Kumpulan Puisi

[Lelaki Dan Metropolitan]
[Keyakinanku] [Lelaki Kembara] [Bunga]
[Cintailah Dia] [Pentas Kehidupan] [Fatamorgana]
[Alam Mimpi] [Maafkan Janjiku] [Rona Jalanku]
[Di Negrinya] [Bebas] [Kau Pergi]

Lanjut halaman 2

Lelaki Dan Metropolitan

Deru dan debu... Berhamburan dengan sampah-sampah masyarakat... Setiap hari menyebar..., Merayap penuhi jalanan raya... Diantara sebaran-sebaran itu... Kulihat sosok lelaki yang amburadul... Berbaju kumal dan tengik..., Rambutnya serba awut-awutan... Kulitmu hitam legam penuh peluh dan kisut... Oh..., sunguh aneh tapi nyata... Bagai rusa masuk kampung kau sungguh kebingungan... Berjalan hanya mengikuti langkah-langkah kaki..., Yang tak pernah pasti... Wahai mahluk aneh...! Siapakah engkau...? Kulihat kau seperti musyafir..., Yang berjalan dari tempat nun jauh... Bagaimana kuharus memanggilmu...? Yah.., sebaiknya kusebut saja orang muda... Meskipun di wajahmu penuh guratan-guratan..., Bekas perjuangan yang gagal...

Oh..., orang muda... Tahukah engkau bahwa dirimu telah berada di Metropolitan...? Sebuah kota egois panas membakar emosi... Ganas...! penuh persaingan bebas... Sebuah kota di mana kehidupannya..., Sedang dilanda kesenjangan sosial yang nyata... Apa yang kau cari di sini...? Sawah...? ladang...? Hutan yang menghijau...? Atau gunung yang menjulang tinggi...? Semua tak ada di sini... Solidaritas...? persahabatan...? cita dan cinta...? Jangan kau harap ada di sini... Engakau telah terdampar kealam samudra kehidupan..., Di antara karang-karang hitam dan terbiar...

Sesaat kulihat kau tengah berhenti..., Di depan bangunan megah nan menjulang tinggi... Engkau tengadakan wajahmu..., Menatap puncak-puncak kemegahan itu... Dan sejenak kaupun tertegun... Hai..., orang muda yang lusuh... Apa yang sedang kau pikirkan tentang bangunan itu...? Tahukah engkau, bahwa itu adalah Monumen Nasional...? Yang di atasnya dipajang emas murni... Sebagai lambang kekayaan bangsamu... Kulihat kau menggelengkan kepala..., Seperti heran melihat bangunan itu... Kenapa...? Mungkinkah karena engkau melihat masih banyak kaummu..., Yang hidup melarat di bawah garis kemiskinan..., Melarat.., jauh dari kemakmuran seperti engkau...? Kulihat kau mulai melangkah..., Dan melangkah lagi mengikuti sang waktu... Tapi, kenapa kau murung dan bersedih...? Di sini tak perluh bersedih...! Tak seorang pun yang ibah melihatmu... Di sini juga jangan menangis... Sebab telinga mereka telah pekak oleh derunya mekanis... Yang menggerakkan roda-roda pembangunan...

Kulihat kau terus berjalan dan tak pernah bosan... Engkau semakin tak peduli dengan alam sekitarmu..., Yang semakin tak ramah... Api raksasa semakin tegar membakar tubuhmu hingga pudar..., Tapi kau biarkan... Hembusan sang bayu kini hadir..., Memporak porandakan semua asa yang ada..., Termasuk rambutmu yang dulu tersisir rapih... Kini jadi semrawut tidak karu-karuan... Namun semua itu tak pernah kau hiraukan... Yeah..., kemarau saat ini begitu tajam, Kering dan gersang... Tak ada air telaga yang tersisah tuk penghilang dahaga... Tak ada setitik hujan yang turun tuk penyejuk jiwa yang rapuh... Yang ada hanyalah deru dan debu jalanan..., Yang menyesakkan dada..., Dan membuat sakit hati...

Hai orang muda...! Sampai kapan kau harus begitu...? Adakah kau temukan bahagia diantara perjalananmu itu...? Oh..., anak muda... Engkau telah terdampar kedunia egois yang jauh dari sosial..., Jauh dari keramah-tamahan.., Dan jauh dari kesetia kawanan... Begitu banyak mata tak satu pun yang melihatmu... Begitu banyak telinga tak satupun mendengar rintihanmu... Kau sungguh tak dikenal orang di Negri ini...

