Semuanya adalah Kasih Karunia
Kesaksian : John Adisubrata <[email protected]>

 



Dedicated To THE ONE I Love
'Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau. Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa' (Yeremia 1: 5)

Saya menulis kesaksian ini sebagai dedikasi saya pribadi kepada Tuhan, Pencipta alam semesta ini, yang karena begitu besar kasihNya kepada kita, telah mengorbankan AnakNya yang tunggal sebagai Penebus dosa2 kita, agar supaya siapa yang percaya kepadaNya janganlah binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Segala Pujian, Kehormatan dan Kemuliaan saya berikan kepada Tuhan, sebab hanya Dialah saja yang berhak menerima pujian dan persembahan kita.

Melalui kesaksian ini, saya ingin menyampaikan tentang 'Kebenaran dan Kebesaran Kasih Karunia' Tuhan kepada kita, yang tercantum di dalam FirmanNya, dan yang telah dibuktikan olehNya sendiri kepada saya dan keluarga saya, pada tanggal 30 Maret 1997 yang lalu.

Saya berharap, agar kesaksian sederhana ini menjadi berkat bagi setiap orang yang membacanya, dan dapat menjangkau, bukan saja kepada yang sudah pernah mendengar, mengetahui, bahkan mengenal Tuhan kita, Yesus Kristus, tetapi juga kepada yang belum pernah mendengar tentang Dia dan kasih setiaNya. Biarlah kesaksian ini juga menguatkan iman saudara2 yang lain, yang sudah mempunyai 'Personal Relationship' dengan Dia, Tuhan kita yang perkasa.

The Lost Sheep
'Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, ...............; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.' (Yehezkiel 34: 16)

Saya adalah anak terbungsu dari 5 bersaudara. Kami sekeluarga hidup dengan rukun, saling mengasihi dan berbahagia, keluarga yang menganut agama Kristen Protestan dengan setia. Sejak kanak2 saya sudah dibaptis dan menjadi anggota dari salah satu aliran Gereja Protestan yang jaringan 'network'-nya sangat besar di Indonesia.

Kedua orang tua saya aktif bekerja di Gereja lokal kami. Selama ber-puluh2 tahun mereka melayani, baik secara bergantian sebagai Penatua Gereja di sana, maupun di bidang Perkabaran Injil untuk daerah2 terpencil di sekitar kota dimana kami bertempat tinggal.

Semenjak kecil saya sudah mendapat pengaruh yang besar dari kehidupan Kristen keluarga kami. Saya menyadari bahwa Tuhan itu betul2 'ada', tetapi saya sendiri tidak pernah merasakan 'kebenaran' itu. Pergi ke Gereja merupakan sesuatu hal yang rutin, karena 'harus' ikut dengan keluarga yang 'hanya' setiap hari minggu pergi beribadah.

Pengetahuan saya tentang Firman Tuhan hampir 'nol'! Selain mengetahui isi Firman Tuhan dari kotbah2 di Gereja saja, saya juga hanya mendapat informasi2 tentang isi Firman Tuhan melalui Pelajaran Agama di sekolah, dan kadang2 dari Sekolah Minggu. Pengetahuan saya tentang makna Alkitab yang sebenarnya pada waktu itu amatlah dangkal. Mengetahui tentang Adam dan Hawa, Nabi Nuh, Musa, Yusuf, Daniel, dan lain2nya, dan juga tentang Tuhan Yesus, hanyalah sekedar informasi se-akan2 mereka adalah figur2 sejarah belaka.

Karena pengaruh ajaran aliran agama Kristen yang kami ikuti, saya mengerti (dan percaya), bahwa segala mujizat2, seperti: Kesembuhan, Kepenuhan Roh Kudus, Anugerah Berbahasa Lidah, Karunia Untuk Bernubuat, Pengusiran Setan dllnya hanyalah terjadi di jaman dahulu saja, yaitu pada jaman kehidupan Yesus, dan pada jaman kehidupan para Rasul2-Nya.

The Prodigal Son
'Ke mana aku dapat pergi menjauhi rohMu, ke mana aku dapat lari dari hadapanMu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati di situpun Engkau' (Mazmur 139: 7-8)

Sebagai seorang mahasiswa yang belajar dan tinggal di Jerman, saya pernah terlibat di dalam sebuah organisasi mahasiswa2 luar negeri seluruh Jerman di kota Aachen. Di sana saya pernah menjabat sebagai sekretaris dan juga sebagai ketua dari organisasi ini, yang didukung dan diasuh oleh sebuah Badan Katholik di Jerman. Karena hubungan yang dekat dengan 'Pater' Katholik ini (Pendeta pengasuhnya) selama ber-tahun2, disebabkan urusan organisasi ini, saya menjadi ikut belajar tentang kepercayaan agama Katholik di sana.

