BLUES, PUISI, DAN INTERUPSI

blues, puisi dan interupsi

 

01.            EXT. Halte Bus. Seorang gila, namanya ICUNG, sedang membaca puisi, dikelilingi oleh pengamen, penjual koran, tukang parkir dan penjual makanan. Tangan kiri orang gila itu memegang pipa gading dengan rokok menyala di ujungnya. Sedangkan tangan kanannya memegang teks puisi. Sebagai latarnya, raungan gitar menyayat dengan nada blues.

ICUNG:

Aku ingin mendaki awan

Menggores cakrawala

Memahat matahari

Menjadi yang kuinginkan

 

Credit title: BLUES, PUISI, DAN INTERUPSI

 

00.         CUT TO. INT. Aula. Di pintu masuk ada poster HAMLET, NEXT TWO WEEKS! Beberapa orang latihan drama. Adegan terakhir latihan tersebut. Mereka kemudian bubar. Sampai di sini adegan beralih ke

 

01.         CUT TO. EXT.  Depan sebuah pintu rumah. Doni, salah seorang yang berlatih drama, melihat jam tangannya.

CLOSE ON. JAM TANGAN DONI. Jarum jamnya tidak jalan. Doni lantas menempelkan jamnya ke telinganya. Terdengar suara TIK-TOK-TIK-TOK. Suara ini terdengar terus, selain sayatan nada blues tadi.

Doni Membuka pintu rumah dengan kunci. CLOSE ON. Kunci diputar. Handle ditekan ke bawah. Pintu dibuka. TIK-TOK-TIK-TOK

 

02.         INT. Sebuah ruang tamu. Gelap gulita. Terdengar suara lenguhan. AH-UH-AH-UH menimpali suara TIK-TOK-TIK-TOK. CLOSE ON wajah Doni terkejut, gemetaran. CLOSE ON. Tangan Doni menyentuh saklar dinding. Lampu menyala. Suara jam dan lenguhan berhenti, tapi blues masih terdengar. Di sofa panjang depan Doni, ayah Doni bangun. Dengan malu, ia berdiri sambil menutupkan selimut di pinggangnya.

AYAH DONI:

Sudah pulang kamu, Doni!

    

     Doni shocked. Ayah Doni salah tingkah. Dari sofa panjang tersebut muncul seorang laki-laki, menutup pinggangnya dengan selimut.

 

AYAH DONI:

Kenalkan ini, Rizal, teman Bapak.

 

RIZAL:

Halo Doni….

 

     Doni benar-benar shocked. Mulutnya setengah terbuka. Matanya terbelalak tidak percaya. Ayah Doni mencoba mendekatinya. Doni mundur sambil menggelengkan kepala. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia berjalan mundur keluar dari rumah. Lantas ia berlari sambil menangis.

 

03.         CUT TO. INT. Sebuah Kamar Kos. Malam hari. Rino, teman Doni di teater, bersama alfred, bd, keluar dari sebuah kamar sambil setengah mabuk. Nina, kakaknya, berjalan di belakang mereka dengan menangis sambil memaki-maki dan melemparkan segala sesuatu. Alfred lari terbirit-birit, sementara rino jatuh mabok. Nani segera merebut suntikan dari tangan rino.

 04.         CUT TO. INT. Sebuah Kantor. Malah hari. Don Marco, ketua Partai Semesta Indonesia Raya sedang marah-marah. Di hadapannya, berdiri Ismed dan Joned, bawahannya, ketakutan. Suara blues berhenti.

 

DON Marco:

Pipa gading itu pipa pusaka, tahu! Pipa milik Ki Ronggowarsito. Tuahnya akan membuat aku berkuasa di Indonesia. Partai Semesta Indonesia Raya akan berjaya di Pemilu 2004.

Ismed dan Joned, mulai saat ini, rakyat negeri ini harus tahu kalau pada saat mereka menderita, Don mereka ikut menangis, dan Don mereka akan membebaskan mereka dari penderitaan. (mulai menangis)

 

Ismed:

Maaf…Don Marco, setahu saya benda pusaka yang terkenal itu adalah tongkat Bung Karno. Tongkat, bukan Pipa.

 

Joned:

Pipa cuma pendek, sedangkan tongkat itu panjang. Tongkat jelas menang melawan pipa. Padahal lawan politik Don Marco punya tongkat Bung Karno. Sementara kita, ah…cuma pipa…cuma pipa (mulai tertawa)

 

Ismed:

Tambahan lagi, pipa itu belum tentu milik Ki Ronggowarsito.

 

 

Joned:

Karena saya tidak pernah mendengar kalau Ki Ronggowarsito pernah merokok

 

Ismed:

Kalaupun merokok, belum tentu memakai pipa tersebut?

 

Joned:

Tidak ada bukti, saksi dan sertifikat.

 

Ismed:

Jadi, bagaimana Don yakin kalau itu pipa pusaka?

 

Joned:
Dan bagaimana mungkin kita mengharapkan tahta dari…sepotong pipa hahahaha….

 

Don Marco ikut tertawa.

Tiba-tiba ia sadar bahwa wibawanya akan runtuh karena tawa mereka.

Don Marco:
Kalian ini tidak pernah tahu berita ya? Semua politikus, paranormal dan para pemimpin informal berebut mendapat pipa itu. Nyawa taruhan kita. Kemarin pipa itu di tanganku, sekarang hilang. Cepat bawa bencong itu kemari, cepat!!!!

 

Ismed dan Joned gelagapan. CUT TO.

    

05.         INT. White Board di tembok kamar keluarga. Penuh tempelan kertas berisi pesan. CLOSE ON. Salah satu kertas bertuliskan: PAPAH, RANI LATIHAN TEATER YA, SAMPAI MALAM. Berikutnya CLOSE ON: RANI, PAPAH PULANG NIH.

06.         Berikutnya CLOSE ON: RANI, SUDAH JAM SEPULUH NIH, PAPAH TIDUR DULU YA. KALAU MAU MAKAN, TADI PAPAH BELI NASI AYAM KFC.

