|
|
:: Buku Tamu-1 :: Forum Diskusi 001 :: Forum Diskusi 002 :: Halaman Depan :: |
Riri Riza: Demokrasi Adalah Akses Yang Sama Bagi Setiap Orang
Perspektif Baru 29.5.2004
Asalamu�alaikum Warrahmahtullahi Wabarakatuh, salam sejahtera buat pendengar
sekalian. Setelah seminggu kita berpisah, kali ini kita bertemu kembali dalam
Perspektif Baru, program seminggu sekali untuk pendidikan dan pencerdasan publik.
Demokrasi, kata yang sering dipakai dalam perbincangan sehari-hari. Akan lebih
mudah mendefinisikannya melalui tindakan atau perilaku, dibanding mendefinisikan
lewat kata-kata. Kita memahami demokrasi sebagai perilaku atau sikap hidup yang
memberikan peluang dan kesempatan yang sama bagi setiap individu tanpa melihat
latar belakangnya. Demokrasi dipahami sebagai sikap yang terbuka pada kemajuan,
terbuka pada kritik, bersikap adil, taat pada hukum, dan tidak membeda-bedakan
orang berdasarkan latar belakangnya. Karena itu, setiap masyarakat sangat
menginginkan lingkungan dan negaranya berjalanan dalam tatanan demokrasi. Untuk
membangun sebuah masyarakat dan negara yang demokratis, kita harus memulai dari
kesadaran orang per orang. Dengan adanya kesadaran ini, secara otomatis kita
akan bertindak dan bersikap demokratis. Dalam rangka membangun kesadaran, tamu
kita kali ini akan berbagi pengalamannya tinggal di negara salah satu negara
demokratis yaitu Inggris. Dia adalah Riri Riza, seorang sutradara muda yang
memecah kebekuan perfilman Indonesia dengan beberapa karyanya. Riri Riza yang
pernah mendalami sinematografi di Inggris akan membagi pengalamannya mengenai
demokrasi dalam kehidupan sehari-hari di negara Eropa tersebut. Bersama kita
juga hadir Laurence Gillois yang merupakan Beliau adalah Political & Economic
Section dari Uni Eropa. Wawancara ini akan dipandu oleh saya, Ruddy Gobel.
Ibu Laurence Gillois akan memberikan pengantar untuk
diskusi kita hari ini. Silahkan Ibu Laurence.
Ya, terima kasih. Saya memang senang sekali ikut dalam acara hari ini, untuk
mempresentasikan aktifitas Uni Eropa di bidang demokrasi. Tahun ini begitu
penting bagi Indonesia karena selain melaksanakan Pemilu legislatif, untuk
pertama kali rakyat Indonesia memilih Presiden secara langsung. Uni Eropa
memberikan bantuan berupa hibah sebanyak Rp. 70 Milyar kepada lembaga-lembaga
Pemilu seperti KPU, Panwas, juga NGO (Lembaga Swadaya Masyarakat-red) yang
bekerja di bidang pendidikan pemilih. Di luar isu Pemilu, kami juga memiliki
beberapa program untuk mendukung proses demokrasi di Indonesia seperti The
European Initiative For Democracy and Human Right yaitu insiatif Eropa untuk
demokrasi dan HAM. Insiatif itu adalah program yang membantu
organisasi-organisasi non pemerintah dan non profit di bidang HAM dan penguatan
demokrasi. Disamping itu, bantuan yang diberikan adalah kemitraan bagi pembaruan
tata pemerintahan (Partnership For Government Reform), serta mendukung sejumlah
proyek-proyek di berbagai bidang antara lain Electoral Reform dan penguatan
media dan masyarakat sipil. Untuk informasi lebih lengkap bisa mengunjungi situs
www.delidn.cec.eu.int. Hari ini, sineas Riri Riza akan menyinggung peran
demokrasi di bidang seni. Kebetulan sebelumnya kami memberikan dukungan pada dua
program seni yakni produksi teater karya Sena Didi Mime berjudul Kaki-Kaki
Tangan. Dilaksanakan juga pameran foto Europe and Democracy Indonesian
Perspective. Diluar kedua hal itu, yang ingin saya ungkapkan mengenai wawancara
dengan Riri Riza. Selain membuat produksi komersial yaitu Sherina, Riri juga
menyutradarai Eliana-Eliana yang saya sudah tonton. Eliana-Eliana memang sebuah
karya personal yang tidak berorientasi komersial. Situasi yang seperti itu
memang yang disediakan oleh demokrasi. Dia memberi tempat pada karya yang
berorientasi pasar, tapi juga memberi ruang luas pada karya-karya personal dan
subjektif. Kedua, memang Riri Riza menggambarkan dengan sangat baik melalui
pengalaman pribadinya bahwa demokrasi bukan cuma ide-ide besar dan politis.
