|
|
:: Buku Tamu-1 :: Forum Diskusi 001 :: Forum Diskusi 002 :: Halaman Depan :: |
ORASI ILMIAH
IMPLIKASI TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP
STRATEGI DAN MANAJEMEN PERTAHANAN
Oleh :
Peserta Kursus Manajemen Perencanaan dan Penganggaran
Pertahanan Angkatan XXII TA 2003
"If the 1980's were about quality and the 1990's were about reengineering, then
the 2000's will be about velocity". (Bill Gates, At the Speed of Thought)
Pendahuluan
Saat ini, teknologi informasi sudah menyentuh setiap aspek kehidupan manusia.
Teknologi informasi tidak hanya dipakai dalam bidang industri ataupun ekonomi,
tetapi juga di bidang pertahanan dengan implikasi yang sangat luas terutama di
tinjau dari perumusan strategi maupun penerapan manajemen. Implikasi teknologi
informasi dilihat dari sisi strategi dan perumusan doktrin menyebabkan
terjadinya pergeseran apa yang oleh Clausewitz disebut sebagai " center of
gravity " yaitu dari konsep penguasaan medan kritik menjadi penguasaan
informasi. Oleh karenanya hakekat ancaman pun, bergeser dari ancaman yang datang
dari negara (state threat) melalui penggunaan senjata pemusnah massal menjadi
kelompok (non state threat) dengan penguasaan teknologi tinggi. Sedangkan dari
sisi penerapan manajemen terjadi pergeseran paradigma dari manajemen yang semula
terfokus pada kualitas bergeser menuju reengineering dan terakhir mengacu pada
kecepatan (velocity) melalui konsep Knowledge Management (KM).
Susjemen Rengarhan yang tengah berjalan saat ini mengajarkan salah satu topik
manajemen khususnya tentang perencanaan strategik / PS (strategic planing). Inti
dari kursus ini adalah latihan praktek penyusunan dokumen strategik jangka
pendek berupa Daftar Usulan Kegiatan (DUK) dan Daftar Usulan Proyek (DUP). DUK
dan DUP merupakan aplikasi dari perencanaan strategis, yang merupakan produk
manajemen modern di era 80 an, yang saat ini sudah mulai ditinggalkan. Dalam
pelaksanaan kursus ini pun, sistem pengajarannya masih menggunakan paradigma
"murid belajar bila ada guru". Dengan sistem ini maka outcome yang dicapai tidak
akan maksimal apabila dibandingkan dengan sistem "self paced study" yang mampu
menjamin transfer pengetahuan (knowledge) secara lebih baik.
Pusdiklatjemen dengan visinya sebagai "center of excellent" dalam bidang
manajemen hendaknya menyesuaikan dengan teknologi informasi dan
mengimpementasikannya dalam setiap penyelenggaraan kursusnya. Ada beberapa
kemungkinan implementasi teknologi informasi mulai dari memanfaatkan teknologi
dalam rangka penyusunan bahan ajaran yang mengacu pada self paced study tutorial
menggunakan komputer / Computer Based Tutorial (CBT), sampai dengan pembudayaan
Knowledge Management (KM). Apabila Pusdiklatjemen tidak memanfaatkan teknologi
informasi dalam penyelenggaraan pendidikannya maka apa yang dicita-citakan
menjadi center of excellent akan berhenti sebagai slogan belaka.
Dalam orasi ini, kami peserta Susjemen Rengarhan XXII TA 2003 akan memberikan
gambaran tentang implikasi teknologi informasi dalam mendukung manajemen modern
dan sekaligus memberikan kenang-kenangan kepada lembaga yang berbeda dari para
peserta kursus sebelmunya. Kenang-kenangan tersebut merupakan salah satu contoh
implementasi sederhana teknologi informasi dengan biaya yang relatif murah namun
dapat menunjang pengambilan keputusan berdasarkan manajemen yang
mengakomodasikan kecepatan (velocity)
Teknologi Informasi dan Strategi
Dewasa ini perkembangan teknologi informasi bukan lagi merupakan evolusi tetapi
sudah merupakan lompatan sangat cepat (leap) yang mengagumkan. Data tahun 90 an
menunjukan bahwa peningkatan kemampuan komputer menjadi dua kali lipat setiap
delapan belas bulan, dan jumlah pengguna internet meningkat dua kali lipat
setiap setiap tahunnya. Serat optik tunggal mampu menghantar satu setengah juta
percakapan dalam waktu yang bersamaan, sedangkan compact disk (CD) mampu
menyimpan data sangat besar. Kemajuan semacam ini tentunya membawa implikasi
yang sangat luas dalam bidang pertahanan terutama dalam perumusan strategi dan
hakekat ancaman.
