|
AC
Milan Football Club didirikan pada tanggal 16 Desember 1899. Ide
untuk mendirikan Milan Cricket and Football Club datang dari Kilpin,
Allison and Davies (inggris). Mereka mengajukannya kepada Alfred
Edwards, Nathan and Barnett. Edwards kemudian menjadi presiden klub
pertama.
Awalnya,
klub memfokuskan diri untuk bermain kriket sesering mungkin dan
mempromosikan sepakbola yang belum populer saat itu.
Salah
satu dewan direksi pertama Milan adalah Pierro Pirelli – yang
kemudian menjadi salah satu presiden dan tokoh paling penting di
Milan.
Seiring
dengan makin banyaknya pendukung, Milan mendaftarkan diri di FIGC
dan menetap di markas pertama mereka yang sekarang menjadi stasiun
pusat (Trotter).
Pada
tanggal 11 Maret 1900, Milan memainkan pertandingan pembuka melawan
klub sekota, Mediolanum dimana mereka menang 3 – 0. Tim pertama
yang bermain untuk Milan adalah Hoode, Cignaghi, Torretta, Lees,
Kilpin, Valerio, Dubini, Davies, Neville, Allison, Formenti.
15
April 1900 Milan memainkan pertandingan resmi pertama mereka melawan
FC Torino dimana Milan kalah 3-0. Kapten pertama Milan adalah
Herbert Kilpin, salah satu pendiri dan pemain hebat Milan. Sukses
menyusul saat Milan memenangkan piala pertama mereka pada tahun 1901
mengalahkan Genoa 1-0 di play off final. Dilanjutkan dengan
kemenangan beruntun tahun 1906 melawan Juventus dan 1907 melawan
Torino dan Andrea Doria.
Tahun
berikutnya merupakan tahun yang bersejarah, perpecahan terjadi
didalam tubuh klub yang mengakibatkan terbentuknya Internazionale
Milan pada tanggal 9 Maret 1908.
Pertandingan
pertama antara Milan dan Inter terjadi pada tanggal 5 Oktober 1908
dimana Milan menang 2-1. Pemain bintang Milan pada masa itu adalah
Renzo del Vecchi.
Saat
perang dunia kedua, Milan merubah namanya untuk yang ketiga dan
terakhir kalinya menjadi Associazione Calcio Milan (AC Milan).
Pada
masa pasca perang, Milan mulai berbenah diri, tertolong oleh
peraturan yang memperbolehkan klub – klub Italia untuk mengontrak
5 pemain asing. Milan membeli trio Swedia Gunnar Gren, Gunnar
Nordhal dan Nils Liedholm. Mereka merupakan juruselamat Milan.
Nordhal merupakan penyerang Milan yang paling subur dengan mencetak
210 gol dalam 257 pertandingan. Gren dan Liedholm terbukti menjadi
penguasa lapangan tengah, dengan menyumbangkan scudetto pada tahun
1951, 1955, 1957 dan 1959. Milan juga lolos kebabak final Piala
Eropa tahun 1958, namun dikalahkan Real Madrid di perpanjangan waktu.
Pada
akhir tahun 1950an, tiga mega bintang dikontrak Milan, yaitu Jose
Altafini, Juan Alberto Schfiaffino dan Gianni Rivera dengan rekor
pembelian mencapai US$ 200,000.-
Tahun
1960an merupakan masa keemasan untuk Milan.
q
1962 – meraih scudetto
q
1963 – memenangkan Piala Eropa pertama dengan mengalahkan
Benfica di final Wembley 2-1. Benfica unggul lebih dulu dengan gol
Eusibio, namun berkat dua gol Altafini yang diassist oleh Rivera
pada babak kedua menjadikan Milan klub Italia pertama yang
memenangkan Piala Eropa
q
1967 – Disamping nama – nama besar yang sudah ada,
tercatat pula nama Cesare Maldini, Giorgio Ghezzi dan Giovanni
Trapattoni. Dibawah pimpinan pelatih legendaris Milan Nereo Rocco,
The Devils memenangkan Piala Italia mereka untuk yang pertama
kalinya dengan mengalahkan Padova 1-0
q
1968 – Milan memenangkan gelar ganda dengan meraih scudetto
(selisih sembilan point) dan Piala Winners dengan mengalahkan
Hamburg 2-0. Kedua gol dicetak oleh Kurt Hamrin.
q
1969 – Milan memenangkan Piala Eropa mereka yang kedua
dengan mengalahkan Ajax 4-1 di Santiago Barnabeu. Pierino Prati
mencetak hat-trick dan ketajaman Gianni Rivera mendominasi
pertandingan. Karl-Heinz Schnellinger dan Angelo Sormani turut
membantu kemenangan Milan.
