|
|
:: Buku Tamu-1 :: Forum Diskusi 001 :: Forum Diskusi 002 :: Halaman Depan :: |
Demokrasi
Oleh: Shrii P. R.
Sarkar
Alih bahasa: Dayala 10/26/2002 11:01:21 AM
Mari kita sekarang membicarakan tentang demokrasi. Diklaim bahwa demokrasi
adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Setelah kekuatan
jaman proletarian (shu'dra) berpindah ke dalam tangan kepala-kepala suku, di
masa dimana pemimpin-pemimpin suku menjadi raja yang feodal. Teori demokrasi
lahir dari perasaan untuk memberontak melawan tirani monarki yang dijalankan
oleh raja-raja feodal ini. Sejarah demokrasi adalah sangat tua. Sejarah
mengajarkan kita bahwa demokrasi berasal dari masa pemerintahan Dinasti
Licchavii di masa India kuno. Karena sangat kuno, tidaklah mengagetkan bahwa
demokrasi mempunyai beberapa cacat.
Marilah kita sekarang menganalisa pernyataan, "Demokrasi adalah pemerintahan
oleh rakyat". Di dalam sebuah demokrasi, apakah orang sudah mempunyai pendidikan
dan kesadaran yang cukup untuk menentukan apa yang benar atau apa yang salah dan
apa yang harus mereka lakukan atau apa yang harus tidak mereka lakukan? Apakah
kemampuan untuk mengerti dan menentukan datang segera setelah seseorang mencapai
umur yang telah ditentukan? Apakah umur adalah tongkat pengukur kebijaksanaan
dan pendidikan? Sayangnya, saat ini hal tersebut telah diterima sebagai fakta
yang diterima! Jika mereka yang omong besar tentang sistim demokratis membaca
sejarah dari Dinasti Kerajaan Licchavii mereka akan belajar bahwa pada masa itu
tidak semua orang mempunyai hak suara. Hanya pemimpin-pemimpin Licchavii dan
bukan orang pada umumnya dapat menjalankan dan menikmati hak suara bagi yang
dewasa. Demokrasi hanya efektif dan membuahkan di tempat yang tidak terdapat
segala macam exploitasi. Semua orang mendapatkan kebutuhan hidup minimum yang
harus dijamin. Mungkin ada sedikit penyesuaian dalam kebutuhan-kebutuhan minimum
ini sesuai dengan perbedaan waktu, ruang dan pribadi. Orang-orang kashmir
mungkin memerlukan pakaian hangat dalam kuantitas yang besar. Oleh karena itu,
mereka harus disediakan dengan pakaian wol yang lebih banyak daripada
orang-orang dari Bihar. Keperluan minimum bervariasi sesuai dengan perubahan
dari jaman dan waktunya. Di jaman dahulu, orang puas dengan sepotong dhoti [
semacam kaos oblong], sepotong baju dan sepasang sandal kayu. Tidak hanya itu,
mereka bahkan tidak merasa perlunya sepatu. Tetapi saat ini satu setel sepatu
adalah sebuah keperluan yang mutlak. Di masa lalu orang berjalan jauh dengan
kaku tetapi sekarang sebuah sepeda motor atau mobil telah menjadi penting.
Kebutuhan minimum harus disediakan kepada setiap individual. Tidak ada batas
pada kebutuhan minimum ini. Setiap masyarakat yang progresif harus ingat bahwa
keperluan minimum akan terus bertambah dari hari ke hari. Di dalam waktu masa
depan yang tidak terlalu lama akan datang suatu hari dimana setiap orang akan
mempunyai sebuah roket. Kemudian, sebagai contohnya, akan menjadi sangat umum
bagi rumah ayah dari seseorang berada di planet ini dan rumah ayah mertuanya
berada di planet Venus.
Sistim sosial yang akan berdiri dengan tetap menjaga parallelisme dan harmoni
dengan waktu, tempat dan pribadi akan disebut dengan sosialisme progressif.
