|
TRIASTUTI : Hilangnya Kehormatan ( part 2 )
Tiba-tiba Mr. Gulam melepaskan diri, kemudian bangkit berdiri di depan Tri yang
masih terduduk di tepi meja, ditariknya Tri dari atas meja dan kemudian Mr.
Gulam gantian bersandar pada tepi meja dan kedua tangannya menekan bahu Tri ke
bawah, sehingga sekarang posisi Tri berjongkok di antara kedua kaki berbulu Mr.
Gulam dan kepalanya tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya. Tri sudah tahu
apa yang diinginkan Mr. Gulam, namun tanpa sempat berpikir lagi, tangan Mr.
Gulam telah meraih belakang kepala Tri dan dibawa mendekati kejantanan Mr.
Gulam, yang sungguh luar biasa itu.
Tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari Tri, kepala penis Mr. Gulam telah
terjepit di antara kedua bibir mungil Tri, yang dengan terpaksa dicobanya
membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Tri mulai mengulum alat vital Mr. Gulam ke
dalam mulutnya, hingga membuat lelaki India itu melek merem keenakan. Benda itu
hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Tri yang
kecil, itupun sudah terasa penuh benar. Tri hampir sesak nafas dibuatnya.
Kelihatan Tri bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu
keluar masuk ke dalam mulutnya. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap
kali lidah Tri menyapu kepalanya.
Beberapa saat kemudian Mr. Gulam melepaskan diri, ia mengangkat badan Tri yang
terasa sangat ringan itu dan membaringkan di atas meja dengan pantat Tri
terletak di tepi meja, kaki kiri Tri diangkatnya agak melebar ke samping, di
pinggir pinggang lelaki tersebut. Kemudian Mr. Gulam mulai berusaha memasuki
tubuh Tri. Tangan kanan Mr. Gulam menggenggam batang penisnya yang besar itu dan
kepala penisnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada clitoris dan bibir
kemaluan Tri, hingga Tri merintih-rintih kenikmatan dan badannya
tersentak-sentak. Mr. Gulam terus berusaha menekan senjatanya ke dalam kemaluan
Tri yang memang sudah sangat basah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran
penis Mr. Gulam yang besar itu.
Pelahan-lahan kepala penis Mr. Gulam itu menerobos masuk membelah bibir kemaluan
Tri. Ketika kepala penis lelaki India itu menempel pada bibir kemaluannya, Tri
merasa kaget ketika menyadari saluran vaginanya ternyata panas dan basah. Ia
berusaha memahami kondisi itu, namun semua pikirannya segera lenyap, ketika
lelaki itu memainkan kepala penisnya pada bibir kemaluannya yang menimbulkan
suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam keadaan Tri
yang sedang gamang dan gelisah itu, dengan kasar Mr. Gulam tiba-tiba menekan
pantatnya kuat-kuat ke depan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul
Tri, rambut lebat pada pangkal penis lelaki tersebut mengesek pada kedua paha
bagian atas dan bibir kemaluan Tri yang makin membuatnya kegelian, sedangkan
seluruh batang penisnya amblas ke dalam liang vagina Tri. Dengan tak kuasa
menahan diri, dari mulut Tri terdengar jeritan halus tertahan, "Aduuuh!..,
ooooooohh.., aahh", disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua
tangan Tri mencengkeram dengan kuat pinggang Mr. Gulam. Perasaan sensasi luar
biasa bercampur sedikit pedih menguasai diri Tri, hingga badannya mengejang
beberapa detik.
Mr. Gulam cukup mengerti keadaan Tri, ketika dia selesai memasukkan seluruh
batang penisnya, dia memberi kesempatan kemaluan Tri untuk bisa menyesuaikan
dengan penisnya yang besar itu. Tri mulai bisa menguasai diri. Beberapa saat
kemudian Mr. Gulam mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian
makin lama semakin cepat. Seterusnya pinggul lelaki India itu bergerak dengan
kecepatan tinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Tri berusaha
memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan hebat
akibat dorongan dan tarikan penis lelaki tersebut pada kemaluannya, giginya
bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas meja. Tri
mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan
melihat wajah gelap lelaki India yang sedang menatapnya, dengan takjub. Tri
berusaha bernafas dan �:" "Paak..., aahh..., ooohh..., ssshh",
sementara pria tersebut terus menyetubuhinya dengan ganas.
