Selama kunjungan saya terakhir ke Nederland (1991)
saya ambil peluang melihat museum tersebut dari dekat. Buat
pertama kali saya lihat disana model perahu, dahulu kala
oleh keturunan merga Sembiring Singombak dipakai untuk
menghanyutkan abu sisa-sisa pembakarann tulang belulang
kerabat mereka yang telah meninggal. Perahu
dihiasi pula dengan patung-patung diperbuat dari kayu
sebagai lambang dari orang yang abunya dimasukkan kedalam
perahu lalu dihanyutkan (dalam bahasa Karo "i
ombaken"). Event serupa ini berlangsung sekitar
dalam 7 atau 8 tahun dan dipusatkan di kampung Seberaya,
Urung Sukapiring Tanah Karo. Dari kampung ini
perahu-perahu tadi dibawa ke Lau Biang, bagian hilirnya
disebut Sungai Wampu untuk dihanyutkan menjadi Selat
Malaka. Selain
di Ethnografisch Museum Leiden modal perahu pekualuh itu
juga terdapat di Linden Museum Stuttgart, Jerman. Apakah
Museum Negeri Sumatera Utara di Medan ada memilikinya,
saya tidak tahu. Dalam buku petunjuknya (1982) ada disebut
secara singkat mengenai "Pengaruh Hindu di daerah
Batak-Karo" tanpa menyebut peranan fungsi religius
perahu pekualuh tadi bagi merga Sembiring khususnya bagi
sub-sub merga Berahmana, Pelawi. Colia, Meliala, Depari,
Muham, Tekang dan Gurukinayan. Dan ini erat hubungannya
dengan sejarah asal usul mereka. Did we lose our cultural
heritage? Apakah kita telah kehilangan warisan kebudayaan
kita? (KS Depari/n)
|