BUSYET DAHHH!!!!!!!
halaman ini mengungkapkan absurdisme di Jakarta. Di kota yang sedemikian kosmopolit dengan stressing yang sangat tinggi dan kompleksitas permasalahan hidup yang centang perentang dan ruwet, hawa absurdisme segera terhirup di paru-paru etalase dan berada di nadi gaya hidup mereka yang tinggal di apartemen, perumahan, kos-kosan sampai got. Realitas absurd difiksikan dalam bentuk cerpen di halaman ini. Hanya saja batas antara fiksi dan fakta di kota ini memang sedemikian kabur.
Jakarta memang absurd.

WANITA PALING KESEPIAN DI DISKOTIK
Pagi ini, langit terasa runtuh. Bumi berguncang. Dan mungkin tiga menit lagi kiamat. Wanita setengah baya itu memejamkan mata, mengatur nafas, lantas membuka mata perlahan-lahan. Ups! Thanks God! Ia masih duduk di belakang meja, sementara buku-buku masih menumpuk di depannya. Sebagian basah kena tumpahan air minum. Ruangan kerjanya pun tidak sedikitpun berubah. Wanita itu menghela nafas. Jantungnya masih berdegup kencang. Kakinya masih gemetar, dan pikirannya masih sulit mencerna realitas yang baru saja terjadi.
Andai saja ia tidak pernah melihat mata yang sangat tajam dan jantan itu, membuatnya gelagapan dan menyenggol gelas di hadapannya sampai tumpah. Andai saja lelaki itu tidak memamerkan senyum yang membuatnya jengah. Anggraeni tak bisa membayangkan seperti apa mukanya waktu itu. Wibawa, status, gelar doktornya, karir, bahkan mungkin seluruh hidupnya tiba-tiba terasa runtuh dan tersedot oleh senyum itu.
Laki-laki itu dengan cekatan segera mengambil sapu tangan dan mengelap genangan air di meja. Masih dengan senyum itu, namun tanpa melihatnya sedikitpun. Anggraeni menghirup nafas dalam-dalam sambil memandang keluar jendela.
“ Ibu sakit?”
Suara itu terdengar besar dan ramah. Jantung Anggraeni berdebar kencang sekali. Ada perasaan yang meluap-luap di hatinya. Anggraeni memijit-mijit keningnya sambil bertanya,
“ Sedikit pusing. Ada apa?”
“ Nama saya Roni. Semester 12. Saya hendak membuat skripsi tentang Hamlet. Saya memohon ibu jadi pembimbing saya. Pak Dekan tadi yang memberi rekomendasi.”
Entah kenapa Anggraeni tiba-tiba tersenyum. Anggraeni kembali merasa jengah. Perasaan asing dan meledak-ledak menggumpal di tubuhnya. Anggraeni masih belum berani memutar badannya menghadap Roni. Bahkan untuk sekedar melirikpun ia merasa malu. Sebagai gantinya, ia menggeleng-gelengkan kepala sambil kembali memijit-mijit dahinya.
“ Tapi kelihatannya Ibu sakit. Kalau begitu, saya pulang dulu. Besok saya ke sini lagi jam satu.”
“ Bawa proposalnya, ya?”
Anggraeni menengok. Mata mereka kembali bertabrakan. Roni sudah berdiri sambil tersenyum.
“ Ibu kelihatan cantik sekali. Selamat siang Bu!”
Roni keluar ruangan dengan enteng, sementara Anggraeni terdiam dengan mulut sedikit terbuka.
Sesuatu dalam relung jiwanya terasa menyala-nyala. Sebuah perasaan asing menggedor-gedor hatinya. Serasa ia terbang menyentuh langit-langit kantornya. Apakah cowok tadi serius ketika mengatakan ia cantik? Atau jangan-jangan hanya gombal?! Tapi kenapa ia harus peduli pada omongan seorang anak muda? Entahlah, dirinya masih bingung, namun kenpa pula ia merasa amat senang?
Sore itu, Anggraeni pulang dengan perasaan sangat bahagia. Setibanya di rumah pembantunya memberi tahu kalau Evi, anaknya, baru saja telpon dari Yogya. Pasti duitnya sudah habis, pikir Anggraeni, padahal dua minggu yang lalu baru saja ditransfer. Anak perempuan semata wayang itu paling pintar cari alasan. Mau skripsi-lah, mau bisnis-lah, mau piknik-lah. Anggraeni capek memikirkan betapa anaknya menjadi sangat manja. Di mata Bram, ayahnya, Evi tetaplah putri kecil yang cantik dan pintar. Bram akan memberi apa saja yang diminta sang putri.
Anggraeni menghempaskan tubuhnya di sofa. Senyum Roni menari-nari di pelupuk matanya. Senyum yang membuatnya jengah. Anggraeni ikut tersenyum. Perasaan menggelora kembali mendobrak-dobrak hati Anggraeni. Tuhan, apakah aku sedang jatuh cinta?
