Andai saja kehidupan adalah seekor gajah, manusia barangkali adalah si buta yang berdebat tentang bentuknya
Big bang atau supernova atau ledakan besar adalah teori tentang alfa-nya semesta raya ini. Selama ini diyakini bahwa 4 milyar tahun sesudahnya, atau satu generasi setelah terjadinya big bang, bumi dan matahari beserta planet lainnya mulai terbentuk. Namun ternyata jauh sebelum itu, sekitar 13 milyar tahun lalu, sudah pernah ada kehidupan, lantas sesudahnya bubar dan muncul lagi kemudian sampai sekarang. Lantas, setua dan seluas apakah kehidupan itu?
Sebuah teleskop antariksa bernama hubble menemukan dan berhasil mengukur sebuah planet yang lebih besar dari Jupiter, memiliki massa 2,5 kali Jupiter dan berada pada posisi 5.600 tahun cahaya. Planet ini mengorbit dua bintang, yakni bintang putih helium dan bintang netron yang berputar cepat. Sistem ini berada dalam konstelasi Scorpius dengan gugusan bundar yang disebut M4. Gugusan ini terdiri dari bintang-bintang yang terbentuk milyaran tahun sebelum matahari dan planet-planetnya.
Ketika terbemtuk, kemungkinan ia mengorbit matahari kuning yang masih muda dengan jarak yang sama dengan Jupiter dan matahari kita. Planet ini bertahan dari radiasi ultraviolet, radiasi supernova, dan gelombang kejut yang bisa memporakporandakan gugusan baru dalam proses kelahiran bintang yang diiringi badai petir. Saat terbentuknya multisel di bumi, planet dan bintang meloncat ke pusat gugusan yang sudah padat kawasannya yaitu M4.
Astronomi pada dekade terakhir ini telah menemukan 107 buah planet di luar galaksi tata surya. Umumnya berumur sama atau sedikit lebih tua dari matahari, yakni 4,5 milyar tahun.
Betapa luasnya semesta dan betapa rentanya kehidupan. Teleskop hubble hanya baru melihat ratusan planet di luar galaksi kita. Tentu saja teknologi-lah yang menjadi batas perspektif karena bisa jadi ratusan bahkan ribuan planet lebih banyak lagi yang belum bisa dilihat. Dan manusia berada di bumi, sebuah titik kecil di antara luasnya semesta jagad raya. Manusia yang kecil ini ternyata hanyalah seserpih debu di tengah maha luasnya semesta raya.
Dari bermilyar-milyar umur bumi, manusia adalah mata rantai yang amat kecil di antaranya. Umur manusia yang rata-rata hanya bertahan sampai 60 tahun –tidak sampai seabad, bahkan semilenium- jelaslah tidak sebanding dengan perjalanan yang sudah dilakoni oleh jagad ini.
Betapa maha besarnya semesta kehidupan dan betapa kecilnya manusia.
Sayang sekali, lebih sering manusia merasa sedemikian besar dan berkuasa. Sedemikian pintar dan adidaya. Ia membangun benteng-benteng yang bernama modernisasi. Juga atas nama agama dan tuhan –entah siapa dalam konsep mereka, manusia membangun teleskop-teleskop yang justru mempersempit persepsinya sendiri. Dan munculah kefanatikan atas nama macam-macam yang membuat manusia nampak konyol. Sudah kecil sekecil debu, masih juga memakai kacamata kuda.
Pada saat Galileo bersikukuh dengan teorinya bahwa bumi mengelilingi matahari, permasalahan teologis menyeruak. Karena sebelum teori itu, manusia dipahami sebagai sumber semesta, bahkan matahari pun mengelelilingi bumi. Manusia adalah istimewa di mata Tuhan. Saking istimewanya, sampai Tuhan mengutus anaknya untuk menyelamatkannya. Namun, jika bumi mengelilingi matahari dan ternyata masih banyak planet lain, lantas siapakah manusia? Jika hanya seserpih debu, lantas di mana keistimewaannya? Karena pusing menjawab pertanyaan itu, lantas Galileo diinkuisisi oleh Gereja yang mengatasnamakan dunia.
Untung saja sejarah segera dikoreksi dan kebenaran diterima sebagaimana adanya. Dan berkembanglah pengetahuan. Dan tersibaklah sedikit misteri dari alam ini. Dan semakin terlihat maha besarnya semesta.
