|
TRIASTUTI : Hilangnya Kehormatan ( part 1 )
Triastuti bekerja sebagai sekretaris pada suatu
group perusahaan besar di Jakarta. Kantornya terletak di bilangan daerah kelas
satu, yaitu di jalan Jenderal Sudirman, di sebuah gedung bertingkat. Perusahaan
tempat Tri bekerja, memakai 3 lantai penuh yaitu lantai 24, 25 dan 26 dari
gedung tersebut. Ketiga lantai tersebut dihubungi dengan tangga khusus yang
sengaja dibuat di bagian dalam dari perkantoran tersebut, untuk memudahkan
hubungan antar perusahaan di group tersebut, tanpa mempergunakan lift. Kantor
Tri terletak di lantai 25, dan ruangan tempat Tri bekerja terletak agak
berdekatan dengan tangga penghubung ke lantai 24 dan 26.
Di tempat perusahaan-perusahaan lain dalam satu group, terdapat beberapa orang
asing yang bekerja sebagai tenaga ahli dan kebanyakan mereka berkantor di lantai
26. Mereka ada yang berasal dari Philipina dan ada juga dari India serta
Pakistan.
Sudah menjadi kebiasaan di kantor Tri di lantai 25, apabila setiap jam
istirahat, yaitu dari jam 12 sampai jam 2 siang, maka para karyawan termasuk
para pimpinan perusahaan keluar makan siang sehingga suasana di lantai 25 sangat
sepi, hanya ditunggui oleh satpam yang duduk di depan pintu luar dekat lift,
sambil juga bertindak sebagai operator sementara setiap jam istirahat. Akan
tetapi sudah menjadi kebiasaan sejak Tri mulai bekerja di kantor tersebut 4
bulan lalu, Tri lebih sering istirahat sambil makan makanan yang dibawa dari
rumahnya, di ruang kerjanya sendirian. Hal ini rupanya sudah sejak lama
diperhatikan oleh Mr. Gulam Singh, salah seorang tenaga ahli berasal dari India,
yang bekerja di lantai 26. Mr. Gulam sering turun melalui tangga apabila dia
pergi ke bagian pemasaran yang terletak di ruangan sebelah barat di lantai 25,
sedangkan ruangan tempat Tri bekerja dan tangga penghubung terletak di ujung
sebelah Timur lantai 25. Mr. Gulam sangat tertarik melihat Tri, karena Tri yang
berumur 28 tahun, adalah seorang gadis Jawa, yang sangat cantik.
Dapat digambarkan sosok Triastuti adalah gadis bertampang Jawa, yang sangat
cantik dan manis, dengan kulit agak kuning langsat, tinggi badan sekitar 165 cm,
potongan muka manis, agak memanjang dengan rambut hitam bergelombang terurai
sampai bahu. Badannya tinggi semampai dapat dikatakan kurus dengan berat badan
sekitar 47 kg, dadanya agak rata hanya terlihat tonjolan buah dadanya yang
kecil, sedangkan pinggangnya amat langsing dengan perut yang rata, pinggulnya
serasi dengan pantatnya yang kecil tapi padat. Tungkai pahanya dan kakinya
terlihat panjang serasi dengan bentuk badannya. Apabila berjalan badannya
terlihat sangat gemulai dan pembawaan Tri terlihat sangat kalem malah dapat
dikatakan malu-malu. Mr. Gulam sendiri adalah seorang pria berumur mendekati 40
tahun, bekulit gelap dengan badan tinggi 178 cm dan besar, sedangkan kedua
tangannya kekar terlihat berbulu lebat, apalagi pada bagian dada dan kakinya.
Kedua pahanya terlihat sangat gempal.
Tri memang agak risih juga terhadap Mr. Gulam, karena setiap kali Mr. Gulam
lewat depan ruangannya, Mr. Gulam selalu melirik dan melempar senyum kepada Tri
dan kalau kebetulan Tri tidak melihat keluar, maka Mr. Gulam akan mendehem atau
membuat gerakan-gerakan yang menimbulkan suara, sehingga Tri akan terpancing
untuk melihat keluar. Tri agak ngeri juga melihat tampang Mr. Gulam yang
berewokan itu dengan badannya yang gelap dan tinggi besar. Tri telah mempunyai
pacar, yang orang Jawa juga dan badan pacarnya agak ceking dan tidak terlalu
tinggi, kurang lebih sama tingginya dengan Tri.
Sampai pada suatu hari, pada hari itu Tri ke kantor mengenakan baju terusan mini
berwarna coklat muda yang memakai kancing depan dari atas sampai batas perut.