Bukan cuma konsep yang tinggi dan menyeramkan, melainkan hal yang langsung
diamalkan dan dinikmati dalam kehidupan konkrit sehari-hari oleh setiap orang.
Jadi begitu, selamat menikmati wawancara dengan Riri Riza.
Terima kasih Bu Laurence. Mas Riri, sebagai sutradara yang
memotret kehidupan sehari-hari ke dalam film, tentu anda mengamati perkembangan
yang ada di masyarakat. Bagaimana Anda melihat proses demokrasi di Indonesia?
Sepanjang pengamatan dan pengetahuan saya, demokrasi itu sebenarnya kesetaraan
akses terhadap segala sesuatu. Kesetaraan untuk mengungkapkan pikiran dan
pendapat. Dalam dunia perfilman yang saya geluti selama bertahun-tahun, setelah
lulus dari IKJ tahun 1993, terasa betul bahwa akses ke dunia film hanya dimiliki
oleh golongan tertentu. Dulu, untuk menjadi sutradara harus tua dulu (berkarier
lama-red), berasal dari dunia teater, atau gayanya begawan yang sangat serius.
Lalu timbul pertanyaan, tempat saya di mana? Karena saya seorang anak muda yang
sangat tertarik dengan dunia pop. Saya suka musik pop, musik rok, saya bergaul
dan nonton MTV. Sepertinya saya tidak memenuhi kriteria menjadi sutradara.
Apalagi di dunia film Indonesia, terutama di masa orde baru, film dijadikan alat
propaganda oleh pemerintah. Sinema dikontrol dan berada dibawah lingkup
Departemen Penerangan. Saya mulai berpikir bahwa memang disengaja demikian
sehingga yang menjadi sutradara adalah orang yang mudah dikontrol. Memang kita
tidak bisa masuk kebidang itu. Kalaupun mau jadi sutradara, proses yang dilalui
sangat panjang. Mungkin bisa mencapai sepuluh tahun. Kondisi ini tidak
demokratis menurut saya. Ada sesuatu yang mandeg baik di dunia perfilman kita
maupun kehidupan sehari-hari.
Anda bersekolah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ)
kemudian anda bersekolah di Eropa tepatnya Inggris. Anda mengalami dua budaya
yang sangat berbeda. Apa perbedaan dasar yang anda melihat dari dua budaya yang
berbeda itu?
Di negara Eropa umumnya, sudah ada semacam kelaziman bahwa siapapun berhak
memberikan suaranya. Siapapun bisa mengungkapkan pendapatnya. Dalam bidang seni
yang saya geluti, di negara-negara Eropa begitu banyak museum maupun galeri yang
bisa diakses. Tempat tersebut merupakan sarana belajar. Kita menyaksikan bahwa
sudah ada sistem organisasi yang baik. Jalur-jalur menyampaikan pendapat sudah
ada. Perjuangan politik misalnya bukan hanya milik partai. Orang film bisa
melakukan demonstrasi menuntut impor film dari Amerika dibatasi. Dan orang film
disana, bisa terdiri dari siapa saja. Bukan seperti yang kita lihat di Indonesia
pada waktu lalu dimana orang film terbatas pada kelompok tertentu saja. Di
negara Eropa, orang film bisa saja anak muda pembuat film pendek, atau siapapun
yang menyebut diri mereka sebagai bagian dari komunitas film.