Gianni
Rivera keluar sebagai pemain Italia pertama yang dinobatkan sebagai
European Player of the Year.
Ditahun
ini pula, Milan keluar sebagai juara Piala Intercontinental
mengalahkan Estudiantes melalui agregat 4-2.
Tahun
1970 an merupakan masa transisi, dimana para pemain bintang seperti
Schnellinger, Trapattoni, Sormani dan Prati gantung sepatu atau
pindah dari Milan, sementara Rivera remaking tua, dan perbatasan
Italia ditutup bagi orang asing. Milan mengakhiri setiap musim
dengan menempati posisi kedua di serie A selama tiga tahun
berturut-turut. Memenangkan Piala Italia tahun 1972 dengan
mengalahkan Napoli 2-0. Mempertahankannya dengan mengalahkan Juventus tahun 1973
melalui adu penalty. Milan juga memenangkan Piala Winners mereka
yang kedua dengan Mengalahkan Leeds United 1-0 lewat gol Chiarugi.
Perangkat perak berikutnya diraih pada tahun 1997 saat Milan
mengalahkan Inter 2-0 di final Piala Italia. Milan memenangkan
scudetto mereka yang kesepuluh tahun 1979. Rivera memberikan
kehormatan kepada Milan untuk mengenakan bintang di jersey merka
pada musim terakhirnya membela The Devils.
Saat
salah satu pemain besar mereka mundur, mega bintang lainnya datang
– Franco Baresi.
Pada
saat Milan tampil buruk di kancah Eropa, dimana mereka disingkirkan
di awal kompetisi Piala Winners 1978 oleh Real Betis, dikalahkan
Manchester City pada perempat final UEFA CUP 1979 dan disingkirkan
Porto di babak awal European Cup. Milan mulai memasuki masa
kegelapan. Pada akhir musim 1980, skandal taruhan merebak diantara
para pemain dan klub – klub serie A dan B. Keterlibatan Kiper
Enrico Albertosi dan Presiden Felice Colombo mengakibatkan Milan
didegradasi ke Serie B untuk pertama kalinya dalam sejarah bersama
Lazio. Tahun 1981, Milan promosi ke Serie A, dengan Mauro Tassotti
yang mulai dimakan usia. Musim 1982 milan degradasi ke Serie B
kembali dan promosi ke Serie A pada musim berikutnya setelah menjadi
jawara di Serie B. Sebagai episode penutup, Presiden Giuseppe Farina
yang terlibat dalam beberapa masalah hukum, kabur ke Afrika Selatan
dengan membawa sejumlah besar uang milik klub. Milan hampir punah!!!!!
Tahun
1986, Silvio Berlusconi membeli Milan, menjadi presiden Milan dan
menyelamatkan Milan dari kebangkrutan. Berlusconi menciptakan
kembali Milan, melakukan investasi besar-besaran untuk youth
structure dan merombak Milanello, yang membuat iri semua tim didunia.
Perubahan besar-besaran dalam tim juga dilakukan dengan merekrut
pemain – pemain seperti Colombo, Ancelotti, Dondadoni, Massaro dam
Galli serta trio Belanda – Marco van Baste, Ruud Gullit dan Frank
Rijkaard.
Berlusconi
menunjukan kesungguhannya dengan merekrut Legenda Milan Liedholm
sebagai pelatih dan menggantikannya dengan Arrigo Sacchi yang kala
itu belum begitu dikenal. Setelah melalui awal yang lamban, Milan
mulai memperagakan potensi mereka, mempertunjukkan sepakbola
menyerang dan taktik menyerang yang menakjubkan. Highlight musim
1988 merupakan pertandingan melawan Napoli dalam babak akhir
peraihan scudetto. Bermain dihadapan 80,000 tifosi fanatik yang
mendewakan Maradona, dua gol yang dicetak oleh Virdis dan satu gol
oleh Van Basten, Milan meraih gelar scudetto mereka yang kesebelas
dengan skor 3-2. Milan melanjutkan dominasinya dengan memenangkan
piala super Italia dengan mengalahkan Sampdoria 3-1. Dilanjutkan
dengan mengalahkan Steaua Bucharest 4-0 di final Piala Eropa 1989.
Van Basten dan Gullit sama – sama mencetak 2 gol. Beberapa bulan
kemudian Milan mengalahkan Barcelona 2-1 di ajang piala super eropa
dan mengalahkan Nacional Medellin 1-0 di Piala Intercontinental.