Perkumpulan ini amat mementingkan kehidupan bersosialisasi dan menuntun mahasiswa2 asing seperti saya untuk belajar berorganisasi, tetapi tidak memperhatikan kehidupan kerohanian kami sama sekali. Saya ikut ber-hurra2 di sana, tetapi 'deep within me' saya menjadi lebih 'disillusion', sebab kebutuhan2 rohani saya juga tidak terpenuhi di tempat ini. 

Sementara saya masih aktif di dalam organisasi ini, saya melihat kehidupan 'suam2-kuku' dari orang2 yang seharusnya menjadi teladan bagi kami, dan bagaimana mereka pada saat itu menghalalkan banyak hal demi 'kedamaian semu' di antara para anggota perkumpulan ini.

Ketidak puasan dan kekecewaan melihat semua yang terjadi di sekeliling saya, menyebabkan saya menjadi terlibat selama hampir 2 tahun di dalam pengajaran Saksi Yehova. Melalui merekalah sebenarnya saya mulai mengetahui tentang 'isi' Alkitab (mereka). Dengan rajin, sabar dan setia mereka mengajar saya, menelaah Alkitab versi mereka secara rutin. Bahkan kadang kala saya ikut pergi ke 'Gereja' mereka. Pada waktu itu saya merasa, bahwa mereka sangat ber-sungguh2 di dalam pelayanan mereka, dan saya juga mengagumi akan 'pengetahuan' mereka tentang Firman Tuhan.

Sekarang saya baru menyadarinya, bahwa sebenarnya dahulu itu saya sudah mempunyai kerinduan untuk 'mencari dan mengenal' Tuhan, Pencipta yang mengasihi saya. Hanya sayangnya, pada waktu itu lingkungan saya tidak pernah memberikan kesempatan tersebut kepada saya. Dan mungkin juga, karena saat itu saya terlampau 'naive' untuk menyadari hal tersebut.

Pada akhirnya tanpa saya sadari, saya menerima ajaran2 yang salah dan amat berlawanan dengan ajaran Firman Tuhan yang sebenarnya. Salah satu dari ajaran2 yang mereka berikan kepada saya, adalah penolakan mereka akan adanya 'neraka'. Ajaran inilah yang akhirnya benar2 mempengaruhi diri saya untuk mengambil keputusan untuk meninggalkan Tuhan sama sekali.

Saya mulai mengikuti arus kehidupan dosa yang sudah dihalalkan oleh dunia ....., sementara saya masih aktif berorganisasi di perkumpulan Katholik ini.

Tahun2 berlalu dengan cepat tanpa terasa ...............

Sementara saya masih 'berkelana' di dalam dunia yang cemar ini, orang tua saya tetap melayani dengan sungguh2 di Gereja Lokal kami dan tetap setia menabur benih2 kasih di ladang Tuhan. Dan dengan rajin mereka membawa setiap anak2 mereka di dalam doa2 mereka kepada Tuhan.

Di sini makna 'kuasa doa' telah dibuktikan oleh Tuhan sendiri kepada saya. Tuhan telah mendengar doa 'orang2 benar' yang dinaikan untuk saya.

Saya mempunyai keyakinan amat besar, bahwa doa2 mereka untuk saya dan benih2 kasih yang mereka tabur dengan setia itu ternyata tidak sia2 saja. Saya yang menuai di dalam kehidupan saya, buah2 hasil dari pohon2 yang mereka tanam itu!

Tanpa sebenarnya merasa 'layak' untuk menerima berkat ini, saya dikaruniai oleh Tuhan seorang istri yang sudah semenjak kecil mengasihiNya dengan sungguh2! Pasukan 'pahlawan2 pendoa syafaat' untuk saya menjadi bertambah.

Dan hal2 ini ....., pada waktu itu tentu saja tidak saya sadari sama sekali.

Entah berapa tahun istri saya berdoa untuk pertobatan saya, dan ternyata akhirnya ........., Tuhan mengabulkan permohonannya ini. Dengan tidak tanggung2, Tuhan mengirim 'timNya' untuk 'memanggil' saya ....!!