Ternyata perbedaan paling penting terletak pada akses yang
yang merata bagi seluruh bagi masyarakat. Setiap orang bebas mengekspresikan
pendapat atau pandangannya. Lalu, adakah perbedaan mendasar antara cara
menyampaikan pendapat masyarakat di Eropa dengan Indonesia?
Saya rasa memang sulit, kita sudah terbiasa dengan pembatasan selama ini, karena
yang berlaku adalah sebuah sistem yang represif. Siapapun akan kikuk menghadapi
perubahan yang terjadi. Di Eropa, yang mereka bangun adalah sebuah infrastruktur
yang tidak akan mudah berganti hanya karena pergantian pemerintah. Di Indonesia,
bila terjadi pergantian pemerintahan maka semuanya tiba-tiba berganti. Yang kita
lihat disana adalah tata hidup yang benar-benar demokratis. Contohnya, saya
pernah menyaksikan Toni Blaire (PM Inggris-red) yang sedang berkuasa dipanggil
dan kemudian disidang. Kalau dia mengucapkan kata yang salah, bisa dicemooh oleh
satu ruangan. Kejadian seperti itu bisa kita saksikan di televisi. Jadi ada
sebuah tata nilai di mana kekuasaan tidak kebal terhadap kritik. Sistem itu
telah berjalan bertahun-tahun. Mungkin semua orang sudah demokratis karena
sistemnya sudah demokratis dan sisitemlah yang memayungi masyarakat.
Demokrasi tidak hanya seputar bidang politik dan
pemerintahan saja. Demokrasi bisa tergambar dari bagaimana seseorang bertingkah
laku dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana pencerminan demokrasi dalam
sehari-hari?
Saya ambil contohnya dari dunia perfilman yang saya geluti. Kalau yang saya
lihat, di sana sudah sangat populer apa yang disebut art cinema atau outomatic
cinema. Film dari manapun bisa masuk dan mendapatkan slot yang sama dengan
film-film yang datang dari Amerika. Jadi, pemerintah atau mungkin badan
pembinaan film, memberikan akses kepada masyarakat untuk tidak hanya menonton
film yang berasal dari Amerika saja. Ini merupakan contoh pendidikan kesetaraan
karena pendapat seseorang yang disampaikan melalui media film bisa sampai ke
masyarakat. Terkadang saya berpikir seandainya hal serupa bisa terjadi di
Indonesia, mungkin dunia perfilman sudah berkembang. Selama ini kita berpikir
bahwa perfilman itu hanya sebatas bisnis saja. Tapi apakah sudah dipikirkan
bahwa bioskop bisa menjadi tempat belajar mengenai demokrasi.
Walaupun anda cukup singkat berada di Eropa, tapi saya
yakin anda sempat mengunjungi negara lainnya. Diantara sekian negara yang sempat
anda kunjungi, apa kesamaan yang anda temui?
Yang paling terasa adalah akses yang bisa dipakai oleh siapapun. Contoh
sederhana adalah sistem transportasi. Siapapun bisa naik bus atau naik metro (KA
bawah tanah-red) dengan mudah. Bukan orang yang mampu membayar ongkos saja yang
bisa menikmati kemudahan bertransportasi. Tetapi dibuat juga paket bagi yang
berusia lanjut atau orang-orang yang menerima welfare (tunjangan) atau sedang
menganggur. Saya yakin bahwa bukan karena negaranya mau membuat kebijakan
seperti itu tapi karena adanya pemikiran bahwa akses transportasi merupakan hak
semua masyarakat. Disini, memang sudah dipikirkan perbaikan akses transportasi,
tapi hanya orang mampu saja yang bisa menggunakannya. Jadi demokrasi baru milik
sebagian golongan.
