EkaHindra mengumpulkan kisah para korban:
Emi (Natsuko);
Di Culik di Halaman Rumah
Pagi itu sekitar tahun 1942, Emi sedang melakukan Taiso (senam ala Jepang) di depan rumahnya, tiba-tiba datang dua prajurit Jepang. Emi dipaksa ikut sedangkan orang tua Emi hanya bisa pasrah karena di ancam dengan samurai. Saat penculikan terjadi Emi baru berusia 13 tahun.
Emi dibawa ke Ianjo (tempat penampungan para Jugun Ianfu) di Jalan Simpang Cimahi. Emi melihat banyak perempuan yang senasib dengannya. Emi diperiksa kesehatan oleh dokter Jepang dan langsung harus melayani seksual tamu-tamu yang berseragam militer Jepang. Emi sempat pingsan karena banyaknya tamu dan yang suka main pukul, itulah ciri tentara Jepang. Beberapa bulan kemudian Emi dipindahkan ke Ianjo di jalan Kalidam tidak jauh letaknya dari Ianjo Simpang. Di sini kondisi Emi lebih menyedihkan lagi, terus menerus dipaksa melayani tamu-tamu Jepang dan hanya di beri makan apa adanya.
Saat Jepang kalah perang, Emi pulang ke rumahnya yang ternyata sudah tidak ada lagi, ada yang membakar. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Emi hidup dengan pamannya karena tidak bersuami. Masyarakat men-cap Emi sebagai “bekas Jepang”. Hidup Emi terus dihantui trauma masa-masa perang yang telah menghancurkan hidupnya.
Olis Kartini (Oriso) ;
Diculik di Perkebunan
Tahun 1943 Olis berusia 15 tahun, bekerja di Perkebunan Montaya di daerah Gununghalu, kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung. Lokasi perkebunan ini agak jauh dari rumah Olis. Olis bekerja di perkebunan karena orang tuannya tergolong tidak mampu.
Baru tiga hari bekerja, datang laki-laki Jepang yang berkuasa di perkebunan. Olis di rayu-rayu dan di pegang-pegang tubuhnya dan dipaksa naik mobil. Kawan-kawan Olis berteriak-teriak melihat Olis dibawa pergi.Olis dibawa ke rumah si Jepang yang bernama Tukino, sekitar 250 meter dari rumah Olis. Di sana Olis di perkosa dan dipukuli Tukino. Karena Olis tidak kunjung pulang ke rumah, orang tuanya mencari ditemanin kakak Olis tertua dan menemui Tukino, tetapi orang tua Olis malah dipukuli Tukino. Olis disekap sekitar 5 bulan, setelah itu dibawa ke Ianjo di jalan Simpang, Cimahi. Sejak saat itu Olis tidak pernah bertemu lagi dengan orang tuanya.
Di Ianjo itu, Olis mendapati banyak banyak perempuan yang senasib dengannya. Setiap hari Olis dipaksa melayani nafsu seksual tentara Jepang. Jika menolak melayani karena kelelahan maka pukulan yang diterimanya, kepala Olis dibentur-benturkan ke tembok hingga lima giginya rontok. Olis tidak pernah mendapat bayaran sesen pun. Tidak tahan tinggal di Ianjo Cimahi, Olis meminta pulang kepada Tukino. Tetapi malah disekap lagi selama 5 bulan di rumah Tukino di Gununghalu.
Hingga perang usai Olis tidak pernah memiliki suami karena dilabeli masyarakat sebagai “bekas Jepang”. Orang tua pun sudah meninggal karena merana memikirkan nasib anak perempuan satu-satunya. Untuk menyambung hidupnya Olis bekerja sebagai pembantu karena sanak saudaranya sudah meninggal dunia.
Tunggu kisah survivor selanjutnya....
|