1. Perumusan Strategi.
Informasi merupakan aset yang strategis bagi setiap organisasi. Inilah yang
menyebabkan mengapa banyak pemerintahan ataupun badan tertentu menghabiskan
jutaan bahkan miliaran dolar untuk mendapatkan informasi mengenai segala sesuatu
yang berkaitan dengan ancaman potensial bagi keamanan mereka. Tanpa informasi
yang tepat dapat menyebabkan kegagalan khususnya dalam bidang pertahanan,
sehingga kemampuan untuk menyediakan informasi potensial merupakan faktor yang
sangat menentukan dari kekuatan pertahanan suatu negara.
Dalam doktrin militer, informasi merupakan bagia integral dari komando dan
kendali yang merupakan kunci setiap operasi. Dengan demikian maka setiap langkah
yang diambil ditujukan untuk mencapai keunggulan informasi.
Kemajuan teknologi informasi menyebabkan terjadinya pergeseran konsep
memenangkan perang. Pada awalnya, cukup dengan konsep Komando dan Kendali (Kodal
/ K2), yang pada prinsipnya merupkan hubungan intern antara komandan dengan anak
buahnya dalam tugas operasi. Tetapi kemudian, ternyata komunikasi dengan
kesatuan lain dalam suatu operasi menjadi suatu keharusan. Maka lahirlah konsep
baru yaitu Komando, Kendali, dan Komunikasi [K3]. Dengan teknologi komunikasi
yang semakin mutakhir, keterangan atau data intelijen (K3I) / Command, control,
communications and intelligence (C3I). Di era 90 an, dengan kemajuan teknologi
komputer lahirlah konsep Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer dan Intelijen
(K4I). Meskipun di Indonesia, K4I masih menjadi angan-nagan tetapi paling
menyiratkan adanya kuatu pandangan bahwa sistem informasi yang berbasiskan
komputer menjadi fungsi yang sangat penting dalam peperangan. Saat ini menurut
para analis, ada konsep baru yaitu Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer,
Intelijen, dan Manajemen Pertempuran (k4I / MP) sebagai satu kesatuan yang bulat
dalam rangka memenangkan pertempuran. (command, control, communications,
computers, intelligence and battle management -C4I / BM). Hal ini menunjukan
bahwa ternyata teknologi saja tidak cukup untuk memenangkan pertempuran tetapi
manajemen pertempuran juga memegang peran penting dalam memenangkan perang.
Clausewitz dengan teori center of gravity menyatakan barang siapa menguasai
titik berat dialah yang memenangkan perang. Berdasarkan teori ini, perang
berkembang dari waktu ke waktu sesuai perkembangan teknologi. Pada saat awal
perkembangan teknologi, barang siapa menguasai medan strategis, menguasai suatu
wilayah, yang dalam skala yang lebih luas, barang siapa menguasai daerah Eropa
dan Balkan (heart land), menguasai dunia. Dalam tahap selanjutnya, dengan
kemajuan teknologi kelautan, maka barang siapa menguasai lautan, menguasau
dunia. Setelah teknologi kedirgantaraan berkembang, maka barang siapa menguasai
udara, menguasau dunia. Ini terbukti dengan perlombaan yang seru antara negara
adi daya untuk memajuan Angkatan Udaranya, sehingga doktrin perangnya pun
berubah dengan mengedepankan serangan udara strategis. Dengan perkembangan
teknologi kedirgantaraan yang semakin pesat, maka barang siapa menguasai udara
dengan ketinggian 50.000 mil atau lebih, mengasai dunia. Terlebih lagi bila
dapat menguasai lunar libration points atau yang lebih dikenal dengan L4 dan L5
yang merupakan tempat - tempat dimana gaya gravitasi bulan dan bumi sama
besarnya. Kemajuan teknologi ini mencetuskan konsep Perang Bintang pada jaman
presiden Ronald Reagan. Di era 90 an semenjak perkembangan teknologi informasi
menjadi sangat pesat, maka barang siapa menguasai informasi, menguasai dunia.