07.         Berikutnya, CLOSE ON: PAPAH, RANI PULANG JAM 11. MET TIDUR, PAPAH!

08.         Tiba tiba ada tangan menempelkan tulisan di baris paling bawah: RANI, SUDAH JAM DELAPAN NIH, PAPAH BERANGKAT DULU YA. ADA RAPAT DENGAN PENGURUS YAYASAN TENTANG KENAIKAN SPP. HATI-HATI YA NAK!

09.         MEDIUM SHOT: Pak Kepala sekolah, ayah RANI, membetulkan dasi dan bergegas pergi. CUT TO.

 

10.         INT. Ruang Keluarga bangsawan. Icung membacakan puisi di depan audiens yang tampil rapi. Blues terdengar lagi.

 

ICUNG:

Kukan terbang melawan angin

Kan kujala halilintar dan badai

Sekokoh karang yang aku ingin

Ke ladang impian ku kan sampai

 

Orang-orang itu manggut manggut. CUT TO.

 

 

11.         INT. RUANG RAPAT. Pak Kepala Sekolah duduk bersebelahan dengan Ayah Doni, Kepala Yayasan Pendidikan. Di hadapan mereka, anggota yayasan duduk. Suasana rapat panas. Berkali-kali peserta rapat mengacungkan jari untuk interupsi.

 

AYAH RANI:

Bapak dan Ibu sekalian, saya sebagai Sekjen Yayasan Pendidikan Harapan Indonesia merangkap kepala sekolah mohon supaya bapak dan ibu sekalian tenang. Bapak Kepala yayasan hendak berbicara.

 

AYAH DONI:

Bapak dan ibu sekalian, perkenankan saya sebagai ketua yayasan pendidikan Harapan Indonesia untuk membuka rapat ini….

 

IBU A:

Interupsi Pak Ketua Yayasan! Saya tidak sependapat bila permasalahan dibatasi hanya…

 

BAPAK B:

Interupsi Pak Ketua! Saya kira permasalahan utama pendidikan kita adalah aspek keteladanan…

 

IBU C:

Keteladanan? Lihat diri anda! Rapat belum dibuka sudah diinterupsi!

 

BAPAK D:

Dari pada diri anda? Sudah tua, peyot dan ompong masih mau bercokol sebagai pengurus yayasan!

  

IBU C:

Apa! Astaga! Pak Ketua, Saya tidak terima! Saya tidak terima!

 

KETUA YAYASAN DAN KEPALA SEKOLAH MENGUSAP KERINGAT DI DAHI. SEMENTARA BAPAK D TERTAWA CEKAKAKAN

 

BAPAK D:

Lihat! Bendahara koruptor yayasan Indonesia Boleh Berharap mencak-mencak! Takut korupsinya akan diangkat di rapat ini…hahaha

 

IBU C BERDIRI DAN BERTERIAK HISTERIS, SEMENTARA BAPAK D JUGA BERDIRI DAN MELEDEK. IBU C SEMAKIN HISTERIS. KEMUDIAN, TANGAN-TANGAN MULAI DIANGKAT DAN TERIAKAN INTERUPSI! TERDENGAR DI MANA-MANA.

Cut To.

 

12.         INT. Kamar Tamu RANI. RANI Membaca pesan ayahnya. Ia menyalakan rokok, meminum kopi dan membawa naskah. Judulnya HAMLET. Tiba-tiba telpon berdering. Ia mengangkatnya,

RANI:
Hallo Greg, my lonely director! Aku sedang menghafal nih. Apa? Rino pingsan?! OD?

CLOSE ON WAJAH DINA CEMAS SEKALI. FLASH BACK

 

13.         INT. DI Kamar Rino menyuntik lengannya, di sampingnya alfred, bandar tersenyum. Tulisan: DUA MINGGU LALU…Pintu kamar didobrak. Masuk Nina dengan marah, Greg, Rani, Doni, Dina, Budi dan Nico. Doni marah-marah. Ia merebut suntikan, membantingnya dan menginjaknya. Rino kaget bukan kepalang, berdiri dan menantang Doni. Rani memeluk Rino. Sementara Nina mencak-mencak dan mengusir Alfred CUT TO.

 

14.         INT. Rani memegang gagang telpon.

RANI:

Aduh Greg gimana nih? Tidak! Aku tidak pernah lagi memberi dia uang. Gimana? Rumah Sakit? OK, aku ke sana? Kamu? jemput Kak Nina? OK, see you there!

 

Cut to.

 

15.         INT. Kamar pasien. Rino tidur di atas tempat tidur pasien dengan infus, ditungguin oleh teman-teman dan suster. Greg datang bersama Nani, kakak Rino.

DOKTER:

Sekarang, saya minta mas-mas dan Mbak-mbak untuk meninggalkan kamar. Biarkan teman kalian istirahat. (GREG DAN NINA MASUK) siapa lagi ini?

 

 

GREG:

Saya greg, Dokter! Teman Rino.

 

Nani (AGAK GENIT):

Saya Nina, Kakak Rino.

 

CUT TO

 

 

14. EXT. Koridor rumah sakit. Budi, Greg, Nico, Doni, Rani, Dina dan Nico duduk.

DONI:

Rani, kamu masih ngasih dia uang?

 

RANI:

Doni, aku tidak tahu kalau uang itu buat beli putaw!

 

GREG:

Sudah Doni. Sekarang kita ngomong tentang pentas Hamlet kita yang tinggal dua minggu lagi ini.

 

BUDI:

Yang jelas, pentas harus jalan. Sponsor sudah masuk, iklan sudah ditempel, bahkan booklet sudah jadi.

 

DONI:

Tapi harus dengan Rino. Tak ada yang bisa menjadi Hamlet selain Rino. Hamlet adalah Rino dan Rino adalah Hamlet.

 

BUDI:

Jangan begitu Don. Kalau Rino belum sembuh gimana?

 

Greg:

Nico, tadi gimana kata dokter?

