:: Buku Tamu-1 :: Forum Diskusi 001 ::  Forum Diskusi 002 :: Halaman Depan ::

 

<<< BACK TO DAFTAR ARTIKEL


Membangun Demokrasi Yang Sehat Lewat Politik Berbasis Nilai
08 Mar 2004 15:11:43
Pidato Politik Sarwono Kusumaatmadja



Berikut adalah pidato politik Sarwono Kusumaatmadja yang disampaikan pada malam �Merajut Aspirasi� yang diselenggarakan oleh para pendukungnya di Kafe Tenda Semanggi, Sudirman Central Business Distrik, Jakarta Selatan, Jumat 5 Maret 2004 lalu.

PROBLEM besar yang telah menyeret negeri ini ke dalam situasi krisis yang berkepanjangan adalah hilangnya penghargaaan terhadap nilai (values). Nilai-nilai seperti kesederhanaan, kejujuran, ketekunan, kerja keras, serta berbagai nilai positif lainnya semakin tidak dihargai dalam kehidupan masyarakat kita saat ini, malah dicemoohkan.

Budaya instan yang semakin kuat berkembang telah meminggirkan penghargaan terhadap berbagai nilai tersebut. Maraknya korupsi dan money politics, kasus caleg, calon bupati, dan calon gubernur yang berijazah palsu serta berbagai kasus lainnya, semakin mempertegas betapa saat ini tujuan menghalalkan cara. Demi mempertahankan dan atau meraih kedudukan dan kekuasaan, segala cara dihalalkan termasuk menggunakan kekerasan. Membayar menjadi caleg dengan nomor urut jadi sudah menjadi hal yang umum dan wajar, karena jabatan dan kekuasaan dipandang sebagai kendaraan yang efektif untuk secara instan menjadi kaya. Ini sekaligus juga meningkatkan status sosial untuk mendapatkan penghargaan dan penghormatan.

Ungkapan bahwa �politik kotor� menjadi pembenaran terhadap perilaku politik yang menerabas nilai-nilai dasar yang seharusnya menjadi pegangan bersama.

Hilangnya penghargaan terhadap nilai memberi kontribusi yang sangat besar terhadap kekacauan yang terjadi selama ini dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta menjadi penghambat bagi berkembangnya kehidupan demokrasi yang sehat.

Oleh karena itu, acara MERAJUT ASPIRASI yang digagas oleh Laksda (purn) R.M. Sunardi, Farid Prawiranegara, Whisnu Widjaya, Amir Mahmuddin, Bung Angky, Johnny Tjia, dan Djoko Kusumowidagdo ini merupakan upaya awal untuk mengkonsolidasi kembali penghargaan terhadap nilai (values) agar menjadi landasan utama guna menyehatkan kehidupan perpolitikan di tanah air.

Selanjutnya diharapkan agar seluruh komponen masyarakat yang memiliki kegelisahan dan kepedulian yang sama terhadap masa depan demokrasi di tanah air dapat bergerak bersama untuk mengembangkan perilaku politik berbasis nilai.

Karena, hanya lewat perilaku politik yang berbasis nilai kita dapat berharap terbangunnya demokrasi yang sehat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bertanah air.

****

TERIMA KASIH atas inisiatif rekan-rekan, khususnya Mas Sunardi, Mas Whisnu Widjaya, Pak H. Amiruddin, Bung Angky, Bung Djoko Kusumowidagdo, Bung Johnny Tjia, serta Bung Farid Prawiranegara�yang berhalangan hadir�sehinggga malam hari ini, berkat jerih payah Anda dan para rekan lainya, saya dapat berada di sini dan memberikan pandangan politik. Saya merasa amat gembira bahwa rekan semua dapat menyempatkan hadir di tengah kesibukan ibukota yang demikian melelahkan.

Sebelum melanjutkan uraian, saya mohon rekan dapat memaklumi kebiasaan baru yang tidak lazim anda dengar dari saya, bahwa saya akan banyak ber-saya-saya. Hal ini disebabkan karena pemilihan umum 2004 memungkinkan pemilihan perorangan tanpa melalui partai sehingga sang calon harus banyak menjelaskan pikiran, pendapat dan perasaannya. Bukan itu saja, bahkan sang calon harus berupaya wajahnya dikenal orang melalui foto dalam berbagai ukuran, melalui kehadiran dalam berbagai acara. Bagi saya sebagai orang yang mementingkan privasi, hal ini bisa menyita perasaan, dan rekan-rekan dari tim sering mendengar berbagai protes, keluhan maupun black jokes dari saya tentang foto dari seorang kakek yang harus disebarkan ke mana-mana. Mereka pun harus banyak membuang waktu untuk memilih foto yang layak ditampilkan, karena memang pada umumnya tidak layak.