Seperti biasa tepat jam 12 siang, para karyawan dan boss di lantai 25 sudah pada
keluar kantor, sehingga di lantai 25 hanya tinggal Tri sendiri yang sedang makan
siang di ruangannya. Tiba-tiba Mr. Gulam melintas di depan ruangan Tri dan terus
menuju ke bagian ruangan sebelah barat. Tapi seluruh lantai 25 ternyata kosong,
semua karyawan telah keluar makan siang. Begitu melintas di pintu keluar
satu-satunya yang menuju lift, Mr. Gulam memutar kunci pada pintu keluar yang
tertutup. Setelah itu Mr. Gulam kembali menuju ke ruangan Tri yang terletak di
ujung Timur itu. Secara perlahan-lahan Mr. Gulam mendekati ruangan Tri dan
mengintip ke dalam, Tri sedang duduk membelakangi pintu menghadap ke jendela
kaca sambil makan.
Secara perlahan-lahan Mr. Gulam masuk ke dalam ruangan kerja Tri dan langsung
mengunci pintunya dari dalam. Mendengar suara pintu terkunci Tri menoleh ke
belakang dan, tiba-tiba mukanya menjadi pucat. Dia segera berdiri dari tempat
duduknya sambil berkata, "Sir, apa-apaan ini, kenapa anda masuk ke ruangan
saya dan mengunci pintunya?", tapi Mr. Gulam hanya memandang Tri dengan
tersenyum tanpa berkata apa-apa. Tri semakin panik dan berkata, "Harap anda
segera keluar atau saya akan berteriak!". Tapi dengan kalem Mr. Gulam
berkata, "silakan saja nona manis.., apabila anda mau menimbulkan skandal
dan setiap orang di gedung ini akan mempergunjingkan kamu selama-lamanya".
Mendengar itu Tri yang pada dasarnya agak pemalu menjadi ngeri juga akan
akibatnya apabila ia berteriak. Bagaimana dia akan menaruh mukanya di hadapan
teman-temannya sekantor apabila terjadi skandal.
Sementara Tri berada dalam keadaan ragu-ragu, dengan cepat Mr. Gulam berjalan
medekat ke arah Tri dan karena ruangan kerja Tri yang sempit itu, begitu Tri
akan mundur untuk menghindar, dia langsung kepepet pada meja kerja yang berada
di belakangnya. Dengan cepat kedua tangan Mr. Gulam yang penuh dengan bulu
tersebut memeluk badan Tri yang ramping dan mendekap Tri ke tubuhnya. Karena
badan Tri yang sangat langsing dan dapat dikatakan tinggi kurus itu, lelaki
tersebut merasakan seakan-akan memeluk kapas dan sangat ringkih sehingga harus
diperlakukan dengan sangat lembut dan hati-hati.
Mr. Gulam memegang kedua lengan bagian atas Tri dekat bahu, sambil mendorong
badan Tri hingga tersandar pada meja kerja, kemudian Mr. Gulam mengangkat badan
Tri dengan gampang dan sangat hati-hati dan mendudukkannya di atas meja kerja
Tri, kemudian kedua tangan Tri diletakan di belakang badan Tri dan dipegang
dengan tangan kirinya. Badan Mr. Gulam dirapatkan diantara kedua kaki Tri yang
tergantung di tepi meja dan paha Mr. Gulam yang sebelah kiri menekan rapat pada
tepi meja sehingga kedua paha Tri terbuka. Tangan kiri Mr. Gulam yang memegang
kedua tangan Tri di belakang badan Tri ditekan pada bagian pantat Tri ke depan,
sehingga badan Tri yang sedang duduk di tepi meja, terdorong dan kemaluan Tri
melekat rapat pada paha sebelah kiri Mr. Gulam yang berdiri menyamping di depan
Tri.
Tangan kanan Mr. Gulam yang bebas dengan cepat mulai membuka kancing-kancing
depan baju terusan yang dikenakan Tri. Badan Tri hanya bisa menggeliat-geliat,
"Jangan..., jangan lakukan itu!, stoooppp..., stoopppp", akan tetapi
Mr. Gulam tetap melanjutkan aksinya itu. Sebentar saja baju bagian depan Tri
telah terbuka, sehingga kelihatan dadanya yang kecil mungil itu ditutupi dengan
BH yang berwarna putih bergerak naik turun mengikuti irama nafasnya. Perutnya
yang rata dan mulus itu terlihat sangat mulus dan merangsang. Tangan kanan Mr.
Gulam bergerak ke belakang badan Tri dan membuka pengait BH Tri. Kemudian Mr.