 

Nico:

Hari ini, Rino tes darah. Paling besok sudah ada hasilnya.

Kemudian Rino akan menjalani detoksifikasi.

 

Greg:

Jadi kita tunggu besok hasilnya?

 

DONI (menerawang):

Pokoknya harus dengan Rino. Bagaimanapun dia sahabat kita.

 

 

CUT TO.

 

16.         EXT. Halte Bus. ICUNG meneruskan puisinya. Blues kembali terdengar.

ICUNG:

Aku bukan rajawali

Aku pesawat kertas

Tapi aku pasti merajai

Angkasa raya yang luas

 (ORANG-ORANG BERTEPUK TANGAN. ICUNG MENERBANGKAN PESAWAT KERTASNYA. ORANG-ORANG KEMBALI BERTEPUK TANGAN.)

 Sekarang puisi selanjutnya….

 

TUKANG KORAN:

Interupsi dulu, Cung! Nomor yang keluar berapa?

 

TUKANG PARKIR:

Tebakan Icung selalu jitu. Sekarang kasih kita nomor dulu, baru baca puisi lagi…

 

ICUNG:

Nomor? Nomor?….Nomor….

 

TUKANG NGAMEN:

Iya, Nomor…angka….

 

ICUNG:

Enam sembilan…..

 

 

TUKANG NGAMEN:

Enam sembilan?

 

 

ICUNG:

Enam sembilan…enam sembilan…

 

TUKANG KORAN:

Enam sembilan? Seperti posisi saja….

 

ICUNG:

Enam sembilan….enam sembilan….

 

TUKANG PARKIR:

Oke Cung, enam sembilan….

 

ICUNG:

Sekarang puisi selanjutnya….

 

TUKANG PARKIR:

Diteruskan besok saja, Cung…. Kita harus kerja nih…

 

Mereka bubar sambil menyalami Icung. Icung tertawa puas dan bangga. Ia mengambil satu lagi pesawat kertas dan melemparkannya. Icung mengangguk-angguk puas. Dihisapnya pipa gading itu. Suara musik blues menyayat-nyayat. DISSOLVED.

# Skene pendek 1: Pesawat kertas hinggap di genangan air lubang aspal jalanan.

# Skene pendek 2: Metromini lewat

# Skene pendek 3: Ban-nya melindas pesawat kertas, air memuncrat

# Skene pendek 4: metromini ngebut, dissolved kemacetan Jakarta dissolved gambar KRL melintas, suaranya masih terngiang di awal adegan berikutnya.

 

17.         INT. Kamar kerja Don Marco. Don duduk di atas meja. Di depannya Rizal duduk di kursi, ketakutan. Keringat membasahi dahinya. Di belakang Rizal, Ismed dan Joned berdiri cool.

DON MARCO:

Pipa itu pipa pusaka milik patih Gajah mada. Terakhir aku melihat di tas kamu.

 

MATA RIZAL MEMBELALAK. FLASH BACK

 

18.         EXT. Halte Bus. Tulisan: DUA HARI YANG LALU….Rizal duduk berdua dengan Icung. Ia memberi nasi bungkus ke Icung. Icung memberi dia pesawat kertas. Kemudian Rizal mencari-cari sesuatu di tasnya. Ia menemukan pipa gading. Dia berikan pipa itu pada Icung. Icung tertawa. Mencoba-coba pipa itu. CUT TO

 19.         INT. RUANG KERJA DON MARCO.

 

DON MARCO:

Sekarang, kamu taruh mana pipa itu?

 

RIZAL:

Saya tidak tahu kalau itu pipa pusaka. Lagi pula, kalau itu pusaka kok ditaruh sembarangan.

 

ISMED (sambil memandang Joned):

Memangnya orang bodoh mana yang menaruh pipa itu di tas kamu?

 

JONED:

Bukan saya lho….

 

RIZAL:

Lagian, benda pusaka ditaruh sembarangan. Pipa pusaka gue saja gue taruh di tempat yang aman dan selalu gue bawa…hahhaha... Goblok banget sih orang itu….

(RIZAL, JONED DAN ISMED TERTAWA. DON ikut tertawa)

 

ISMED:

Terus siapa yang naruh?

 

DON:

GUE! HAHAHHAHA….

(Mereka berempat tertawa bersama-sama. Tiba-tiba Don sadar, lantas menggebrak meja)

 

GOBLOK! Kenapa tertawa?! (Mereka diam) Sekarang, di mana kamu taruh benda pusaka itu?

 

RIZAL:

Saya kasih ke Icung, kakak saya….

 

DON:

Di mana ia nongkrong?

 

 

RIZAL:

Halte bus dekat Supermarket. Tapi…

 

DON:

Ismed dan Joned. Ambil orang itu sekarang. Rizal biar di sini, sebagai jaminan.

 

RIZAL:

Tapi….

 

DON:

Diam kamu! Ismed dan Joned, sampai di sana kamu telpon, seperti apa orangnya.

CUT TO.

 

20.         EXT. Halte Bus. Blues terdengar lagi. Ismed dan Joned turun dari taksi. Ismed menyuruh sopir taksi itu menunggu. Mereka segera menanyai orang-orang di sekitar situ tentang siapa Icung. Mereka semua menunjuk Icung yang sedang duduk sambil membaca puisi dan tersenyum. Joned segera mengambil HP dan menelpon DON,

 

JONED:

Don, kami sudah mengenali Icung. Ciri-cirinya? Ya, orangnya agak ramah. Sering tersenyum. Jadi benar dia kakaknya Rizal. Oke, kami ambil dia.

(JONED MENUTUP HP)

Ismed, ternyata orang itu benar Icung. Jadi, Rizal punya kakak orang gila.

 

ISMED:

Don sudah tahu?

 

JONED:

Astaga, belum aku kasih tahu.

 

ISMED:

Biarin saja. Kita ambil dia sekarang.

 

Musik blues terdengar lagi. Mereka menuju Icung dan hendak memaksa Icung. Orang-orang di sekitar situ marah. Mereka memukuli Ismed dan Joned. Beberapa orang hendak memukul mereka dengan kayu, untung Icung segera melerai. Musik blues terus terdengar sebagai  latar.