Inilah yang mendorong negara adi daya untuk berlomba - lomba memasuki medan
peperangan yang baru yaitu perang informasi terutama dengan memanfaatkan media
masa dan jaringan informasi global. Hal ini dapat dibuktikan dengan kejatuhan
pemerintahan seperti Haiti dan Uni Soviet, yang tidak terlepas dari perang
informasi global tersebut.
Dengan adanya perubahan konsep perumusan strategi maka sebagai konsekuensinya
akan merubah manajemen terutama dari sisi cara kerja organisasi, skala
organisasi, dan integrasi sistem.
Dari sisi cara kerja, organisasi militer saat ini memerlukan personel yang
"pintar", untuk mengawaki teknologi yang cukup canggih. Konsekuensinya personel
militer haruslah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan orang
bisnis. Sebagai bukti, hasil survei yang dilaksanakan oleh Nort Carolina's
Center for Creative Leadership menyatakan hanya 19 persen dari manager di
Amerika mempunyai pendidikan post graduate. Jadi, dalam peperangan saat ini
terbukti bahwa tentara tidak hanya sekedar menarik platuk saja tetapi harus
mempunyai kemampuan yang cukup tinggi.
Dari sisi skala organisasi, Teknologi Informasi membuat organisasi militer
menjadi lebih flat, sehingga pengendalian dapat dilakukan dengan lebih longgar.
Konsekuensinya, kekuasaan pengambilan keputusan dapat diserahkan pada tingkat
serendah mungkin.
Dari sisi integrasi sistem, Teknologi Informasi membuat kompleksitas pada
organisasi pertahanan lebih berat dari pada sebelumnya. Kompleksitas ini dapat
diatasi dengan menggunakan peranti lunak yang dirancang untuk keperluan
tersebut, terutama peranti lunak Data Base. Dengan demikian integrasi sistem
dalam organisasi militer menjadi lebih baik.
2. Hakekat Ancaman
Kemajuan teknologi pun menyebabkan terjadinya pergeseran hakekat ancaman. Saat
ini hakekat bergeser dari yang sifatnya berasal dari negara (state threat)
berideologi tertentu dengan kekuatan senjata menuju pada kelompok (non state
threat) dengan tingkat penguasaan teknologi yang tinggi. Menurut Robert D.
Steele dalam bukunya The Transformation of War and the Future of the Corps saat
ini lawan / hakekat ancaman dikelompokkan menjadi :
a. Militer dengan sistem yang canggih dengan dukungan logistik yang sangat kuat
(the high - tech brute)
b. Gabungan antara para penjahat dan teroris seperti penyelundup narkoba (the
low - tech brute)
c. Kelompok massa tanpa senjata yang biasanya didorong oleh faktor agama,
ideologi / SARA (the low - tech seer)
d. Gabungan antara para penjahat informasi dan spionase ekonomi dengan
penguasaan teknologi yang tinggi seperti para hacker (the high - tech seer)
Dilihat dari penguasaan teknologi saat ini dunia terbagi menjadi dua kutub yaitu
negara berteknologi tinggi dan negara yang relatif tertinggal secara teknologi.
Penguasaan teknologi yang sangat maju justru menjadi ancaman bagi negara yang
bersangkutan. Sebagai contoh, Amerika Serikat sebagai negara yang menguasai
teknologi menyadari bahwa penguasaan teknologi berpotensi menjadi ancaman bagi
negaranya. Seperti yang dinyatakan dalam konferensi tahunan yang diadakan oleh
Army War College tahun 1998 dengan tajuk Challenging the United State
Symmetrically and Asymmetrically : Can America be Defeated ?. Dari hasil
konferensi tersebut diperoleh jawaban yang jelas yaitu bahwa Amerika tidak akan
dapat ditaklukkan melalui serangan militer yang simetris (seimbang), tetapi
Amerika dapat ditaklukkan dengan serangan yang asimetris (tidak seimbang).