Di sinilah kisah keajaiban kasih karunia Tuhan yang hendak saya ceritakan kepada saudara2 semua ini dimulai .........

Keajaiban Kasih Karunia: "The True Worshipers: Voice Of A Generation"
'Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita,' (Kolose 2: 13)

Menjelang akhir Maret 1997, sebuah rombongan dari Indonesia telah datang ke Australia, yaitu rombongan yang terdiri dari dua grup2 pemusik yang bernama VOG (Voice of Generation) dan True Worship(p)ers, yang akan memberikan konser2 musik Kristiani di kota2 Sydney, Brisbane dan Perth. Mereka datang ke Brisbane atas undangan seorang Pendeta dari sebuah Gereja Indonesia pertama di kota ini, yang adalah Gereja yang beraliran Pantekosta-Kharismatik. Mereka memberikan konser di sana pada hari Sabtu malam, tanggal 29 Maret 1997, dan juga esok harinya, hari Minggu, tanggal 30 Maret, mereka diminta untuk melayani kebaktian di Gereja tersebut, berhubungan dengan hari jadi ke 6 Gereja Indonesia ini.

Melalui persekutuan wanita Gereja itu, di mana istri saya sejak beberapa minggu sebelumnya terlibat sebagai salah satu anggota di sana, istri saya mendapat tawaran untuk membeli undangan konser musik ini. Pada mulanya, sewaktu istri saya mengajak kami sekeluarga untuk hadir di konser ini, dengan tegas saya menolak. Alasannya: Sebab saya tidak menyukai lagu2 rohani, yang 'diwaktu itu' menurut saya adalah musik yang kurang menarik dan membosankan.

Seminggu sebelum tanggal konser tersebut, saya tetap bersikeras menunjukkan sikap yang acuh dan ogah-ogahan terhadap ajakan keluarga saya ini. Tetapi sesuatu hal yang aneh terjadi, karena tiba2 ada 'suara' yang menegur di dalam hati saya, untuk melunakkan pendirian saya yang keras tersebut: "....., dari pada kamu tinggal di rumah sendirian saja di malam Minggu, kan lebih baik jika kamu ikut pergi ke sana juga ........"

Akhirnya dengan perasaan yang masih 'mengomel', saya menyetujui juga untuk mengantar keluarga saya menonton konser musik rohani ini.

Untuk hari jadi Gereja tersebut, yaitu kebaktian di hari Minggu pagi, besok harinya, istri saya mendapat tugas untuk membuat kue sus sebanyak 100 biji. Karena itu, di hari Sabtu siangnya, saya membantu istri saya untuk membuat isi kue sus ini (custard-nya), dimana diperlukan kesabaran untuk mengaduk custard ini secara rata di atas kompor, supaya tidak ada bagian2 yang tidak halus di dalamnya. Maklum, di Australia tidak ada sistem yang dinamakan 'Pembantu Rumah Tangga'. Semua harus kami hadapi dan harus kami kerjakan sendiri.

Kami hampir terlambat untuk pergi ke konser ini, disebabkan oleh karena persiapan kami membuat kue sus untuk esok harinya itu. Saya tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri saya sendiri. Dengan ter-gesa2 saya berganti pakaian dan langsung berangkat dengan keluarga ke 'Brisbane City Hall', dimana konser ini akan berlangsung. Saya pergi dengan tidak membawa harapan apa-apa, selain untuk melewati malam itu dengan musik hidangan grup2 Indonesia yang tidak saya kenal sama sekali, bahkan waktu itu, terus terang saja, saya tidak ingin mengenal mereka .........!

Saya sendiri adalah seorang pemain musik amatiran, yang sewaktu masa 'single' saya, senang bermain musik (gitar), ikut2an sebagai penyanyi Band2 di sekolah saya. Di Jerman saya dengan teman2 pemusik yang lain sering tampil sebagai sebuah grup pemain musik di pertemuan2 perkumpulan mahasiswa asing ini, baik di kota Aachen maupun di tempat2 yang lain. Kebanyakan kami menyanyikan lagu2 sekuler yang lagi 'ngetop' di dunia musik saat itu.

