|
Introduction
�SAAT JIWA TERANGKAT�
Aku adalah Pangeran
Saat sang bidadari menyebut namaku dengan bibirnya yang senantisa basah
dengan segala air kebaikan, air kehidupan. Suaranya terlalu indah untuk
didengar oleh telinga yang terkadang tuli mendengar ayat-ayat Tuhan,
terlalu merdu untuk dibandingkan dengan petikan harfa sang dewi bersayap
putih penghibur para dewa.
Aku adalah Raja
Kala bidadari melayaniku dengan tangannya yang terlalu indah oleh mata
yang senantiasa melihat dan mengintip kejelekan orang lain. Jarinya
terlalu lembut untuk kusentuh dan kuciumi, sementara hidungku terlalu
kotor dengan segala sampah kehidupan yang menggodaku dengan
topeng-topeng kulit kedondong yang menipu.
Bidadariku berkata
�Engkau adalah harapan yang menjadi kenyataan, kau adalah jelmaan
mimpi-mimpi malamku yang senantiasa menyelimuti kesendirianku dimasa
lalu. Kau adalah kenyataan, kau adalah takdir kau adalah pelita dalam
hitamnya sosok-sosok hantu malam tatkala mereka membisikan
doktrin-doktrin bertiraikan keindahan dunia yang dibumbui
kamuflase-kamuflase sandiwara dongengan-dongengan orang putus asa. Kau
adalah penyangga kokohnya hati dalam cinta, saat angin meniup daun bunga
mawar merah dan menebarkan kotoran dan debu-debu ke atas mahkota
bunganya, tapi tangkaimu tetap teguh meski terkadang goyah oleh badai
yang terlalu kuat untuk kau hadapi sebagai manusia biasa atas
godaan-godaan.�
Dan aku adalah Ksatria
Saat sang bidadari jatuh dan kuraih sebagai asset dari semua mimpi-mimpi
dan harapan-harapan. Saat dia jatuh termakan buaian-buaian dunia, jatuh
kedalam jurang keputus-asaan, jatuh dari tebing yang terlalu tinggi atas
kemewahan harta dan tahta. Jatuh dan terhempas dari nikmat dan indahnya
sebuah keimanan. Lalu kuhibur dia dengan apa yang telah kudengar dari
orang-orang pembawa kebenaran, tentang kehidupan dan kematian yang
jaraknya tidak lebih tebal dari sehelai rambut yang dibagi tujuh,
tentang kebenaran dan kebathilan yang jaraknya bagaikan timur dan barat,
tatkala barat kauhadapi maka timur kau belakangi dan jika tubuhmu
terputar maka sebaliknya timur kau hadapi niscaya barat kau belakangi.
Dan tatkala takdir kenyataan terhempas dari sadarmu niscaya jatuhlah
segalanya.
Sang Bidadari tahu bahwa dia adalah sebuah
objek tuhan yang harus senantiasa mengingat atas penciptanya, meski
terkadang dia berkata �Aku adalah aku�
Jangan kau sangka semua
yang hitam itu sesat
jangan kau kira semua yang biru itu indah
Sementara angin masih mau menyapa si miskin yang terdampar
Dalam pengembaraan
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Hompage ini dibuat dengan tujuan siapa
tau aja teman-temanku bisa bertambah banyak sekalian menguji kemampuanku
dalam membuat sebuah situs. Saran saran maupun kritik sangat saya
harapkan dari netter-netter sekalian
dibuku tamu.
Yang suka baca puisi mungkin meskipun
puisinya masih jelek tapi saya beranikan diri untuk ditampilkan di
hompage ini Check.
Bagi anda yang suka
gonta-ganti Wallpaper di hompage ini disediakan meski desainnya pas-pasan
siapa tahu ada yang cocok dengan anda. Screensaver juga ada, dan yang
tak kalah menarik yaitu game Ramalan Jodoh yang bisa anda download
disini
Akhirnya saya ucapkan terima kasih atas
kunjungannya. saya harap jangan kapok untuk mengunjungi situs ini lagi.
Selamat mengembara
Copyright (c) by Arafat
Nuryadin Oyok - Phone 081323156079 -
September 2005
e-mail :
[email protected]
-
[email protected] -
[email protected]
Website :
www.geocities.com/koyok_dt -
www.geocities.com/logical_minded
|