Teknologi berpotensi menjadi ancaman menonjol yang sifatnya asimetris
(asymmetric threat). Ancaman asimetris ini ternyata menjadi kenyataan dengan
terjadinya serangan yang dikenal sebagai 911 terhadap WTC (World Trade Center)
oleh kelompok tertentu (low tech seer) dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi
transportasi. Sasaran serangan teroris terhadap WTC dan Pentagon adalah untuk
menghancurkan simbol kedigdayaan teknologi Amerika. Dari kejadian ini dapat
ditarik kesimpulan bahwa teknologi canggih disamping merupakan sarana
mengungguli lawan dalam rangka memenangkan perang juga sekaligus merupakan
sumber ancaman yang potensial.
Masih berkaitan dengan teknologi, ancaman yang menonjol pada saat ini dan jangka
waktu ke depan justru berasal bukan dari negara luar tetapi berasal dari
kerawanan yang timbul akibat kemajuan teknologi (non state threat). Sebagai
contoh, pembelian komputer dan peralatan berteknologi tinggi lainnya;
pembangunan dam / pusat listrik; industri; jaringan telekomunikasi; dan
sebagainya.
Pemanfaatan dan pembangunan teknologi tinggi seperti ini akan sangat potensial
menjadi ancaman bagi negara bila tidak disertai tindakan pengamanan yang
memadahi. Ingat kejadian 911 dilakukan dengan menggunakan dua "peluru kendali
raksasa berawak" dengan kode boeing 767 yang merupakan bagian dari industri
transportasi Amerika.
Teknologi Informasi dan Manajemen
Alvin Toffler membagi sejarah peradaban manusia dalam tiga gelombang yaitu era
pertanian, era industri dan era informasi. Dalam ketiga era tersebut, teknologi
menjadi faktor pendorong terjadinya perubahan (enabler). Dalam era pertanian
karena teknologi belum begitu berkembang maka faktor yang menonjol adalah Muscle
(otot) karena pada saat itu produktivitas ditentukan oleh otot. Dalam era
industri, faktor yang menonjol adalah Machine (mesin), dan pada era informasi
faktor yang menonjol adalah Mind (pikiran, pengetahuan). Alvin juga melukiskan
milenium ketiga ini sebagai terra incognita, daerah yang tak dikenal. Dalam
dunia semacam itu, maka perspektif Newtonian mengenai perubahan yang linear dan
dapat diramalkan menjadi usang dan digantikan oleh teori kekacauan (chaos
theory). Perubahan yang terjadi menjadi tidak linear, discontinue dan tak dapat
diramal. Kondisi semacam inilah yang menjadi tantangan bagi manajemen modern.
Akibatnya, kondisi tersebut menyulitkan kita dalam merencanakan masa depan.
Karena itu, konsep perencanaan strategis (PS) yang pernah amat populer hingga
era 1980-an kini mulai ditinggalkan orang. Pemikir manajemen termuka, Henry
Mintzberg, menulis berita kematian PS dalam artikel yang berjudul The Rise and
Fali of Strategic Planning (1994). Bahkan di Harvard Business School - Amerika
Serikat tumbuh anggapan bahwa PS menghambat manajemen yang baik.
Dalam praktek PS seperti penyusun DUK dan DIK sering hanya menjadi ritual
tahunan untuk merebut sebanyak mungkin sumber daya dengan memperjuangkan
program-program yang ditawarkan. Kegagalan PS membuat banyak organisasi kembali
menuangkan strategi masa depannya dalam bentuk visi strategis, karena visi
menentukan sasaran utama organisasi dan mengilhami setiap orang untuk mengejar
satu tujuan bersama. Patricia Jones dan Larry Kahaner (1994) yang meneliti
berbagai perusahaan terkemuka di AS, menemukan banyak perusahaan yang menulis
kembali pernyataan visi dan misi mereka ketika melakukan restrukturisasi dan
rekayasa ulang. Namun demikian, banyak organisasi yang menyatakan memiliki visi
tetapi tak berdampak apapun bagi organisasi, karena hanya diperlakukan sebagai
slogan tak bermakna. Padahal visi membutuhkan penghayatan dan menjadi dasar dari
segala tindakan dalam pengambil keputusan. Menjalankan visi secara benar akan
memberikan dampak yang sangat baik bagi organisasi. Hal ini disebabkan oleh :
Pertama, visi memberikan sense of direction yang amat diperlukan untuk
menghadapi krisis dan berbagai perubahan. Tanpa visi yang jelas, sulit bisa
keluar dari krisis. Sebagai contoh, Bangsa Indonesia tidak memperlakukan
"Menciptakan masyarakat adil dan makmur" sebagai suatu visi, tapi sebagai slogan
pembangunan. Karena itu, sampai saat ini banyak masalah yang tak jelas arah
penanganannya.