JONED:

Calm down Man! Santai aja! COOL dulu lah kita!

 

ISMED:

Tahan emosi dulu kawan. Sebenarnya siapa orang gila ini?

 

 

PENJUAL KORAN (HENDAK MEMUKUL PAKAI KAYU):

Apa lo bilang?

 

JONED:

Cool man! Santai dulu man!!

 

TUKANG NGAMEN:

Orang ini inspirasi kami. Lagi pula yang ia kerjakan hanya bikin puisi.

 

TUKANG PARKIR:

Dan memberi ramalan nomor togel. 90 persen ramalannya benar.

 

TUKANG KORAN:

Jangan-jangan kalian suruhan bandar togel yang rugi terus itu.

 

ISMED:

Sabar dulu kawan! Joned, kita pergi saja!

 

Mereka berdua ngeloyor pergi kesakitan, masuk ke taksi yang dari tadi menunggu. Mereka berdua duduk di jok belakang. Blues berhenti.

 

JONED:

Orang gila kok dipelihara?

 

ISMED:

Orang gila kok diculik?

 

 SOPIR TAKSI (MENYELA):

Interupsi!! Interupsi!!! Orang itu gila, tetapi tidak berbahaya. Sedangkan kita bahkan mentolelir orang-orang gila yang sangat berbahaya.

 

JONED DAN ISMED BENGONG. SOPIR TAKSI ITU SEKARANG MENGHADAP KE BELAKANG SAMBIL MARAH DENGAN SANGAT GALAK.

 

SOPIR TAKSI:

Mereka yang duduk di kursi eselon, parlemen dan yang mengatasnamakan rakyat itu lah yang harusnya masuk Rumah Sakit Jiwa. Apa jadinya jika para sosiopat schizophrenic itu menguasai  dan mengatur hidup bangsa ini? Lama-lama negara ini akan menjadi Republik Gila! Paham kalian?

 

 

ISMED DAN JONED KETAKUTAN:

PPPP….Paham!

 

SOPIR TAKSI ITU MENGHADAP DEPAN LAGI (MASIH GALAK):

Ya sudah! Sekarang kalian mau ke mana?

CUT TO.

 

21.         INT. Ruang kerja Don Marco. Malam hari. Don Marco marah-marah. Di depannya, Ismed dan Joned duduk dengan perban membalut lengan dan kepala mereka.

 

DON MARCO:

Apa katamu? Orang itu punya massa banyak?

 

ISMED:

Semua pengamen, tukang koran, tukang parkir di Jakarta mendukung dia.

 

JONED:

Juga tukang taksi, Don. Kita tak mungkin menculik dia dengan naik taksi.

 

DON MELIRIK RIZAL. RIZAL SENYUM BANGGA SAMBIL MENGUSAP KERINGAT DI DAHINYA.

DON:

Kalian ini gimana? Kalian ini anggota partai yang memiliki massa mayoritas yang akan merebut kembali tahta yang sempat hilang. Pemilu mendatang kita pasti menang. Pasti. Para pengamat pun memprediksikan itu. Don Marco kalian jadi Presiden dan kalian pasti dapat jabatan. Tapi kalian cuma ngurus masalah kecil saja nggak becus. Pokoknya aku tidak mau tahu, besok pagi, orang itu sudah ada di sini.

 

22.         CUT TO. Skene-skene pendek dilatarbelakangi blues:

# Skene pendek 1: Doni membawa koper keluar rumah. Sementara ayahnya memohon-mohon supaya Doni tinggal.

# Skene pendek 2: Dina menempelkan pesan: SELAMAT TIDUR PAPAH!

# Skene pendek 3: Rino melepas jarum infus.

# Skene pendek 4: Icung tertidur pulas di halte. Di dadanya menggeletak pesawat kertas.

# Skene pendek 5: Rani tidur dengan foto Rino di samping kepalanya.

# Skene pendek 6: Rino memakai senter membuka-buka file di laboratorium. Dia menemukan sebuah file. Close on file bertuliskan: RINO MICHAEL. Tangan Rino menyusuri halaman itu. Close on wajah Rino terkejut.

# Skene pendek 7: jakarta lengang sekali. Blues sangat menyayat hati.

 

23.         INT. Kamar tidur Rani. Pintu diketuk dari luar. Rani melihat jam. Jam 6. Rani dengan terkantuk-kantuk membuka pintu. Ketika pintu terbuka, Dina, Doni, Budi dan Nico menghambur masuk. Greg segera memeriksa kolong tempat tidur. Budi, almari pakaian. Nico melihat langit-langit. Rani mencak-mencak. Dina memeluk Rani, membisikkan sesuatu. Disusul skene-skene pendek yang berpindah cepat:

#Skene 1: tempat tidur Rino kosong. Botol dan selang infus menggantung

#Skene 2:  Greg dan Nani diceramahi suster. Nani menggigil tak percaya.

#Skene 3: Rani menangis histeris, dipeluk Dina. Sementara Nico memencet tombol HP.

 

NICO:

Greg, Rino tidak ke sini. Iya, kita masih di kos Rani. Kamu menunggu hasil laboratorium. Kenapa? Sebenarnya sudah selesai, tapi berkasnya hilang? Ceroboh sekali rumah sakit itu! OK, kita mencari Rino, kamu nanti menyusul, ya?

CUT TO.

 

24.         Beberapa skene pendek berpindah cepat.

#Skene 1: Bemper mobil belakang. Terlihat mobil mulai jalan. Knalpotnya mengeluarkan asap.

#Skene 2: Mereka keluar dari sebuah rumah kawan mereka. Kawan mereka mengangkat tangan.

#Skene 3: mereka keluar dari rumah yang lain. Kawan mereka pun mengangkat tangan, tidak tahu.

#Skene 4: di sebuah kamar. Kepala bandar dipiting Doni di atas meja. Di depannya, sebungkus putaw dan beberapa suntikan teronggok. Teman-teman Doni berusaha memisah mereka.

