(aka. Politik dan Pemerintahan Cina)
Nur Rachmat Yuliantoro
Jurusan Ilmu Hubungan Internasional
Yogyakarta 55281
Telp. dan Fax. (0274)563362, Mobile 081578816534
e-mail : [email protected]
[Pengantar]
[Tujuan Perkuliahan] [Bahan Perkuliahan]
[Tugas, Ujian, dan Penilaian] [Rancangan Kuliah Mingguan] [Acknowledgments] [Home]
Sejarah Republik Rakyat Cina (RRC, untuk
selanjutnya kita sebut Cina) terkesan membingungkan dan dramatis: kadangkala
tragis di satu saat, namun bisa jadi menyenangkan di saat yang lain. Cina
adalah negara dengan begitu banyak masalah, termasuk penduduk terbanyak di
dunia; tetapi ia juga sebuah bangsa dengan potensi yang sangat kaya. Tingkat
pertumbuhan ekonomi Cina akan segera membuatnya menjadi sebuah negara adikuasa
ekonomi. Juga perlu dicatat, bahwa karena Cina telah menjadi salah satu negara
pemilik senjata nuklir, maka Cina akan menjadi salah satu aktor yang berperan penting
dan strategis dalam setting politik dan militer global. Cina juga
menarik perhatian internasional karena di tengah-tengah gelombang transisi yang
mengarah pada demokrasi ternyata negara ini tetap bersikukuh mempertahankan
ideologi komunisme dan sistem partai tunggalnya.
Memahami politik dan ekonomi kontemporer Cina sangatlah
penting. Tujuan mata kuliah ini adalah membentuk dan
mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang dinamika politik dan ekonomi
Cina dewasa ini. Kita akan mulai upaya itu dengan tinjauan sekilas tentang geografi,
kebudayaan, dan sejarah Cina, sebelum nantinya kita masuk pada diskusi tentang
inti kehidupan politik dan perkembangan ekonomi Cina. Kemudian di akhir kuliah kita
akan bersama-sama membahas peran Cina yang terus berkembang dalam komunitas
global. Topik-topik penting
ini akan dibahas dalam bentuk tutorial, diskusi, serta penugasan makalah individu. Kesemuanya itu diharapkan dapat selesai dalam 13
kali pertemuan. Namun demikian, topik-topik yang tidak tercantum di sini bukan
berarti tidak penting. Para mahasiswa diharapkan juga mempelajari topik-topik
tersebut guna memperluas pemahaman mereka.
Mata kuliah ini menganjurkan
pesertanya untuk membaca buku J.C.F. Wang, Contemporary Chinese
Politics: An Introduction, New Jersey, Prentice-Hall, 1994.
Sejumlah buku, jurnal, dan artikel berikut
ini juga dianjurkan untuk dibaca (semuanya terdapat di Perpustakaan Fisipol UGM atau
disediakan oleh pengajar), khususnya pada bagian-bagian tertentu yang
disebutkan dalam Rancangan Kuliah Mingguan:
Sebagai tambahan bahan bacaan di atas,
mahasiswa juga diminta untuk selalu mengikuti perkembangan terakhir politik dan
ekonomi
Cina. Di samping melalui berita audiovisual maupun cetak, berikut beberapa
sumber berita online dengan liputan yang luas tentang Cina:
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
People's Daily |
|
|
Xinhua Newsagency |
Situs-situs berikut ini
memberikan informasi yang sangat kaya, informatif, dan dan menarik tentang
Cina:
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
CND's The
Historical Records of the Democracy Movement of 1989 |
|
|
Chinese Studies Web Resources |
|
|
Chinese Politics Links |
|
|
ChinaSite.com |
|
|
The China Virtual Library |
|
|
PRC Government Homepage |
Di samping situs, juga
tersedia beberapa
artikel pilihan tentang Cina untuk keperluan perkuliahan.