Kedua, visi memberikan fokus. Fokus merupakan faktor kunci daya saing organisasi
untuk tampil menjadi yang terbaik. Dalam bisnis, hanya perusahaan yang fokus lah
yang menjadi pemenang. Sebagai contoh, group Modern mengalami banyak kemunduran
karena ketidak fokusannya dalam menjalankan core businessnya.
Ketiga, visi memberikan identitas kepada seluruh anggota organisasi. Ini baru
terjadi bila setiap individu menerjemahkan visi tersebut menjadi visi dan nilai
pribadi mereka. Sebagai contoh, di perusahaan Fedex pernah terjadi seorang kurir
surat berani memutuskan memesan helikopter untuk menjamin sampainya barang ke
tujuan pada waktunya, karena ia yakin keputusannya itu mendukung manajemen.
Keempat, visi memberikan makna bagi orang yang terlibat di dalamnya. Orang
menjadi lebih bersemangat dan menghayati pekerjaan yang tujuannya jelas. Sebagai
contoh, tukang sapu. Tanpa visi, menyapu berarti sekedar memindahkan sampah dari
satu tempat ke tempat lain. Ini tentu amat membosankan, namun tukang sapu yang
bervisi menyadari akan hakikat pekerjaannya sebagai pekerjaann yang bermakna.
Saat ini adalah momentum yang tepat bagi Dephan untuk merumuskan kembali visi
organisasi, karena dalam visi juga terkandung kepemimpinan. Saat ini banyak
organisasi yang terlalu banyak dikelola (overmanaged) tapi kurang dipimpin
(underled). Ini terjadi karena pimpinan hanya pandai membuat berbagai kebijakan
dan prosedur, tapi kurang cakap menciptakan visi ke depan yang menarik dan
memberikan inspirasi kepada semua orang dalam organisasinya. Jadi terra
incognita antara lain dapat dihadapi dengan perumusan visi yang jelas. Disamping
diatasi dengan perumusan visi yang jelas, ketidak pastian di jaman ini dapat
pula diatasi dengan memanfaatkan teknologi informasi dalam rangka memperoleh
informasi secara cepat. Untuk memperoleh informasi secara cepat diperlukan
pengetahuan yang sudah tersusun secara rapi dalam organisasi. Knowledge
(pengetahuan) merupakan satu hal yang sangat mutlak untuk mengantisipasi jaman
yang mengandalkan kecepatan (velocity). Dalam kaitan dengan hal ini, ada cabang
manajemen yang relatif baru yaitu Knowledge Management (KM).
Sebenarnya konsep pengelolaan pengetahuan merupakan konsep lama, bahkan sama
tuanya dengan umur manusia di dunia ini. Hanya saja bedanya dengan KM
memungkinkan kita untuk tidak perlu memulai segalanya dari nol lagi. (We don't
have to always reinventing the wheel).
Konsep KM ini menjadi populer karena kompetisi yang kian tajam dalam memperoleh
keunggulan. Ketatnya kompetisi menyadarkan orang bahwa penguasaan pengetahuanlah
yang menentukan keunggulan. Keunggulan pada saat ini dirumuskan dalam formula :
faster, cheaper and better. Sebagai contoh, Microsoft pada awalnya hanya
bermodalkan intelektual kini dapat menciptakan aset fisik dan finansialnya
secara luar biasa bahkan menjadikan Bill Gates salah seorang terkaya di dunia.
Inilah bukti dari hasil kapitalisasi pengetahuan.
KM terdiri dari 3 komponen utama yaitu people, place dan content. KM membutuhkan
orang yang kompeten, tempat untuk melakukan diskusi, dan isi dari diskusi itu
sendiri. Dari ketiga komponen tersebut peran teknologi informasi adalah mampu
menghilangkan kendala mengenai tempat melakukan diskusi. TI memungkinkan
terjadinya diskusi tanpa kehadiran kita secara fisik. Dengan demikian sinergi
dapat terus diadakan walaupun kita tidak bertatap muka. Dalam pelaksanaan KM
menghadapi masalah utama yaitu masalah perilaku. Pertama, berkaitan dengan
ketidakmauan orang untuk berbagi. Oleh karenanya perlu ditumbuhkan mentalitas
berkelimpahruahan (abundance mentality) , yang intinya adalah suatu keyakinan
bahwa hasil yang maksimal hanya dapat diciptakan dengan saling berbagi. Kedua
berkaitan dengan ketidak disiplinan untuk selalu menuliskan apa yang ktia
dapatkan. Ini merupakan suatu kendala karena budaya kita lebih cenderung pada
budaya lisan. Kita belum bisa mendisiplinkan diri untuk selalu menuliskan
pengetahuan dan pengalaman yang kita alami dalam suatu sistem sebagai suatu aset
organisasi.