#Skene 5: Matahari bersinar terik sekali.

#Skene 6: Jakarta yang macet. KRL yang berjalan kencang. Derunya terngiang sampai awal adegan berikutnya.

 

25.         INT. Kamar Kerja Don Marco. Don duduk berwibawa. Di depannya Rizal dan Icung duduk. Di belakang Rizal dan Icung, Ismed dan Joned berdiri cool.

DON:

Jadi ini pemimpin rakyat kecil yang suka baca puisi. Coba tolong baca satu puisi untuk aku. (ICUNG BELUM PAHAM, SEHINGGA DON MENGULANGI SEKALI LAGI)

Puisi…P…u…i…s…i

 

ICUNG MENGANGGUK ANGGUK. LANTAS IA BERDIRI DI KURSINYA DAN TANGAN KANANNYA MENGELUARKAN KERTAS DARI CELANANYA YANG KUMAL, SEMENTARA TANGAN KIRINYA MEMBAWA PESAWAT KERTAS. BLUES MENGALUN LAGI.

ICUNG:

Aku mencari jati diri

Yang terselip di antara kawat gigi,

Kata, diktat, dedaunan, jalanan, tiang listrik,

MR. Jack Daniel, kursi parlemen dan Baju safari,

Desing peluru kekuasaan dan jeritan penderitaan jelata.

Aku tidak pernah mengerti.

Aku tidak pernah memahami.

Tapi aku mencari jati diri.

 

ICUNG MENUNDUKKAN KEPALA TANDA SELESAI. SEMUA BERTEPUK TANGAN. RIZAL SANGAT BANGGA. ICUNG MENGANGGUK-ANGGUK, TANGANNYA MENGELUS-ELUS PESAWAT KERTAS;

RIZAL:

Bravo! Bravo! Hadirin, Icung!

(SEMUA TEPUK TANGAN SEKALI LAGI)

 

 

JONED:

Hebat! Luar biasa!

 

ISMED:

Karismatis!

 

JONED:

Jenius!

 

ISMED:

Sosok pemimpin sejati!

 

JONED:

Presiden Indonesia masa depan!

 

RIZAL:

Iya, Presiden! Betul kan Don?

 

DON:

Betul! Presiden

 

(SAMBIL TEPUK TANGAN. TIBA-TIBA IA MENYADARI SESUATU. DAN KINI IA BERUBAH MARAH SEKALI)

 

Apa katamu? Presiden?

 

(MENDEKATI ICUNG, MERAMPAS PESAWAT KERTASNYA)

 

Turun Kamu!!! (ICUNG TURUN)

Di mana pipa pusaka itu? Pipa pusaka?

 

MENGACUNG-ACUNGKAN PESAWAT KERTAS DI MATA ICUNG. MATA ICUNG MEMBELALAK. MULUTNYA MENGGUMAMKAN KATA “PIPA….” CUT TO.

 

26.         EXT. Halte bus. Siang hari. Rino mengacung-acungkan pesawat kertas ke mata Icung sambil tertawa. Icung tersenyum. Ia mengambil pesawat itu. Icung memberi Rino sebuah pipa. Rino menerima. Tersenyum. Menunjuk-nunjuk pipa itu. Icung tertawa sambil menunjuk-nunjuk pesawat kertas itu. Rino meraih kepala Icung dan mencium dahinya. Icung tertawa. (SLOW MOTION) Rino mengacung-acungkan pipa sambil tertawa dan berjalan mundur. Icung tertawa sambil melambaikan tangan. CUT TO.

 

27.         INT. Kamar kerja Don. Close on wajah Icung masih menggumamkan kata, “PIPA…” Icung tersenyum sangat lega. Don membelalak marah.

DON:

Hei, mana pipanya? Kombinasi yang baik. Kakaknya gila, adiknya bencong.

 

(RIZAL TERPERANGAH KAGET)

 

Joned, Ismed! Hajar orang gila itu sampai ngaku!

 

(ICUNG TERSENYUM LEBAR. ISMED MENEGAKKAN BADAN. RIZAL PANIK SEKALI. JONED MEMONCONGKAN BIBIRNYA SEPERTI MENCIUM)

 

Hei, gila, ini pesawatmu menabrak WTC!

 

(DON MENYOBEK PESAWAT KERTAS DI DEPAN ICUNG. SEPERTI PESULAP PERLAHAN IA MENJATUHKAN PESAWAT KERTAS YANG TELAH ROBEK ITU. CLOSE ON PESAWAT KERTAS JATUH KE LANTAI. CLOSE ON PESAWAT KERTAS. ADA TULISAN: RINO MICHAEL. TULISAN ITU DIINJAK SEPATU DON. TIBA-TIBA ADA BUNYI “DOK!! DOK” DON MENOLEH. DI BELAKANGNYA, RIZAL BERDIRI GEMETARAN SAMBIL MENCOBA MEMECAH BAGIAN BAWAH SEBUAH BOTOL TERUS MENGACUNGKAN KE WAJAH DON, TAPI BAGIAN BAWAH BOTOL ITU BELUM PECAH. SEMENTARA IA SEMAKIN PANIK, IA MENCOBA SEKALLI LAGI MEMECAH BAGIAN BAWAH BOTOL ITU, MASIH GAGAL. DON MENDEKATI DIA. RIZAL MUNDUR, CEMAS SEKALI. ) CUT TO.

 

28.         EXT. Di sebuah taman kota, dekat telpon umum. Doni cs beristirahat. Budi menelpon di telpon koin, Ela menghibur Rani, Dina menghibur Doni, yang lain keleleran di sekitar mobil.

NICO:

Rino itu api bagi kita. Dia yang mendirikan teater kita dan teater kita tak mungkin bisa juara di banyak festival tanpa dia. Hanya saja, kenapa musti kecanduan putaw? Dia sendiri selalu bilang kalau seniman itu karya, bukan gaya. Dia selalu mengkritik kita kalau kita sudah berlagak seperti artis.

