![]()


Aku
lahir di sebuah kota kecil yang bernama "Langsa" yang merupakan ibu kota
Kabupaten Aceh Timur, NAD, tepatnya pada tanggal 20 Agustus 1969. Oleh orang
tuaku aku diberi nama YUSNAR AGUSRI KURNIAWAN. Selang waktu berjalan karena
kondisiku yang sering sakit-sakitan, kemudian namaku diganti IWAN TRISNO. Sebuah
nama yang sangat sederhana, namun penuh makna. Dan setelah namaku diganti, aku
tidak lagi sakit-sakitan. Allahu Akbar.
Masa kecilku sering berpindah-pindah mengikuti kedua orang tuaku yang memang senang merantau. Setelah dilahirkan, aku pindah ke kota "empek-empek" Palembang. Disini aku aku mendapatkan adik laki-laki yang kemudian diberi nama Hendra Yulianto. Dari kota yang terkenal dengan jembatan Ampera-nya ini aku pindah lagi ke tanah Jawa. Di kota Kudus tepatnya di Desa Mlati Kidul aku menikmati masa kanak-kanak. Disini aku mendapat adik lagi laki-laki lagi. Namun Allah berkehendak lain, adikku ini tidak berumur panjang. Dia meninggal karena penyakit yang dideritanya.
Masih mengikuti orang tua, aku sering berpindah-pindah kedaerah-daerah di Pulau Jawa. Yang aku ingat, kami pernah menetap di Kabupaten Banjarnegara. Disini aku mendapat adik laki-laki lagi, yang kemudian diberi nama Yasin Rahmadi. Masa kecil yang terus selalu berpindah membuat aku mengenal daerah lain dan tentunya banyak saudara dan teman.
Tak berselang lama, kami aku dan keluarga pindah lagi ke Kudus. Desa Mlati Kidul, Mlati Lor dan Loram Wetan pernah menjadi domisili keluargaku. Hingga menginjak kelas 3 Sekolah Dasar. Setelah itu aku dan keluarga pindah lagi. Tak tanggung-tanggung jauhnya dan tidak pernah terbayangkan olehku akan pindah menyeberangi lautan. Tepatnya di Kota Luwuk (Kabupaten Banggai, Propinsi Sulawesi Tengah). Kota kecil ini pada Tahun 1979 (saat aku pindah) adalah sebuah kota yang masih cukup terbelakang. Sarana dan prasarana masih terbatas. Namun aku senang tinggal disini, dan melanjutkan sekolah di SD Negeri 1 Luwuk. Aku sekelas dengan saudara sepupuku di sekolah ini.
Belum lama aku tinggal di Luwuk, aku mendapat adik lagi. Tapi adikku yang ini istimewa, karena dia perempuan. Kami sekeluarga menyambutnya dengan gembira. Karena biasanya aku bermain dengan adik laki-laki, namun kali ini bisa bermain dengan adik perempuan. Adik cewekku ini diberi nama Linda Apridani.
Setelah lulus SD (Tahun 1982) aku melanjutkan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Luwuk. Hari-hariku pada umur belasan ini aku jalani dengan riang gembira. Bermain dengan teman-teman, belajar dan tentu saja rajin membantu orang tua adalah kegiatan rutinku sehari-hari. Hingga akhirnya Tahun 1985 aku lulus dan melanjutkan ke SMA.
Di SMA Negeri 1 Luwuk (yang merupakan sekolah favorit) aku belajar untuk berusaha mencapai cita-citaku. Oh ya, cita-citaku adalah menjadi tentara. Aku selalu membayangkan akan tampak gagah dengan seragam ABRI. Untuk mewujudkannya, maka aku memilih jurusan A2 (ilmu-ilmu Biologi). Karena syarat untuk bisa masuk AKABRI adalah harus mengambil jurusan IPA. Di sekolah ini aku jalani tanpa mengalami hambatan. Semua pelajaran dapat aku ikuti dengan baik. Hingga pada Tahun 1988 aku lulus SMA.
Rasa bahagia menyelimuti hatiku, karena sebentar lagi aku akan segera dapat mewujudkan cita-citaku. Namun sayang, setelah lulus aku terlambat mendaftar ke AKMIL, sehingga aku putuskan untuk menunggu pendaftaran tahun berikutnya. Selama 1 tahun aku menjadi "pengangguran". Aku giat mempersiapkan diriku untuk mewujudkan cita-citaku.
Tahun 1989 aku mendaftarkan diri untuk menjadi seorang prajurit. Segala tes dan ujian aku jalani. Namun, mungkin Allah berkehendak lain. Aku gagal........................
Meski aku gagal, tapi aku tidak patah arang dan hilang semangat. Aku menetap di Kudus, lalu melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi di kota kretek ini. Aku melanjutkan di Universitas Muria Kudus dan memilih Fakultas Hukum. Suka duka mewarnai kehidupanku di kota ini. Dari mulai keterbatasan biaya untuk kuliah, hingga................................ (maaf, ini tak bisa aku ceritakan).
Ditengah-tengah kesulitanku, aku bertemu dengan Pakde-ku, yang pada waktu itu (Tahun 1991) bertugas di KODAM IV Diponegoro Semarang. Aku diusahakan pekerjaan untuk membiayai kebutuhan hidupku. Alhamdulillah, Allah Maha Besar. Aku bisa bekerja di Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kudus. Meski berstatus honda (sebutan untuk karyawan honorer di pemda), aku merasa amat sangat bersyukur. Aku ditugaskan di pasar Mijen, Kecamatan kaliwungu Kudus sebagai pemungut retribusi pasar. Aku jalani pekerjaanku dengan rasa syukur yang amat sangat. Aku tetap melanjutkan kuliah.
Kuliah sambil bekerja menjadi kegiatanku sehari-hari. Mulai pukul 05.00 pagi aku berangkat kerja, kemudian siang dan sore hari bahkan sampai malam aku menuntut ilmu di bangku kuliah. Diakhir masa studiku aku berkenalan dengan seseorang yang sekarang menjadi pendamping hidupku. Bahkan aku memberanikan diri langsung bertunangan dengannya. Inilah yang menambah motivasi bagi diriku untuk segera menyelesaikan studi. Alhamdulillah, aku bisa menyelesaikan kuliah Tahun 2004, dan mengukir prestasi yang cukup membanggakan bagi keluarga dan diriku. Aku bisa menjadi wisudawan terbaik II dengan nilai indeks prestasi 3,24 yang berpredikat sangat memuaskan.
Berbekal ijasah sarjana aku kembali ke Luwuk, selanjutnya ........ (klik disini).
![]()