Hai orang gentayangan, kau memang aneh... Seharusnya engkau berhenti..., Dan istirahat di antara rimbunnya cemara alam... Dan kau nikmati aroma bunga-bunga indah di sekitarnya... Agar kau mengerti makna cinta sejati... Dan kau dengarlah lagu sukma, agar hatimu takkan goyah... Hai orang gentayangan yang amburadul...! Sampai kapankah kau harus berhenti dari petualanganmu...? Adakah engkau mengira hidup ini adalah permainan...? Hingga kau terus bermain-main dan tak pernah serius... Atau engkau menganggap hidup ini adalah perjalanan...? Hingga kau terus berjalan-jalan tanpa kenal henti...

Hai orang kabur kanginan...! Apa sebenarnya yang terjadi pada dirimu...? Hingga kau terpisah jauh dari populasimu..., Jauh dari orang-orang tercinta, dan jauh dari keluarga... Apakah kau lari dari mereka karena kau tersiksa...? Ataukah engkau orang terbuang dari populasi mereka..., Karena kau orang tak punya....? Anak muda... Kau telah jauh melangkah tinggalkan negrimu..., Yang penuh bunga-bunga cinta..., Dan dihiasi bonsai-bonsai desa nan indah... Anak muda... Kembalilah kenegrimu Di mana engkau pernah tinggal dulu... Coba lihat awan di atas langit itu...! Sebentar lagi ia turun sebagai hujan... Disini negri egois, Jangan kau harapkan payung dari mereka... Anak muda...! Kau adalah boca kemarin di hari esok... Namun jangan kau ragu, nikmatilah hari ini apa adanya... Sambutlah hari esok pasti datang menghampirimu... Anak muda, biarkan hidupmu tak dikenal orang... Asalkan kau jauh dari noda dan dosa..., Jauh dari korupsi dan jauh dari manipulasi... Biarlah aku yang akan mengenalmu..., Yang melihatmu... Dan mengikuti langkahmu yang semakin rapuh... Kucatat pita-pita perjalan hidupmu..., Hingga akhir hayatmu... Anak muda..., kau tak perlu tahu siapa aku..., Sebab aku berada dalam dirimu... Cepat atau lambat kau pasti akan mengerti..., Bahwa akulah sahabatmu yang sejati, tanpa pamri... Anak muda..., selamat jalan... Semoga engkau mampu meniti jalan yang telah digariskan untukmu... -----------

Kembali Ke awal
(Leo Krs.)

Keyakinanku

Waktu terus bergulir bergerak maju Langkahpun semakin menjauh, Meninggalkan hari kemarin dan segalanya. Pernah kucoba membuang masa lalu, dalam perjalanan panjang ini, untuk mengikis semua memory pada ruang-ruang direktory, namun sulit kulakukan. Pada saat kusandarkan diri di sisih kesadaran, Kulihat hari-hariku mengalir bagai anak sungai, berliku dan bermuara sampai ke Samudra. Tatkala gelombang datang menghempas, Aku terkapar dalam kebimbangan. Tak tahu, mana yang harus kulakukan...? Membuang masa lalu dan melenyapkannya, atau menyimpan dalam jiwa sebagai kenangan...? Menyesali pertemuan..., Atau mensyukuri kenyataan, dan menerima sebagai anugrah...? Yah..., Padahal semua itu tak pernah menyelesaikan persoalan... Namun keyakinanku membimbingku, Hingga akhirnya aku datang pada dunia baru... Tak tahu apa yang sudah kulakukan, Benar atau salah...? Baik atau buruk...? Aku pasrah... Semua tak kupersoalkan lagi, Dan aku rela.... (Leo Krs)
Kembali Ke awal