 

DONI:

Tapi aku tahu persis dia memakai putau bukan untuk mencari inspirasi. Dia hanya terjebak oleh sindikatnya Alfred. Lebih parah lagi, dia terlanjur terjebak oleh kegelisahannya.

 

DINA:

Dunia sepertinya terlalu sempit buat orang seperti dia. Aku ingat dia selalu mengatakan ingin terbang dan terus terbang. Sepertinya raganya sudah tak mampu lagi menampung rohnya.

 

ELA:

Dia pernah mengatakan padaku kalau kita bisa merubah dunia kalau kita mau menyatukan impian kita. Entah apa maksudnya. Kelihatannya dia mabuk saat mengatakan itu, tapi kata-kata itu sangat berkesan bagi aku.

 

NICO:

Dia selalu bercerita tentang Dr. Faust, yang katanya melakukan kejahatan demi kebaikan.

 

BUDI (bergabung):

O iya, aku ingat. Dia ngomong itu dengan konteks serangan teroris ke Amerika. Eh, ngomong-ngomong tentang Amerika, kamu ingat enggak Nic, kasus Rino dengan Dosen Telaah Masyarakat Amerika?

 

NICO:

Pak Wisnu? O iya, hahahahaha….

 

(Budi dan Nico tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Itu membuat yang lain penasaran. Kemudian Nico dan budi bercerita dengan semangat sambil berdiri dan memperagakannya)

 

BUDI:

Dua hari lalu, sebelum latihan teater….tapi ingat lho, ini off the record. Rino sendiri yang minta…

 

NICO:

Kalian tahu sendiri kan kelakuan Rino kalau sedang kencing.

 

BUDI:

Waktu itu, aku dan Nico mau kencing terus Rino masuk ke sebelahku. Mendingan kita keluar dari pada dikerjain. Nggak sampai lima detik kemudian,  Rino keluar sambil berlari. Kita kejar dia. Dia sembunyi di kelas.

 

NICO:

Dengan marah-marah dia cerita kalau sambil kencing, dia meletakkan kakinya ke pantat sebelahnya, mendorong-dorongnya sambil berteriak, “tarik mang!”. Eh, tiba-tiba dia sadar kalau di sebelahnya itu bukan Budi.

 

ADA SKENE PENDEK YANG MENGGAMBARKAN KEJADIAN ITU. SUARA NICO SEBAGAI LATARNYA

 

BUDI:

Kepalanya botak lagi. Siapa lagi kalau bukan Pak Wisnu. Hahahahhaha….

(Mereka semua tertawa sambil sesekali menyebut nama rino)

 

Muncul beberapa skene pendek tentang Rino yang menunjukkan betapa berartinya kehadiran Rino bagi mereka. Blues kembali bernyanyi.

# Skene 1: Rino melakukan orasi di depan para demonstran:

RINO:

Apa yang mau kita teladani dari generasi tua tersebut? Korupsinya? Keserakahan? Sekarang bukan jamannya keteladanan. Hanya anak TK yang masih butuh diteladani. Kita punya otak, kita putuskan jalan hidup kita sendiri. Jangan mau disetir oleh mereka! Kita yang bertanggung jawab atas hidup kita sendiri…..

CUT TO.

 

#Skene 2: Rino dan Doni berdua. Doni menangis sesenggukan.

RINO:

Dunia itu memang kejam, Doni. Itu fakta. Itulah watak dunia. Perang, perampok, pencuri, pembunuhan, genocide, dan kamu bisa menambahkan di litani kekejaman dunia ini. Doni, kita tak mungkin mengharapkan dunia ini menjadi damai, aman, tenteram….itu surga, bukan dunia. Tapi satu hal yang bisa kita lakukan. Kita bisa mengubah diri kita, pandangan kita terhadap dunia. Bukan dunia yang berubah, tapi diri kita….

 

ELA (MEMECAH LAMUNAN MEREKA):

Ran, Rino romantis nggak?

 

DINA:

Pasti dong…..

 RANI:

Dia paling suka menikmati senja. Karena dia aku baru bisa merasakan betapa indahnya sebuah senja. Pernah dia mengajak aku ke atap sebuah gedung dan melihat betapa matahari seperti melukis langit. Katanya, hidup kita ibarat senja hari. Tak pernah seterang siang dan segelap malam.

 Doni:

Di gedung mana itu Ran?

 (Semua seperti terkejut. CUT TO.)

 

29.         ext. Atap sebuah gedung dengan mendung di ujung jakarta. Rino duduk sendirian melamun sambil memain-mainkan pipa. Matanya nanar menatap entah kemana. Beban yang sangat berat menggelayuti hatinya. Sekitar sebungkus rokok dan abunya bertebaran di lantai. Sejenak kemudian, ada teriakan memanggil namanya dari belakang. Rino menghela nafas. Dino cs datang tergopoh-gopoh. Rino masih tetap duduk. Rani memeluk Rino, yang lain duduk dan berdiri di sekitar mereka berdua. Rino sama sekali tidak bereaksi.

RINO:

Mau apa kalian kesini?

(SEMUA DIAM)

Sudahlah, pulang saja kalian…

 

NICO:

Rino, kamu sahabat kami. Kami ingin bersama kamu saat ini…

 

BUDI:

Kalaupun ada masalah berat, mungkin kami bisa membantu, sebagaimana selalu kamu lakukan pada kami.

 

RINO (SINIS):

Tahu apa kamu tentang masalahku?

 

ELA:

Makanya beritahu kami…kamu saat ini butuh teman, Rin.

 

DINA:

Atau kamu butuh keheningan barangkali? Tapi kami akan tetap di sini, diam menemani kamu.

 

RINO:

Dina my little girl….what the fuck are you talking about? (DINA KAGET) You are just a little girl! And you will always be….

 

NICO (tersinggung):

Rino, kamu ini kenapa? Ha!

 

RINO (berdiri. Suasana memanas):

Aku baik-baik saja, Nic!

 

BUDI:

Kamu seperti bukan Rino yang aku kenal….