Saya sedari masih anak2 memang sudah senang untuk mengikuti setiap perkembangan yang terjadi di dalam dunia musik populer, terutama musik2 Pop dan Rock. Library musik saya lengkap, dari piringan2 hitam, kasette2 dan yang terakhir musik2 CD. Sebagai bukti untuk asuransi isi rumah kami, saya mempunyai daftar lengkap untuk kumpulan koleksi dari kurang lebih 500 CD2 saya, dari A (ABBA, ....) sampai Z (....., ZZ Top). Harga CD di Australia sangat tinggi (satu CD harganya Aus$ 30), sehingga CD termasuk barang2 luxorious. Untuk mengasuransikan, diperlukan daftar yang lengkap.

Saya tidak pernah tertarik untuk mendengarkan lagu2 rohani yang dimiliki oleh istri saya, sejak kami menikah. Saya sering mengomentarinya dengan sinis, bahwa lagu2 tersebut 'boring' banget, dan (maaf) kedengarannya agak 'kampungan' ........

Tapi itu adalah pendapat saya ...... dulu, sebelum saya bertemu dengan Tuhan Yesus secara pribadi!

Sentuhan Dari Surga: "They're Not Bad At All"
'..., dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaku.' (Yohanes 12: 32)

Ternyata sewaktu mengikuti konser itu, saya mengakui, bahwa musik yang dibawakan oleh kedua grup2 ini sangat bagus dan profesional sekali. Sayangnya, bagi saya musik dan lagu2 yang dibawakan oleh mereka agak asing. Tentu disebabkan karena saya tidak pernah mendengar lagu2 rohani seperti ini. Artis-artisnya mefokuskan diri mereka untuk menjadi saksi2 Kristus di malam tersebut, dengan mempersembahkan talenta2 mereka masing2.

Saya tidak pernah menyadari, bahwa lagu2 rohani bisa dibawakan secara 'contemporary' oleh artis2 masa kini. Nama artis2 ini tidak pernah saya dengar. Menurut istri saya, di antara beberapa artis2 yang hadir di sana, hanya ada satu nama yang pernah didengarnya, yaitu Nindy Ellise. Yang lain2nya, seperti Franky Sihombing, Sidney Mohede, Fiona Likumahua, Tellio, dan juga nama pemusik2nya, adalah nama2 yang pertama kali kami dengar malam itu.

Konsernya cukup laku, penuh dengan penonton2: orang2 Indonesia, orang2 Indo-Belanda, beberapa orang2 Australia, dan juga beberapa pelajar2/mahasiswa2 dari negara2 lain. Yang amat mengherankan adalah: konser musik itu juga dihadiri oleh banyak orang2 Indonesia yang beragama Islam. Tuhan tentu mempunyai suatu rencana tertentu ......

Malam itu saya mendengarkan kesaksian2 dari artis2 ini, menyaksikan bagaimana sikap mereka sewaktu membawakan lagu2 mereka, dan memperhatikan bagaimana mereka ber-sungguh2 memuji Tuhan. Terus terang saja, saya agak ter-heran2, sebab saya tidak pernah melihat hal2 seperti ini sebelumnya. Hati saya sebenarnya ikut terharu, tapi yah ....., saya pikir, ini kan hanya sebuah konser yang profesional saja, besok saya pasti sudah melupakannya lagi! Kan saya tidak pernah tertarik dengan lagu2 semacam ini ......!?

Sekarang, dengan mengingat kembali akan acara konser itu, saya menjadi yakin, bahwa di malam itu ada banyak orang2 yang secara tidak langsung terpengaruh dan terjamah hatinya oleh hadirat Tuhan melalui artis2 ini. Ada yang mungkin baru kelak, diwaktu yang akan datang, akan menyadari pengaruh konser ini di dalam kehidupan mereka. 

Malam itu kassette2 dan T-Shirts dari kedua grup2 ini dipromosikan dan dijual. Saya ingat dengan jelas sekali akan komentar saya pada waktu itu kepada istri saya: ".... terserah kamu, kalau kamu mau beli, sebab kamu yang akan mendengarkannya, aku 'nggak bakalan ndengerin lagu2 macam begitu ...."

For My Thoughts Are Not Your Thoughts
'Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.' (Amsal 19: 21)

Malam itu kami tiba di rumah kurang lebih jam 10. Istri saya segera melanjutkan membuat isi kue sus itu lagi, sampai tengah malam. Kami memutuskan, agar besok harinya kami bangun jam 5 pagi, untuk mempersiapkan membuat kulit kue sus ini.

