|
Lintas Berita: KWI Prihatin Pemuatan Karikatur Menghina Umat Islam
Glorianet - Komisi Hubungan Antar Agama Konferensi Wali
Gereja Indonesia (KWI) menyesalkan terjadinya pemuatan karikatur
yang menampilkan gambar Nabi Muhammad di harian Jyllands Posten,
Denmark. KWI berharap pemerintah Denmark segera melakukan
klarifikasi, meminta maaf dan memberikan sanksi kepada pemimpin
surat kabar tersebut.
"KWI
memahami sepenuhnya apa yang menjadi kemarahan umat Islam di
Indonesia akibat pemuatan karikatur tersebut. KWI berharap hal ini
dapat secepatnya diselesaikan oleh pemerintah Denmark dan media
massa di Indonesia dapat menjadikan kasus ini sebuah pelajaran
berharga agar tidak dilakukan oleh pers nasional," ujar Sekretaris
Komisi Hubungan Antar Agama KWI, Benny Susetyo Pr kepada
Pembaruan di Jakarta, Senin (6/2).
Sementara itu,
Pemerintah Denmark meminta maaf kepada umat Islam dunia dan
menyatakan sangat prihatin dengan pemuatan gambar-gambar Nabi
Muhammad di surat kabar Jyllands Posten, yang dianggap
sebagai penghinaan terhadap Nabi Muhammad dan Islam sebagai agama.
Demikian siaran pers yang berisi pernyataan Perdana Menteri Denmark
Anders Fogh Rasmussen dan Pemimpin Redaksi Jyllands Posten,
Carsten Juste tersebut dikirim Kedutaan Besar Denmark di Jakarta
yang ditandatangani Duta Besarnya Niels Erik Andersen pada Jumat dan
dikirimkan kepada sejumlah organisasi Islam terbesar di Indonesia
PBNU dan PP Muhammadiyah.
Suratkabar harian itu, disebutkan, tidak bermaksud melecehkan Nabi
Muhammad dan telah menyatakan permintaan maaf serta berharap
pernyataan maaf itu dapat memberi ketenangan kepada pihak yang
merasa disakiti dan terhina.
"Saya
sangat menghormati penganut agama. Tentu saja saya tidak akan pernah
memilih untuk menggambarkan simbol keagamaan dengan cara tersebut,"
kata Rasmussen.
Pemerintah Denmark, ujar Rasmussen, mengutuk segala ungkapan,
tindakan atau tanda yang berniat menghina sekelompok orang
berdasarkan agama atau suku, karena hal itu suatu yang tidak dapat
diterima oleh masyarakat yang saling menghormati.
Pihaknya telah mengimbau kepada seluruh kelompok untuk tidak memberi
keterangan atau tindakan yang dapat menimbulkan ketegangan lebih
lanjut. Di Denmark dan negara lainnya harus berusaha untuk melakukan
dialog dan membangun persahabatan. "Saya merasa senang bahwa
permintaan maaf tersebut telah diterima dengan baik oleh masyarakat
muslim di Denmark dan mereka berjanji untuk mendukung upaya kami,"
katanya.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Jyllands Posten, Carsten
Juste, berpendapat bahwa ke-12 gambar kartun itu biasa-biasa saja
dan tidak dimaksudkan untuk menyinggung perasaan siapapun. "Tetapi
tak dapat dibantah bahwa telah menyinggung perasaan umat Islam dan
karena itu kami meminta maaf," kata Juste.
Pada 30 September 2005 Jyllands Posten telah mencetak 12 gambar
karya juru gambar kartun yang mengekspresikan bagaimana kira-kira
rupa Nabi Muhammad. Ini dalam rangka perdebatan seru tentang
kebebasan mengutarakan pendapat yang sangat dihargai di Denmark.
Sebagai
lanjutan dari diskusi mengenai gambar kartun ini pihaknya telah
mengadakan pertemuan dengan wakil dari umat Islam di Denmark yang
terjadi dalam suasana positif dan konstruktif.
Permintaan Maaf Secara terpisah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
menyatakan, pemerintah dapat menerima permintaan maaf pemerintah
Denmark atas pemuatan karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad SAW.
Diharapkan peristiwa tersebut tidak terulang kembali dan berbagai
langkah diplomatik yang telah ditempuh pemerintah dipahami
masyarakat dengan tetap memelihara ketertiban umum.
Demikian pernyataan resmi pemerintah yang dikemukakan Presiden
Yudhoyono, di Kantor Presiden, Sabtu (4/2) dalam jumpa pers tanpa
tanya jawab, menyikapi pemuatan karikatur Nabi Muhammad SAW di
Harian Jylland Posten yang terbit di Kopenhagen, Denmark,
baru-baru ini. Ironisnya, karikatur serupa, sejumlah 12 buah, dimuat
ulang di beberapa media massa di beberapa negara Eropa.
Menurut Presiden, yang didampingi Menteri Luar Negeri Hassan
Wirajuda dan Menteri Agama M Mahtuh Basyuni, pemerintah mengecam dan
menganggap pemuatan karikatur tersebut sebagai sikap tidak sensitif
terhadap pandangan dan keyakinan umat agama lain. "Pelecehan
terhadap simbol-simbol agama tersebut telah menyakiti perasaan umat
Islam dan pembenaran atas dasar kebebasan menyatakan pendapat sulit
diterima," katanya.
Karena itu reaksi dan protes yang muncul di masyarakat atas
karikatur tersebut dapat dipahami pemerintah. "Namun sebagai umat
beragama kita patut menerima pernyataan maaf yang telah disampaikan
pemerintah Denmark," katanya.
Sehari sebelum Presiden menyatakan sikap resmi pemerintah, di tempat
yang sama, Menlu Hassan Wirajuda dan Jurubicara Kepresidenan Andi
Mallarangeng juga telah menyampaikan sikap resmi pemerintah. Saat
itu Hassan Wirajuda juga telah mengemukakan permintaan maaf Perdana
Menteri Denmark Anders Fogh Rasmussen dan Pemimpin Redaksi
Jyllands Posten, Carsten Juste, melalui Dubes Denmark di
Jakarta, Niels Erik Andersen.
Menurut
Presiden Yudhoyono, kejadian tersebut menguatkan pandangan
pemerintah tentang perlunya dilakukan dialog. (GCM/SHcom-E-5/Y-3)
http://www.glorianet.org/mau/index.html |