 

RINO:

Ya….Rino sudah mati…

 

ELA:

Kamu sakauw ya?

 

RINO MELEDEK DENGAN MENIRUKAN ORANG SAKAUW. MEREKA SEMUA KIAN TERSINGGUNG. MEREKA BERDIRI MELINGKARI RINO, SEMENTARA RANI MEMELUK RINO. Kamera mengambil dialog di bawah ini satu persatu tidak berurutan sehingga terkesan berputar dan membuat Rino kian pusing.

 

NICO (MARAH):

Semua orang punya masalah, Rin.

 

BUDI (MARAH):

Dunia memang kejam. Itu fakta.

 

ELA (MATA BERKACA-KACA):

Kamu tidak bisa lari darinya.

 

DINA (MULAI TERISAK):

Siapa yang bertanggung jawab atas hidup kamu, Rino?

 

DONI:

Lihat diri kamu, pembual, pengemis, manusia kerdil!

NICO:

Kamu lupa kamu hidup di mana?

 

BUDI:

Kamu hanya berlari dan melarikan diri dari kenyataan….

 

ELA:

Kapan kamu akan tumbuh dewasa, Rino?

 

DINA:

Kapan kamu berani menghadapi kenyataan?

 

DINO:

Dasar pecundang! Mental pecundang! Sampai kapanpun akan jadi pecundang!

 

RINO MARAH SEKALI. IA MEMBENTAK:

Diam!!!! Aku robek mulut kalian satu-satu! Nico, persetan dengan kehidupan. Budi, aku tidak melarikan diri! Aku sudah mati! Ela, kamu tahu apa tentang dewasa? Dina, kamu sendiri kapan berani ngomong cinta sama Dino? (DINA KAGET, BEGITU JUGA DINO) Dengar! Kalian semua bicara dengan orang yang sudah mati! Dengar, I am a dead man walking! I am a dead man walking! And you, Doni….Fuck you!

(DONI TERPERANGAH. SEMUA TERDIAM. RINO DIAM SEJENAK MENGAMBIL NAFAS)

Aku memang pecundang, tapi setidaknya aku tidak punya ayah seorang gay!

 

RINO MELEDEK DONI. DONI MEMBELALAKKAN MATA TIDAK PERCAYA. IA MARAH SEKALI. IA HENDAK MEMUKUL RINO, TAPI DIPISAH OLEH TEMAN-TEMAN. RINO DIPELUK OLEH RANI DAN NICO.

DONI:

Fuck you!!!

 

RINO (meledek):

Fuck you forever!!!

DONI KEMBALI HENDAK MEMUKUL RINO TAPI DITAHAN OLEH SEMUA TEMAN, SEMENTARA RINO TERUS MELEDEKNYA. SLOW MOTION: DONI MERONTA-RONTA SAMPAI SEMUA YANG MENAHAN DIA TERJENGKANG. DONI AKHIRNYA MEMUKUL HIDUNG RINO. RINO TERJENGKANG, DONI TERJEREMBAB. DONI MENANGIS, RINO BOCOR HIDUNGNYA. YANG LAIN BERDIRI HENDAK MEMBANTU DONI DAN RINO, TAPI MASING-MASING MENOLAK. PADA SAAT ITU MUNCUL GREG.

 

GREG:

Astaga!

 

RINO (BERDIRI):

Halo Gregorius! Kamu bawa apa itu? Hasil laborat?

(GREG KAGET DAN SALAH TINGKAH MENYEMBUNYIKAN HASIL TES LABORAT DI BELAKANG TUBUHNYA)

Wow, Doni, sekarang biar Greg yang ngomong apa masalahku!

(GREG SEMAKIN SALAH TINGKAH)

Ayo, Mister lonely director! Katakan yang sebenarnya!

 

GREG SEMAKIN SALAH TINGKAH. RINO MELANGKAH MENDEKATI GREG. GREG JALAN MUNDUR. RINO MERAIH KERAH LEHER GREG DAN MEMAKSA GREG UNTUK MEMBACANYA. MATA GREG BERKACA-KACA. SLOW MOTION: GREG MEMBUKA AMPLOP, MENGAMBIL KERTAS DAN MENGANGKATNYA. RINO MEMAKSA GREG UNTUK MEMBACANYA. DI BAWAH CEKIKAN RINO, GREG MEMBACANYA SAMBIL TERBATA-BATA:

 

GREG(PADA SEMUA TEMAN):

H-I-V….Rino positif kena H-I-V…

 

SEMUA TERSENTAK KAGET. BLUES TERDENGAR MENYAYAT. RANI MEREBUT KERTAS ITU, DAN BERTERIAK HISTERIS. SEGERA IA DIKERUBUTI OLEH YANG LAIN. RINO MELEPAS CEKIKAN. SEMUA DIAM DAN TERISAK DAN TAK PERCAYA.

 

RINO:

Rani, aku cinta kamu…karena itu aku minta kita berpisah. Kamu berhak bahagia, Rani. Kamu berhak mendapatkan yang terbaik buatmu. Dan aku bukan yang terbaik buat kamu. Kamu tidak bakalan kena HIV, karena aku pasti terinfeksi oleh jarum suntik dan ingat, kita belum pernah berhubungan terlalu jauh.

Lihat ke depan….masa depan yang lebih baik menanti kamu. Kamu berhak bahagia Ran!

 

DOni, aku minta maaf. Tapi kalau Dina jatuh cinta sama kamu, itu  benar. Budi, Nico, Ela, Greg, aku minta maaf. Aku hanya merasa harus memutuskan tali ini. Kalian semua, ternyata tidak perlu mati untuk mengatakan betapa indahnya hidup. Tapi aku sudah mati, kawan! Aku sudah mati!!!

 

RINO MEMBALIKKAN BADAN, BERLARI HENDAK TERJUN DARI ATAP GEDUNG ITU. SEMUA BERTERIAK HISTERIS DAN MENGEJAR DIA. Close on: Wajah Rino. Kemudian kamera menjadi mata Rino melihat bibir atap gedung. NICO MELOMPAT DAN MENUBRUK RINO DARI BELAKANG. MEREKA JATUH TERJEREMBAB. RINO MERONTA-RONTA HISTERIS.