Macam Tugas dan Ujian
Keterlambatan Tugas dan atau Ujian
Pengganti
Mahasiswa yang tidak bisa mengikuti Ujian Tengah Semester tanpa alasan yang sah tidak akan diberikan ujian susulan dan secara otomatis proporsi nilai akhirnya yang berasal dari nilai ujian ini menjadi kosong. 'Alasan yang sah' dalam konteks ini hanyalah sakit, dan harus dibuktikan dengan Surat Keterangan Dokter. Sementara itu, mengingat tugas membuat makalah individu sebagai pengganti Ujian Akhir Semester telah disampaikan sejak awal kuliah, maka tidak ada toleransi keterlambatan dalam pengumpulan makalah tersebut. Mahasiswa harus mengumpulkan sendiri makalahnya untuk mendapatkan penilaian.
Tanggal-tanggal Penting
* Kepastian tanggal
menunggu pengumuman Fakultas
Beberapa Topik Penelitian yang
Dianjurkan
|
|
Masalah Lingkungan di
Cina |
|
|
Demokratisasi di Cina |
|
|
Isu tentang Peran dan
Kedudukan Wanita di Cina |
|
|
Hak Asasi Manusia di Cina |
|
|
Tantangan bagi
Stabilitas Politik Cina |
|
|
Peran Cina di Dunia
Internasional |
|
|
Cina dan Taiwan |
|
|
Pembaruan Ekonomi
Sosialis Cina |
|
|
Perkembangan atau
Keterbelakangan Pembangunan Desa di Cina |
|
|
Militer dalam Politik
Cina |
|
|
Politik Agama di Cina |
|
|
Kebijakan-kebijakan
tentang Daerah Kaum Minoritas di Cina (Tibet, Xinjiang-Uighur, Inner
Mongolia, dan lainnya) |
| Kuliah I (4 September 2004). Kita akan memulai kuliah ini dengan mengajukan pertanyaan: Mengapa kita belajar politik Cina? Jawabannya sebagian terletak pada pentingnya Cina dalam politik internasional sebagai negara dengan penduduk terbesar di dunia. Cina juga dipandang sebagai negara yang paling cepat berkembang dalam hal perekonomian dan kekuatan militer. Banyak kalangan memperkirakan Cina akan menyaingi AS sebagai yang terbesar dalam kedua hal ini pada satu dekade mendatang. Namun, di sisi yang lain Cina bisa jadi akan mengalami sejumlah perselisihan internal dan mungkin perang saudara yang mengarah pada perpecahan. Bila hal ini terjadi, dampaknya akan sangat luas. Cina juga menarik karena ia adalah sebuah negara komunis yang berhasil mengadakan transisi dari totaliterisme kepada otoriterianisme dan dari ekonomi terencana ke pasar terbuka. Kita juga akan melihat geografi dan sejarah awal Cina serta hubungannya dengan perkembangan kebudayaan politik dan lembaga politik Cina. |
| Bacaan : Wang, Ch.1 (khususnya pp.1-6); China's maps. |
| Kuliah II (11 September 2004). Kita akan mempelajari sejarah tradisional dan modern Cina dengan penekanan pada evolusi lembaga politik, kebudayaan politik, dan ideologi. Di sini kita akan membahas politik tradisional Cina, dampak intervensi Barat, runtuhnya dinasti Qing, dan munculnya kaum Nasionalis. |
| Bacaan: Wang, Ch. 1 (pp. 6-14). |
| Blecher, Part 1. |
| Roper, Ch. 1 dan 3. |
| Kuliah III (18 September 2004). Topik minggu ini adalah munculnya komunisme di Cina, didirikannya Partai Komunis Cina (PKC), kemenangan Mao atas kaum Nasionalis, dan pembentukan Republik Rakyat Cina (RRC). Beberapa pertanyaan penting di sini, misalnya mengapa komunisme menarik bagi rakyat Cina? Apakah PKC itu asli bentukan bangsa Cina atau dibentuk oleh Soviet? Apakah Mao yang mengalahkan Nasionalis, atau Nasionalis yang sengaja mengalah? |
| Bacaan: Wang, Ch. 2. |
| Blecher, Part 2. |