Tri sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Mr. Gulam menggerakkan
tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding liang vaginanya, sungguh membuat Tri
melayang-layang dalam sensasi kenikmatan yang belum pernah dia alami. Setiap
kali Mr. Gulam menarik penisnya keluar, Tri merasa seakan-akan sebagian dari
badannya turut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Mr. Gulam
menekan masuk penisnya ke dalam vagina Tri, maka klitoris Tri terjepit pada
batang penis Mr. Gulam dan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang
penis Mr. Gulam yang berurat itu. Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang
dahsyat, yang mengakibatkan seluruh badan Tri menggeliat dan terlonjak, sampai
badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan
dengan kata-kata.
Lelaki tersebut terus menyetubuhi Tri dengan cara itu. Sementara tangannya yang
lain tidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian dada Tri
dan meremas-remas kedua payudara Tri secara bergantian. Tri dapat merasakan
puting susunya sudah sangat mengeras, runcing dan kaku. Tri bisa melihat
bagaimana batang penis yang hitam besar dari lelaki India itu keluar masuk ke
dalam liang kemaluannya yang sempit. Tri selalu menahan nafas ketika benda itu
menusuk ke dalamnya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung ukuran penis Mr.
Gulam yang super besar itu. Tri menghitung-hitung detik-detik yang berlalu, ia
berharap lelaki India itu segera mencapai klimaksnya, namun harapannya itu tak
kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong
dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuat lelaki itu segera
mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi Mr.
Gulam terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.
Lalu tiba-tiba Tri merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, sesuatu yang
tidak pernah dia rasakan ketika bersetubuh dengan pacarnya, rasanya seperti ada
kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit di dalamnya, perasaan yang tidak
diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam
kenikmatan. Tri merasa dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air,
dengan gleiser di dalam vaginanya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya.
Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami
orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Ia ingin menangis karena tidak ingin itu
terjadi dalam suatu persetubuhan yang sebenarnya ia tidak rela, yang merupakan
suatu perkosaan itu. Ia yakin sebentar lagi ia akan ditaklukan secara total oleh
monster India itu. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram tepi meja, ia
menggigit bibirnya, memohon akal sehatnya yang sudah kacau balau untuk mengambil
alih dan tidak membiarkan vaginanya menyerah dalam suatu penyerahan total.
Tri berusaha untuk tidak menanggapi lagi. Ia memiringkan kepalanya, berjuang
untuk tidak memikirkan percumbuan lelaki tersebut yang luar biasa. Akan
tetapi..., tidak bisa, ini terlalu nikmat..., proses menuju klimaks rasanya
tidak dapat terbendung lagi. Orgasmenya tinggal beberapa detik lagi, dengan
sisa-sisa kesadaran yang ada Tri masih mencoba mengingatkan dirinya bahwa ini
adalah suatu pemerkosaan yang brutal yang sedang dialaminya dan tak pantas kalau
dia turut menikmatinya, akan tetapi bagian dalam vaginanya menghianatinya dengan
mengirimkan signal-signal yang sama sekali berlawanan dengan keinginannya itu,
Tri merasa sangat tersiksa karena harus menahan diri.
Akhirnya sesuatu melintas pada pikirannya, buat apa menahan diri?, Supaya
membuat laki-laki ini puas atau menang?, persetan, akhirnya Tri membiarkan diri
terbuai dan larut dalam tuntutan badannya dan terdengar erangan panjang keluar
dari mulutnya yang mungil, "Ooooh..., ooooooh..., aahhmm...,
ssstthh!". Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang
serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya
naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak
dan..., akhirnya larut dalam orgasme total yang dengan dahsyat melandanya,
diikuti dengan suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya
merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan. Tri terkulai
lemas tak berdaya di atas meja dengan kedua tangannya terentang dan pahanya
terkangkang lebar-lebar dimana penis hitam besar Mr. Gulam tetap terjepit di
dalam liang vaginanya.
Selama proses orgasme yang dialami Tri ini berlangsung, memberikan suatu
kenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Mr. Gulam, dimana penisnya yang masih
terbenam dan terjepit di dalam liang vagina Tri dan merasakan suatu sensasi luar
biasa, batang penisnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut
licin yang terasa mengurut-urut seluruha penisnya, terlebih-lebih pada bagian
kepala penisnya setiap terjadi kontraksi pada dinding vagina Tri, yang diakhiri
dengan siraman cairan panas. Perasaan Mr. Gulam seakan-akan menggila melihat Tri
yang begitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya
dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kuning
langsat mungil itu menjepit dengan ketat batang penisnya yang hitam besar itu.
Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Mr. Gulam membalik tubuh Tri yang
telah lemas itu hingga sekarang Tri setengah berdiri tertelungkup di meja dengan
kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah Mr. Gulam.
