Persinggahan..?!
Maniti
asa jalani sabda nurani, Purnama demi purnama kupandangi, Berharap
semua kan nyata, Entah apa yang mesti ku ucapkan,
Lidahku kelu seakan membeku, Beku oleh keajaiban
Illahi, Bagai berjalan dalam mimpi, Terbang jiwa nikmati
anugerah ini, Kehadiranmu obati dahagaku, Sentuhan lembut belai
raga, Kau angkat hatiku dari lembah tak bertuan,
Tuntunku jalani takdirku bersamamu
Jiwa
saling tertunduk berdoa, Bersimpuh lemah dihadapan Nya, Ketika derita
menjadi sahabat diri, Sekejab bahagia menyapa,Kiranya
telah tiba saat kumenepi
Hirup udara tenangkan sanubari, Walau ragu masih
selimuti bathinku, Inikah rumah hatiku
kini
Jakarta, 10/20/2002, 23:25 Wib
deepsid |
| |
| Melati
Ditengah
pertikaian nurani akan jati diri, Diantara bisikan tak berwujud
dihati, Terhanyut kebimbangan akan makna kehidupan,
Dan pijakan jiwa mulai terkikis rapuh oleh pergaulan,
Saat ku berteriak keras suarakan isi hati, Kekeringan landa jiwa
yang terabaikan, Kebebasan yang kucari tuk tenangkan hati dari jejak
kelam kehidupan, Dunia terasa begitu mati rasa
akan anganku, Waktu berjalan memburu kemedan laga,
Illahi robbi kabulkan doaku temukan juwita hati, Sebuah sentuhan
lembut yang selama ini kucari damaikan nurani,
Selimuti jiwa dari tikaman bayang masa lalu, Takkan
kubiarkan kau tumbuh diantara lilitan semak belukar, Indah tubuhmu
tertutup debu-debu kehidupan, Harummu tersamar oleh bau busuk manusia
munafik, tak bisa kelabui penciumanku kan wangi dan keindahan yang
kau miliki
Keindahan jiwamu mengusik nuraniku, Kau miliki keindahan yang tersembunyi
dari pancaran mentari, Janganlah layu bunga
hatiku, Tataplah mentari pagi dari figura
jiwa, Kasihku kan selalu sirami bunga kecil cahaya mentari hati,
Bersemilah dampingi aku hingga akhir dunia, Engkaulah satu-satunya
bunga dalam hidupku kini
Takkan pernah kulupa harummu, Izinkan aku tuk
bingkai indah dirimu, Abadilah selalu dalam sanubariku
Monday, January 7, 2001
12:37:07 Wib
deepsid |
| |
Ketika
kecantikan bertahta, ketika keangkuhan meraja, maka manusia akan lupa,
apa dan siapakah diri sebenarnya...(deepsid) |
| |
Ketika
perpisahan mengakhiri sebuah perjumpaan barulah kita kan tersadar
betapa berartinya dia disisimu
(deepsid) |
| |
Satu
persatu sahabat pergi, satu persatu saudara pergi. Kita memang ditakdirkan
untuk berjuang sendiri
(deepsid) |
| |
Baik
menjadi orang penting, tetapi lebih penting
menjadi orang Baik....(deepsid) |
| |
|