Istri saya sudah memperhitungkannya dengan cermat, bahwa kira2 jam 10 pagi, semuanya akan selesai. Istri saya yang mendapat didikan secara Belanda langsung dari ibunya, adalah seorang yang sangat teliti dan tepat dengan 'time management'-nya. Sebagai seorang yang terdidik seperti itu, semuanya selalu diperhitungkannya dengan seksama, sehingga waktunya selalu tepat seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Apalagi ia sudah sering, bahkan berpengalaman dalam membuat kue sus.

Minggu malamnya (tanggal 30 Maret), kami harus menghadiri arisan di rumah seorang teman istri saya, yang mengadakan pertemuan arisan itu bertepatan dengan perayaan hari ulang tahun anaknya. Disebabkan oleh karena acara2 yang ber-turut2 dari hari Sabtu malam (konser) sampai hari Minggu malam (arisan/HUT), kami menjadi kuatir, kalau anak kami yang pada waktu itu baru berumur 5 tahun, menjadi terlampau lelah. Karena itu kami memutuskan untuk tidak hadir di kebaktian dan perayaan hari jadi Gereja Indonesia tersebut.

Saya pada waktu itu memang kurang senang untuk hadir di Gereja Indonesia ini, disebabkan oleh banyak 'reasons' tertentu yang membuat saya ini 'anti pati' sekali dengan Gereja ini. Lalu kami memutuskan untuk menitipkan kue sus ini kepada ibu yang telah memesannya dari kami.

Keajaiban Pertama: "The 'Kue Sus' Tragedy"
'Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan rohKu, firman Tuhan semesta alam.' (Zakharia 4: 6b)

Pagi itu keajaiban yang luar biasa mulai terjadi di dalam dapur kami. Pengovenan kulit kue sus yang sudah diperhitungkan dengan cermat, yang seharusnya selesai jam 10 pagi itu, ternyata tahap terakhir, masih harus masuk ke dalam oven jam 11.15, berarti kue ini baru akan selesai kira2 jam 12.15 siang. Istri saya yang ter-heran2 mengeluh kepada saya: "..... Kok aneh banget, bisa begitu lama, padahal biasanya selalu selesai seperti yang sudah aku perhitungkan ........"

Perlu saya tekankan, bahwa mengoven kulit kue sus tidaklah mudah, sebab jika tidak menurut peraturannya, kulit kue sus ini tidak bisa berkembang atau mekar seperti yang seharusnya, dan akan menjadi 'bantat', sehingga tidak bisa dipakai sama sekali. Karena itu diperlukan waktu dan temperatur yang amat akurat! Istri saya menjadi bingung, mengapa bisa menjadi seperti ini? Waktu yang harus ditempuh di dalam oven ternyata menjadi berlipat ganda, sebab kulit kue sus ini tidak mau merekah menurut waktu yang seperti biasanya ....

Sewaktu itu, kami tidak mengerti, bahwa ada sesuatu hal 'supranatural' yang lagi terjadi di dalam dapur kami ini ......... 

Istri saya menelpon temannya, untuk menanyakan, apakah mereka bisa menunggu titipan kue ini. Tetapi ibu ini mengatakan, bahwa mereka harus berangkat jam 11.30, sebab anak gadisnya yang ikut main drama, harus latihan dahulu dengan grupnya di Gereja, sebelum dipentaskan di sana hari itu. Istri saya merasakan, bahwa ibu ini sangat kecewa, sewaktu mendengar bahwa kami tidak akan hadir siang itu. Kami tidak mengetahui, bahwa pada saat itu ibu ini lagi berdoa untuk kami sekeluarga .......

Keajaiban Kedua: "The Power Of Prayers"
'Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya' (Yakobus 5: 16b)

Kemudian istri saya mengusulkan kepada saya, agar kami pergi mengantarkan kue2 ini secara pribadi ke Gereja, sebab menurut dia, jika kami sudah menerima tugas tersebut, kami harus bertanggung jawab dan menyelesaikannya dengan baik.

Tepat seperti sewaktu saya diajak pergi ke konser musik malam sebelumnya, saya 'memprotest' usul ini dengan tegas ....... Saya menolak untuk pergi mengantarkan kue2 ini dengan alasan, bahwa saya tidak menyukai Gereja tersebut, dan juga alasan2 lain yang saya beberkan kepadanya. Tetapi akhirnya dengan bijaksana ia berkata: "Ya udah, kalau kamu enggak mau kita pergi ke sana menghadiri perayaannya, ya 'nggak apa2, asal kamu sendiri aja yang pergi 'nganterin kue2 ini. Setelah itu kamu bisa langsung pulang ....."