Mr. Gulam ingin melakukan doggy style rupanya. Tangan lelaki India itu kini
lebih leluasa meremas-remas kedua buah payudara Tri yang kini menggantung ke
bawah. Dengan kedua kaki setengah tertekuk, secara perlahan-lahan lelaki
tersebut menggosok-gosok kepala penisnya yang telah licin oleh cairan pelumas
yang keluar dari dalam vagina Tri pada permukaan lubang anus Tri yang
menimbulkan suatu sentakan kejutan pada seluruh badan Tri, kemudian menempatkan
kepala penisnya pada bibir kemaluan Tri dari belakang.
Dengan sedikit dorongan, kepala penis tersebut membelah dan terjepit dengan kuat
oleh bibir-bibir kemaluan Tri. Kedua tangan Mr. Gulam memegang pinggul Tri dan
mengangkatnya sedikit ke atas sehingga posisi bagian bawah badan Tri tidak
terletak pada meja lagi, hanya kedua tangannya yang masih bertumpu pada meja.
Kedua kaki Tri dikaitkan pada paha laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut
menarik pinggul Tri ke arahnya, berbarengan dengan mendorong pantatnya ke depan,
sehingga disertai keluhan panjang yang keluar dari mulut Tri,
"Oooooooh!", penis laki-laki tersebut menerobos masuk ke dalam liang
vaginanya dan Mr. Gulam terus menekan pantatnya sehingga perutnya yang bebulu
lebat itu menempel ketat pada pantat Tri yang setengah terangkat. Selanjutnya
dengan ganasnya Mr. Gulam memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil
mulutnya mendesis-desis keenakan merasakan penisnya terjepit dan tergesek-gesek
di dalam lubang vagina Tri yang ketat itu. Sebagai seorang wanita Jawa yang
setiap hari minum jamu, Tri memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh. Tapi
bahkan kini Tri kewalahan menghadapi Mr. Gulam yang ganas dan kuat itu.
Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia
melakukan aktivitasnya dengan tempo permainan yang masih tetap tinggi dan
semangat tetap menggebu-gebu.
Kemudian Mr. Gulam merubah posisi permainan, dengan duduk di kursi yang tidak
berlengan dan Tri ditariknya duduk menghadap sambil mengangkang pada pangkuan
Mr. Gulam. Mr. Gulam menempatkan penisnya pada bibir kemaluan Tri dan
mendorongnya sehingga kepala penisnya masuk terjepit dalam liang kewanitaan Tri,
sedangkan tangan kiri Mr. Gulam memeluk pinggul Tri dan menariknya merapat pada
badannya, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti penis Mr. Gulam menerobos
masuk ke dalam kemaluan Tri. Tangan kanan Mr. Gulam memeluk punggung Tri dan
menekannya rapat-rapat hingga kini badan Tri melekat pada badan Mr. Gulam. Kedua
buah dada Tri terjepit pada dada Mr. Gulam yang berambut lebat itu dan
menimbulkan perasaan geli yang amat sangat pada kedua puting susunya setiap kali
bergesekan dengan rambut dada Mr. Gulam. Kepala Tri tertengadah ke atas, pasrah
dengan matanya setengah terkatup menahan kenikmatan yang melandanya sehingga
dengan bebasnya mulut Mr. Gulam bisa melumat bibir Tri yang agak basah terbuka
itu.
Tri mulai memacu dan terus menggoyang pinggulnya, memutar-mutar ke kiri dan ke
kanan serta melingkar, sehingga penis yang besar itu seakan mengaduk-aduk dalam
vaginanya sampai terasa di perutnya. Tak berselang kemudian, Tri merasaka
sesuatu yang sebentar lagi akan kembali melandanya. Terus..., terus..., Tri tak
peduli lagi dengan gerakannya yang agak brutal ataupun suaranya yang
kadang-kadang memekik lirih menahan rasa yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks
itu datang lagi, Tri tak peduli lagi, "Aaduuuh..., eeeehm", Tri
memekik lirih sambil menjambak rambut laki-laki yang memeluknya dengan kencang
itu. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya mengejang, terhentak-hentak di atas
pangkuan Mr. Gulam. Sungguh hebat rasa kenikmatan orgasme kedua yang melanda
dirinya. Sungguh ironi memang, gadis ayu yang lemah gemulai itu mendapatkan
kenikmatan seperti ini bukan dengan kekasihnya, akan tetapi dengan orang asing
yang sedang memperkosanya.