Mata Anggraeni tertumbuk pada foto ayah dan ibunya. Anggraeni adalah anak bungsu. Sewaktu kecil, semua teman dan saudaranya mengolok-olok dirinya sebagai anak mami. Tepat sekali julukan itu. Anggraeni kecil sangat manja dan kolokan. Di lain sisi, ia adalah anak penurut yang selalu menyenangkan hati orang-tuanya. Dari SD sampai SMA, ia selalu juara. Lulus kuliah pun dengan predikat magna cum laude. Sampai-sampai kampusnya mengirim ia ke Inggris untuk mengambil gelar master.
Anggraeni ibarat piala kebanggaan ayah ibunya. Anggraeni pun sangat menikmati perasaan itu. Dengan kebanggaan semacam itu pulalah, ia menikah dengan Bramantya, lelaki yang ia pacari selama tujuh tahun. Sosok Bram tak jauh beda dengannya. Sama-sama anak bungsu. Sama-sama penurut. Keduanya merupakan piala bagi keluarganya.
Sore ini, untuk pertama kalinya dalam hidup, Anggraeni merasa capek. Sangat capek akan hidupnya yang ia habiskan untuk selalu tersenyum, tertawa dan ceria. Untuk sekedar menyenangkan hati orang lain. Anggraeni capek untuk menjadi piala kebanggaan bagi orang-orang di sekitarnya. Hidupnya terasa tidak pernah jujur, bahkan kepada dirinya sendiri, Sore ini ia merasa capek dan sangat kesepian.
Malam itu berjalan sangat lambat. Seperti biasa, Bram pulang sedikit malam. Maklum, profesi sebagai arsitek selalu memaksanya lembur. Seperti biasa pula, Bram segera tertidur begitu menyentuh kasur. Dan dinding-dinding kamarpun segera menggemakan dengkurnya yang sangat ritmis.
Apa yang salah dengan Bram? Anggraeni berpikir sambil memandang lelaki botak disampingnya itu. Selingkuh bukan kata yang bisa ditemukan di kamusnya. Tak pernah ada bau parfum wanita di bajunya. Kalau pun tiga bulan ini ia sering lembur, itu karena ia memang pekerja keras dan ambisius.
Apa alasan yang bisa meyakinkan dirinya untuk meninggalkan lelaki setia ini? Anggraeni menghela nafas. Perasaan capek kembali menggelayut di batinnya. Seakan sebuah tirai perlahan terbuka di benaknya. Anggraeni merasa bukan dirinya yang pacaran dan menikahi Bram, melainkan ayah-ibunya, status sebagai anak mami, dan obligasi mereka untuk menjadi kebanggaan orang tua.
Anggraeni sangat capek. Sangat capek untuk berperan menjadi istri ideal. Terutama di hadapan semua orang. Serasa mereka berdua di atas panggung dan harus membuat penonton bertepuk tangan. Di belakang panggung, di dalam rumah mereka, khususnya di atas ranjang, terasa cinta menjadi kata yang sangat asing bagi hubungan mereka selama ini. Dan para penonton itu tidak tahu, bahkan tidak boleh tahu.
Anggraeni ingin betul-betul jatuh cinta. Secara pribadi.
Ia ingin Roni saat ini.
***
Anggraeni mengawali hari itu seperti mengawali hidup baru. Sangat bersemangat, bahagia dan ceria. Di benaknya hanya ada Roni, Roni dan Roni. Bimbingan skripsinya akan menjadi hal yang sangat menyenangkan. Apalagi membahas Hamlet. Spesifikasinya dalam menganalisa karya Shakespeare merupakan salah satu kemampuan langka yang ia miliki di dunia akademis.
Anggraeni sedang melamun ketika Karyo, seorang office boy muda yang enerjik, mengantar segelas air mineral ke meja Anggraeni.
“ Melamun Bu Yus!”
Anggraeni tersenyum.
“ Bu, kemarin Roni ke sini?”
Deg. Jantung Anggraeni seakan berhenti dua detik.
“ Memangnya kenapa, Yo?”
“ Hati-hati Bu, ia tukang rayu wanita lho.”
Anggraeni merasa mukanya memerah. Untung saja Karyo sedang meletakkan gelas itu di mejanya.
“ Kamu bisa saja, Yo.”
“ Betul Bu Yus, kata anak-anak ia itu gigolo kelas eksekutif.”
“ Ah, yang benar saja Yo?”
Kali ini Karyo duduk di hadapannya. Sambil tersenyum. Anggraeni mengatur nafasnya. Tapi pasti telinganya sudah semerah kepiting rebus.
“ Benar Bu, Roni itu sering bikin iklan di koran merah sebagai tukang pijat.”
“ Bisa jadi ia memang pintar memijat?”