Sekali lagi sambil 'ngomel' di dalam hati, saya menyetujui usulnya untuk mengantarkan kue sus ini ke sana. 

Pada waktu itu, sementara istri saya 'baking' kue2 sus ini, saya mendapat tugas untuk membantu menyeterika pakaian2 yang sudah ber-minggu2 dicuci, tetapi belum sempat dilicinkan, yang telah ber-tumpuk2 banyaknya. Ketika saya menyeterika pakaian2 itu, kembali 'suara' yang sama berkata di dalam hati saya: " .... kamu kan tahu, kalau istrimu sebenarnya ingin pergi ke perayaan Gereja itu ..... Kalau kamu toh harus 'ngantarkan ke sana, apakah tidak lebih baik, kalau kamu mengajak keluargamu pergi juga, sekalian merayakan pesta hari jadi ke 6 Gereja ini?"

Pada waktu itu tetap saya belum mengerti dan mengetahui suara siapa gerangan yang saya dengar di dalam hati saya ini .....!?

Setelah memberitahu istri saya tentang perubahan keputusan saya yang tiba2 itu, istri saya langsung menelpon ibu itu lagi, yang pada waktu itu dengan keluarganya sudah hendak berangkat, untuk mengatakan, bahwa kami sekeluarga akan mengantarkan kue2 sus tersebut, dan kami akan hadir di perayaan hari jadi Gereja Indonesia itu.

Tanpa sepengetahuan kami, sesudah istri saya menelpon dia yang pertama kali pagi tadi, ibu itu ternyata berdoa untuk kami lagi, meminta kepada Tuhan, agar kami mau merubah keputusan kami dan mau hadir di perayaan Gerejanya. Ibu itu berkata kepada istri saya dengan gembira dan penuh keyakinan: ".....Ini pasti Tuhan mempunyai suatu rencana ...." Ia amat bersukacita mengetahui, bahwa kami telah berubah pikiran, dan mau hadir di sana.

Setelah semua ini berlalu dan terjadi, baru saya mengerti dan menyadari, betapa pentingnya doa, dan 'kuasa doa' orang2 benar. Alkitab mengatakan, bahwa doa orang2 yang benar mempunyai kuasa, dan jika mereka memintanya dengan iman yang besar, doa2 mereka bisa mengubah suasana. Tetapi semuanya itu tentu harus sesuai dengan 'kehendak' Bapa kita di Surga ..........

Seperti yang sudah saya tulis di atas, pada waktu itu saya masih saja belum mengerti.........!

Keajaiban Ketiga: "The Presence Of The Mighty One"
'segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang.' (Wahyu 4: 2) 

Gereja ini tempatnya termasuk cukup jauh dari rumah kami. Kebaktian mereka setiap minggu dimulai jam 1 siang, dan biasanya berlangsung kira2 2 jam lebih. Kami agak terlambat tiba di sana, yaitu kurang lebih jam 1.15. Kami dengan ramah disambut dan diantar ke tempat duduk kami oleh para ushers yang bertugas siang itu. Kami memilih untuk duduk di deretan tempat duduk yang paling kanan ruangan (ada 3 deret), dan termasuk jauh di belakang.

Gerejanya penuh sekali, sebab kedatangan artis2 VOG dan True Worshippers ini amat menarik tamu2 lain untuk hadir, yang sebenarnya bukan anggota regular Gereja ini. Mereka pada waktu itu sedang membawakan lagu2 Puji dan Sembah, dimana saya dapat mengenal, bahwa mereka menyanyikan beberapa lagu2 yang semalam telah mereka sajikan.

Hari itu, sewaktu kami memasuki ruangan Gereja itu, saya merasakan ada sesuatu yang amat asing terjadi, baik di dalam ruangan Gereja itu (atmospherenya) maupun di dalam diri saya sendiri.

Saya tidak bisa melukiskan dengan kata2, apa yang sedang 'bergejolak' di dalam hati saya. Saya merasa aneh dan asing sekali, dan saya bisa melihat seperti ada 'sesuatu' yang me-layang2 di dalam ruangan di sana, tetapi entah apa? Ruangan Gereja itu seperti diliputi oleh suatu kabut yang tidak kelihatan (seperti asap rokok yang tebal), tetapi bisa saya rasakan.

Dan tentu saja seperti hal2 yang terjadi sebelumnya, pada waktu itu saya masih belum mengerti akan apa yang saat itu sedang (dan akan) terjadi bagi diri saya dan 'impact' sesudahnya bagi keluarga saya .......