PROUT kita adalah sosialisme progresif tersebut tadi. Masyarakat akan membuat
ketentuan untuk menjamin kenaikan dalam standar hidup dari tiap individual.
Ketika sosialisme progresif berdiri dalam kerangka demokrasi, maka demokrasi
akan sukses. Sebaliknya, pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat
hanya akan berarti pemerintahan dari orang bodoh, oleh orang bodoh dan untuk
orang bodoh. Pendidikan Massa adalah salah satu dari kebutuhan dasar untuk
demokrasi yang berjalan sukses dan efektif. Dalam beberapa hal bahkan
orang-orang berpendidikan dengan tidak adil menyalahgunakan hak suaranya. Orang
menggunakan hak suaranya atas paksaan dan pengaruh dari pemimpin-pemimpin yang
salah jalan. Untuk mendekati kamar pemilu seperti segerombolan ternak untuk
menggunakan hak suara di dalam kotak suara adalah sia-sia. Bukankah ini sebuah
lelucon di dalam nama demokrasi? Jadi, penyebaran pendidikan dan pengetahuan
adalah penting. Pendidikan tidak hanya berarti kemampuan membaca atau
pengetahuan alfabet saja.
Di dalam pendapat saya, pendidikan berarti pengetahuan yang benar dan cukup dan
kemampuan untuk mengerti. Dengan kata lain, pendidikan harus menanamkan
kesadaran akan siapakah aku sebenarnya dan apa yang seharusnya saya lakukan.
Pengetahuan penuh tentang hal-hal inilah yang dimaksud dengan pendidikan.
Membuat seorang teman mendapatkan pengetahuan alfabet bukanlah sebuah pendidikan.
Dapat baca tulis tentu saja memenuhi beberapa kegunaan. Saya tidak mengatakan
bahwa kemampuan baca dan tulis adalah sama sekali tidak berguna dan tidak
berdaya. Ada beberapa negara di Amerika Selatan dimana hanya orang yang
melek-huruf dapat menikmati hak suara. Partai politk di negara-negara ini
meluncurkan kampanye baca-tulis dan orang dengan sendirinya akan menggunakan
suaranya mendukung partai-partai teresebut yang telah membuat mereka dapat
baca-tulis. Jadi, pemerintahnya tetap terbebas dari semua tanggung jawab dan
pengeluaran dalam masalah ini. Tetapi sistim ini tidak dapat memenuhi tujuan
yang semestinya. Pertama, kurang masuk akal untuk beranggapan bahwa dengan
baca-tulis saja dapat membangunkan kebijaksanaan yang penuh tentang apa yang
dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan. Kedua, jika tanggung jawab
terhadap baca-tulis diserahkan kepada partai-partai politik, maka partai-partai
seperti itu akan menyebarkan propaganda partai yang bersangkutan untuk
mempopulerkan dirinya di antara masyarakat. Masyarakat akan menjadi bangrut
secara intelektual, dan kutukan ini akan merusak kemampuan berkeputusan dan
membedakan yang baik dari yang buruk yang rasional. Biarpun begitu, pendidikan
adalah keperluan yang utama. Tanpa pendidikan, demokrasi tidak dapat sukses.
Moralitas adalah faktor fundamental kedua untuk suksesnya sebuah demokrasi.
Orang menjual suara mereka karena mereka kekuraangan moralitas. Ada beberapa
negara di dunia dimana suara dibeli dan dijual. Dapatkah kita menamainya
demokrasi? Bukankah ini sebuah lelucon? Demokrasi tidak dapat sukses kecuali
jika 51% dari populasi secara teguh mengikuti prinsip-prinsip moralitas. Dimana
orang-orang korup dan immoral berada dalam mayoritas, para pemimpin akan dengan
tak terhindarkan dipilih diantara orang-orang yang immoral ini.