Aset organisasi dalam manajemen dirumuskan dengan 5M (man, money, method,
machine, dan market). Manakah yang terpenting diantara tiga aset yang dimiliki
perusahaan : fisik, keuangan, atau manusia? Banyak orang yang menjawab: manusia.
Alasannya, karena manusialah yang mengelola kedua aset yang lain, walaupun
faktanya, banyak yang lebih peduli aset fisik dan finansial daripada manusia.
Tetapi, benarkah semua orang dalam organisasi merupakan aset organisasi? Thomas
A. Stewart dalam bukunya Intelectual Capital, secara tegas mengatakan "tidak".
Menurut Stewart, yang benar-benar aset hanyalah orang-orang tertentu, yang
pekerjaannya berkaitan dengan penambahan pengetahuan dalam organisasi. Stewart
membagi karyawan dalam empat kelompok, yaitu :
Pertama, pekerja yang tidak terampil dan setengah terampil. Perusahaan
memerlukan mereka, tetapi kesuksesan perusahaan tak tergantung mereka.
Kedua, orang yang melakukan berbagai macam aktivitas, tetapi tak menjadi faktor
utama, seperti pekerja pabrik yang terampil, sekretaris yang berpengalaman,
bagian keuangan dan staf pendukung lainnya. Mereka melakukan pekerjaan penting
dan mungkin sulit digantikan, tapi pekerjaan semacam itu tidak dipedulikan
pelanggan. Sebagai contoh, perusahaan periklanan yang menjadi faktor utamanya
bukanlah para pekerja seperti tersebut tetapi adalah tim kreatifnya.
Ketiga, para pekerja yang melakukan hal yang dihargai tinggi pelanggan, tetapi
sebagai individu mereka tidaklah berguna. Sebagai contoh, buku membutuhkan
desain sampul yang bagus, sehingga memerlukan banyak perancang yang hebat. Namun
untuk pekerjaan semacam ini, perusahaan bisa melakukan outsourcing.
Keempat, sebagai kelompok yang disebut Stewart sebagai the Stars, yaitu
orang-orang dengan peran yang tidak tergantikan sebagai individu. Mereka bisa
saja peneliti, manajer proyek, dan kelompol yang sejenis.
Mereka yang termasuk kelompok keempatlah yang benar-benar merupakan aset bagi
organisasi. Tanpa maksud diskriminasi organisasi perlu memberikan perhatian
penuh pada kelompok ini, karena ditangan merekalah masa depan organisasi.
Persoalannya, bagimana memanfaatkan pengetahuan yang mereka miliki, sehingga
dapat terakumulasi dan akhirnya menjadi aset organisasi.
Implikasi terhadap Pusdiklatjemen Dephan
Dari uraian diatas, maka untuk tetap menyandang sebutan sebagai center of
excellent dalam bidang manajemen maka Pusdiklatjemen seyogyanya melakukan
berbagai pembenahan yang meliputi :
a. Membangun sistem informasi yang baik dan menyusun bahan ajaran yang
memungkinkan self paced study (ini tidak harus menggunakan komputer)
b. Memanfaatkan teknologi informasi yang meliputi pengembangan sistem informasi
yang berbasiskan komputer (computer based informatian system/CBIS) untuk
mendukung kegiatan operasional pendidikan, pembangunan peranti lunak pengajaran
lewat komputer (computer based tutorial/CBT) dan sistem pakar (expert system/ES)
dan digital library.
c. Menjadi pelopor dalam memperkenalkan Knowledge Management di lingkungan TNI,
sehingga organisasi tidak terlalu tergantung pada personel tertentu tetapi
tergantung pada sistem yang baku.