Gulam menarik ke atas BH Tri dan..., sekarang terpampang kedua buah dada Tri
yang kecil mungil sangat mulus dengan putingnya yang coklat muda agak tegang
naik turun dengan cepat karena nafas Tri yang tidak teratur. "Oooohh...,
ooohh..., jaanggaannn..., jaannnggaann!". Erangan Tri tidak dipedulikan
oleh pria tersebut, malah mulut Mr. Gulam mulai mencium belakang telinga Tri dan
lidahnya bermain-main di dalam kuping Tri. Hal ini menimbulkan perasaan yang
sangat geli, yang menyebabkan badan Tri menggeliat-geliat dan tak terasa Tri
mulai terangsang juga oleh permainan Mr. Gulam ini.
Mulut Mr. Gulam berpindah dan melumat bibir Tri dengan ganas, lidahnya
bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut Tri dan menggelitik-gelitik lidah Tri.
"aahh..., hmm..., hhmm", terdengar suara mengguman dari mulut Tri yang
tersumbat oleh mulut Mr. Gulam. Badan Tri yang tadinya tegang mulai agak
melemas, mulut Mr. Gulam sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu
Tri turun ke leher, kepala Tri tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang
terlanjang melengkung ke depan, ke arah Mr. Gulam, payudaranya yang kecil mungil
tapi bulat kencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki India tersebut.
Mr. Gulam langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah payudara
Tri, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian.
Mulanya buah dada Tri yang sebelah kanan menjadi sasaran mulut Mr. Gulam. Buah
dada Tri yang kecil mungil itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Mr. Gulam
yang mulai mengisap-isapnya dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting buah
dada Tri yang segera bereaksi menjadi keras. Terasa sesak napas Tri menerima
permainan Mr. Gulam yang lihai itu. Badan Tri terasa makin lemas dan dari
mulutnya terus terdengar erangan, "Sssshh..., ssssshh..., aahh..., aahh...,
ssshh..., sssshh..., jangaann..., diiteeruussiinn", mulut Mr. Gulam terus
berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan
mejilat-jilat kedua puting buah dada Tri secara bergantian selama kurang lebih
lima menit.
Badan Tri benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam
pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras. Dalam keadaan terlena itu
tiba-tiba badan Tri tersentak, karena dia merasakan tangan Mr. Gulam mulai
mengelus-elus pahanya yang terbuka karena baju mininya telah terangkat sampai
pangkal pahanya. Tri mencoba menggeliat, badan dan kedua kakinya
digerak-gerakkan untuk mencoba menghindari tangan lelaki tersebut beroperasi di
pahanya, akan tetapi karena badan dan kedua tangannya terkunci oleh Mr. Gulam,
maka dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang hanya dapat dilakukan oleh Tri adalah
hanya mengerang, "Jaanngaannnn..., jaannngggannn...,
diitteeerruusiin", akan tetapi suaranya semakin lemah saja.
Melihat kondisi Tri seperti itu, Mr. Gulam yang telah berpengalaman, yakin bahwa
gadis ayu ini telah berada dalam genggamannya. Aktivitas tangan Mr. Gulam makin
ditingkatkan, terus bermain-main di paha Tri yang mulus itu dan secara
perlahan-lahan merambat ke atas dan, tiba-tiba jarinya menyentuh bibir kemaluan
Tri. Segera badan Tri tersentak dan, "aahh..., jaannggaan!", mula-mula
hanya ujung jari telunjuk Mr. Gulam yang mengelus-elus bibir kemaluan Tri yang
tertutup CD, akan tetapi tak lama kemudian tangan kanan Mr. Gulam menarik CD Tri
dan memaksanya lepas dari pantatnya dan meluncur keluar di antara kedua kaki
Tri. Tri tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghindari perbuatan Mr. Gulam ini.
Sekarang Tri dalam posisi duduk di atas meja dengan tidak memakai CD dan kedua
buah dadanya terbuka karena BH-nya telah terangkat ke atas. Muka Tri yang ayu
terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan giginya
terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar.
Kelihatan perasaan putus asa dan pasrah sedang melanda Tri, disertai dorongan
birahinya yang tak terbendung melandanya. Melihat ekspresi muka Tri yang tak
berdaya seperti itu, makin membangkitkan nafsu birahi lelaki tersebut. Mr. Gulam
melihat ke arah jam yang berada di dinding, pada saat itu baru menunjukan pukul
12.30, berarti dia masih punya waktu kurang lebih satu setengan jam untuk
menuntaskan nafsunya itu. Pada saat itu Mr. Gulam sudah yakin bahwa dia telah
menguasai situasi, tinggal melakukan tembakan terakhir saja.