RINO:

Pukul aku Doni! Bunuh aku Doni!! Aku sudah mati!

PERLAHAN RINO MEREDA. SEMUA ORANG MENANGIS. DONI MEMELUK DINA.

 

DONI:

Kami tidak pernah meninggalkan kamu Rino. Kamu sahabat sejati kami, betapapun brengseknya kamu…

 

RINO (KETAWA KECIL SAMBIL MENANGIS):

Apa katamu?

 

DONI (MEMELUK DINA DAN TERTAWA KECIL SAMBIL MENANGIS):

Brengsek…

 

RINO (Sambil tertawa kecil):

Brengsek…

 

RINO MEMELUK DONI. MEREKA SEMUA BERPELUKAN. RINO MELEMPAR PESAWAT KERTAS KE UDARA. BLUES KIAN MENYAYAT. TERDENGAR SUARA ICUNG MEMBACA PUISI. SUARA INI TERDENGAR SAMPAI AWAL ADEGAN BERIKUTNYA:

(SUARA) ICUNG:

Apakah kematian menyimpan jawaban

Atas arti kehidupan?

Dari reruntuhan impian,

Aku mengais harapan,

Atas misteri jati diri

Yang tak pernah kutemukan ujungnya.

Air menetes dari ujung daun

Kelopak bunga menyapa semesta

Dan bumi hanyalah serpihan jagad raya

Tapi aku seorang buta

Yang ditelan pusaran waktu

Dan tak tahu lagi apa yang aku cari

 

  Cut to.

 

30.         Beberapa skene pendek. Blues masih terdengar sampai semua adegan selesai. Suara Icung masih terdengar sampai selesainya skene 1

#Skene pendek 1: Int. Ruang kerja Don Marco. Rizal memukul kepala Don Marco. Don jatuh. Ismed dan Joned ketakutan.

#Skene pendek 2: Icung selesai membacakan puisi tadi. Orang-orang bertepuk tangan. Di belakang Icung ada tulisan “SERAH TERIMA JABATAN KETUA PARTAI SEMESTA INDONESIA RAYA. ICUNG FOR PRESIDENT!”

# Skene pendek 3: Icung mengangkat tangan tinggi-tinggi, dan semua orang berdiri bersorak-sorai meneriakkan Icung! Icung!

# Skene pendek 4: Rapat di yayasan ricuh lagi. Tangan-tangan diacungkan untuk interupsi. Wajah ketua yayasan suntuk sekali.

 

31.         Ext. Pinggir jalan. Ayah Rani menyetop taksi. Sebuah taksi menghampiri dan Ayah Rani. Ayah Rani masuk dari pintu belakang.

 

32.         Int. dalam taksi. Ayah Rani menggerutu.

AYAH RANI:

Cuma rapat seperti itu saja satu bulan tidak selesai. Belum dimulai sudah diinterupsi…

 

SOPIR TAKSI:

Ke mana Pak?

 

AYAH RANI:

Panti Pijat “Sudilah mampir ke sini”

 

 

SOPIR TAKSI

Lewat mana Pak? Jalan sebelah sana ditutup karena ada pelantikan orang gila jadi ketua partai. Di sebelah sana banjir…

 

     AYAH RANI KESAL:

Waduh…banjir lagi…banjir lagi…

 

 

 

 

SOPIR TAKSI (menoleh dengan marah):

Interupsi Pak! Interupsi!!! Itulah bedanya politik dengan banjir. Politik isinya kepentingan, sedangkan banjir tak peduli dengan kepentingan. Banjir tidak mengenal like dan dislike, paham?!

 

AYAH DINA GELAGAPAN :

Pppp…ppp…paham!

 

CUT TO.

 

31. int. sebuah kamar pijat. Terlihat dari kolong tempat tidur, sepasang sandal dan sepasang sepatu. Terdengar derit tempat tidur ditimpali suara ayah Rani memanggil-manggil nama “Sri…Sri…mas sudah lama tidak dipijit nih…” Tiba-tiba si tukang pijat ngomong. (KAMERA HANYA MENYOROT SEPASANG SANDAL DAN SEPASANG SEPATU TADI)     

SUARA TUKANG PIJAT:

Sebentar mas…..

Sebentar….

(SUARA DERIT TEMPAT TIDUR BERHENTI)

Interupsi dulu dong….

 

SUARA AYAH RANI KAGET:

Apa katamu?

 

SUARA TUKANG PIJAT:

Interupsi dulu…..

 

Kamera: BANTAL DIBANTING DAN JATUH DI SEBELAH SANDAL. KAKI AYAH RANI TURUN DARI TEMPAT TIDUR. TERBURU-BURU KAKI ITU DIMASUKKAN KE CELANA. DAN TERBURU-BURU PULA KAOS KAKI DAN SEPATU ITU DIANGKAT DAN DIPAKAI. SAMBIL MELAKUKAN ITU, TUKANG PIJAT TERUS BERTANYA, “Kenapa sih Mas?” TAPI TAK ADA JAWABAN. SAMPAI KAKI AYAH RANI KELIHATAN TEGAK BERDIRI DAN MELANGKAH KELUAR. KEMUDIAN TERLIHAT SEPASANG KAKI PEREMPUAN MENGENAKAN SANDAL. PINTU DIBUKA OLEH AYAH RANIs. CUT TO.

 

32. INT. PINTU KAMAR PIJAT. AYAH RANI MENOLEH KE BELAKANG SAMBIL BERKATA DENGAN SEBAL

AYAH RANI:

Jaman apa ini….sedikit-sedikit interupsi!?

AYAH DINA MELANGKAH PERGI. DARI BALIK PINTU TERSEMBUL WAJAH NINA, KAKAK RINO, BENGONG.

 

The end

 

kupandangi langit

 

Hosted by www.Geocities.ws

1