| Bakri, Bab I. |
| Roper, Ch. 5 dan 6. |
| Kuliah IV (25 September 2004). Kali ini kita akan melihat organisasi, kekuatan serta peranan PKC dan pemerintah Cina. Kita juga akan membahas hubungan mereka, bagaimana mereka saling bekerja sama, dan di mana pusat kekuasaan terletak. Kedua organisasi ini, bersamaan dengan militer, merupakan pusat-pusat kekuasaan politik di RRC. Pertanyaannya: Bagaimana hubungan antara partai dan pemerintah Cina dalam teori dan praktek? Siapa yang mendominasi? Mengapa? |
| Bacaan: Wang, Ch. 3 dan 4. |
| Blecher, Part 4. |
| Wibowo, Negara dan Masyarakat, Bab 2. |
| Hunter dan Sexton, Ch. 4. |
| Kuliah V (2 Oktober 2004). Di minggu ini, topik kita adalah peranan militer. PKC dan Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) tumbuh dan berkembang bersama. Bahkan Mao mengatakan, "Kekuasaan politik berasal dari laras senapan". RRC dibentuk oleh kemenangan militer terhadap kaum Nasionalis. Kemudian, hanya mereka yang punya pengalaman militer mampu berkiprah sampai dengan posisi puncak dalam partai dan pemerintah. Ketika partai tidak mampu menanggulangi krisis akibat Revolusi Kebudayaan, tampillah militer mengambil alih fungsinya dan juga fungsi pemerintah. Dengan menganalisis peranan militer dan pemerintah secara bersamaan, kita akan melihat kampanye dan gerakan-gerakan lainnya yang dilancarkan oleh PKC, dan kadang-kadang oleh militer, sebagai sarana untuk memobilisasi massa dan mendapatkan kemenangan politik. |
| Bacaan: Wang, Ch. 6. |
| Yuliantoro, 2000. |
| Kuliah VI (9 Oktober 2004). Minggu ini kita akan membahas pemerintahan Mao Zedong dari tahun 1949 hingga periode Lompatan Jauh ke Depan. Mao, dalam banyak hal, adalah Cina itu sendiri. Sebagian orang mengatakan bahwa Mao adalah seorang kaisar sekaligus diktator, tetapi ia juga merupakan seorang pemikir komunis yang unik. Pertanyaan yang perlu dijawab: Apakah Mao seorang populis? Apakah benar dia seorang diktator? Apakah dia seorang penyumbang utama bagi ideologi komunis? Sampai sejauh mana dia membangun Cina? Mengapa akhirnya program Lompatan Jauh ke Depan mengalami kegagalan, sebuah kegagalan yang menurut sebagian pengamat menjadi awal dari kejatuhan Mao? |
| Bacaan: Wang, Ch. 2 and 3. |
| Blecher, Part 2. |
| Dahana, Bagian I. |
| Roper, Ch. 7 dan 8. |
| Kuliah VII (16 Oktober 2004). Kuliah kali ini masih membahas Cina di bawah pemerintahan Mao, khususnya periode pasca kegagalan Lompatan sampai dengan jatuhnya Mao pada tahun 1976. Kegagalan Lompatan diikuti dengan serangkaian kampanye 'pembersihan', yang diawali dengan Kampanye Tiga Anti dan Lima Anti dan berujung dengan Revolusi Kebudayaan. Secara khusus, kuliah ini akan membicarakan secara cukup detail Revolusi Kebudayaan, mulai dari awal peluncurannya sampai dengan pembersihan kelompok garis keras Maois yang menandai akhir kekuasaan Mao. |
| Bacaan: Roper, Ch. 9 dan 10. |