d. Memanfaatkan peranti lunak yang beredar di pasaran untuk lebih mengoptimalkan
pelajaran seperti Network Planning (NWP) yang dapat dibantu dengan memanfaatkan
perangkat lunak Manajemen Proyek seperti Microsoft Project, serta memanfaatkan
peranti lunak yang umum untuk menjamin kelancaran tugas yang sifatnya dapat
diotomatisasikan. Sebagai contoh, pembuatan template dalam tulisan atau produk
baku seperti surat menyurat dan produk tulisan dinas yang lainnya.
e. Mengadakan evaluasi terhadap kurikulum terutama dalam SBS manajemen yaitu
memberikan pelajaran yang berkaitan dengan reengineering dan yang berkaitan
dengan prinsip akuntabilitas, seperti pelajaran AKIP, karena pelajaran ini
sangat penting bagi kemajuan organisasi dan relevan dengan tantangan manajemen
modern. Sedangkan khusus dalam penyusunan dokumen strategis yang berkaitan
dengan manajemen pertahanan perlu diberi waktu yang lebih panjang agar
penguasaan terhadap praktek perencanaan strategis secara lebih baik.
Dengan implementasi teknologi informasi seperti yang disebutkan secara singkat
diatas, diharapkan Pusdiklatjemen akan mampu mempertahankan diri sebagai center
of excellent di bidang manajemen di lingkungan Dephan dan TNI.
Demikianlah makalah "IMPLIKASI TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP STRATEGI DAN
MANAJEMEN PERTAHANAN" yang disusun sebagai Orasi Ilmiah pada acara penutupan
Kursus Menajemen Perencanaan dan Penganggaran Pertahanan XXII TA 2003.
Pengertian :
a. Computer Based Information System /CBIS. Suatu sistem informasi dalam suatu
organisasi untuk keperluan pengambilan keputusan dengan didukung oleh komputer
sebagai alat utama.
b. Computer Based Tutorial /CBT. Salah satu metode pengajaran yang menggunakan
komputer sebagai sarana. Berisi program-program pendidikan atau bahan ajaran
yang pada umumnya dapat dikerjakan secara interaktif antara siswa dengan
komputer.
c. Manajemen adalah ilmu dan seni dalam rangka mengatur sumber daya dalam
organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
d. Self Paces Study. Salah satu metode pengajaran yang memungkinkan siswa
belajar sesuai dengan minat dan kemauannya, tanpa harus tergantung pada guru,
dengan menggunakan buku ataupun media yang lainnya.
e. Sistem Pakar (Expert System / ES). Salah satu sistem pemanfaatan komputer
untuk menggantikan peranan tenaga ahli dalam suatu bidang. Sistem ini dapat pula
digunakan untuk membantu memecahkan masalah yang berkaitan dengan bidang yang
memerlukan keahlian khusus.
f. Strategi adalah suatu keputusan yang berkaitan dengan bagaimana suatu masalah
itu dipecahkan. Strategi merupakan salah satu tingkat dari hirarki keputusan
yaitu :
* Kebijakan (policy), yaitu keputusan yang berhubungan dengan apakah suatu
masalah akan dipecahkan atau tidak.
* Strategi (strategy), yaitu keputusan yang berkaitan dengan bagaimana suatu
masalah itu dipecahkan.
* Taktik (tactics), yaitu keputusan mengenai bagaimana strategi itu dapat
diimplementasikan.
* Operasi (operation), yaitu keputusan mengenai bagimana taktik itu
diimplementasikan.
g. Teknologi Informasi (TI) dapat didefinisikan sebagai teknologi yang mempunyai
kemampuan sedemikian rupa untuk menangkap (capture), menyimpan (store), mengolah
(process), mengambil kembali (retrieve), menampilkan (represent) dan menyebarkan
(transmit) informasi. Perkembangan TI merupakan kombinasi antara kemajuan pesat
bidang ilmu komputer dan komunikasi.
Referensi
1. Alvin Toffler, Third Wave.
2. Alvin Toffler, War and Anti War.
3. Bill Gates, At the Speed of Thought.
4. Budiman SP, The Impact of Information Technology on Military Strategy.
5. Artikel dari Internet, Memulai Knowledge Management.
Sumber; http://www.dephan.go.id/
|
|
:: Buku Tamu-1 :: Forum Diskusi 001 :: Forum Diskusi 002 :: Halaman Depan :: |