Namun rupanya urusan membatasi persepsi adalah keahlian manusia. Selain mudah menjadi fanatik dengan apa yang diyakininya sebagai kebenaran sehingga menafikkan bahkan melecehkan apa yang diaanggap benar oleh manusia lainnya (bukan hanya agama, tetapi juga pengetahuan, dan segala sesuatu yang bernama aliran), modernisasi, yang pada awalnya dipuja sebagai solusi, justru kian mengaburkan persepsi manusia itu sendiri atas realitas dirinya, apalagi atas semesta.
Perlahan dan pasti, dan tanpa disadari, modernisasi membentuk persepsi manusia tentang realitas dirinya. Dunia impian terbentang didepan mata, sebagai udara yang dihirup dan darah yang mengalir di nadi. Dunia yang disetir oleh sebuah kekuatan entah apa namanya. Jargon-jargon seperti you are what you drive! atau you are what you wear! melekat di alam bawah sadar. Parfum harus sewangi Channel. Makan harus di Mc D. Kulit harus putih. Badan harus langsing. Sampai-sampai mandipun harus pakai sabun yang ada tcc dan irgasannya, tapi juga mengandung moistorizer.
Manusia digerakkan oleh stimulan-stimulan di luar dirinya. Kebebasannya terampas oleh sebuah penjara yang tidak tercium baunya dan entah apa namanya. Perlahan ia menjadi seperti mesin yang berjalan tanpa pernah sepenuhnya menyadari apa yang dilakukan. Eksistensinya adalah sederet angka di ATM, KTP, SIM, Pasport, dan tetek bengek mesin industri lainnya. Eksistensi manusia lainnya pun disesuaikan dengan kebutuhan. Ada yang melihat manusia lain semata sebagai mahluk yang harus dijilat pantatnya; atau mahluk yang harus dimaki-maki karena ia dibayar untuk itu; atau mahluk yang sekedar pemuas syahwat. Bagi pelaku bisnis, manusia lain semata mahluk yang mendatangkan nominal uang tertentu yang bernama pasar. Bahkan kadang bagi orang tua, manusia yang adalah anaknya seringkali dilihat sebagai mahluk pemuas impian mereka yang gagal mereka capai. Entah kapan terakhir kali manusia melihat sesamanya sebagai manusia utuh.
Jika realitas dipahami sebagai sesuatu yang bisa dicium, dilihat, diraba, disentuh dan didengar, maka itu hanyalah sinyal listrik. Dan sinyal listrik itu artifisial. Karena itu, dunia yang terbentang di sana adalah dunia impian yang sangat indah. Realitasnya: compang-camping, keras dan kadang kejam rasanya. Betapa persepsi sangat menentukan pemahaman akan realitas itu sendiri.
Rupanya sejarah menuntun peradaban manusia untuk menjadi gelisah terhadap kenyataan itu. Modernisasi dirasa bukan jawaban yang tepat untuk kebahagiaan manusia. Kemiskinan, perang bahkan kelaparan tetap seperti kecoa, mahluk yang hidup sejak jaman purba. Bahkan, modernisasi justru menciptakan penyakit baru yang susah diobati oleh teknologi ciptaannya, seperti HIV.
Kegelisahan itu membuat segelintir manusia mencari pencerahan, dan mencoba melepaskan diri dari ikatan-ikatan dunia itu sendiri. Segelintir manusia itu mencoba kembali ke alam. Ada pula yang bermeditasi, yoga dan berkiblat ke filsafat timur. Mereka menamakannya new age.
Tapi itu hanyalah segelintir orang. Yang lainnya, tetap menjadi zombie yang beranak, bekerja, sikut-menyikut, bersaing, bahkan saling membunuh tanpa sedikitpun sadar.
Tapi, tidakkah menyenangkan hidup di dunia impian? Modernisasi mengajarkan manusia untuk menjadi kaya raya. Apa salahnya menjadi kaya? Dan bukankah sangat menyenangkan jika kita bisa tidak peduli atau cuek dengan ini semua? Dengan kata lain, betapa menyenangkannya menjadi zombie, toh temannya banyak?
Entahlah. Yang jelas, saat ini, di saat saya menulis, dan di saat anda membaca tulisan ini, kita berdua melewakan sedikit waktu bersama, di sebuah titik yang sangat samgat kecil dari rentang perjalanan waktu yamg sudah dan akan dilakoni bumi ini. Kita berdua bertemu di sebuah tempat yang sepertinya serasa partikel di luasnya semesta. Dan entahlah, saya selalu teringat kata-kata sahabat saya. Di atas sebuah bukit, di hadapan banyak orang, ia berteriak berbahagialah orang yang miskin, karena merekalah yang mempunyai kerajaan surga.
Betapa kecilnya kita, dan betapa maha luasnya semesta.
Terinspirasi oleh film The MatriX