|
Regu penjinak ranjau diterjunkan guna menyisir dan membersihkan ribuan ranjau darat yang ditanam kelompok pemberontak. Selain dari pemerintah Srilanka, regu penjinak ranjau juga berasal dari berbagai negara. Tim dari Norwegia, misalnya, diterjunkan guna menyisir kawasan pesisir Srilangka mulai dari Mullaithivu sampai ke zona keamanan khusus Jaffna. Hasil penyisiran menunjukkan lokasi tersebut aman dari ranjau sehingga pekerja kemanusiaan tidak perlu khawatir.
Jaminan bebas ancaman ranjau datang dari salah satu faksi kelompok bersenjata Tamil Eelam. Mereka mengimbau pekerja kemanusiaan tidak menghentikan tugasnya. Mereka menilai bahaya kelaparan dan penyakit yang mengancam korban Tsunami lebih dari bahaya ranjau.
Pemerintah Inggris melalui Menteri Luar Negeri Jack Straw menyebutkan 40 warganya dipastikan tewas saat Tsunami menerjang pulau Phi Phi, Thailand. Inggris juga menyatakan 159 orang lainnya dinyatakan hilang saat gelombang menghantam beberapa kawasan wisata di Thailand. Hingga kini, nasib 159 warga Inggris ini belum diketahui [baca: Turis Asing Menjadi Relawan di Thailand].
Saat ini, sejumlah warga asing terus mendatangi beberapa lokasi wisata dan rumah sakit untuk mencari kerabat mereka yang diduga turut menjadi korban Tsunami. Upaya mereka cukup terbantu dengan langkah rumah sakit setempat yang memajang foto-foto korban yang menjalani perawatan. Langkah ini juga mempermudah pihak rumah sakit dalam proses identifikasi korban mengingat dokumen milik wisatawan hilang tersapu Tsunami.
Selain lewat foto yang dipajang, keluarga korban juga memanfaatkan fasilitas modern yaitu dengan mengakses situs internet yang khusus dibuat pemerintah Thailand: http://www.thaitsunami.com. Situs ini bisa diakses gratis dari sejumlah komputer yang ditempatkan di balai kota maupun rumah sakit utama Kota Phuket, Thailand.
Menurut pengelola situs, data yang dimuat akan terus di-update mengingat besarnya manfaat yang diberikan. Namun pihaknya sering dihadapkan pada kendala keakuratan data korban yang berhasil dihimpun.
Bukan hanya warga Inggris yang menjadi korban saat Tsunami menghantam Thailand Ahad pekan silam. Sejumlah warga Swedia pun dilaporkan tewas tergulung ombak. Senin kemarin, enam jenazah warga Swedia diterbangkan ke negara asalnya. Kepulangan jenazah adalah keputusan pemerintah Swedia yang akan membawa semua warganya yang tewas digulung Tsunami. Swedia menyatakan sekitar 800 warganya hilang dalam bencana tersebut.
Keenam jenazah diberangkatkan dalam upacara singkat yang digelar di Bandar Udara Internasional Phuket. Upacara dihadiri sanak keluarga korban dan perwakilan Swedia di Thailand. Jenazah sempat didoakan dua rohaniwan Swedia sebelum diterbangkan kembali ke kampung halamannya.
Menurut Perdana Menteri Swedia Goeran Persson, sampai saat ini baru 52 warga Swedia yang diketahui tewas. Ia memperkirakan warga Swedia yang tewas dalam Tsunami bisa menembus angka 1.000 jiwa. Bagi Swedia, bencana ini menjadi bencana yang paling banyak menelan korban jiwa setelah peristiwa tenggelamnya Feri Estonia di Laut Baltik pada 1994 yang menewaskan 551 warga Swedia.
Sementara itu, upaya evakuasi korban Tsunami dan distribusi bantuan di Nagapattinam dan Andaman, India, berlangsung relatif lancar. Korban tewas yang telah dievakuasi kemudian dikremasi secara massal di pantai Nagapattinam, negara bagian Tamil Nadu, India. Upacara yang sesuai dengan kepercayaan Hindu itu dihadiri saudara dan kerabat korban.
Hingga saat ini, jumlah korban tewas di India mencapai 9.400 jiwa dan lebih dari 5.000 lainnya hilang. Sebagian besar korban berasal dari negara bagian Tamil Nadu. Bencana juga memaksa lebih dari 9 juta orang mengungsi ke 560 kamp penampungan.(TOZ/Nlg) |