Keajaiban Keempat: "The Lord's Prayer"
'Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milikMu' (Yohanes 16: 9)

Sewaktu pengkotbahnya, yaitu Bapak Jeffrey Rachmat, pemimpin dari rombongan ini, menyuruh penyanyi Fiona Likumahua untuk menyanyikan lagu 'The Lord's Prayer', terjadilah sesuatu yang aneh dan memuncak di dalam diri saya. Suara Fiona yang indah dan sangat keras itu (disebabkan oleh karena peralatan musik mereka), tiba2 saja menyebabkan sesuatu yang sangat asing 'bergejolak' di dalam hati saya, badan saya terasa aneh, seperti meriang tapi bukan, sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan.

Suara Fiona yang sudah penuh dengan 'power' melalui peralatan musik yang sempurna itu, tiba2 saja terganti oleh suara yang datang dari jarak yang amat jauh. Suara itu jauh lebih indah lagi, seperti suara entah dari berapa ribu malaikat yang sedang menyanyikan syair doa yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita semua: 'Doa Bapa Kami.'

Keindahan suara ini tidak bisa saya terangkan dengan kata2 apapun yang ada diperbendaharaan kata2 yang saya miliki, di dalam bahasa apapun yang saya ketahui. Saya merasa sangat 'moved', sepertinya saya ini lagi 'diangkat' ke suatu alam yang lain. Saya merasakan seperti ada '....... sesuatu .......' yang hendak memenuhi 'diri' saya pada waktu itu ......, atau mungkinkah memenuhi 'hati' saya .......?!

Tetapi tentu saja, pada saat itu saya masih saja belum mengerti ........!

Pada waktu itu pikiran manusiawi saya mengingatkan diri saya: "....... Eh, entar kamu malu lho, kalau terjadi apa2. Entar semua kirain kamu udah jadi sinting ....! Kan malu2in aja ...." Karena itu saya memutuskan untuk melawan 'situasi' saya tersebut, dengan berhasrat untuk meninggalkan ruangan Gereja itu. Alasan saya pada waktu itu ialah, untuk mencari anak saya yang sedang bermain dengan teman2 sebayanya di ruangan yang lain.

Lalu sesuatu hal ajaib yang lain terjadi, sebelum saya berhasil beranjak pergi dari tempat duduk saya, mendadak seperti 'keselekan' saya menjadi ter-batuk2 kurang lebih 5 kali, dan ternyata 'sensasi' yang sedang saya alami tersebut mendadak hilang lenyap dan berhenti total.

Kurang lebih sejam kemudian, sesudah Bpk Jeffrey Rachmat selesai berkotbah, beliau menantang orang2 yang hendak memberikan hidup mereka kepada Tuhan Yesus untuk maju ke depan. Tentu saja sebagai seorang Kristen KTP yang telah dididik secara aliran 'mainstream' Protestan di Indonesia, dan juga setiap minggu pergi ke Gereja yang sealiran itu di Brisbane, 'altar call' adalah sesuatu yang baru dan aneh bagi saya. Pada waktu itu saya hanya berpikir: "....Apa2an sih ini...?"

Tapi saya menjadi heran, ketika menyaksikan bahwa cukup banyak orang2 yang mau maju ke depan. Mereka didoakan oleh Bpk Jeffrey dan hamba2 Tuhan yang lain, dan saya melihat banyak orang yang berjatuhan di depan altar. Sebenarnya ada 'suara' di dalam hati saya yang menganjurkan saya untuk maju ke depan juga, tetapi dengan tegas sekali saya tolak dan saya tentang! Istri saya yang berdiri di sebelah saya tidak menyadari sama sekali tentang situasi yang sedang terjadi di dalam diri saya.

Karena 'malu', saya sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk memberitahukan hal ini kepada istri saya, padahal biasanya, segala sesuatu yang ada di dalam pikiran saya selalu langsung saya bagikan dengannya. Kami berdua tidak pernah merahasiakan apa2. Ia yang berdiri disebelah kanan saya, sebenarnya sudah lama sebelumnya juga tergerak hatinya, dan meneteskan air matanya secara diam2.