Saat ini terlalu banyak rintangan dalam jalan moralitas. Peradaban urban adalah
salah satu dari sebab utama dari degenerasi moral karena banyak orang akan
dituntut untuk hidup di dalam ruangan kecil yang sempit. Ini adalah berlawanan
dengan moralitas dalam kehidupan individual. Hidup menyendiri untuk beberapa
waktu adalah penting untuk penumbuhan dan pengembangan moralitas. Ketika
populasi sangat rapat, susu dan sayuran berada dalam suplai yang kurang,
pembusukan tidak terkendali. Untuk memenuhi suplai susu yang defisit orang
mencampurkannya dengan air di dalamnya. Untuk memenuhi kebutuhan akan berlian,
berlian imitasi diproduksi, karena permintaan melebihi suplai. Kota-kota menjadi
padat dengan korupsi karena elemen-elemen anti-sosial, tetapi umumnya hal-hal
seperti ini tidak telihat di desa-desa. Di desa, setiap orang mengetahui orang
lainnya. Setiap orang mengetahui matapencaharian tetangganya. Tetapi bahkan
setelah duapuluh tahu hidup di sebuah kota orang jarang mengenal tetangganya.
Mereka bahkan tidak tau bahwa banyak penipu yang berkeliaran di tengah-tengah
mereka. Biarpun begitu, selogan "Kembali ke desa" tidak mencukupi. Kehidupan
kota mempunyai daya tarik yang besar bagi masyarakat umumnya, sehingga mereka
pergi ke kota-kota untuk matapencahariannya. Untuk menghentikan trend ini para
intelektual dan yang lainnya harus mencari matapencaharian mereka di desa-desa.
Suplai listrik yang murah dan perluasan dari industri pedesaan di desa adalah
keperluan yang paling puncak saat ini. Dengan Industri pedesaan, maksud saya
bukanlah kerajinan tangan primitif yang ketinggalan jaman. Industri pedesaan
harus merupakan unit yang termekanisasi secara efisien dan modern. Dari sudut
ekonomi, desentralisasi adalah keperluan yang mutlak. Dengan perkecualian pada
industri berat dan kantor-kantor pemerintahan yang penting, semua industri harus
digeser ke desa-desa. Untuk menghentikan keramaian yang berlebihan di dalam
kota-kota hal ini adalah satu-satunya pendekatan yang feasible. Desa-desa tidak
bersempitan sehingga orang-orang anti-sosial tidak akan dapat menyembunyikan
dirinya di sana. Jika mereka mencoba, polisi akan dengan mudah mendeteksi mereka.
Di dalam sebuah masyarakat demokratis, imoralitas adalah isu yang besar yang
tidak dapat dihindari. Beberapa orang mengatakan bahwa jika biji sawi taburkan
di atas siapapun orang yang dirasuki setan, setan tersebut akan berlutut. Tetapi
Jika setan itu sendiri bersembunya di dalam biji sawi, maka tentunya tidak ada
sedikitpun kesempatan untuk lari dari setan tersebut. Sama halnya, hantu
immoralitas berada tersembunyi di dalam sistim demokrasi saat ini. Demokrasi
mengimbaskan sentimen-sentimen seperti rasa provinsialisme, komunalisme,
kasaisme, dsb. yang tanpa moralitas. Misalnya di dalam sebuah wakil rakyat A
mewakili sebuah komunitas mayoritas, tetapi B, C dan D adalah wakil yang mampu
dan kompeten. Dengan keadaan ini wakil A akan tentunya dengan penuh
mengeksploitasi komunitas mayoritas dengan mengobarkan kastaisme atau sentimen
komunal yang berfikiran sempit agar menang di dalam pemilihan. Aktifitas anti
sosial ini menciptakan kecurigaan di dalam pikiran-pikiran masyarakat dan dengan
demikian berurusan dengan tiupan yang menyentak kepada moralitas mereka. Di
beberapa sistim demokrasi, diskriminasi sosial menjadi sangat mengakar sehingga
berbagai kelompok dan partai menemukan cakupan yang luas untuk mempropagandakan
dan menyebarkan ide-ide defektif mereka dan sentimen yang memecah-belah. Jadi
kita dapat melihat bahwa moralitas, yang seharusnya menjadi faktor dasar dari
derap jayanya demokrasi, menjadi tidak terlindungi. Sehingga di dalam sebuah
demokrasi beberapa orang berkutat di dalam kastaisme dan mendapatkan keuntungan
maksimum darinya. Partai-partai politik juga mencalonkan orang-orang milik
komunitas mayoritas sebagai representatif mereka. Massanya, karena tidak
terdidik, tidak dapat melihat melalui permainan-permainan ini.
