|
|
:: Buku Tamu-1 :: Forum Diskusi 001 :: Forum Diskusi 002 :: Halaman Depan :: |
Catatan Pengiring / Kata Pengantar pada buku
Berhutang Pada Rakyat
Prof. Dr. Ichlasul Amal, M.A.
Rektor Universitas Gajah Mada
"Berutang Kepada Rakyat" berarti tanggung jawab moral bagi siapa saja yang saat
ini sedang bermain api demokrasi (demo=rakyat; kratia=kekuasaan)".
Ketika saya diminta untuk membuat kata pengantar buku "Berhutang Pada Rakyat",
saya berpikir tentu karena saya dianggap sebagai seorang figur yang selama ini
telah bermain api dengan "rakyat" sehubungan dengan keterlibatan saya sebagai
pribadi dan sebagai rektor Universitas Gajah Mada yang banyak berperan dalam
proses reformasi. Kebetulan Universitas Gajah Mada adalah juga almamater drh.
Chaidir, MM. Reformasi adalah reaksi terhadap tatanan politik Orde Baru di bawah
kepemimpinan Presiden Soeharto yang represif dan otoriter. Karena menentang
segala sesuatu yang represif dan otoriter maka dengan sendirinya tujuan
reformasi adalah terbentuknya tatanan yang demokratik.
Demokrasi = kekuasaan rakyat justru saat ini menimbulkan kontroversi di antara
kekuata-kekuatan yang mendukung reformasi dan mengundang banyak kekecewaan dan
ketidakpastian di kalangan masyarakat luas. Apa persoalannya ?
Hampir semua masyarakat ekonomi, pendidik, profesi, dan agama menganggap bahwa
demokrasi adalah bentuk tatanan politik yang ideal. Namun bagi masyarakat yang
tidak atau sedikit sekali memiliki pengalaman dengan sistem perwakilan,
ketertarikan mereka pada demokrasi lebih banyak didasarkan pada pertimbangan
emosional daripada rasional. Itulah sebabnya mengapa demokrasi menjadi dasar
inspirasi yang kuat dan pilihan masyarakat, tetapi tidak mudah untuk dirumuskan
atau didefinisikan secara jelas. Terutama sekali setelah demokrasi mejadi
fenomena dunia dan bercampur dengan keunikan tradisi, budaya, dan agama dari
masing-masing negara dan wilayah, maka pengertian dan definisi demokrasi menjadi
semakin kompleks dan sangat bervariasi.
Definisi demokrasi bisa berbeda-beda dari atas budaya kebudaya lain, dari satu
negara ke negara lain, namun beberapa pakar mengidentifikasikan tiga elemen
pokok demokrasi. Pertama adanya kompetisi dan pemilihan yang fair atas jabatan
publik dan dilakukan secara teratur tanpa penggunaan kekerasan dan tanpa
mengesampingkan satu pun kelompok masyarakat (minoritas). Kedua, warga
berpartisipasi dalam menyeleksi pemimpin mereka dan dalam merumuskan
kebijaksanaan (policies). Dan ketiga, adanya kebebasan sipil dan politik dalam
melakukan persaingan politik dan dalam berpartisipasi.
Demokrasi pada saat ini adalah persoalan international. Ia adalah suatu arena di
mana kekuatan - kekuatan aparat pemerintah, partai politik dan lembaga swadaya
masyarakat (LSM/Ornop) yang biasanya memperjuangkan HAM, bersaing satu sama
lain. Mereka tetap menjaga dan melestarikan diri mereka sebagai kekuatan
demokrasi dengan cara melawan dan menentang setiap kekuatan demokratik dengan
cara melawan dan menentang setiap kekuatan otoriter. Demikian pula
lembaga-lembaga international seperti IMF dan World bank menuntut tatanan yang
demokratik sebagai persyaratan untuk dapat menerima bantuan finansial. Elemen
kekuatan internasional semacam ini dalam era globalisasi seperti sekarang ini
memainkan peran dominan dalam proses menciptakan masyarakat
demokratik (civil society).