Keajaiban Kelima: "Amazing Grace"
'Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri' (Efesus 2: 8-9)

Di antara para artis2 adalah seorang 'guest' penyanyi dari Holland, yang bernama Tellio, seorang anak muda yang (pada waktu itu) baru berumur 21 tahun. Ia adalah seorang sahabat dari Bpk Jeffrey Rachmat, yang saat itu berada di Indonesia, dan diajak untuk mengikuti tour konser ke Australia ini.

Tellio mulai menyanyikan lagu 'Amazing Grace' sewaktu altar call siang itu. Tellio yang sebenarnya adalah seorang keturunan Suriname, bermukim di negeri Belanda. Ia mempunyai suara yang sangat indah dan 'powerful' sekali. Saya dapat mengenali banyak 'influence' dari Stevie Wonder di dalam tehnik suaranya itu. Tellio yang masih begitu muda, telah menyerahkan hidupnya 100% untuk Kristus.

Siang itu mungkin tanpa ia sadari sendiri, kurang lebih jam 2.30an Roh Kudus mencurahkan 'special anointing' melalui anak muda ini ........, sebab Tuhan sedang memakai Tellio secara ajaib untuk 'memanggil' saya.

Ia menyanyi lagu ini sambil berjalan kian kemari di atas altar Gereja. Kemudian sambil tetap menyanyikan syair dari lagu 'Amazing Grace' ini secara ber-ulang2, ia melangkah turun dari atas altar dan mulai berjalan di antara para jemaat, yang sedang berdiri di depan. Per-lahan2 Tellio berjalan diantara lorong tempat duduk yang di sebelah kiri ruangan, di antara para jemaat yang sedang berdiri di depan kursi mereka.

Setelah itu ia berjalan di lorong sebelah kanan ruangan, ke arah dimana kami berada. Tellio berjalan mondar-mandir di dekat kami, dan aneh sekali, seperti diperintah oleh Roh Kudus, ia berhenti di sebelah dimana saya berdiri, untuk sejenak ......, lalu datang menghampiri istri saya, yang pada saat itu sedang memejamkan matanya. Semua itu saya perhatikan dengan seksama, sebab mata saya saat itu terbuka lebar.

Pada waktu itu saya tidak mengerti, mengapa ia datang, memberkati dengan memegang kening istri saya. Tellio tetap menyanyikan lagu itu sambil sekaligus juga berdoa untuk istri saya ini, yang tetap saja memejamkan matanya. Sebab istri saya berdiri di sebelah kanan saya, Tellio harus melewati saya, yang berdiri tepat di sebelah lorong jalan itu.

Sambil memundurkan diri saya sedikit ke belakang, agar dia tidak menyentuh tubuh saya, saya memperhatikan Tellio yang sedang menyanyi dan berdoa di depan saya ini. Suara aslinya terdengar jelas sekali di telinga saya (sebab jarak yang dekat ini), tercampur dengan suaranya yang keras lewat loudspeakers Gereja itu. Maklumlah, sebab ia berdiri hanya kurang lebih 10 cm di depan saya!

Tiba-tiba 'sensasi' yang saya alami sebelumnya itu mulai terulang lagi, persis seperti pada saat Fiona menyanyikan lagu 'The Lord's Prayer'. Pada waktu Tellio mengulangi entah untuk keberapa kalinya syair ini: 

'.....Amazing Grace, how sweet the sound,
that saved a wretch like me,
I once was lost, but now I'm found,
was blind but now I see....',

mendadak suaranya yang keras di depan saya ini menjadi seperti suara yang datang dari suatu jarak yang amat jauh.

Suara Tellio yang bagus itu seperti terganti oleh suara yang jauh lebih indah lagi, yaitu seperti suara dari entah berapa ribu malaikat Tuhan yang sedang mengalunkan suara mereka.

Lagu Amazing Grace ini sudah sering saya nyanyikan sendiri, bahkan saya hafal dengan 2 bait2 pertama dari lagu ini. Dan saya mempunyai banyak CD2, kassette2, bahkan piringan2 hitam dari artis2 dunia yang berisikan cover versions dari lagu ini, yang sering kali saya dengarkan. Tetapi anehnya, syair dari lagu ini tidak pernah mempunyai arti apa2 bagi saya, sampai pada hari itu, hari Minggu, tanggal 30 Maret 1997, kira2 jam 2.30 siang.

Syair lagu ini tiba2 saja mempunyai arti yang dalam sekali bagi diri saya, dan seperti pedang yang amat tajam, kata2 ini menembus hati saya, dan menghancurkan keseluruhan pribadi diri saya.

Bersambung

Index

Hosted by www.Geocities.ws

1