Tahun 1990, Milan melakukannya lagi, mempertahankan mahkota Piala
Eropa mereka dengan mengalahkan Benfica 1-0 lewat gol Rijkaard., mempertahankan Piala Super Eropa dengan
mengalahkan Sampdoria 3-1, dan mempertahankan Piala Intercontinental
dengan mengalahkan Olimpia Asuncion 3-0. Van Basten dan Gullit
dianugerahi European Player of the year pada periode ini pula. Milan
hebat dalam segala hal. Musim 91/92 Milan mendatangkan pelatih baru,
mantan pemain Milan Fabio Capello, sementara Sachi melatih tim
nasional Italia. Di musim pertamanya Capello memenangkan gelar Serie
A tanpa kalah sekalipun, memulai rekor tak terkalahkan mereka dalam
58 pertandingan. Milan memenangkan gelas tersebut tiga kali berturut
– turut, termasuk tiga kali memenangkan piala super Italia. Di
periode ini, muka – muka baru mulai diperkenalkan seperti
Jean-Pierre Papin, Sebastiano Rossi, Stefano Eranio, Zvonimir Boban,
Dejan Savicevic, Marcel Desailly dan Christian Panucci. Tahun 1994,
selain gelar scudetto yang ke-14, Milan menjadi jawara Piala Eropa
untuk yang ke lima kalinya dengan menghancurkan Barcelona 4-0 lewat
penampilan yang luar biasa dari seluruh tim, terutama Savicevic. Ini
merupakan pencapaian yang luar biasa untuk tim yang kerap dicap
bermain bertahan. Milan juga memenangkan Piala Super Eropa dengan
mengalahkan Arsenal 2-0 dan tak ketinggalan Piala Italia. Tahun 1996
Milan melakukan regenerasi dengan merekrut George Weah dan
memenangkan Gelar Scudetto yang ke 15 dengan mudah. Efek sampingnya,
trio Belanda Van Basten, Rijkaard dan Gullit meninggalkan Milan. Van
Basten terpaksa gantung sepatu di usia muda karena mengalami cedera
engkel kronis. Pensiunnya Van Basten sangat menghancurkan
kepercayaan diri Milan dan tifosinya diseluruh dunia. Di akhir musim,
Capello hijrah ke Madrid, dan Milan menggantikannya dengan Oscar
Tabarez. Tabarez hanya bertahan beberapa bulan, digantikan dengan
Arrigo Sachi, yang kemudian digantikan kembali oleh Capello musim
1998. Era keemasan Milan berakhir saat Bareti dan Tasotti pensiun.
Di periode ini, Milan kerap membeli pemain – pemain bintang dengan
harapan mengulang kembali masa keemasannya mereka, tetapi hasilnya
amat mengecewakan.
Berlusconi
memutuskan untuk merekrut muka baru sebagai pelatih – Alberto
Zaccheroni – yang menangani Udinese dengan hebat. Milan juga
merekrut dua pemain Udinese – Thomas Helveg dan Oliver Bierhoff.
Musim 1999 merupakan musim biasa bagi Milan sampai Milan melakukan
keajaiban di 10 pertandingan terakhir mengejar ketinggalan dengan
pemimpin klasemen Lazio dan meraih gelar scudetto mereka yang ke 16
setelah memenangkan pertandingan terakhir musim itu. Zaccheroni
bergabung dengan Nereo Rocco, Arrigo Sacchi dan Fabio Capello yang
mempersembahkan gelar scudetto di awal musim kepelatihannya. Namun,
performa Milan di laga Eropa amat mengecewakan, dan Zaccheroni hanya
bertahan sampai pertengahan tahun 2001 dan digantikan oleh duet
Cesare maldini dan Mauro Tasotti di pertandingan sisa. Fatih Terim
terpilih untuk melatih Milan untuk musin 01-02, tetapi hanya
bertahan beberapa bulan setelah mengalami hasil yang tidak konsisten.
Milan memutuskan untuk menggaji Carlo Ancelotti, tetapi cedera
berkepanjangan yang kerap menghantui pemain – pemain inti seperti
Shevchenko, Rui Costa, Maldini, Inzaghi, Ambrosini dan Albertini
membuat Milan kelimpungan, walaupun pada akhirnya mereka bisa meraih
tiket ke ajang Piala Champion. Dengan direkrutnya pendatang baru
seperti Nesta, Rivaldo dan Seedorf di awal musim, masa depan Milan
mulai cerah. |