Aku Dan Lelaki Kembara

Lelaki itu..., Tatap matanya tajam... Pandangnya jauh kedepan... Bahasanya beragam... Namun senyumnya lebih banyak disembunyikan... Karena dukanya bergelantungan... Lelaki itu adalah pengembara yang masih muda... Datangnya hanya sebatangkara dalam meraih cita... Dengan segudang problema... Namun ia tak pernah mengeluh... Meski dukanya tak redam walau mata di pejamkan... Sunyi dan sepih adalah teman yang sangat dikaribi... Namun ia tak pernah merintih... Walau dukanya datang silih berganti... Lelaki itu sesungguhnya bernama kesabaran... Karena di pundaknya beban terlalu berat... Namun di kakinya langkah semakin tegar... Lelaki itu terus berjalan layaknya petualang... Namun tiba-tiba ia berhenti pada tepian sunyi... Dihelainya nafas panjang-panjang... Air matanya berlinang... Lelaki itu tak tahu harus mengadu duka pada siapa... Tentang hidupnya yang mengenal bahasa kasih... Tentang rindunya yang takterbalas rindu kasi... Tentang segala keinginannya yang tak juga tercurahkan... Lelaki itu sepenuhnya milik penderitaan... Perginya tinggalkan derita buat mencari bahagia... Namun bahagia itu tak memberi hati kepadanya... Lelaki itu sering kali mengutuki dirinya... Mengutuki takdirnya, mengutuki Tuhannya... Bahkan lelaki itu tak percaya kalu dirinya ada... Namun setelah ia mengadukan duka kepadaku... Bebannya berkurang, senyumnya mengembang... Harumnya bertaburan menyentuh sukmaku... Aku tak berdaya... Ketika cintanya menganugra bertahta romansa... Semakin dekat kami rasanya semakin merapat... Berbagai impian semakin lekat kutatap... Namun tiba-tiba jiwanya kembali merintih..., Memanggili kasihnya... Lelaki itu berlari menuju sunyi... Namun sunyinya mati dan sepihnya misteri... Lelaki itu tak lagi punya halusinasi... Lalu ia tenggelamkan dirinya... Pada kegelapan untuk menuju kehampaan... Tak pedulikan tangisku menyerapahi kepergiannya... Tak pedulikan jiwaku menggelegak merintih... Jatuh bangun menggapai tak berdaya... Nyanyi rinduku berputus asa... Lelaki itu terus berjalan tanpa arah... Semakin jauh, semakin kurindu... Namun semakin tak kumengerti... Apa yang sesungguhnya ia cari... Dan pada keletihannya, Lelaki itu terkapar dalam sesal... Namun tak tahu sesal mana yang harus disesalinya... Sebab harapku telah menjadi musnah... Walau kasih yang pernah ditanamkannya, Enggan rasanya untuk sirna... Lelaki itu dengan segenap egonya, Kembali mengutuki dirinya... Mengutuki Tuhannya, mengutuki takdirnya... Dan pada ujung kebosanan, Lelaki itu mengikrarkan kematiannya... Walau maut tak sudi menjemputnya... Lelaki itu hanya pasrah tak berdaya... Pada kepasrahannya, Lelaki itu menemukan titik pemgebaraannya... Menemukan jati dirinya lewat dua bening air mata kekasih... Lelaki itu telah menjadi dirinya sendiri... Sajaknya tak lagi merintih, Sebab dukanya tak lagi mengintari... Senyumnya mengembang berseri... Aku irih,..tuk kembali menitik kasih sebening embun pagi... Tetapi lelaki itu takkan mungkin kembali untuk melukisi sepihku... Yang tak jua mau pergi... Terakhir kudapati, lelaki itu datang penuhi undanganku... Tatap matanya tenang..., senyumnya tenang... Bicaranya tenang..., langkahnya tenang... Lelaki itu penuh dengan ketenangan... Ketika bersapa, "selamat" dan berjabat tangan... Ah, rasanya enggan kulepaskan... Namun harus kulepaskan, walau enggan kulupakan... Lelaki itu menitipkan sajak kepadaku... Kalau ada air mata dalam perjalanan cintamu... Jangan jadikan ia luka... Jadikanlah ia prisma dan pewarna romantika cinta... Terima kasih lelaki kembara... Semula kusangka engkau bakal murka... Namun engkau begitu mulia... ----------------- N2 Leo Perta Leo Krs.

Kembali Ke awal

Bunga

Bunga..., bunga mekar... Menghiasi rumah kaca... Aku menghirup bias aromanya... Indah berkilau tanpa noda... Menari menyambut mentari pagi... Merekah penuh keimanan... Memancar menembus cakrawala jiwa... Bernyanyi tanpa perduli pada sang waktu..., Yang semakin membubung tinggi..., Membawamu ke ufuk Barat...