Namun di balik pengalaman pribadi yang baru dan tidak nyaman ini, ada perkembangan penting dalam politik Indonesia, yaitu apa yang pernah saya sebut politik berwajah. Peserta pemilihan umum perorangan, kembali muncul dalam politik Indonesia sejak pemilihan umum tahun 1955. Dengan perkembangan ini, sang calon terbuka untuk dinilai kelayakan, karakter serta pendiriannya. Sang calon, dalam kerja politiknya tidak bisa terlindungi di balik protokol jabatan, logo partai maupun dogma ideologi. Dia juga tidak bisa melepaskan diri dari konstituennya, karena hubungannya adalah antara orang dengan orang. Sekiranya saya terpilih menjadi anggota DPD, maka saya harus larut dalam politik sebagai panggilan hidup melebihi apa yang pernah dialami sebagai orang pergerakan�suatu sebutan lazim dikenal pada tahun-tahun awal kemerdekaan dan sudah lama hilang dalam kamus politik kita.

Oleh karena itu, di balik potensi gangguan terhadap kehidupan privat seorang politisi, pemilihan umum yang dijalani oleh seorang calon perorangan memunculkan barbagai isu mendasar.

Yang pertama adalah bahwa politik seorang calon perorangan harus memancarkan nilai-nilai yang baik. Oleh karena itu, saya memutuskan politik berbasis nilai sebagai tema politik saya. Dengan tema seperti itu, saya harus berupaya keras agar menampilkan integritas, yaitu kesatuan yang utuh antara sikap politik, karakter pribadi maupun gaya hidup. Masyarakat harus punya rasa percaya terhadap individu yang dipilihnya, karena kepercayaan adalah modal sosial yang amat penting dalam suatu kehidupan demokrasi. Kepercayaan adalah modal sosial yang diperlukan untuk membangun modal sosial berikut, yaitu harapan.

Mustahil bagi Indonesia untuk bangkit dari krisis yang demikian kompleks jika kita kehilangan kepercayaan dan harapan. Pemilihan umum untuk peserta perorangan adalah kesempatan untuk memilih wakil rakyat yang bisa dipercaya, dan dalam politik berbasis nilai, integritas pribadi seorang kandidat adalah sifat pokok yang dinilai orang.

Oleh karena itu integritas menjadi milik pribadi saya yang paling penting, yang saya pertaruhkan melalui pemilihan umum. Saya masuk kembali ke politik dalam keadaan siap untuk digugat karena tidak ada organisasi tempat saya menyembunyikan diri.

Yang berikut, adalah sang calon harus mengenal dan menumbuhkan empati terhadap konstituennya, menghayati aspirasinya, untuk mampu merumuskan visi dan misi politiknya. Oleh karena itu, berbeda dengan banyak politisi lainnya, saya lebih banyak bertanya dan mendengarkan. Kalau pun berbicara, sering dalam rangka sosialisasi pemilihan umum khususnya mengenai DPD yang banyak orang belum tahu, berbicara tentang perkiraan masa depan, atau membongkar berbagai kebohongan publik.

Di samping itu, kepada para pendukung dari berbagai lapisan masyarakat, Bang Uncu M. Natsir dan kawan-kawan mengedarkan formulir aspirasi bagi para pendukung dalam rangka mengenal setiap individu pendukung serta harapan dan tuntutannya terhadap saya. Kemudian informasi yang kami dapatkan disimpan dan disusun dalam sebuah database. Mengapa hal ini kami lakukan? Karena suatu demokrasi, yang penting bukan saja para pemimpin, namun lebih penting adalah konstituen, yang kelak harus meyakini bahwa visi dan misi seorang kandidat adalah sesuatu yang digali dari proses mendengarkan, bertanya dan peduli. Saya bukan menafikan visi politik, namun hanya ingin menyatakan bahwa visi hanya dapat bermakna jika didasarkan pada nilai yang benar dan bila visi terbentuk melalui komunikasi yang tulus, yang menempatkan isi hati dan pikiran banyak orang sebagai substansi visinya.