Kemudian kembali laki-laki itu menggendong dan meletakkan Tri di atas meja
dengan pantat Tri terletak pada tepi meja dan kedua kakinya terjulur ke lantai.
Mr. Gulam mengambil posisi diantara kedua paha Tri yang ditariknya mengangkang,
dan dengan tangan kanannya menuntun penisnya ke dalam lubang vagina Tri yang
telah siap di depannya. Laki-laki itu mendorong penisnya masuk ke dalam dan
menekan badannya setengah menindih tubuh Tri yang telah pasrah oleh
kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh lelaki tersebut. Mr. Gulam memacu
keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar,
sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh
membasahi sekujur tubuhnya dan tubuh Tri yang terkapar lemas di atas meja.
Sementara lelaki India itu terus berpacu diantara kedua paha Tri, badan gadis
itu terlonjak-lonjak mengikuti tekanan dan tarikan penis lelaki tersebut. Tri
benar-benar telah KO dan dibuat permainan sesukanya oleh si India yang perkasa
itu. Tri kini benar-benar tidak berdaya, hanya erangan-erangan halus yang keluar
dari mulutnya disertai pandangan memelas sayu, kedua tangannya mencengkeram tepi
meja untuk menjaga keseimbangannya. Lelaki itu melihat ke arah jam yang terletak
di dinding ruangan kerja tersebut, jam telah menunjukan pukul 13.40, berarti
telah 1 jam 40 menit dia menggarap gadis ayu tersebut dan sekarang dia merasa
sesuatu dorongan yang keras seakan-akan mendesak dari dalam penisnya yang
menimbulkan perasaan geli pada ujung penisnya.
Lelaki tersebut mengeram panjang dengan suara tertahan, "Agh...,
terus", dan disertai dengan suatu dorongan kuat, pinggulnya menekan habis
pada pinggul gadis yang telah tidak berdaya itu, sehingga buah pelirnya menempel
ketat pada lubang anus Tri dan batang penisnya yang besar dan panjang itu
terbenam seluruhnya di dalam liang vagina Tri. Dengan suatu lenguhan panjang,
"Sssh..., ooooh!", sambil membuat gerakan-gerakan memutar pantatnya,
lelaki India tersebut merasakan denyutan-denyutan kenikmatan yang diakibatkan
oleh semprotan air maninya ke dalam vagina Tri. Ada kurang lebih lima detik
lelaki tersebut tertelungkup di atas badan gadis ayu tersebut, dengan seluruh
tubuhnya bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme yang dahsyat itu. Dan pada
saat yang bersamaan Tri yang telah terkapar lemas tak berdaya itu merasakan
suatu semprotan hangat dari pancaran cairan kental hangat lelaki tersebut yang
menyiram ke seluruh rongga vaginanya. Tubuh lelaki India itu bergetar hebat di
atas tubuh gadis ayu itu.
Setelah kurang lebih 3 menit keduanya memasuki masa tenang dengan posisi
tersebut, secara perlahan-lahan Mr. Gulam bangun dari atas badan Tri, mengambil
tissue yang berada di samping meja kerja dan mulai membersihkan ceceran air
maninya yang mengalir keluar dari bibir kemaluan Tri. Setelah bersih Mr. Gulam
menarik tubuh Tri yang masih terkapar lemas di atas meja untuk berdiri dan
memasang kembali kancing-kancing bajunya yang terbuka. Setelah merapikan baju
dan celananya, Mr. Gulam menarik badan Tri dengan lembut ke arahnya dan memeluk
dengan mesra sambil berbisk ke telinga Tri, "Maafkan saya manis..., terima
kasih atas apa yang telah kau berikan tadi, biarpun kudapat itu dengan sedikit
paksaan!", kemudian dengan cepat Mr. Gulam Singh keluar dari ruangan kerja
Tri dan membuka pintu keluar yang tadinya dikunci, setelah itu cepat-cepat
kembali ke lantai 26. Jam menunjukan 13.55.
Sepeninggalan Mr. Gulam, Tri terduduk lemas di kursinya, seakan-akan tidak
percaya atas kejadian yang baru saja dialaminya. Seluruh badannya terasa lemas
tak bertenaga, terbesit perasaan malu dalam dirinya, karena dalam hati kecilnya
dia mengakui turut merasakan suatu kenikmatan yang belum pernah dialami serta
dibayangkannya. Kini hal yang diimpikannya benar-benar menjadi kenyataan. Dalam
pikirannya timbul pertanyaan apakah bisa? sepuas tadi bila dia berhubungan
dengan pacarnya, setelah mengalami persetubuhan yang sensasional itu.
TAMAT
|