Tanpa kau sadari mahkotamu semakin pudar... Mengerut dan kisut tanpa karisma... Engkau luruh dan layu... Namun senangkanlah hatimu... Sebab perjalananmu sejak pagi..., Telah mengantarmu kealam senja... Sebuah alam yang mengajak mahluknya..., Untuk istirahat... Dimana engkau telah lelah... Seusai menjalankan tugasmu menyebarkan keharuman... Engkau gulung tajukmu hingga rapi... Karena engkau telah mendapatkan sesuatu..., Yang kau cita-citakan selama ini... Engkau layu sebab engkau bunga sejati..., Bukan bunga plastik yang tak mempunyai keharuman...

Bunga-bunga layu mengotori rumah kaca... Berguguran dihembuskan angin senja... Dan engkau jatuh terkulai kebumi tak berdaya... Namun jangan kau bersedih... Kalaupun engkau gugur..., Berarti engkau telah bermurah hati..., Untuk memberi kesempatan..., Pada yang lain menikmati keindahan... Kalaupun harus gugur..., Engkau gugur bagai bunga pahlawan..., Karena engkau baru berjuang menembus ganasnya alam... Senangkan hatimu..., Sebab tajukmu yang gugur akan menjadi pupuk..., 'Tuk penyubur generasimu tanpa pencemaran tanah... ------------ (Leo Krs.)

Kembali Ke awal

Cintailah Dia

Dia sentiasa bersamamu, Baik suka maupun duka, Baik bahagia maupun derita... Dia tak pernah lalai melindingimu, Dalam tiur tau saatmu terjaga... Dia yang memberimu nafas kehidupan, dari setiap detak-detak nadimu... Dia yang memberimu kesejukan, Mana kala jiwamu dalam gersang... Dia yang menurunkan hujan dari langit, Untuk basahi bumi kekeringan... Tahukah kau siapa Dia...? Dia begitu dekat denganmu, Namun tak pernah kau hiraukan... Dia yang mengiringi langkahmu, Dan memberimu perlindungan, Dalam menempuh perjalanan panjang, Agar kau terhindar dari ganasnya alam, Tapi kau abaikan... Cobalah ingat...? Siapa yang kau renungi di kesendirian malam sepihmu...? Siapa yang hadir dalam benakmu...? Bukankah Dia yang kau sebut dalam sujudmu...? Dialah yang menyayangimu... Cintailah Dia agar tak berakhir dengan air mata... Dan kau temukan bahagia selamanya... Sebab kasihnya tiada pernah henti, Tak perlu kau ragukan lagi... Apa yang patut kau lakukan... Cintailah Dia sepenuh hatimu... (Leo. Krs)

Kembali Ke awal

Pentas Kehidupan

Benarkah aku sudah mati seperti katamu...? Benarkah riwayatku sudah berakhir samapai disini...? Tidak mungkin...!!! Lihatlah mereka datang padaku... Semakin mendekat... Merekalah sahabatku... Masih seperti yang dulu... Heeeiii...!!! Aku disini...!!! Oh..., Kenapa mereka tak melihatku...? Kenapa mereka tak mendengar suaraku...? Oh..., tidak..., tidak...!!! Manusia itu masih saja berteriak-teriak..., Meratapi dirinya yang tak berdaya apa-apa lagi... Begitulah kebanyakan diantara kamu... Menolak takdir sebagai suratan yang sudah ditetapkan... Tidak percaya dengan hal yang gaib... Tidak pernah menyadari kalau hidupnya hanya panggung sandiwara... Sesungguhnya peranmu sudah ditentukan oleh sang Sutradara... dan kau hanya berjalan pada garis-garis sekenarionya... Cobalah lihat ini... Lembaran naska terakhir pada bagian perjalanan kariermu... Pada saat mobilmu menabrak pagar tembok... Kau hembuskan nafasmu yang terakhir... Sejak itulah peranmu pun berakhir sebagai seniman besar..., Yang harus meninggalkan penggemarmu..., Bahkan berpisah dengan kekasihmu yang begitu kau cintai... Akulah yang mencabut peranmu sebagai seorang selebritis..., Dari pentas kehidupan... Yang menanggalkan semua kostum..., Dan lencana yang kau sandang selama ini..., Karena itu tugasku... Aku maklumi, kalau kau belum bisa menerima kenyataan ini..., Itu wajar..., Sebab kau masih terobsesi dengan peranmu..., Yang selama ini kau gandrungi... Sudahlah, jangan kau tangisi masa yang berlalu..., Yang tak mungkin kembali lagi... Tinggallah di sini menunggu peran baru..., Yang mungkin akan kau terima..., Dari Sang pencipta... Aku juga belum tahu peranmu berikutnya sebagai apa... Apakah akan di tampilkan kembali dalam panggung sandiwara..., Dengan peran yang berbeda...? Atau akan diistirahatkan untuk selamanya...? Aku tak tahu, sebab itu bukan urusnku... Tapi urusan Sang Maha Pencipta... Wallahu'alam... --------------- (Leo Krs)