“ Waduh Bu Yus, ini Jakarta, bukan London. Di sini mah, tukang pijat laki-laki itu berarti gigolo. Langganannya tidak cuma wanita, tetapi juga pria.”
Anggraeni tiba-tiba menjadi sangat marah.
“ Ia sering nongkrong di diskotik di seputaran Mangga Besar. Cari mangsa.”
“ Kamu itu tahu apa, Yo?! Sudah, sana foto-kopi berkas ini!”
Anggraeni menyerahkan satu bendel berkas pada Karyo. Karyo memandangnya dengan bingung. Wajah bertanya-tanya itu pula yang menyertainya pergi.
Anggraeni mengatur nafas kembali. Ia tidak ingin perasaan bahagianya dirusak oleh sebuah gosip. Lagi pula apa salahnya menjadi tukang pijat? Ah, kenapa pula ia yang senewen. Ia memandang jam dinding. Ingin rasanya segera memutar jam itu ke angka satu.
Bimbingan skripsi itu menjadi awal sebuah petualangan baru bagi Anggraeni. Sesuatu yang sangat luar biasa ia lakukan dan ia sangat menikmatinya. Anggraeni merasa dirinya menjadi anak yang sangat bandel. Seumur-umur, baru kali ini ia melewatkan sore pertama dalam hidup barunya di sebuah kamar hotel bintang tiga yang cukup panas.
“ Aku menemukan cinta di dalam dirimu, Roni.”
Anggraeni memeluk Roni erat-erat. Lelaki itu tertawa. Sungguh, ia kelihatan sangat ganteng kalau tertawa.
***
Ketika malam membungkus Jakarta dengan udara dingin, Anggraeni gelisah di tempat tidurnya. Bram pamit tidak pulang malam ini karena harus ke Bandung. Sementara bayangan Roni terus menempel di pelupuk matanya. Wajahnya yang ganteng, jantan dan segar. Tubuhnya yang atletis. Dan erangan nafasnya yang memburu di telinga Anggraeni.
Anggraeni beranjak dari tempat tidurnya. Diambilnya telepon genggam dan dipencetnya serangkaian nomor. Roni, aku kangen sama kamu. Ditempelkannya telepon itu ditelinganya. Ternyata nomor itu sedang tidak aktif. Kemana itu anak, pikirnya. Kembali Anggraeni mencoba menelpon. Masih tidak aktif. Anggraeni menghempaskan tubuhnya kembali ke tempat tidur. Terbayang betapa hebatnya Roni bercinta. Apakah demikian juga caranya memperlakukan wanita lain?
Seumur-umur, untuk pertama kalinya Anggraeni merasa sangat cemburu.
Anggreni gelisah luar biasa. Dinginnya Jakarta tak bisa mendinginkan api cemburunya. Ia segera berpakaian dan mengeluarkan mobil. Kepada pembantunya, ia mengatakan mau menengok temannya yang sakit. Anggraeni menyetir mobil dengan pikiran dan perasaan tak karuan. Ia ingin pergi ke kafe di mana ia dan suaminya sering pergi bersama teman-teman mereka. Tentu tidak selarut ini.
Tiba-tiba ia teringat apa yang dikatakan Karyo siang tadi. Mobil itu akhirnya berbelok ke salah satu diskotik di Mangga Besar. Dengan perasaan berdebar-debar, ia memarkir mobil, turun dan berjalan masuk ke tempat yang seumur-umur belum pernah ia jamah. Suasana asing segera menyergapnya. Kerumunan orang, lampu temaram, dentuman musik yang menusuk telinga, gerakan-gerakan liar sampai pekikan histeris. Anggraeni gemetaran duduk di sebuah kursi, bersebelahan dengan pasangan yang saling berpagutan penuh nafsu.
Tak terasa sudah hampir satu jam ia berada di sana. Tequila di slokinya sudah hampir habis, dan dunia terasa kian kabur. Perasaannya tidak juga menjadi tenteram. Sungguh, cinta terasa sangat kejam memperlakukan dirinya. Di mana kamu Roni? Ingin ia meneriakkan kata-kata itu keras-keras.
Ia merasa menjadi wanita paling kesepian di diskotik ini.
Dini hari itu, di sebuah kamar hotel di sebuah kota yang membuat cinta terasa menjadi sesuatu yang asing, Roni duduk sambil menghisap rokok di bibir tempat tidur. Di sampingnya, tertidur seseorang yang selama ini menjadi langganannya. Orang itu sangat royal. “Aku menemukan cinta di dalam dirimu, Roni!” Kalimat itu menjadi refren sehabis main cinta. Roni selalu tertawa mendengarnya. Apakah cinta menjadi barang yang sangat mahal di kota ini? Roni memandangi langganannya itu lekat-lekat. Ia seorang arsitek. Kepalanya botak. Namanya Bramantya.