|
Berastagi
(SIB)
Kekecewaan Andrej NW, wisatawan Polandia yang tidak menemukan museum
di Tanah Karo (SIB 14/2) sedikit banyak menggerakkan hati saya untuk
menanggapinya dengan mengetengahkan beberapa fakta sejarah.
Kurang lebih tiga perempat abad yang lalu Tanah Karo telah pun
memiliki sebuah museum dengan nama Batak Museum, berlokasi di Raya, 5
km dari Berastagi di pinggir jalan raya menuju Kabanjahe. Didirikan
atas prakarsa Lembaga Bataksch Instituut Leiden, Negri Belanda dengan
Zending dan Pemerintah di daerah ini sebagai mitra usahanya (1923).
Menurut katalogusnya dalam museum itu terdapat 704 barang-barang
ataupun benda-benda (items) yang mempunyai nilai sejarah. Koleksi ini
meliputi semua aspeek kehidupan masyarakat Karo sehari-hari. Mulai
dari arsitektur rumah adat, peralatan rumah tangga (jabu), geriten
(rumah-rumah untuk menyimpan tengkorak-tengkorak dari kerabat yang
telah meninggal), sapo page (sejenis gudang untuk menyimpan padi),
jambur, alat-alat pertanian, kesenian dan sastera termasuk pustaka
dan bilang-bilang, perahu pekualuh dari merga Sembiring singombak,
dll.
Bahwa Batak Museum tersebut telah tersohor sampai ke luar negeri
terbukti dari uraian singkat dimuat oleh panduan-panduan pariwisata
(reisgidsen) antara lain Van Stockum's Traveller's Handbook For The
Dutch East Indies by SA Reitsma, The Hague 1930: Excursions from
Brastagi, amongst others ....4th. To the Batak Museum, at 5 km
distance from Brastagi, on the road to Kaban Djahe. The catalogue may
be obtained at the Hotel Brastagi (Ekskursi dari Brastagi, antara
lain ...ke 4: Ke Batak Museum, jaraknya 5 km dari Berastagi, di
pinggir jalan ke Kabanjahe. Katalogusnya dapat diperoleh di Hotel
Berastagi). Dalam daftar Instituten dari Geillustreerde Encyclopaedie
van Ned Indie oleh GFE Gonggrijp (1934) tertulis: II Het Batak-Institut te Leiden, waartoe behoort het. Batak Museum te Raya bij
Brastagi, Gouvernement Oostkust van Sumatra (II. Lembaga Batak
Instituut di Leiden, yang memiliki Batak Museum di Raya dekat
Berastagi, Gubernemen Sumatera Timur).
Boleh dibilang, sampai 1940 museum di Raya itu adalah satu-satunya
museum di daerah ini. Kalau tidak salah pada tahun itu juga atas
inisiatip Dr P Voorhoeve seorang pakar bahasa (philologist)
Simalungun dan Komite Na Ra Marpojah Simalungun didirikan Museum
Simalungun di Pematangsiantar yang sampai sekarang berfungsi dalam
keadaan utuh.
Bagaimana nasib museum Raya beserta inventarisnya semasa pendudukan
tentara Jepang dan sesudahnya tidak dapat ditelusuri berhubung pada
masa itu saya bekerja di luar daerah ini. Waktu saya kembali kemari
menjelang akhir 1948 saya lihat semua sudah rata dengan tanah.
Dengan SK Gubernur Sum Utara 15-11-1971 No 525/XVIII/SU dibentuk
Badan Pengembangan Pariwisata Sum Utara diketuai oleh Gubernur Muda
Bapak Djamaludin Tambunan. Diantara para anggotanya terdapat (alm) Dr
TD Pardede, (alm) Moh Said dari Harian Waspada, (alm) Tuanku Sultan
Deli dan Ex Officio, saya sendiri mewakili Dinas Kehutanan Sum Utara.
Dalam salah satu rapat pernah saya usulkan dalam rangka promosi
turisme di daerah ini agar (1) dibangun kembali satu gedung museum
sebagai pengganti museum Raya, (2) lokasinya di kota Berastagi, (3)
sediakan dana/anggaran untuk membeli barang-barang antik atau/dan
mempunyai nilai sejarah/budaya dan (4) mendidik seorang curator (baca
kurator) museum. Minimal ia harus bisa menguasai bahasa Inggeris dan
dapat menguraikan riwayat dan asal mula setiap benda, termasuk
kegunaannya.
Sesudah Badan Pengembangan Pariwisata (BAPPERDA) itu bubar dan
terbentuknya Dinas Pariwisata Sum Utara saya tidak mengikuti
perkembangan selanjutnya. Yang saya lihat kemudian sekitar tahun
1973/'74 di Raya, di atas pekarangan museum yang telah musnah berdiri
rumah adat Karo tanpa isi atau penghuni dan apa tujuannya tidak ada
satu orangpun mengetahuinya termasuk Pemdanya". (g)
|