Kembali Ke Menu Toilet |

Kembali Ke Halaman Utama |


Etiket Berkirim E-m@il


INGATLAH, MEREKA TETAP MANUSIA!

"Saya tidak suka dengan gaya bicara kamu dalam rapat kemarin. Anda sok menguasai masalah! Padahal, apa yang kamu tahu? Anda kan, orang baru disini. Anda yang cuma lulusan universitas di kota kecil ini, berani-beraninya berargumentasi …"

BETAPA terkejutnya Thia ketika mengecek e-mail suatu pagi dikantornya dan mendapati surat bernada marah begitu. Emosi Thia langsung menggelegak. Ingin rasanya ia keluar ruangan, dan mendatangi si pengirim surat.
Tapi, buat apa ambil pusing? Biarkan saja koleganya itu 'kebakaran jenggot'. Bukankah dalam rapat kemarin para bos mendukung gagasannya? Thia pun membatalkan niatnya.

Kalau kamu pernah mengalami kejadian yang mirip pengalaman Thiara di atas, sebaiknya kamu juga tak perlu tergesa-gesa membalas e-mail dengan caci maki pula. Tenangkan diri kamu beberapa saat - kalau perlu beberapa hari - sebelum membalas e-mail semacam itu.

Jika emosi kamu sudah stabil, katakan dalam surat balasanmu, bahwa kamu sangat menghargai ketidaksetujuanya terhadap padangan yang telah kamu berikan. Tapi, ia pun perlu tahu, bahwa kata-kata kasar yang dilontarkannya telah melukai perasaanmu. "Katakan saja secara berani jika kamu tidak setuju dengan pendapat saya. Tak perlu menyerang pribadi saya dengan cara lewat e-mail."

Sebaiknya, kamu tidak mendiamkan e-mail yang tidak menyenangkan seperti itu. Kamu harus menyadarkan si pengirim surat bahwa kamu juga manusia yang patut dihormati martabatnya, sekalipun komunikasi berlangsung di dunia cyber.

Memang, surat electronik [e-mail] biasanya bersifat informal. Namun, menurut Virginia Shea dalam bukunya bertajuk Netiquette, tata krama berkorespondensi lewat internet tetap harus dipatuhi.
Shea mengajukan sepuluh peraturan dalam ber-internet. Yang paling utama ialah menyadari bahwa meski berada di dunia maya, kamu harus tetap berhubungan dengan manusia.

Berbeda dengan percakapan telepon yang berintonasi dan berlangsung dua arah, dalam ber-e-mail kamu bersandar pada kata-kata semata. Karena itu, kamu perlu memberi penjelasan lebih terperinci. Jangan samapai surat kamu menimbulkan interpretasi yang salah.

"Gunakan jaringan internet untuk mengekspresikan diri kamu dengan bebas, dan mengeksplorasi dunia baru yang masih asing. Tapi, ingatlah, petunjuk utama netiquette: di luar didunia cyber tetap ada orang-orang yang sesungguhnya," tulis Shea.

Ingatlah pula, e-mail yang kamu buat merupakan bukti tertulis, yang dapat beredar ke mana saja tanpa kamu mampu mengontrolnya. Suatu saat mungkin e-mail yang pernah kamu layangkan ke teman, mitra usaha, atau seranai [mailing list] tertentu dapat menjadi bumerang bagi kamu.

Kalau kamu telah merangkai kata-kata, dan akan mengirimkannya lewat e-mail kepada orang lain, telitilah lebih dulu, apakah isi surat kamu cukup sopan?
Menurut Shea, filter terpenting ialah menguji diri sendiri: "Apakah kata-kata yang kamu lontarkan dalam surat berani juga kamu ucapkan, jika bertatapan muka dengan orang yang kamu tuju?" Sebab, sering kali karena berada didunia maya, orang merasa lebih bebas mengomentari orang lain.

Jika kamu merasa isi surat kamu masih belum cukup sopan, jangan segan untuk menulis ulang, dan membacanya kembali. "Ulangi proses itu sampai kamu merasa yakin dengan kata-katamu sendiri, dan berani mengungkapkan yang sama jika menjumpainya langsung," tandas Shea. 

ARTIKEL TERKAIT: 10 Tips Berkirim E-mail - Jurus Hemat Berkirim Email 


Cetak Halaman Ini Sekarang Juga!!!

Copyright © 2001 Tiwuk Blouse™ & Lelaki Online 2001. All Rights Reserved.

Hosted by www.Geocities.ws

1