Agar tercipta sebuah masyarakat yang demokratis,
pendidikan keluarga memegang peranan yang sangat penting. Sejauhmana peranan
pendidikan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi?
Umumnya kita sudah mengetahui bahwa bahwa di Eropa ketika si anak menjelang
dewasa, mungkin saat SMA, si anak sudah dibiasakan menentukan pilihan. Orang tua
tidak lagi ikut menentukan kemana si anak. Di lingkungan sekolah, masyarakat,
dan keluarga sebagai unit terkecil mengakui hak anak untuk menentukan pilihan
profesinya. Hal seperti ini yang tidak terjadi di Indonesia, karena orang tua
selalu ingin menuntun anak. Keinginan menuntun itu akhirnya berubah menjadi
menarik dari depan. Bukan membantu mendorong dari belakang atau mengawasi supaya
jangan terjatuh. Tapi bukan hanya keluarga saja yang menjadi faktor penting.
Termasuk juga sistem pendidikan yang dijalankan masyarakat. Oleh keluarga
disadari betul bahwa anak harus dihormati sebagai individu. Kita melihat banyak
yang menjadi petenis dan juara dunia pada usia 15-16 tahun. Pendidikan
profesionalnya sudah sejak usia anak-anak. Orang tua sudah membaca bakat anaknya,
dan mendorong bakat anaknya, dan keinginan anak supaya bisa berkembang dengan
cepat. Keluargalah tempat utama untuk mendidik seseorang untuk bertanggung jawab
dan demokratis.
Saya kembali menyinggung mengenai kebebasan mengkritik.
Kita tahu di negara-negara Eropa orang dengan bebas mengekspresikan pendapatnya.
Bagaimana mereka mengekspresikan ide atau kritik mereka kepada orang tua,
pemerintah atau saat mengkritik sistem?
Selama satu tahun di Inggris, beberapa kali juga saya menyaksikan anarki di
jalanan. Tapi begini, kalaupun ada pengungkapan ekspresi yang agak radikal atau
demo di jalan, semuanya dilakukan dengan kesungguhan hati. Terasa betul mereka
memang benar-benar marah. Bila ada seratus orang yang mengamuk, semuanya punya
suara yang sama dan sungguh-sunguh memperjuangkan yang mereka rasakan. Tidak ada
orang yang di pinggir jalan yang ikut-ikutan. Mereka juga sangat memanfaatkan
jalur media. Mereka datang ke stasiun televisi untuk mengungkapkan pikirannya.
Televisi juga mengatur supaya ekspresi masyarakat yang positif, yang berdasarkan
data dan bukti ditayangkan. Memang ada stasiun yang isinya hiburan, tapi ada
stasiun yang betul-betul objektif dan memperhatikan persoalan-persoalan yang ada
di masyarakat. Stasiun ini memberi kesempatan kepada masyarakat untuk
mengungkapkan pikirannya. Jadi akses untuk mengungkapkan pendapatan itu
merupakan unsur penting dalam demokrasi. Kita rasakan juga banyak film yang
sangat kritis. Ada orang yang konsisten membuat film mengenai kehidupan imigran
di berbagai negara. Melihat kehidupan, problem dan penderitaan orang-orang
imigran di mana-mana. Itu sangat menarik dan punya pasar. Kondisi ini yang
sebenarnya saya impikan, itukan demokratis. Karena bukan hanya film box office
yang bisa masuk bioskop. Mereka tetap menghormati orang-orang yang memiliki
pikiran kritis.
Sumber; http://www.perspektif.net/
|
|
:: Buku Tamu-1 :: Forum Diskusi 001 :: Forum Diskusi 002 :: Halaman Depan :: |