Kembali Ke awal

Fatamorgana

Disetiap detik-detik waktuku... Dan di cela-cela langkahku... Bayangmu senantiasa hadir... Nun jauh di depan sana... Kucoba berlari meraih realita... Untuk tegar merengkuh cita... Namun sia-sia menerpa jiwa... Aku tak berdaya... Dirimu bukanlah nyata... Kini setelah kusadari... Dirirmu telah tak ada..., Aku begitu kehilangan segalanya... Segala yang sesungguhnya sangat kudambakan... Saat kutertegun... Kutatap pucuk-pucuk cemara... Yang melambai dibelai angin..., Bertabur mega... Di sisi pilar-pilar cinta... Kulihat kau ada disana... Namun tak kuasa jiwa menyapa... Sesungguhnya hanya fatamorgana... ------------ (Leo Krs.)
Kembali Ke awal

Alam Mimpi

Selamat malam orang gentayangan... Semoga mimpi indahlah engkau... Dalam tidur panjangmu tuk selama-lamanya..., Agar kau terlepas dari beban derita yang menyelimuti hidupmu, Dan terbebas dari problemah panjang yang merejam... Bukankah apa yang kau alami selama ini tidak lain, Adalah derita dan penuh problema...? Dan semua yang pernah kau anggap indah..., Yang kau temui di cela-cela perjalanan hidupmu..., Itu tidak lain adalah mimpi-mimpi di siang bolong..., Dan tidak bermakna... Semuanya hanya palsu belaka... Pertemuanmu dengan mereka dan dia..., Juga hanya sebuah impian kosong yang sifatnya hanya sekejab saja..., Dan setelah itu semuanya pun menghilang tanpa bekas... Mimpi yang kau alami dalam suasana penuh kebersamaan..., Di antara mereka dan dia, yang penuh canda ceria, penuh suka-suka, Serta dihiasi senyum manisnya..., Jangan kau harapkan kembali hadir..., Dalam mimpi-mimpimu di hari esok... Semuanya sudah berlalu dan biarkan bersemayam di alamnya...

Aku tahu.., walau sesungguhnya kau tak ingin semua itu berlalu, Tak ingin berpisah dengan mereka... Inginmu selalu bersamanya dalam meraih cita... Dan kau tak ingin kehilangan canda ceria dan senyumnya, Dalam setiap derap langkahmu... Tapi apa harus dikata, semua itu sudah garis kehidupanmu, Sudah suratan kau harus begitu... Relahkan hati melepas pergi, jangan ditangisi, jangan di sesali, Yang lalu biarlah berlalu... Syukurilah apa yang terjadi, jangan bersedih..., Tabahkan hati agar jiwamu tentram di alam sana...

Kemudian apa yang akan kau perbuat setelah kau kecewa, Karena apa yang kau harapkan sudah hilang...? Justru apa yang selalu kau cemaskan telah datang menyapamu... Haruskah kau lari dari kenyataan, Dan mengasingkan diri jauh dari mereka...? Dari dia orang yang kau sayang...? Jauh dari keramaian manusia, Dan menyendiri merenungi takdirmu yang penuh kegagalan itu...? Dan melupakan sebuah nama yang pernah kau ukir indah di hatimu...? Dan mengubur segala kenangan, Yang pernah ada bersama mereka tuk selama-lamanya...?