Mendengarkan dan bertanya juga merupakan proses yang harus dijalani oleh seorang politisi, karena melaui proses itu dapat ditemukan banyak hal bukan saja dari apa yang diucapkan. Dari ekspresi dan bahasa tubuh seseorang bisa juga diketahui apakah yang dikemukakan benar-benar murni atau hanya pura-pura. Oleh karena itu, proses dialog yang wajar dapat membongkar kepalsuan dari kedua belah pihak.

Dengan demikian komunikasi politik yang benar sekaligus mempunyai fungsi audit dua arah. Pendukung melakukan audit tentang integritas dan kepedulian kandidat, dan sebaliknya kandidat pun dapat mengukur keabsahan dukungan yang diperolehnya.

****

APAKAH yang saya dapatkan dari penggalian aspirasi tadi? Mungkin yang paling mengesankan adalah, bahwa terlepas dari status sosial maupun kemampuan ekonomi seseorang, dari seluruh lapisan masyarakat muncul tuntutan perbaikan pelayanan umum, yamg merupakan rumpun yang spektrumnya banyak, mulai dari transportasi umum, pelayanan kependudukan, pendidikan, kepastian hukum, kesehatan, non-diskriminasi. Pemulihan ekonomi merupakan rumpun lainnya, yang meliputi antara lain, stabilitas harga, terciptanya kesempatan kerja, keleluasaan usaha serta pasokan enersi seperti minyak tanah dan gas.

Tentu hadirin akan berkata, �Ah, itu kan kita juga tahu�. Namun, yang saya dapatkan dari proses dialog yang demikian sering dan intensif adalah bahwa aspirasi yang sama dikemukakan warga Jakarta dari semua lapisan, dari semua generasi, tidak dibedakan oleh status ekonomi, asal-usul, keturunan, agama, ras dan suku.

Oleh karena itu, berbeda dengan banyak pengamat dan analis, saya justru berpendapat bahwa potensi persatuan masih kuat dan dari situ saya makin meyakini bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini mempunyai bekal kuat yaitu akal sehat, rasa persaudaraan dan rasa cinta tanah air dari warganya, kendati pun dalam kesulitan hidup yang memuncak.

Budi baik orang banyak tersebut mengharuskan para politisi bekerja dan berpikir keras, jernih dan lurus agar rakyat bisa memperoleh penyelenggara negara yang sepantasnya memimpin, karena sebenarnya itulah problem mendasar bangsa kita. Terhadap halangan struktural untuk mendapatkan penyelenggara negara yang aspiratif dan punya legitimasi, dan proses pencarian kita pun terhalang oleh teori-teori sosial yang sudah waktunya diuji kembali secara empirik. Kenyataan struktural inilah yang menciptakan sistim nilai yang beda di kalangan pemimpin di satu pihak dan nilai kerakyatan di pihak lain.

Namun sekarang, entah sengaja atau tidak, para politisi kita menciptakan secuil peluang munculnya kepemimpinan yang aspiratif, yaitu pemilihan langsung dari para calon independen melalui DPD. Peluang kecil inilah, melalui perjuangan politik, yang perlu diperbesar sehingga menciptakan perubahan struktural melalui evolusi kelembagaan, sehingga melalui pemilihan langsung kelak, baik di pusat maupun di daerah, bisa diperoleh wujud penyelenggara negara yang aspiratif, berakar dan bertanggung jawab (accountable).

Sebagai penutup, saya ingin memohon bantuan sebesarnya dari semua pendukung. Kami dalam tim sudah berusaha keras mencurahkan pikiran, tenaga dan waktu untuk mempraktekkan politik berbasis nilai melalui persiapan kampanye. Dalam bilangan hari ini, kita akan menguji komitmen nilai di lapangan. Demi demokrasi, demi hak sipil dan hak politik rakyat, kita harus jalan terus dan bahkan meningkatkan ikhtiar demokrasi kita, jauh melebihi ikhtiar mereka yang ingin mengambil jalan pintas merebut kekuasaan.

Usaha demokratisasi di mana pun juga selalu menghadapi tantangan besar. Kebersamaan, dukungan dan kesertaan semua pendukung, amat saya harapkan. Terima kasih.

Sumber; http://www.sarwono.net/

 

<<< BACK TO DAFTAR ARTIKEL



 

:: Buku Tamu-1 :: Forum Diskusi 001 ::  Forum Diskusi 002 :: Halaman Depan ::

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1