Walaupun demikian, untuk sebagian warga, hal itu dianggap sebagai intervensi
international yang dapat menghalang-halangi kebebasan mereka dalam
mengekspresikan rasa nasionalisme. Bahkan tidak jarang pula mereka menganggap
intervensi semacam itu adalah suatu bentuk penjajahan baru.
Prospek jangka panjang demokrasi yang stabil bagi negara-negara yang baru
mengalami transformasi dari sistem otoriter masih menjadi tanda tanya besar.
Persoalan utama yang dihadapi negara-negara tersebut adalah rendahnya tingkat
legitimasi pemerintah yang melakukan demokratisasi di mata warganya sendiri. Hal
ini antara lain disebabkan oleh kecilnya loyalitas traditional ataupun tidak
adanya rekaman masa lalu yang bisa menunjukkan efektivitas dari pemerintah yang
sedang memegang kekuasaan. Di samping itu, di banyak negara termasuk Indonesia,
munculnya demokrasi dilatarbelakangi atau didahului oleh krisis ekonomi yang
besar. Dan ekonomi yang tidak berfungsi yang menyebabkan kemacetan serta
kemandekan di segala sektor yang kemudian menjadi sumber dari kemiskinan massal
serta kekacauan sosial adalah musuh nomor satu demokrasi. Keadaan semacam itulah
yang telah terjadi di banyak negara seperti Aljazair, Haiti, Nigeria, Mesir,
Kenya, Filipina, dan negara-negara baru di Asia Tengah bekas Uni Soviet.
Apa yang dibutuhkan oleh negara yang sedang mengalami proses demokrasi adalah
efektivitas dibidang ekonomi dan politik pemerintah. Jika mereka dapat memanaj
pembangunan ekonomi dan politik secara efektif maka berarti mereka mampu
mengendalikan kestabilan politik. Namun kegagalan dan kekacauan yang mendadak
muncul sebagi akibat pertumbuhan ekonomi yang cepat dapat menggerogoti
stabilitas demokrasi jangka panjang. Hubungan antara keberhasilan atau kegagalan
yang satu mengakibatkan kegagalan yang lain.
Dari gambaran di atas bisa dilihat bermacam-macam kekuatan yang mendukung dan
dapat menghambat demokrasi, tetapi belum ada kesimpulan hasil akhirnya apabila
di harapkan suatu formula yang konkret atau resep tentang bagaimana cara membuat
demokrasi itu berhasil atau gagal yakni tergantung sepenuhnya pada pilihan
kebijakan yang akan diambil oleh tingkah laku pemimpin kelompok masyarakat.
Kumpulan catatan akhir pekan drh.Chaidir, M.M. secara sepatah - patah, sesuai
dengan dengan rubrik kolom " Catatan Akhir Pekan " Tabloid Serantau,
menggambarkan persoalan budaya, tradisi, lokalitas, agama, kepemimpinan dan
sedikit ekonomi dalam kaitannya dengan reformasi dan demokrasi yang sedang
terjadi di Indonesia pada umumnya dan Riau pada khususnya. Catatan seseorang
aktivis politik sekarang menjadi ketua DPRD yang memiliki latar belakang
akademik sebagai dokter hewan menunjukkan kekuatan visi dan kedalaman
pengetahuanya dalam segala aspek. Keberhasilan drh.Chaidir, M.M. sebagai
politisi dan kolumnis telah menambah catatan nama-nama dokter hewan yang
berhasil diluar bidang akademiknya, seperti drh. Taufik Ismail sebagai tokoh
sastrawan dan drh. Asrul Sani sebagai Leading Figure di bidang perfilman.
Akhir kata, secara pribadi saya ucapkan selamat kepada penulis, drh.Chaidir, M.M
dan saya yakin bahwa buyku ini bukan hanya penting bagi masyarakat Riau
melainkan juga untuk masyarakat luas dan tentu saja bagi mahasiswa.
Yogyakarta, Mei 2002
Prof. Dr. Ichlasul Amal, M.A.
Sumber; http://www.chaidir.com/
|
|
:: Buku Tamu-1 :: Buku Tamu-2 :: Forum Diskusi 001 :: Forum Diskusi 002 :: Halaman Depan :: |