Jika itu yang kau lakukan, Tamatlah sudah petualangan hidupmu tanpa kesan... Kandaslah sudah harapan masa mudahmu, Dalam perjalanan panjang di hempas gelombang kehidupan..., Karam tanpa batu nisan dan terbiar... Sampai disinilah certa cintamu berakhir dengan kegagalan. Tutuplah sudah buku harianmu yang hitam kelam.., Dan jangan di buka lagi... Asa yang kau damba selama ini..., Telah sirna di telan masa yang panjang... Fajar yang kau songsong kiranya senja telah merenggutnya. Kulihat kau masih saja terlelap dalam tidur panjangmu. Mungkin itu lebih baik bagimu dari pada siangmu, Penuh gentayangan kemana-mana tanpa tujuan. Mungkin itu lebih baik..., Agar kau dapat menikmati istirahat panjangmu..., Dan kau temukan arti sebuah kebebasan tanpa problema..., Yang selama ini kau dambakan... Malam semakin larut, sunyi dan sepi... Kuucapkan selamat tidur panjang tuk selama-lamanya... Semoga arwahmu tenang tak lagi gentayangan.., Mengusik kedamaian insan... (Leo Krs.)

Kembali Ke awal

Maafkan Janjiku

Embun pagi masih membeku... Satu-satu menetes basahi bumi... Kau pergi tanpa alas kaki... Kian lama semakin jauh tinggalkan negri... Kau hilang arah perjalanan... Imanmu goyah, tiada lagi keseimbangan... Pandangmu nanar... Langkahmu tersaruk-saruk... Menapak di atas tanah merah... Dan ketika kau terlena pada pandangan..., Kakimu terantuk kerikil-kerikil kecil... Kau tersungkur jatuh kebumi tertindas petaka... Darah mengucur di ujung jarimu..., Bercucuran meronai persada..., Tapi kau biarkan... Kau bangkit kembali... Berdiri di atas kakimu yang tiada tegar..., Coba melangkah, dan melangkah lagi..., Mengikuti sang waktu ke ufuk Barat... Diatas kakimu yang masih goyah..., Bergetaran berlumur darah merah..., Kau melangkah pasrah... Panas mentari membakar bumi..., Menyengat tubuhmu hingga rapu..., Tak kau hiraukan lagi... Tanpa kau sadari, basah kuyup tubuhmu..., Tersembur minyak pelumas alam..., Yang mengalir dari pori-pori kulitmu..., Sejak tadi pagi..., Namun kau abaikan... Dan pada ujung perjalananmu..., Kau terpuruk dalam keletihan..., Bersimpuh di atas tanah merah yang masih basah..., Bertabur bunga-bunga kamboja..., Tanpa batu nisan... Diantara isak tangismu, kau berucap..., "Maafkan daku. Maafkan Janjiku... (Leo Krs)

Kembali Ke awal

Rona Jalanku

Dengan hati yang masih bergetar, Kucoba melangkah dan melangkah lagi... Menembus waktu, diantara jalanku... Terik mantari membakar bumi, Mengiringi sepanjang jalanku, Yang tak tentu arah dan tujuan... Debu-debu berhamburan, batu berserakan... Jalan yang kulalui semakin jauh..., Kering, gersang dan penuh liku... Terik mentari tak bosannya membakar bumi..., Kini menimpah kulitku yang bening hingga legam.., Tapi biarlah... Dengan nafasku yang masih tersengal-sengal..., Kubawah tubuh lemah lunglai ini..., Bernaung di bawah pohon kamboja... Pohon itu kering..., Seakan mengharapkan turunnya hujan dari langit... Kuarahkan jauh pandanganku kedepan... Terarah pada pucuk-pucuk cemara..., Yang bergoyang-goyang menyapa awan... Sepih disekitarku masih terasa amat mencekam..., Tanpa basa basi lagi... Di antara rona hidup ini..., Aku terbayang lagi pada masa laluku..., Masa yang tak lepas dari belenggu, yang mengikat jiwaku... Detik-detik kulalui hidup ini, sendiri tanpa dirimu... Meskipun esok belum pasti dan masih penuh teka-teki..., Aku tak perduli... Aku harus tabah menjalani realita hidup ini... Hanya satu yang kupinta darimu ya Rabbi... Rodho-Mu... Ridhoilah jalanku... Ridhoilah semua apa yang telah Engkau berikan ini... Agar hamaba tentram dalam menempu perjlanan panajang...