Tampa menyia-nyiakan waktu yang ada, Mr. Gulam, dengan tetap mengunci kedua
tangan Tri, tangan kanannya mulai membuka kancing dan retsliting celananya,
setelah itu dia melepaskan celana yang dikenakannya sekalian dengan CD-nya. Pada
saat CD-nya terlepas, maka senjata Mr. Gulam yang telah tegang sejak tadi itu
seakan-akan terlonjak bebas mengangguk-angguk dengan perkasa. Mr. Gulam agak
merenggangkan badannya, maka terlihat oleh Tri benda yang sedang
mengangguk-angguk itu, badan Tri tiba-tiba menjadi tegang dan mukanya menjadi
pucat, kedua matanya terbelalak melihat benda yang terletak diantara kedua paha
lelaki India itu. Benda tersebut hitam besar kelihatan gemuk dengan urat yang
melingkar, sangat panjang, sampai di atas pusar lelaki tersebut, dengan besarnya
kurang lebih 6 cm dan kepalanya berbentuk bulat lonjong seperti pohon jamur. Tak
terasa dari mulut Tri terdengar jeritan tertahan, "Iiihh", disertai
badannya yang merinding. Tri belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu.
Tri merasa ngeri. "Bisa jebol milikku dimasuki benda itu", gumannya
dalam hati. Namun Tri tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Seolah-olah ada
pesona tersendiri hingga pandangan matanya seakan-akan terhipnotis, terus
tertuju ke benda itu. Mr. Gulam menatap muka Tri yang sedang terpesona dengan
mata terbelalak dan mulut setengah terbuka itu, "Kau Cantik sekali
Tri...", gumam Mr. Gulam mengagumi kecantikan Tri.
Kemudian dengan lembut Mr. Gulam menarik tubuh Tri yang lembut itu, sampai
terduduk di pinggir meja dan sekarang Mr. Gulam berdiri menghadap langsung ke
arah Tri dan karena yakin bahwa Tri telah dapat ditaklukkannya, tangan kirinya
yang memegang kedua tangan Tri, dilepaskannya dan langsung kedua tangannya
memegang kedua kaki Tri, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah paha
Tri lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar
selangkangan Tri yang telah terbuka itu. Nafas laki-laki itu terdengar
mendengus-dengus memburu. Biarpun kedua tangannya telah bebas, tapi Tri tidak
bisa berbuat apa-apa karena di samping badan Mr. Gulam yang besar, Tri sendiri
merasakan badannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi
oleh suatu sensasi yang mengila, apalagi melihat tubuh Mr. Gulam yang besar
berbulu dengan kemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat
mengkilat dengan pangkalnya yang ditumbuhi rambut yang hitam lebat terletak
diantara kedua paha yang hitam gempal itu.
Sambil memegang kedua paha Tri dan merentangkannya lebar-lebar, Mr. Gulam
membenamkan kepalanya di antara kedua paha Tri. Mulut dan lidahnya
menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluan Tri yang yang masih rapat,
tertutup rambut halus itu. Tri hanya bisa memejamkan mata, "Ooohh...,
nikmatnya..., ooohh!", Tri menguman dalam hati, mulai bisa menikmatinya,
sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian.
"Ooooohh..., hhmm!", terdengar rintihan halus, memelas keluar dari
mulutnya. "Paakkk..., aku tak tahan lagi...!", Tri memelas sambil
menggigit bibir.
Sungguh Tri tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi,
perasaannya yang halus, terasa tersiksa antara rasa malu karena telah ditaklukan
oleh orang India yang kasar itu dengan gampang dan perasaan nikmat yang melanda
di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkan Mr.
Gulam yang telah bepengalaman itu. Namun rupanya lelaki India itu tidak peduli,
bahkan amat senang melihat Tri sudah mulai merespon atas cumbuannya itu.
Tangannya yang melingkari kedua pantat Tri, kini dijulurkan ke atas, menjalar
melalui perut ke arah dada dan mengelus-elus serta meremas-remas kedua payudara
Tri dengan sangat bernafsu.
Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Mr. Gulam ini, Tri benar-benar
sangat kewalahan dan kemaluannya telah sangat basah kuyup. "Paakkk...,
aakkhh..., aakkkhh!", Tri mengerang halus, kedua pahanya yang jenjang mulus
menjepit kepala Mr. Gulam untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya,
dijambaknya rambut Mr. Gulam keras-keras. Kini Tri tak peduli lagi akan bayangan
pacarnya dan kenyataan bahwa lelaki India itu sebenarnya sedang memperkosanya,
perasaan dan pikirannya telah diliputi olen nafsu birahi yang menuntut untuk
dituntaskan. Wanita ayu yang lemah lembut ini benar-benar telah ditaklukan oleh
permainan laki-laki India yang dapat membangkitkan gairahnya.
Bersambung
|