Ketiga, kesadaran sosial, ekonomi dan politik juga tidak dapat dipisahkan dari
suksesnya sebuah demokrasi. Politisi yang lihai dan nakal dapat menyesatkan
bahwa orang-orang yang berpendidikan jika mereka tidak cukup pengetahuan dengan
isu-isu sosial, ekonomi dan politik. Tanpa kesadaran ini, kesejahteraan
masyarakat tidak akan mungkin baik dalam hal teori maupun dalam hal praktek.
Para Intelektual, dengan demikian, harus tidak pernah mendorong ide-ide yang
tidak realistik dari hal-hal semacam ini.
Tetapi walaupun jika ketiga persyaratan-persyaratan ini untuk suksesnya
demokrasi telah tercapai, kesejahteraan yang sesungguhnya dari masyarakat tidak
akan mungkin dengan adanya materialisme dialektikal atau dengan demokrasi.
Solusi utamanya adalah sebuah kediktatoran yang tercerahkan dan luhur -- yaitu
sebuah kediktatoran yang tercerahkan secara moral dan spiritual. Moralis,
walaupun dalam jumlah yang minoritas sekarang, tidak ada alasan untuk cemas.
Sekali masyarakat dipimpin oleh orang yang secara intelektual dan intuisi
berkembang, tentu tidak akan ada wilayah bagi eksploitasi dan ketidakadilan.
Sekarang sebuah pertanyaan mungkin muncul: Jika di dalam sebuah negara setiap
orang menikmati hak asasi manusianya, mengapa seseorang harus mempunyai hak
suara sementara yang lainnya tidak? Bukankah dunia ini adalah warisan bersama
bagi semua dan setiap manusia mempunyai haknya untuk menikmati dan menggunakan
semua sumberdaya duniawi, supra-duniawi dan spiritual? Tetapi hanya karena
setiap orang mempunyai hak individualnya untuk menikmati segalanya, hal ini
tidak berarti bahwa setiap orang mempunyai hak individualnya untuk menjalankan
administrasi dari suatu negara. Untuk kebaikan dan kesejahteraan dari masyarakat
pada umumnya, tidaklah tepat untuk meninggalkan kekuasaan dari administrasi di
tangan semua orang. Misalnya sebuah pasangan suami-istri mempunyai lima anak.
Semuanya bahagia dan nyaman di dalam keluarga tersebut. Tetapi jika seorang anak
dengan dalih sebagai mayoritas tiba-tiba mengklaim otoritas penuh dan hak untuk
mengatur keluarga tersebut, apakah hal tersebut dapat diterima? Misalnya mereka
mengadakan pertemuan dan membuat resolusi bahwa semua gelas dan barang-barang
porselin harus dipecahkan. Dapatkah kita menyebutnya sebagai sebuah resolusi
yang bijak? Coba saya berikan contoh lain. Mahasiswa dibandingkan dengan guru
selalu merupakan mayoritas. Sekaran jika mahasiswa berdasarkan dalih sebagai
yang termasuk di dalam mayoritas menetapkan permintahan bahwa mereka sendiri
yang akan mengatur ujian dan menjadi sang penguji, dapatkan permintaan tersebut
diluluskan? Jadi anda dapat lihat, demokrasi bukanlah sistim yang sangat baik
dan sederhana. Tetapi selama sebuah teori alternatif, lebih baik dan lebih dapat
diterima masih dalam perkembangan, kita harus menerima demokrasi sebagai pilihan
daripada sistim yang lain dan menggunakannya untuk sementara waktu.
Sumber; http://www.anandamarga.or.id
|
|
:: Buku Tamu-1 :: Forum Diskusi 001 :: Forum Diskusi 002 :: Halaman Depan :: |