| Kuliah VIII (6 November 2004). Sekarang kita akan membahas Cina pada era Deng. Deng Xiaoping mulai berkuasa pada tahun 1978 dengan mendorong Cina ke arah politik yang lebih kanan dan mengubah penekanan dalam politik dari kampanye dan mobilisasi kepada pembangunan ekonomi dan membuat Cina sebagai salah satu kekuatan dunia. Secara khusus, kuliah ini akan menitikberatkan pada kajian tentang reformasi ekonomi Cina sebagai 'tanda kesuksesan' kepemimpinan Deng. Deng membuat banyak perubahan dalam lapangan ekonomi, termasuk dasar-dasarnya. Secara ekonomi dia mengubah Cina dari komunisme ke kapitalisme (yang disebutnya sebagai "sosialisme dengan ciri-ciri Cina"). Sebagai hasilnya, Cina mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat menakjubkan sejak tahun 1978. Kita bisa bertanya: Apa sajakah yang telah dijalankan oleh Deng untuk mengubah perekonomian Cina? Apa implikasi dari perubahan ini terhadap politik domestik? Terhadap hubungan luar negeri? Dapatkah Cina dijadikan sebagai model pertumbuhan ekonomi? Dapatkah komunisme direformasi dengan menggunakan pendekatan Deng? |
| Bacaan: Wang, Ch. 9. |
| Blecher, Part 6 dan 7. |
| Bakri, Bab V. |
| Dahana, Bagian II. |
| N. Soebagio, 'Pembaharuan di Cina: Sebuah Tinjauan Ekonomi Politik', Global. |
| Hunter dan Sexton, Ch. 3. |
| Kuliah IX (13 November 2004). Bila di kuliah sebelumnya kita membahas 'kesuksesan' pemerintahan Deng, di sini kita akan melihat secara lebih rinci salah satu episode kelam dalam pemerintahannya, yaitu apa yang disebut sebagai Tragedi Tiananmen 4 Juni 1989. Penumpasan massa pro-demokrasi oleh militer Cina dalam peristiwa itu telah membuat tidak saja pertumbuhan ekonomi Cina yang masih tergantung pada bantuan asing menurun secara signifikan, tetapi juga Cina harus menerima getah berupa kecaman dan kutukan keras dari segala penjuru dunia. |
| Bacaan: D. Morrison (ed.), Massacre in Beijing: China's Struggle for Democracy, New York, |
| TIME Books, 1989. |
| T. Watson, Tremble and Obey: An ABC Correspondent's Account of the Bloody |
| Beijing Spring, New South Wales, ABC Books, 1990. |
| G.W. Gong, Tiananmen: Causes and Consequences, Center for Strategic and |
| International Studies. |
| Kuliah X(27 November 2004). Di sini kita akan memulai serial Isu-isu Kontemporer Politik dan Ekonomi Cina dengan membahas isu reformasi politik dan meluasnya korupsi. Argumen bahwa desentralisasi kekuasaan politik merupakan sebuah conditio sine qua non bagi pembangunan ekonomi tampaknya berjalan cukup baik di Cina. Meski demikian, kita tetap bisa mengajukan pertanyaan, seperti sejauh mana kekuasaan politik beralih dari pusat kepada provinsi-provinsi dan pemerintahan lokal. Yang lebih penting adalah apakah desentralisasi membantu perkembangan demokrasi, yang antara lain dicirikan dengan pemisahan tugas dan wewenang antara partai dan pemerintah. Begitu juga dengan korupsi yang sudah begitu hebat mewabah, sebuah kondisi yang membuat Cina menjadi salah satu negara terkorup di dunia. |
| Bacaan: Yang Guobin, 'The Co-Evaluation of the Internet and Civil Society in China', |
| Asian Survey, vol. 43, no. 3, May/June 2003, pp. 405-22. |
| Bo Zhiyue, 'Economic Development and Corruption: Beijing beyond 'Beijing', |
| Journal of Contemporary China, vol. 9, no. 25, 2000, pp. 467-87. |
|
Hao Yufan dan M. Johnston, Reform at the Crossroads: An Analysis of Chinese |
| Corruption, Department of Political Science, Colgate University, January 1995. |
| Pei Minxin, 'Will China Become Another Indonesia?', Foreign Policy, Fall 1999, |
| pp. 94-109. |