Kembali Ke awal

Di Negrinya Ia Tak Di Cintai

Sejak mentari memancarkan sinar..., Di muka negri yang damai itu... Ia sudah tak dihormati... Perjuanganmu tak kenal lelah..., Membelah persada dengan suka rela... Semangatnya berkobar sampai tetes dara yang penghabisan... Ia korbankan... Tak rela walau sejengkal tanah airnya direbut penjajah... Dengan sebila pedang di tangannya... Ia maju ke Medan perang... Semua tewas...! musnah...! di tembus timah panas... Tinggal dirinya dengan sebelah kakinya yang masih tersisah... Hilang semua handai tolan... Tak adalagi sanak saudara... Tingal sendiri tanpa saksi... Sebatang kara..., mengembara terlunta-lunta... Bagai sampah-sampah jalanan... Mencari nafka selalu dicela...

Di negrinya ia tak di pandang lagi... Bagai petualang berlalau lalang diantara binatang jalang... Ia lalui padang nan gersang..., Mencari air 'tuk sejukkan jiwa dahaga... Namun tak ada telaga yang suka rela...

Di negrinya ia tak di cintai kini... Semua orang benci..., menghindari... Mengutuki dirinya.., di caci dan dimaki... Aku tak mengerti... Padahal ia anak negri..., Saudaranya sendiri...

Di negrinya kini ia tak pernah tentram... Jiwanya menggeliat gelisah... Alamnya sudah tak ramah..., Panas membakar amarah... Di lihatnya di antara pengusaha raksasa... Sudah tak di temukan lagi bangsanya... Jiwanya bertanya..., "Apakah ini penjajah masa kini...? Zaman sudah berubah perang pun berbeda... Dan aku sudah renta..."

Di negrinya lalu ia frustasi..., Tak lagi punya ambisi... Cita cintanya sudah hilang... Tiada lagi yang di harapkan... Lalu jiwanya mati beku...

Di negrinya ia tak lagi bersuara... Lidahnya kelu terbelenggu sang waktu... Tak mampu berbicara walau sepatah-kata... Kini hanya diam dan tenggelam dalam kebisuan... Hingga akhir hayatnya tiba... (Leo. Krs.)

Kembali Ke awal

Bebas

Bebas...!!! Lihatlah... Aku terbang bebas... Mengarungi cakrawala... Tanpa belenggu... Tanpa ikatan... Dengan kedua sayapku... Menari di atas mega... Menggapai cita... Indahnya sejuta pesona... Demi petualangan cita dan cita... Aku akan terus terbang dan terbang lagi... Sampai suatu saat nanti... Aku begitu lelah dan berhenti... Tuk mengepakkan sayap-sayap kecilku... Di saat itulah..., Aku akan hinggap pada sekuntum bunga..., Sebelum senja... Dimana telah kutemukan segalanya... Hingga aku enggan tuk terbang lagi... (Leo. Krs)

Kembali Ke awal

Kau Pergi

Entah dari mana asalmu..., Dan siapakah dirimu, aku tak tahu... Kau hadir di depanku..., Dengan senyum manismu... Lembut suaramu menyapa..., Sejukkan jiwa nan hampa... Sekian lama sudah berlalu..., Kita jalani bersama..., Penuh canada, tawa ceria..., Namun aku salah langkah dalam bertutur kata... Kau terluka... Begitu pekanya hatimu..., Tipis bagai kulit ari, yang mudah tergores elegi... Jika kutahu dari awalnya..., Mungkin tak kusentuh hatimu..., Dan kubiarkan saja mengalir tanpa duka cita... Oh...! Kusesali pertemuan itu..., Yang akhirnya membuatmu kecewa... Andai pertemuan itu tak pernah terjadi..., Mungkin luka itu takkan ada dalam jiwa kembara... Bahkan rinduku pun tak pernah ada... Tak kusangka dendammu membara... Hingga pada saat kepergianmu..., Tak dapat memaapkan salahku... Kau diam membisu... Melintas disisiku tanpa kata, tanpa melihatku... Pandangmu jauh, menatap cakrawala lepas..., Di ujung sana... Sampai hati kau lakukan itu di saatku tak berdaya... Kau pergi... Tak pedulikan jiwaku merintih menyesali... Tak pedulikan air mata ini jatuh berderai basahi pipi... Kau berlalu bagai sang bayu..., Tanpa menyibakkan rambutku... Kian lama, kian jauh dari pandanganku... Dan semakin samar kutatap..., Menghilang di telan bumi..., Dan tak pernah kembali... ---------------------- (Leo Krs.)

Kembali Ke awal

Lanjut
Hosted by www.Geocities.ws

1