| Kuliah XI (4 Desember 2004). Isu kontemporer yang akan dibahas kali ini adalah soal hak asasi manusia (HAM). Cina adalah salah satu negara yang dianggap memiliki tingkat pelanggaran HAM yang tinggi di dunia, sebuah penilaian yang muncul sebagai akibat Tragedi Tiananmen. Banyak kasus, mulai dari penahanan para aktivis pro-demokrasi tanpa pengadilan sampai dengan penyensoran situs-situs internet dan penutupan internet cafe di sejumlah kota, telah membuat Cina senantiasa menjadi sasaran dari mereka yang menganggap dirinya 'pejuang HAM', misalnya Amerika Serikat. |
| Bacaan: J. Chan, 'Human Rights and Confucian Virtues', Harvard Asia Quarterly, 22 March |
| 2001. |
| J.A. Dorn, 'Trade and Human Rights: The Case of China', CATO Journal, vol. 16, |
| no. 1, Spring/Summer 1996, pp. 77-98. |
| J.N. Wasserstrom, 'Human Rights and the Lessons of History', Current History, |
| vol. 100, no. 647, September 2001, pp. 263-8. |
| Kuliah XII (11 Desember 2004). Seri terakhir isu-isu kontemporer yang akan didiskusikan kali ini adalah tentang masalah lingkungan hidup dan ketimpangan pembangunan. Kehendak untuk memajukan pembangunan di segala sektor dalam banyak kasus telah mengorbankan kualitas lingkungan hidup Cina. Simak saja krisis energi atau kasus pembangunan bendungan Three Gorges. Yang menarik juga fakta bahwa pembangunan ekonomi bukan saja merusak lingkungan, tetapi juga tatanan sosial: kebijakan pemerintah Cina membuat ketimpangan pembangunan terjadi antara propinsi-propinsi di tepi pantai timur dan kota-kota besar dengan propinsi-propinsi di 'pedalaman' dan kota-kota kecil yang relatif tidak begitu tersentuh reformasi. |
| Bacaan: C. Karasov, 'On the Different Scale: Putting China's Environmental Crisis in |
| Perspective', Environmental Health Perspectives, vol. 108, no. 10, October |
| 2000, pp. 452-9. |
| Qian Zhihong dan Tan-Chee Wong, 'The Rising Urban Poverty: a dilemma of |
| market reforms in China', Journal of Contemporary China, vol. 9, no. 23, |
| 2000, pp. 113-25. |
|
Z hao X.B. dan Tong S.P., 'Unequal Economic Development in China: Spatial |
| Disparities and Regional Policy Reconsideration, 1985- 1995', Regional Studies, |
| vol. 34, no. 6, pp. 549-61. |
|
D. Jones, Cheng Li dan A.L. Owen, Growth and Regional Inequality in China during |
| the Reform Era, William Davidson Working Paper No. 561, May 2003. |
| Yao Shujie dan Liu Jirui, 'Economic Reforms and Regional Segmentations in Rural |
| China', Regional Studies, vol. 32, no.8, 1998, pp. 735-46. |
| Kuliah XIII (18 Desember 2004). Penutup dan Evaluasi: kuliah terakhir ini akan kita pergunakan untuk meringkas seluruh topik yang telah kita bicarakan sebelumnya dan mengajukan pertanyaan tentang masa depan Cina. Kita perlu mendiskusikan kemungkinan "Cina Raya" serta mencoba menganalisis hubungan Beijing dengan kesatuan politik Cina lainnya: Hong Kong, Makau, Taiwan, Singapura, dan Cina perantauan. Kesemuanya akan dibahas untuk melihat kemungkinan peran internasional Cina yang jauh lebih besar di masa datang. |
| Bacaan: Blecher, Part 9. |
| Hunter dan Sexton, Ch. 8 |
In completing this syllabus, I
would like to give my sincere thanks to
Professor George Brown of Slippery Rock
University,
Professor John F. Copper, and Dr. Michael Sullivan of
Flinders University.
[Home]
Last updated on 19 August 2004, 01:01pm.